”Tapi kitalah masa depan, kanak-kanak yang harus menjalin airmata negeri menjadi cahaya” (Abdurahman Faiz)
Kesenjangan sosial yang didalamnya termasuk rentang perbedaan antara kaya dan miskin sudah menjadi bagian dari sketsa warna kehidupan. Ibarat kedua kutub yang membuat bumi ini menjadi padat, maka senjang status sosial itu juga membuat dinamika hidup semakin mampat. Fenomena sosial ini sudah tak asing lagi, dan mungkin bagi kita sebagai warga negara yang bertempat tinggal di bumi Indonesia dengan kemajemukan rakyatnya. Saking biasanya, kadang kita tergerus oleh keapatisan untuk menengok jurang kesenjangan itu. Bahkan mungkin dari kita sudah menganggap itu sebagai kodrat bahwa ada yang kaya dan miskin jadi tak perlu saling teringat. Cara pandang pragmatis yang biasanya menjadi salah satu fase ketika tumbuh dewasa. Semakin bertambah usia, semakin banyak permasalahan hidup yang terlihat, semakin tergoda kita untuk saling melupakan sesama, dan saat itulah sebenarnya waktu yang tepat untuk kita berterimakasih pada anak-anak.
Karena fenomena sosial itu ternyata akan memiliki bingkai lain oleh anak-anak, terutama yang belum teracuni pikirannya. Anak-anak dengan kepolosannya akan memiliki cara yang sederhana untuk melihat kehidupan yang keras ini. Seperti itulah yang mungkin terulas dalam kisah Rara dan teman-temannya di Film Rumah Tanpa Jendela.
