Kalau ada sesosok ayah yang namanya
terukir sebagai nama surat dalam Al-Qur’an, maka Luqman lah orangnya.
Lalu kalau namanya terukir karena kualitas didikannya pada anak-anaknya,
kurang apalagi bagi ayah masa kini untuk mengambil inspirasi dari gaya
mendidik Luqman Al-Hakim?
Menurut Ibnu Katsir, sosok Luqman yang diceritakan adalah Luqman
bin Anqa’ bin Sadun. Ada sebuah keterangan yang menyebutkan bahwa Luqman
adalah sosok budak Habasyah berkulit hitam. Beliau pun bukan seorang
Nabi. Abdullah bin Umar Al Khattab berkata :”Aku mendengar Rasulullah
SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku berkata bahwa Luqman bukanlah seorang
nabi, tetapi seorang hamba yang dilindungi Tuhan, banyak bertafakur dan
baik keyakinannya. Ia mencintai Allah dan Allah pun mencintainya. Karena
itu ia dianugerahi hikmah kebijaksanaan.” (Mutafaq ‘Alaih). Sungguh pun
begitu, ia mendapat gelar "Al-Hakim" karena kebijaksanaannya. Dan Allah
swt sendiri yang mengatakan bahwa Luqman telah dianugerahi hikmah. "Dan
sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu:
"Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada
Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan
barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi
Maha Terpuji"". (QS Luqman : 12)
Friday, January 13, 2012
Warung Penyetan
Thursday, January 12, 2012
Belajar Dari Ternak
(ternak = anter anak.red)
Pagi tadi, seusai olahraga pagi, saya dimintai
tolong untuk mengantar Sofi dan Sayyid ke sekolah. Kebetulan kalau ustadz Sofwan
sedang keluar kota, saya memang sering dimintai tolong untuk itu. Bagi saya, aktivitas-aktivitas
seperti ini punya kesan tersendiri. Mengantarkan anak ke sekolah. Tentu kalo
sekarang bukan anak saya sendiri. hehe. Selain hal teknis seperti harus
memboncengkan dua anak kecil dan tidak bisa ngebut.. :D , yang menarik bagi
saya adalah ketika sudah sampai di sekolah. Saya bukan petugas antar jemput,
jadi memang kewajiban saya bukan sekedar untuk mengantarkan anak sampai
sekolah. Dik Sofi dan Sayyid (nuna) sudah seperti keluarga saya sendiri di
Purwokerto ini, maka yang saya rasakan adalah saya harus benar-benar
“mengantar” kedua adik tersebut. Selain menjaga keselamatan hingga sekolah,
juga ketika sudah sampai di sekolah, sebaiknya jangan langsung ditinggal.
Minimal kita benar-benar melihat si kecil sudah bertemu dengan guru yang akan
menjadi orang tua sementara mereka di sekolah. Saya perlu benar-benar tahu
bahwa Shofi ketika sudah sampai di TK Al-Irsyad, ia siap untuk belajar bersama
teman-temannya, masuk ke sekolah dengan riang, dan guru-gurunya juga siap untuk
menjadi orangtuanya selama beberapa jam kedepannya. Begitu juga dengan Nuna
yang masih bersekolah di Paud, kalau ini saya perlu mengantarkan benar-benar
sampai ruang kelas dan bertemu dengan guru-gurunya.
Aktivitas seperti ini membuat saya berpikir
tentang peran orangtua dan sekolah. Pendidikan bagi anak-anak paling utama
adalah di keluarga. Tidak berlebihan jika seorang ibu disebut sebagai madrasah
pertama bagi anak-anaknya. Maka, institusi pendidikan seperti sekolah sebenarnya
hanya bersifat membantu penyelenggaraan pendidikan secara formal diluar rumah,
untuk membantu anak belajar bersosialisasi. Tanggungjawab ortu bukanlah
menyekolahkan anak-anaknya, tapi memastikan bahwa anak-anaknya mendapat
pendidikan yang tepat, salah satunya dapat berupa bentuk mempercayakan sekolah
sebagai “partner” pendidikan. Dari mulai memilih sekolah hingga mereview
aktivitas anak-anak di sekolah, merupakan bagian dari tanggungjawab ortu. Seperti
setiap mengantarkan anak ke sekolah, itu adalah moment berharga bagi ortu untuk
bisa meyakinkan putra-putrinya bahwa mereka masih dalam pengawasan ortu.
Kecuali ada kendala teknis, mengantar / melepas anak ke sekolah haruslah
menjadi waktu berharga seperti seorang ayah melepas anak gadisnya untuk
dipinang. *halah, rada lebai yak*. Kalau saya punya anak dan nantinya harus
sekolah diluar rumah (saya tentunya juga bisa nanti punya pilihan untuk homeschooling) , atau kalau sekolahnya terpaksa
harus di lokasi yang jauh dari rumah, saya akan berusaha selalu standby untuk mengantarnya.
Thursday, January 05, 2012
#SenjaGalau :D
Senja ini aku masyuk berblogging ria. Dan aku larut dengan
kisah-kisah teman-teman yang berprofesi di jurnalistik radio. Whuaaaaaaaa..
papa, aku pengen kerja di ABC (itu nama stasiun radio ya bukan kecap!! :p),
atau di VOA, atau KBR deh kalo yang local. Tapi.., benarkah aku masih menyimpan
segala mimpi itu? Mimpi untuk terbang, berkelana, berpetualang. Bukankah minggu-minggu
kemarin sudah bertekad untuk menunda semua mimpi-mimpi itu? Bukankah seorang
Shinta punya janji untuk benar-benar memperbaiki diri sendiri dulu, melakukan
banyak hal untuk kakak, adik dan keluarga??. Bukannya pengen married dulu trus
baru nerusin cita-cita??...
Ya..ya..ya.., aq pun tak lupa dengan janji itu. Aq cuma lagi
mupeng aja.huhuhu. L
#senja galau
#senja galau
Tuesday, January 03, 2012
RHINOS SR
(tulisan ini sebenarnya pengen ngupas tentang obat
jenis SR, tapi didahului sama curhatan dulu, jadi yang baca sabar ya..hehe)
Tiga hari kebelakang, saya terkena flu (lagi). Yeah, sebenarnya sih sudah bisa
diduga akan terjangkiti virus itu kembali karena hari-hari sebelumnya kondisi
daya tahan tubuh memang menurun. Dua-tiga pekan terakhir adalah hari-hari yang
sering membawa saya kepada kondisi underpressure. Apalagi di satu pekan
terakhir, semua meminta cepat, semua meminta tepat. Sementara tangan saya hanya
dua. Partner kerja yang ada hanyalah sebatas kerja teknis, tak mampu untuk
diajak melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan konsep/ide. Padahal pekerjaan
yang ada membutuhkan banyak ide kreatif. Sangat sangat membuat stress. Apalagi itu
akhir bulan, masa dimana pundi-pundi rupiah juga dalam kondisi sekarat. Akhirnya hari Kamis, grastitis alias maag saya
kambuh. Sakitnya minta ampun. Ulu hati kayak ditusuk pake pisau tajam, perut
mual, kembung, kaki terasa pegal, dan kepala pusing. Padahal waktu itu juga
lagi shaum. Dalam kondisi seperti itu, saya harus siaran malam, karena ada
program khusus yang menghadirkan tamu dari luarkota. Kalau maag hebat, makanan
tidak bisa langsung masuk. Beberapa kali makanan malah saya muntahkan. Baru pada
hari Jumat siang, bisa makan normal. Itu juga langsung beraktivitas seperti biasa,
dan waktu itu kalau nggak salah, saya sempat terkena kipas angin yang lumayan kenceng, karena saya punya alergi ya udah langsung deh kena flu.
Monday, January 02, 2012
[repost] Sekolah tanpa Komputer bagi Anak Petinggi Silicon Valley: Keseimbangan dalam Domain Utama Pendidikan
"Silicon Valley
terkenal sebagai tempat berkumpulnya perusahaan-perusahaan teknologi dunia.
Namun, para petinggi perusahaan-perusahaan di Silicon Valley
justru menyekolahkan anak mereka di sekolah yang tidak memiliki komputer sama
sekali di Waldorf School of The Peninsula ".
Itu adalah sepenggal paragraf dalam
media online (Kompas.com, 2 November 2011 )
yang saya peroleh dari perbincangan dalam milist mengenai pendidikan yang lebih
disukai yang justru menghindarkan anaknya dari sekolah yang berbau komputer.
Tampaknya memang aneh, di mana sekarang adalah era digital, justru di negara
maju, para petinggi perusahaan tekonologi tersebut malah mengarahkan anaknya
untuk bersekolah yang bernuansa sebaliknya.
No pain No gain..Begitulah sederhananya melihat bagaimana usaha orang tua
mendidik anak-anaknya untuk mengejar cita-cita(ortu)nya serta pengorbanan anak
dalam mengikutinya. Saya pribadi merasa sangat ngeri melihat pola belajar anak sekarang (di
Indonesia) yang belajar dari pagi sampai sore bahkan malam. Belum lagi melihat
anak kecil dengan tubuh mungilnya namun harus terbebani membawa tasnya dengan
berbagai macam buku yang digunakan untuk sekolah, les mata pelajaran, les
tambahan, belum lagi les-lesnya. Lantas kalau dipikir lebih dalam, kapan
waktunya mereka untuk bersosialisasi dengan tetangganya, saudaranya, atau
komunitas masyarakat lainnya. Seolah-olah tiada waktu kecuali digunakan untuk
belajar terlebih sekarang sepertinya suatu kewajiban bagi anak untuk menambah
jadwalnya mengikuti lembaga bimbingan belajar. Kalau mau jujur ini sebenarnya
peningkatan budaya belajar atau menurunnnya kualitas pembelajaran di sekolah
formal ketika LBB bermunculan bahkan mengalahkan upaya yang dilakukan oleh
tenaga pengajar di sekolahnya sendiri. Hemhhhhh
Saat Pulang
Kenangan itu tiba-tiba datang,
Tepat sepersepuluh detik setelah kujejakkan
kaki di kota kecil ini,
Tarian bayanganmu dengan cipratan gerimis yang
meningkahi
Hingga aku tak kuasa untuk bicara panjang.
Kuiyakan saja tawaran pria separuh baya dengan
becaknya
Aq sudah tak sanggup berpikir banyak.
Semua cukup menyentak di malam yang sepertinya
penuh dengan ketidakwarasan.
Saturday, November 12, 2011
Belum Bisa Berpuisi (lagi)
“maafkan aku yang belum pernah mampu meneladani nilai kepatuhan seorang Ismail a.s kepada ayahandanya Ibrahim a.s”
Antara aku dan puisi, pernah ada sebuah simpul yang coba kurekat. Sependek kalimat, aku (pernah) jatuh cinta pada puisi.
Berpuisi membuatku meluapkan segala ekspresi namun tetap terbungkus dengan rahasia rajutan kata. Semua lepas tapi tak terhempas. Semua keluar namun tak bingar.
Namun aku memang bukanlah orang yang puitis. Justru itu. Justru ketika aku kadang ada di titik jenuh atas segala rasionalisasi bahasa aktualisasi. Aku ingin bersembunyi dalam puisi-puisi ku yang sangat sederhana. Disaat aku kesepian dimasa kecil dulu, kupaksa meninabobokan diri dengan beberapa rangkaian kata. Setiap aksara seolah membelai dan menyimpan setiap gumaman rahasiaku. Aku nyaman dalam pelukannya.
Namun, menyukai dunia teater dan puisi ternyata adalah sebuah “episode sulit” antara aku dan ayah, lelakiku yang hebat itu.
Saatnya Menggugah Titik Jenuh
Menilik sejenak 83
tahun yang telah lalu, di bulan yang sama dengan saat ini (Oktober.red) , tak
kurang dari hitungan jari , sekelompok anak muda pernah tergugah dan berhasil
menciptakan sejarah. Rangkaian frasa yang mereka kumandangkan pada Kongres
Pemuda II ternyata menjadi sebuah inspirasi yang tak pernah mati bagi bangsa
ini. Saat itu Muhammad Yamin cukup bernas menyampaikan arti dan hubungan
persatuan dengan pemuda. Ia berkata bahwa ada lima faktor yang bisa memperkuat
persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum, adat, pendidikan, dan
kemauan. Hingga pada penutup rapat berkumandanglah secarik deklarasi yang dikenal
sebagai sumpah pemuda . Paduan kumandang sumpah itu memiliki notasi semangat
yang alunannya bahkan menjadi trade mark
semangat bagi generasi muda Indonesia hingga kini.
Bergerak ke tujuh
belas tahun dari kumandang sumpah pemuda, sekelompok pemuda lain menciptakan
sejarah yang tak kalah hebat. Letupan riak darah muda yang mengalir pada tubuh
seorang Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana ternyata mampu memaksa mereka berbuat
“nekad” menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk mendesak agar
segera diproklamirkan pernyataan kemerdekaan. Tak dapat digambarkan pula
bagaimana perasaan seorang Latief Hendraningrat dan Soehoed saat mengibarkan
Sang Saka Merah Putih dengan iringan Indonesia Raya serta pekikan merdeka di
hari tujuh belas bulan delapan tahun 05 berdasarkan perhitungan tahun jepang saat
itu.
Mei 1998, rakyat Indonesia
mengenal kata “reformasi” sebagai sebuah diksi yang sepadan pentingnya dengan
nasi. Lagi-lagi anak muda yang unjuk gigi. Sejarah mencatat ratusan ribu
generasi muda turun ke jalan menuntut
sebuah perubahan. Pemerintahan Soeharto yang berjalan lebih dari tiga dasawarsa
itu memasuki buritannya. Aspal jalanan mendidih berbenturan dengan gemuruh
semangat. Pekik reformasi menggerung di jalanan ibukota, menggelora hingga ke pelosok-pelosok
daerah. Desakan itu sangat kuat hingga akhirnya “the old man most probably has resigned”[i].
Bupati Vs DPRD : Praktek Pola Komunikasi Politik Childist
Mungkin seperti itu
pula gambaran yang sedang terjadi di Kabupaten Banyumas dengan drama yang
sedang diputar beberapa waktu belakangan. Beberapa konflik dramatik yang sedang
hangat yaitu mengenai dana banpol serta penangguhan pencairan dana representasi
(gaji). Entah kenapa, konfliknya seputar masalah “uang”. Para pemegang aspirasi
rakyat itu terlihat kekeuh untuk
meributkan masalah dana. Banpol PDIP yang tak bisa dianggarkan membuat para
kader partai berlambang moncong putih itu geram. Sementara itu keributan lain
juga terjadi karena adanya penangguhan gaji DPRD bulan September.
Keributan-keributan itu hingga mengundang pemprov untuk mengadakan mediasi,
meredamkan api konflik diantara bupati sebagai lembaga eksekutif dan pimpinan
dewan sebagai lembaga legislatif.
Letters To God
Mereka adalah yang telah dipilih Tuhan untuk
menjadi pejuang. Mereka yang hatinya telah terpilih. Mereka yang tetap
memperjuangkan kehidupan orang lain walaupun hanya melalui doa.
Doa adalah prosa yang paling indah. Setidaknya
itu yang akan kita ungkapkan apabila mengetahui bait doa-doa yang tiap orang
sebutkan. Dan tiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengungkapkan
doanya. Dalam pemahaman seorang anak usia 13 tahun, doanya akan bekerja ketika
ia menuliskannya dalam sebuah surat.
Tyler, itu nama anak muda tersebut. Tyler lah
yang kerap kali membuat tukang pos menjadi bingung karena menuliskan surat
dengan alamat tujuan , to: God, kepada Tuhan. Kemana kita akan menyampaikan
surat beralamatkan Tuhan? Setidaknya itu yang menjadi kebingungan bagi Barry,
seorang tukang pos muda yang baru saja keluar dari penjara dan juga sedang
memiliki masalah besar dengan anak dan istrinya.
Sementara Maddy, ibunda Tyler, adalah sosok
wanita yang tangguh. Setelah ditinggal mati suaminya, ia harus mengasuh dua
putranya plus dengan kondisi Tyler-si bungsu yang “hampir sekarat” karena
penyakir kanker otak yang diidapnya. Seorang supermom yang untungnya juga
memiliki seorang supermom juga. Nenek Tyler adalah sosok nenek dan ibu yang
selalu siap turun tangan untuk membantu keperluan anak dan cucu-cucunya.
Untitled
Terkadang, aku
berfikir bahwa manusia bisa lebih bodoh daripada sebuah kacamata. Ya, kacamata,
alat bantu melihat yang salah satu produknya sedang aku gunakan saat ini.
Sepasang lensa yang terekat oleh nylon dan kontruksi bingkai setengah. Belum
lama kukenakan kacamata ini, sekitar 1,5 tahun yang lalu. Alat bantu yang
awalnya sering membuat mata terasa pegal. Kalau tak ingat peristiwa kecelakaan
motor di akhir tahun 2009 lalu, mungkin aku masih enggan untuk membiarkan
sepasang lensa ini nangkring menyamarkan garis kelopak mataku yang konon
katanya mirip dengan almarhum ayah. Selain karena masih merasa sayang membuang
uang untuk contact lens, gangguan
pada retina membuat aku terpaksa memasrahkan diri untuk berbagi fungsi
penglihatan dengan kacamata ini.
Dengan perkembangan
kreatifitas yang luar biasa di dunia industri kacamata, kini keberadaannya juga
bukan sekedar berfungsi sebagai alat bantu penglihatan saja tetapi juga bagian
dari trend fashion. Modelnya sekarang
beraneka ragam, ada yang bingkai penuh,bingkai setengah dari yang model nylon cord frame dengan pengunci sampai ballgri mounting yang dengan baut. Ada
pula yang konstruksi tanpa bingkai dengan variasi rimless mounting yang
lensanya ditahan dengan baut di bagian nasal dan temporal, dan ada juga phantom yang rangkaiannya merupakan satu
unit yang tidak terpisah.
Sama halnya dengan
kacamata, walaupun bukan sebuah alat, manusia juga memiliki fungsi. Saya
teringat sebuah obrolan ringan dengan seorang teman beberapa hari yang lalu.
Kita saling menukar kata dan frasa mengurai beberapa kesah pekerjaan masing-masing.
Tanpa canggung ia berkisah beberapa partner kerjanya lebih cenderung untuk
melakukan tugas daripada fungsinya. Mereka bertugas dengan baik tetapi ternyata
belum berfungsi dengan optimal. Misalnya beberapa petugas yang bekerja setiap ada komando saja, jadi seperti robot yang
didikte untuk melakukan tugas A,B,C, dan seterusnya. Ketika tugas A selesai
maka ia menunggu diberi tugas B.
Mengunduh Makna yang Terlahir Dari Detak Anak Arloji
Sejatinya
hidup ini adalah kumpulan cerita yang terjalin satu sama lain. Cerita yang
ketika mampu menyerap maknanya akan menjadi sebuah pelajaran berharga yang tak
ternilai harganya. Kadang cerita itu dibiarkan berlalu begitu saja, seperti
kita berkendara dan membiarkan semua itu terlaju. Tak semua orang pula mau dan
mampu merefleksikan tiap bait cerita kehidupan yang terlewati.
Membaca
cerpen-cerpen Kurnia Effendi dalam Anak Arloji, seperti kita membaca fenomena
kehidupan. Konflik yang sebenarnya ada di sekitar kita. Konfik yang dihadirkan
tidak terlalu anomali. Namun di tangan Kef
- panggilan Kurnia Effendi- semua kisah sederhana tersebut terkemas
indah. Kekuatan diksi yang kuat membuat pembaca enggan untuk memberi jeda saat
membaca kisah-kisah yang tersaji.
Salah
satu kisah sederhana yang terkemas dengan apik itu adalah pada cerpen
“Pertaruhan”. Kisah dua pemuda yang gemar bertaruh untuk melakukan hal-hal yang
tidak biasa, seperti minum kopi dengan campuran arsenik hingga bertaruh nyawa
di rel kereta api. Kisah ini nampak biasa dan memang akan terasa biasa saja
apabila bukan Kef yang membawakannya. Seperti juga pada cerpen “ La Tifa” ,
kisah seorang gadis yang meratapi keluguannya pada seorang laki-laki paruh baya
dan memutuskan untuk merubah nama dari “Latifa” menjadi “La Tifa”. Dengan
sangat anggun, Kef mengantarkan pembaca pada kisah tentang sebuah pencarian
jatidiri. Latifa tidak menemukan latifa pada dirinya, ia merasa malu, kotor,
jijik, dan marah pada diri sendiri. Sebuah nama menunjukan sebuah identitas
diri, maka tidak match ketika nama
yang bagus melekat pada orang yang telah melakukan perbuatan yang dirasa hina.
Pesan ini disampaikan oleh Kef dalam cerpennya dengan siratan bukan suratan.
Suratan yang tertera pada cerpen ini sekedar alur kisah yang mengalir mendayu.
Namun Kef mampu menaruh pesan itu dengan sangat apik ibarat meletakkan sebuah
batu zamrud dalam kotak perhiasan. Dari ukiran kotak perhiasannya pun dapat
dikira betapa mulianya sesuatu yang tersimpan di dalamnya. Dan Kef memang
pengukir kisah yang piawai.
Sunday, July 10, 2011
Beres-Beres
Lagi pengen menata lagi blog yang mungkin udah agak lama gak ditengok. Sekaligus lagi ngerjain satu blog lagi yang isinya sebenarnya buat memindahkan file-file resensi buku dan film yang ada di laptop.hehe.
Read more ...
Kenapa milih template baru ini?? gak ada alasan pasti. pas lagi browsing, trus nemu..suka ya udah pake. gak mau ribet-ribet lagi urusan template..usahain sesimple mungkin. tapi gambar di header emang kadang-kadang suka nggak muncul?? entahlah..lagi males ngutak-atik.
Selamat menikmati..mari berbagi..^_^
Pembenahan Perpusda Untuk Tegal Cerdas 2011
Kecerdasan mungkin identik dengan nilai kognitif atau point IQ seseorang. Kurang disadari bahwa cerdas sebenarnya adalah sebuah budaya, bukan sekedar diukur dari nilai atau prestasi-prestasi yang diraih. Penciptaan lingkungan yang mampu menstimulasi adanya budaya masyarakat yang cerdas, itulah yang perlu dilakukan ketika pemerintah kota Tegal mencanangkan tema “Tegal Cerdas 2011”.
Tentu saja mewujudkan masyarakat cerdas harus disokong dengan proses pendidikan yang berkualitas.Program pendidikan yang dicanangkan bukan semata jenjang sekolah formal saja melainkan bagaimana masyarakat mampu mengembangkan diri melalui kekayaan literasi yang dimiliki. Dengan menyediakan informasi, masyarakat dapat memberitahukan kepada diri mereka sendiri tanpa suatu paksaan tentang berbagai isu muktahir. Masyarakat dapat memberdayakan diri mereka sendiri dengan mendapatkan berbagai informasi yang sesuai tugas atau pekerjaan masing-masing. Aktivitas ini dapat terfasilitasi dengan adanya perpustakaan. Tentu saja perpustakaan dengan pengelolaan yang baik. Dengan kata lain, melalui perpustakaan diharapkan akan terbentuk statu masyarakat yang terinformasi dengan baik, berkualitas, dan demokratis. Pentingnya peran perpustakaan ini, maka tak berlebihan jika dapat disebut sebagai centre of learning dalam dunia pendidikan.
Perpustakaan Daerah Tegal memiliki gedung yang cukup besar dan masih baru setelah pindah dari tempatnya yang lama. Menempati gedung baru berlantai dua di daerah Mangkukusuman, gedung perpustakaan yang digabung dengan kantor arsip tersebut cukup mudah dijangkau oleh masyarakat terutama pelajar. Melihat perpustakaan, kita akan melihat harapan bahwa banyak anak muda yang memiliki semangat belajar tinggi berkumpul disana. Tetapi nampaknya keberadaan perpustakaan tidak terasa di masyarakat. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini.
Memaknai Spirit Perdamaian Pada Persaudaraan Tarekat Indonesia – Maroko
Tak sedikit yang memungkiri bahwa ketika mendengar kata “sufi” maka akan terasosiasikan dengan beberapa hal yang berbau kearab-araban. Mungkin kita akan membayangkan padang pasir, orang-orang berjubah, berjenggot, naik unta, dan lain sebagainya. Sufi, sufisme, tasawuf, tarekat memang belum mampu menjadi semacam trend yang diakui global oleh masyarakat. Sufi memang kadang menyiratkan sebuah kemisteriusan, karena mungkin sufi adalah sebuah jalan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, sufi bagi para penganutnya adalah sebuah jalan yang memberikan ruang privasi seluas-luasnya dan sedekat-dekatnya dengan Tuhan.
Tasawuf merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari cara seseorang berada sedekat mungkin dengan Allah swt. Kaum orientaalis Barat, menyebutnya sufisme, dan bagimeraka kata sufisme khusus untuk mistisme dalam Islam. Thariqat berarti jalan raya (road) atau jalan kecil (gang, path). Kata thariqat secara bahasa dapat juga berarti metode, yaitu cara yang khusus mencapai tujuan. Secara terminologi, istilah kata thariqat berarti jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Kemudian digunakan untuk menunjuk suatau metode psikologi moral untuk membimbing seseorang mengenal Tuhan. [1]
Huruf 'ain Untuk Seli
(ini postingan lama, tapi belum kupost di blog, karena dalam beberapa minggu kedepan kayaknya mo ketemu Seli dkk, jadi inget note ini jd kurepost di blog.., )^_^
Dea, tata, dan Seli adalah adik-adik baru saya selama kurang lebih dua pekan ini. Dea seorang gadis manis yang sudah duduk di bangku kelas dua SD, sedangkan tata-adik dea- masih bermain di TK “nol kecil”. Selly lebih senior dibanding keduanya, karena dia sudah duduk di bangku kelas lima SD. Bersama ghafra, rafi, dan Sukma, mereka semua adalah adik-adik yang kebetulan saya ajar privat mengaji Al-Quran. Diantara mereka semua, tentu saja Selly yang sudah ada di tingkatan lanjut (sudah Iqra 2). Pertemuan terakhir kemarin cukup memakan waktu lama, karena saya baru mendengar bacaan sally pada rangkaian huruf hijaiyah yang mengandung huruf “’ain”.
Dalam dialek Banyumas, bunyi ‘a lebih familiar dilafalkan dengan bunyi “nga”. Jadi yang akan kita dengarkan bukan ‘a, tapi “nga”. Bukan surat “Al-‘ala” tapi “Al-ngala”. Bukan “Waalaikumsalam” tapi “Ngalaikumsalam”. kata "alamin" jadi berbunyi "ngalamin" . Sebenarnya ini bukan hal baru yang kita dengar. Dalam konteks dialek lain, kita akan mendengar potongan lafadz istighfar menjadi berbunyi “astaghfirullahaladjim”, atau kadang-kadang kita juga mendengar lafadz takbir terdengar “Allahu-ekbar”. Serta banyak contoh-contoh lain yang terjadi dalam masyarakat sekitar kita.
Benah Rumah Sehati : Pendar Senyum di Hati pak Faqih
“Terima Kasih ya mas, semoga bisa bermanfaat …..”
Itulah sebuah kalimat tulus nan merendah yang terucap dari seorang Abdul Faqih setelah rumahnya berhasil dibenahi oleh LAZIS MAFAZA. Pria Paruh Baya asal Ponorogo ini memiliki aktivitas keseharian mengajar ngaji di rumahnya di Desa Baseh Kecamatan Kedung Banteng. Tadinya Faqih sering dipusingkan dengan masalah atap rumahnya yang sering bocor, atau tiang penyangga rumahnya yang sudah mulai lapuk. Rumah yang sudah “tua” itu disana-sini mulai terlihat butuh diperbaiki, sekedar untuk melengkapi syarat sebuah rumah untuk berlindung dari hujan dan panas. Kendala pun hadir, bahwa untuk memperbaiki rumahnya itu tentunya butuh dana yang tidak sedikit.
Selain mengajar ngaji, pak Faqih bekerja serabutan. Beliau bekerja ketika ada tetangga yang memintanya membantu membangun rumah sebagai buruh bangunan, atau ketika musim tanam padi tiba saat tetangganya meminta beliau menjadi buruh taman padi. Dengan penghasilan rata-rata tidak lebih dari Rp. 30.000,- menjadi sulit bagi nya untuk memikirkan membangun rumah yang besar alias rumah“gedong”.Dengan doa serta ketulusan para muzzaki yang menyalurkan hartanya melalui LAZIS MAFAZA, Alhamdulillah rumahnya kini telah nampak jauh lebih baik dan tertata plus sebuah bonus Al Qur’an baru yang cantik dan menawan. Dengan bijak beliau berharap bahwa perubahan yang ada pada rumahnya ini semoga meningkatkan semangat belajar anak didiknya yang beliau bina. Terbayang saat beliau harus mengajar dengan hanya mengandalkan penerangan lampu 5 watt di ruang tengah rumahnya. Tanpa mengeluh atau merasa bosan beliau mengajari anak-anak disetiap Ba’da Maghrib hingga adzan Isya berkumandang. Kesibukan beliau di dasari niat yang kuat danpeduli pada pentingnya pembinaan kepada anak-anak sebagai bekal mereka sebelum menjadi dewasa dan terjun ke masyarakat. Bekal ilmu di TPA yang beliau ajarkan merupakan titik awal lahirnya orang-orang hebat disekitar kita.
Read more ...
Itulah sebuah kalimat tulus nan merendah yang terucap dari seorang Abdul Faqih setelah rumahnya berhasil dibenahi oleh LAZIS MAFAZA. Pria Paruh Baya asal Ponorogo ini memiliki aktivitas keseharian mengajar ngaji di rumahnya di Desa Baseh Kecamatan Kedung Banteng. Tadinya Faqih sering dipusingkan dengan masalah atap rumahnya yang sering bocor, atau tiang penyangga rumahnya yang sudah mulai lapuk. Rumah yang sudah “tua” itu disana-sini mulai terlihat butuh diperbaiki, sekedar untuk melengkapi syarat sebuah rumah untuk berlindung dari hujan dan panas. Kendala pun hadir, bahwa untuk memperbaiki rumahnya itu tentunya butuh dana yang tidak sedikit.
Selain mengajar ngaji, pak Faqih bekerja serabutan. Beliau bekerja ketika ada tetangga yang memintanya membantu membangun rumah sebagai buruh bangunan, atau ketika musim tanam padi tiba saat tetangganya meminta beliau menjadi buruh taman padi. Dengan penghasilan rata-rata tidak lebih dari Rp. 30.000,- menjadi sulit bagi nya untuk memikirkan membangun rumah yang besar alias rumah“gedong”.Dengan doa serta ketulusan para muzzaki yang menyalurkan hartanya melalui LAZIS MAFAZA, Alhamdulillah rumahnya kini telah nampak jauh lebih baik dan tertata plus sebuah bonus Al Qur’an baru yang cantik dan menawan. Dengan bijak beliau berharap bahwa perubahan yang ada pada rumahnya ini semoga meningkatkan semangat belajar anak didiknya yang beliau bina. Terbayang saat beliau harus mengajar dengan hanya mengandalkan penerangan lampu 5 watt di ruang tengah rumahnya. Tanpa mengeluh atau merasa bosan beliau mengajari anak-anak disetiap Ba’da Maghrib hingga adzan Isya berkumandang. Kesibukan beliau di dasari niat yang kuat danpeduli pada pentingnya pembinaan kepada anak-anak sebagai bekal mereka sebelum menjadi dewasa dan terjun ke masyarakat. Bekal ilmu di TPA yang beliau ajarkan merupakan titik awal lahirnya orang-orang hebat disekitar kita.
Tuesday, May 31, 2011
Melirik Slawi di Era Digitalisasi
Masih cukup hangat di telinga kita, fragmen yang (dianggap) memalukan saat kunjungan anggota dewan ke negeri Kanguru, Australia tempo hari. Masalah yang mungkin terlihat sepele, yaitu urusan alamat email (electronic mail) atau surel (surat elektronik). Sebagai sebuah lembaga publik, sudah semestinya memiliki ruang-ruang untuk berkomunikasi dan menerima aspirasi masyarakat. Email resmi sebuah lembaga tentunya hanya salah satu dari bentuk penerapan e-goverment. Pada dasarnya semangat yang dibawa oleh penerapan e-Goverment adalah kemudahan dan transparansi.
Bill Gates sendiri pernah menyatakan bahwa seluruh dunia kini akan memasuki era digital tahap selanjutnya dimana seluruh dunia akan terhubung satu sama lain, berinteraksi dengan perangkat melalui komunikasi dan sentuhan. Di Indonesia sendiri, terjadi kemajuan perkembangan internet, pada tahun 2007 saja penetrasi internet naik menjadi 40%, pembelian produk IT 50% dari tahun sebelumnya. Menjmurnya ISP (Internet Service Provider) menambah bursa perhelatan teknologi informasi dan digitaliasasi.
Pertanyaannya, bagaimanakah dengan Slawi? Slawi ditetapkan menjadi ibukota kabupaten Tegal sejak tahun 1984, setelah sebelumnya nunut ke Kota (madya) Tegal. Sebagai sebuah ibukota kabupaten tentunya menjadi lokasi yang “pertama dilirik” ketika berbicara tentang kabupaten Tegal. Slawi adalah corongnya kabupaten Tegal. Melalui Slawi diharapkan masyarakat luas dapat melihat gambaran/representasi kabupaten Tegal. Berkaitan dengan media dan teknologi informasi, maka perlu ditilik sejauh mana Slawi dapat tertangkap “radar digitalisasi”.
Bill Gates sendiri pernah menyatakan bahwa seluruh dunia kini akan memasuki era digital tahap selanjutnya dimana seluruh dunia akan terhubung satu sama lain, berinteraksi dengan perangkat melalui komunikasi dan sentuhan. Di Indonesia sendiri, terjadi kemajuan perkembangan internet, pada tahun 2007 saja penetrasi internet naik menjadi 40%, pembelian produk IT 50% dari tahun sebelumnya. Menjmurnya ISP (Internet Service Provider) menambah bursa perhelatan teknologi informasi dan digitaliasasi.
Pertanyaannya, bagaimanakah dengan Slawi? Slawi ditetapkan menjadi ibukota kabupaten Tegal sejak tahun 1984, setelah sebelumnya nunut ke Kota (madya) Tegal. Sebagai sebuah ibukota kabupaten tentunya menjadi lokasi yang “pertama dilirik” ketika berbicara tentang kabupaten Tegal. Slawi adalah corongnya kabupaten Tegal. Melalui Slawi diharapkan masyarakat luas dapat melihat gambaran/representasi kabupaten Tegal. Berkaitan dengan media dan teknologi informasi, maka perlu ditilik sejauh mana Slawi dapat tertangkap “radar digitalisasi”.
IMPOR BERAS DAN SISTEM KETERSEDIAAN BERAS BERKELANJUTAN YANG ADAPTIF TERHADAP PERUBAHAN IKLIM
IMPOR BERAS DAN SISTEM KETERSEDIAAN BERAS BERKELANJUTAN YANG ADAPTIF TERHADAP PERUBAHAN IKLIM
Oleh : Shinta arDjahrie
Ada beberapa alasan yang cukup penting kenapa kita perlu memberi perhatian khusus kepada permasalahan perubahan iklim. Selain bahwa dampak perubahan iklim ini dapat menyampingkan hak-hak atas kebutuhan hidup manusia paling mendasar (pangan, papan, dan sandang), pengabaian terhadap proses adaptasi perubahan iklim juga akan memperlambat proses penanggulangan kemiskinin dan pencapaian pembangunan berkelanjutan . Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2001, perubahan iklim global ini sangat peka terhadap beberapa hal dalam sistem kehidupan manusia, yaitu (1) tata air dan sumberdaya air; (2) pertanian dan ketahanan pangan; (3) ekosistem darat dan air tawar; (4) wilayah pesisir dan lautan; (5) kesehatan manusia; (6) pemukiman, energi dan industri, dan pelayanan keuangan .
Berdasarkan keterangan dari LAPAN, bahwa Iklim di Indonesia menjadi lebih hangat selama abad 20. Suhu rata-rata tahunan telah meningkat sekitar 0,3 derajat Celcius sejak 1900 dengan suhu tahun 1990an merupakan dekade terhangat dalam abad ini dan tahun 1998 merupakan tahun terhangat, hampir 1 derajat Celcius di atas rata-rata tahun 1961-1990. Peningkatan kehangatan ini terjadi dalam semua musim di tahun itu. Curah hujan tahunan telah turun sebesar 2 hingga 3 persen di wilayah Indonesia di abad ini dengan pengurangan tertinggi terjadi selama perioda Desember- Februari, yang merupakan musim terbasah dalam setahun. Curah hujan di beberapa bagian di Indonesia dipengaruhi kuat oleh kejadian El Nino dan kekeringan umumnya telah terjadi selama kejadian El Nino terakhir dalam tahun 1082/1983, 1986/1987 dan 1997/1998 . Pemanasan global akan meningkatkan temperatur, memperpendek musim hujan, dan meningkatkan intensitas curah hujan. Kondisi ini dapat mengubah kondisi air dan kelembaban tanah yang akhirnya akan mempengaruhi sektor pertanian dan ketersediaan pangan. Pemanasan global juga akan menaikkan level permukaan air laut, sehingga menggenangi daerah pesisir produktif yang sekarang digunakan sebagai lahan pertanian. Setiap usaha tani, termasuk padi, memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap cuaca dan iklim. Ketergantungan tersebut menghasilkan irama tanam dan panen yang tidak berubah dari tahun ke tahun. Produksi beras utama dihasilkan pada empat bulan panen raya (Februari-Mei) , yang mencapai 60-65 persen dari total produksi nasional. Produksi berikutnya dihasilkan pada musim panen gadu pertama (Juni-September) dengan produksi 25-30 persen. Sisanya dihasilkan pada musim panen Oktober-Januari .
Oleh : Shinta arDjahrie
Ada beberapa alasan yang cukup penting kenapa kita perlu memberi perhatian khusus kepada permasalahan perubahan iklim. Selain bahwa dampak perubahan iklim ini dapat menyampingkan hak-hak atas kebutuhan hidup manusia paling mendasar (pangan, papan, dan sandang), pengabaian terhadap proses adaptasi perubahan iklim juga akan memperlambat proses penanggulangan kemiskinin dan pencapaian pembangunan berkelanjutan . Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2001, perubahan iklim global ini sangat peka terhadap beberapa hal dalam sistem kehidupan manusia, yaitu (1) tata air dan sumberdaya air; (2) pertanian dan ketahanan pangan; (3) ekosistem darat dan air tawar; (4) wilayah pesisir dan lautan; (5) kesehatan manusia; (6) pemukiman, energi dan industri, dan pelayanan keuangan .
Berdasarkan keterangan dari LAPAN, bahwa Iklim di Indonesia menjadi lebih hangat selama abad 20. Suhu rata-rata tahunan telah meningkat sekitar 0,3 derajat Celcius sejak 1900 dengan suhu tahun 1990an merupakan dekade terhangat dalam abad ini dan tahun 1998 merupakan tahun terhangat, hampir 1 derajat Celcius di atas rata-rata tahun 1961-1990. Peningkatan kehangatan ini terjadi dalam semua musim di tahun itu. Curah hujan tahunan telah turun sebesar 2 hingga 3 persen di wilayah Indonesia di abad ini dengan pengurangan tertinggi terjadi selama perioda Desember- Februari, yang merupakan musim terbasah dalam setahun. Curah hujan di beberapa bagian di Indonesia dipengaruhi kuat oleh kejadian El Nino dan kekeringan umumnya telah terjadi selama kejadian El Nino terakhir dalam tahun 1082/1983, 1986/1987 dan 1997/1998 . Pemanasan global akan meningkatkan temperatur, memperpendek musim hujan, dan meningkatkan intensitas curah hujan. Kondisi ini dapat mengubah kondisi air dan kelembaban tanah yang akhirnya akan mempengaruhi sektor pertanian dan ketersediaan pangan. Pemanasan global juga akan menaikkan level permukaan air laut, sehingga menggenangi daerah pesisir produktif yang sekarang digunakan sebagai lahan pertanian. Setiap usaha tani, termasuk padi, memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap cuaca dan iklim. Ketergantungan tersebut menghasilkan irama tanam dan panen yang tidak berubah dari tahun ke tahun. Produksi beras utama dihasilkan pada empat bulan panen raya (Februari-Mei) , yang mencapai 60-65 persen dari total produksi nasional. Produksi berikutnya dihasilkan pada musim panen gadu pertama (Juni-September) dengan produksi 25-30 persen. Sisanya dihasilkan pada musim panen Oktober-Januari .
Subscribe to:
Posts (Atom)

