Pages

Wednesday, June 25, 2008

Pemahaman Keberagamaan


Indonesia merupakan negara yang memiliki kemajemukan sebagai salah satu aset. Kemajemukan itu mulai dari bahasa, budaya, hingga agama. Serta perlu diingat pula bahwa sejak awal digagas dan dibangun, Indonesia adalah sebagai negara yang memiliki konsep negara bangsa, yang melindungi segenap dan seluruh rakyat dan warga bangsa. Indonesia bukan didirikan dengan konsep sebagai negara agama.
Insiden Monas (sejauh berdasarkan liputan media) tersirat sebagai gejala degradasi pemahaman keberagaman pada masyarakat (dalam kasus ini adalah FPI). FPI memang dikenal sebagai organisasi Islam yang konsen pada amar ma’ruf nahi munkar. Namun, kelompok agama apapun dalam bergerak sepatutnya mampu membedakan ruang publik dan ruang kelompok agama. Islam di Indonesia dapat masuk pun karena proses kultural yang manis dengan memuat nilai-nilai universal dan bersifat transnasional, melintasi perbedaan yang ada.
Ketika ajaran agama apapun masuk ke Indonesia harus menghadapi kondisi kultural dan struktural yang ada. Secara kultural, harus mampu menerima keberagaman adat. tradisi, dan kebudayaan. Secara struktural,. mau menerima Pancasila dan NKRI sebagai dasar negara yang sudah menjadi konsensus nasional dan diterima oleh semuaelemen masyarakat. Istilahnya, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Kita harus memahami norma serta nilai yang berlaku di wilayah tempat kita tinggal.
Pada dasarnya, pemahaman keberagaman sangat terkait erat dengan paham keberagamaan. Dalam ajaran agama manapun, ada aturan mengenai hidup berdampingan dan mengajarkan tatacara hidup berdampingan yang indah dengan masyarakat lain (yang lebih beragam). Maka, jika pemahaman keberagaman ingin ditingkatkan, cara yang tepat adalah meningkatkan pemahaman keberagamaan. Agama merupakan ranah privasi yang memiliki kekuatan moril pada penganutnya. Ketika sebuah kelompok agama tidak menunjukkan sikap yang tidak bijak terhadap keberagaman, maka patut dipertanyakan tingkat pemahaman mereka dalam menjalankan agama tersebut.
Pemerintah juga tentunya menjadikan ini sebagai evaluasi, sejauh mana peran pemerintah dalam memfasilitasi kegiatan keagamaan. Peran yang minim menjadikan aktivitas-aktivitas keagamaan mudah disusupi dan digerakkan oleh pihak lain yang ingin memecah belah bangsa ini. Unsur kepentingannya sudah tidak sekedar pada jalur agama lagi,ideologi yang dibawa lebih sebagai ideologi politik darapada sebagai sebuah pandangan hidup manusia.





Read more ...

Ayo Kuliah!!!!



Tadi aku habis membaca postingan bulletin mas Uud. Salah seorang senior di HMI Purwokerto dan juga alumni UNSOED, dengan kata lain sekarang beliau sudah bisa menuliskan namanya dengan M.Akhirudin, S.T.
Kayaknya bangga ya udah jadi sarjana. Secara, itu gelar pendidikan tinggi dimana nggak semua orang bisa dengan mudah mengecap pendidikan tinggi. Pendidikan di Indonesia masih menjadi momok yang entah kapan akan ada di puncak klimaks dan titik balik untuk merformasi sistem yang udah ada.
Tapi ternyata bukan kebanggan yang disiratkan dari tulisan mas Uud itu. Beliau becerita (lebih tepatnya bercerita tentang keprihatinan) mengenai almamaternya, fakultas Teknik UNSOED yang sekarang sudah berganti nama menjadi Fakultas Sains & Teknologi setelah bergabuung dengan Program Studi MIPA dan Perikanan Kelautan.
Satu hal yang merupakan bagian ungkapan perasaan mas Uud yang cukup menarik buat aku adalah mengenai nilai jual ijasah UNSOED. Mas Uud menyebutkan bahwa ijasah UNSOED itu nyatanya tidak memiliki signifikansi apa-apa di dunia kerja. Di dunia kerja, jaringan dan skill lebih berpengaruh pada “kesuksesan” yang ingin dicapai.
Mas Uud bukanlah satu-satunya orang yang bicara seperti itu. Aku ingat Mas Huzer, sewaktu kita ketemu di TIM satu tahun lalu. Beliau juga alumni UNSOED. Berbeda dengan mas Uud yang sangat menikmati masa-masa kuliah (terbukti dengan masa kuliah sampe 7tahun.he3), mas Huzer ini justru dikenal mahasiswa berprestasi saat kuliahnya dulu. Selain gelar mapres, dia juga aktivis dan pernah juga mengikuti prgram pertikaran-nya British Council ke Jerman. Saat ini, mas Huzer tergabung di crew salah satu TV swasta yang cukup punya prestise di Indonesia. Walaupun beda karakter, tapi ternyata tanggapannya sama. Mereka menyebutkan bahwa ijasah yang diperoleh saat kuliah itu nggak ada artinya.
Kesannya memang mereka durhaka pada almamater. Dua-duanya adalah sosok kakak yang sangat aku hormati dan hargai. Dari mereka banyak hal yang bisa aku dapatkan (walaupun aku agak kecewa waktu mas Uud membatalkan datang ke Purwokerto waktu aku undang jadi pembicara di stadium general pelantikanku di Komperta.hiks3). Tapi, aku kayaknya bisa memahami apa sebenarnya yang tersirat dari statement beliau berdua. Mungkin lebih tepatnya, yang dianggap “doesnt matter” bukan ijasah or pendidikan tinggi melainkan proses pendidikan yang ada di kelas doank. Apalagi dengan habit UNSOED yang (meminjam istilah mas Firdaus) itu kurang think-thank!!! Tipikal mahasiswanya kupu-kupu alias kuliah-pulang, kuliah-pulang. Ruang-ruang diskusi merupakan sebuah hal yang kurang menjamur di kampus perjuangan yang katanya menjiwai nilai-nilai perjuangan sang Jenderal Soedirman. Padahal proses belajar di kelas apalagi yang ada di UNSOED sangat-sangat jauh dari namanya hakekat pendidikan itu sendiri. Kuliah hanya sekedar rutinitas belaka, dengarkan, ingat2, hafalkan, kerjakan tugas, praktikum, kumpulkan laporan!!!ujian, dapet IP, Skripsi, kompre, SELESAI!!! (Fiuh...aku selalu merasakan bosan yang teramat sangat kalo mengingat hal itu).
Mas Uud dan Mas Huzer bukan salah dua orang yang berbicara sep0erti itu. Masih ada deretan alumni UNSOED yang lain yang berbicara senada. Even though, not only UNSOED graduate. Bang Arp Muttaqien-alumnus FT-UI pun berbicara tak berbeda. Beliau bilang, di UI juga masih banyak mahasiswa (i) yang tipikal kupu-kupu, yang Cuma tipikal anak kuliahan, boro2 empati, simpati aja belum kesentuh. Malah disana peperangan prestise juga turut andil. Ampun DJ!!!
Yeah....kuliah itu apa sieh??? Sampai juga aku pada pertanyaan ini!!!!
Di bagian tulisan ini aku mau pake alur flash back aja atau pake metode deduktif. So, aku sebutkan dulu conclusi (awal) dari pembahasan pertanyaan diatas. Bagi aku, Kuliah is entertainment!!Kuliah itu hiburan. Lebih lengkapnya, kuliah itu hiburan yang menyenangkan seperti kita menonton film komedi saat melepas lelah.
Setelah hampir dua tahun baru aku sampai pada conclusi itu. Oya, tapi perlu diperhatikan juga bahwa “kuliah” yang aku sebutkan disini refer to a class activity. Aku rasa juga persepsi almost of student mengenai kuliah juga hanya berkutat pada aktivitas dalam kelas.
Waktu jadi junior, aku sangat bersemangat (kalo kata orang-orang sieh...emang aku tuh tipikal orng yang always have full spirit!!!). Dalam bayanganku akan menghadapi kelas-kelas dan mata kuliah yang sangat menarik. English Literature. Sebuah ilmu yang lumayan baru buatku, walaupun bergelut di dunia sastra bukan sebuah hal yang newest.
Apalagi aku yang waktu itu terpilih jadi salah satu kandidat ketua angkatan. Wah...aku termasuk salah satu jajaran orang populer di kampus. Aku sangat bersemangat dan membayangkan mimi-mimpi yang bisa ku wujudkan dengan kampus ini.
Tapi...memang benar kata orang bjak, kalo naik pohon jangan tinggi-tinggi nanti jatuhnya lebih sakit. Semangatku seharusnya jangan terlalu tinggi karena kalo berhadapan dengan kenyataan yang kurang positif bisa bikin aku jadi kecewa berat.
Yeah...awal-awal aku kecewa dengan keadaan. Alhamdulillah Allah menuntunku pada sebuah pemikiran mengenai hakikat perjuangan. Kalo semua orang bisa memilih tentunya masing masing dari kita akan memilih sesuatu yang menyenangkan. Namun, pemahaman akan hakikat perjuangan membuat kita menjadi lebih bijak dalam melihat sebuah kehidupan. Senang dan sedih, bahagia dan tidak, bukanlah sebuah hal yang hitam putih. Itulah kenapa ketika kita bahagia, air mata juga keluar dan saat kita sedih kadang kita tertawa lepas. Aku ridho bahwa disinilah tempatku menuai hikmah, di jalan perjuangan. Aku yakin dengan ikhlasku dan ridhoNya, impian-impianku bukan sebuah hal yang utopis.
Secara sederhananya, dimanapun kita menjejakkan kaki, tanggungjawab kita sama, peluan untuk berfastabiqul khairat jugas sama-sama besar.
Trus...gimana kuliahku???he3
Yup, bisa dibilang beberapa bulan kebelakang, aku merasakan berkurangnya motivasi untuk kuliah. Aku miris liat suasana belajar yang nggak sehat. Dulu, aku suka banget sama yang namanya ruang-ruang diskusi, jadi kelas itu bukan Cuma ada pendidikan satu arah tapi ada interaksi antara mahasiswa dan fasilitator. Tapi...habit membentuk sebuah sifat diskusi yang hanya berorientasi pada “ Yang pentung udah maju presentasi...........” dan “ Yang penting dapet nilai....”.
Salah satu contoh misalnya, di kelas Pengetahuan Kebudayaan Inggris. Salah satu pertanyaan yang aku ajukan di introduction dan learn contract, yaitu apa tujuan sebenarnya dari kuliah ini. Aku sangat interest dengan beberapa mata kuliah disni. Tapi kenyataannya proses pembelajaran yang terjadi nggak sreg di hati. Di kuliah PKI aja, setiap selesai kelas, aku pasti menuju ruang dosen untuk bicara ini itu mengkritisi proses yang tadi dijalankan. Bukannya aku nggak berani mengungkapkan di kelas, tapi memang waktunya tidak memungkinkan, udah terlalu sore.
Setelah sering protes, pada akhirnya emang dosen ngomong “ Ya, memang mata kuliah ini tidak bisa mengakomodir pembelajaran tentang kebudayaan inggris, sharusnya setelah kuliah ini follow-upnya yaitu mata kuliah culttur studies, etc”. Yup, tapi pada kenyataannya setelah ambil kebudayaan inggris kita diwajibkan ngambil kebudayaan australia dan amerika, nggak ada mata kuliah yang emang benert-bener “jelas” orientasinya.
So, mau jadi apa sarjana-sarjana UNSOED kalo selama kuliah mereka Cuma berkutat di bangku-bangku kelas, dibalik diktat-diktat kuliah, dan dibalik ceramah-ceramah dosen???waktu terus berjalan, kondisi masyarakat diluarsana membutuhkan peran-peran kaum intelektual untuk berkiprah!!!
Jadi, apapun pendapat orang, aku merasa bahwa pilihanku untuk terkadang tidak mengindahkan aktivitas kelas bukanlah sebuah pilihan yang salah. Turut aktifnya aku di jalan (baca : organisasi-organisasi, ruang-ruang diskusi diluar kampus, event2 pemberdayaan masyarakat, etc) adalah sebuah pilihan sadar untuk mengantualisasikan ptensiku sebagai manusia.
Tapi, aku yakin sebenarnya kita bisa menyukai sesutau hal yang tidak kita sukai. Kucoba mencari sudut mana yang bisa membuat motivasi bangkit lagi untuk aktif fi aktivitas kelas (dalam artian : selalu masuk kelas). Yup, akhirnya aku menemukan itu di teman-temanku satu kelas.
Di beberapa kelas, aku merasa terhibur dengan tingkaph polah teman-teman. Mahasiswa-mahasswa gila, tipe anak kuliahan, tipe anak SMA (yang Cuma tau kuliah dan maen2, kongkow2 bareng temen). Tapi, lepas dari itu semua, mereka itu asyik banget coy!!!! Kelasku ini berbeda dengan kelas yang lain di sastra inggris angkatan ’06. Kelas yang paling bikin pusing doesn. Kelas yang nggak bisa diem. Canda-canda segar selalu mewarnai proses-proses belajar di kelas. Canda-canda segar yang kadang juga cerdas. Kelas paling gila biasanya kalo di kelas grammar or di kels translate. Misal waktu. Mr.Pujo sedang menjelaskan tenses dalam translarte, sedang menjelaskan penggunaan kata “sedang”, tiba-tiba so andhika nyletuk “ Kapitan kan punya sedang panjang, sir!!:. Eh, malah disambung lagi sama dosen, “Ah nggak, sedang itu kan makanan dari minangkabau”. Ya, selanjutnya bisa ditebak masing2 “orang gila” menyebutkan plesetan masing, sampe mereka berhenti sendiri (tentunya nanti kalo menemukan kata yang menjadi “sasaran empuk”, plesetan2 itu akan berjalan lagi!!). belum lagi kalo sesi tanya-jawab, si Andhika gila, Acep “prancis” kayaknya berusaha menunjukan obsesi artis mereka. Penekanan2 pada kata2 lebih membuat mereka terlihat sedang “maen film” daripada sedang “mengajukan pertanyaan”. Kata2 andalan Andhika misal “ ini nggak progres ini..!!!!”, atau si unggul “Ini adalah pertanyaan yang fundamentalis”, bukan2 kata2nya yang lucu, tapi ekspresi mereka yang sengaja dibuat lucu itu merupaka sesuatu yang menghibur. Ya, untuk orang yang sering menghadapi hal-hal yang serius seperti aku, hal2 sperti ini cukup menjadi canda renyah. Setidaknya aku selalu tertawa lepas di kelas ini. Tadinya di awal, aku selalu serius menghadapi kuliah2. Tapi, malah setiap aku mo tanya, kadang aku menjadi alternatif terakhir untuk diijinkan bertanya, itupun kalo nggak ada yang nanya lagi!!Ya, jadi aku pikir aku anggep aja kelas ini sebagai sebuah hiburan, enjoy it!!! Lagipula, dengan belajar sendiri melalui buku-buku atau internet, kadang malah membuat aku lebih bisa memahami mata kuliah itu. Aku pikir, aku nggak akan mendapatkan sesuatu kalo hanya belajar dari ruang kelas, diluar sana masih banyak ruang-ruang belajar di luar kelas yang lebih menjamin terpenuhinya courius0qu. Walaupun ruang2 belajar di luar kelas tidak memberikan sebuah IP or IPK. Tapi, quiz2 disana lebih aplikatif.
Ya...kini ingin kuteriakan : AYO KULIAH!!!! (nadanya sama dengan iklan “Ayo Sekolah!!”he3)



Read more ...

MY ELITE TROOPS (Englsh Literature Troops)




Sudah 12hari lewat setelah penghitungan suara di PEMIRA (Pemilihan Raya) ketua hima prodi sastra inggris yang menghasilkan keputusan Abe sebagai ketua. Seharusnya kini organisasi itu sudah berjalan. Aku ingat betul ketika amanah sebagai ketua KPR (Komisi Pemilihan Raya) itu aku terima. Dari sejumlah orang yang hadir, lebih dari 50%suara aku dapatkan. Aku memang sengaja mengambil posisi perekayasa sosial di kampus ini. Tak ada niat secuilpun berkecimpung di struktural intra kampus. Aku lebih nyaman bekerja dibalik layar.
Masih ingat di pikiranku bagaimana protes-protes tersirat dari ekspresi rekan2 program studi sastra inggris saat mengetahui rencana jadwal PEMIRA. Aku merasa terpojokkan. Aku memang sengaja mengatur jadwal sedemikian rupa agar proses PEMIRA tidak instant. Tahun ini harus berubah. Now must be better than past. Aku sengaja menambahkan beberapa agenda dalam rangka pengoptimalan pendidikan politik bagi teman-teman dikampus. Kalau dianalogikan penyakit, kampusku sudah mengidap penyakit apatis akut stadium 4. Dengan diagnosaku, obat yang mujarab adalah mengadakan ruang-ruang dikusi bagi teman-teman. Walaupun itu juga tidak mudah. Untuk mencari fasilitator mungkin bukan hal yang sulit buatku (manggil rektor ke jurusan, aku sanggup!!!!he3). Namun untuk membujuk teman-teman untuk diskusi rasanya memang aku harus menyiapkan stamina yang prima. Bayangkan aja, bbrapa menit sebelum dikusi, aku masih harus muter-muter keliling kampus untuk menjemput dan menggandeng teman-teman menuju ruang diskusi. Sementara pembicara pun sudah menunggu kedatanganku. Aku pun harus sudah siap untuk menjadi moderator memimpin jalannya diskusi.
Terkadang aku bingung, kenapa sieh teman-teman agak susah diajak sedikit progresif??? Aku pikir, dengan turut aktif banyak hal yang bisa mereka peroleh. Kenapa harus enggan???Sungguh, aku sangat senang jika ada yanng meraih tongkat estafet yang selalu aku lambai-lambaikan. Estafet kepeloporan perubahan di kampus ini. Oh Tuhan....maafkan aku kalo hal ini terjadi karena salahku!!!!
Kembali ke HMPS, sampai saat ini aku belum melihat tanda-tanda kehidupannya. Yang bikin aku tambah sebel saat mas supri nanya “kapan pelantikan??”. Apalgi dengan nada suaranya yang aku rasa lebih mirip seperti rentenir penagih hutang. Ampun deh ngliat makhluk kayak gitu. Cuma bisa ngomong doank, seolah2 dia orang paling hebat di kampus, tapi aksinya nol besar!!!! Sekarang bayangin aja, dia mimpin HMPS periode kemaren tuh udah hampir 2tahun. Hasilnya??? Jangan tanya deh, bikin aku nangis. Dia Cuma orator handal, mulut besar. Tanggungjawab dianggapnya mainan. Ospek kemarin menuai protes terhadap posisinya, yang nggak pernah dateng rapat, eh tiba2 sok ngatur pas hari H. Belum lagi waktu musang HMPS. Boro-boro dia ngurusi, seperti biasa dia Cuma besar omong n ada di hari H. Please deh!!!!!
Menjelang PEMIRA pun dia sama sekali nggak pernah nongol!!! Sumpah, aku udah eneg sama nieh orang. Dia juga sama2 aku di BEM Universitas dulu (tapi dia menteri...aku kan sekum.he3). Apa hasilnya??? Kini kalo boleh aku dekripsikan kondisi BEM-U...luluh lantak!!! Aku jadi kasian sama mas Begs. Sebenarnya pengen banget bantu dan aku masih peduli. Tapi ada alasan-alasan ideologis yang memaksa aku mundur dari BEM. Kembali ke mas Supri, dia emang BEM Universitas, tapi ngurusin program studi aja nggak becus. Aku heran, hari gini masih aja ada orang mengejar prestise di jabatan organisasi. Biasa aja kali!!!!
Sekarang aku kadang agak serba salah, aku tau bahwa perjuangan ini belum berhenti disini, aku harus maju terus. Namun, aku juga harus mengurangi mayor2 dominasi di kancah intra kampus. Aku harus memberikan ruang-ruang buat teman yang lain. Tapi nampaknya, teman-teman harus dipancing terus. Kalo aku ngurusin ntar jangan-jangan dianggap terlalu ngatur, lagian wewenangku sebagai ketua KPR kan udah selesai. Tapi baru aku lepas 12hari aja, kok temen2 jadi stag gini ya????
Aku juga sudah memprioritaskan HMI dan Mafaza dibanding intra. Amanah ketum di komisariat membuat waktu, tenaga, dan pikiranku banyak terkuras dengan si hijau hitam. Begitu pula di Mafaza. PR divisi marketing masih menanti. Blom lagi target-target akademisku. Yeah...mungkin ini salah satu pembelajaran juga untuk lebih bijak mengelola waktu. Ya, Allah jadikan aku hamba yang mampu mensyukuri setiap nikmat perjalanan detikMu!!!Amien




Read more ...
Sunday, June 01, 2008

Elemen ke-10 Jurnalisme



Tentang Elemen ke 10 Bill Kovach dan Tom Rosenstiel

Oleh Farid Gaban

Saya baru membaca sebagian dari edisi revisi dari buku The Elements of
Journalism (Bill Kovach dan Tom Rosenstiel). Jadi, belum bisa menulis
resensi yang lebih lengkap. Tapi berikut ini quick review.
[Terima kasih buat Uly Siregar, Paul dan Alana Skiera yang telah membawa
oleh-oleh buku ini dari Amerika].

Dalam buku baru ini, Kovach dan Rosenstiel memasukkan elemen ke-10:
"Citizens, too, have rights and responsibilities when it comes to the news."
Kovach dan Rosenstiel mengkaitkan elemen terbaru ini dengan
perkembangan teknologi informasi (internet khususnya) dalam beberapa tahun
terakhir: munculnya blog dan online journalism serta maraknya jurnalisme
warga (citizen journalism), community journalism dan media alternatif.

Ini elemen yang memang penting, sesuai dengan sub-judul buku asli
mereka: "What Newspeople Should Know and the Public Should Expect."
Teknologi informasi muatkhir memungkinkan orang, siapa saja,
memproduksi berita. Inilah era yang disebut oleh Alvin Toffler,
seorang futurolog pada 1980-an, sebagai era prosumsi (produksi dan
konsumsi). Publik atau masyarakat bisa menjadi produsen dan konsumen
sekaligus.

Munculnya blog, jurnalisme warga dan media alternatif sebenarnya
juga diilhami oleh kekecewaan publik terhadap media mainstream yang sekarang
ada, sebagian besar karena kesalahan para wartawan dan pemilik media
sendiri.

Tingkat kepercayaan publik terhadap media terus merosot. Di Amerika,
misalnya, sebuah survai 1999 menunjukkan bahwa hanya 21% masyarakat yang
menilai pers peduli pada rakyat, terjun bebas dari 41% pada 1987. Hanya 58%
yang mengakui pers sebagai lembaga watchdog, turun dari 67% pada 1985.
Kurang dari separo responden, 47%, yang percaya bahwa pers melindungi
demokrasi.

Kecenderungan yang sama, kita bisa menduga, juga terjadi di Indonesia.
Liberalisasi industri media setelah reformasi tidak serta merta meningkatkan
pamor pers. Pengalaman pribadi saya justru menunjukkan bahwa masyarakat
sekarang jauh lebih sinis terhadap media dan profesi kewartawanan, ketimbang
20 tahun lalu.

Liberalisasi itu sendiri menurut saya penting. Namun, nampaknya perlu
diimbangi oleh peningkatan mutu karya jurnalistik serta ketaatan wartawan
terhadap kaidah dan etika jurnalisme.

Kekritisan dan sinisme masyarakat terhadap media mainstream itu
penting dan bermanfaat. Masyarakat memang sebaiknya mamahami kaidah
jurnalistik dan dengan begitu bisa mengontrol pers, yang pada gilirannya
memacu wartawan dan pemilik media untuk kembali merenungkan eksistensinya
sendiri: untuk apa sebenarnya jurnalisme ada?

Kovach dan Rosenstiel kembali mengingatkan kita para wartawan untuk mengkaji
serta mengenali kembali prinsip-prinsip dasar jurnalisme agar kita tidak
makin tersesat jauh dari publik. Dan khususnya dalam elemen ke-10, buku baru
ini mengingatkan publik untuk ikut serta memperkaya jurnalisme dan
mengontrol pers.

Jurnalisme terlalu penting untuk hanya dipercayakan kepada para
wartawan, atau mereka yang mengaku wartawan.*** (Farid Gaban]


comment from nta:
Yup, jurnalis bukan sekedar sebuah profesi dimana kita hanya memindahkan apa yang di bibir orang ke dalam tulisan, namun jurnalis perlu juga memiliki kemampuan pengolahan berita yang akan dia buat. Jurnalisme terlalu sayang jika sekedar untuk profesi belaka. Daya kritis masyarakat juga diperlukan dalam hal ini. Tidak sekedar menikmati apa yang disuguhkan, sementara dilain pihak wartawan juga mencoba "membentuk" kesukaan masyarakat dengan mengikuti trend pasar. Media merupakan wadah edukasi masyarakat yang sangat urgent.
Hidup jurnalistik Indonesia (terus berkarya, progresif dan Yakin Usaha Sampai....^_^ =>lho???)


Read more ...
Sunday, May 25, 2008

Ambeg Parama Arta


Dalam jenak nafasku di awal usia 21 tahun ini, coba kuterawangkan fikir serta imagine....
Semakin dekat aku melangkah kepada kematian, semakin dekat aku mencapai pada ke"aku"an, maka aku harus semakin giat untuk mencari aku.
Thanx for all yang udah memberikan banyak hal di hari lahirku ini. Baik yang via telpon, sms, email, atau iseng ngerjain. Padahal aku tulis ini di pagi2, aku jadi agak2 harus "waspada" menjalani hari ini, jangan sampe aku "basah" lagi.he3.

AMBEG PARAMA ARTA. Itu yang ingin aku coba untuk menjadikan tekad di usia baruku ini. Istilah yang dimunculkan bung Karno , 45 tahun silam. Sebuah frasa yang sarat makna, yakni menuntun kita untuk "memprioritaskan hal-hal yang lebih mulia".

Dengan penuh kesadaran....aq mengakui bahwa tugas itu begitu banyak. Tanggungjawab itu begitu besar. Sungguh aku belum bisa bisa memfikirkan beberapa hal yang mungkin "agak sepele". Aku harus menyingkirkan itu sementara, aku harus tetap ingat...ingat...dan ingat. Dzkir...dzkir...dzkir....

Kuawali hariku di usia yang baru ini dengan astaghfirullah...astaghfirullah...astaghfirullah al adzim...

Siap ber-ambeg parama arta.............Insya Allah!!!


Read more ...

Traffiking Berkedok SPA di Jakarta


Ini sebuah kisah yang aku ambil dari milis (bwt jam gadang, thanx a lot). Ini tentang traficking berkedok SPA.

"SPA itu mempunyai karyawan perempuan sekitar 300 an orang perempuan (dari berbagai umur), saya tidak tahu apakah ada yang anak - anak atau semua dewasa.
Para karyawan perempuan tersebut diambil dari para agen - agen pencari perempuan. Setiap agen yang dapat mencari kan perempuan akan diberikan imbalan Rp 500.000 per orang dan kemudian setiap bulannya akan mendapatkan lagi Rp 200.000 per perempuan per bulan selama 15 bulan.

Syarat perempuan yang dicari harus perempuan yang "lugu" artinya tidak yang suka berdandan dan belum berpengalaman. Wajah tidak begitu dipedulikan asalkan masih "lugu". Karena menurut teman saya wajah bisa dipoles dengan komestik, gaya rambut dan baju serta perawatan tubuh yang baik.
Memasukan para perempuan2 itu juga tidak menggunakan waktu, kapan saja akan diterima. JIka tiap hari bisa menyediakan 5 orang juga akan diterima (itu menurut teman ku) dengan imbalan 5 x 500 ribu.

Kemudian setelah itu perempuan2 itu akan di "training" selama 2 tahun di SPA tersebut. Dan akan dipekerjakan di SPA selama 2 tahun. Jadi selama 4 tahun perempuan2 itu akan punya kontrak yang isinya salah satunya bahwa jika keluar harus mengganti biaya 20 juta rupiah. Dan ini mana mungkin bisa dilakukan oleh para perempuan itu yang pada umumnya miskin ekonomi. Walau ada beberapa kejadian ada perempuan yang lari (tapi aku gak gali dalam soal kenapa perempuan itu lari).

Selama masa 4 tahun itu perempuan2 itu akan diberikan asrama, soal biaya saya tidak menanyakan secara detail baik masa training maupun pada saat masa kerja selama 4 tahun tersebut.
Jika ada yang melarikan diri, para agen pencari perempuan salah satu orang yang akan diminta untuk mencari perempuan itu.
Selama di asrama akses keluar rumah sangat dibatasi dan tidak bisa sembarang orang bisa masuk dan komunikasi dengan para pekerja perempuan itu, karena sangat dijaga ketat.

Setiap hari jam 11 siang dimulai dengan kerja dan dimulai dengan harus bersolek yang semuanya diatur oleh pihak pemilik SPA. Misalnya harus menggunakan pakaian dan rok pendek sekali.
Peraturan2 itu harus ditaati suka atau tidak suka oleh semua perempuan pekerja SPA tersebut.
Pada saat melakukan pekerjaan sebagai pemijat dilakukan dalam kamar - kamar yang tertutup rapat. Walau pihak SPA secara langsung "tidak pernah" memerintahkan untuk melakukan transaksi sex. Tetapi menurut teman saya bahwa transaksi sex sangat sering terjadi pada setiap tamu datang.

Setiap tamu yang akan melakukan pemijatan harus membayar Rp 400.000 per jam, kalau soal biaya transaksi sex nya tidak tentu. Menurut teman saya semua uang yang didapat dari transaksi sex itu dinikmati oleh perempuan tersebut. Dan saya juga tidak tahu berapa perempuan itu mendapatkan uang setiap tamu yang dia layani dari 400 ribu tersebut.
Memang persoalan transaksi seksual itu "tidak begitu bermasalah" karena pembayarannya langsung kepada perempuan tersebut.

Karena pihak SPA tidak "meyarankan" untuk melakukan transaksi sexsual. Sehingga akses kesehatan bagi para perempuan itu sama sekali tidak diberikan. Misalnya informasi soal penyakit seksual, indi menggunakanya kondom bagi kesehatan.
Sehingga mau menggunakan kondom atau tidak bukan tanggung jawab pemilik SPA.
Itu selalu disampaikan pemilik SPA kepada para pekerja perempuannya (menurut teman saya).
Disinilah masalahnya terjadi, karena tidak adanya akses informasi Kespro sehingga menurut teman saya tidak bisa terjamin kesehatan perempuan2 tersebut aman.
Ini dibuktikan bahwa ada banyak perempuan yang sering mengalami gangguan pada vagina nya, apakah gatal atau mungkin juga HIV dan Aids.

Ditambah lagi para pekerja itu sama sekali orang2 yang rendah pendidikan dengan berbagai latar belakang.

Dan setelah saya tanya bahwa ternyata ada banyak lagi SPA2 di Jakarta yang modus nya sama dengan SPA ini menurut teman ku.
Jika saja diperkirakan ada 10 SPA dan masing2 ada 300 orang perempuan akan ada 3 ribu perempuan dalam situasi seperti ini di Jakarta. Wow angka yang gak bisa dianggap sedikit.
Mungkin harus dipikirkan strategy yang tepat, misalnya tindakan jangka pendek, menengah atau jangka panjang untuk kasus ini.
Supaya ini tidak merugikan korban dalam hal ini para perempuan pekerja tersebut yang memang secara ekonomis mendapatkan uang dari usaha tersebut.
Mungkin misalnya yang paling dekat harus dilakukan menyelematkan kesehatan reproduksi perempuan tersebut dan kampanye penggunaan kondom.Ini yang urgent menurut saya..
Kalau untuk langka selanjutnya mungkin teman - teman bisa pikirkan sama - sama mestinya bagaimana? Apakah ada team investigasi supaya bahan - bahan dan cerita ini bisa menjadi bahan advokasi yang lebih jauh lagi.
Karena saya yakin bahwa situasi ini diketahui oleh pemerintah maupun kepolisian tapi banyak hal yang membuat tetap saja hal itu terjadi.

Pihak SPA sendiri tidak mau menyediakan fasilitas kesehatan mungkin mau ambil aman saja supaya tidak dianggap melegalkan prostitusi. Tapi tindakan2 dan aturanya mengarahkan dalam proses prostitusi.


Read more ...
Wednesday, April 30, 2008

HIBRIDISASI POTENSI CIVITAS AKADEMIKA DALAM MEMBENTUK DINAMISASI DAKWAH KAMPUS*)


“Bersama Dalam Dakwah, Bersatu Dalam Ukhuwah, Berproses Dalam HMI”

*)tema kepengurusan HMI KOMPERTA UNSOED periode 2008-2009 (mohon saran dan masukannya)


Dilekatkannya predikat khalifah fil ardhi kepada manusia merupakan suatu anugerah serta kepercayaan sang Maha Kuasa kepada kita-manusia- yang harus mampu dibaca dan maknai. Predikat itu berkonsekuensi pada kesadaran akan entitas manusia yang tidak sebatas pada individu namun juga pada entitas sosialnya. Bahwa apa yang ada di sekitar kita adalah tanggungjawab tiap manusia untuk mengolah, mendayaguna, serta mengembangkan hingga tetap memiliki eksistensi. Istilah khalifah secara etimologis berarti wakil dan dalam pengertan risalah Islam berarti wakil Allah dimuka bumi, yang berkewajiban memakmurkan bumi sesua kehendak dan ajaran-Nya. Pada konteks masyarakat, kepemimpinan (khalifah atau imammah) merupakan sebuah kepercayaan satu individu atau lebih kepada individu lainnya.

Hidup adalah sebuah perjuangan. Perjuangan seorang muslim merupakan sebuah proses peningkatan kualitas akan iman yang membentuk jati diri muslim seutuhnya. Perjuangan merupakan sebuah pilihan sadar yang memiliki dua syarat yaitu “berkehendak dan bertindak”. Perjuangan bersama HMI sepatutnya sebuah pilihan sadar yang berkonsekuensi adanya tindakan. Sebagai kesadaran, tindakan perjuangan dapat terejawantahkan dalam jalan dakwah. Maka sebagai khalifah, dakwah adalah sebuah kenscayaan.

Saat ini gerakan dakwah telah memasuki era dimana globalisasi mulai merasuk dan arus nilai yang berkembang dalam kondisi dimnamisasi yang teramat luar biasa. Maka perubahan gerakan merupakan keniscayaan dalam dakwah jika tidak ingin tergilas oleh arus nilai lain. Dakwah bukan sebuah hegemoni oleh satu dua gelintir orang. Maka proses dakwah juga harus mengalami dinamisasi. Dinamisasi yang dimaksud adalah yang masih berpegang pada nilai-nilai keIslaman. Pemunculan warna lain dakwah harus dimunculkan sebagai salah satu kerja kreatif dari para penggerak dakwah dalam rangka eksistensi dakwah itu sendiri.

Awalnya HMI didirikan sebagai wadah mahasiswa muslim sebagai lembaga dakwah kampus. HMI yang kini telah berdiri hamper seumu dengan negeri ini telah mengalami pasang surut. Keberadaan HMI dalam beberapa era dengan strategi dakwahnya mampu mendongkrak bargaining position kaum intelektual muda (baca : mahasiswa) dalam berperan di negeri ini. Dalam kancah dakwah, –seperti dikutip dari Suharsono –HMI sudah sepatutnya dapat mengapresiasikan idealisme insan HM, ulil albab, tidak hanya sebatas pengertian formalnya sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar, tetapi juga secara intelektual dan iman, serta dimensi sosiologis yang merupakan manifestasinya. Dengan kata lain, HMI dinanti peranannya dalam dinamisasi kancah dakwah, dimana dakwah tidak menjadi hegemoni suatu gerakan. Dakwah merupakan konsep pendidikan dimana hakikat pendidikan adalah sebuah pembebasan dan bukan sebuah pengkultusan Islam dalam sebatas simbol-simbol belaka.

Meniliki sejenak historika HMI komisariat pertanian UNSOED, dimana telah menjadi embrio dakwah di kampus perjuangan Universitas Jenderal Soedirman. Dalam perkembangannya, KOMPERTA mendapat indikasi kekhawatiran menjadi sebuah generasi hybrid dimana mereka kini tak mampu beranakpinak kembali melestarikan generasi. Fenomena generasi hybid komperta UNSOD merupakan satu hal yang perlu segera diselamatkan. Dalam perkembangannya kini, komperta UNSOED berusaha tertatih merangkul komponen mahasiswa di lingkungan kampus belakang.

HMI KOMPERTA mencakup lima (5) fakultas yakni : F.Pertanian, F.Peternakan, F.SainsTek, FKIK, dan F.Biologi. Selain berdasarkan lokasi geografis fakultas, KOMPERTA juga mencakup lokasi domisili kader. Jadi tidak menutup kemungkinan ada fakultas lain yang berdomisili sekitar kampus belakang yang merupakan member dari KOMPERTA. Kemajemukan yang dimiliki KOMPERTA merupakan kekayaan akan kader yang memiliki berbagai macam karakter. Hal ini memerlukan sebuah garis kerja khusus untuk dapat mengakomodir seluruh kekayaan karakter yang dimiliki. Kepengurusan yang ada harus dapat menjadi empowering smber daya yang ada. Dalam hal ini, upaya hybridisasi atau persilangan beberapa varietas yang berbeda merupakan tindak yang menjadi garis kepengurusan KOMPERTA periode 2008-2009. Dari hybridisasi itu diharapkan kita menghasilkan varietas yang dapat terpetakan karakternya sehingga pola pembinaan dapat dilakukan dengan optimal.

Karater HMI dengan kekayaan wacana-nya diharapkan dapat meningkatkan kualitas dakwah di ranah kampus. Fenomena yang ada bahwa dakwah terasa monoton. Padahal dakwah merupakan sebuah public relation dari kebenaran (baca : Islam). Aktivitas dakwah dalam kampus terpusat pada hal-hal yang bersifat simbolisasi saja dari Islam. Urgensi atau hal-hal yang merupakan wacana substansial jarang dilakukan. Padahal di tingkatan universitas, dan memiliki audience kaum intelektual, seharusnya dakwah juga dapat menjadi pengasah intelektualitas.

Dengan upaya ini diharapkan kehadiran HMI dapat menjadi sapuan warna yang akan menambah semarak perjalanan dakwah kampus. Keanekaragaman merupakan sebuah rahmat Allah maka dalam dakwah pun akan menjadi indah apabila keanekaragaman itu dapat tertuang menjadi sapuan warna-warni. HMI sendiri juga dapat dkatakan sebagai organisasi yang terbentuk dari berbagai elemen “keIslaman” para calon kadernya. HMI membuka lebar pintu kepada semua mahasiswa Islam dari berbagai latarbelakang. HMI kemudian muncul sebagai sebuah akulturasi budaya Islam yang ada di Indonesia. Kemampuan mengakomodir berbagai kemajemukan dengan sikap toleransi dan semangat untuk belajar bersama inilah yang juga akan diterapkan di KOMPERTA untuk mampu merangkul berbagai elemen. Sekali lagi, dakwah milik kita semua, setiap umat memilki tanggungjawab dan peluang yang sama, tinggal bagaimana kita mampu membaca kesempatan tersebut. Dengan kata lain, mari kita saling membuka kesempatan berdakwah bagi setiap orang di sekitar kita. Dengan bersama dalam dakwah, dan tetap bersatu dalam sebuah persaudaraan Islam, serta belajar dan berproses bersama dalam wadah HMI. Yakin Usaha Sampai!!!

by : nta

Read more ...
Tuesday, April 15, 2008

Mengapa orang gila dilarang ngajar di kelas?


(Dikutip dari forum diskusi di Multiply)

Tahun ajaran baru dimulai. Sekelas mahasiswa TPB (mahasiswa tahun
pertama) jurusan X berbondong-bondong masuk kelas dan menunggu dosen datang.
Datang seorang laki-laki setengah baya masuk kelas, dan kemudian
memulai perkuliahan. Baru beberapa menit dia memberi “kuliah”, datang
seorang mahasiswa senior, dan “menyeret” sang dosen keluar ruangan.
Kontan para mahasiswa TPB bertanya-tanya. Dan si senior menjawab,
“Dia itu Bang N, mantan mahasiswa sini yang jadi gila karena ada
masalah…”
***
Kisah di atas adalah kisah nyata. Dan tentu saja, Anda pasti akan
membenarkan tindakan si mahasiswa senior di atas.
Namun sayangnya, dalam kenyataan sehari-hari kita, banyak orang yang
melakukan tindakan Bang N tsb.
***
Banyak orang yang merasa dirinya kritis dan cerdas mempertanyakan,
mengapa hanya ulama-ulama yang boleh membuat fatwa dan mengatur kehidupan
keberagamaan masyarakat. Mengapa tidak semua orang dibebaskan saja
membuat penafsiran sendiri tentang masalah-masalah agama dan tidak perlu
mengikuti “orang-orang kadaluarsa” tsb?
Bagi saya, jawabannya gampang. Karena kita tentu tidak akan mengijinkan
Bang N dan orang-orang semacamnya atau sembarang orang mengajar di
kelas perkuliahan.
Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada orang-orang yang
kritis dan cerdas itu.
Misalnya saya sudah banyak membaca buku tentang kesehatan, baik dari
ilmu kesehatan modern maupun ilmu kesehatan alternatif. Saya paham betul,
bagaimana ciri-ciri suatu penyakit, seberapa berat penyakit tsb dari
tanda-tandanya, dan obat apa saja yang dapat diminum untuk meredakan
penyakit tsb.
Pertanyaannya:
(a) Bila saya sedang kena flu bolehkan saya mengobati diri sendiri
dengan cara yang saya anggap tepat buat diri saya?
(b) Dengan modal pengalaman tsb, bolehkah saya membuka praktik untuk
menarik agar orang-orang berobat ke saya? Kira-kira bagaimana reaksi
para dokter professional akan tempat praktik saya tsb?
Misalnya saya sudah membaca 3 lemari penuh buku-buku Fisika karangan
para fisikawan terkenal dari abad pertengahan sampai modern. Bagaimana
kira-kira reaksi orang-orang, bila tiba-tiba saja, dengan PD-nya saya
memasuki sebuah gedung kuliah di MIT dan mengajar fisika kuantum di sebuah
kelas?
Mengapa untuk hal-hal duniawi seperti menjadi profesor, dokter,
pengacara, dsb kita tidak pernah mempersoalkan bahwa untuk menjalani profesi
tsb dibutuhkan kualifikasi-kualifikasi tertentu yang tentunya cukup
berat dan tidak semua orang dapat menjalani profesi tsb, apalagi dengan
modal sekadar “merasa bisa”?
Mengapa untuk masalah-masalah agama banyak orang dengan gampang merasa
dirinya menjadi ahli yang tidak perlu lagi berkonsultasi dengan
orang-orang yang lebih berpengalaman dan mendalami masalah-masalah agama?
Tahukah Anda bahwa sekadar untuk menjadi seorang mufassir Quran yang andal,
setidaknya ada 23 cabang ilmu al-Quran yang harus dikuasai? Belum lagi
menjadi ahli hadits, ahli fikih, dsb. Puluhan bahkan mungkin ratusan
cabang ilmu yang perlu dikuasai orang untuk menjadi seorang yang
betul-betul pantas menjadi seorang pembuat fatwa keagamaan. Berapa kitab dan
berapa cabang ilmu sudah Anda kuasai?
Jangan meniru Bang N.

(disadur dari milis)




Read more ...

Syndrom Kangen HMI



Selalu seperti ini. Nta selalu ngrasain kangen kalo habis ngikutin acara-acaranya HMI. Nggak tau kenapa. Pengennya tuh nta selaluu dalam lingkungan yang dinamis seperti saat ditengah-tengah temen2 HMI.
Berlebihan mungkin...tapi nggak juga (lho??)
Sama kayak dulu, waktu nta biz LK II, atau waktu biz loknas, waktu biz diskusi-diskusi di cabang or komisariat, nta ngrasain enjoy n menikmati banget suasana yang terjadi disana. Dan selalu setelah pasca acara, nta ngrasa kehilangan suasana yang seperti itu. nta selalu dihantui syndrom kangen HMI.
Kayak kemaren biz pleno.....wuah...nta pengennya tiap hari, tiap saat, tiap detik, nta selalu punya kesempatan buat diskusi bout anything!!!
ya..mungkin di cabang n komisariat nta sendiri perlu ngadain diskusi yang lebih sering, buat mengobati syndrom ini.

Yupz, sekarang saatnya kembali ke rutinitas, menghadapi segala aktivitas, kuliah-siaran-rapat-nulis-dikejar deadline-ngejar angkot- siap2 midtest- dll.

Semoga syndrom ini selalu hidup...bukan sebagai sesuatu yang berlebihan hanya stimulan untuk selalu istiqomah berada di jalan dakwah...bersama HMI (HMI bukan tujuan...hanya sekedar alat).


the last, miss u n luu all the HMI's member..........

YAKUSA

Read more ...

Membaca Hikmah Dibalik Amanah




Ending dari apat Anggota Komisariat Pertanian HMI cabang Puwokerto membuatku perlu menyisakan waktu-waktu untuk berkontemplasi merenungkan berbagai hal. Amanah sebagai ketua formatur baru kurasakan sebagai sebuah hal yang cukup berat dan memerlukan konsentrasi penuh.

Kini aku bisa merasakan perbedaan antara mengemban jabatan di HMI dan di organisasi lain. Kalau meminjam istilah mas Anto (mantan ketum cabang pwt), jabatan ini pertanggungjawabannya dunia akhirat.

Sungguh, jangan dikira aku tertawa menerima amanah ini. Malam seusai RAK, merupakan malam panjang buatku untuk terjaga dan berfikir banyak hal. Kondisi komperta yang sedang futur, cakupan wilayah yang cukup luas, aspek history kejayaan komperta, serta kapasitasku menjadi ketua, semua berkecamuk dalam dunia pikirku. Mampukah aku Tuhan???

Aku sadari ini menjadi titik tolak transformasi diri. Bukan sebuah keterpaksaan, namun secara moral, aku menyadari penuh, bahwa posisiku kini bukan berdiri untuk entitas pribadi, namun kini aku diserahi umat.

Staus keanggotaanku dalam komisariat yang masih rancu, adanya tanggung jawab di oganisasi lain, serta berkaca pada karakter dan kepribadianku, terkadang aku merasakan tidak sanggup untuk menerima amanah ini. Perjalanan penuh warna bersama HMI MPO selalu menyisakan air mata di hatiku. Bahkan pengorbanan yang sangat menyakitkan pun harus aku lakukan. Kini, yang terpenting, aku harus bisa belajar dan menyadari bahwa ini adalah salah satu bagian dari kawah candradimuka yang harus ku lewati untuk membawa diri ini menjadi lebih baik lagi. Tuhan, tuntun aku dalam perjalanan proses ini.

Kepada kawan-kawan komperta, kini kalian adalah bagian dari aliran darahku, semangat kalian adalah penentu akan dibawa kemana kondisi umat dalam cakupan wilayah komperta ini.
Kepada kawan-kawan cabang puwokerto, mohon dukungan dan bimbingannya, aku hanyalah serpihan asap yang tiada berguna tanpa bantuan kalian...
Kepada kawan-kawan HMI semuanya........mari terus bersinergis, layaknya sebuah rangkaian tubuh, jika salah satu bagian merasa sakit, maka yang lain pun akan merasa sakit.
Kepada keluarga, ayah dan bunda tercinta, shinta sangat memohon dukungan serta doa restu....
Kepada seseorang......kini saatnya aku harus membencimu...thanx 4 all.

Keep Allah in our heart. YAKUSA! Allahu Akbar!!!



Read more ...
Friday, April 04, 2008

Akhirnya...bisa meraih prestasi lagi....


salah satu nta menyanggupi melaksanakan PORSENAF adalah nta pengen PORSENAF tahun ni bener2 terlaksana. Karena nta pengen banget ikut cabang baca puisi.
Alhamdulillah, keinginan itu tercapai dan nta berhasil jadi runner up. Semoga nanti bisa mewakili UNSOED di ajang PEKSIMIDA.
Prestasi ini adalah pertama setelah dua tahun tidak pernah merasakan menang lomba baca puisi. Nta seneng banget....bisa meraih runner up lagi (dua tahun yang lalu juga runner up di jateng. Masih brthan di runner up.he3). Thanx a lot bwt temen2 sianak n teksas,i.e ; maz Budi (thanx banget bwt semangat n advicenya...u r best brother, mbak aul=>sukses y bwt monolognya, pak dodit,pak edon, temen2 teksas, dll. Doain ya kalo nta bisa ikut peksimida bkn mei nanti.........
Read more ...

PEMBENTUKAN KARAKTER MASYARAKAT BILINGUAL MELALUI PENUMBUHAN LINGUISTIC PRIDE BANYUMASAN*)


Oleh : Shinta Ardhiyani Ummi**)

PENDAHULUAN
Bahasa menunjukkan bangsa. Kalimat pepatah ini memberikan kesan kepada kita bahwa sebuah bahasa dapat menjadi tolak ukur penilaian sebuah hal. Salah satu fungsi yang dimiliki bahasa adalah sebagai sebuah identitas baik individu ataupun kelompok masyarakat. Bahasa juga merupakan sebuah sistem atau lebih tepatnya, sekelompok sistem (yaitu sistem bunyi, sistem tata bahasa, sistem makna).

Sebagai sebuah produk budaya, bahasa memiliki berbagai faktor yang mempengaruhi eksistensinya. Salah satunya adalah kebijakan pemerintah. Di Indonesia, ada lembaga yang berkompeten untuk membina dan mengembangkan bahas yaitu Pusat Pembinaan Bahasa. Sebagai salah satu identitas, Indonesia juga menunjukan identitasnya melalui bahasa, yaitu bahasa Indonesia. Kemudian melalui Lembaga Pusat Pembinaan Bahasa, muncul garis kebijakan bahasa seperti:

“ Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah lambing kebulatan semangat kebangsaan Indonesia, alat penyatuan berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang kebahasaan, kebudayaan, dan kesukuannya ke dalam satu masyarakat Indonesia, alat perhubungan antarsuku, antardaerah, dan serta antarbudaya….. Di dalam kedudukannya, bahasa Indonesia adalah bahasa resmi pemerintahan, bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan, alat perhubungan pada tingkat nasional, serta alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.” (Halim, 1980, 17)

Kebijakan ini merupakan sebuah arah pemersatu bangsa yang majemuk. Namun memang ada yang perlu disayangkan dalam implementasinya. Pelaksanaan kebijakan itu hanya semata-mata menekankan pembinaan dan pengembangan bahasa nasional, tanpa secara serius melakukan pembinaan dan pengembangan bahasa-bahasa daerah. Bahasa daerah merupakan kekayaan bangsa yang juga harus dibina dan dikembangkan. Kebijakan yang tidak serius melakukan pembinaan bahasa daerah sehingga lambat laun akan membawa kepunahan bahasa daerah. Hal ini secara tidak langsung merupakan tindak perampasan hak hidup masyarakat pendukung bahasa-bahasa lokal.

Seorang linguis pernah menyatakan bahwa Indonesia tidak memiliki dana dan tenaga yang mencukupi untuk membina dan mengembangkan bahasa-bahasa daerah yang jumlahnya beratus-ratus. Menurutnya pula, membiarkan masyarakat hidup dengan bahasa daerahnya sama saja halnya dengan memelihara mereka dengan memelihara dalam museum hidup. Dalam arti lain itu adalah sebuah upaya pelestarian. Pandangan ini tak berbeda dengan pandangan A.A.Fokker yang sangat tidak berkenan dengan adanya bahasa lain yang mengganggu pertumbuhan bahasa Indonesia. Menurut Fokker dialek-dialek kecil harus hilang dan itu merupakan hukum yang tak tergoyahkan, dan sebagai penjunjung pikiran untuk masyarakat yang lebih luas dialek itu harus melangkah mundur terhadap yang lebih kuat dan lebih maju. Hal ini jelas-jelas tidak bertentangan dengan garis kebijakan yang telah disusun dalam rangka pembinaan dan pengembangan bahasa daerah seperti yang telah dirumuskan berikut :

”Bahasa-bahasa daerah yang masih dipakai sebagai alat perhubungan yang hidup dan dibina oleh masyarakat pemakainya, dihargai dan dipelihara oleh negara. Oleh karena itu bahasa itu adalah bagian daripada kebudayaan yang hidup”.

PEMBAHASAN
Bahasa Banyumasan yang sering disebut dengan istilah ”ngapak-ngapak” merupakan aset budaya Jawa yang memiliki peluang besar untuk dilestarikan baik melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal. Namun, fenomena yang kita lihat pada era kini adalah menurunnya minat masyarakat dalam penggunaan bahasa banyumasan. Dialek Banyumasan dianggap sebagai bahasa kuno yang tidak populer. Padahal tiap personal masyarakat Banyumas sendirilah yang memiliki tanggung jawab dalam pelestarian dialek lokal tersebut.

Dialek Banyumas memiliki kekhususan-kekhususan linguistik yang tidak dimiliki oleh bahsa Jawa standar. Keunggulan itu misalnya dialek dapat menutup kata-katanya dengan bunyi bersuara dan tidak bersuara. Misalnya sendok, endog, angop, abab, dsb. Di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas selain berkembang bahasa Jawa baku—sering disebut dengan istilah bahasa bandhek—juga berkembang bahasa Jawa dialek Banyumas atau bahasa Banyumasan. Bagi masyarakat di daerah ini, bahasa Banyumasan merupakan bahasa ibu yang hadir sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Bahasa Banyumasan diyakini sebagai peninggalan dari bahasa Jawa lama (bahasa Jawa Kuno dan Tengahan) yang masih bisa dijumpai hingga sekarang (Ahmad Tohari,1999). Dengan demikian bahasa Banyumasan dapat digunakan untuk mengintip pertumbuhan bahasa Jawa lama yang berkembang sebelum lahirnya bahasa Jawa baru.

Bahasa Banyumasan memiliki spesifikasi dan/atau ciri-ciri khusus yang dapat dibedakan dengan bahasa Jawa baru (standar). Beberapa ciri khusus tersebut antara lain:
(1) berkembang secara lokal hanya di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas;
(2) memiliki karakter lugu dan terbuka;
(3) tidak terdapat banyak gradasi unggah-ungguh;
(4) digunakan sebagai bahasa ibu oleh sebagian besar masyarakat Banyumas;
(5) mendapat pengaruh bahasa Jawa kuno, Jawa tengahan, dan bahasa Sunda;
(6) pengucapan konsonan di akhir kata dibaca dengan jelas (selanjutnya sering disebut ngapak-ngapak), dan
(7) pengucapan vokal a, i, u, e, o dibaca dengan jelas (Yusmanto, 2004-a).

Bahasa Jawa dialek Banyumas terbagi setidaknya menjadi sub dialek, yaitu sub dialek wetan kali (sisi timur sungai) dan sub dialek kulon kali (sisi barat sungai). Sungai yang dimaksud disini adalah sungai Serayu. Sub dialek wetan kali merupakan dialek Banyumasan yang cenderung dekat dengan bahasa Jawa standar yang dikembangkan di wilayah negarigung. Sedangkan dialek kulon kali cenderung dekat dengan bahasa Sunda. Fakta yang paling mudah ditemukan adalah nama-nama desa. Di sisi barat sungai Serayu terdapat begitu banyak desa atau tempat-tempat yang didahului kata “ci” yang dalam bahasa Sunda berarti sungai, seperti Cilongok, Cingebul, Cilacap, Cionje dan lain-lain. Ini berbeda dengan desa-desa atau tempat-tempat di sebelah timur sungai Serayu yang lebih njawani, seperti Karangsalam, Karangrau, Purwareja, Wirasaba, Somagede dan lain-lain. Kenyataan demikian tidak dapat disangkal meskipun nama-nama njawani berkembang lebih meluas hingga sisi barat sungai Serayu. Semua itu terjadi karena sungai Serayu telah menjadi batas terakhir perkembangan kebudayaan Sunda, sementara persebaran kebudayaan Jawa merambah hingga perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Lebih dari itu pada tingkat kelompok-kelompok kecil ternyata juga terdapat perbedaan-perbedaan sub dialek yang tercermin pada pilihan kosa kata, intonasi, dan gaya bahasa. Di wilayah kulon kali, terdapat banyak sub dialek seperti yang terdapat di wilayah Kalibagor hingga Purwokerto yang berbeda dengan Karanglewas dan Cilongok. Hal ini berbeda dengan yang terdapat di Ajibarang hingga Lumbir. Semakin ke arah barat, semakin kental pula warna Sundanya. Namun justru ada kekhususan, di daerah Wanareja dan sekitarnya justru banyak digunakan bahasa Jawa bandhek (standar) untuk komunikasi sehari-hari. Hal tersebut terjadi karena di wilayah Wanareja dihuni oleh orang-orang dari Wetan (wilayah Blora, Pati, Klaten dan lainnya) bekas narapidana Nusakambangan pada masa penjajahan Belanda yang tidak pulang ke daerahnya. Artinya, sejak lama di wilayah Wanareja justru telah dihuni oleh masyarakat multietnis yang memungkinkan terciptanya sub kebudayaan tersendiri di dalam konteks kebudayaan Banyumas secara keseluruhan.

Dari fakta-fakta diatas kita dapat menyimpulkan bahwa kebudayaan Banyumas dibentuk dari kebudayaan yang heterogen. Identitas kebudayaan Banyumas justru dibangun dari berbagai komunitas masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil di wilayah Banyumas. Hal ini sangat bisa dipahami karena pada dasarnya identitas budaya dibangun oleh individu-individu sejauh dia dipengaruhi oleh tanggung jawabnya terhadap sebuah kelompok atau kebudayaan (Wikipedia,2006). Karakter individu memiliki peranan yang cukup besar di sini. Karakteristik individu berakar pada identitas dasar yang dibawa semenjak lahir dan merupakan suatu anugerah yang tidak bisa dihindari. Identitas dasar itulah yang kemudian membentuk “keakuan” dan membedakannya dengan yang lain (Ubid Abdillah S., 2002:12). Karakteristik individu pada orang per orang yang mendiami wilayah Banyumas kemudian disatukan oleh perasaan kebersamaan.

Perasaan kebersamaan diwujudkan melalui berbagai cara dan ekspresi seperti yang tampak pada bahasa dan kesenian-kesenian tertentu yang berkembang meluas di seantero Banyumas. Bahwa bahasa dialek Banyumasan dengan sub-sub dialeknya merupakan ekspresi perasaan kebersamaan kaum panginyongan (Ahmad Tohari, 2006) di tengah hegemoni kebudayaan kraton Jawa. Adanya perasaan kebersamaan ini kemudian terbentuk suatu sistem kebudayaan; kebudayaan Banyumas.

Menurunnya pelestarian dialek banyumasan dengan kata lain dapat diindikasikan terjadi adanya degradasi perasaan kebersamaan yang telah menjadi sebuah tali pengikat. Menurut kajian teori dan analisis sosiolinguistik, ada berbagai sebab atau alasan mengapa suatu bahasa punah atau tidak digunakan lagi oleh penutur-penuturnya. Satu diantaranya adalah adanya dominasi bahasa atau dialek yang lebih besar baik secara demografis, ekonomis, soSial, atau politis. Dalam konteks kasus bahasa banyumasan, selain bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, tekanan dari bahasa Jawa juga merupakan salah satu faktornya. Banyumasan merupakan subbahasa yang kemudian mendapatkan pengaruh dari berbagai dialek disekitarnya seperti telah diuraikan diatas mengenai adanya sub-sub dialek Banyumasan.

Pemertahanan bahasa Banyumas dapat dilakukan melalui kebijakan pembinaan bahasa Jawa yang memberi peluang sebesar-besarnya bagi para penuturnya untuk menggunakan dialek Banyumasan sehingga dialek ini bisa menjadi alat komunikasi yang utama di lingkunan keluarga dan masyarakat dalam mengembangkan budaya lokalnya. Hal yang tidak kalah penting dalam sebuah pemeliharaan sebuah bahasa adalah pembentukan linguistic pride (kebanggaan berbahasa) yaitu penumbuhan rasa bangga dalam diri penutur-penutur dialek Banyumas untuk menggunakan bahasanya.

Kadar kebanggaan berdialek Banyumas apabila diukur di era kini,dapat dikatakan mengalami kecenderungan menurun. Banyak yang berpendapat bahwa pengajaran bahasa Banyumas justru akan mengganggu usaha anak dalam menguasai bahasa Indonesia. Sebagai akibatnya generasi muda tidak lagi mehir menggunakan bahasa ibunya, atau karena prestise beralih ke bahasa jawa standar, dialek Solo-Yogya. Pandangan ini sangat keliru.

Sampai sejauh ini belum ada bukti yang manguatkan bahwa pembelajaran dua bahasa atau lebih dapat menimbulkan gangguan. Pada dasarnya setiap orang juga memiliki kemampuan menguasai bahasa pertama dan bahasa lain setelah bahas pertama. Orang-orang bilingual- yang menguasai lebih dari satu bahasa- justru memiliki banyak keuntungan. Mereka dapat melihat sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda, bahkan bertentangan sehingga dapat lebih toleran menghadapi perbedaan-perbedaan yang muncul.

Jadi dalam pembelajaran bahasa, kita tak bisa menerapkan sikap yang “hitam-putih” bahwa munculnya satu bahasa akan mendominasi bahasa lain. Hal yang perlu ditekankan adalah positioning dari penggunaan bahasa tersebut. Belajar bahasa Banyumas bukan berarti kemudian kita lupa terhadap bahasa Indonesia dan dalam kesehariannya full Banyumasan. Namun sebagai kebanggaan serta komunikasi antar penduduk lokal, penggunaan dialek Banyumasan merupakan taste tersendiri dalam sebuah interaksi.

PENUTUP
Dialek Banyumas merupakan aset budaya yang harus kita pertahankan dan lestarikan. Pemertahanan bahasa melalui penumbuhan linguistic pride merupakan cara yang ampuh dalam pemertahanan bahasa. Dengan tetap menghormati bahasa nasional serta bahasa jawa standar, maka akan tumbuh masyarakat bilingual di Banyumas yang mampu memiliki sikap toleransi yang lebih disbanding masyarakat monolingual. Sikap ini sangat diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang didasarkan atas kemajemukan dan juga dalam interaksi dengan bangsa-bangsa lain dalam era globalisasi. Sebuah kutipan berikut patut kita simak :
“ To this one might add the observable advantages of bilinguals or multilinguals who are more used to switching touht paterns and have more flexible minds. Being familiar with different , often contradictory concepts, they are more tolerant than monolinguals, and more capable of understanding different sides of problem.” (de Cuellar, 1996, 179).





Read more ...

PORSENAF UNSOED ’08 : “Yours Colur is Our Pride”



Selama kurang lebih dua pekan ini kampus perjuangan Jendral Soedirman tampak meriah. Ada perhelatan yang sedang diadakan disana, PORSENAF ’08 , Pekan Olahraga dan Seni Antar Fakultas.

Hari ini tepatnya hari ke -8 PORSENAF ’08. Nta masih inget sms dari PR III yang meminta kesediaan nta untuk melaksanakan PORSENAF. Nta bingung, terus terang ini adalah sesuatu yang membingungkan. Mekanismenya saja sudah salah. Permasalahan organisasi mahasiswa di tingkatan universitas menjadikan masalah ini menjadi kabur.

Status nta waktu itu masih jadi sekretaris umum BEM UNSOED. Birokrat hingga detik itu belum mengakui adanya BEM U dengan berbagai alasan.

Nta diminta melaksanakan PORSENAF itu atas nama personal, bukan atas nama BEM U. Bersama mas Fauzan dan mas Surya. Kebetulan mas Fauzan itu dari FORMAKAF dan Surya dari FKUU.

Saat menerima permintaan itu, nta menyampaikannya kepada mas Begs (presiden BEM UNSOED). Dalam pikiran nta, kenapa tidak BEM saja yang menghandle acara ini. Nta rasa ini peluang, bukan sekedar peluang untuk mendapatkan legalitas, tapi juga peluang untuk melakukan ”kerja nyata” pada mahasiswa. Mas Begs waktu itu ngomong :” jangan buru-buru ambil keputusan, ada yang menarik, bisa jadi ini skenario”.

Nta bingung (sebenarnya sieh sok bingung aja..he3). Nta ngerti permasalahan antara BEM dan birokrat tapi nta gak setuju kalo digeneralisir kita menolak rapat ke birokrat. Kita kan organisasi intra kampus, bukan organisasi independen.

Sore itu langsung diadakan pleno BEM U (gak pleno sieh sebenarnya...soalnya yang dateng ya Cuma itu2 aja). Nta mencoba menwarkan PORSENAF pada BEM U, walaupun yang diminta oleh PR III adalah nta secara personal bukan BEM U. Tapi ternyata temen-temen BEM U menolak. Alasannya banyak...(nta gak inget banget), yang nta inget adalah bahwa BEM U menolak untuk merapat ke birokrat. Jujur, itu nta anggap sebagai awal mula nta mulai agak ”kontra” ke temen-temen BEM U. Apalagi ketika itu ada yang ngomonong ” ya...itu adalah ujian buat kita”. Deuh..jujur nta nggak habis pikir dengan jalan pikiran mereka yang ”cupu”.

Ya, kalo ini emang skenario, kita juga jangan selalu bermain dalam ”asumsi” donkz!!!, harusnya kita bisa juga melawan ”skenario”itu. Jujur, nta gk punya asumsi atau kepentingan apa-apa. Nta berbicara dan bersedia untuk menghandle PORSENAF atas nama nta sebagai mahasiswa dan orang yang sedikit punya sense of art. Nta masuk ke UNSOED bukan hanya ingin kliah tapi juga mengembangkan potensi, salah satunya minat dan bakat di bidang seni. Nta butuh wadah-wadah speerti PORSENAF untuk mengapresiasikan diri.

Yach...akhirnya ide nta untuk mengajak BEM U menghandle PORSENAF gak terealisaskan. Tapi nta jalan terus untuk melaksanakan PORSENAF ini.

Kalau ditanya siapa aja yang ada dibalik PORSENAF UNSOED. Bisa dihitung dengan jari. Yang inti sieh sebenarnya dua orang, nta n mas fauzan. Tentunya kemudian dibantu sama teman-teman lain dan panitia-panitia kecil di tingkatan UKM.

Dua puluh tujuh maret, pembukaan PORSENAF UNSOED ’08 dilaksanakan. Nta masih inget kata-kata mas Fauzan mengenai keyakinan aan berjalannya PORSENAF UNSOED. Lepas dari siapa itu fauzan....

Yeah..sekarang bisa dibilang kos-an kayak sekre PORSENAF, sekretarisnya nta n bendaharanya juga temen satu kos. Jadi kalo malem kita rapat sendiri.

Tapi nta bener-bener ngerasain bisa menyatu banget sama mahasiswa saat menjadi panitia porsenaf ini. Nta ngliat temen-temen yang tadinya terlihat ”apatis” kini mau turun demi membela nama almamaternya. Nta berfikir seandainya kita bisa merangkul danmengarahkan potensi temen-temen itu, gak ada lagi yang namanya demo ”krisis kader”. Yeah..pelan-pelan semua bisa ta!!!banyak sekali memang ujian dan cobaan. Yang penting cobalah bijak dengan melihat sesuatu dari banyak sudut pandang, kalo dulu kata pemateri di LKII berfikirlah secara lateral.

Perjuangan ini masih panjang, kerikil tajam masih banyak, tetap istiqomah dan perkuat azam. YAKUSA!!!



Read more ...

SEMANGAT INDIE DARI BUMI SATRIA


(Purwokerto) Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, manusia mati meninggalkan karya. Apa yang akan kita wariskan pada dunia ini? Karya merupakan sumbangsih dalam hidup kita, dengan berkarya maka disitulah kita menunjukan eksistensi diri. Semangat berkarya, frasa itulah yang kemudian menjadi motivasi dasar dan perbincangan hangat malam itu, Kamis (13/03) kemarin pada acara launching dan bedah buku indie yang diselenggarakan oleh komunitas teater kampus sastra UNSOED.

Acara yang dihadiri oleh sejumlah penggiat seni di kota Purwokerto itu berlangsung cukup meriah. Bertempat di ruang teater (hall) kampus jurusan Ilmu Budaya ISIP UNSOED, pada acara itu diluncurkan dua buku antologi puisi dan cerpen yang ditulis oleh Ryan Rachman dan Dwiana Jati Setiaji.

Dua buku yang dihasilkan oleh dua mahasiswa ini merupakan bagian kecil dan salah satu dari sekian juta gebrakan karya indie. Karya indie merupakan sebuah hal yang cukup populer di kalangan anak muda. Mulai dari musik indie, film indie, hingga karya-karya lain. Munculnya budaya indie memang bukan suatu hal yang baru. Puncak dari gerakan indie saat itu adalah terselenggaranya Woodstock di tahun 1969, sebuah konser musik paling legendaris dalam sejarah umat manusia saat ini. Jiwa indie dipengaruhi oleh semangat untuk mendobrak kekuatan mayor label yang dianggap menghalangi kreatifitas.
Budaya dan hiburan memang merupakan inkoorporasi perusahaan yang dijiwai motiv ekonomi. Suicide is solution! Begitu salah satu judul lagu dari judisprice yang menumbuhkan semangat ”Do it Your Self”, sebuah semangat yang menjjadi ruh gerakan pemnberontakan pada kekuatan mayor label yang dianggap menghalangi kreattivitas.

Pembahasan karya indie menjadi topic yang hangat malam itu. Acara yang dibagi menjadi empat session diskusi dan empat session pembacaan puisi itu berlangsung meriah. Selain kedua penulis karya indie itu, hadir juga sebagai pembedah buku serta pebicarai Alif. V.Essesi dan M.Ayatullah, dan moderator Shinta A.U. Pembedah serta pembicara yang dihadirkan merupakan dua tokoh yang namanya sudah tak asing lagi di dunia teater Purwkerto.

Dalam diskusi malam hari itu juga membahas bagaimana membuat sebuah karya indie. Semangat yang kuat memang terlihat dari karya-karya indie. Semangat untuk berkarya dan terus berkarya, karena hidup ini adalah untuk berkarya. (nta)


Read more ...

Om, Pakdhe, Mbah kami............... In Memoriam


Beliau putra keempat dari tujuh bersaudara. Aku memanggilnya pakdhe Udin karena papa merupakan adik dari beliau. Om dink, demikian para sanak saudara yang lain memanggilnya. Buat yang ada di generasi ketiga (Nta itu generasi kedua) Keluarga Besar Djahrie, memanggil beliau dengan sebutan ”Mbah Dink”.
Dua puluh Maret dua ribu delapan pukul 07.30 kemarin, pakdhe, om, dan kakek kami tercinta tutup usia di RS. St.Corelius (bener nggak tulisannya???nta lupa..........., pokokna yang di Salemba itu deh...).

Sosok pakdhe di mata nta adalah seorang yang ulet. Beliau adalah seorang workaholic, pekerja keras. Itu juga yang diakui oleh rekan-rekan sekantornya pada saat takziyah kemarin. Pakdhe adalah orang yang tak pernah absen kerja dengan alasan sakit. Nta juga masih ingat waktu itu, masih pagi-pagi betul pakdhe udah nyampe di rumah budhe Ti di Minyak Raya untuk urusan bisnis. Padahal pakdhe tinggal di kebun kopi, jaktim (eh tp waktu itu kl gk dr kebun kopi ya dari di Matraman rumahnya yang satu lagi).
Pesan yang selalu diberikan ke nta adalah ”Harus jadi orang....” (emang gw setan????he3). Ya...beberapa hal yang bisa diteladani adalah keuletan dan kegigihan beliau. Semua itu pakdhe lakukan untuk putra-putrinya tercinta. Tiga orang arjuna dan satu orang srikandi. Kasih sayang yang diberikan pada keempat permata-nya itu sungguh tiada terkira.

Mas Eko, putra sulungnya. Walaupun di usia yang seharusnya dia sudah menjadi sosok yang berdikari, masih terlihat bagaimana mas Eko belum bisa dipisahkan dari sang pakdhe. Bukan masalah manja, namun begitu kuatnya kasih sayang pakdhe kepada beliau. Kini, mas Eko harus sudah menjadi laki-laki dewasa, yang menggantikan pakdhe untuk mengayomi adik-adiknya.

Mas Kiki, sosok pendiam berkacamata tebal ini tak luput dari hujanan kasih sayang pakdhe. Nta tau persis bagaimana pakdhe sangat berusaha keras untuk pendidikan dan apa yang diinginkan oleh salah satu permata ini. Eh, mas Kiki ini juga orang yang asik diajak ngobrol walaupun keliatan pendiem banget. Yang nta inget banget tuh, disaat kita-kita lagi berenang, mas Kiki lah yang bersedia untuk menjadi penjaga barang-barang kita n jadi fotografer (kesannya jahat sieh...tp suer...mas Kiki itu baek banget, he3).


Mas Prinono
. Makhluk yang satu ini emang yang paling jarang nongol. Terlalu asyik dengan dunianya sendiri kali ya???!!! Maz yang satu ini jago design grafis, dulu pernah gawe di salah satu prodution house (duh...nta lagi-lagi lupa namanya). Eh, tp maz Prie ni orang yang asyik n agak ”bocor” he3. Keliatannya aja pendiem. Tp, sumpeh dah, kl udah ngobrol, diajak ”bocor” juga yuk mari.... Lebaran kemaren nggak dateng sieh!! Kalo lebaran sebelumnya sieh sempet dateng, malah kita sesama generasi kedua ngobrol di deket box wartel...inget nggak???malah sempet ngobrolin tentang laundry..yang ngocol abiz itu??? Yang mbak iwik malah ngomong ” Loe shin, kepala dikerudungin, mikirnya gituan juga...he3”. Inget nggak mas prie??? (Kalo udah lupa juga gpp, tp yang pasti nta masih inget raut canda tawa n renyahnya tawa kita ...)

Dhe Nita. Nie dia sepupuku dari pakdhe Udin yang gw sayang. Yach...secara dia tuh cewek sendiri diantara tiga kakak cowok-nya itu. Nta menaruh harapan besar sama dia. Kapan kita sharing2 lagi non??? Jaga diri ati-ati ya... Pokoknya..kita semua sayang kamu. Nta sayang semuanya.................mmuachh............!!!!!



Read more ...

Dua Pesta


“ Huui..nie diena, jd ikut nggak??”

Sebuah pesan singkat singgah di ponselku di sela-sela kesibukan siang itu. Dari keponakan. Si diena emang lumayan deket sama nta. Curhatanna macem2, dari urusan cowok sampe urusan bonyok. Yups, tanggal 21 kemaren mang ada akad nikah salah satu sepupu.Si Diena mengharap nta bwt nginep di rumahnya selama di jkt . Dari satu bulan sebelumnya udah di-prepare sieh. Tapi...blm pasti juga mau datang or nggak. Nelpon ke rumah juga katanya gk ada yg sempet dateng. Hubungi mas Ardan, eh kakakquw terchayank nie ternyata lg mid exam.
Jadi males juga dateng. Pengen menghabiskan long week end di kos-an tercinta (wuuek…)
Hari Kamis pagi kutelpon rumah, kupastikan mo dateng nggak nieh ke srengseng. Ternyta jawabannya cukup melegakan “ Udah, gk usah dateng juga gpp, ntar ada mas Ardan nie yang dateng”. Yeah…untuk sekali ini harus minta maaf sama dhe’ dhina. Maaf ya chayank….besok2 kita curhat n maen2 bareng lagi.
Masih di hari Kamis, kira-kira jam sepuluh pagi (4 jam setelah nta nelpon ke rumah), eh gentian papa yang nelpon ke kos. Nta disuruh buru-buru balik. Sebuah kabar duka datang, pakdhe meninggal dunia. Hampir-hampir nggak percaya sieh. Soalnya ya itu masih kepikirannya di keluarga besar memang lagi ”nduwe gawe”
Yups, alhasil, hari itu, di keluarga besar, ada dua perhelatan besar, dua pesta, pernikahan dan kematian.
Sebuah pelajaran juga, ajal itu tidak melihat tanggal. Semua datang dengan skenario dariNya. Bisa kapan saja. Sebuah pelajaran bagi pribadi untuk senantiasa merefleksi diri untuk senantiasa membekali diri menghadapi pengadilan abadi nanti.

Read more ...

Otak Diatas Normal





Hari ini, otak gw diatas normal. Tau deh, semua keliatan butek-butek cerah (maksudnye???). Setelah menghabiskan long week end bareng keluarga, tiba saatnya buat balik ke koz.
Siang tadi bobo siang. Kayaknya gara2 bobo siang itu deh. Biz maghrib, rapat kos2an gw juga gelo. Ditambah biz itu si Fauzan bareng Ade dateng ngasih tugas2 panitia. Biz itu dengerin musik...kyak ada rasa gimana gitu... nta akhirna sms2 orang gk jelas deh.
Biz itu ngebuka laptop vera, Seli ngajakin nonton (tp masa mo nonton AAC lagi??? Eneg ah..liat tuh film!!!). Yach...kupelajari aja proposal bisnis dari seorang abang..... Agak ”lurus” dikit abiz itu. Agak konsen mikirin bisnis yang nta sendiri agak bingung n nggak yakin.
Tapi biz di-sms ”ya..besok di call...”
Udah deh...balik ”miring” lagi otakku.he3. nieh lagi ngetik tulisan-tulisan curahan isi hatiku (ceile...)

Read more ...
Saturday, February 23, 2008

renovasi blog, KAPAN???


deuh...kalo temen2 pada nengokin blog trus nta kunjungan balik jadi iri..pengen "ngerenovasi" nieh blog.
Udah lama banget pengen nta tambahin read more, ubah html, ubah wallpaper (tp ttp pink duonkz),
Tapi...apa daya...blom ada waktu n kesempatan..
Kalo ke warnet pagi-pagi...itu pun kalo gk ada kuliah or agenda rapat pagi...
Tapi yang pasti tiap hari disempetin bwt nengok email n tau perkembangan berita terbaru.
Jadi...ya beginilah blog nta...emang nta banget.... cuek dan apa adanya...he3
kadang jg bingun liat isinya...dari yang berat2 kayak politik or filsafat sampe yang picisan kayak puisi cengeng juga ada... bahkan lirik2 lagu favorit juga ada...
Gk tau deh...suatu saat...kalo tabungan ni udah penuh bakal nta beli laptop biar bisa hotspot-an. Amien.

Eh, tapi wlpn nta gk update blog, tp nta seneng bantuin temen2 yang pengen belajar bwt blog. Malah sekarang ada bbrapa dari mereka yang blog-nya lebih eye-catching dibanding blog nta ini. Ya..syukur deh!!!

Yang penting, tetep semangat!!!
YAKUSA!!


Read more ...

Pagi...........!!!!!


Pagi ini,, entah kenapa aku jadi teringat sesuatu. Sesuatu yang apabila teringat hanya akan membuat sesak di dada. Seakan bernotasi, sembilu itu memunculkan perih lagi.
Rabbi, jengkal demi jengkal untaian hidup yang Kau berikan in begitu berwarna. Entah dimana ujung pangkalnya.
Rabbi, entah kau meRidhoi atau tidak, itu sepenuhnya prerogatifmu. Aku belum mengerti dan entah kapan aku sampai pada pengertian yang abadi.
Milyaran neuron ini terus berputar.... terkadang aku merasa lelah.
Tapi aku sadar Rabbi, aku tak boleh mengeluh...
Semua hanya-lah skenario yang harus dipentaskan dengan striping yang sungguh tak terduga.
Rabbi, salahkah aku jika siluet itu terus terbayang??
Aku juga tak ingin mengindahkan...namun teramat susah....
Memikirkannya memang membuang energi...........namun untuk melupakannya ternyata sangat menguras energi yang sama banyaknya....lalu aku harus bagaimana???
Apakah benar keputusan yang aku ambil...dengan ”penyiksaan yang manis” ini??
La khawla wala quwata illabiLlah...



Read more ...

Testimonial Tentang Sidang Paripurna Interpelasi BLBI

ni beberapa testimonial ttg sidang paripurna kemaren...gk tau kenapa trnyta ke-copy di flashdisk....waktu mo didelete...aq ragu ap di har disk mash ada or gak...jd q coba posting aja deh...
gak tau sampe saat ini nasibnya udah kemuat belum... (aq tuh suka kirimin tulisan ke koran tapi gk pernah beli korannya.he3



INTERPELASI BLBI, PERTANYAAN ATAU JEBAKAN?


Ketidakhadiran SBY pada sidang paripurna membahas interpelasi kasus BLBI rupanya menjadikan anggota dewan menjadi reaksioner dan sidang menjadi lebih diwarnai hujanan interupsi bahkan beberapa ada yang melakukan walkout. Berbagai macam asumsi pun muncul mengenai hal ini. Presiden dianggap tidak serius, presiden dianggap cuci tangan, dan lain-lain. Sebuah fragmen yang lagi-lagi membingungkan masyarakat yang kembali disuguhkan “pertengkaran” antar lembaga pemerintahan.

Pada saat sidang paripurna berlangsung, Presiden menggunakan waktu “bolos”nya itu untuk menyambut Duta Besar-Duta Besar yang hadir dari negeri seberang. Jika kenyataannya seperti ini, maka sebenarnya ada hal yang cukup menjadi tanda tanya, yaitu mengenai penetapan waktu sidang paripurna.

Tentunya kesepakatan pelaksanaan sidang paripurna tidak bisa diputuskan sepihak. Adanya undangan interpelasi yang dilayangkan pada tanggal 1 Februari tentunya merupakan sebuah upaya koordinasi. Tentunya pula pada saat itu, agenda presiden bisa dilihat apakah ada agenda penting di tanggal 12 Februari – berdasrkan rencana sidang dari DPR-. Presiden toh bukan orang yang kegiatannya ”tak teragendakan”. Seharusnya bisa dilihat apakah penentuan tanggal 12 Februari itu bentrok atau tidak. Jika bentrok seharusnya bisa dibicarakan lagi kapan waktu yang tepat.

Kalau memang DPR beritikad baik dalam penyelesaian kasus BLBI – dengan penggunaan hak interpelasi ini- maka yang seharusnya menjadi orientasi adalah presiden –sebagai lembaga eksekutif- dapat hadir dan duduk bersama. Kalau idealnya seperti itu yang diinginkan, tentunya bisa dilakukan konfirmasi sebelumnya antar dua pihak apakah sepakat pada waktu yang ditentukan itu atau tidak.

Lain lagi persoalannya kalau kasus BLBI ini dijadikan umpan untuk kepentingan tertentu. Justru akan senang jika presiden tak dapat hadir dan kemudian memunculkan image ketidakseriusan Presiden. Ini bisa diartikan bahwa interpelasi bukan semata-mata pertanyaan dan upaya penanganan kasus BLBI, namun juga menjadi tunggangan politik. Apalagi pencuatan kasus ini seolah sengaja di waktu-waktu menjelang pemilu 2009. ini memang peluang besar untuk merintangi langkah SBY untuk maju di 2009 nanti. Isu kasus BLBI dapat menjadi isu yang dapat menarik simpati rakyat, apalagi jika yang dibesar-besarkan adalah ketidakhadiran presiden yang diartikan sebagai ketidakseriusan pemerintah. Isu-isu seperti ini sama menariknya dengan isu-isu korupsi, HAM, yang merupakan isu-isu yang seksi untuk politikus yang ingin mengumpulkan simpati.

Maka esensi interpelasi sebagai upaya penanganan kasus BLBI hanyalah suatu yang kabur antara itikad baik dengan politik kekuasaan. Jika hal-hal seperti ini yang terus dipertahankan dan dilestarikan oleh lembaga-lembaga pemerintah, maka bersiaplah untuk pembangunan bangsa yang jalan di tempat.

SIDANG PARIPURNA “KOSONG”

Kasus BLBI yang masih mengakar rupanya membuat DPR melakukan hak interpelasi kepada pemerintah. Namun, Presiden SBY ternyata berhalangan untuk hadir pada sidang paripurna dan kemudian jawaban atas pertanyaan seputar kasus BLBI dibuat secara tertulis dan disampaikan oleh para menteri. Ketidakhadiran presiden pada sidang paripurna interpelasi kasus BLBI kemarin ternyata membuat “kericuhan” tersendiri pada sidang paripurna kemarin. Dari alokasi waktu sekitar 4,5jam untuk sidang paripurna, sekitar 3 jam diantaranya hanya digunakan untuk melakukan interupsi dan perdebatan mengenai absen Presiden. Mayoritas anggota dewan menuntut kehadiran Presiden saat paripurna dan SBY dianggap tidak serius dalam menangani kasus BLBI dengan absen tersebut.
Secara aturan, SBY tidak melakukan kesalahan. Dalam undang-undang juga telah dijelaskan bahwa jawaban atas interpelasi dapat diwakilkan pada menteri. Pendelegasian itu sempat mendapat anggapan bahwa presiden telah melecehkan dewan legislatif karena kedudukan DPR sama dengan Presiden. Ini sebuah lelucon tentang strata jabatan. Seolah-olah DPR gengsi jika harus menerima menteri karena menteri adalah pembantu presiden. Walaupun secara konstitusi memang seperti itu, namun hubungan yang dibangun dengan sebuah ego tidak akan memberikan hasil yang baik. Menteri adalah bagian dari pemerintah. Maka tak ada perbedaan yang substansial ketika menteri atau presiden yang menghadiri sidang paripurna tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa DPR tidak dapat berprioritas pada hal-hal yang substansial. Kalau ada penilaian dari dewan bahwa Presiden memberikan jawaban interpelasi hanya jawaban-jawaban normatif, maka sikap-sikap anggota dewan dalam menanggapi absen presiden juga merupakan sikap yang normatif belaka. Substansi dari interpelasi juga menjadi sedikit terabaikan. Lagi-lagi pemborosan saja yang bisa dilakukan para anggota dewan. Sudah boros waktu, biaya, tenaga, hanya besar teriak saja. Kemudian apa yang menjadi ending? Sidang memutuskan untuk melakukan interpelasi BLBI jilid II karena untuk mendalami jawaban pemerintah alenia per alenia. Apakah jika SBY saat itu hadir akan membuat suatu hal yang lebih baik. Pemikiran Anggota Dewan lebih disibukan pada hal-hal yang kurang penting seperti absen presiden ketimbang mengenai penyelesaian kasus BLBI seperti tujuan awal dari penggunaan hak interpelasi mereka.
Kalau SBY dianggap tidak serius dalam menangani kasus BLBI ini, sekarang, siapa apakah DPR serius dengan kenyataan yang terlihat jelas pada sidang paripurna kemarin? Kalau memang serius, seharusnya bisa memilah dan dewasa dalam menyikapi sebuah keadaan. Proses memang sangat diutamakan, tapi bukan proses “pemborosan” yang senantiasa menjadi hobi para anggota dewan tersebut.
Harapan yang muncul, semoga Di sidang jilid II nanti, diharapkan lebih arif dan dewasa dan jernih dalam melaksanakan sidang interpelasi tersebut. Senantiasa eling pada tujuan awal.

”BERSAMA” VERSI SBY

Slogan “Bersama Kita Bisa” yang diusung SBY rupanya memiliki makna ambigu jika disandingkan dengan ketidakhadiran beliau pada sidang paripurna interpelasi kasus BLBI 12 Februari kemarin. SBY dipertanyakan ”kebersamaannya” dalam menangani kasus BLBI ini.

Sebelum membahas tentang bersama atau tidak bersama, ada baiknya kita tilik dahulu apa alasan yang menjadikan SBY tidak hadir pada sidang paripurna. Bertepatan waktunya dengan sidang tersebut, presiden memiliki agenda untuk menyambut Duta Besar Thailan Akrasid Amatayakul dan Dubes kuwait Faisal Sulaiman Ali Musaileem.

Kalau DPR punya hak interpelasi, presiden juga memiliki hak untuk hadir atau tidak hadir pada sidang tersebut. Apalagi jika memang ada alasan yang jelas. Namun, yang terjadi berbagai tudingan negatif meluncur sebagai reaksi dari ketidakhairan presiden SBY. Ada anggapan presiden cuci tangan kasus, ketidakseriusan, kemangkiran, dan tudingan-tudingan lain.

Namun sebenarnya inilah yang dimaksudkan dengan ”bersama” oleh SBY. Saat semua bersama melakukan tugas masing-masing, tidak ada ketimpangan fokus yang terkadang cenderung mendramatisir. Ketika bersama, presiden menyambut dubes, menteri menghadiri sidang, dan elemen turut sinergis dengan tugas dan wewenangnya masing-masing.

Tergulingnya rezim orde baru memang menjadikan suasana politik berubah drastis. Kalau dulu sangat ”adem ayem”, nampaknya seperti ingin meluapkan sesuatu yang terpendam, di era reformasi ini menjadi ”agresif” untuk bereaksi atas segala hal yang terjadi. Dinamika yang terjadi sangat fluktuatif. Anggota dewan sudah over kritis hingga terkadang tak mengindahkan nilai-nilai substansial. Namun, ini bukanlah kondisi yang patut untuk dipertahankan. Kalau dulu sudah adem ayem dan kemudian menjadi beringas, maka sudah saatnya kini kita menjadi sedikit lebih cerdas.

Pada kasus BLBI ini, hal substansial yang ada yaitu bahwa dapat terfomulasikan sebuah hal yang solutif pada kasus yang sudah menjadi “stok lama” yang diwariskan pemerintah terdahulu. Kalau hal-hal semisal ketidakhadiran menjadi sebuah hal yang dibesarkan atau bahkan sengaja dibesarkan demi kepentingan tertentu, maka pada hakikatnya negara ini masih berjalan ditempat, tidak ada sikap progresif dalam membangun Indonesia.

Maka sekarang, kembalilah “Bersama Kita Bisa”. Ini bukan sebuah jargon atau kalimat kampanye, namun izinkanlah sejenak politik kita menjadi positif dengan dilandasi niat untuk membawa Indonesia pada kondisi yang lebih baik. Sudah lebih dari cukup hal-hal terdahulu menjadi pelajaran dan bahan refleksi pada arah kemajuan bangsa.




Read more ...