Pages

Wednesday, December 11, 2013

Orang Kaya Juga Jangan Sakit



Panggil saja beliau dengan nama Bu Sitem. Gurat wajahnya mampu memberikan informasi pada kita tentang sepuhnya usia Bu Sitem. Langkah kakinya tentu sudah tak segesit dulu saat muda. Bu Sitem adalah pemuji sunyi. Hidupnya yang sebatang kara, tanpa sanak saudara, tinggal menumpang di sebuah bangunan pos kamling milik warga. Pagi ini dengan tertatih, ia menghulurkan senyum yang lebar kepadaku. Sedikit obrolan mengabarkan bahwa ia sedang menuju ke klinik untuk berobat. Usia tua membuatn beberapa organ tubuhnya tak sesehat dulu. Terkadang bulan ini ia merasa sesak nafas. Kadang di bulan lain, merasa pusing berkepanjangan. Kadang juga berkeluh tentang kaki atau bagian tubuh yang lain.

Lain lagi dengan kisah Kiki (bukan nama sebenarnya). Gadis berusia belasan tahun yang sudah beberapa hari tak mampu menggerakan jemari tangannya. Hampir kesepuluh jarinya itu seolah menempel satu sama lain. Hal itu terjadi setelah berminggu-minggu ia mengalami penyakit kulit, gatal-gatal yang sangat menyiksa. Bukan hanya jari tangannya yang terluka tapi juga beberapa bagian tubuh lain. Sanitasi yang buruk serta kebiasaan yang kurang sehat membuatnya terjangkit penyakit kulit tersebut. Bukan hanya Kiki, bahkan beberapa anggota keluarganya juga terserang hal yang sama meski beda tingkat keparahannya.

Bu Sitem, Kiki, adalah salah dua diantara sekian ratus dari pasien klinik kami. Bu Sitem mewakili beberapa orang lain yang juga “pasien tetap”. Biasanya pasien kategori ini termasuk mereka yang sudah berusia lanjut. Kiki mewakili para pasien dengan beberapa penyakit khusus. Tak jarang juga kami harus merujuk pasien ke rumah sakit daerah. Diantara sekian banyak pasien yang datang setiap harinya, ada satu kesamaan yang membuat mereka mempercayakan upaya pengobatan disini, yakni karena tidak dipungut biaya alias gratis.

Sekira dua tahun silam, saat klinik ini resmi menghilangkan aturan tarif berobat, berduyun-duyun masyarakat datang. Grafik tingkat kunjungan pasien pun beranjak naik. Ketika dibilang : “maksudnya kau senang jika orang sakit itu bertambah banyak jumlahnya ya?” . Oh, bukan. Tentu saja kita semua menginginkan tak ada orang sakit. Tapi sakit adalah sebuah siklus dari sebuah kondisi fisik. Lagipula, layanan pengobatan itu bukan untuk menyembuhkan tetapi untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Jadi, ketika jumlah pasien bertambah, kami hanya berpikir bahwa itu berarti tingkat kebermanfaatan dari klinik ini bertambah. Jika dulu orang sakit harus berpikir untuk merogoh dompet lebih dalam, kini yang perlu dipikirkan pertama kali adalah yang penting bagaimana mereka mau sehat. Tubuh yang sehat tentu akan menjadi faktor pendukung tiap orang untuk berkarya, bekerja.

Maka, sebuah fakta pun datang kepada benak ini. Bahwa banyak sekali orang tak bisa mendapatkan akses kesehatan dengan baik. Pun ada jamkesmas. Kesehatan adalah barang mahal. Tak terjangkau.

Klinik dengan layanan berobat gratis. Tentu saja kata gratis ini hanya untuk pasien. Adapun hal selain itu tetap membutuhkan biaya. Jasa dokter tak boleh gratis. Obat tak bisa ada yang gratis. Setiap dokter jaga mendapat haknya dengan diberikan apresiasi seperti rata-rata klinik di kota ini meski tak begitu besar.

Maka, ketika suatu pagi ada sebuah pesan pendek dari seorang dokter yang menanyakan status libur karena ada agenda “solidaritas”, sepertinya itu sudah diluar kepatutan. Sebuah pertanyaan besar, ketika profesi dokter kok malah mogok.

Tapi coretan ini tak ingin mengulas masalah mogok. Terlalu sakit rasanya ketika dokter harus dibentur-benturkan dengan pasien. Tak elok polemik seperti itu terjadi. Tak ada orang yang ingin sakit, jadi tak  perlu  ada kata-kata : “tak butuh dokter”.

Ini hanya klinik kecil di sebuah kecamatan, Purwokerto Utara. Kunjungan pasiennya sekitar 400an pasien tiap bulannya. Membuka jasa pelayanan dari pagi jam 7 pagi hingga jam 9 petang. Dalam perjalanannya, memberikan layanan  akses  kesehatan  gratis itu memang tak mudah. Tidak semua tenaga kesehatan siap untuk terjun melayani kesehatan masyarakat, tak  banyak perawat yang “bertahan lama”. Tiap beberapa bulan kami perlu merekrut tenaga perawat baru. Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi pada dokter. Saat ini, klinik ini didukung oleh dua orang perawat dan sebelas orang dokter. Formasi itu tidak semuanya tetap. Di beberapa bulan sekali, selalu ada perawat atau dokter  yang resign dari klinik dengan berbagai macam faktor.

Kalau mengingat tentang  betapa rumitnya pengelolaan sebuah lembaga layanan kesehatan, saya menjadi mafhum persoalan kesehatan secara umum di negara ini. Terlalu banyak hal yang membuat kening berkerut.  Selain permasalahan tenaga kesehatan, juga terkait dengan obat-obatan. Belum lagi kalau ada kasus serius yang harus dirujuk. Baru beberapa bulan ini kami dapat mengusahakan sebuah ambulance, gratis untuk masyarakat.

Terkait persediaan obat-obatan, pernah juga suatu hari saya tak habis piker dengan permasalahan “relasi” pada sebuah perusahaan farmasi. Karena hubungan dekat sang mantan pengelola klinik, kami diharuskan meneruskan kerjasama dengan sebuah perusahaan farmasi yang itu lokasinya di luar kota. Ada kendala jarak dan waktu padahal obat-obatan termasuk kebutuhan yang urgent. Akhirnya diambil keputusan untuk mengalihkan kerjasama pengadaan obat-obatan. Tentu saja dengan resiko yang tak kecil, seperti cercaan, makian, dan lain-lain. Tapi, sekali lagi ketika program layanan kesehatan ini dimunculkan, hal pertama yang harus selalu jadi pertimbangan adalah masyarakat yang membutuhkan akses pelayanan kesehatan. Kesejahteraan tenaga kesehatan itu penting, networking dengan penyedia kebutuhan obat dan alat-alat kesehatan itu juga penting, pendanaan operasional program juga penting, tapi diatas semua itu yang terpenting adalah : pelayanan kepada masyarakat.

Jadi, sedangkal pemahaman saya, segala permasalahan di dunia kesehatan kita akan selalu ada dan itu perlu proses yang panjang. Hanya saja ketika semua unsur sama-sama mendahulukan kepentingan masyarakat/kepentingan pasien, saya rasa semua bisa dijalani dengan baik. Dokter dan tenaga kesehatan ingin sejahtera, ingin terjamin, ingin nyaman itu wajar, manusiawi. Perusahaan farmasi ingin mendapatkan untung, itu memang terjadi dan “logis” dalam sudut pandang bisnis. Maka  memang butuh orang-orang yang masih memelihara empati dan akal sehat untuk melakukan pengelolaan itu. Seperti misalnya, jika di ibukota belasan rumah sakit mundur dari program sehat gratis yang dicanangkan pak Jokowi, itu memang terjadi karena  tidak semua orang  benar-benar mendahulukan kepentingan kesehatan rakyat.

Meski tak terlalu simpati dengan pemilik jargon “turun tangan”, saya rasa dalam konteks ini kita memang benar-benar perlu turun tangan dan bukan untuk saling tunjuk siapa  yang  salah. Bahwa sistem kita masih bobrok, iya. Bahwa semua butuh dana, itu jelas. Tapi lagi-lagi yang penting bagaimana kita dapat memposisikan kebutuhan rakyat atas akses kesehatan sebagai prioritas pertama. Persoalan lain-lain bisa diusahakan. Sehingga nantinya, kalimat “orang  miskin jangan sakit” itu bukan karena susahnya akses  pelayanan kesehatan, tetapi  lebih karena kesadaran atas pentingnya menjaga kesehatan. Maka, bukan hanya orang miskin saja yang tak boleh sakit, orang kaya pun jangan sakit karena pelayanan kesehatan sebenarnya tidak boleh membedakan seperti itu. Ya, setidaknya orang kaya tak boleh sakit karena uang mereka harusnya bisa buat bantu banyak orang sakit yang tak punya uang. Seperti kalimat “bujukan” kami kepada para donator : “Daripada uang habis untuk berobat ketika sakit, lebih baik cegah sakit anda dengan menghabiskan uang anda untuk bersedekah, insya Allah barokah” .. :D

Purwokerto, 11 Desember 2013
Entah tulisan ini sangat tidak sistematis, sekadar berbagi saja dengan yang lain. Semoga bermanfaat.


Note : Klinik yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Klinik Mafaza Peduli Ummat, yang merupakan salah satu sub program dari divisi kesehatan Lazis Mafaza Peduli Ummat. Program layanan berobat gratis ini sudah hampir dua tahun terlaksana. Sebelumnya kami masih memberikan tarif  berobat. Selain layanan tetap yang buka setiap hari, juga ada program-program yang turun langsung ke masyarakat.  Nuwun. 

Tulisan ini selain untuk postingan pribadi juga diikutertakan pada lomba blog dengan tema yang diselenggarakan oleh Forum Peduli Kesehatan Rakyat 

Read more ...
Tuesday, November 26, 2013

Menakar Budaya Zakat Masyarakat : Sebuah Testimoni

Akhir bulan lalu, hasil judicial review terhadap UU zakat telah keluar setelah sekira satu tahun diperjuangkan oleh beberapa lembaga penghimpun zakat.  Nampaknya dunia zakat kini mulai makin bergeliat dan memunculkan dinamikanya yang menarik di negara kita. Tentunya hal ini merupakan ruang yang bagus untuk kita dapat lebih mengenalkan pentingnya zakat kepada masyarakat luas.  Hal yang terpenting dalam kita berdialektika tentang zakat adalah bukan pada seberapa banyak atau seberapa hebat, tapi bagaimana pemahaman zakat dapat diterima dengan baik dan mudah oleh masyarakat. Zakat bukan sekedar ritual atau doktrin dalam sebuah sistem kepercayaan belaka. Bukankah dalam setiap perintahNya, kita diwajibkan untuk menuai banyak pesan serta pelajaran? Kemampuan yang telah diberikan Tuhan kepada manusia adalah untuk menganalisa tiap ajaranNya dengan baik serta mengeksekusinya untuk kemaslahatan semesta dan seisinya. 

Dalam wacana umum, membicarakan Zakat biasanya tak lepas dari kata infaq, sedekah, dan sejenisnya. Penamaan lembaga penghimpun zakat pun lazim dikenal masyarakat dengan akronim seperti BAZIS atau LAZIS, yang mengikutsertakan instrument infak serta sedekah di dalamnya. Tak jarang pula masyarakat tak begitu memahami apa perbedaan antara zakat, infak, dan sedekah. Kita menumpukannya pada satu kata umum : memberi, atau dikenal juga istilah karitas / charity  yang kemudian kita juga mulai akrab dengan istilah filantropi.

Perkembangan dunia zakat tak dapat dilepas kaitannya dengan perkembangan filantropi pada era saat ini. Jurnal berita Inggris, The Economist, menyatakan bahwa di abad ini kita mungkin sedang meilihat munculnya “zaman keemasan filantropi”. Yayasan-yayasan filantropi mencul bak tumbuhnya jamur di musim penghujan. Tiap moment selalu ada peluang untuk menggalakkan gerakan filantropi. Entah masalahnya menyangkut kemiskinan, perawatan kesehatan, lingkungan, pendidikan, atau keadilan sosial, orang-orang dari kalangan ekonomi atas khususnya ”semakin tidak sabar terhadap tidak memadainya upaya pemerintah dan upaya internasional untuk menyelesaikan atau memperbaiki masalah-masalah itu”, kata Joel Fleishman dalam bukunya The Foundation: A Great American Secret—How Private Wealth Is Changing the World.  

Zakat, infaq, dan sedekah dimasukan sebagai salah satu yang termasuk dalam filantropi islam. Meskipun secara filosofis ada perbedaan antara filantropi dan ibadah zakat. Di Indonesia sendiri, kemunculan lembaga-lembaga filantropi islam mulai meningkat pasca orde baru. Kondisi ini dipengaruhi situasi sosial politik yang memungkinkan warga memiliki ruang aktualisasi lebih luas.

Bentuk dari gerakan filantropi islam ini pun memiliki bermacam-macam motif. Dari gerakan penghimpunan yang sifatnya merespon peristiwa-peristiwa sosial sampai yang dikemas dalam bentuk bisnis/usaha yang mendatangkan profit. Lepas dari positif dan negative tiap bentuk gerakan tersebut, point positifnya adalah tersedia banyak metode untuk menghimpun dana kepedulian pada berbagai elemen masyarakat. Tentunya kita tahu tidak semua orang mudah untuk bisa diundang empatinya dan peduli serta merelakan sebagian hartanya. Ada yang perlu digelitik lewat jalan bisnis murni atau bidang-bidang publik seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan , dan lain-lain. Sebagai contoh, orang yang punya interest dalam dunia kesehatan akan mudah ketika diajak masuk dalam group yang menggalang dana untuk rumah sakit di daerah rawan perang.

Namun jamaknya gerakan filantropi yang ada dirasa masih bersifat reaksioner. Kita akan sibuk “memproduksi” program-program penghimpunan dana yang mungkin tak ada habisnya. Tapi, sebanyak apapun agenda filantropi, semua tetap terbatas. Kita tak mungkin mengagendakan bencana untuk dapat melakukan penghimpunan besar. Belum lagi masalah subyektifitas terhadap ideologi-ideologi yang kadang menjadi pertimbangan untuk seseorang beramal. Disinilah Zakat dan Infaq memiliki peran penting untuk dikembangkan.

Di negeri yang mayoritas penduduknya muslim, seharusnya orang tak perlu takut untuk menjadi miskin dan tak terlalu obsesif untuk menjadi kaya. Adanya perintah zakat adalah jaminan bahwa kita dipercaya Tuhan untuk mengelola kesimbangan dan kesejahteraan.  Miskin ataupun kaya hanyalah atribut keduniaan yang bisa melekat pada siapa saja, kedudukannya sama sebagai aktor dan aktris yang menjalankan skenario kehidupan. Kewajiban masing-masing sudah jelas, berusaha dengan sebaik-baiknya usaha. Seluruh harta yang ada di bumi ini adalah milik Allah, yang diamanahkan melalui orang-orang berpunya. Mereka yang diamanahi punya kewajiban mengimplementasikan syukurnya dengan mengelola hartanya supaya berkah dan bermanfaat bagi banyak orang. Bagi yang dipercaya menjadi miskin, juga mendapat amanah untuk menjalani kehidupannya dengan penuh kesabaran. Diantara dua unsur itu, kemudian munculah amil yang memiliki peran teramat besar untuk menghimpun dan menyalurkan zakat dengan tetap menjaga keikhlasan sang kaya serta menjaga harga diri sang miskin. Zakat dan infaq adalah “jaminan” kehidupan berlangsung sejahtera. Sejahtera bukan berarti tak ada penduduk miskin, karena kemiskinan itu memang tak dapat serta merta dihapuskan. Itu adalah bagian dari puzzle kehidupan yang tak dapat dilepas.  Pointnya, kampanye zakat perlu lebih dikuatkan frekuensinya dibanding agenda-agenda filantropi islam secara umum. Trend filantropi sudah mulai meningkatkan , kemudian bagaimana dengan trend zakat?

Memang bukan suatu hal yang bermasalah ketika semangat filantropi perlahan mulai menjamak dan menjadi trend di tengah masyarakat. Hal yang menjadi PR besar bagi kita adalah masyarakat muslim memahami kewajibannya untuk berzakat yang bukan sekadar memberi. Zakat adalah unsur penting yang ditempatkan sebagai salah satu rukun Islam. Kehadirannya secara naqli sudah jelas terpampang di banyak ayat Al-Quran yang disempurnakan melalui hadits serta penjelasan-penjelasa teknis fiqhnya oleh para ulama. Pemahaman awam memungkinkan kita untuk mengasumsikan persamaan antara aktivitas filantropi dengan zakat. Padahal, beramal itu belum tentu berzakat, tapi berzakat sudah sekaligus beramal dan zakat termasuk ibadah yang mencakup dimensi vertical serta horizontal. Jangan sampai orang-orang akrab dengan sedekah, dengan amal, tetapi tidak familiar dengan zakat. Pun pada nominal yang lebih besar. Bagaimanapun juga, zakat merupakan ibadah yang memerlukan “akad” dan penyalurannya memiliki aturan yang cukup ketat.

Zakat menjadi kebutuhan bagi umat Islam untuk menunaikannya. Antusias berzakat perlu ditingkatkan. Sama halnya ketika ribuan umat muslim tiap tahun berbondong-bondong untuk mendaftarkan dirinya sebagai calon jamaah haji, begitu juga orang-orang yang mendaftarkan dirinya sebagai wajib zakat yang minta dikelola zakatnya tiap tahun.

Jika mengutip hasil kajian Asian Development Bank (ADB) potensi zakat di Indonesia mencapai 100 triliun rupiah. Nilai itu masih menjadi “mitos” mengingat pencapaian yang hingga kini sudah tercatat oleh BAZNAS – sebagai lembaga koordinator zakat nasional- bahkan belum mencapai separuhnya. Dalam arti lain, berkembangnya lembaga filantropi islam masih berjalan lambat dalam menggaungkan budaya zakat masyarakat.

Kenapa potensi zakat belum dapat maksimal, banyak kemungkinan faktor yang salah satunya adalah belum tersosialisasinya zakat dengan baik ke masyarakat. Akses untuk membayar zakat juga masih terbatas. Kondisi inilah sebenarnya yang kemudian memberangkatkan langkah kaki para penggiat zakat untuk melakukan Judicial Review (JR) terhadap UU zakat di setahun yang lalu.

Pengajuan JR terhadap regulasi zakat seharusnya tidak dimaknai sebagai ekspresi kekhawatiran “kehilangan lapak” yang sudah lama dijalankan oleh lembaga-lembaga zakat non pemerintah. Seharusnya justru BAZNAS lah yang menggawangi adanya JR ini, karena UU sebelum JR sebetulnya justru menjadi sandungan bagi para amilin untuk mengoptimalkan potensi zakat nasional secara maksimal. Pengajuan JR ini perlu dimaknai sebagai otokritik pada lembaga filantropi islam pada umumnya dan BAZNAS pada khususnya. Bahwa gerakan menggalakan budaya zakat ini masih lemah sistem koordinasinya. Regulasi yang dibutuhkan adalah yang memungkinkan masyarakat lebih mudah untuk terbuka pemahamannya mengenai zakat serta lebih mudah untuk menunaikan zakatnya. Untuk itu diperlukan banyak pejuang zakat yang menjangkau seluruh penjuru nusantara, dengan segala upaya kreativitasnya masing-masing. Semakin banyak lembaga zakat yang berkembang, semakin tinggi tingkat eksekusi distribusi rezeki dan kesejahteraan di tengah masyarakat.  Ruang-ruang koordinasi serta edukasi juga perlu disediakan untuk seluruh pejuang zakat di berbagai penjuru. Supaya semua memahami pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan zakat. Juga supaya dapat terjalinkan sinergi antar lembaga di antar wilayah supaya potensi zakatnya dapat teroptimalkan dengan baik. 

Ini hanya uraian testimoni yang sangat sederhana sebagai respons melihat perkembangan dunia filantropi islam pada umumnya dan zakat pada khususnya. Sekadar melemparsambutkan semangat pengoptimalan potensi zakat. Semoga semakin riuh ide serta aksi yang muncul, semakin berlimpah berkah dalam satu sketsa sebagai sebuah negara yang penuh rahmat dari Sang Maha Kuasa. Tabik.

Shinta arDjahrie
Fundraising Manager Lazis Mafaza Peduli Ummat
Purwokerto






Read more ...
Wednesday, October 02, 2013

LATAH



Saat sebuah video wawancara yang memuat adanya kesalahan penggunaan istilah rumit, mendadak semua orang memiliki guyonan segar untuk diperbincangkan. Disana-sini orang mengkritik kesalahkaprahan penggunaan bahasa tersebut yang sebenarnya itu juga kerap terjadi di sekitar kita. Begitu juga ketika perhelatan nona dunia hadir di negeri ini beberapa hari lalu, kita akan dengan mudah menjumpai berbagai wacana kontroversi. Mendadak juga hampir semua orang fasih mengusung tentang harga diri perempuan. Begitu pula ketika terjadi sebuah kecelakaan di sebuah jalan tol yang melibatkan seorang pengemudi muda dibawah umur, mendadak kita semua menjadi pakar pendidikan anak dan berlomba memberikan pendapatnya masing-masing. Media jejaring sosial ramai dengan segala opini dari berbagai macam sudut pandang. Diskusi-diskusi panjang tak berhujung pangkal muncul di berbagai forum. Tak ketinggalan broadcast yang dilakukan melalui telepon pintar. Semua seolah ingin berlomba menjadi bagian dari keriuhan tersebut.

Hidup di era dimana teknologi informasi memiliki pengaruh yang besar membuat kita takut untuk tidak turut mengerti dan berteriak tentang isu terbaru yang ada. Permasalahannya bukan masalah bahasa Vickynisasi itu benar atau salah, nona dunia itu patut ditolak atau tidak, atau tentang siapa paling bersalah dalam kecelakaan tersebut, bukan itu yang menjadi masalah besar. Namun apa sebenarnya yang membuat kita tergopoh-gopoh untuk turut serta dalam kehebohan tanpa memiliki pemahaman utuh. Ibarat orang baru belajar mengaji, ia akan sering sekali untuk menyuarakan apa yang ia kaji. Seperti euforia seorang aktivis yang akan bersemangat , berorasi , tentang apa yang baru didapatnya.

Reaksioner. Latah.  Memiliki definisi sebagai sebuah peniruan spontan yang muncul karena keterkejutan. Secara medis, latah memiliki dimensi gangguan fungsi pusat syaraf, psi-kologis, dan sosial. Ada empat macam latah yang bisa dilihat berdasarkan gejala-gejala tersebut, yaitu ekolalia (mengulangi perkataan orang lain), ekopraksia (meniru gerakan orang lain), koprolalia (mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu/kotor), automatic obedience (melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut). Berdasarkan fakta yang ada, gangguan latah biasanya tumbuh dalam masyarakat terbelakang yang menerapkan budaya otoriter. Hasil kajian yang dilakukan, mereka bersependapat untuk mengkelaskan latah sebagai satu sindrom budaya masyarakat setempat.

Latah sebagai sebuah budaya. Ya, jangan –jangan kita saat ini ada di era mudah latah. Semakin derasnya informasi membuat kita mudah terkejut. Bangun pagi, melihat berita kecelakaan anak artis kita terkejut, melihat berita perang kita terkejut. Apalagi ketika arus informasi ini tidak diimbangi oleh nalar untuk melakukan verifikasi. Lagi-lagi urusannya dengan media literasi alias melek media. Smartphone yang tidak digunakan dengan smart. Asal broadcast sana-sini, boro-boro mengecek kebenaran berita, asal heboh dan “sepertinya” benar, maka kita ingin menjadi bagian untuk menyebarkannya. Kecepatan mengalahkan keakuratan. Keterkejutan mengalahkan akal sehat. Teringat sebuah pesan kearifan dalam budaya luhur orang jawa : Ojo dumeh, Ojo gumunan , Ojo kagetan. Mungkin kita perlu belajar untuk itu, minimal untuk tidak kagetan
Read more ...

Perempuan Pejuang : Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa (sebuah resensi)



Sastra memungkinkan seseorang memiliki kelembutan dan kebijakan hati tak terbantahkan. Bekal yang berharga untuk dimiliki oleh seorang pemimpin. Itu mungkin kiranya yang membuat kita tak akan pernah heran menyimak kisah seorang Siti Aisyah Wa Tenriolle sang Datu dari Tenatte, Sulawesi Selatan. Kecerdasan literasinya telah berjasa dalam mengumpulkan naskah I La Galigo, sebuah epos yang didakwa sebagai epos terpanjang di dunia. Sungguh indah menyimak kisah kepemimpinan seorang wanita pecinta sastra, tentu mampu terlukiskan di benak kita betapa bijak dan dicintai rakyatnya.

Tak kalah indah juga dengan kisah sang Heldhafting  dari bumi serambi mekkah. Helfdafting adalah sebuah gelar yang bermakna Gagah Berani. Gelar tersebut memang sangat tepat sekali melekat pada seorang Pocut Meurah Intan, seorang wanita pemberani yang bersenjatakan rencong seorang diri untuk menghadapi para penjajah. Siapa pula orang yang tak terkagum-kagum pada aksinya yang sungguh berani.

Sama kiranya kagum yang tak terbendung saat menyimak kisah seorang  Rainha de Japara, senhora paderosa erica, Ratu dari Jepara. Julukan yang dilayangkan oleh Diego de Couto (penulis Portugis) kepada Ratu Kalinyamat. Tak berlebihan memang jika kita menyimak betapa luarbiasanya Ratu Kalinyamat saat menghidupkan kembali perekonomian  Jepara yang saat itu telah porak poranda akibat perang saudara.

Aisyah Wa Tenriolle, Pocut Meurah Intan, dan Ratu Kalinyamat adalah tiga diantara 17 tokoh yang termuat kisahnya dalam buku “Perempuan Pejuang”. Buku yang disusun oleh Widi Astuti ini menyuguhkan beberapa kisah heroik yang inspiratif dan menambah wawasan kita tentang sejarah Indonesia. Satu hal yang istimewa dalam buku ini, khusus mengangkat kisah para pejuang perempuan, yang kemudian ditasbihkan sebagai jejak perjuangan perempuan Islam Nusantara dari masa ke masa.

Buku setebal 143 halaman ini mengajak pembaca untuk mengingat kembali tentang peran penting para perempuan pejuang yang namanya kerap terabaikan. Seolah memberikan ingatan kepada kita akan sebuah adagium “negara yang besar adalah yang menghargai jasa para pahlawannya”. Tentu bukan menghargai dalam simbolitas belaka, namun bagaimana kita dapat menyelami kisah-kisah perjuangan para pahlawan yang penuh dengan pelajaran.  Apalagi buku ini juga memberikan cakrawala baru kepada kita pada tokoh-tokoh perempuan yang selama ini luput dari perhatian. Kita mungkin cukup jarang mendengar nama Pocut Meurah Intan, Rohana Kudus, Safiatudin, Tengku Fakinah, dan lain-lain. Mereka adalah nama-nama indah yang turut mengukir sejarah nusantara tercinta ini. Kehadiran buku ini cukup menambah khasanah baru khususnya bagi generasi muda yang fenomenanya kian hari makin kurang mengenal sejarah bangsanya sendiri.
Sebagai sedikit informasi, historiografi atau penulisan sejarah di Indonesia telah dimulai sejak lampau dengan adanya penulisan dalam bentuk naskah. Naskah-naskah tersebut kemudian kita kenal dengan babad, hikayat, kronik, tambo, dan lain-lain. Bentuk naskah tersebut merupakan historiografi tradisional yang lebih mengutamakan hikmah dibanding adanya kebenaran fakta. Berbeda dengan historiografi modrn yang sangat mementingkan fakta.

Pada perkembangannya, bentuk penulisan sejarah juga membutuhkan ide kemasan. Hal ini lebih kepada bagaimana pembaca dapat menikmati kisah sejarah itu dengan cara yang lebih nyaman. Maka muncul pula adanya genre fiksi sejarah pada karya-karya sastra. Adapun buku Perempuan Pejuang ini adalah kategori nonfiksi. Tentu saja ini berkonsekuensi pada keakuratan serta kedalaman uraian informasi yang termuat. Menjadi ganjalan sendiri ketika membaca kisah ketujuhbelas tokoh perempuan pejuang yang disajikan dalam bentuk lintasan saja.

Secara teknis, dalam buku ini kita akan menemuka tujuh belas profil singkat para perempuan pejuang yang telah dipilih oleh penulis. Pembaca mungkin tak perlu berekspektasi untuk mendapatkan informasi baru dalam buku ini, karena memang informasi yang diberikan pada buku ini masih bersifat sangat umum. Namun keberadaan buku ini memang sangat bermanfaat sebagai pengingat pada kita semua.

Akan sangat menarik misalnya penyampaian kisah atau profil para perempuan pejuang ini lebih mendalam. Ini yang memang menjadi salah satu titik tersulit dalam penulisan buku sejarah. Ketika kita akan menuliskan sejarah, satu hal yang tidak bisa dilepas adalah bahwa kita sedang menuliskan fakta yang pernah terjadi. Syarat penting dari penulisan kisah sejarah adalah adanya sumber informasi yang valid dan beragam. Buku sejarah tentunya bukan buku rangkuman dari berbagai buku sejarah yang sudah pernah ada sebelumnya. Ada kedekatan personal penulis dengan subyek atau obyek sejarah yang akan ditulisnya. Tak jarang kita mendengar sebuah buku sejarah ditulis membutuhkan waktu yang begitu panjang karena harus mengumpulkan data, wawancara, mengolah, analisa, dan sebagainya. Misalnya bahwa penulisan sejarah tak bisa terlepas dari berbagai sudut pendekatan, sosiologis, antropologis, psikologis, yang seharusnya memungkinkan penulis untuk mengangkat bagaimana kondisi budaya masyarakat di masing-masing wilayah mengenai pemimpin perempuan. Faktor budaya masyarakat bugis, jawa, melayu tentunya punya peran yang tak sedikit terhadap perjalanan para srikandi penjaga negeri tersebut. Harapannya, buku Perempuan Pejuang ini tidak hanya sampai pada titik “sudah terbit”, tapi ada khasanah baru yang dihadirkan untuk pembaca. Bukan pula sebagai “peluang” yang sangat prospektif untuk mengangkat tema gender yang katanya belum dilirik para penulis sejarah – seperti tercantum pada sebuah testimoni.

Hal teknis lain dalam pembacaan buku Perempuan Pejuang juga banyak yang perlu dikritisi. Seperti tata letak serta ilustrasi yang kurang kuat. Beberapa keterkaitan antar paragraf dalam satu kisah, kiranya jika ditata kembali akan menarik antusiasme pembacaan yang lebih kuat lagi. Lepas dari itu semua, salut atas terbitnya buku Perempuan Pejuang ini. Sebagai sebuah bagian dari ensiklopedi sejarah, kita perlu menyangjungkan terimakasih atas inisiatif penulis menghadirkan buku ini. Sebagai buku sejarah, semoga ini menjadi awalan yang dapat memacu semangat mencintai dan mempelajari penulisan sejarah. Pada akhirnya, jika hidup adalah rangkaian kisah, salah satu cara memaknainya adalah dengan menghargai sejarah. Tabik. J
Judul buku          : Perempuan Pejuang, Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa
Penulis                 : Widi Astuti
Penerbit              : Konstanta Publishing House
Tahun Terbit      : Agustus 2013
Tebal buku          : XV + 143 halaman.


Read more ...

[ Mimpi yang Terjaring di dusung Rinjing ]

Deras sungai memberhentikan perjalanan di sepertiga akhir siang kala itu. Meski ada jembatan bambu yang masih mampu menopang kendaraan motor , kami memilih jalan setapak untuk sejenak menengok sisi bukit yang lain. Gerakan turbin sesekali menjadi musik pengiring perjalanan, dan dari sanalah kami tahu itu adalah sumber pelita  yang telah memercikan peradaban kepada warga. Hanya sekitar dua puluh kepala keluarga, warga asli setempat, yang bertahan di tanah perbukitan tersebut. Aliran listrik belum sampai di dusun ini. Mereka mengusahakan sendiri untuk dapat menerangi rumah masing-masing. Sekedar untuk menambah semangat anak-anak mereka belajar di rumah  setelah berjalan jauh berkilo-kilometer ke sekolah. Mereka tetap ingin anak-anak menjadi pintar, supaya dapat membangun dusun mereka yang redup redam.  Itulah sepotong kisah dari dusun Rinjing, Gununglurah, Cilongok.

Rinjing adalah salah satu titik disitribusi dari salah satu lokasi penyembelihan Kampung Qurban yang mencakup beberapa desa lain diantaranya :  Karanggondang, Sambirata dan Pesawahan, Gununglurah.  Tentu bukan sekedar keratan daging Qurban yang disampaikan nantinya di KAMPUNG QURBAN. Ini bukan sekedar urusan seekor domba Qurban, ini adalah bukti cinta dan ketaqwaan kita pada sesama. Agar asa itu tetap menyala, agar mimpi itu tetap dapat bersemi, agar senyum itu mengulumkan pesan bahwa Islam adalah rahmat untuk semua orang, tak ada yang terabaikan. Semoga.


Read more ...
Wednesday, August 21, 2013

Ego yang Terlerai di Kaldera Ceremai

#catatanPendakian

"...sembunyi diriku dalam pelukan alam, hindari semua kenyataan. Menggigil tubuhku sadari alam. Disini ku kecil dan tak berarti..."  (Slank)

Elf  biru  itu akhirnya menghentikan lajunya. Mang Yayan, begitu nama sang sopir yang telah mengantarkan kami menuju Palutungan. Kemudian bersama sang kenek, kami menurunkan carrier yang tersusun tinggi di atap mobil. Setelah semua berhasil diturunkan, Mang Yayan pun bertanya : “kapan akan pulang? nanti sms saja, biar dijemput”.  Sementara Rifki —pimpinan rombongan-- menjawab dan bertukar nomor kontak dengan sang sopir, saya membatin mengulang pertanyaan Mang Yayan. Ya, kapan akan pulang? ah, bukan, tapi apa memang bisa pulang? Bahkan perjalanan ini baru saja dimulai, tantangan masih mengawang. Ternyata memang semua perjalanan itu adalah untuk mencari jalan pulang.

Maka jika di hari Sabtu, sehari setelah peringatan kemerdekaan RI kemarin, kami bersembilan berkata akan melakukan pendakian, sebenarnya bukan puncak gunung yang dituju, tetapi pelajaran apa yang bisa dibawa pulang --kalau memang bisa pulang--. Maksudnya, bisa saja kami terpesona di lembah Edelweiss, hingga lupa jalan pulang. Itu refleksi kehidupan juga kan?

Kenapa jadi berfilasafat ria ya? hehe. Baiklah, singkat cerita, di sepertiga terakhir jeda liburan lebaran yang saya miliki, sudah terjadwalkan akan melakukan pendakian ke Gunung Ceremai. Entah apa yang dalam pikiran saya ketika mengiyakan saja ajakan teman-teman untuk muncak. Saya memang menyukai kegiatan para “samirono” atau petualang atau bahasa kerennya “traveler”. Menyukai kegiatan di alam bebas, tapi untuk benar-benar sebuah pendakian, ini adalah kali pertama. Beberapa teman ada yang berkomentar,“pendakian pertama langsung ke Ceremai?”  atau ada yang bilang “Shin, ceremai itu trek nya susah.., pikir-pikir lagi aja!”.  Entah kenapa sms dan pesan whatsapp dari teman-teman itu baru sempat saya baca ketika sudah di pos 1 pendakian.hehe. Jadi, saya pikir, Allah sengaja memberikan kesempatan pada saya untuk melakukan pendakian ini dengan maksud supaya mengambil banyak pelajaran.

Sebagai informasi, Ceremai adalah Gunung Tertinggi di provinsi Jawa Barat (3078 MDPL). Masih lebih rendah dibanding Gunung Slamet, tentu saja. Namun Gunung Ceremai merupakan salah satu gunung yang memiliki trek yang susah untuk dilalui. Curam, terjal, dan sumber air yang minim. Ada tiga jalur pendakian yang biasa dilalui oleh para pendaki, yaitu : Apuy, Palutungan, dan Linggarjati. Untuk informasi lebih lengkapnya, bisa googlingsaja ya.

Saya dan delapan teman yang lain mengambil jalur Palutungan. Setelah melapor pada petugas di pos, kemudian kami berkemas di masjid terdekat. Di jelang Ashar, kami pun memulai perjalanan. Menelusuri perkampungan dan hamparan sawah. Pos 1 pun terlewati, dan kami menuju pos 2 di Cigowong. Pos ini adalah satu-satunya pos yang memiliki sumber air di jalur Palutungan. Menurut info dari Rifki juga, pos Cigowong adalah pos yang jaraknya terjauh dibanding jarak antar pos yang lain. Entahlah, saya tak memahami seluk-beluk pendakian ini. Disinilah saya benar-benar melakukan perjalanan jiwa, perjalanan hati. Ya, disinilah perjalanan itu bermula.

Selama perjalanan menuju Cigowong, saya mengalami shock. Kebetulan kami juga lupa melakukan pemanasan, jadi bagi saya yang memang intensitas olahraga-nya cukup minim sangat berpengaruh. Walhasil, dada sesak dan kepala pusing tak tertolak menyerang. Saya menahannya. Bukan, bukan sakit fisik yang saya rasakan. Justru saat itu saya merasakan lintasan-lintasan pikiran yang menusuk-nusuk otak.

Selama perjalanan itu, saya benar-benar  merasa tertohok. Saya serasa didera pertanyaan atas kejujuran hati, apa tujuan perjalanan ini sebenarnya. Jujur, hingga pada perjalanan menuju Palutungan, yang menguasai pikiran saya masih sebatas ego pribadi. Saya hanya ingin mencari kepuasan diri dengan mendaki gunung. Saya berfikir, masa muda yang sedang dilewati ini harus diisi berbagai hal yang penuh sensasi. Saya sudah pernah melakukan banyak hal, ngebolang di dalam dan luar negeri (walaupun belum banyak), menjalani masa studi, mengikuti banyak kompetisi, memiliki eksistensi di berbagai komunitas, entah itu bidang akademik, seni budaya, agama, dan lain-lain, tinggal beberapa “misi” yang belum dicapai salah satunya adalah naik gunung. Jadi, pendakian ini hanyalah pemuas ambisi dan mimpi saya saja. Goblok banget kan? emang!

Selama perjalanan, pikiran saya berkecamuk. Saya merasa selama ini sudah mengalami banyak hal dalam hidup. Menjalani berbagai problematika. Dari mulai masalah ecek-eceksampai masalah dramatik, dari mulai di keluarga hingga pekerjaan hingga yang berhubungan dengan khalayak. Entah itu karena saya orang yang sanguinis melankolis, atau memang saya dipilih Tuhan untuk menghadapi problematika yang ada. Beberapa orang yang saya percaya, mungkin tahu persis apa yang saya maksud. Namun segala perjalanan hidup itu, membuat saya merasa terkuatkan. Menempa diri menjadi pribadi yang keras. Ini bukan kata saya, tapi testimoni orang lain. Saya kemudian tumbuh menjadi orang yang merasa sanggup melakukan banyak hal sendiri. Mendedikasikan diri sebagai pelayan yang harus selalu siap melayani orang lain. Kemana-mana sendiri. Kehilangan, diabaikan, itu sudah bukan hal yang terlalu menakutkan. Saya merasa kuat.., tapi itu salah besar! Itu dibuktikan pada pendakian kemarin.

Nyatanya, saya memang tak bisa menghindari sesak di dada saat kekurangan oksigen. Nyatanya, saya tak dapat menghalangi mual dan pusing yang melanda. Nyatanya, langkah kaki saya punya batas lemah. Kebetulan saya pernah mengalami gangguan pernafasan, alergi pada suhu yang dingin. Kalau dingin, biasanya langsung bereaksi dengan meler kemudian sesak dan nyeri di dada kiri.  Meski sudah berolahraga, nyatanya di perjalanan kemarin saya terbukti lemah! Saya tahan saja. Diam-diam saya khawatir dan berpikir bagaimana jika ada salah satu teman nantinya berkata : “kita batalkan saja ya perjalanannya”. Tidak, saya tidak mau itu terjadi. Jika memang saya harus mati di leher gunung, itu sudah jalan “pulang” saya toh?!  Akhirnya saya tahan semua itu. Oya, kebetulan waktu itu saya juga sedang datang bulan, jadi ada pengaruh ke fisik dan emosi juga. Tapi sebenarnya tidak masalah kok kalau cewek sedang berhalangan kemudian ingin melakukan pendakian.

Kemudian tiba di pos Cigowong, sebuah percakapan diantara tim membuat saya sangat lega. Ari, sang komandan berkata : “ingat, puncak itu hanya bonus saja”. Si jambul ini memang anggota tim yang paling bijak menurutku. Diam-diam saya curiga, sebenarnya dia itu kakek-kakek tapi terperangkap dalam tubuh seorang anak muda. Seperti di film Benjamin Buttons. hehehe. Obrolan itu seperti pelajaran pertama yang saya dapatkan dari perjalanan ini. Bahwa, orientasi tiap perjalanan kita bukanlah hasil, tapi proses. Puncak hanyalah bonus, bukan target/ klimaks pencapaian, bukan kehebatan atau kebanggaan, tapi puncak gunung adalah proses kita menaklukan diri, emosi, ego pribadi, menyadari kekerdilan diri sebagai hambaNya. Ini filosofi kehidupan yang benar-benar menyentuh. Apapun yang sedang kita usahakan, hasil adalah bonus saja, yang terpenting adalah bagaimana cara kita memilih jalan untuk mengarunginya.

Singkat cerita, kami berhasil melewati Sembilan pos dengan sensasinya masing-masing. Ada Tanjakan Asoy yang memang geboy. Tanjakan dengan banyak akar dan bebatuan, bersisian jurang, hampir tak menyisakan kesempatan tubuh untuk berdiri dengan tegak. Nanjak terus sampai atas. Mantap luar biasa! Ada pos Arban yang terkenal mistisnya, ada pos Gowa Walet yang angkuh berdiri dalam dinginnya yang menusuk, dan pos-pos yang lain.

Akhirnya, pada hari Minggu di separuh senja terakhir, kami berkesempatan untuk mendapatkan “bonus” itu. Kami menjejak puncak Ceremai, berkesempatan menyaksikan Kaldera, bibir kawah yang mempesona. Ketika kaki kananku menjejak dan menegakkan tubuh serta menatap kawah, tak ada kata lain yang mampu terucap : Allahu Akbar, walilllahilhamd. Aku tak percaya dapat menjejak puncak. Ini semua hanya karena kuasa Allah yang ingin memberikan satu pelajaran untukku. Bukan karena ku kuat, bukan karena ku mampu, tapi karena Allah berkehendak.

Selama lebih dari setengah jam kami menikmati kawah dan landscape yang tak terlukiskan indahnya. Melihat puncak Gunung Slamet dari kejauhan. Melihat hamparan Edelweis yang sungguh romantis. Kemudian sekedar untuk dokumentasi, kami pun mencoba membekukan beberapa moment dengan media kamera.

Senja pun melarut. Aroma belerang sudah mulai kuat terasa, kami pun bersiap turun kembali. Oya, ketika akan muncak, kami hanya membawa satu carrier dan satu daypack. Sedangkan barang-barang yang lain kami tinggal di camp Goa Walet. Dari Goa Walet ke puncak sudah dekat, kurang dari satu jam perjalanan. Tapi, jangan tanya medan terjalnya. Sepanjang mata memandang hanya ada batuan dan debu beterbangan. Serta tingkat kecuramannya semakin tinggi, untuk orang-orang yang terbiasa olahraga wall climbingsepertinya justru terasa menarik.

Akhirnya kami berjalan turun, diiringi langit yang mulai memerah. Saya dipersilakan menunggu di persimpangan menuju Goa Walet, tak perlu ikut packing. Karena untuk turun dan naik lagi, jalurnya juga cukup terjal. Toh cuma mau packing.

Saya pun duduk sendiri, menyaksikan langit yang mulai merah, rembulan yang perlahan muncul dengan cantiknya, dikelilingi hamparan Edelweis yang merayu mata. Puisi mana yang tak akan hadir di suasana seperti itu, hah??!

Maka, ditemani seekor burung liar berparuh kuning yang loncat menjinak di dekatku, beberapa untai kata kurangkai. Tapi sebenarnya bukan merangkai, saya hanya mengeluarkan apa yang saya lihat. Ada keMahaHebat-an Allah yang saya saksikan di semburat merah membalur langit, ada kelembutanNya di lipatan desir angin yang mengayun-ayunkan batang Edelweis. Bahkan memandanginya saja sudah cukup membuatku tenang dan nyaman. Tiap kuntum bunga gunung itu seperti mengerlingkan rindu yang teramat syahdu. Akhirnya, tanpa tersadar air mata pun membasahi pelupuk mata. Saya nangis lagi!!! cengeng yak?!hehe. Saya betul-betul menikmati suasana senja itu. Baru tersadar ketika ada dua orang pendaki rombongan dari UI yang kebingungan mencari jalan turun ke Goa Walet.

Kemudian tak lama, teman-teman lain berdatangan, dan kami pun memulai perjalanan turun. Dalam syahdunya malam, disinari lembutnya rembulan, kami pun berjalan perlahan meniti turunan terjal. Beberapa kali harus terjerembab, saat rembulan bersembunyi di temaramnya langit malam. Aku ada di urutan kedua dari barisan Sembilan orang itu. Di depanku ada si Agus, ia kujuluki sebagai “penerang jalanku”. Di malam sebelumnya, Agus juga lah yang ada di depanku dengan headlamp. Dia sangat menolong perjalananku. Entah karena Agus yang sigap atau bagaimana, aku bisa berjalan lebih cepat ketika malam hari saat di belakangnya. Aku percaya pada petunjuk yang Agus berikan serta tangannya yang selalu sigap membantu menaiki tumpukan batu atau akar. Di malam sebelumnya, aku nyaris tersesat karena pandanganku yang kabur. Nyaris tersesat karena susah membedakan silaunya sinar kunang-kunang atau sinar headlamp. Dan satu lagi, Agus nggak berani kentut saat di depanku, tapi giliran di depan yang lain, ia kentut berkali-kali..hahahaha.

Kami memutuskan nge-camp semalam lagi. Perjalanan ini memang disetting santai. Tiap usai ngecamp¸kami baru memulai jalan setelah jam 9 pagi. Maklum, anak-anak kategori bangsawan alias bangsa tangi awan (kelompok bangun siang). Itupun setelah bangun dan sholat, ada “ritual” bermusik, buang hajat, nyanyi-nyanyi, foto-foto, masak, dan lain-lain. Seru sih. Aku bisa kenal sama delapan orang gila tapi hebat ini. Mereka seperti tak pernah kehabisan akal untuk melahirkan lelucon-lelucon cerdas. Dua diantara mereka adalah “santri” tapi santri gila. Jadi jangan heran kalau kadang ada plesetan-plesetan gokil, kayak :“ Muhammad gua ya Muhammad gua, Muhammad diyeh ya Muhammaddiyeh.., “ atau mengeluarkan dalil-dalil ngawur yang kalau saya tuliskan disini nanti jadi salah paham, mending dengerin aja langsung.

Di camp ini, kami termasuknya “rempong”. Berbagai macam menu kami masak, ada nasi goreng magelangan, sarden, mie rebus plus sayur, tempe goreng bumbu racik sampe bikinNutri Jell dengan berbagai macam campuran. Pokoknya rempong deh. Saya sih asik-asik aja, lha saya doyan urusan yang gituan. hehe. Untuk nyiap-nyiapin nesting , kompor, potong-potong sayur dan lauk saja sudah makan waktu, belum packing-packing nya, kalau makan sih bisa cepet banget, karena harus sepiring bertiga. Makanya perjalanan kami ini terbilang santai. Toh dari awal, tujuan kami bukan puncak, tapi menikmati perjalanan. Itu fatwa dari ustadz Ari Jambul..hehe.

Perjalanan pulang cukup menyenangkan. Saya terprovokasi untuk berlari menuruni jalanan terjal dan curam tersebut. Meski tidak segesit teman-teman yang lain, saya sangat menikmati. Berlari turun melintasi Tanjakan Asoy dengan berteriak dan tertawa lepas, aaaaah.., menentramkan sekali. Beberapa kali saya terjatuh, berdebam, tersandung akar atau pohon yang melintang. Tapi saya tetap tertawa lepas, menikmati udara segar dan jalanan yang menggoda. Disitu ada pelajaran kehidupan lagi, bahwa kita harus yakin pada pijakan yang kita lakukan. Kalau tidak yakin, justru akan membuat hilang keseimbangan. Jangan terlalu banyak menahan, itu hanya akan membuat sakit dan nyeri di otot kaki. Oya, satu hal lagi, jangan terlalu banyak berhenti, kalau lelah tetaplah bergerak tapi perlahan. Kalau terlalu banyak berhenti, kita hanya akan menambah tingkat kelelahan. Ini filosofi kehidupan juga. Jangan terlalu banyak menunda, jalani dan hadapi saja. Jika mulai lelah, berjalanlah perlahan, tapi jangan pernah berhenti kecuali mati!.

Di jelang pos Cigowong, daya tahan kaki saya melemah, akhirnya berjalan perlahan. Saya mempersilakan beberapa teman berjalan terlebih dahulu, tidak apa-apa. Tapi beberapa teman justru ingin tetap di belakang. Perjalanan kami ditingkahi dengan banyak dialog yang mencerahkan. Makasih banget ya Ari, Idrus, dan Deni.. hehehe. Obrolan selama perjalanan di jelang Cigowong kemarin, itu rahasia lho..hehe. Kecuali yang akhirnya Ari ungkap dibriefing sebelum pulang di Cirebon itu.. ^_^

Seusai makan siang dan menghabiskan perbekalan logistik di Cigowong, maka tinggal dua pos terakhir sebelum pulang. Akhirnya, saya menghubungi Mang Yayan untuk menjemput kami di Palutungan. Ketika Ari dan Rifki becanda bilang : “selamat yaaaaa sudah dapat NAPL…”, saya hanya nyengir dan bilang : “dih, nyebelin banget!”.

Ya Allah, terimakasih telah memberikan saya “keluarga” baru selama pendakian kemarin. Mereka para lelaki hebat lahir batin.

Terimakasih Puncak Ceremai, Goa Walet, Tanjakan Asoy, Cigowong, dan lain-lain. Terimakasih, Indonesiaku tercinta. Terimakasih Gusti Allah atas kesempatan ini.

Kalau ditanya “kapok nggak naek gunung?” saya akan tegas menjawab  “ tidak kapok… saya mau melakukannya lagi, lagi, dan lagi!!!”. Ceremai telah membuatku jatuh cinta, Ceremai telah membuat egoku terlerai..




Selasa, 20 Agustus 2013 , mengistirahatkan badan, sambil nanti mau berziarah ke pusara ayah sebelum kembali ke Purwokerto. Saya siap beraktivitas kembali, dengan semangat baru… hiyaaaajiiiiaaaaaaar bleeh!  

note : foto-fotonya nanti biar di-upload sama teman-teman di fanspage atau group  FPL dan HMI Purwokerto . Saya type orang yang malas menunggu proses upload foto di pesbuk. Nanti insya Allah dipost di blog atau akun flickr saja. :)
Read more ...
Thursday, August 15, 2013

Rumah Itu Kusebut Pelangi

“ im coming home..
im coming home..
tell the world that im coming home…
Let the rain wash away all the pain of yesterday…  “  ( J. Cole)



G         : lo masih inget nggak sih ta, dulu tiap malem lebaran kita jalan dan maen petasan?
S          : iyaa…, nyalain macem-macem petasan kan? dari mulai mercon tetes sampe kupu-kupu, dipasang di pohon cemara dan jadi terang banget. Trus kita bikin bedug-bedug kecil pakekaleng trus takbiran keliling dan dimarahin sama imam di mushola kan?
G         : iyaa.., trus dulu tuh udah kayak kejadwal, kalo lebaran gw yang balik, nah kalo liburan sekolah lo pada yang gentian ke Jakarta. Iya kan?


Cuplikan obrolan di beberapa hari lalu antara aku dan sepupuku itu cukup mengiang. Obrolan di tepi pantai sambil menikmati kupat glabed dan sate blengong. Cukup menyita waktu lama, ngobrol ngalor ngidul. Mumpung kumpul dan ketemu sebelum nantinya kembali ke kesibukan masing-masing. Obral-obrolnya cuma bisa termediakan twitter, whatsapp, dan sejenisnya.

Sebuah hal yang sangat harus disyukuri, bahwa tradisi berkumpul ini masih terjaga hingga sekarang. Tentu saja ada yang hilang dan ada pula yang baru datang. Tiap sudut rumah mbah itu mungkin sudah merekam banyak sekali kisah diantara kami. Sejak papa mama kami masih remaja, hingga kemudian merantau dan memiliki keluarga masing-masing, hingga hadirlah kami, adik-adik kami, cucu-cucu mbah. Hingga juga mbah kini sudah lama meninggalkan kami. Masih teringat urut-urutan baris dan nangis untuk sungkem ke mbah. Masih teringat semua tawa dan tangis yang pernah hadir di rumah itu. Tiap idul fitri rumah itu akan lebih ramah dari biasanya, dan juga ketika ada anggota keluarga yang berpulang maka juga menjadi ramai.

Maka, menurutku sebuah hal yang sangat disyukuri bahwa saat ini dengan segala yang pernah hilang dan juga datang, kita semua masih bisa berkumpul bersama. Masih heboh-hebohan buat nongkrong, karaoke-an, mantai, ngeguci, dan lain-lain. Biasanya beberapa tradisi yang dilakukan saat ngumpul bareng tuh : berenang, makan bakso, bakar-bakar  seafood. Kita pergi bareng dengan segala enak dan nggak enaknya. Dijalanin terus sampe sekarang meski kita tahu beberapa hal yang kadang nyebelin. Entah masalah ngumpul yang nggak tepat waktu, atau keputusan “sesepuh” yang geje-geje, atau sesepuh yang pelit, trus kita ngegrundel di belakang…hahaha. Itu semua selalu ada tapi kita jalanin aja, enjoy aja. Kita sangat menikmati tiap-tiap waktu berkualitas itu. Kita juga bisa ngejalanin itu di luar bareng teman-teman kita sendiri, tapi tentu saja ada sensasi yang beda untuk ngelakuin hal yang sama bareng-bareng keluarga. Yeah, kayak makan ikan bakar di garasi bareng-bareng, paling cuma makan gitu doang, tapi sensasi nyari ikan di TPI, ber amis-amis ria, bakar-bakaran, sampe melahapnya habis, itu semua jadi prosa terindah yang pernah kita punya, bukan?

Ya, tentu saja ada yang terasa hilang. Kini nggak ada kata-kata “pakra ora” yang khas dari papa kalo mengomentari ponakan-ponakannya, nggak ada tarian salsa atau waltz dari pakdhe Uki, nggak ada gaya komentar khas dari pakdhe Udin, nggak ada lagi sosok seru kayak mas Nono yang rajin bawa kita jalan-jalan. Kita  juga mungkin merasa rindu dengan beberapa kerabat yang kini karena satu dan lain hal sudah jarang pulang. Tapi, ada yang hilang ada juga yang datang. Entah sudah berapa ponakan yang kupunya kini. Sudah banyak yang memanggilku tante. Kini ada  dhe’ Asma, yang digendong siapapun pasti diem aja, nurut. Kini ada mbak Riri dengan segala kehebohannya, dan kemarin kita sudah mendapat anggota keluarga baru, si cowok ganteng yang lahir di Batam. Ada ayes dan kakak-kakaknya juga yang super heboh tapi kemarin belum bisa pulang. Dan juga mungkin besok atau besok-besoknya lagi, ada anggota-anggota baru lagi di keluarga kita. Para lajang yang kemaren masih nongkrong-nongkrong di lesehan, tahun depan mungkin sudah membawa pasangan masing-masing. Besok-besok , generasi keempat dan kelima dari mbah Djahri yang akan terus meramaikan rumah tua itu.

Rumah yang mungkin sudah banyak memberikan terang dan hujan, hingga lahirlah pelangi. Ya, aku menyebutnya pelangi. Betapa berwarnanya ketika semua berkumpul disana. Ada yang super cerewet ada yang super pendiam. Ada yang alim banget sampe kelewat ekstrem, ada juga yang “ free man” banget. Ada yang orang kantoran , ada yang orang lapangan. Ada yang fasih ngomongin kedokteran, ada juga yang lagi jadi caleg (ingat, pilih nomor 5 ya!!!hahahaha). Ada yang super dermawan suka nraktir sana-sini, ada juga yang pelit banget sampe-sampe harga villa yang udah murah masih ditawar lagi… *hadeeeeh*. Ada yang belum pernah pacaran ada juga yang koleksi mantan-nya seabrek-abrek… *hahahay*.  Kita ada di berbagai macam selera music, dari yang alay sampai yang nostalgia. Kita ada di berbagai macam gaya, dari yang timur tengah sampai yang harajuku. Kita ada di berbagai macam suku bangsa dan bahasa. Kita ada di berbagai macam profesi dan disiplin ilmu. Kita ada di berbagai pola pikir. Kita juga ada di berbagai kelas sosial ekonomi masing-masing. Kita ada di berbagai lini warna yang menyatu indah seperti pelangi.

Pelangi inilah yang mengajariku untuk belajar menghargai perbedaan. Masih ingat kata-kata budhe yang bilang gini : “ mbah itu orang yang sangat bijak, beliau orang yang sangat kuat prinsipnya tapi tetap bisa toleran, itu yang mbah selalu ajarkan saat putrid sulungnya bersekolah di sekolah katholik di Semarang dulu…” . Seru mendengar cerita budhe tentang Soegijapranata, tentang gereja-gereja kampung, atau cerita budhe yang lain yang tak kalah seru.

Dan liburan idul fitri kali ini kembali menyadarkanku tentang indahnya pelangi ini. Terimakasih Tuhan, memberikan sebuah tempat kembali yang sungguh luar biasa. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, ada saling penghargaan dan kasih sayang. Sunguh saya tidak yakin kalau kami bukan keluarga apakah bisa berkumpul dengan seguyub itu.

Semoga semua dapat kembali dikumpulkan di surgaNya, kelak. Doa dan cinta terdalam kami untuk mas, om, pakdhe, mbah, budhe, mbak, yang sudah mendahului ke alam baka. Semoga selalu terang dan lapanglah peraduan disana. Selamat datang juga untuk anggota-anggota keluarga baru, untuk dhe Ayes, dhe Ai dan adhe nya yang baru, untuk dhe asma, mbak illa, mbak riri, dan semua saja calon-calon istri atau calon-calon suami yang ada di hati  “the Lajangers” yang siapa orangnya juga belum tau pastinya… Yang penting doa, usaha, dan yakin sama JOHAN…. (jodoh di tangan Tuhan)… #eeeeaaaaaa … :p

Segitu dulu, yang mau copy foto-foto bisa kerumah, nanti sebagian ada yang diupload tapi nunggu turun gunung dulu.. :D . Sengaja nanti kita upload untuk bikin mupeng yang pada nggak bisa pulang.. J. Semoga peluk sayang Allah selalu meng-erati hati kita masing-masing. aamiin.

15 Agustus 2013 , sambil menunggu keberangkatan ke Indramayu, disambung ke Kuningan, dan ber tujuh belas agustus di puncak Ceremai, insya Allah. 
Read more ...
Thursday, July 25, 2013

Ikhtiar Melunasi Janji



Adzan Isya sudah mulai bersahutan saat kami memasuki salah satu tempat makan yang berlokasi di daerah Gor Satria. Kupilih tempat ini karena tersedia menu alternatif untuk tidak makan nasi. Kemudian sembari menunggu menu kami diantar, perbincangan pun terus mengalir. Tiba-tiba, adikku yang paling bungsu itu, mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tas. Nampaknya ia sudah ingin sekali menunjukan bungkusan tersebut. Ternyata isinya adalah sebuah “jas karung goni” alias jas almamater salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Ecieeee…yang sudah resmi jadi mahasiswa, begitu ledekku. Pssst…, jas almamaternya lebih bagus dari kampusku dulu, unsoed..hahaha.

Dalam ruang benakku, kehadiran jas almamater itu seolah menyeret sebuah lintasan peristiwa di beberapa bulan terakhir ini. Sembari menemaniku adikku berbuka puasa, dan mendengar segala celotehnya, alam pikiranku bermain-main dengan beberapa kenangan.

Sudah menjadi komitmenku sepeninggal almarhum ayah, untuk mengawal bagaimana proses tumbuh kembang kedua adikku yang saat itu masih sangat remaja. Sebuah sayatan hati yang tak akan pernah hilang memori malam itu di rumah sakit. Peluk tangis dari adik-adik yang membasahi bahuku, sampai detik ini masih terasa basah. Kuyup hingga ke hati. Semua pesan tentang mereka yang disampaikan kepadaku di enam bulan jelang kepergiannya, malam itu seolah menggema hingga saat ini. Persis keesokan harinya adalah pengumuman kelulusan si adik dari sekolah menengah pertama.

Mulai saat itulah, saya berusaha memposisikan diri untuk menjadi pengawal mereka dalam bertumbuh kembang termasuk dalam pendidikan mereka. Agenda-agenda seperti masuk sekolah baru, terima raport, ujian akhir, dan sejenisnya, saya sempatkan hadir. Bahkan untuk pementasan teater dimana si bungsu jadi pemeran utama, saya sempatkan pulang untuk memberikan apresiasi.

Ketika adik perempuanku lepas SMA, kucoba semaksimal mungkin untuk mendampingi berbagai ikhtiar masuk perguruan tinggi. Kini ia menjadi salah satu mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota kelahiran. Ambil jurusan yang disenanginya, pendidikan matematika. Semoga berkah.

Ya, doaku hanya ingin ikhtiar kami ini diberkahi. Bukan untuk mencapai hal-hal yang muluk. Bukan untuk mendapat prestise bersekolah di PTN terkenal. Kami memohonkan keberkahan saja, itu sudah sangat menenangkan.

Dan kini juga tanpa terasa si bungsu yang baru genap 17 tahun sudah berstatus menjadi mahasiswa (baru). Seperti ada rasa plong yang tak terkira. Seperti mimpi saja bahwa si bungsu yang dulunya saya jemput saat pulang TK, kemarin saya antar ke UGM.

FYI, adik-adik saya ini sangat berbeda dengan kakak perempuannya ini. Mereka termasuk “anak rumahan” yang jarang pergi jauh. Maka ketika harus pergi keluar kota, bisa terbayang kan bagaimana “nervous”nya. Ibu juga merasa khawatir karena anak bungsunya itu memang  tak pernah pergi jauh. Untuk adik perempuan, mungkin saya bela-belain jemput di Tegal kemudian saya antar lagi ke purwokerto dan diantar pulang lagi ke Tegal. Tapi untuk si bungsu laki-laki, saya agak melepas. Sekedar untuk melatih mental-nya.

Sampai akhirnya test masuk ia memilih UGM. Itu sebenarnya sepenuhnya saranku. Tapi aku tidak memaksakan dengan pilihan jurusan yang akan diambil. Toh kami juga sudah sepakat bahwa UGM lebih bagus daripada Unsoed.hahaha. Maksudnya begini, saya memilihkan tempat belajar untuk adik saya bukan karena unsur favorit atau prestise segala macam. Saya mencarikan tempat yang lingkungannya punya budaya belajar, bukan budaya mencari nilai, bukan budaya bersaing. Unsoed juga bagus, tapi budaya belajarnya kurang, tradisi riset dan keilmuannya masih sangat kering. Kalaupun banyak penelitian yang dapat dana hibah, maaf saya masih melihat motivasinya masih sekedar motivasi proyek. Jadi, bukan urusan kampus ini lebih keren daripada yang lain. Bukan itu. Tapi lingkungan kota Yogyakarta secara umum memiliki atmosfer yang menyenangkan untuk belajar banyak hal. Saya rasa, semua sepakat atas hal ini. Kalau ada yang bilang saya modus biar bisa sering ke jogja, waah..itu pitnah!hehe. Dari dulu saya juga sudah pingkopangkaping sering ke jogja, meski sekedar untuk mencari buku atau nonton pameran.

Sebenarnya adik saya sangat berkeinginan untuk masuk jurusan akuntansi. Tapi belum rejekinya. Daftar di Simak UI  juga pilih akuntansi dan sosiologi, tapi belum lolos. Rejekinya memang di sosiologi UGM. Karena pengalaman mengawal adik perempuan saya di tahun sebelumnya, saya berusaha mengambil semua peluang test supaya kesempatan masuk PTN jadi lebih luas. Selain ikut SBMPTN dan SIMAK, adik saya juga ikut test STAN dan juga saya berniat mengikutsertakan dia di test UM UGM. Pokoknya semua cara biar bisa masuk UGM deh. Etapi, ndilalahnya, pas batas akhir pendaftaran UM, dompet saya seret, ATM juga lupa belum ngurus (udah lama banget lupa pin dan keblokir), pas hari sabtu pula dan lagi di luar kota. Padahal itu baru beberapa hari gajian, tapi karena pengeluaran lagi banyak banyaknya, langsung bokek sebokek-bokeknya. Dengan manyampaikan maaf ke adik saya bilang : “ que sera-sera aja yak, gak perlu ikut utul ugm dulu..,”. Eh, ternyata SBMPTNnya malah lolos. Alhamdulillah banget.

Waktu nerima pengumuman lolos itu, kebetulan juga lagi di jogja, trus lagi di transjogja. Entah kenapa, adhe’ku yang lolos tapi aku yang terharu. Hehehe. Mungkin gitu ya perasaan para orang tua atau keluarga yang anak-anaknya masuk PTN.

Selepas pengumuman, masih agak deg-degan, karena belum tahu berapa nih biaya kuliah di UGM. Kebayang berapa penghasilanku yang masih kecil, harus mikir dibagi-bagi lagi. Pas hari pengumuman UKT, ternyata mendapat nol rupiah alias gratis. Alhamdulillah. Kabarnya lagi, malah nanti dapat uang saku perbulan. Ah, nikmat mana lagi yang sanggup ku dustakan.

Kini tinggal ikhtiar mencari lingkungan tempat tinggal yang kondusif. Sebenarnya kalau masalah ngekos, bisa-bisa saja. Tapi, saya  pribadi memang menginginkan dia untuk bisa tinggal di asrama atau pondok  yang punya sistem pendidikan informal, jadi ke jogja tidak Cuma dapat ilmu kuliahan. Beberapa kenalan sudah saya kontak, baik masjid, ormas, atau pondpes. Belum final, akan tinggal dimana. Saya kepengennya minimal tahun pertama ia belajar “ngabdi”, belajar melayani masyarakat. Kalau lepas setahun dia tidak betah atau ingin pindah, silakan. Tapi, setidaknya saya sudah melakukan bentuk ikhtiar  mencarikan lingkungan pendidikan yang kondusif.  Itulah janji saya pada almarhum ayah, yang tentunya saya jalani bukan hanya sekedar untuk pelunasan, tapi benar-benar sepenuhnya untuk kebaikan sang adik.

Tulisan ini mungkin agak melo. Tapi memang inilah yang menjadi semangat dibelakang segala yang sedang coba diusahakan. 


Kangen papa. Sangat.

Kamis, 16ramadhan 1434 H
Ditulis dari kemarin sore, tapi baru kelar sekarang.hehe.
Pagi-pagi sudah on , persiapan untuk mengisi materi character building di acara sanlat sebuah SMP di Purwokerto. Tapi masih bingung , ini mo ngasih materi apa.hehe. 
Read more ...