Pages

Friday, January 20, 2012

Coretan Jumat


#SSM

Kemarin siang, ada pertanyaan dari seorang teman perempuan yang cukup menggelitik walaupun klasik. Tentang perempuan dan aktualisasi diri. Pertanyaannya, ketika kita—perempuan—sudah married ,  apakah kita boleh beraktualisasi di luar rumah atau tidak. Pertanyaan persisnya memang bukan ini, tapi yang pengen aku bahas di #SSM yang ini aja.Hehe.
Tiap orang tentunya punya jawaban masing-masing. Seperti yang sering banget saya sampaikan kalo lagi diskusi sama teman, bahwa tiap orang punya sensasi masing-masing dalam menjalani hidup. Sensasi ini bersifat kasuistik dan simbolik tidak bisa digeneralisasi. Sensasi-sensasi yang kita rasakan akan membentuk sebuah persepsi. Orang yang sedari kecil tinggal di pesisir pantai akan merasakan sensasi panas sinar matahari yang berbeda dengan orang yang tinggal di pegunungan.Nggak usah ribet-ribet deh , kondisi dingin menurut orang Tegal berbeda dengan orang Purwokerto, iya nggak ? Ini bukan masalah ukuran beberapa celcius, tetapi sensasi yang terekam di memori otak kita dan membangun persepsi. Tapi, sensasi dan persepsi ini bisa dibentuk karena manusia memiliki kemampuan adaptasi (pelajaran biologi SMP nih.hehe). Misalnya, saya yang punya rintis alergika alias alergi dingin.., harus punya cara menyiasati diri ketika tinggal di Purwokerto Utara yang cenderung lebih dingin. Selama kita mau membuka diri, manusia punya banyak kemampuan untuk survive, termasuk dalam lingkungan sosial.
Read more ...
Monday, January 16, 2012

Wiskul Tegal

Seharian kemaren aku banyak makan, *gemuk, gemuk, gemuk, yeiy!!* . Mumpung di Tegal, saya kemarin menyempatkan untuk wisata kuliner alias wiskul. Ada beberapa jenis makanan dan tempat makan yang saya kunjungi. Saya akan berbagi info beberapa review tempat makan di kota Tegal. Untuk di kabupaten Tegal, saya tidak begitu paham, hanya tahu beberapa saja tapi nggak tau kondisi terakhirnya, mungkin nanti nunggu ada yang mau nraktir.., *nglirik teman-teman di kabupaten* :D . Nah, ini jenis dan tempat makan yang saya kunjungi kemarin :

  1. 06.00 . Kupat bongkok Panggung. Makanan ini kemarin saya santap untuk sarapan pagi. Setelah ziarah ke makam ayah, saya dan adik jalan-jalan ke alun-alun dan pasar pagi dan saya mampir ke kompleks masjid panggung. Disana memang ada beberapa penjual kupat bongkok, tepatnya di sepanjang Jl.KH.Mukhlas. Harganya relatif murah, dari 2-3ribu rupiah. Makanan ini memang mengambil nama Bongkok, yaitu nama sebuah desa di kabupaten Tegal. Mengenai apa itu kupat bongkok, bisa disearch saja informasinya melalui mbah google. Banyak kok. Saya cuma mau kasih beberapa referensi tempat membeli kupat bongkok. Selain di Jl.KH.Mukhlas, saya biasa membeli juga di Jl.Serayu atau wilayah Kalimati. Oya, tidak semua orang doyan kupat bongkok, mungkin karena melihat bumbunya. Tapi, saya suka tuh :p.
  2. 09.00 . Mendoan dan Lengko Srigunting. Agak siang sedikit, sekitar pukul 9.00, saya pergi jalan bareng seorang sahabat. Saya merasa perlu meluangkan waktu untuk sahabat yang satu ini. Ia sahabatku dari SMP, kami berkenalan di PII. Dari satu group PIIwati yang dulu sering bareng, saya memang lebih sering berdua dengannya mungkin karena hanya tinggal dua orang yang senasib sepenanggungan sebagai happysingle !!yeiy!! *apa sih??*. (eh, tiga ding, *ina durung detung*..:p ).  Nah karena kebetulan dia juga dulu kuliah di Purwokerto, jadi ketika saya tawarkan beberapa pilihan tempat makan, dia langsung tertarik untuk menyantap mendoan hangat. Mendoan Srigunting cukup populer bagi yang sering nongkrong, apalagi ABG...:p . Lokasinya di Jalan Srigunting, kalau dari arah timur (Jl.AR Hakim) masuk ke pertigaan Srigunting, lurusssss saja, hingga beberapa blok sebelum pertigaan Jalan Merpati. Lokasinya di tepi selatan. Tempatnya sangat sederhana. Ada satu gerobak yang bertandakan “mendoan Banyumas”. Satu porsi tempe mendoan harganya 3ribu rupiah, berisi dua potong. Jadi satu potong mendoan harganya 1500. Yeah, bagi saya yang berdomisili di Purwokerto mungkin harga segitu rada mahal, karena tiap hari bisa sering ketemu mendoan dengan harga dibawah itu.hehe. Tapi ya agak wajar lah , kalau kita menghitung juga ongkos transportasinya. Lagipula, tidak semua orang mungkin paham teknik menggoreng mendoan. Heemhh..kapan-kapan saja saya ceritakan tentang mendoan ini, beserta referensi membeli mendoan yang masih mentah dan lain-lain. Tulisan tentang mendoan nunggu sponsor dulu ah.. *lirik bos sawangan* hahahaha. Oya, selain mendoan, di warung ini juga menyediakan berbagai macam jenis es juice.
Read more ...
Friday, January 13, 2012

Warung Penyetan


 Ada beberapa makanan yang saya biasanya berusaha menghindari , yaitu : ayam, lele, dan makanan-makanan yang ada di warung penyet. Kecuali lele, untuk dua jenis makanan yang lain idak 100% saya benar-benar menghindar. Tadi malam, saya ingin merasakan sensasi makan tempe penyet. Entah sudah berapa lama saya tidak pernah dateng ke warung penyet. Kayaknya gara-gara pas malam minggu kemarin ardina ngajakin ke SBC trus makan cah kangkung dan tempe kremes. Trus pas tadi malam kebetulan lagi lewat jalan kampus, mampir ke warung tenda di pinggir lapangan Grendeng. Disana pilihannya tinggal : ayam, lele, atau tempe-tahu. Ya, jelas aku bakal milih yang terakhir. Saya mendingan lapar daripada ditraktir makan lele. Ayam?? Wews, saya punya trauma dengan makanan ini. Sejak saya tinggal di Purwokerto, saya menemukan hal baru dalam “dunia makanan”. Mungkin karena baru jadi anak kos. Disini saya baru melihat dan merasakan ayam yang dimasak tidak benar-benar matang. Di Purwokerto, khususnya di daerah karangwangkal-grendeng banyak sekali warung ayam goreng, bakar, pinggir jalan ataupun rumah makan yang memasak ayamnya tidak benar-benar matang. Saya pernah suatu hari benar-benar muntah karena melihat masih ada darah saat makan ayam goreng . Semenjak itulah saya menghindari makan ayam. Jadi, saya berusaha gak makan ayam kecuali yang dimasak sendiri atau di tempat-tempat yang saya yakin masaknya baik dan benar. Nggak harus fastfood ya, soalnya disini juga ada restorang fastfood yang masak ayamnya menurut saya nggak mateng . Kalau lele, itu emang nggak doyan, itu sugesti sih sebenarnya, karena inget bagaimana lele berkembang biak. Tentang warung penyetan, nah ini yang pengen saya obrolin pagi hari ini.
Read more ...
Thursday, January 12, 2012

Belajar Dari Ternak

(ternak = anter anak.red)

Pagi tadi, seusai olahraga pagi, saya dimintai tolong untuk mengantar Sofi dan Sayyid ke sekolah. Kebetulan kalau ustadz Sofwan sedang keluar kota, saya memang sering dimintai tolong untuk itu. Bagi saya, aktivitas-aktivitas seperti ini punya kesan tersendiri. Mengantarkan anak ke sekolah. Tentu kalo sekarang bukan anak saya sendiri. hehe. Selain hal teknis seperti harus memboncengkan dua anak kecil dan tidak bisa ngebut.. :D , yang menarik bagi saya adalah ketika sudah sampai di sekolah. Saya bukan petugas antar jemput, jadi memang kewajiban saya bukan sekedar untuk mengantarkan anak sampai sekolah. Dik Sofi dan Sayyid (nuna) sudah seperti keluarga saya sendiri di Purwokerto ini, maka yang saya rasakan adalah saya harus benar-benar “mengantar” kedua adik tersebut. Selain menjaga keselamatan hingga sekolah, juga ketika sudah sampai di sekolah, sebaiknya jangan langsung ditinggal. Minimal kita benar-benar melihat si kecil sudah bertemu dengan guru yang akan menjadi orang tua sementara mereka di sekolah. Saya perlu benar-benar tahu bahwa Shofi ketika sudah sampai di TK Al-Irsyad, ia siap untuk belajar bersama teman-temannya, masuk ke sekolah dengan riang, dan guru-gurunya juga siap untuk menjadi orangtuanya selama beberapa jam kedepannya. Begitu juga dengan Nuna yang masih bersekolah di Paud, kalau ini saya perlu mengantarkan benar-benar sampai ruang kelas dan bertemu dengan guru-gurunya.

Aktivitas seperti ini membuat saya berpikir tentang peran orangtua dan sekolah. Pendidikan bagi anak-anak paling utama adalah di keluarga. Tidak berlebihan jika seorang ibu disebut sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Maka, institusi pendidikan seperti sekolah sebenarnya hanya bersifat membantu penyelenggaraan pendidikan secara formal diluar rumah, untuk membantu anak belajar bersosialisasi. Tanggungjawab ortu bukanlah menyekolahkan anak-anaknya, tapi memastikan bahwa anak-anaknya mendapat pendidikan yang tepat, salah satunya dapat berupa bentuk mempercayakan sekolah sebagai “partner” pendidikan. Dari mulai memilih sekolah hingga mereview aktivitas anak-anak di sekolah, merupakan bagian dari tanggungjawab ortu. Seperti setiap mengantarkan anak ke sekolah, itu adalah moment berharga bagi ortu untuk bisa meyakinkan putra-putrinya bahwa mereka masih dalam pengawasan ortu. Kecuali ada kendala teknis, mengantar / melepas anak ke sekolah haruslah menjadi waktu berharga seperti seorang ayah melepas anak gadisnya untuk dipinang. *halah, rada lebai yak*. Kalau saya punya anak dan nantinya harus sekolah diluar rumah (saya tentunya juga bisa nanti punya pilihan untuk homeschooling) , atau kalau sekolahnya terpaksa harus di lokasi yang jauh dari rumah, saya akan berusaha selalu standby untuk mengantarnya.

Read more ...
Thursday, January 05, 2012

(repost) Luqman, Ayah Yang Inspirasional


Kalau ada sesosok ayah yang namanya terukir sebagai nama surat dalam Al-Qur’an, maka Luqman lah orangnya. Lalu kalau namanya terukir karena kualitas didikannya pada anak-anaknya, kurang apalagi bagi ayah masa kini untuk mengambil inspirasi dari gaya mendidik Luqman Al-Hakim? Menurut Ibnu Katsir, sosok Luqman yang diceritakan adalah Luqman bin Anqa’ bin Sadun. Ada sebuah keterangan yang menyebutkan bahwa Luqman adalah sosok budak Habasyah berkulit hitam. Beliau pun bukan seorang Nabi. Abdullah bin Umar Al Khattab berkata :”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku berkata bahwa Luqman bukanlah seorang nabi, tetapi seorang hamba yang dilindungi Tuhan, banyak bertafakur dan baik keyakinannya. Ia mencintai Allah dan Allah pun mencintainya. Karena itu ia dianugerahi hikmah kebijaksanaan.” (Mutafaq ‘Alaih). Sungguh pun begitu, ia mendapat gelar "Al-Hakim" karena kebijaksanaannya. Dan Allah swt sendiri yang mengatakan bahwa Luqman telah dianugerahi hikmah. "Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji"". (QS Luqman : 12)
Read more ...

#SenjaGalau :D

Senja ini aku masyuk berblogging ria. Dan aku larut dengan kisah-kisah teman-teman yang berprofesi di jurnalistik radio. Whuaaaaaaaa.. papa, aku pengen kerja di ABC (itu nama stasiun radio ya bukan kecap!! :p), atau di VOA, atau KBR deh kalo yang local. Tapi.., benarkah aku masih menyimpan segala mimpi itu? Mimpi untuk terbang, berkelana, berpetualang. Bukankah minggu-minggu kemarin sudah bertekad untuk menunda semua mimpi-mimpi itu? Bukankah seorang Shinta punya janji untuk benar-benar memperbaiki diri sendiri dulu, melakukan banyak hal untuk kakak, adik dan keluarga??. Bukannya pengen married dulu trus baru nerusin cita-cita??...
Ya..ya..ya.., aq pun tak lupa dengan janji itu. Aq cuma lagi mupeng aja.huhuhu. L

#senja galau
Read more ...
Tuesday, January 03, 2012

RHINOS SR

(tulisan ini sebenarnya pengen ngupas tentang obat jenis SR, tapi didahului sama curhatan dulu, jadi yang baca sabar ya..hehe)

Tiga hari kebelakang, saya terkena flu (lagi).  Yeah, sebenarnya sih sudah bisa diduga akan terjangkiti virus itu kembali karena hari-hari sebelumnya kondisi daya tahan tubuh memang menurun. Dua-tiga pekan terakhir adalah hari-hari yang sering membawa saya kepada kondisi underpressure. Apalagi di satu pekan terakhir, semua meminta cepat, semua meminta tepat. Sementara tangan saya hanya dua. Partner kerja yang ada hanyalah sebatas kerja teknis, tak mampu untuk diajak melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan konsep/ide. Padahal pekerjaan yang ada membutuhkan banyak ide kreatif. Sangat sangat membuat stress. Apalagi itu akhir bulan, masa dimana pundi-pundi rupiah juga dalam kondisi sekarat.  Akhirnya hari Kamis, grastitis alias maag saya kambuh. Sakitnya minta ampun. Ulu hati kayak ditusuk pake pisau tajam, perut mual, kembung, kaki terasa pegal, dan kepala pusing. Padahal waktu itu juga lagi shaum. Dalam kondisi seperti itu, saya harus siaran malam, karena ada program khusus yang menghadirkan tamu dari luarkota. Kalau maag hebat, makanan tidak bisa langsung masuk. Beberapa kali makanan malah saya muntahkan. Baru pada hari Jumat siang, bisa makan normal. Itu juga langsung beraktivitas seperti biasa, dan waktu itu kalau nggak salah, saya sempat terkena kipas angin yang lumayan kenceng, karena saya punya alergi ya udah langsung deh kena flu.
Read more ...
Monday, January 02, 2012

[repost] Sekolah tanpa Komputer bagi Anak Petinggi Silicon Valley: Keseimbangan dalam Domain Utama Pendidikan



"Silicon Valley terkenal sebagai tempat berkumpulnya perusahaan-perusahaan teknologi dunia. Namun, para petinggi  perusahaan-perusahaan di Silicon Valley justru menyekolahkan anak mereka di sekolah yang tidak memiliki komputer sama sekali di Waldorf School of The Peninsula".

Itu adalah sepenggal paragraf dalam media online (Kompas.com, 2 November 2011) yang saya peroleh dari perbincangan dalam milist mengenai pendidikan yang lebih disukai yang justru menghindarkan anaknya dari sekolah yang berbau komputer. Tampaknya memang aneh, di mana sekarang adalah era digital, justru di negara maju, para petinggi perusahaan tekonologi tersebut malah mengarahkan anaknya untuk bersekolah yang bernuansa sebaliknya.

No pain No gain..Begitulah sederhananya melihat bagaimana usaha orang tua mendidik anak-anaknya untuk mengejar cita-cita(ortu)nya serta pengorbanan anak dalam mengikutinya. Saya pribadi merasa sangat ngeri melihat pola belajar anak sekarang (di Indonesia) yang belajar dari pagi sampai sore bahkan malam. Belum lagi melihat anak kecil dengan tubuh mungilnya namun harus terbebani membawa tasnya dengan berbagai macam buku yang digunakan untuk sekolah, les mata pelajaran, les tambahan, belum lagi les-lesnya. Lantas kalau dipikir lebih dalam, kapan waktunya mereka untuk bersosialisasi dengan tetangganya, saudaranya, atau komunitas masyarakat lainnya. Seolah-olah tiada waktu kecuali digunakan untuk belajar terlebih sekarang sepertinya suatu kewajiban bagi anak untuk menambah jadwalnya mengikuti lembaga bimbingan belajar. Kalau mau jujur ini sebenarnya peningkatan budaya belajar atau menurunnnya kualitas pembelajaran di sekolah formal ketika LBB bermunculan bahkan mengalahkan upaya yang dilakukan oleh tenaga pengajar di sekolahnya sendiri. Hemhhhhh

Read more ...

Saat Pulang



Kenangan itu tiba-tiba datang,
Tepat sepersepuluh detik setelah kujejakkan kaki di kota kecil ini,
Tarian bayanganmu dengan cipratan gerimis yang meningkahi
Hingga aku tak kuasa untuk bicara panjang.

Kuiyakan saja tawaran pria separuh baya dengan becaknya
Aq sudah tak sanggup berpikir banyak.
Semua cukup menyentak di malam yang sepertinya penuh dengan ketidakwarasan.

Read more ...
Saturday, November 12, 2011

Belum Bisa Berpuisi (lagi)

“maafkan aku yang belum pernah mampu meneladani nilai kepatuhan seorang Ismail a.s kepada ayahandanya Ibrahim a.s”


Antara aku dan puisi, pernah ada sebuah simpul yang coba kurekat. Sependek kalimat, aku (pernah) jatuh cinta pada puisi.

Berpuisi membuatku meluapkan segala ekspresi namun tetap terbungkus dengan rahasia rajutan  kata.  Semua lepas tapi tak terhempas. Semua keluar namun tak bingar.

Namun aku memang bukanlah orang yang puitis. Justru itu. Justru ketika aku kadang ada di titik jenuh atas segala rasionalisasi bahasa aktualisasi. Aku ingin bersembunyi dalam puisi-puisi ku yang sangat sederhana. Disaat aku kesepian dimasa kecil dulu, kupaksa meninabobokan diri dengan beberapa rangkaian kata. Setiap aksara seolah membelai dan menyimpan setiap gumaman rahasiaku. Aku nyaman dalam pelukannya.

Namun, menyukai dunia teater dan puisi ternyata adalah sebuah “episode sulit” antara aku dan ayah, lelakiku yang hebat itu. 

Read more ...

Saatnya Menggugah Titik Jenuh


(Sebuah refleksi mengenai new media dan eksistensi generasi muda )


Menilik sejenak 83 tahun yang telah lalu, di bulan yang sama dengan saat ini (Oktober.red) , tak kurang dari hitungan jari , sekelompok anak muda pernah tergugah dan berhasil menciptakan sejarah. Rangkaian frasa yang mereka kumandangkan pada Kongres Pemuda II ternyata menjadi sebuah inspirasi yang tak pernah mati bagi bangsa ini. Saat itu Muhammad Yamin cukup bernas menyampaikan arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Ia berkata bahwa ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum, adat, pendidikan, dan kemauan. Hingga pada penutup rapat berkumandanglah secarik deklarasi yang dikenal sebagai sumpah pemuda . Paduan kumandang sumpah itu memiliki notasi semangat yang alunannya bahkan menjadi trade mark semangat bagi generasi muda Indonesia hingga kini.

Bergerak ke tujuh belas tahun dari kumandang sumpah pemuda, sekelompok pemuda lain menciptakan sejarah yang tak kalah hebat. Letupan riak darah muda yang mengalir pada tubuh seorang Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana ternyata mampu memaksa mereka berbuat “nekad” menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk mendesak agar segera diproklamirkan pernyataan kemerdekaan. Tak dapat digambarkan pula bagaimana perasaan seorang Latief Hendraningrat dan Soehoed saat mengibarkan Sang Saka Merah Putih dengan iringan Indonesia Raya serta pekikan merdeka di hari tujuh belas bulan delapan tahun 05 berdasarkan perhitungan tahun jepang saat itu.

Mei 1998, rakyat Indonesia mengenal kata “reformasi” sebagai sebuah diksi yang sepadan pentingnya dengan nasi. Lagi-lagi anak muda yang unjuk gigi. Sejarah mencatat ratusan ribu generasi muda  turun ke jalan menuntut sebuah perubahan. Pemerintahan Soeharto yang berjalan lebih dari tiga dasawarsa itu memasuki buritannya. Aspal jalanan mendidih berbenturan dengan gemuruh semangat. Pekik reformasi menggerung di jalanan ibukota, menggelora hingga ke pelosok-pelosok daerah. Desakan itu sangat kuat hingga akhirnya “the old man most probably has resigned”[i].
Read more ...

Bupati Vs DPRD : Praktek Pola Komunikasi Politik Childist


 Komunikasi pimpinan daerah (eksekutif) dan legislatif yang menyisakan konflik memang bukan sebuah hal yang baru di negara kita. Hal ini telah berlangsung lama, dan mungkin tak salah pula ketika dalam salah satu pengamatannya, Ali Moertopo pernah menyimpulkan bahwa : “..dikebanyakan lembaga sosio-politik, orang-orang yang bertanggungjawab mempunyai tugas untuk berkomunikasi dengan pemerintah dalam mentransfer kehendak rakyat, lambat laun lebih banyak mengidentifikasikan dirinya dengan pemerintah dan akhirnya menjadi kelompok marginal yang hanya mementingkan dirinya sendiri”.

Mungkin seperti itu pula gambaran yang sedang terjadi di Kabupaten Banyumas dengan drama yang sedang diputar beberapa waktu belakangan. Beberapa konflik dramatik yang sedang hangat yaitu mengenai dana banpol serta penangguhan pencairan dana representasi (gaji). Entah kenapa, konfliknya seputar masalah “uang”. Para pemegang aspirasi rakyat itu terlihat kekeuh untuk meributkan masalah dana. Banpol PDIP yang tak bisa dianggarkan membuat para kader partai berlambang moncong putih itu geram. Sementara itu keributan lain juga terjadi karena adanya penangguhan gaji DPRD bulan September. Keributan-keributan itu hingga mengundang pemprov untuk mengadakan mediasi, meredamkan api konflik diantara bupati sebagai lembaga eksekutif dan pimpinan dewan sebagai lembaga legislatif.
Read more ...

Letters To God

Mereka adalah yang telah dipilih Tuhan untuk menjadi pejuang. Mereka yang hatinya telah terpilih. Mereka yang tetap memperjuangkan kehidupan orang lain walaupun hanya melalui doa.

Doa adalah prosa yang paling indah. Setidaknya itu yang akan kita ungkapkan apabila mengetahui bait doa-doa yang tiap orang sebutkan. Dan tiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengungkapkan doanya. Dalam pemahaman seorang anak usia 13 tahun, doanya akan bekerja ketika ia menuliskannya dalam sebuah surat.

Tyler, itu nama anak muda tersebut. Tyler lah yang kerap kali membuat tukang pos menjadi bingung karena menuliskan surat dengan alamat tujuan , to: God, kepada Tuhan. Kemana kita akan menyampaikan surat beralamatkan Tuhan? Setidaknya itu yang menjadi kebingungan bagi Barry, seorang tukang pos muda yang baru saja keluar dari penjara dan juga sedang memiliki masalah besar dengan anak dan istrinya.

Sementara Maddy, ibunda Tyler, adalah sosok wanita yang tangguh. Setelah ditinggal mati suaminya, ia harus mengasuh dua putranya plus dengan kondisi Tyler-si bungsu yang “hampir sekarat” karena penyakir kanker otak yang diidapnya. Seorang supermom yang untungnya juga memiliki seorang supermom juga. Nenek Tyler adalah sosok nenek dan ibu yang selalu siap turun tangan untuk membantu keperluan anak dan cucu-cucunya.

Read more ...

Untitled

Terkadang, aku berfikir bahwa manusia bisa lebih bodoh daripada sebuah kacamata. Ya, kacamata, alat bantu melihat yang salah satu produknya sedang aku gunakan saat ini. Sepasang lensa yang terekat oleh nylon dan kontruksi bingkai setengah. Belum lama kukenakan kacamata ini, sekitar 1,5 tahun yang lalu. Alat bantu yang awalnya sering membuat mata terasa pegal. Kalau tak ingat peristiwa kecelakaan motor di akhir tahun 2009 lalu, mungkin aku masih enggan untuk membiarkan sepasang lensa ini nangkring menyamarkan garis kelopak mataku yang konon katanya mirip dengan almarhum ayah. Selain karena masih merasa sayang membuang uang untuk contact lens, gangguan pada retina membuat aku terpaksa memasrahkan diri untuk berbagi fungsi penglihatan dengan kacamata ini.

Dengan perkembangan kreatifitas yang luar biasa di dunia industri kacamata, kini keberadaannya juga bukan sekedar berfungsi sebagai alat bantu penglihatan saja tetapi juga bagian dari trend fashion. Modelnya sekarang beraneka ragam, ada yang bingkai penuh,bingkai setengah dari yang model nylon cord frame dengan pengunci sampai ballgri mounting yang dengan baut. Ada pula yang konstruksi tanpa bingkai dengan variasi rimless mounting  yang lensanya ditahan dengan baut di bagian nasal dan temporal, dan ada juga phantom yang rangkaiannya merupakan satu unit yang tidak terpisah.

Sama halnya dengan kacamata, walaupun bukan sebuah alat, manusia juga memiliki fungsi. Saya teringat sebuah obrolan ringan dengan seorang teman beberapa hari yang lalu. Kita saling menukar kata dan frasa mengurai beberapa kesah pekerjaan masing-masing. Tanpa canggung ia berkisah beberapa partner kerjanya lebih cenderung untuk melakukan tugas daripada fungsinya. Mereka bertugas dengan baik tetapi ternyata belum berfungsi dengan optimal. Misalnya beberapa petugas yang bekerja setiap ada komando saja, jadi seperti robot yang didikte untuk melakukan tugas A,B,C, dan seterusnya. Ketika tugas A selesai maka ia menunggu diberi tugas B.
Read more ...

Mengunduh Makna yang Terlahir Dari Detak Anak Arloji


Sejatinya hidup ini adalah kumpulan cerita yang terjalin satu sama lain. Cerita yang ketika mampu menyerap maknanya akan menjadi sebuah pelajaran berharga yang tak ternilai harganya. Kadang cerita itu dibiarkan berlalu begitu saja, seperti kita berkendara dan membiarkan semua itu terlaju. Tak semua orang pula mau dan mampu merefleksikan tiap bait cerita kehidupan yang terlewati.

Membaca cerpen-cerpen Kurnia Effendi dalam Anak Arloji, seperti kita membaca fenomena kehidupan. Konflik yang sebenarnya ada di sekitar kita. Konfik yang dihadirkan tidak terlalu anomali. Namun di tangan Kef  - panggilan Kurnia Effendi- semua kisah sederhana tersebut terkemas indah. Kekuatan diksi yang kuat membuat pembaca enggan untuk memberi jeda saat membaca kisah-kisah yang tersaji.

Salah satu kisah sederhana yang terkemas dengan apik itu adalah pada cerpen “Pertaruhan”. Kisah dua pemuda yang gemar bertaruh untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa, seperti minum kopi dengan campuran arsenik hingga bertaruh nyawa di rel kereta api. Kisah ini nampak biasa dan memang akan terasa biasa saja apabila bukan Kef yang membawakannya. Seperti juga pada cerpen “ La Tifa” , kisah seorang gadis yang meratapi keluguannya pada seorang laki-laki paruh baya dan memutuskan untuk merubah nama dari “Latifa” menjadi “La Tifa”. Dengan sangat anggun, Kef mengantarkan pembaca pada kisah tentang sebuah pencarian jatidiri. Latifa tidak menemukan latifa pada dirinya, ia merasa malu, kotor, jijik, dan marah pada diri sendiri. Sebuah nama menunjukan sebuah identitas diri, maka tidak match ketika nama yang bagus melekat pada orang yang telah melakukan perbuatan yang dirasa hina. Pesan ini disampaikan oleh Kef dalam cerpennya dengan siratan bukan suratan. Suratan yang tertera pada cerpen ini sekedar alur kisah yang mengalir mendayu. Namun Kef mampu menaruh pesan itu dengan sangat apik ibarat meletakkan sebuah batu zamrud dalam kotak perhiasan. Dari ukiran kotak perhiasannya pun dapat dikira betapa mulianya sesuatu yang tersimpan di dalamnya. Dan Kef memang pengukir kisah yang piawai.
Read more ...
Sunday, July 10, 2011

Beres-Beres

Lagi pengen menata lagi  blog yang mungkin udah agak lama gak ditengok. Sekaligus lagi ngerjain satu blog lagi yang isinya sebenarnya buat memindahkan file-file resensi buku dan film yang ada di laptop.hehe.

Kenapa milih template baru ini?? gak ada alasan pasti. pas lagi browsing, trus nemu..suka ya udah pake. gak mau ribet-ribet lagi urusan template..usahain sesimple mungkin. tapi gambar di header emang kadang-kadang suka nggak muncul?? entahlah..lagi males ngutak-atik.

Selamat menikmati..mari berbagi..^_^
Read more ...

Pembenahan Perpusda Untuk Tegal Cerdas 2011




Kecerdasan mungkin identik dengan nilai kognitif atau point IQ seseorang. Kurang disadari bahwa cerdas sebenarnya adalah sebuah budaya, bukan sekedar diukur dari nilai atau prestasi-prestasi yang diraih. Penciptaan lingkungan yang mampu menstimulasi adanya budaya masyarakat yang cerdas, itulah yang perlu dilakukan ketika pemerintah kota Tegal mencanangkan tema “Tegal Cerdas 2011”.

Tentu saja mewujudkan masyarakat cerdas harus disokong dengan proses pendidikan yang berkualitas.Program pendidikan yang dicanangkan bukan semata jenjang sekolah formal saja melainkan bagaimana masyarakat mampu mengembangkan diri melalui kekayaan literasi yang dimiliki. Dengan menyediakan informasi, masyarakat dapat memberitahukan kepada diri mereka sendiri tanpa suatu paksaan tentang berbagai isu muktahir. Masyarakat dapat memberdayakan diri mereka sendiri dengan mendapatkan berbagai informasi yang sesuai tugas atau pekerjaan masing-masing. Aktivitas ini dapat terfasilitasi dengan adanya perpustakaan. Tentu saja perpustakaan dengan pengelolaan yang baik. Dengan kata lain, melalui perpustakaan diharapkan akan terbentuk statu masyarakat yang terinformasi dengan baik, berkualitas, dan demokratis. Pentingnya peran  perpustakaan ini, maka tak berlebihan jika dapat disebut sebagai centre of learning dalam dunia pendidikan.

Perpustakaan Daerah Tegal memiliki gedung yang cukup besar dan masih baru setelah pindah dari tempatnya yang lama. Menempati gedung baru berlantai dua di daerah Mangkukusuman, gedung perpustakaan yang digabung dengan  kantor arsip tersebut cukup mudah dijangkau oleh masyarakat terutama pelajar. Melihat perpustakaan, kita akan melihat harapan bahwa banyak anak muda yang memiliki semangat belajar tinggi berkumpul disana. Tetapi nampaknya keberadaan perpustakaan tidak terasa di masyarakat. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini.

Read more ...

Memaknai Spirit Perdamaian Pada Persaudaraan Tarekat Indonesia – Maroko





Tak sedikit yang memungkiri bahwa ketika mendengar kata “sufi” maka akan terasosiasikan dengan beberapa hal yang berbau kearab-araban. Mungkin kita akan membayangkan padang pasir, orang-orang berjubah, berjenggot, naik unta, dan lain sebagainya. Sufi, sufisme, tasawuf, tarekat memang belum mampu menjadi semacam trend yang diakui global oleh masyarakat. Sufi memang kadang menyiratkan sebuah kemisteriusan, karena mungkin sufi adalah sebuah jalan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, sufi bagi para penganutnya adalah sebuah jalan yang memberikan ruang privasi seluas-luasnya dan sedekat-dekatnya dengan Tuhan.

Tasawuf merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari cara seseorang berada sedekat mungkin dengan Allah swt. Kaum orientaalis Barat, menyebutnya sufisme, dan bagimeraka kata sufisme khusus untuk mistisme dalam Islam. Thariqat berarti jalan raya (road) atau jalan kecil (gang, path). Kata thariqat secara bahasa dapat juga berarti metode, yaitu cara yang khusus mencapai tujuan. Secara terminologi, istilah kata thariqat berarti jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Kemudian digunakan untuk menunjuk suatau metode psikologi moral untuk membimbing seseorang mengenal Tuhan. [1]

Read more ...

Huruf 'ain Untuk Seli

(ini postingan lama, tapi belum kupost di blog, karena dalam beberapa minggu kedepan kayaknya mo ketemu Seli dkk, jadi inget note ini jd kurepost di blog.., )^_^

Dea, tata, dan Seli adalah adik-adik baru saya selama kurang lebih dua pekan ini. Dea seorang gadis manis yang sudah duduk di bangku kelas dua SD, sedangkan tata-adik dea- masih bermain di TK “nol kecil”. Selly lebih senior dibanding keduanya, karena dia sudah duduk di bangku kelas lima SD. Bersama ghafra, rafi, dan Sukma, mereka semua adalah adik-adik yang kebetulan saya ajar privat mengaji Al-Quran. Diantara mereka semua, tentu saja Selly yang sudah ada di tingkatan lanjut (sudah Iqra 2). Pertemuan terakhir kemarin cukup memakan waktu lama, karena saya baru mendengar bacaan sally pada rangkaian huruf hijaiyah yang mengandung huruf “’ain”.

Dalam dialek Banyumas, bunyi ‘a lebih familiar dilafalkan dengan bunyi “nga”. Jadi yang akan kita dengarkan bukan ‘a, tapi “nga”. Bukan surat “Al-‘ala” tapi “Al-ngala”. Bukan “Waalaikumsalam” tapi “Ngalaikumsalam”. kata "alamin" jadi berbunyi "ngalamin" . Sebenarnya ini bukan hal baru yang kita dengar. Dalam konteks dialek lain, kita akan mendengar potongan lafadz istighfar menjadi berbunyi “astaghfirullahaladjim”, atau kadang-kadang kita juga mendengar lafadz takbir terdengar “Allahu-ekbar”. Serta banyak contoh-contoh lain yang terjadi dalam masyarakat sekitar kita.

Read more ...

Benah Rumah Sehati : Pendar Senyum di Hati pak Faqih

“Terima Kasih ya mas, semoga bisa bermanfaat …..”

Itulah sebuah kalimat tulus nan merendah yang terucap dari seorang Abdul Faqih setelah rumahnya berhasil dibenahi oleh LAZIS MAFAZA. Pria Paruh Baya asal Ponorogo ini memiliki aktivitas keseharian mengajar ngaji di rumahnya di Desa Baseh Kecamatan Kedung Banteng. Tadinya Faqih sering dipusingkan dengan masalah atap rumahnya yang sering bocor, atau tiang penyangga rumahnya yang sudah mulai lapuk. Rumah yang sudah “tua” itu disana-sini mulai terlihat butuh diperbaiki, sekedar untuk melengkapi syarat sebuah rumah untuk berlindung dari hujan dan panas. Kendala pun hadir, bahwa untuk memperbaiki rumahnya itu tentunya butuh dana yang tidak sedikit.

Selain mengajar ngaji, pak Faqih bekerja serabutan. Beliau bekerja ketika ada tetangga yang memintanya membantu membangun rumah sebagai buruh bangunan, atau ketika musim tanam padi tiba saat tetangganya meminta beliau menjadi buruh taman padi. Dengan penghasilan rata-rata tidak lebih dari Rp. 30.000,- menjadi sulit bagi nya untuk memikirkan membangun rumah yang besar alias rumah“gedong”.Dengan doa serta ketulusan para muzzaki yang menyalurkan hartanya melalui LAZIS MAFAZA, Alhamdulillah rumahnya kini telah nampak jauh lebih baik dan tertata plus sebuah bonus Al Qur’an baru yang cantik dan menawan. Dengan bijak beliau berharap bahwa perubahan yang ada pada rumahnya ini semoga meningkatkan semangat belajar anak didiknya yang beliau bina. Terbayang saat beliau harus mengajar dengan hanya mengandalkan penerangan lampu 5 watt di ruang tengah rumahnya. Tanpa mengeluh atau merasa bosan beliau mengajari anak-anak disetiap Ba’da Maghrib hingga adzan Isya berkumandang. Kesibukan beliau di dasari niat yang kuat danpeduli pada pentingnya pembinaan kepada anak-anak sebagai bekal mereka sebelum menjadi dewasa dan terjun ke masyarakat. Bekal ilmu di TPA yang beliau ajarkan merupakan titik awal lahirnya orang-orang hebat disekitar kita.
Read more ...