#SSM
Kemarin siang, ada pertanyaan dari seorang teman perempuan yang cukup menggelitik walaupun klasik. Tentang perempuan dan aktualisasi diri. Pertanyaannya, ketika kita—perempuan—sudah married , apakah kita boleh beraktualisasi di luar rumah atau tidak. Pertanyaan persisnya memang bukan ini, tapi yang pengen aku bahas di #SSM yang ini aja.Hehe.
Tiap orang tentunya punya jawaban masing-masing. Seperti yang sering banget saya sampaikan kalo lagi diskusi sama teman, bahwa tiap orang punya sensasi masing-masing dalam menjalani hidup. Sensasi ini bersifat kasuistik dan simbolik tidak bisa digeneralisasi. Sensasi-sensasi yang kita rasakan akan membentuk sebuah persepsi. Orang yang sedari kecil tinggal di pesisir pantai akan merasakan sensasi panas sinar matahari yang berbeda dengan orang yang tinggal di pegunungan.Nggak usah ribet-ribet deh , kondisi dingin menurut orang Tegal berbeda dengan orang Purwokerto, iya nggak ? Ini bukan masalah ukuran beberapa celcius, tetapi sensasi yang terekam di memori otak kita dan membangun persepsi. Tapi, sensasi dan persepsi ini bisa dibentuk karena manusia memiliki kemampuan adaptasi (pelajaran biologi SMP nih.hehe). Misalnya, saya yang punya rintis alergika alias alergi dingin.., harus punya cara menyiasati diri ketika tinggal di Purwokerto Utara yang cenderung lebih dingin. Selama kita mau membuka diri, manusia punya banyak kemampuan untuk survive, termasuk dalam lingkungan sosial.



