Pages

Saturday, November 12, 2011

Belum Bisa Berpuisi (lagi)

“maafkan aku yang belum pernah mampu meneladani nilai kepatuhan seorang Ismail a.s kepada ayahandanya Ibrahim a.s”


Antara aku dan puisi, pernah ada sebuah simpul yang coba kurekat. Sependek kalimat, aku (pernah) jatuh cinta pada puisi.

Berpuisi membuatku meluapkan segala ekspresi namun tetap terbungkus dengan rahasia rajutan  kata.  Semua lepas tapi tak terhempas. Semua keluar namun tak bingar.

Namun aku memang bukanlah orang yang puitis. Justru itu. Justru ketika aku kadang ada di titik jenuh atas segala rasionalisasi bahasa aktualisasi. Aku ingin bersembunyi dalam puisi-puisi ku yang sangat sederhana. Disaat aku kesepian dimasa kecil dulu, kupaksa meninabobokan diri dengan beberapa rangkaian kata. Setiap aksara seolah membelai dan menyimpan setiap gumaman rahasiaku. Aku nyaman dalam pelukannya.

Namun, menyukai dunia teater dan puisi ternyata adalah sebuah “episode sulit” antara aku dan ayah, lelakiku yang hebat itu. 

Read more ...

Saatnya Menggugah Titik Jenuh


(Sebuah refleksi mengenai new media dan eksistensi generasi muda )


Menilik sejenak 83 tahun yang telah lalu, di bulan yang sama dengan saat ini (Oktober.red) , tak kurang dari hitungan jari , sekelompok anak muda pernah tergugah dan berhasil menciptakan sejarah. Rangkaian frasa yang mereka kumandangkan pada Kongres Pemuda II ternyata menjadi sebuah inspirasi yang tak pernah mati bagi bangsa ini. Saat itu Muhammad Yamin cukup bernas menyampaikan arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Ia berkata bahwa ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum, adat, pendidikan, dan kemauan. Hingga pada penutup rapat berkumandanglah secarik deklarasi yang dikenal sebagai sumpah pemuda . Paduan kumandang sumpah itu memiliki notasi semangat yang alunannya bahkan menjadi trade mark semangat bagi generasi muda Indonesia hingga kini.

Bergerak ke tujuh belas tahun dari kumandang sumpah pemuda, sekelompok pemuda lain menciptakan sejarah yang tak kalah hebat. Letupan riak darah muda yang mengalir pada tubuh seorang Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana ternyata mampu memaksa mereka berbuat “nekad” menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk mendesak agar segera diproklamirkan pernyataan kemerdekaan. Tak dapat digambarkan pula bagaimana perasaan seorang Latief Hendraningrat dan Soehoed saat mengibarkan Sang Saka Merah Putih dengan iringan Indonesia Raya serta pekikan merdeka di hari tujuh belas bulan delapan tahun 05 berdasarkan perhitungan tahun jepang saat itu.

Mei 1998, rakyat Indonesia mengenal kata “reformasi” sebagai sebuah diksi yang sepadan pentingnya dengan nasi. Lagi-lagi anak muda yang unjuk gigi. Sejarah mencatat ratusan ribu generasi muda  turun ke jalan menuntut sebuah perubahan. Pemerintahan Soeharto yang berjalan lebih dari tiga dasawarsa itu memasuki buritannya. Aspal jalanan mendidih berbenturan dengan gemuruh semangat. Pekik reformasi menggerung di jalanan ibukota, menggelora hingga ke pelosok-pelosok daerah. Desakan itu sangat kuat hingga akhirnya “the old man most probably has resigned”[i].
Read more ...

Bupati Vs DPRD : Praktek Pola Komunikasi Politik Childist


 Komunikasi pimpinan daerah (eksekutif) dan legislatif yang menyisakan konflik memang bukan sebuah hal yang baru di negara kita. Hal ini telah berlangsung lama, dan mungkin tak salah pula ketika dalam salah satu pengamatannya, Ali Moertopo pernah menyimpulkan bahwa : “..dikebanyakan lembaga sosio-politik, orang-orang yang bertanggungjawab mempunyai tugas untuk berkomunikasi dengan pemerintah dalam mentransfer kehendak rakyat, lambat laun lebih banyak mengidentifikasikan dirinya dengan pemerintah dan akhirnya menjadi kelompok marginal yang hanya mementingkan dirinya sendiri”.

Mungkin seperti itu pula gambaran yang sedang terjadi di Kabupaten Banyumas dengan drama yang sedang diputar beberapa waktu belakangan. Beberapa konflik dramatik yang sedang hangat yaitu mengenai dana banpol serta penangguhan pencairan dana representasi (gaji). Entah kenapa, konfliknya seputar masalah “uang”. Para pemegang aspirasi rakyat itu terlihat kekeuh untuk meributkan masalah dana. Banpol PDIP yang tak bisa dianggarkan membuat para kader partai berlambang moncong putih itu geram. Sementara itu keributan lain juga terjadi karena adanya penangguhan gaji DPRD bulan September. Keributan-keributan itu hingga mengundang pemprov untuk mengadakan mediasi, meredamkan api konflik diantara bupati sebagai lembaga eksekutif dan pimpinan dewan sebagai lembaga legislatif.
Read more ...

Letters To God

Mereka adalah yang telah dipilih Tuhan untuk menjadi pejuang. Mereka yang hatinya telah terpilih. Mereka yang tetap memperjuangkan kehidupan orang lain walaupun hanya melalui doa.

Doa adalah prosa yang paling indah. Setidaknya itu yang akan kita ungkapkan apabila mengetahui bait doa-doa yang tiap orang sebutkan. Dan tiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengungkapkan doanya. Dalam pemahaman seorang anak usia 13 tahun, doanya akan bekerja ketika ia menuliskannya dalam sebuah surat.

Tyler, itu nama anak muda tersebut. Tyler lah yang kerap kali membuat tukang pos menjadi bingung karena menuliskan surat dengan alamat tujuan , to: God, kepada Tuhan. Kemana kita akan menyampaikan surat beralamatkan Tuhan? Setidaknya itu yang menjadi kebingungan bagi Barry, seorang tukang pos muda yang baru saja keluar dari penjara dan juga sedang memiliki masalah besar dengan anak dan istrinya.

Sementara Maddy, ibunda Tyler, adalah sosok wanita yang tangguh. Setelah ditinggal mati suaminya, ia harus mengasuh dua putranya plus dengan kondisi Tyler-si bungsu yang “hampir sekarat” karena penyakir kanker otak yang diidapnya. Seorang supermom yang untungnya juga memiliki seorang supermom juga. Nenek Tyler adalah sosok nenek dan ibu yang selalu siap turun tangan untuk membantu keperluan anak dan cucu-cucunya.

Read more ...

Untitled

Terkadang, aku berfikir bahwa manusia bisa lebih bodoh daripada sebuah kacamata. Ya, kacamata, alat bantu melihat yang salah satu produknya sedang aku gunakan saat ini. Sepasang lensa yang terekat oleh nylon dan kontruksi bingkai setengah. Belum lama kukenakan kacamata ini, sekitar 1,5 tahun yang lalu. Alat bantu yang awalnya sering membuat mata terasa pegal. Kalau tak ingat peristiwa kecelakaan motor di akhir tahun 2009 lalu, mungkin aku masih enggan untuk membiarkan sepasang lensa ini nangkring menyamarkan garis kelopak mataku yang konon katanya mirip dengan almarhum ayah. Selain karena masih merasa sayang membuang uang untuk contact lens, gangguan pada retina membuat aku terpaksa memasrahkan diri untuk berbagi fungsi penglihatan dengan kacamata ini.

Dengan perkembangan kreatifitas yang luar biasa di dunia industri kacamata, kini keberadaannya juga bukan sekedar berfungsi sebagai alat bantu penglihatan saja tetapi juga bagian dari trend fashion. Modelnya sekarang beraneka ragam, ada yang bingkai penuh,bingkai setengah dari yang model nylon cord frame dengan pengunci sampai ballgri mounting yang dengan baut. Ada pula yang konstruksi tanpa bingkai dengan variasi rimless mounting  yang lensanya ditahan dengan baut di bagian nasal dan temporal, dan ada juga phantom yang rangkaiannya merupakan satu unit yang tidak terpisah.

Sama halnya dengan kacamata, walaupun bukan sebuah alat, manusia juga memiliki fungsi. Saya teringat sebuah obrolan ringan dengan seorang teman beberapa hari yang lalu. Kita saling menukar kata dan frasa mengurai beberapa kesah pekerjaan masing-masing. Tanpa canggung ia berkisah beberapa partner kerjanya lebih cenderung untuk melakukan tugas daripada fungsinya. Mereka bertugas dengan baik tetapi ternyata belum berfungsi dengan optimal. Misalnya beberapa petugas yang bekerja setiap ada komando saja, jadi seperti robot yang didikte untuk melakukan tugas A,B,C, dan seterusnya. Ketika tugas A selesai maka ia menunggu diberi tugas B.
Read more ...

Mengunduh Makna yang Terlahir Dari Detak Anak Arloji


Sejatinya hidup ini adalah kumpulan cerita yang terjalin satu sama lain. Cerita yang ketika mampu menyerap maknanya akan menjadi sebuah pelajaran berharga yang tak ternilai harganya. Kadang cerita itu dibiarkan berlalu begitu saja, seperti kita berkendara dan membiarkan semua itu terlaju. Tak semua orang pula mau dan mampu merefleksikan tiap bait cerita kehidupan yang terlewati.

Membaca cerpen-cerpen Kurnia Effendi dalam Anak Arloji, seperti kita membaca fenomena kehidupan. Konflik yang sebenarnya ada di sekitar kita. Konfik yang dihadirkan tidak terlalu anomali. Namun di tangan Kef  - panggilan Kurnia Effendi- semua kisah sederhana tersebut terkemas indah. Kekuatan diksi yang kuat membuat pembaca enggan untuk memberi jeda saat membaca kisah-kisah yang tersaji.

Salah satu kisah sederhana yang terkemas dengan apik itu adalah pada cerpen “Pertaruhan”. Kisah dua pemuda yang gemar bertaruh untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa, seperti minum kopi dengan campuran arsenik hingga bertaruh nyawa di rel kereta api. Kisah ini nampak biasa dan memang akan terasa biasa saja apabila bukan Kef yang membawakannya. Seperti juga pada cerpen “ La Tifa” , kisah seorang gadis yang meratapi keluguannya pada seorang laki-laki paruh baya dan memutuskan untuk merubah nama dari “Latifa” menjadi “La Tifa”. Dengan sangat anggun, Kef mengantarkan pembaca pada kisah tentang sebuah pencarian jatidiri. Latifa tidak menemukan latifa pada dirinya, ia merasa malu, kotor, jijik, dan marah pada diri sendiri. Sebuah nama menunjukan sebuah identitas diri, maka tidak match ketika nama yang bagus melekat pada orang yang telah melakukan perbuatan yang dirasa hina. Pesan ini disampaikan oleh Kef dalam cerpennya dengan siratan bukan suratan. Suratan yang tertera pada cerpen ini sekedar alur kisah yang mengalir mendayu. Namun Kef mampu menaruh pesan itu dengan sangat apik ibarat meletakkan sebuah batu zamrud dalam kotak perhiasan. Dari ukiran kotak perhiasannya pun dapat dikira betapa mulianya sesuatu yang tersimpan di dalamnya. Dan Kef memang pengukir kisah yang piawai.
Read more ...
Sunday, July 10, 2011

Beres-Beres

Lagi pengen menata lagi  blog yang mungkin udah agak lama gak ditengok. Sekaligus lagi ngerjain satu blog lagi yang isinya sebenarnya buat memindahkan file-file resensi buku dan film yang ada di laptop.hehe.

Kenapa milih template baru ini?? gak ada alasan pasti. pas lagi browsing, trus nemu..suka ya udah pake. gak mau ribet-ribet lagi urusan template..usahain sesimple mungkin. tapi gambar di header emang kadang-kadang suka nggak muncul?? entahlah..lagi males ngutak-atik.

Selamat menikmati..mari berbagi..^_^
Read more ...

Pembenahan Perpusda Untuk Tegal Cerdas 2011




Kecerdasan mungkin identik dengan nilai kognitif atau point IQ seseorang. Kurang disadari bahwa cerdas sebenarnya adalah sebuah budaya, bukan sekedar diukur dari nilai atau prestasi-prestasi yang diraih. Penciptaan lingkungan yang mampu menstimulasi adanya budaya masyarakat yang cerdas, itulah yang perlu dilakukan ketika pemerintah kota Tegal mencanangkan tema “Tegal Cerdas 2011”.

Tentu saja mewujudkan masyarakat cerdas harus disokong dengan proses pendidikan yang berkualitas.Program pendidikan yang dicanangkan bukan semata jenjang sekolah formal saja melainkan bagaimana masyarakat mampu mengembangkan diri melalui kekayaan literasi yang dimiliki. Dengan menyediakan informasi, masyarakat dapat memberitahukan kepada diri mereka sendiri tanpa suatu paksaan tentang berbagai isu muktahir. Masyarakat dapat memberdayakan diri mereka sendiri dengan mendapatkan berbagai informasi yang sesuai tugas atau pekerjaan masing-masing. Aktivitas ini dapat terfasilitasi dengan adanya perpustakaan. Tentu saja perpustakaan dengan pengelolaan yang baik. Dengan kata lain, melalui perpustakaan diharapkan akan terbentuk statu masyarakat yang terinformasi dengan baik, berkualitas, dan demokratis. Pentingnya peran  perpustakaan ini, maka tak berlebihan jika dapat disebut sebagai centre of learning dalam dunia pendidikan.

Perpustakaan Daerah Tegal memiliki gedung yang cukup besar dan masih baru setelah pindah dari tempatnya yang lama. Menempati gedung baru berlantai dua di daerah Mangkukusuman, gedung perpustakaan yang digabung dengan  kantor arsip tersebut cukup mudah dijangkau oleh masyarakat terutama pelajar. Melihat perpustakaan, kita akan melihat harapan bahwa banyak anak muda yang memiliki semangat belajar tinggi berkumpul disana. Tetapi nampaknya keberadaan perpustakaan tidak terasa di masyarakat. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini.

Read more ...

Memaknai Spirit Perdamaian Pada Persaudaraan Tarekat Indonesia – Maroko





Tak sedikit yang memungkiri bahwa ketika mendengar kata “sufi” maka akan terasosiasikan dengan beberapa hal yang berbau kearab-araban. Mungkin kita akan membayangkan padang pasir, orang-orang berjubah, berjenggot, naik unta, dan lain sebagainya. Sufi, sufisme, tasawuf, tarekat memang belum mampu menjadi semacam trend yang diakui global oleh masyarakat. Sufi memang kadang menyiratkan sebuah kemisteriusan, karena mungkin sufi adalah sebuah jalan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, sufi bagi para penganutnya adalah sebuah jalan yang memberikan ruang privasi seluas-luasnya dan sedekat-dekatnya dengan Tuhan.

Tasawuf merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari cara seseorang berada sedekat mungkin dengan Allah swt. Kaum orientaalis Barat, menyebutnya sufisme, dan bagimeraka kata sufisme khusus untuk mistisme dalam Islam. Thariqat berarti jalan raya (road) atau jalan kecil (gang, path). Kata thariqat secara bahasa dapat juga berarti metode, yaitu cara yang khusus mencapai tujuan. Secara terminologi, istilah kata thariqat berarti jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Kemudian digunakan untuk menunjuk suatau metode psikologi moral untuk membimbing seseorang mengenal Tuhan. [1]

Read more ...

Huruf 'ain Untuk Seli

(ini postingan lama, tapi belum kupost di blog, karena dalam beberapa minggu kedepan kayaknya mo ketemu Seli dkk, jadi inget note ini jd kurepost di blog.., )^_^

Dea, tata, dan Seli adalah adik-adik baru saya selama kurang lebih dua pekan ini. Dea seorang gadis manis yang sudah duduk di bangku kelas dua SD, sedangkan tata-adik dea- masih bermain di TK “nol kecil”. Selly lebih senior dibanding keduanya, karena dia sudah duduk di bangku kelas lima SD. Bersama ghafra, rafi, dan Sukma, mereka semua adalah adik-adik yang kebetulan saya ajar privat mengaji Al-Quran. Diantara mereka semua, tentu saja Selly yang sudah ada di tingkatan lanjut (sudah Iqra 2). Pertemuan terakhir kemarin cukup memakan waktu lama, karena saya baru mendengar bacaan sally pada rangkaian huruf hijaiyah yang mengandung huruf “’ain”.

Dalam dialek Banyumas, bunyi ‘a lebih familiar dilafalkan dengan bunyi “nga”. Jadi yang akan kita dengarkan bukan ‘a, tapi “nga”. Bukan surat “Al-‘ala” tapi “Al-ngala”. Bukan “Waalaikumsalam” tapi “Ngalaikumsalam”. kata "alamin" jadi berbunyi "ngalamin" . Sebenarnya ini bukan hal baru yang kita dengar. Dalam konteks dialek lain, kita akan mendengar potongan lafadz istighfar menjadi berbunyi “astaghfirullahaladjim”, atau kadang-kadang kita juga mendengar lafadz takbir terdengar “Allahu-ekbar”. Serta banyak contoh-contoh lain yang terjadi dalam masyarakat sekitar kita.

Read more ...

Benah Rumah Sehati : Pendar Senyum di Hati pak Faqih

“Terima Kasih ya mas, semoga bisa bermanfaat …..”

Itulah sebuah kalimat tulus nan merendah yang terucap dari seorang Abdul Faqih setelah rumahnya berhasil dibenahi oleh LAZIS MAFAZA. Pria Paruh Baya asal Ponorogo ini memiliki aktivitas keseharian mengajar ngaji di rumahnya di Desa Baseh Kecamatan Kedung Banteng. Tadinya Faqih sering dipusingkan dengan masalah atap rumahnya yang sering bocor, atau tiang penyangga rumahnya yang sudah mulai lapuk. Rumah yang sudah “tua” itu disana-sini mulai terlihat butuh diperbaiki, sekedar untuk melengkapi syarat sebuah rumah untuk berlindung dari hujan dan panas. Kendala pun hadir, bahwa untuk memperbaiki rumahnya itu tentunya butuh dana yang tidak sedikit.

Selain mengajar ngaji, pak Faqih bekerja serabutan. Beliau bekerja ketika ada tetangga yang memintanya membantu membangun rumah sebagai buruh bangunan, atau ketika musim tanam padi tiba saat tetangganya meminta beliau menjadi buruh taman padi. Dengan penghasilan rata-rata tidak lebih dari Rp. 30.000,- menjadi sulit bagi nya untuk memikirkan membangun rumah yang besar alias rumah“gedong”.Dengan doa serta ketulusan para muzzaki yang menyalurkan hartanya melalui LAZIS MAFAZA, Alhamdulillah rumahnya kini telah nampak jauh lebih baik dan tertata plus sebuah bonus Al Qur’an baru yang cantik dan menawan. Dengan bijak beliau berharap bahwa perubahan yang ada pada rumahnya ini semoga meningkatkan semangat belajar anak didiknya yang beliau bina. Terbayang saat beliau harus mengajar dengan hanya mengandalkan penerangan lampu 5 watt di ruang tengah rumahnya. Tanpa mengeluh atau merasa bosan beliau mengajari anak-anak disetiap Ba’da Maghrib hingga adzan Isya berkumandang. Kesibukan beliau di dasari niat yang kuat danpeduli pada pentingnya pembinaan kepada anak-anak sebagai bekal mereka sebelum menjadi dewasa dan terjun ke masyarakat. Bekal ilmu di TPA yang beliau ajarkan merupakan titik awal lahirnya orang-orang hebat disekitar kita.
Read more ...
Tuesday, May 31, 2011

Melirik Slawi di Era Digitalisasi

Masih cukup hangat di telinga kita, fragmen yang (dianggap) memalukan saat kunjungan anggota dewan ke negeri Kanguru, Australia tempo hari. Masalah yang mungkin terlihat sepele, yaitu urusan alamat email (electronic mail) atau surel (surat elektronik). Sebagai sebuah lembaga publik, sudah semestinya memiliki ruang-ruang untuk berkomunikasi dan menerima aspirasi masyarakat. Email resmi sebuah lembaga tentunya hanya salah satu dari bentuk penerapan e-goverment. Pada dasarnya semangat yang dibawa oleh penerapan e-Goverment adalah kemudahan dan transparansi.

Bill Gates sendiri pernah menyatakan bahwa seluruh dunia kini akan memasuki era digital tahap selanjutnya dimana seluruh dunia akan terhubung satu sama lain, berinteraksi dengan perangkat melalui komunikasi dan sentuhan. Di Indonesia sendiri, terjadi kemajuan perkembangan internet, pada tahun 2007 saja penetrasi internet naik menjadi 40%, pembelian produk IT 50% dari tahun sebelumnya. Menjmurnya ISP (Internet Service Provider) menambah bursa perhelatan teknologi informasi dan digitaliasasi.

Pertanyaannya, bagaimanakah dengan Slawi? Slawi ditetapkan menjadi ibukota kabupaten Tegal sejak tahun 1984, setelah sebelumnya nunut ke Kota (madya) Tegal. Sebagai sebuah ibukota kabupaten tentunya menjadi lokasi yang “pertama dilirik” ketika berbicara tentang kabupaten Tegal. Slawi adalah corongnya kabupaten Tegal. Melalui Slawi diharapkan masyarakat luas dapat melihat gambaran/representasi kabupaten Tegal. Berkaitan dengan media dan teknologi informasi, maka perlu ditilik sejauh mana Slawi dapat tertangkap “radar digitalisasi”.

Read more ...

IMPOR BERAS DAN SISTEM KETERSEDIAAN BERAS BERKELANJUTAN YANG ADAPTIF TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

IMPOR BERAS DAN SISTEM KETERSEDIAAN BERAS BERKELANJUTAN YANG ADAPTIF TERHADAP PERUBAHAN IKLIM
Oleh : Shinta arDjahrie

Ada beberapa alasan yang cukup penting kenapa kita perlu memberi perhatian khusus kepada permasalahan perubahan iklim. Selain bahwa dampak perubahan iklim ini dapat menyampingkan hak-hak atas kebutuhan hidup manusia paling mendasar (pangan, papan, dan sandang), pengabaian terhadap proses adaptasi perubahan iklim juga akan memperlambat proses penanggulangan kemiskinin dan pencapaian pembangunan berkelanjutan . Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2001, perubahan iklim global ini sangat peka terhadap beberapa hal dalam sistem kehidupan manusia, yaitu (1) tata air dan sumberdaya air; (2) pertanian dan ketahanan pangan; (3) ekosistem darat dan air tawar; (4) wilayah pesisir dan lautan; (5) kesehatan manusia; (6) pemukiman, energi dan industri, dan pelayanan keuangan .

Berdasarkan keterangan dari LAPAN, bahwa Iklim di Indonesia menjadi lebih hangat selama abad 20. Suhu rata-rata tahunan telah meningkat sekitar 0,3 derajat Celcius sejak 1900 dengan suhu tahun 1990an merupakan dekade terhangat dalam abad ini dan tahun 1998 merupakan tahun terhangat, hampir 1 derajat Celcius di atas rata-rata tahun 1961-1990. Peningkatan kehangatan ini terjadi dalam semua musim di tahun itu. Curah hujan tahunan telah turun sebesar 2 hingga 3 persen di wilayah Indonesia di abad ini dengan pengurangan tertinggi terjadi selama perioda Desember- Februari, yang merupakan musim terbasah dalam setahun. Curah hujan di beberapa bagian di Indonesia dipengaruhi kuat oleh kejadian El Nino dan kekeringan umumnya telah terjadi selama kejadian El Nino terakhir dalam tahun 1082/1983, 1986/1987 dan 1997/1998 . Pemanasan global akan meningkatkan temperatur, memperpendek musim hujan, dan meningkatkan intensitas curah hujan. Kondisi ini dapat mengubah kondisi air dan kelembaban tanah yang akhirnya akan mempengaruhi sektor pertanian dan ketersediaan pangan. Pemanasan global juga akan menaikkan level permukaan air laut, sehingga menggenangi daerah pesisir produktif yang sekarang digunakan sebagai lahan pertanian. Setiap usaha tani, termasuk padi, memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap cuaca dan iklim. Ketergantungan tersebut menghasilkan irama tanam dan panen yang tidak berubah dari tahun ke tahun. Produksi beras utama dihasilkan pada empat bulan panen raya (Februari-Mei) , yang mencapai 60-65 persen dari total produksi nasional. Produksi berikutnya dihasilkan pada musim panen gadu pertama (Juni-September) dengan produksi 25-30 persen. Sisanya dihasilkan pada musim panen Oktober-Januari .


Read more ...
Sunday, May 01, 2011

Kisah Mei (tentang cinta dan kefanaan)

Bahkan hujan pun akan berhenti ketika di bulan Mei. Rancu juga kalau saya menjadi sedikit memuji perubahan iklim yang membuatku merasa berterimakasih atas beberapa hujan yang “nimbrung” di bulan Mei. Setidaknya aku merasa bahwa hujan di hatiku juga tidak sendiri.

Entah kenapa, selalu ada kisah di bulan Mei. Selain bahwa ini adalah bulan dimana dua puluh empat tahun yang lalu aku pertamakali merasakan kefanaan dunia, kini aku baru menyadari segala “hujan bermakna” di bulan Mei.

Kisah yang membuatku merefleksikan setiap Mei adalah rangkaian kisah di tahun lalu. Namun, itu semua membuatku ingin mengumpulkan semua 24 bulan Mei yang pernah aku lewati.

Adalah Mei 2009, yang beberapa hari sebelum masuk, aku sedang menjalani acara tahunan sebuah forum, tempat dimana aku mendapatkan kesempatan untuk bersilaturahmi dan berbagi inspirasi dengan pemuda-pemuda dari penjuru bangsa. Acara tahunan yang selalu menorehkan kesan berarti di setiap peserta dan panitianya. Saya mengumpamakan sebagai ajang untuk merecharge semangat. Sebutlah itu sebagai forum Indonesia Muda. Di salah satu hari dimana saya bertugas sebagai panitia saat itu, ada kantuk yang sangat mendera, dan tak ayal saya tertidur disaat semua sedang sibuk. Di kamar nomor 4 wisma pelatih. Kenapa saya harus mengingat kantuk dan tidur itu? Karena saat tertidur itu saya merasa mendapat mimpi yang tak bisa saya lupakan dan menjadi bertanya-tanya, cemas, dan kecemasan itu terjawab sekitar satu minggu sesudahnya.


Read more ...
Tuesday, April 05, 2011

Menjaring Keterlibatan Masyarakat Melalui Optimalisasi Media Jejaring Sosial untuk Menciptakan Perpustakaan Nasional yang Dinamis

*juara harapan 2 LKT Perpusnas 2010 kategori Dosen dan Umum



Oleh :
Shinta Ardhiyani U
158/SKT/SA/1111




Pendahuluan

Keberadaan perpustakaan nasional (perpusnas) memiliki arti penting dan korelasi positif terhadap upaya pencerdasan masyarakat. Program pendidikan yang dicanangkan bukan semata jenjang sekolah formal saja melainkan bagaimana masyarakat mampu mengembangkan diri melalui kekayaan literasi yang dimiliki. Dengan menyediakan informasi, masyarakat dapat memberitahukan kepada diri mereka sendiri tanpa suatu paksaan tentang berbagai isu muktahir. Masyarakat dapat memberdayakan diri mereka sendiri dengan mendapatkan berbagai informasi yang sesuai tugas atau pekerjaan masing-masing. Dengan kata lain, melalui perpustakaan diharapkan akan terbentuk statu masyarakat yang terinformasi dengan baik, berkualitas, dan demokratis .

Walaupun belum ada definisi resmi apa itu perpustakaan nasional, namun dari nama-nya kita akan mengetahui posisi nya sebagai penyimpan dokumentasi nasional. Selain itu, keberadaannya yang dipusat dan bersifat nasional, maka perpusnas menjadi lembaga koordinator perpustakaan-perpustakaan yang ada di daerah. Sifat nasional ini menjadi istimewa karena berkonsekuensi untuk dapat diterima masyarakat secara luas dan menasional. Namun kedudukan nasional ternyata juga memberikan kesan menara suar yang susah digapai oleh masyarakat. Tak banyak masyarakat yang mengenal perpustakaan nasional pun warga ibukota yang memiliki lokasi dekat. Hal ini perlu menjadi perhatian sendiri karena dinamika perpustakaan nasional akan tercipta ketika masyarakat melakukan banyak aktivitas bersama perpusnas. Dinamika perpustakaan adalah sebuah aktivitas literasi mandiri dari para anggota-nya. Walaupun ada inovasi jemput bola dengan agenda perpustakaan keliling, tetap saja aktivitas literasi masyarakat dilakukan secara mandiri dan butuh tingkat kesadaran yang tinggi. Tanpa membangun kesadaran literasi pada masyarakat, maka tak ayal peran perpustakaan hanya sebagai ”brankas” saja tanpa adanya dinamika.

Dalam sosialiasi perpusnas perlu adanya media yang membangun kesadaran literasi pribadi. Maka media yang diperlukan adalah yang mampu menciptakan sebuah citizen library, dimana masyarakat dapat terstimulasi untuk turut serta melakukan beberapa peranan-peranan perpustakaan. Jadi nanti perpustakaan masyarakat menjadi lembaga yang dijalankan bersama-sama dengan masyarakat. Atau dengan kata lain, keterlibatan masyarakat menjadi penggerak/dinamisator perpustakaan nasional.

Maraknya jejaring sosial di era digitalisasi dewasa ini menjadi salah satu budaya populer yang sudah menjadi salah satu bagian gaya hidup masyarakat Indonesia. Bahkan menurut sebuah riset, per Juni 2009, Facebook menduduki peringkat pertama sebagai situs yang paling sering diakses oleh masyarakat Indonesia. Fakta ini merupakan hal yang potensial dalam melakukan efektifitas dan masifitas agenda perpustakaan nasional.

Read more ...

Kidung Teladan Pak Kuding


Sudah menjadi bagian dari kisah yang termaktub dalam kitab sejarah negara kita, bahwa penjajah itu adalah orang-orang yang serakah. Bahwa kolonial adalah kaum yang sangat membuat kesal. Berabad-abad negara kita pernah betah menjadi tongkrongan para penjajah. Namun penjajahan juga lah yang membuat kita mengenal adanya para pemimpin bangsa. Para bapak bangsa yang tak terkira mulianya. Penjajahan pada sisi lain melahirkan manusia-manusia luar biasa yang bisa dijadikan sebagai teladan pembelajaran bagi kaum selanjutnya. Benar bahwa, there is no growth in comfort zone, there is no comfort in growth zone., masa-masa penjajahan yang tak nyaman kemudian melahirkan manusia-manusia yang memiliki mental tangguh yang luar biasa.

Adalah seorang pak Kuding - panggilan Syafrudin Prawiranegara-nyang sebenarnya tak akan berlebihan jika kita panggil dengan sebutan Presiden Prawiranegara. Namun, kerendahhatian serta tingginya pekerti beliau, menjadikan sebutan Presiden adalah sesuatu yang pantang untuk diterima. Pun oleh anak cucunya yang keberatan ketika nama “Presiden Prawiranegara” menjadi salah satu judul dalam sebuah novel besutan Akmal Nasery Barsal.

Sebagai novel, sebuah karya kreatif-imajinatif, itu yang coba ditegaskan oleh Akmal Nasery di awal bukunya. Kisah ini bukan ingin menjadi buku sejarah atau bahkan memberikan temuan historis baru. Adapun setting sejarah yang mengiringi tokoh Kamil Koto dalam novel ini adalah sebatas setting yang memberi penguatan pada sebentuk epik indah tentang seorang Presiden Prawiranegara saat menjadi ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia).

Agresi militer II Belanda pada 19 Desember 1948 berujung pada dijadikannya Bung Karno-Bung Hatta serta petinggi negara lainnya menjadi huissarrest (tahanan rumah). Hal ini tak kepalang menjadikan kondisi negara agak kacau. Yogyakarta telah dikuasai oleh penjajah. Beberapa petinggi bangsa yang tidak di ibukota, tetap bertekad melanjutkan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan. Hal itu yang menjadikan Pak Syaf berinisiatif untuk membentuk sebuah pemerintahan darurat, yang kemudian oleh forum beliau dimanahi menjadi ketuanya. PDRI awalnya berkedudukan di Bukittinggi, namun karena penjajah terus berusaha untuk menduduki wilayah Indonesia, PDRI pun bergerilya keluar masuk rimba, naik turun gunung di wilayah sumatra bagian barat hingga aceh, hingga akhirnya di daerah bernama Bidar Alam. Disinilah kisah berurai. Kisah yang sungguh dramatik dan membuat pembaca larut di dalamnya. Bukan sebuah kisah sejarah yang penuh diksi membosankan. Namun, dengan kepiawaian seorang Akmal Nasery Barsal menggugah jiwa pembaca dengan kisah yang indah.
Read more ...

Indonesia Sebagai Lebih Dari Sebuah Batas Negara

Apa yang terbersit di pikiran anak muda ketika mereka diberikan kata ”Indonesia” atau ”nasionalisme”? Mungkin ada yang bilang bahwa nasionalisme adalah ketika Indonesia mampu menjadi finalis dalam liga sepakbola AFF. Ada jg jawaban bahwa ketika kita bicara Indonesia adalah Bali, reog ponorogo, batik, sate padang, dan lain-lain. Lebih heroik lagi adalah ketika bicara Indonesia adalah saat kemarahan kepada orang saudi arabia yang menganiaya TKI, atau bicara nasionalisme adalah saat harus memperjuangkan Indonesia ketika terlibat konflik dengan negara jiran. Jawaban-jawaban itu tidak salah walaupun tidak seratus persen benar. Lebih dari itu, bahwa nasionalisme tidak tersempitkan melalui batas-batas negara secara fisik atau kekayaan budaya yang harus dijaga eksistensinya. Indonesia memungkinkan para generasi muda untuk bicara lebih luas, dengan prinsip-prinsip yang bukan mengungkung nasionalisme itu sendiri tetapi justru menjadi kebanggaan di dada setiap pemuda. Maka, tak heran kita akan melihat semangat nasionalisme yang luar biasa dari warga negara Indonesia yang mungkin tidak bertempattinggal di Indonesia. Mereka mampu melihat Indonesia secara lebih objektif dan luas.

Begitu pula ketika kita membaca buku dengan judul ”Notes From Qatar” (#NFQ) yang dibesut oleh Muhammad Assad. Buku yang sederhana tetapi punya efek yang luar biasa buat anak muda yang mau membacanya. Sebenarnya #NFQ ini tak lebih dari sebuah catatan harian dari Assad selama berada di Qatar. Assad adalah anak muda cemerlang yang mendapatkan kesempatan untuk belajar di negeri jiran-Malaysia, mendapat full scholarship dari petronas dan melanjutkan studi master di Qatar Faculty of Islamic Studies (QFIS), Doha, dengan beasiswa penuh dari emir Qatar, His Highness sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani.

Menyadari bahwa dirinya diberi kesempatan untuk merasakan berbagai pengalaman serta meraih berbagai prestasi, Assad berkeinginan untuk membaginya kepada orang lain. Semangat, pengalaman, curahan hati-nya rajin ia sampaikan melalui sebuah blog www.muhammadassad.wordpress.com . Kemudian dari beberapa tulisan di blog tersebut ia ajukan ke penerbit dan lahirlah sebuah buku cantik dengan judul ”Notes From Qatar”.
Read more ...

JOMBLO DALAM SEBUAH REPORTASE MERAH MUDA




Dunia kampus selalu menjadi dunia yang penuh cerita, bagi mereka yang berkuliah tentunya. Tanpa menafikan bahwa tingkat akses pendidikan tinggi di Negara kita masih terbilang rendah, kampus selalu menjadi ruang-ruang yang penuh kisah indah bagi para penghuninya. Bagi sebagian orang, kampus menjadi tembok tinggi yang membuat jarak dan penghalang bagi masyarakat di sekitarnya. Anak kuliahan dianggap anak-anak yang memiliki “kode bahasa” tertentu yang cenderung njelimet bin ribet untuk dipahami oleh masyarakat awam. Belum lagi dengan visualisasi demonstrasi yang kerap mewarnai layar kaca di rumah kita. Banyak sekali gelar yang akan disandingkan kepada para mahasiswa itu, sebagai intelektual, cendekiawan, hingga demonstran. Tak sedikit pula menyandang gelar borjuis, karena kuliah bagi beberapa kelompok mahasiswa adalah prestise, ke kampus gonta-ganti mobil, ajang mejeng fashion, belum lagi event-event yang mengatasnakaman kebersamaan dari mulai nongkrong di kantin sampai bermalam di villa, itu sudah menjadi adat tak tertulis.

Fakta itu tidak salah, walaupun juga tidak seratus persen benar. Menjadi mahasiswa adalah ”tiket masuk” untuk menggembleng potensi diri. Saat itulah seorang anak manusia tidak dianggap anak-anak lagi namun belum juga bisa dipandang sebagai orang tua. Posisi tawar seorang pemuda banyak dibangun di masa-masa mereka menjadi mahasiswa. Maka tak heran jika kita mendapati banyak jenis organisasi mahasiswa, dari yang bersifat hobi, kerohanian, hingga politik. Nah, beberapa persen dari sekian banyak jumlah mahasiswa memilih ini, lazimnya mereka disebut sebagai aktivis. Entah itu dari BEM, UKM, atau bahkan ormas ekstra kampus. Dan mereka punya dunia yang menarik hingga tak salah jika seorang Zakky Ramadhani mencoba mengangkat satu dari ribuan kisah yang ada di dunia aktivis mahasiswa.

Read more ...
Tuesday, March 15, 2011

Dari Kisah Tentang Sepotong Jendela

”Tapi kitalah masa depan, kanak-kanak yang harus menjalin airmata negeri menjadi cahaya” (Abdurahman Faiz)


Kesenjangan sosial yang didalamnya termasuk rentang perbedaan antara kaya dan miskin sudah menjadi bagian dari sketsa warna kehidupan. Ibarat kedua kutub yang membuat bumi ini menjadi padat, maka senjang status sosial itu juga membuat dinamika hidup semakin mampat. Fenomena sosial ini sudah tak asing lagi, dan mungkin bagi kita sebagai warga negara yang bertempat tinggal di bumi Indonesia dengan kemajemukan rakyatnya. Saking biasanya, kadang kita tergerus oleh keapatisan untuk menengok jurang kesenjangan itu. Bahkan mungkin dari kita sudah menganggap itu sebagai kodrat bahwa ada yang kaya dan miskin jadi tak perlu saling teringat. Cara pandang pragmatis yang biasanya menjadi salah satu fase ketika tumbuh dewasa. Semakin bertambah usia, semakin banyak permasalahan hidup yang terlihat, semakin tergoda kita untuk saling melupakan sesama, dan saat itulah sebenarnya waktu yang tepat untuk kita berterimakasih pada anak-anak.

Karena fenomena sosial itu ternyata akan memiliki bingkai lain oleh anak-anak, terutama yang belum teracuni pikirannya. Anak-anak dengan kepolosannya akan memiliki cara yang sederhana untuk melihat kehidupan yang keras ini. Seperti itulah yang mungkin terulas dalam kisah Rara dan teman-temannya di Film Rumah Tanpa Jendela.
Read more ...
Sunday, March 06, 2011

Ketika Hidup Penuh Warna, Ambillah dengan Merah Muda : La vie en Rose (Review)

Pernah merasa hidup kita selalu banyak penderitaan?atau kita pernah mengeluhkan banyak kekurangan dalam hidup kita? yang kemudian penderitaan dan atau kekurangan itu dijadikan alasan untuk kita tidak produktif berkarya? Terlalu banyak alasan terparafrasekan untuk kita enggan melangkah. Padahal, hanya perlu ada satu keyakinan bahwa kita itu semua punya peluang yang sama, tinggal bagaimana kita punya kemauan dan usaha yang gigih untuk mencapainya.

Adalah Édith Giovanna Gassion, yang lahir di Paris, Perancis hamper satu abad yang lalu. Siapa orang yang ingin dilahirkan di tempat yang bisa dibilang cukup terpencil, pada situasi perang. Dilahirkan oleh seorang penyanyi cafe, Edith kecil tidak mendapatkan perhatian yang layak. Oleh ayahnya yang seorang pemain sirkus, Edith dititipkan di rumah bordil milik neneknya. Dari kecil ia sudah terbiasa untuk menerima apapun kondisi yang dimilikinya. Kondisi kekurangan gizi bahkan sempat mengalami kebutaan saat kecil, hingga dibawa ayahnya dalam rombongan sirkus, semua dijalani Edith. Satu hal yang selalu ia ingat , yaitu saat mengalami kebutaan, ia diajak ke tempat dimana ada patung bunda Theresa. Oleh salah satu wanita PSK di rumah bordil milik neneknya, ia diajari untuk berdoa , meminta kepada bunda Theresa.

“Bunda Theresa, aku mau melihat lagi. Aku ingin bisa membaca. Aku ingin bisa berlari. Terima kasih Bunda……”

Kebutaan Edith ternyata tak berlangsung lama, ia sembuh. Sejak saat itu ia yakin dengan kekuatan doa, dan berprasangka baik bahwa jika ia berdoa pasti dikabulkan dan jika tidak dikabulkan pasti digantikan dengan hal lain yang lebih baik. Keyakinan itu kuat, prasangka baik kepada Tuhan selalu ditanamkannya sepanjang hidupnya. Tak terkecuali hingga di beberapa tahun kemudian saat kiprah seorang Edith tak dapat dilupakan dalam sejarah musik Perancis.

Ya, edith yang malang memiliki suara emas. Walaupun kondisinya yang memprihatinkan, Edith tak pernah mematikan mimpinya untuk bisa menjadi seorang penyanyi terkenal di Paris. Berawal dari pertunjukan jalanan, penyanyi bar, teater, ingá akhirnya masuk menjadi penyanyi kelas dunia.

Klasik. Mungkin itu yang akan terungkap oleh kita saat sekilas mengetahui isi cerita dari film ’La Vie en Rose’ . Salah satu film lama di tahun 2008 yang membawa aktris pemeran utama-nya meraih piala Oscar (Marion Cotillard). Namun film ini memang menjadi istimewa karena setting dan figur yang digunakan dalam film berdurasi sekitar 134 menit ini.

Edith yang populer dengan nama Edith Piaf adalah salah satu penyanyi terkenal yang juga menjadi lambang pop negara Perancis. Di jalur balada, Edith Piaf banyak menghasilkan lagu-lagu yang menyayat hati. Salah satu karyanya yang populer, berjudul ”La vie en Rose , lagu yang dikarang saat pendudukan Jerman di Perancis pada perang dunia II. Karya-nya ini terus melegenda bahkan hingga saat ini. La vie en Rose pernah dipilih untuk Grammy Hall of Fame Award pada 1998’. Setelah diterjemahkan dalam bahasa inggris, lagu ini pun banyak dibawakan oleh ratusan musisi, juga muncul di beberapa film popular seperti French kiss, prêt-a-porter, saving private ryan, somethings gotta give, dll.

Menilik adegan-adegan film ini , kita dibawa kedalam suasana Paris era perang dunia II. Selalu menarik melihat tayangan yang memperlihatkan begitu tingginya apresiasi masyarakat Perancis terhadap seni. Melihat alur kisah film ini memang seperti menghayati makna lagu ”la vie en rose”. Alur maju-mundur yang digunakan seperti ingin membuat kita bisa melihat satu kisah secara utuh di setiap scene-nya hingga menonton film ini seperti kita memakan sandwich yang lezat dan padat berisi.

Kembali pada hikmah yang bisa kita ambil pada kisah ini adalah , seberapa sering kita mengeluh dan hampir putus asa dikarenakan kondisi yang kadang tidak seperti kita inginkan? Karena merasa miskin jadi tidak punya mimpi, karena merasa bodoh jadi tak pernah punya harapan, karena merasa punya kekurangan jadi enggan mencoba. Come on. Seorang Edith telah mengajarkan kepada kita, bahwa setiap manusia punya peluang yang sama untuk meraih mimpi-mimpinya. Setiap manusia hanya wajib berusaha, masalah hasil dan perputaran nasib itu sudah ada yang mengatur. Ketika kita mampu untuk tetap memiliki mimpi disaat terjatuh, bukankah penderitaan itu menjadi terasa manis? Enjoy this life.

give your heart and soul to me,
:and life will always be ..
:la vie en ros
Read more ...