Pages

Friday, December 08, 2006

Gem..Bush!!! (sebuah cerpen.....)

œAda yang kosong Bang?”

Dengan langkah santai, Geger menuju kompie 9 setelah sang operator menunjukkannya. Tempat ini bisa dibilang rumah ketiganya setelah gubuk dan kampusnya. Lumayan, saking seringnya Geger main, Banyu.Net kerap kali memberikan diskon untuk browsing-nya yang melebihi satu jam. Soft drink atau sekedar secangkir kopi kerap disajikan sebagai gift untuknya jika ia sedang online hingga midnight. Hanya beberapa kilometer jaraknya dari kampus. Setidaknya, jika Geger sedang muak dengan keabsolutan dosen yang jaranng masuk, ia punya tempat pelarian yang positif. Bukan sekedar chatt, tapi dari aktivitasnya di dunia maya, tak sedikit ilmu serta jaringan yang ia punya. Yahoo Messenger menjadi saksi dari obrolan dan debat panjangnya dengan rekan-rekan di dalam dan di luar Indonesia. Inbox emailnya penuh dengan mailing list yang memporting tema-tema menarik untuk didiskusikan.

Dick : Hi….how r u?

Geger_self : fine…sori I was very busy to mid test

Uff….sudah sepekan ini geger absen dari dunia maya. Lagi musim ujian. Sebenarnya kalau dipikir itu bukan alasan. Pekan ujian bahkan memungkinkan mahasiswa lebih banyak memiliki banyak waktu luang dibandingkan dengan masa-masa kuliah. Jadawal ujian tiap harinya maksimal hanya menghabiskan waktu tiga jam. Namun, tampaknya sudah menjadi fenomena untuk anak SD sampai mahasiswa, bahwa kalau di masa ujian pantang untuk keluar main. Padahal Geger pun yakin para mahasiswa itu tidak akan full belajar saat ada di rumah.

Hemh….inbox emailnya cukup sarat. Di-klik nya sebuah postingan -dari sebuah milis jurnalis- dengan judul postingan yang cukup bombastis : [JURNALISME] Re : Bush datang, sekolah diliburkan!!!

Obrolan-obrolannya terhenti sejenak. Konsentrasinya kontan fokus pada beberapa postingan opini rekan-rekan milistnya tentang kunjungan penguasa negara Adikuasa. Dua puluh November, beliau akan dating di kota kelahiran Geger. Bush memang selebritis tiada tanding. Rencana kunjungannya ke Indonesia cukup menghebohkan. Setidaknya kontroversi tentang hal itu sedang jadi obrolan terhangat. Mungkin Bush tak ingin kalah dengan My Chemical Romance yang mengeleuarkan album alter ego-nya yang cukup menghisteriskan cewek-cewek Indonesia.

Jiwa muda Geger seolah terprovokasi seusai membaca postingan-postingan dari inbox-nya.

“Shitt, berani juga dia kesini” umpat Geger yang mengakhiri browsingnya siang itu. Di otaknya sepertinya sudah tersusun rencana untuk mengumpulkan rekan-rekan BEM-nya.

***

Buncahan air hitam bercampur lumpur membasahi celana legging bututnya. Hujan tadi malam tampaknya membuat jalanan di pemukiman itu semakin terlihat kumuh. Geger membuka kap helm-nya untuk sekedar membagi senyuman pada beberapa warga yang tampak sedang menikmati istirahat siang di beranda gubuk-gubuknya. Pemandangan rumah yang saling berdempetan dengan suasana khas rakyat kecil sudah menjadi makanan bagi Geger tiap harinya. Di tengah suasana-yang bisa dibilang kumuh- di salah satu bilangan kota Bogor itu-lah, Geger dilahirkan kira-kira dua dasawarsa yang lalu.

“Bang Gegel…..” seorang gadis kecil dengan rambuit kusut menjuntai, menyambut Geger yang telah sampai di depan rumah. Sesungging senyum tulus dari Geger menanggapi sapaan cadel dari Ratih-nama gadis kecil itu-adik keduanya. Ratih serta merta berlari menubruk untuk bersandar manja di tubuh kekar Abang tersayang.

“Ratih lagi ngapain?mbak Asih sudah pulang?”

“Nggak lagi ngapa-ngapaiin. Mbak Acih macih cekolah”

“Ratih nggak Bantu emak?” tanya Geger penuh kasih sayang dengan merengkuh lembut tubuh mungil itu. Ratih hanya menjawab dengan menyeringai. Barisan giginya yang hitam dan geripis terlihat jelas saat dia membuka bibirnya. Ingus di hidungnya tampaknya juga sedang berlomba antara lubang yang kanan dan kiri.

Geger melangkahkan kaki ke rumah –kalau pantas disebut rumah-nya yang sangat sederhana namun sangat dicintainya itu.

“Sudah pulang Ger?”

“Udah Mak, hari ini ujian terakhir”

Sesosok wantia yang diliputi keriput tampak keluar dari dalam kamar. Ia akrab disapa Mak Geger. Mak Geger itu sebenarnya cantik. Dari garis wajahnya bisa terlihat gurat kecantikannya masa muda dulu. Usianya juga sebenarnya belum terbilang tua. Pedasnya kehidupan yang telah menampakan sosok Mak Geger jadi terlihat lebih tua. Mentari Bogor tiap harinya selalu giat menyapa tubuh wanita itu. Tiap hari, Mak Geger berkeliling kampung dengan suaranya yang khas menjajakan kue. Ya..sekedar membantu menegakkan perekonomian keluarga biar dapur tetep ngebul. Wajahnya sudah tak pernah tersentuh make up, asap dan debu telah menjadi pengganti powder-nya, keringat telah menjadi body lotion-nya. Boro-boro tahu manicure pedicure, kotak sabun mandi di rumah Geger sering kosong berhari-hari.

“Makan dulu Ger!”

“Ya Mak!”

Ugh…sibuknya otak dia berfikir tentang Bush ternyata membuat Geger tak sadar bahwa perutnya belum sempat diisi dari tadi pagi. Kini setelah disadarkan Emaknya, ia baru bisa mendengar tabuhan gendang keroncong dari dalam lambungnya.

Diambilnya nasi yang masih agak hangat diatas piring melamin yang terbilang barang berharga di rumahnya itu. Tanpa mengeluh diambilnya beberapa potong gembus goring sebagai lauk. Entahlah apa nama sebenarnya. Geger mengenalnya sebagai gembus. Ada yang bilang dage, bongkrek, bahkan di beberapa kota ada yang menyebutnya tlembuk. Yang pasti kini Geger tampak lahap menikmati makan siangnya. Ekspresi kelahapannya itu rupanya cukup membuat Ratih memberi respons.

“ Bang Gegel lapel ya?”

“He-eh”

“Ih…Latih mah bocen makan gembus telus. Latih pengen makan ayam pledciken. Kata bapak, ntal kalo Bang Gegel udah kelja, banyak duit, kita bica makan enak telus. Benel ya bang?”

Ungkapan polos Ratih membuat mulut Geger tiba-tiba berhenti mengunyah. Ia jadi teringat cita-citanya selepas wisuda nanti untuk membantu perekonomian keluarga. Kini pun sebenarnya ia sudah bisnis kecil-kecilan dan itu membuat Emak Bapaknya tak perlu lagi memberikan duit jajan. Bapak sendiri memang melarang Geger untuk bekerja sekarang. Kata Bapak “Selesaikan dulu kuliahmu, pendidikan itu nomor satu, bapak masih kuat untuk kasih nafkah, cepat lulus jadi sajana dan kamu bisa cari kerja yang baik, jangan jadi penjaga lapak kayak bapakmu ini……….”

Semoga saja harapan bapaknya itu bisa terwujud walau kenyataannya di kampus ia lebih sibuk dengan uurusan tetek bengek ini itu. Kepercayaan yang diberikan rekan-rekannya untuk memimpin BEM cukup menyita waktu dan tenaganya.

***

“Masih sepi bro?”

Itu sapaan Randi, sohib se-visinya Geger.

“Ada planning apa lagi Ger?kayaknya serius banget”

“Kita harus bertindak Ran!”

“Tentang Bush itu?” Tanya Randi hanya sekdar untuk menegaskan.

“Aku muak sekali dengan protokoler penyambutan yang over seperti itu. Bayangin, sepuluh milyar habis cuma buat si Brengsek Bush itu. Lapak-lapak para PKL digusur sementara, sekolah diliburkan, jaringan ponsel dimatikan. Kegoblokan macam apa lagi yang manghantui otak si SBY itu!kita jadi seperti babu kayak gini”

“Emang kayak gitu kalau orang kecil menyambut orang besar. Babu menyambut majikan. Suara helikopter yang setiap hari berputar-putar itu sudah cukup membuat telingaku budeg. Kalau takut ada apa-apa, ya nggak usah datang” timpal Randi tak kalah semangatnya.

“Kita harus lancarkan aksi” simpul Geger

“Nah…gue demen nih kalo lu udah ngomong kayak gitu. Bentar lagi pasti kita asyik tenggelam dalam rapat aksi. Wuih…..aku udah nggak sabar merasakan aura demonstrasi. Aroma aspal panas dan keringat demonstran sepertinya sudah bisa kucium dari sekarang”

Dinding-dinding basecamp BEM Fakultas Sastra tampaknya menjadi saksi dari gejolak semangat Geger dan teman-temannya yang terus berjuang demi penegakan keadilan.

***

Isu tentang BUSH tampaknya memang menjadi berita panas Indonesia akhir-akhir ini. Rentetan demonstrasi penolakan seperti tak akan kunjung henti. Media massa baik cetak dan elektronik tak kalah gencar menjadikan topik ini menjadi headline.

***

Satu hari menjelang aksi

“Gimana Ran?”

“Ok, bos. Semua udah beres. Besok kita tinggal turun aja”

“Pokoknya besok jangan samapi gagal. Aku jijik kalo inget Bush mau dating menginjakan kaki di kota kelahiranku ini”

“Ok, bos. Kayaknya sekarang kamu pulang aja dulu deh!udah malem. Kamu kan korlap harus jaga kondisi donk.Inget penyakit magg-mu yang sering kumat itu” nasehat Randi pada sobat seperjuangannya itu.

Jam sembilan lewat beberapa menit saat motor Geger menembus hujan untuk menuju pulang ke rumahnya. Benar kata Randi, ia sudah lelah. Hari-hari terakhir ini, tenaga dan pikirannya seolah terkuras habis untuk aksi besok. Bayangan dipan keras dan makan malam masakan Emaknya semakin membuat geger mempercepat laju kuda bermesin itu.

***

Rumahnya tampak masih benderang malam itu. Tumben, biasanya habis Isya mereka sudah terlelap dan melalaikan makan malam karena memang tak ada yang bisa dimakan.

“Bang Gegel…..ayo makan!!!”

Wow, sepertinya ada hajatan di rumah mereka.

“Ada pesta ya mak?”

Cukup beralasan jika Geger berkata seperti itu. Potongan paha ayam yang digoreng kering memang sebuah barang langka bagi keluarganya. Namun barang langka itu kini bertenger di meja makan menggantikan posisi gembus goreng yang sudah setiap harinya sudah menjadi makanan pokok Geger sekeluarga. Didorong oleh rasa lelah dan lapar, tanpa ba bi bu lagi Geger langsung mengambil jatah makan malamnya itu.

“Enak ya Bang….ayam golengnya….”

“Siapa yang ulang tahun sih?” Tanya Geger dengan mulut masih penuh makanan.

“Sejak kapan keluarga kita punya acara ulang tahun-ulang tahunan…..” jawab Emak sambil tersenyum simpul melihat tingkah anak sulungnya itu.

“Bapakmu dapet rejeki yang lumayan hari ini” sambung Emak lagi.

“Besok kan bapak nggak dagang Ger. Katanya besok mau ada presiden Amerika, jadinya kita nggak boleh jualan. Makanya kita dapet uang pengganti karena nggak boleh jualan. Lumayan lima puluh ribu. Padahal tiap harinya Bapak dapet tiga puluh ribu saja udah syukur” jelas Bapaknya yang keluar dari dapur.

“Besok emak juga bisa lebih santai. Asih kan sekolahnya libur, jadi bisa bantu-bantu. Nanti emak biar keliling ke desa lain. Bapak juga sama teman-teman PKLnya besok dagang di tempat lain untuk sementara, jadi bisa tetep dapet duit. Makanya Emak masak ayam goreng malam ini, ya itung-itung sebagai rasa syukur……”sambung Emak.

Tiba-tiba perut Geger terasa mual. Lidahnya jadi kelu, kaku! Nasi yang di mulutnya seolah enggan masuk ke tenggorokan. Kepalanya menjadi pusing seperti berputar-putar. Beberapa kelabat bayangan bergantian menghantu pikirannya. Dia teringat rekan-rekannya yang sedang mempersiapkan aksi penolakan penyambutan Bush. Sementara itu, di depan matanya Emak, Bapak, Asih, dan Ratih sedang tersenyum manis semanis senyuman Bush. Dia tiba-tiba jadi pusing. Tak didengarnya lagi celotehan Ratih yang ceria.

“Bang Gegel….plesiden Amelika itu baik ya…coba tiap hali dia kesini..pasti kita bisa makan enak..kak Acih juga jadi libul jadinya Latih nggak ucah bantuin emak………..”

***

teruntuk Bush : I love you Bush!!!
Read more ...
Saturday, December 02, 2006

Selepas Kau Pergi..................................

Selepas kau pergi
Tinggallah disini ku sendiri
Kumerasakan sesuatu
Yang t'lah hilang di dalam hidupku

Dalam lubuk hatimu
Ku yakin kaupun sebenarnya tak
Inginkan lepas dariku
Tahukah kau kini ku terluka


Bantu aku membencimu
Ku terlalu mencintaimu
Dirimu begitu...
Berati untukku...



Kau telah mencinta
Dan dicintai kekasihmu
Ini tak adil bagiku
Hilanglah damba tinggallah hampa



Lupakanku dalam tidurmu
Yang pernah mencintaimu
Kau memang tercipta
Bukanlah untukku

Selepas kau pergi
Tinggallah disini ku sendiri
Kumerasakan sesuatu
Yang t'lah hilang di dalam hidupku

Lala...la..la...lala



nb :
yeach..............bantu aku membencimu.........bantu aku membencimu......bantu aku membencimu
Read more ...

Karakter Internal Locus of Control Auditor BPK

BPK dan Kasus Penyuapan Auditor BPK

Sekilas tentang BPK
Telah termaktub dalam pasal 23 ayat (5) UUD tahun 1945 bahwa untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksa Keuangan yang peraturannya ditetapkan dengan Undang-undang. Sebagai refleksi dari ketentuan tersebut, pada tanggal 28 Desember 1946 dikeluarkan Surat Penetapan Pemerintah No. 11/OEM tentang pembentukan Badan Pembentukan Keuangan. Maka tepat 1 Januari 1947, berdirilah BPK yang berkedudukan sementara di Magelang dengan ketua BPK pertama yaitu R.Soenarso.
BPK memiliki peran vital dalam pengelolaan keuangan negara. BPK memiliki fungsi operatif (pasal 2 dan 3 UU no.5/1973), rekomendasi (Pasal 59 ICW 20 pasal 4 (2) IAR ), dan yudikatif (Pasal 77, 79, dan seterusnya, ICW 20 pasal 36 s/d 39 IAR).
BPK-sebagai badan pemeriksa- memiliki norma yang dirumuskan dalam bentuk singkatan 2K 3E dengan penjelasan sebagai berikut :
2K = 1.Ketertiban
2. Ketaatan
3E = 1. Efektifvitas
2. Ekonomis
3. Efisien
Tujuan pemeriksaan ini dijabarkan sebagai berikut :
“Untuk mengetahui da menilai kewajaran pelaksanaan kegiatan perusahaan apakah sesuai dengan rencana dan apakah dilaksanakan secara tertib dan taat peraturan”
Sehingga dapat dijabarkan, bahwa tugas BPK adalah untuk mengetahui dan menilai apakah :
1. Penguasaan dan pengurusan keuangan telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan pertanggungjawaban telah dilakukan dengan layak,
2. Penggunaan sarana dan prasarana dari sumber-sumber kekayaan yang dimiliki telah dilaksanakan secara hemat dan berdayaguna,
3. Rencana dan tujuan yang ditetapkan telah dilaksanakan dan dicapai secara berhasil sesuai dengan program nasional.

Kasus Penyuapan Auditor BPK
Tipikor atau tindak pidana korupsi kini menjadi headline perekonomian Indonesia di era pasca reformasi. BPK sebagai lembaga audit keuangan negara memiliki peran yang cukup besar dalam pemberantasan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Dalam menjalankan perannya itu bukanlah hal yang mudah. Tak jarang dalam menjalankan tugasnya, BPK ikut menjadi aktor dalam tindak KKN tersebut.
Sebuah kasus yang cukup sensaional di tahun 2005, yaitu terungkapnya tindak penyupan auditor BPK oleh Mulyana W.Kusumah, anggota KPU (Komisi Pemilihan Umum).
Bermula dari investigasi BPK di tahun 2004 pada Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dalam investigasi tersebut, ditemukan sejumlah kejanggalan dalam pelelangan, prakualifikasi, ketebalan spesifikasi kotak suara, dan beberapa biaya tambahan yang tidak jelas.
Tersebutlah Khairiansyah Salman, salahseorang auditor BPK yang diperintahkan untuk mempertajam temuan-temuan yang didapatkan dalam investigasi tahun 2004. Jenis pengauditan ini dapat digolongkan sebagai Operations Audit. Dalam laporan yang dibuat oleh AICPA dengan judul Operational Audit Engagement, yang mencakup : “Pemeriksaan yang sistematis terhadap kegiatan organisasi atau bagian-bagiannya sehubungan dengan tujuan tertentu. Tujuan pemeriksaan mungkin :
• Menilai prestasi
• Mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan perbaikan,
• Mengembangkan saran-saran untuk perbaikan atau tindakan lanjutan.
Operations Audit atau yang sering disebut operasional audit muncul dari pengembangan financial audit. Dalam audit ini yang dinilai bukan saja aspek keuangan tetapi juga aspek yang bersifat non keuangan. Tujuannya adalah memeriksa dan menilai operasi perusahaan serta prosedur pelaksanaannya. Juga menyangkut pemberian inforrmasi kepada manajemen tentang masalah-masalah operasi yang diperlukan untuk melakukan koreksi demi peningkatan penghematan dan produktivitas. Sasaran audit ini adalah bagaimana mengusahakan agar kegiatan itu lebih efisien, hemat, dan lebih produktif. Dalam pelaksanaan auditnya dapat menggunakan prosedur audit yang dianut dalam audit keuangan (General Audit).
Selama proses audit yang dilakukan Khairiansyah, terdapat kesulitan dalam mendapatkan dokumen-dokumen yang diperlukan dari KPU. Oleh karena itu, Khairiansyah menyiasatinya dengan mendekati rekanan-rekanan KPU, salah satunya adalah PT. Surfindo Indah Prestasi (SIP) yang menjadi rekanan KPU dalam hal pengadaan kotak suara. Dari pihak SIP, Khairiansya diantaranya mendapatkan beberapa dokumen. Dalam dokumen-dokumen tersebut ditemukan beberapa kejanggalan seperti inkonsistensi informasi, penggelembungan biaya, dan sejumlah aliran dana ke KPU yang beberapa diantaranya tertulis jelas sebagai biaya “untuk entertain KPU”.
Mengetahui sepak terjang Khairiansya yang tentunya akan menguak bukti hitam untuk KPU, maka munculah adanya indikasi penyuapan. Dalam kesaksiannya, Khairiansyah mengatakan bahwa ia menjalin kontak dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pertama kali pada tanggal 8 Maret 2005 untuk melaporkan adanya indikasi upaya penyuapan dari pihak KPU. Selang dua hari kemudian, Mulyana (anggota KPU) ditemani Pelaksana Harian Sekretaris jendral KPU, Sussongko Suhardjo dan staf Biro Umum, Mubari, mengajak Khairiansyah untuk bertemu di sebuah restoran Jepang di Hotel Borobudur, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Khairiansyah mengatakan Mubari sempat menawarkan uang Rp 200-300 juta kepada dirinya. Pertemuan di Hotel Borobudur tersebut kemudian diikuti dengan dua pertemuan berikutnya, dimana Mulyana menyerahkan uang secara bertahap , masing-masing Rp 149.800.000,- pada 3 April 2005 , dan Rp 150.000.000,- pada 8 April 2005. Segala pertemuan dengan KPU yang dilakukan Khairiansyah silakukan atas pengetahuan dan arahan dari KPK. Bahkan semua proses direkam KPK, termasuk penentuan hotel Ibis sebagai tempat transaksi penyerahan uang yang kemudian diikuti dengan penyergapan dan penangkapan Mulyana.
Terungkapnya kasus upaya penyuapan auditor BPK tersebut rupanya menjadi stimulan pada terungkapnya tindak serupa yang lain. Rabu, 21 September 2005 diberitakan, sebanyak 14 auditor BPK menerima uang dari KPU selama mengaudit proyek pengadaan barang dan jasa Pemilu 2004. Mereka yang menerima uang itu, Chaidar Rahman (107 juta), Mohammad Priyono (108 juta), Ponegawaty (58 juta), Helmi Rubaini (58juta), Is Sumiyati (45 juta), Dedi(45juta). Nur (13juta), Iswadarni (4juta), Yanti (4juta), Sulung (4juta), Kerot (4juta), Suharto (1,5 juta), Djapiten (140 juta). Seorang auditor, Latif menolak uang pemberian KPU sebesar Rp 1,5 juta, kemudian dibagi-bagi antara mereka. Lepas dari kontroversi bahwa uang tersebut adalah uang transport dan uang lelah, yang pasti nama-nama tersebut telah menerima uang dari klien.
Khairiansyah yang menjadi whistle blower telah menegaskan pada publik mengenai kinerja auditor BPK. Lepas dari masalah bahwa di kemudian hari Khairiansyah ditetapkan oleh Kejari Jakpus sebagai tersangka penerimaan DAU, Khairiansyah boleh dibilang sebagai Man of The Year tahun 2005 lalu. Tindakannya sempat mendapat Integrity Award dari Transparency International Indonesia.

Bab II
Internal Locus of Control pada Auditor BPK

Kode Etik Auditor
Alasan yang melatarbelakangi timbulnya kode etik bagi suatu bidang jabatan adalah kebutuhan untuk meraih kepercayaan masyarakat (public confidence) terhadapa kualitas bidang jabatan tersebut tanpa melihat kepada individu pelaksananya. Bagi akuntan publik, diperlukan suatu keyakinan dari para klien dan pelbagai pihak yang berkepentingan dengan laporan keuangan terhadap kualitas jasa audit dan jasa lain-lainnya.
Dalam AICPA dikenal beberapa prinsip-prinsip etik bagi auditor , yaitu:
1. Tanggung jawab. Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, anggota harus menjalankan kepekaan profesional dan pertimbangan moral dalam semua aktivitas mereka.
2. Kepentingan masyarakat. Anggota harus menerima kewajiban untuk bertindak yang mendahulukan kepentingan masyarakat, menghormati kepercayaan masyarakat, dan menunjukkan komitmen profesionalitas.
3. Integritas. Untuk mempertahankan dan memperluas kepercayaan mayarakat, anggota harus melaksanakan semua tanggung jawab profesional dengan kepekaan integritas yang paling tinggi.
4. Obyektivitas dan Independensi. Anggota harus mempertahankan obyektivitas dan bebas dari pertentangan kepentingan dalam melaksanakan tanggung jawab profesional. Anggota dalam praktek publik harus independen dalam kenyataan dan penampilan pada waktu melaksanakan pemeriksaan dan jasa pembuktian lainnya.
5. Kemahiran. Anggota harus mematuhi standar kritis dan etis profesi, berusaha keras untuk terus menerus meningkatkan kompetensi dan mutu jasa, dan melaksanakan tanggung jawab profesional sesuai dengan kemampuannya yang terbaik.
6. Lingkup dan sifat jasa. Dalam menjalankan praktek di masyarakat, anggota harus mematuhi prinsip-prinsip kode perilaku profesional untuk menentukan lingkup dan sifat jasa yang akan diberikan.

Internal Locus Of control

Dalam literatur Akuntansi, locus of control telah diteliti dalam konteks keputusan yang berbeda seperti partisipasi anggaran (Brownell, 1982; Frucot dan Shearon, 1991; Indriantoro, 1993). Keputusan Etis (Trevino , 1986; Tsui dan Gul, 1996, Knouse dan Glacalnose, 1992), perilaku tidak etis (Jones dan Kavanagh, 1996; Tsui dan Gul, 1996; Zahro, 1989)
Bersamaan dengan munculnya kesadarn tentang pentingnya pengembangan dan kesadaran etik akuntan publik, muncul pula sejumlah penelitian yang mencurahkan perhatiannya pada masalah ini, serta berusaha untuk menguraikan dan mengevaluasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku etik akuntan (Louwers et al, 1997). Dalam literatus Behavioral accounting disebutkan bahwa variabel personalitas dapat berinteraksi dengan cognitive styles untuk mempengaruhi pengambilan keputusan. Dalam hal ini Locus of Control adalah variabel personalitas yang berpengaruh terhadap kesadaran etis auditor.
Berdasarkan pada teori locus of control, bahwa perilaku auditor dalam situasi konflik akan dipengaruhi oleh karakteristik locus of control-nya. Individu dengan internal locus of control akan lebih mungkin berperilaku etis dalam situasi konflik audit dibanding dengan individu dengan eksternal locus of control. Ciri pembawaan internal locus of control adalah mereka yang yakin bahwa suatu kejadian selalu berada dalam kendalinya dan akan selalu mengambil peran dan tanggung jawab dalam penentuan benar atau salah. Sebaliknya orang dengan eksternal locus of control percaya bahwa kejadian dalam hidupnya berada di luar kontrolnya dan percaya bahwa hidupnya dipengaruhi oleh takdir, keberuntungan, dan kesempatan serta lebih mempercayai kekuatan di luar dirinya. Karenanya auditor dengan eksternal locus of control akan lebih besar kemungkinannya untuk memenuhi permintaan klien.
Dalam penelitian yang dilakukan Umi Muawanah dan Nur Indriatoro membuktikan bahwa internal locus of control menimbulkan kesadaran etik tinggi dibanding dengan pembawaan eksternal locus of control. Salah satu matrik skor penelitan mereka adalah sebagai berikut

LOC Internal LOC Eksternal
Kesadaran etik tinggi 12,5 (n = 28) 8,67 (n =15)
Kesadaran etik rendah 24,0 (n = 10) 36,82 (n = 22)

Penelitian juga teleh membuktikan bahwa interaksi antara locus of control dengan kesadaran etis mempenngaruhi perilaku auditor dalam situasi konflik audit. Pada level kesadarn etik ang rendah terdapat kecenderungan auditor kurang independen. Sebalilknya pada level kesadaran etis yanng tinggi, ada kecenderungan auditor untuk menolak permintaan klien, dengan kata lain auditor menjadi lebih independen. Dan kecenderungan ini berbeda untuk karakterisktik locus of control yang internal atau eksternal.

Internal Locus of Control pada Auditor BPK
Dalam mewujudkan kepercayaan publik pada BPK sebagai lembaga audit keuangan negara, maka para auditor BPK perlu memiliki internal locus of control. Tak jaran auditor berada pada situasi konflik yang menciptakan sebuah dilema etis. Misalnya dapat terjadi ketika auditor dan klien tidak sepakat terhadap beberapa aspek fungsi dan tujua pemeriksaan. Dalam keadaan ini, klien bisa mempengaruhi proses pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor. Klien bisa menekan auditor untuk mengambil tindakan yang melanggar standar pemeriksaan. Karena secara umum dianggap bahwa auditor termotivasi oleh etika profesidan standar pemeriksaan. Karena secara umum dianggap bahwa auditor termotivasi oleh etika profesi dan standar pemeriksaan, maka auditor akan berada dalam situasi konflik. Memenuhi tuntutan klien, berarti melanggar standar. Namun dengan tidak memenuhi tuntutan klien, bisa menghasilkan sangsi oleh klien berupa kemungkinan penghentian penugasan. Dan hal terakhir ini adalah tidak mungkin pada tubuh BPK karena BPK adalah satu-satunya lembaga audit keuangan negara.
Dalam kasus tindak penyuapan oleh Mulyana W.Kusumah, telah memperlihatkan kepada kita mengenai sosok Khairiansyah yang berpotensi memiliki internal locus of control. Hal ini lepas dari masalah bahwa di kemudian hari ia ditetapkan menjadi tersangka penerimaan DAU.
Karakter internal locus of control ini sangat tepat sekali untuk dikembangkan pada diri para auditor BPK. Dengan memiliki auditor yang berkarakter internal Locus of control akan membawa BPK sebagai Lembaga Audit Keuangan negara yang berintegritas dan turut serta dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Apalagi dalam era reformasi sekarang ini, Badan Pemeriksa Keuangan telah mendapatkan dukungan konstitusional dari MPR RI dalam Sidang Tahunan Tahun 2000 yang memperkuat kedudukan BPK RI sebagai lembaga pemeriksa eksternal di bidang Keuangan Negara, yaitu dengan dikeluarkannya TAP MPR No.VI/MPR/2002 yang antara lain menegaskan kembali kedudukan Badan Pemeriksa Keuangan sebagai satu-satunya lembaga pemeriksa eksternal keuangan negara dan peranannya perlu lebih dimantapkan sebagai lembaga yang independen dan profesional. Hal ini semakin selaras dengan misi BPK yaitu, “Mewujudakan diri menjadi auditor eksternal keuangan negara yang bebas dan mandiri, profesional, efektif, efisien, dan modern sesuai dengan praktik internasional terbaik, berkedudukan di ibukota negara dan ibukota setiap provinsi, serta mampu memberdayakan DPR, DPD, dan DPRD melaksanakan fungsi pengawasannya terhadap pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudakan pemerintahan yang bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Bab III
Penutup

Simpulan
Dari uraian diatas, ada beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil, anatara lain:
1. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memiliki posisi yang vital dalam mewujudkan perekonomian yang bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta mewujudkan kesejahteraan rakyat.
2. Terungkapnya kasus penyuapan terhadap auditor BPK memberi gambaran tentang kinerja para auditor BPK, serta mengindikasikan bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam tubuh BPK. Namun kasus tersebut juga merupakan nilai plus bagi BPK, dimana Khairiansyah sebagai salah satu auditor memiliki karakter internal locus of control yang menjadikan ia tidak memiliki kecenderungan untuk bekerjasama dengan klien. Dengan kata lain, dia telah mempertahankan integritas sebagai auditor.
3. Internal Locus of Control sangat relevan untuk menciptakan kesadaran etika yang tinggi pada para auditor,
4. Karakter internal locus of control ini sangat tepat sekali untuk dikembangkan pada diri para auditor BPK. Dengan memiliki auditor yang berkarakter internal Locus of control akan membawa BPK sebagai Lembaga Audit Keuangan negara yang berintegritas dan turut serta dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia

Impikasi
Penyusunan karya tulis ini memberikan implikasi bahwa auditor BPK perlu menggembangkan karakter internal locus of control pada diri mereka yang dapat memiliki relevansi postif pada kesadaran etik sebagai auditor.. Hal ini akan dapat meningkatkan kredibilitas mereka sebagai auditor pada khususnya dan untuk kredibilitas BPK sebagai satu-satunya lembaga audit eksternal keuangan negara.
Penyusunan ini juga dapat menjadi stimulan untuk mendorong arah riset akuntansi keperilakuan untuk mempertimbangkan aspek personalitas sebagai determinan penting dari keberhasilan atau kegagalan auditor menjalankan tugasnya.


Alasan yang melatarbelakangi timbulnya kode etik bagi suatu bidang jabatan adalah kebutuhan untuk meraih kepercayaan masyarakat (public confidence) terhadapa kualitas bidang jabatan tersebut tanpa melihat kepada individu pelaksananya. Maka memang suatu yang urgent bagi BPK untuk memperhatikan aspek personalitas pada auditor-auditornya.
Mengingat bagian pendahuluan dari kode etik jabatan AICPA memuat suatu kutipan dari marcus Aurelius yang menyimpulkan secara tepat apa yang sesungguhnya diharapkan dari seorang profesional “ Seseorang harus keatas, bukan tetap diatas”. Maka dengan mengembangkan aspek pesonalitas para auditornya, BPK akan menjadi lembaga yang progresif dan terus bereksistensi dalam Tata Kelola Keuangan Negara yang Baik untuk Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat.
DAFTAR PUSTAKA

Arens, Alvin A dan Loebbecke, J.K. Auditing , Suatu Pendekatan Terpadu Jilid I. Penerbit Erlangga. Surakarta : 1994
Harahap, Sofyan Asfri. Auditing kontemporer. Penerbit Erlangga. Surakarta : 1991
Muawah, Umi dan Indriatorno Nur. 2001. Perilaku Auditor dalam Situasi Konflik Audit : Peran Locus of Control, Komitmen Profesi, dan Kesadaran Etik. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia vol 4 No.2 Mei 2001 Hal 133-150.


Sumber lain :
http://www.bpk.go.id/ Visi dan Misi Badan Pemeriksa Keuangan. 30 November 2006, 21:00 a.m. ,
http://www.bpk.go.id/ Sejarah Badan Pemeriksa Keuangan. 30 November 2006, 21:00 a.m. ,
http://www.kompas.com/ Terungkapnya Kasus Penyuapan Auditor BPK. 30 November 2006 , 21;00 a.m.,
http://www.tempointeraktif.com/ 14 Auditor BPK terima dana KPU. 30 November 2006, 21:00 a.m.
Read more ...
Tuesday, November 28, 2006

buat papa tercinta....... i love you!!!

-dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang--


oleh-oleh dari kepulangan nta ke rumah selama dua hari (tepatnya nta cuma 20 jam di rumah dari waktu 40 jam di Tegal)


perjalanan tegal-purwokerto kali ini cukup melankolis.....gurat wajah papa saat nta berpamitan begitu menghantui pikiran ini.....beliau tak tau tekad yang sudah kutanamkan dalam hati.........

buat papa..........nta kasian ngliat papa...papa pasti sedih punya anak kayak nta... pastilah papa pengen kayak orang lain yang punya anak gadis seanggun boneka barbie....nggak macem-macem..nggak neko-neko...
nta terima kalo mungkin papa pernah menyesali punya anak gadis kayak nta... nta minta maaf pa...karena telah menjadi bagian hidup papa dan membuat papa pusing... itu semua nta lakukan SUNGGUH nggak bermaksud nta menyakiti papa.......mungkin nta terlalu egois...dan nta terima kalo emang papa menyesali adanya nta......
nta emang bukan sosok anak gadis yang didambakan setiap ortu...nta bukan sosok gadis yang seanggun barbie...yang selalu tenang dan nggak neko-neko....atau nta mungkin bukan sosok "akhwat" yang selalu anggun dalam langkahnya...tidak neko-neko ikut aktif berbagai kegiatan....yang selalu kalem dan rajin ikut liqo....yang tenang di rumah/kos-kosan...yang nggak pernah macem-macem............
nta cuma cewek yang...yeah...mungkin "aneh", nyleneh, perfeksionis, selalu neko-neko, macem-macem, ngrepotin........
yeah...maafin nta buat semuanya aja yang udah ada hadir dalam episode hidup nta. Begitu bodohnya nta hingga nta baru manyadri bahwa nta adalah sosok yang susah dimengerti dan hanya merepotkan saja....
Oke, baiklah...mungkin kini lah nta akan mulai titik tolak untuk Independensi Diri...nta nggak ganggu kehidupan kalian.....nta break dulu dari kehidupan kalian (papa....keluarga...juga orang terdekat nta)...entah apa yang akan nta dapatkan di luar sana...nantinya...sendiri...tanpa kalian.........
tunggu saja nanti....nta mohon pamit..........................doakan nta!!!

ini sebuah artikel dari seorang aa' yang nta pengen kutip....cuma sebagai pelengkap aja.......

Tidak harus Patuh pada Orang Tua
“Keridloan Alloh terletak pada keridloan orang tua, dan murka Alloh juga ada pada murka orang tua.” itulah Muhammad yang menjadi bagian dari risalah kerosulannya. “Birrul Walidain” menjadi prasyarat mencapai keridloan Alloh. Beruntunglah Muhammad yang tidak sempat menyakiti kedua orangtuanya.

Sekali pun Aminah Abdi Manaf dan Abdulloh ibnu Abdul Muttholib hidup, rasanya tidak akan sampai anak sebaik Muhammad –dalam berbagai buku sejarah kenabian- menyakitinya. Wallohu a’lam bisshowaab..!

Berbuat baik pada orang tua untuk mencapai ridlo Alloh bukan berarti harus patuh ‘bulat-bulat’ kepadanya. Kita juga manusia, begitu juga orang tua yang melahirkan dan membesarkan kita. Sesama manusia pasti memiliki bagian realitas yang berbeda. Sehingga di suatu saat akan terjadi perbedan dan perdebatan dengan mereka. Tapi, perdebatan dengan siapa pun bisa kita kemas dengan lebih cantik. Termasuk ketika berbeda pendapat dengan orang tua.

Berbeda pendapat dengan orang tua bukan berarti harus mengakhiri segalanya. Siapa tahu orang tua kita belum tahu realitas yang kita hadapi? Barang kali mereka punya pengalaman yang berbeda dengan kita. Yang pasti, orang tua memiliki perbedaan usia yang sangat jauh dengan kita. Ragam pergaulannya juga pasti berbeda. Bayangkan, orang tua kita memiliki masa muda ‘rata-rata’ 20 tahun lebih tua daripada kita sekarang!

Bisa jadi, sang ayah mempunyai pengalaman buruk semasa mudanya atau ibu memiliki pengalaman yang berbeda dengan ayah. Hal ini bisa menentukan pola didikan yang berbeda. Kita berbeda pendapat dengan ayah. Sementara ibu mendukungnya. Atau sebaliknya yang terjadi. Bagaimana kita bisa menyikapi perbedaan dua orang yang keduanya wajib dihormati?

Makanya, Alloh tidak memerintahkan kita untuk patuh kepada kedua orang tua. Kita hanya diwajibkan untuk berbuat baik kepada mereka, termasuk dalam berkata-kata. Perbedaan pendapat dengan orang tua bisa disiasati dan tidak harus dengan mendholimi mereka. Karena jika orang tua murka, murka Alloh turut serta bersamanya. Bagaimana dengan orang tua yang gampang “murka”?

Jika ada ungkapan, “sebuas-buasnya singa masih mau memberi makan anaknya”. Sama halnya dengan manusia. Manusia pasti menyayangi anaknya. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia dan mendapatkan sesuatu yang terbaik. Cinta dan kasih sayang orang tua terkadang bisa berwujud belaian, memenuhi apa yang diinginkan anaknya, sampai memaksa anaknya memilih sesuatu agar mencapai kebaikan.

Masalahnya, tidak semua orang tua bisa bersabar dalam mengarahkan anak-anaknya. Sebuah contoh, dalam urusan menentukan perguruan tinggi dan jurusan yang dipilihnya. Orang tua terkadang terobsesi dengan kesuksesan anak orang lain yang menjadi dokter, sehingga mengingikan anaknya masuk fakultas kedokteran. Si anak sudah tidak punya pilihan lain untuk berusaha memilih selain pilihan orang tua. Padahal potensinya bukan di bidang kedokteran.

Realitas orang tua adalah realitas obsesinya karena melihat anak orang lain sukses. Sementara anaknya berada dalam realitas cita-cita dan potensi yang dimilikinya. Orang tua kuat dalam mempertahankan diri sebagai pihak yang sudah banyak pengalaman hidup dan makan ‘asam-garam’ kehidupan. Tapi si anak menyadari potensi dan sesuatu yang diinginkan dalam meraih masa depan. Ikut orang tua berarti memupuskan cita-citanya sendiri. Sedangkan jika teguh pada pendiriannya, orang tua berujung pada marah karena anaknya tidak mengikuti kemauannya.

Senjata kemurkaan mulai terangkat dan membunuh potensi anak dengan alasan cinta dan kasih sayang. Padahal satu cita-cita telah terbunuh dalam paksaan obsesi orang tua. Potensi hidup anak mati termakan keinginan orang tua yang menjanjikan kebahagiaan.

Subhanalloh.., Bersyukurlah jika kamu dipertemukan dengan orang tua seperti ini. Kamu diberi ujian yang sudah kamu mengerti. Teruslah berbuat baik kepada orang tua dengan kesabaran, hingga mereka luluh dengan kebaikan. Selama itulah kamu harus menunjukkan kesungguhan untuk memperjuangkan cita-citamu. Bukankah kamu hanya diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka? Apa yang kita cita-citakan akan diridoi Alloh jika orang tua kita meridloinya. Ridlo orang tua sampai kapan pun hanya bisa dicapai melalui “bil walidaini ihsanaa”.

January 20, 2006 in Genius School | Permalink
Read more ...
Friday, November 24, 2006

enough

yeah..cukup dulu lah...perlu di-pause....

nta capek..........................


see you.....


makasih ya....
Read more ...
Thursday, November 16, 2006

SUKA DUKA 15 SANDERA



Mading kampus sastra Unsoed pagi itu lumayan riuh, banyak anak-anak 06. Tadinya nta kira ada pengumuman dosen-dosen yang minta cuti githcu…(ngasal!!!) tapi ternyata bukan. Keriuhan itu ternyata disebabkan postingan (aduh kok kayak di blog)..ehm…mungkin lebih tepat tampilan foto-foto waktu PROSA (Proses to Optimaze Student Ability) alias Ospek dan juga foto-foto waktu makrab.
“Wah….lecek banget kau Shin!!!” sialan dikata baju apa lecek. Tapi emang sieh beberapa foto nta terlihat culun and kucel banget apalagi foto yang pas makrab di Baturaden. Jujur nieh sebenarnya malu banget foto parno itu dimuat. Tadinya nta juga ogah posting di blog. Tapi, dibalik kekucel tampang nta di foto, ada cerita dan kenangan yang cukup berkesan saat makrab.
Siang yang terik di dua September 2006, beberap truk Dalmas membawa ratusan siswa baru menuju obyek wisata Baturaden. Yupz, setelah “menderita” dalam pemeloncoan, kini akhirnya kini tiba saatnya untuk santai-santai.
Rangkaian OSPEK yang bertajuk “PROSA” ntu emang dijadwalkan di Baturaden dengan nama acara MAKRAB-malam keakaraban-. Yang namanya malam keakraban udah nggak ada marah2an lagi….begitu kata kakak-kakak panitia.
Yeah…..emang seru kok acaranya.
Tibalah saatnya di puncak acara di malam keakraban. Ditengah suasana yang teramat sejuk sampe menggigil pisan….di lapanga depan sebuah villa tempat kita menginap, malam itu begitu riuh. Benar-benar full keceriaan deh!!!nggak usah nta ceritain, semuanya pasti udah tau.
Tiba-tiba ditengah keceriaan itu, terjadi sebuah insiden yang cukup membuat semua peserta makrab diam sejenak. Shitt…ternyata KOMDIS (Komisi Kedisiplinan) keluar dari sarang bagai macan lapar…dengan acting marah-marahnya. Kita cukup sebel…apalagi kalo inget janji panitia yang nggak ada bentak-bentakan lagi selama makrab. Keributan antara peserta dan KOMDIS pun tak terelakan, lumayan tegang (yeah…kuakui lihai juga yang buat skenario). Ending dari skenario itu adalah, KOMDIS meminta beberapa peserta makrab yang dianggap “bermasalah” untuk menuju lantai atas villa. Lima belas anak tertera dalam “black list”. Mereka adalah : Ragil, Bowo, Abe, Bayu, Sandy, Riza, Galih, Kurnia “Nardji”, (dua cowok lupa nam aslinya), Lia, Kadek, Unik, Dian, dan…..Nta!!!
Jujur…walaupun waktu ntu tau Cuma boong2an tapi cukup deg2an juga pas tau nta ada dalam “black list” . Pasalnya nta waktu itu bawa hp..sedangkan dalam salah satu peraturan makrab dilarang bawa hp. Tapi nta udah menyembunyikan dengan seaman mungkin. Yeah….akhirnya lima belas “sandra” itu dengan tatapan ratusan teman-teman peserta lain, digiring menuju lantai dua villa.
Sampai diatas kita disuruh duduk pada kursi yang telah ditata sedemikian rupa membentuk lingkaran 15 kursi “panas”. Ternyta setelah kita dibiarkan tegang selama beberapa menit, diungkapkanlah alasan kenapa kita semua dijadikan sandera. Kita berlima belas adalah kandidat ketua angkatan yang malam itu akan digojlok. Sempet ngedumel dalam hati sieh…ketika tau hal itu. Pinter juga kakak-kakak itu buat kita deg-degan. Udara baturaden yang begitu dingin (apalagi kalo malem…Brrr….) sampai nggak terasa (boong dink…he..he..dingin kok…Cuma beberapa saat terlupa sama dingin gara-gara takut ..he..he..)
So, selama semalam full, 15 sandera tidak bisa tidur. Kita digembleng dengan macem2 hal. Selama satu malam itu kegiatan kita adalah stretching, diskusi, dan debat. Macem2 topiknya. Kita dibimbing oleh lima (sebenernya banyak..tapi yang inti Cuma lima) senior…mas Supri (Presiden Hima Inggris), mas Benta (organisatoris), mbak Yunika (idem mas Supri), mas Ghayul (aktivis Pers Kampus), dan presiden HIMA Mandarin (nta lupa namanya…he…he…junipr yang nggak baik ya…). Wuah….pokoknya kita ber-15 itu benar-benar digembleng dan “dicekoki” dengan idealisme khas mahasiswa. Dalam semalam itu kita dikasih tahu segala hal, dari mulai “ayam kampus” sampai “birokrat kampus”…pokoknya dari A-Z lah …..
Sebenernya agak sedih juga harus disandera kayak gitu…jadi nggak bisa ngikut outbond, dan kegiatan seperti teman-teman lain. But, di balik bui penyanderaan, ada kisah manis disana. Mungkin karena kita merasa senasib, kita menjadi kompak. Kita memang diarahkan untuk menyatukan visi dan misi. Kita jadi kenal watak satu sama lain. Dan itu membuat kita semakin kompak karena kita saling mengisi satu sama lain. Nggak bakal lupa deh…debat-debat bareng temen-temen sesama sandera itu. Halo Bowo….yang selalu dengan gaya “rocker”nya…bayangin dia presentasi hasil diskusi masih dengan simbol-simbol “rocker”nya ….(gue demen gaya loe!!!)….Nggak lupa deh sama paduan suara “dengkuran” tidur sesaat para sandera cowok…..(waktu itu kebetulan sempet lampu mati dan dimanfaatkan buat bobo…tapi Cuma sebentar….)
Yang pasti….kita menjadi kompak…menjadi seperti bertanggungjawab pad kondisi PSBS…kampus sastra tercinta… Shinta inget tekad terakhir kita…bahwa siapapun yang terpilih jadi ketua angkatan…..kita semua tetep satu…untuk mengemban amanat dari temen2 06…..(cie….heroik banget ya???he..he..he..). Ohya sempet kelupaan, 15 sandera itu dipilih ternyata dari pengamatan selama OSPEK, kita merupakan anak-anak terpilih karena kekritisan lho (cie…narcis dikit gpp donk). Eh, Nta juga jadi peserta teraktif dan terkritis lho (he..he..kumat deh narcisnya…lumayan lho…dapetgift beberapa voucher makan and salon, :P )
Penyanderaan itu berakhir di pukul 10 pagi. Nggak selesai sampe disitu, karena dari hasil penggemblengan akan diambil tiga besar untuk melakukan kampanye. Dari penggemblengan itu ternyata menghasilkan hasil kognitif dengan nominal nilai. Dan tiga besar itu…secara urtadalah : 1.Nta, 2.Abe, 3.Dian. wuih….gila….nta kaget juga….(walau ini udah diprediksikan sebelumnya sama temen-temen). Maksudnya tanpa prepare apa-apa nta harus dihadapkan dengan situasi kampanye. Deuh…bayangin, nta dengan tampang kucel semaleman nggak bobo, belum mandi dua hari, harus kampanye di depan peserta makrab yang jumlahnya ratusan…juga senior-senior yang lain.
Emang nggak bisa nolak…akhirnya tiga sandera menduduki kursi panas. Panas…karena emang outdoor dan matahari tampakanya tak segan-segan menyinari muka bumi (cie…). Giliran pertama Dian, kedua Abe, dan ketiga Nta. Hemh……..nta nggak bisa kasih penilaian gimana kampanye nta..ntar dibilang narsis lagi!!(emang!!!he..he..). Yang pasti, session tanya jawab ketika giliran nta kampanye….tiga session habis terkuras!!!malah ada yang pengen nanya tapi nggak bisa….. Entahlah…tapi yang pasti waktu nta mengeluarkan jurus supaya nggak kepilih. Bukan apa-apa…nta ngrasa nta belum mampu buat mengemban amanah ini. Jabatan di beberapa organisasi yang belum sempet nta lepas di luar kampus…menjadikan nta berfikir lebih jauh tentang ketua angkatan itu. Dan…dalam setiap pemilihan…nta selalu berprinsip Ar-Rijaluqowamunnaala nisa ……nta lebih memilih cowok untu jadi pemimpin. Karena sudah fitrah bawa Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita.
Singkat cerita, sesuai harapa nta…Abe-lah yang jadi ketua. Dalam penghitungan suara, Abe mendapat suara terbanyak…kedua Nta, dan ketiga Dian. Terimakasih buat teman-teman yang udah percaya sama kita bertiga dan nta khususnya. Tentunya tak mudah bagi kalian untuk menaruh pada kepercayaan kepada kita….aplagi kita baru beberapa hari kenal dalam OSPEK. Semoga kita yang dipercaya…dapat mengemban amanah denga baik.
Buat temen 15 sandera…sungguh kalian telah menorehkan kenangan manis di awal perjalananku di kampus sastra Unsoed. Abe, kini dia sohib deket…setiap hari ada aja yang kita diskusikan………..juga Dian dan yang lainnya……. Mungkin tahun depan gantian kita yang “menyandera”..he…he… he…. Mas Supri dan senior2 laen…..makasih banget udah mau mentransfer ilmu dan pengalamannya kepada kita semua (kantin sastra pasti seru tiap harinya dengan diskusi nta bareng mas cupi..)
Sebenernya banyak hal lain yang berkesan banget dan pengen nta ceritain…tapi nta ngetik ini udah malem…udah nganttukkk..jadi diposting seadanya aja. Masih banyak cerita seru…apalgi tentang PROSA..aku masih berpikir apa perlu men-upload foto-foto culun saat nta harus pake 10 roll di jilbab, dengan cup shower…dengan dot…foto nta saat dihukum karena telat dateng, foto nta bareng temen2 yang parno abiz!!! Yeah…liat aja nanti. Yang pasti Ayodya selalu penuh warna…penuh ceria…penuh segalanya (tapi nggak panuh doku nieh…he..he..he..) makanya pantengin teruzz cerita-cerita dari Ayodaya (ehem…ada yg lagi promo blog nieh!!).
Liburan akhir tahun nanti, nta pengen ke Jogja, mungkin bisa buat ajang ngumpul 15 sandera tuh. Tapi…nta takutnya malah di perjalanan debat macem2 malah nggak jadi rereshing deh…..



Grendeng, 16 November 2006…ditengah gerimis.
-nta-
--keep Allah in our heart—
Read more ...
Saturday, November 11, 2006

Kisah dibalik jilbab



Namanya Cecep. Entah nama aslinya Asep atau emang cecep. Teman-teman biasa memanggilnya Encep. Sunda tulen euy....... Asalnya dari Prancis alias prapatan ciamis. Teman sekelasku di sastra Inggris. Penampilannya cukup keren dengan rambut direbonding dan postur tubuh yang jangkung. Tampang lumayan cakep walaupun kalo lagi nongkrong di kantin dia selalu bersenandung “Kapan kupunya pacar......” . Seperti ikon iklan rokok, Nggak ada loe nggak rame. Cecep salah satu penggembira kelas. Setidaknya kita akan terhibur saat ia harus terpaksa manjawab pertanyaan atau maju bahasa presentasi in English.
Upz, sori jadi agak ngelantur.Suatu pagi di depan kelas menunggu Miss.Ika yang tak kunjung hadir, seperti biasa anak-anak kelas praktikum writing termasuk nta kongkow-kongkow di depan ruang 5 (kalau nggak salah, soalnya sampai saat ini nta belum hafal ruang-ruang kampus..he..he..). Saat asyik bercengkerama, dari arah timur terilhat sosok ayu yang kita kenal sebagai kakak kelas yang lumayan galak pada saat ospek. Dengan jilbab hitam (kalo nggak salah), hem dan celana jeans, ia berjalan melewati tempat kita bercengkerama. Waktu itu Encep sedang berdiri santai. Ketika sang kakak kelas yang galak itu melewati Encep, entah kenapa tangan Encep reflek menepuk (maaf) pantat sang kakak kelas yang memang terlihat seksi (apalagi kalo kata laki-laki). Seketika sang kakak kelas itu risih. Namun tampaknya ia tak bisa beraksi panjang mengingat waktu itu ia sendirian dan melihat kita yang bergerombol . Sang kakak kelas itu hanya bisa mengumpat keras “Eh loe pagi-pagi jangan bikin ribut ya!!!”
Kita tadinya nggak mengerti ada apa, so langsung tanya pada yang bersangkutan. Ketika ditanya ada apa, encep dengan santai menjawab
“Nggak ada apa-apa , gue Cuma tepuk pantat dia doang”. Di kemudian hari ia menyambung jawabannya dengan “yang suruh pake celana ketat siapa................”
Klasik memang, tapi cukup membuat aku memberikan penilaian yang simpatik pada Encep. Bukan ku setuju pada sikapnya. Namun aku pun bingung apakah ia orang yang menghargai wanita atau justru sebaliknya. Karena lepas dari itu, Encep adalah orang yang kukenal sopan, selalu menyapaku terlebih dulu dan memberikan senyum termanisnya. Kata-katanya jika berbicara denganku juga menggambarkan bahwa ia menghormati dan segan pada wanita. Entahlah.....ia aku nilai cukup sopan, atau hanya untuk aku???(deuh....enough lah GR-nya!!!he..he..he..)
Sebuah kisah yang cukup menjadi pemicu obrolanku dengan seorang ukhti tentang jilbab. (ini baru mau masuk cerita intinya.....)
Berbicara tentang jilbab pasti menarik. Apalagi kalau menilik kisah yang melatarbelakangi seseorang yang pakai jilbab. Akupun punya kisah tentang itu. Entah menarik atau tidak...yang pasti kisah ini merupakan kisah yang berkesan dalam hidupku.
Enam tahun yang lalu, sosok Shinta teramat jauh berbeda dengan sekarang. Sosok gadis kelas 1 sebuah SMP favorit (cie...) yang sangat tomboy. Rambutku tak pernah melebihi bahu (beda banget sama sekarang bo!!!). Teman karibku saat itu Fefi dan kiki (bahkan aku masih ingat pak Zuhri menyebut kami sebagai tiga serangkai). Shinta pada saat kelas I SMP adalah sosok yang energik, tomboy, dan tentu saja bandel. Tiap event pertandingan voli antar kelas, lapangan belakang tak pernah kehilangan teriakan seorang shinta. Walaupun tak bisa lihai bermain voli (karena aku terbilang kurus).....tapi nta selalu ada di pinggir lapangan untuk menjadi suporter sejati. Kayaknya lebih seru suporternya deh daripada pemainnya..he..he... Pokoknya Nta dulu anak yang bandel (sekarang masih bandel nggak?).
Ok, trus kapan pake jilbabnya shin??/(he..he...sori jadi ngelantur...)
Ketomboi-an itu mengalami titik balik saat nta duduk di kelas 2 SMP. Saat itu karakter nta mulai keluar yaitu bahwa nta adalah orang yang mudah bosan. Nta bosan dengan teman-teman yang suka berbicara keras. Nta bosan dengan adegan bolos2an atau lari dari razia ketertiban. Nta bosan dengan berhura-hura. Tibalah saat Ramadhan, nta merasa iri karena ramadhan tahun sebelumnya papa mengikutkan mas Ardan pada sebuah kegiatan pesantren selama satu bulan. Nta yang pada dasarnya memang manja, menuntut untuk seperti itu walaupun nta sendiri waktu itu tak yakin apakah bisa mengikuti atau tidak. Akhirnya kutemukan sebuah brosur kegiatan basic training Pelajar Islam Indonesia. Emang nta nggak bisa ikut pesantren seperti kakak soalnya waktu itu kalo nggak salah tidak ada lagi kebijakan pemerintah yang meliburkan ramadhan satu bulan penuh.
Yeah...dengan motivasi mencari kegiatan liburan yang beda (jiwa petualanganku sangat mendominasi keputusanku mengikuti kegiatan BATRA itu), kudaftarkan diri sebagai peserta BATRA yang waktu itu berlokasi di SMP N 7 Tegal.
Aku seperti anak hilang disana. Kegiatan yang benar-benar “baru” bagiku. Bahkan di kemudian hari mbak Yuni (kakak kelasku di SMP dan seniorku di PII)mengakui kesangsiannya pada saat tahu aku ikut BATRA. Katanya “ Aku nggak percaya shinta ikut BATRA, shinta itu di mataku anak yang menjeng.....berandal....bla..bla.....bla..”. Ok, yang pasti salah satu alasanku ikut juga ingin mengenal organisasi PII (kalo tentang organisasi, jangan salah ya...sejak kelas satu SMP, aku udah jadi organisatoris,hari2ku dulu sudah sibuk dengan : karate, teater, tari, etc...he..he..sori sedikit narsis!!!)
Satu hal yang cukup berkesan adalah saat session materi. Seorang shinta yang terbiasa “vokal” kini diam membisu tak dapat bersuara ketika berdiskusi “apa itu agama “ (hal ini kemudian menjadi pencarianku hingga SMA), “Kenapa Islam ?”. Nta memang ngaji, bahkan jumlah khatamku dulu lebih banyak dibanding sekarang, he..he..he.. Nta emang selalu sholat, bahkan nta yang lebih sering bangun Shubuh duluan dibanding mas Ardan (makanya kebiasaan sampai sekarang...yang suka nta miscall-in kalo Shubuh pasti mengiyakan..he..he...). Tapi, nta bingung kenapa nta nggak tahu apa itu Islam, Allah, etc. Shinta emang ngaji, tapi ketika dihadapkan kepada sebuah diskusi yang menjadikan Al-Quran sebagai rujukan (pada diskusi ntu selalu menelaah adlil-dalil aqli dan naqli), nta hanya bengong seperti kambing ompong...........................Ah, entahlah...yang pasti aku waktu itu merasa sangat bodoh!!sangat kerdil!!!
Perasaan itu terus terbawa hingga usai Ramadhan. Dan entah kenapa, aku merasa terbayang2i, terkejar oleh suara jiwaku yang mengatakan “kamu Islam bukan??kamu Muslimah bukan???” Monolog jiwaku yang akhirnya bemuara pada sebuah keputusan untuk berhijab. Papa hanya menganggap itu sebagai angin lalu saat aku mengutarakan niatku, tak beda dengan mama. Aku Cuma ingat kata-kata mas Ardan : “kalo emang udah niat..ya udah nggak usah tunggu persetujuan.....itu kan urusan pribadimu....”
Yeah...akulah yang harus menentukan sikap. Seperti yang sudah kuinginkan..... 25 Mei 2001 (kalau nggak salah tahunnya segitu).....tepat di hari ulang tahunku...(maaf teman2ku yang sudah kecewa karena akan menyiramku dengan tepung dan telur di hari ultahku saat itu).....lahirlah seorang shinta yang baru. Dengan langkah mantap kukenakan penampilan baruku. Ucapan selamat yang bertubi-tubi datang dari para “akhwat” (yang kemudian hal itu aku sesali karena ternyata hanya sebuah euforia).
Tentang jilbabku, banyak kisah pula. Salah satunya dengan “bentuk” yang kukenakan. Tadi malam, seorang ukhti sepertinya ingin “mempengaruhiku” untuk mengenakan gamis, jilbab lebar, atau semacam itulah.
Shinta yang sekarang memang bukan seorang akhwat jilbab gedhe, yang selalu mengenakan gamis atau sejenisnya. Nta adalah orang yang berprinsip “jilbab yang menutut dada, rok sebagai tanda feminitas, dan baju casual” itu saja. Bukan berarti aku tak mengerti akan jilbab lebar. Nta pernah merasakan semuanya.
Mungkin bingung dengan kata-kata “semuanya”. Ya, Nta pernah menjadi sosok akhwat berjilbab lebar.....bahkan lebar sampai pantat, dengan baju yang cukup untuk dipakai dua orang, tapi shinta pun pernah merasakan menjadi “ikhwit” dengan jilbab terbelit dan celana jeans yang modis.
Pencarian jati diri...mungkin!!! Yang pasti jilbab lebar pernah kurasakan hingga pernah bermasalah dengan guru saat menjelang kelulusan. Berubah 180 derajat saat nta lebih asyik dengan kegiatan-kegiatan alam, dengan kegiatan-kegiatan yang energik, yang membuat nta merasa lebih nyaman memakai celana. Namun, itu hanyalah alasan kekanak-kanakan.
Nta menemukan jawaban bahwa bagaimanapun jilbab itu digunakan itu hanyalah sebuah kultur. Tak ada hadits ataupun ayat AlQuran yang menyatakan jilbab lebar berarti kualitas imannya lebih tinggi daripada yang tidak.
Sekali lagi itu hanyalah sebuah kultur, sebuah budaya. Alhamdulillah nta diberikan kesempatan untuk melihat berbagai pengalaman secara langsung. Nta pernah mengecap kehidupan pesantren salaf tradisional dimana para santri putrinya tidak pernah bertemu cowok sama sekali dan jilbab yang ia kenakan adalah hanya dengan kain kerudung yang dipakaikan secara simple ddengan salah satu sisi dibelitkan. Namun mereka menggunakan baju longgar. Nta pernah kenal lebih dalam dengan muslimah-muslimah bercadar, nta pernah satu group dengan seorang seniman foto yang pernah berungkap “Aku tiap hari melihat wanita dengan pakaian yang aduhai seksinya..tapi aku tak nafsau...tapi aku tetap laki-laki sejati yang punya birahi....jadi tak ada bedanya yang pake baju longgar ataupun sempit”(dia salah seorang teman di TIM, uf...aku kangen nieh sama temen-temen di Jakarta), aku pernah berbincang jauh dengan akhwat yang secara penampilan “ikhwah”, namun kemudian ia mengaku kepadaku “mbak itu kalo masalah ngaji sebenarnya Cuma pas-pasan, tajwid juga udah lupa, apalagi kalo masalah mad” (dan itu kujumpai beberapa kali pada orang lain). Nta juga pernah berlebaran di stasiun kereta api (waktu itu acara pramuka), dan mendengar curahan hati seorang anak dari keluaraga miskin yang ia juga ingin berjilbab tapi apa daya.....jilbab pun mahal!!!
Dan masih banyak lagi pengalaman-pengalaman yang kutemui di luar sana. Pengalaman-pengalaman yang membuatku berfikir...Dan hasilnya seperti yang bisa dilihat......
Aku tak mau ketika aku memutuskan sesuatu untuk diriku.....adalah sesuatu yang merupakan imbas sebuah “pengaruh” dari orang lain. Aku adalah apa yang aku pikir.........aku harus punya argumentasi jelas saat aku menentukan sebuah sikap...apalagi itu tentang diriku.Karena Aku adalah aku..................
Sekali lagi, tentang rupa jilbab itu hanyalah sebuah kultur. Coba saja tengok bagaimana bentuk jilbab di luar negeri sana...... Yang pasti aku tak suka pada sebuah keidentikan jilbab lebar adalah sebuah kebenaran. Itu kembali pada situasi kondisi.... (tentu saja aku nggak bisa berenang dengan pakaian yang gombrong seperti itu....aku nggak bisa repeling dengan jilbab hingga pantat)... Tapi yang pasti aku memang nggak suka pada jilbab diikat dengan baju seksi....dengan celana seksi.....atau bahkan celana biasa sebenarnya aku kurang suka...itu bukan pakaian wanita (makanya satu hal yang ingin aku protes pada putri Indonesia, adalah kenapa ia mengenakan celana jeans pada beberapa event publik).......
Yang pasti buat temen-temen muslimah, cewek itu tanpa mengenakan baju dan celana seksi.....kita itu tetep seksi lho!!!Jangan salahkan cowok ketika mereka kurang ajar pada kita saat kita mengenakan pakaian yang mengundang gairah... ingat saja kisahku tentang Encep......
Ok, i think enough....
Moga kisah nta bisa bermanfaat ....and nta pun selalu menjadikan story ini sebagai sebuah stimulan pemikiran dan evaluasi diri.......................

Buat Acep/Encep/Cecep....haturnuhun pisan...
Buat seorang ukhti doakan agar qu selalu istiqomah


Grendeng, 11 Nov 2006
-nta-
--keep Allah in our he
Read more ...

SENIMAN DAN KEMLARATAN





“...terimalah sebuah persembahan
dari kami seniman jalanan.......
kami menyanyi demi sesuap nasi..................”

Kira-kira seperti itulah cuplikan syair yang kerap kali kita dengar sebagai penghibur di sela-sela perjalanan di atas bus kota. Dengan bermodalkan bilahan bambu dan ban bekas, gaya mereka tak kalah dengan para drummer band-band ibukota. Tak lupa gitar tua dan kecrekan dari tutup botol turut serta mewarnai dan bersahutan dengan suara sumbang sang vokalis. Tembang-tembang yang dibawakan cukup veriatif. Hanya dengan beberapa koin uang receh, kita bisa menikmati lagu-lagu terbaru dari Ungu, Didi Kempot, atau bahkan Raihan.
Cuplikan syair yang dikutip di awal tulisan ini adalah salah satu bait “mars” pengamen. Tergambar jelas dalam syair itu, visi dan misi mereka menjadi pengamen. Kegiatan yang sudah menjadi profesi yang dilatarbelakangi oleh kemisikinan, satu kosakata yang tak asing lagi di negeri ini. Negeri kita memang Gemah Ripah Loh Jinawi, banyak sampah dan kurang gizi. Negeri zamrut khatulistiwa yang dicintai oleh bencana. Negeri agraris yang oenuh tangis. Bukan berarti menjelek-jelekan bangsa sendiri. Nasionalisme tetap ada di jiwa ini. Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan uang di negeri orang, lebih baik mati disini karena tsunami daripada hidup di ujung kutub. Mungkin begitu peribahasanya.
Kembali pada diksi kemiskinan, merupakan salah stu substansi kekayaan di negara kita. Tiap tahunnya Indonesia harus mengalokasikan anggaran untuk pemberantasan kemiskinan karena sudah kepalang tanggung terikat janji dengan pasal 34 Uud’45 bahwa : Fakir miskin dan anak terlantar dilindungi oleh negara.............” Ya, negara kita memang melindungi orang miskin baik itu miskin harta ataupun miskin moral. Walaupun sebenarnya, kemiskinan (dalam hal materi) tidak dapat lenyap dari kehidupan ini. Adanya miskin karena adanya kaya. Dua hal yang saling mengisi. Itu sudah sunatullah.
Berbicara tentang kemiskinan, menjadi miskin itu ternyata susah. Sama susahnya dengan menjadi kaya. Lihat saja orang-orang yang sibuk berebut untuk memenuhi kriteria sebagai orang miskin supaya bisa mendapat kucuran dana BLT dari pemerintah. Sebuah usaha yang melelahkan demi beberapa lembar rupiah.
Menjadi miskin memang susah. Setidaknya keberanian dan seikit ilmu acting harus dikuasai apalagi untuk orang-orang miskin yang memilih mengemis sebagai “jalan hidup”nya. Walau terpaksa, mau tak mau harus diakui bahwa pengemis merupakan sebuah “profesi”. Para pengemis itu adalah aktris dan aktor jalanan. Entah didikan dari sanggar teater mana. Yang pasti cukup melelahkan juga bahwa setiap harinya mereka harus meluangkan waktu 1-2 jam untuk “make over” atau bahkan menciptakan “kreasi” borok atau luka di sekujur tubuh. Akting mereka cukup mempesonan bahkan dandanan mereka pun tak kalah dengan perias-perias artis. Sentuhan make up mereka lebih orisinil. Mungkin ini yang disebut sebagai kreatif => kere aktif => semakin kere semakin aktif.
Namun orangn miskin juga punya idealisme. Mereka punya prinsip. Seperti halnya para pengamen jalanan itu. Mereka berprinsip lebih baik mengamen daripada harus merampok. Pengamen juga punya prinsip walaupun hina tapi pantang untuk meminta-minta. Suatu keteguhan yang perlu diteladani dan dihargai. Kenapa Indonesia tak menjadikan pengamen-pengamen itu sebagai pejabat negara saja? Daripada negara ini dikelola oleh orang-orang yang berorinsip tak kenal malu. Yang lebih mempertaruhkan harga diri demi sesuap nasi dengan tindak korupsi. Hidup pengamen!!! (sebuah ikon emosonal yang cukup khas di Indonesia ketika mengelukan sesuatu)
Sebuah kata yang cukup enarik dari bait syair diatas, sebuah penunjukkam identitas pengamen sebagai seniman. Tepatnya seniman jalanan. Lepas dari ke-arbriter-an kosakata “seniman jalanan”, mungkin ada baiknya kita ingat –ingat tentang kata seni dan seniman.
Ketika berbicara seni, kita tak lepas dari estetika, keindahan, atau padanan kata yang lain. Sedangkan seniman adalah pelakunya. Seni sbuah hal yang sangat subyektif walau ke-subyektif-an akan seni kerap kali menjadi masalah. Apalagi jika dihadapkan pada sbuah hal yang prisipel.
Seni itu universal. Seni sebagai refleksi dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Hidup adalah seni. Maka munafik jika orang mengaku tak mengenal atau menyukai seni.
Yang menjadi sorotan disini adalah ternyata seni itu satu namnu berbeda jua. Ada yang cukup menggelitik hati ketika bahwa sudah lazim dikenalnya istilah seniman jalanan. Seniman jalanan adalah seniman yang ada di jalanan. Ada seniman jalanan ada juga senuman ruangan. Berbedakah kastanya???
Sepertnya tinggi sekali ketika harus mengaku berstatus “seniman”. Namun, pengemis-pengemis itu sudah lihai jadi aktris tanpa harus belajar pada Didi Petet, tanpa harus mengenyam pendidikan sinematografi. Pengamen-pengamen itu sudah daoat meraih oredikat “seniman” tanpa harus les vokal, tanpa harus mengenal ‘peech control’ (maaf kalu salah penulisannya).
Hal ini menunjukkan keuniversalan seni. Seni yang tak mengenal derajat / kedudukan seseorang. Seni dapat menyentuh segala kondisi. Mungkin bagi para pekerja seni itu, pasal 34 telah berganti redaksi menjadi “Fakir miskin dan anak terlantar dilindungi oleh seni.......”
Yang memiriskan adalah apresiasi-nya masih bernilai prestise. Masih mengenal kesenjangan sosial. Ketika seorang pengamen bukanlah Donny “Ada Band”, maka tak perlu ada event organizer yang mengelola road show-nya. Cukup dengan sekeping uang recehan, itupun kadang terpaksa. Malah terkadang orang lebih baik memilih pura-pura tidur. Padahal sekeping recehan untuk pengamen lebih berarti daripada puluhan ribu yang dikeluarkan untuk selembar tiket konser Radja. Sekeping uang recehan untuk para aktor jalanan daripada harus berjubel untuk menjadi penonton perdana film “Kuntilanak”.Toh skenario hidup para pengemis lebih “orisinil” daripada film lawak hasil kreasi Rizal Mantovani itu. Lagipula, Ian Kasela tak akan melarat jika beberapa kali konsernya sepi. Namun pengamen-pengamen itu akan semakin melarat jika penumpang bis kota enggan mengangsurkan recehan. Mungkin ini maksud dari “Yang kaya semakin kaya yang mlarat semakin mlarat”. Bagaimana Indonesia mau kaya kalau kepedulian masyarakatnya masih miskin???
Pengamen-pengamen itu hanya bisa bersenandung :
“Sekeping uang anda tidak membuat kami jadi kaya
atau membuat anda miskin tiba-tiba...............................”

Grendeng, 10 Nov 2006
--teruntuk para pekerja seni jalanan—
Read more ...
Tuesday, November 07, 2006

Jim Hawkin's Adventure



PETUALANGAN JIM HAWKINS
(resensi dari novel Treasure Island karya RL. Stevenson)
Disusun untuk memenuhi tugas ujian tengah semester mata kuliah Book Report, jurusan sastra Inggris ‘06 PSBS Unsoed

Kisah ini terjadi pada pertengahan abad ke-18, tepatnya di tahun 1756. alkisah seorang pemuda, Jim Hawkins yang tinggal bersama keluarganya di desa kecil di Inggris bagian tenggara. Jim Hawkins sekeluarga memiliki sebuah losmen kecil yang bernama “Admiral Benbow”.

Suatu hari, seorang pengunjung datang untuk menginap. Kepada Jim ia mengaku sebagai Kapten Flin’t. konon, berdasarkan cerita-cerita para pelaut, Kapten Flint adalah seorang bajak laut yang populer dan terkenal akan kekejamannya.

Suatu ketika, seorang tak dikenal datang dan mencari Kapten tersebut. Rupanya ia memang sudah lama mengincar sang Kapten. Kemudian, mereka (Kapten dan orang tak dikenal) bertikai yang berakhir dengan tewasnya Kapten. Ketika menjelang ajalnya, Kapten berpesan kepada Jim tentang sebuah kotak.
Ketika Jim dan Ibunya membuka kotak yang dimaksud oleh sangn Kapten, ternyata di dalamnya ada sebuah kertas. Kemudian Jim dan Dr. Livesey (Dokter yang merawat ayah Jim sebelum meninggal), membawa kertas itu ke Squire John Trelawney. Squire Trelawney adalah seorang saudagar kaya di kota yang mengerti mengenai hal-hal yang berkaitan dengan bajak laut. Dari Squire Trelawney, Jim baru paham bahwa, sang Kapten yang menginap di losmennya itu ternyata bukanlah Kapten Flint seperti yang diceritakan. Kapten Flint sendiri telah tewas di Amerika utara setelah dua puluh tahun he berlayar dan membunuh banyak orang. Ia adalah seorang yang kaya raya saat tewas. Namun, tak seorang pun yang tahu apa yang terjadi dengan semua hartanya. Dari Squire Trelawney pula, Jim tahu bahwa kertas yang ia bawa adalah sebuah peta harta karun. Peta yang menunjukkan tempat disembunyikannya harta Flint.

Kemudian Squire Trelawney berencana untuk mencari harta karun tersebut. Ia menyewa kapal “Hispaniola” untuk membawanya ke Bristol tempat dimana harta karun itu disembunyikan. Tentu saja Dr.Livesey dan Jim turut serta dalam petualangan tersebut. Dr.Livesey ditugaskan sebagai petugas kesehatan dan Jim sebagai penjaga kabin. Tidak hanya mereka bertiga, Squire Trelawney juga menyewa awak kapal. Squire Trelawney sendiri bukanlah seorang pelaut. Ia menyewa Kapten Smollet untuk memimpin pelayaran tersebut. Turut serta dalam pelayaran tersebut, Long John Silver, yang bertugas sebagai juru masak.
Suatu ketika, di tengah pelayaran, secara tak sengaja Jim mendengarkan pembicaraan Long John Silver dengan salah satu awak kapal. Ternyata Long JohnSilver adalah mantan bajak laut yang dulu turut serta dalam pelayaran Flint. Kini, Silver memiliki niat jahat untuk merebut harta tersebut dan membunuh seluruh awak kapal “Hispaniola”.

Kapten Smollet dan Squire Trelawney cukup terkejut ketika mendengar cerita Jim. Mulanya, Squire tak percaya dengan apa yang didengar. Namun, kemudian ia diyakinkan oleh Kapten Smollet yang notabene mengetahui seluk beluk dunia pelayaran dan bajak laut.

Akhirnya, pelayaran mereka telah sampai di pulau yang dimaksud dalam peta. Kapten Smollet kemudian mulai mengkoordinir dan membagi awak kapal untuk yang ikut turun ke pulau dan yang tetap tinggal di kapal. Jim secara diam-diam ikut turun ke pulau.

Di perjalanan, Jim melihat dengan mata kepalanya sendiri kekejaman Long John Silver yang membunuh Tom- salah satu awak kapal yang membangkang ketika diperintahnya. Jim kemudian memisahkan diri dari rombonngan. Di tengah hutan, ia bertemu dengan orang asing yang telah menghuni pulau tersebut selama bertahun-tahun. Dia bernama Ben Gunn. Rupa-rupanya Ben Gunn mengetahui tentang seluk beluk harta karun Flint.

Sementara itu, diatas kapal, Dr.Lisevey, Kapten Smollet menyusunstrategi. Mereka pun telah mengetahui bahwa Jim turun ke pulau secara diam-diam.

Diatas kapal, mereka kemudian menyusun rencana untuk mengantisipasi tindakan dari Long John Silver. Tak dapat terelakkan beberapa pertikaian seru terjadi antara kubu Kapten Smollet dan Long Jhon Silver. Namun, pertikaian itu pun berakhir dengan perdamaian-yang diminta oleh Long John Silver karena kalah strategi- antara kduanya. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari harta karun itu bersama-sama.
Di tengah perburuan, mereka bertenu dengan Jim dan Ben Gunn. Ternyata Ben Gunn lebih mengetahui tentang harta karun Flint. Tak membutuhkan waktu lama, mereka akhirnya menemukan Hata karun Flint yang berlimpah. Harta karu itu tampak memukau terdiri dari emas dan koin-koin uang. Harta Flint memang melimpah, semuanya senilai tujuh ratus ribu pounds. Harta karun yang telah terpendam lama. Harta karun yang untuk mendapatkannya menimbulkan tak sedikit korban jiwa.

Harta karun Flints itu kemudian dibagi-bagi setelah mereka kembali ke daerah asal. Berakhirlah petualangan Jim Hawkins. Jim Hawkin kapok untuk berpetualan lagi, ia tak menyukai petualangannya berburu ke pulau harta karun, namun ia menceritakan pengalamannya untuk kita semua.







DATA BUKU
Judul Asli : Treasure Island
Pengarang : RL. Stevenson
Penerbit : Dian Rakyat-Jakarta, cetakan pertama 2003
Tebal : 64 halaman
Read more ...
Friday, November 03, 2006

prestasi di ramadhan '27


Membentuk Rahim Generasi Ibnu Sina Melalui
“ThiCreAs on Islamic library”

Sebelumnya izinkanlah sejumlah fenomena berikut mengawali tulisan ini,

Seorang dosen wanita di satu perguruan Islam, menjadi imam sholat bagi suaminya. Ini adalah pengaruh paham gender equality. Ada dosen yang berbicara di depan kelas, bahwa kita memerlukan Al-Quran baru. Menurut mereka, metode Hermeneutika sudah menjadi harga mati untuk diterapkan dalam penafsiran Al-Quran, sehingga tidak perlu digugat lagi. Ada seorang hakim agama bercerita bahwa training-training tentang kesetraan gender terus menerus diadakan untuk mengubah pemikiran mereka. Selain dilakukan di hotel-hotel berbintang, peserta pun dibayar. Fenomena westernisasi dalam pemikiran dan studi Islam begitu kental dan menggejala serta ngetrend.

Sunggu sebuah fenomena yang memprihatinkan. Hegemoni barat kini bukan hanya menonjol dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial, tetapi juga dalam pemahaman keagamaan. Sebenarnya tanpa harus melihat jauh-jauh ke luar negeri, di negara kita saja sudah tampak fenomena-fenomena memprihatinkan tersebut. Dulu, peperangan yang dihadapi umat Islam adalah perang fisik. Sejarah telah mencatat bagaimana kegemilangan kaum muslimin di medan laga yang merupakan bukti kekuasaanNya. Kini, strategi musuh mulai tergeser untuk melakukan Ghazwul Fikri. Melalui perang pemikiran, mereka pikir akan lebih efektif di era sekarang. Sebenarnya issue Ghazwul Fikri bukanlah sebuah hal yang baru dalam perkembangan dunia Islam. Namun, issue tersebut seolah menjadi tematik pada wacana-wacana yang berkembang saja dengan tindakan nyata yang masih terbilang minim.
Muncul pertanyaan, dimana para cendekiawan muslim? Diamana para aktivis yang konon katanya mengabdikan diri di jalan dakwah? Sketsa aktivis Islam tidak terlalu bagus dalam kacamata masyarakat. Jangankan untuk berdakwah masuk dalam dunia IPTEK, fenomena bahwa aktivis dakwah yang membuthkan belasan semester untuk menyelesaikan studi – masih banyak terjadi. Bukan karena bodoh memang, tapi apa perlu dibenarkan jika kesibukan untuk kemaslahatan umat dijadikan alasan? Bukankah dengan lulus tepat waktu dan IPK tinggi dapat merupakan point dakwah juga? Ini lepas dari ada juga kenyataan segelintir aktivis dakwah yang dapat mengeksistensikan dirinya di akademik. Tentang lulus ini memang hal kecil dari permasalahan yang kita hadapi. Namun, dari hal kecil-lah kita mestinya dapat belajar.
Selain itu, salah satu kelemahan dari pergerakan umat Islam, adalah masih bersifat individualis. Mereka masih berkelompok-kelompok dengan idealisme masing-masing. Padahal dalam Islam banyak wahana untuk menyatukan dan lebih mengkoordinasikan gerakan tersebut. Pada zaman nabi sendiri telah mencontohkan bagaimana masjid-masjid selain sebagi tempat sholat juga difungsikan sebagai tempat untuk menuntut ilmu dan menyusun strategi. Perlu diingan pula bahwa sebuah kebenaran yang tak terkoodinir akan terkalahkan oleh kejahatan yang terkoordinir.
Perpustakaan merupakan substansi yang bagus sekali untuk kita jadikan benteng. Kesadaran masyarakat akan peran penting perpustakaan memang masih terbilang minim. Tengok saja perpustakaan nasional yang kita miliki. Gedung mewah yang berdiri di bilangan jalan Salemba itu penuh hanya oleh orang-orang yang akan mmbuat skripsi, tesis, atau semacamnya. Apalagi jika melihat kondisi perpustakaan-perpustakaan di daerah. Sebutan „gudang buku“ tampaknya lebih tepat jika dibandingkan dengan nama pepustakaan. Lucu sekali memang jika mengetahui bahwa kesadaran akan perpustakaan muncul tiap bulan September saja di hari perpustakaan nasional.
Perpustakaan Islam sendiri sudah mulai berkembang di Indonesia. Hampiur di setiap masjid-masjid besar di Ibukota, telah dilengkapi dengan sarana perpustakaan. Sebut saja Perpustakaan Masjid Sunda Kelapa dengan pengelolaannya yang terorganisir, atau perpustakaan Masjid Cut Meutia , serta masjid-masjid lainnya. Tak ketinggalan pula di kota satria dengan Perpustakaan Fatimatuzzahra yang cukup inovatif. Tentunya tumbuhnya perpustakaan Islam kita harap bukan sekedar muncul saja namun juga berkembang. Selama ini fungsi perpustakaan kebanyakan hanya sekedar sebagai tempat sirkulasi peminjaman dan pengembalian buku. Hal itu diperparah lagi dengan koleksi-koleksi buku yang mandul.
Untuk lebih menghidupkan perpustakaan Islam perlu diciptakan sebuah sistem atau kurikulum. „ThiCreAs on Library“ dapay menjadi salah satu solusi untuk itu. ThiCreAs (Think, Created, and Archives) merupakan kurikulum untuk lebih memvitalkan fungsi perpustakaan Islam sebagai wahana yang tepat untu benteng pergerakan Islam.

ThiCreAs ini dapat kita jabarkan sebagai berikut :

Think (Perpustakaan sebagai wahana proses berfikir)
Dalam ThiCreAs, member diajak untuk melakukan follow up terhadap buku yang dibacanya. Sebuah buku diharapkan tudak sekedar menjadi pustaka saja, pembaca diharap dapat melakukan follow up. Isi buku dijadikan sebuah stimulan bagi pembaca untuk meng’anak-pinak’an isi buku. Perpustakaan bukan sekedar tempat untuk meminjam atau mengembalikan buku, tapi juga tempat untuk berdiskusi menuangkan ide-ide. Coba tengok PDS HB Jassin yang berlokasi di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Setiap hari Jumat sore, pekan kedua dan keempat, ada sebuah forum bertajuk “Meja Budaya”. Dalam forum tersebut tiap pertemuannya membedah sebuah buku dan dari setiap pertemuan akan muncul sebuah pemikiran-pemikiran baru.
Hal ini cukup relevan jika diaplikasikan pada perpustakaan Islam. Selain berfungsi untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, nantinya akan muncul ide-ide inovatif yang dapat disumbangsihkan pada perkembangan dunia Islam. Tentunya karena di lingkungan Islami, pemikiran-pemikiran ini akan terkontrol secara syar’i. Al-Quran dan hadits tetap menjadi pegangan. Bukankah Allah juga menganjurkan kita untuk menjadi pribadi-pribadi yang berfikir (ulil albab)? Kalau boleh meminjam istilah dari seorang filosof Yunani, bahwa : manusia berfikir maka ia hidup, karena sebanrnya manusia adalah hewan yang berotak, maka jika ia tak berfikir, apalah bedanya dengan hewan?
Kalau kata Aa Gym, otaknya orang Indonesia memiliki harga jual yang tinggi karena masih steril dalam artian jarang digunakan.

Created (Perpustakaan sebagai wahana proses kreasi)
Setelah mengeksplorasi ide-ide briliant, maka ide-ide tersebut kita lanjutkan dalam tahap berikutnya yaitu berkarya. Jangan biarkan sebuah ide menjadi mandul. Tuangkan ide dalam sebuah karya, karena ituilah maksud dari kita berfikir. Karena dalam konteks kepustkaan, maka salah satu refleksi karya itu pun tertuang dalam bentuk pustaka semacam karya ilmiah. Dikatakn karya ilmiah karena penyusunannya menggunakan metode ilmiah. Disinilah perpustakaan menjalankan fungsinya sebagai penyedia referensi-referensi yang dibutuhkan. Maka perpustakaan Islam diharap selalu mengupdate koleksi-koleksi yang dimilikinya. Setiap hari di seluruh penjuru dunia, ratusan bahkan ribuan judul buku baru diterbitkan.
Dangan melakukan fungsi sebagai wahana berkreasi ini, selain menumbuhkan pola pikir ilmiah bagi para membernya, hal ini juga menumbuhkembangkan budaya menulis. Sebuah pesan bijak mengatakn “ikatlah ilmu dengan menuliskannya” . Tulisan juga merupakan recorder ide dan sebuah peradaban memang harus ditulis.

Archives (Perpustakaan sebagai wahana perngarsipan)
Sejarah mencatat bahwa Islam memiliki beberapa nama tokoh ilmuwan muslim. Sebut saja salah satunya Ibnu Sina atau yang lebih populer dengan nama Avicena. Beliau adalah salah satu intelektual Islam yang berkiprah dalam dunia kedokteran. Masih banyak nama-nama lain. Namun, mereka kurang populer di dunia ilmu pengetahuan. Ilmuwan-ilmuwan barat rupanya lebih terakui ke-eksistensi-annya. Tercatat dalam sejarah pula, bahwa dalam sebuah peperangan, pusat-pusat dokumen ilmu-ilmu yang dicetuskan para ilmuwan Islam, diluluhlantakan. Kemudia, dengan tanpa dosa ilmuwan-ilmuwan barat mengadopsi serta mengklaim ide-ide inovatif tersebut. Ternyata, bajak membajak memang sudah terlestarikan sejak dulu kala.
Perpustakaan memiliki peran yang vita; dalam hal pengarsipan. Setelan menjad wahana proses berfikir dan berkarya, maka hasil-hasil dari proses tersebut yang bersifat kepustakaan perlu diarsipkan. Selain sebagai sumber referensi untuk perkembangan IPTEK, hal ini juga sebagai langkah protektif pada karya-karya ilmuwan Islam.
Nantinya, kepustakaan yang terarsipkan tersebut dikembangkan kembali dalam proses berfikir, kemudian dilanjutkan dangen proses kreasi, begitu seterusnya. Jika ini dapat teraplikasikan, maka sebutan “gudang buku” sangat mungkin untuk berubah menjadi “gudang ilmu”.

ThiCreAs on Islamic Library adalah sebuah kurikulum. Perpustakaan akan dapat hidup juka memiliki sistem yang berjalan. Perpustakaan Islam jangan sekedar menjadi tempat sirkulasipeminjaman dan pengembalian buku, atau bahkan sebagai wahana komersial dengan pemberlakuan tarif atau iuran bagi para anggotanya. Jika Perpustakaan Islam terus berkutat dalm peran seperti itu, maka ta heran peran Perpustakaan islam-khususnya bagi generasi muda-akan tergantikan posisinya oleh kios-kios persewaan komik.
Sebagai umat muslim kita punya tanggung jawab untyk menghidupkan Perpustakaan Islam. Perpustakaan Islam adalah sebuah rahim yang akan melahirkan generasi-generasi intelektual muslim. Ibnu Sina dan teman-teman beliau sangat berharap memiliki generasi untuk membwa Islam kepada kejayaannya kembali. Mari kita sambut kejayaan dengan menghidupkan Perpustakaan Islam.



comment:
dar mas Slamet (sang juri) : "endingnya masih kurang..diibaratkan sebuah kran...nutupnya kurang "krek...." "


ok, comment laen????

NTA tunggu ya....

-nta-
--keep Allah in our heart--
Read more ...
Thursday, November 02, 2006

blogqu yang laen...

deuh...udah nggak pernah diisi tuh.....kalo ada yang mo nengok...tengok aja di http://shinta_xsmansa.blogs.friendster.com/my_blog/

disana ada puisi2ku , catharqu juga...wuih lucu2 deh..yang mulai nggebet cowok..sampe yang tangis2an..he..he....
Read more ...
Wednesday, November 01, 2006

Welcome...ujian sisipan....

nta lagi mid nieh...doain ya...biar nilai2nya baguz..baguz... and bisa lulus cepet

eh, abiz mid banyak cerita yang pengen nta posting lho...so wait and see......
jangan lewatkan cerita2 seru dari Ayodya's Kingdom...
dah........................
Read more ...

Aku.....Wanita Jawa!!!



--perempuan jawa...sosok perempuan yang terlihat lemah namun sebenarnya ia memiliki kekuatan yang luar biasa.....memiliki andil yang besar dalam pengelolaan rumah tangga.....--
--wanita cerdas...yang mungkin terlihat rendah dengan tiga momok...dapur..sumur.... dan kasur.... Dapur, sumur, dan kasur yang seperti apa? kecerdasan wanita jawa akan membawa ketiga substansi tersebut bukan sebagai sebuah hal yang hina namun menjadi sebuah hal yang mulia................-

sebuah artikel ku-kutip..........


PEREMPUAN MASA KINI, SEBUAH FENOMENA
dari http://dhitos.wordpress.com/2006/10/18/perempuan-masa-kini-sebuah-fenomena/
Posted by dhitos in Artikel, dhitos' post. trackback
Disepanjang sejarahnya perempuan telah banyak berjuang untuk mendapatkan hak-haknya melalui emansipasi katanya. Tapi yang kita lihat sekarang, ternyata mereka seolah kembali terjerumus ke dalam penjajahan modern emansipasi itu (betulkah ??) Perempuan menganggap dirinya merdeka yang tanpa dirasakan malah terjebak ketika meng-eksploitasi diri terhadap kemerdekaannya.


Sehingga kemudian iapun dianggap biang kerok krisis moral bangsa ini buktinya, mulai kasus pornografi, komersialisasi seks, pamer tubuh (iklan), tarian erotis, dan banyak hal lagi yang sasaran utama dan umpannya adalah perempuan. (lihatlah tayangan2 malam media televisi kita yang banyak meng-eksploitasi sexualitas perempuan)

Benarkah perempuan sekarang telah lupa akan hakekat dirinya, hanya menonjolkan kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya. Dimanakah essensinya sebagai seorang manusia? Lantas apa yang dapat diharapkan dari para perempuan seperti ini?

Yang demikian ini idealnya merupakan salah satu tugas perempuan yang sadar sebagai anggota masyarakat untuk kembali mengingatkan sesama kaumnya yang tersesat. Karena lisan perempuan akan lebih dapat mengena ke dalam sanubari sesama mereka dibanding lisan pihak lain (laki-laki), untuk mengembalikan identitas mereka sebagai manusia.

Dengan kondisi seperti ini, perempuan yang sadar idealnya adalah wajib memiliki tugas untuk menjelaskan kembali fungsi norma-norma agama untuk menghantarkan manusia menuju kebahagiaan hakiki (sesuai agama masing-masing). Perempuan yang tercerahkan harus mengingatkan saudara-saudara mereka akan peran dan tugas yang dipikul perempuan, baik melalui pendekatan, media, pelatihan, dan cara lainnya. Tugas ini akan berhasil jika dilakukan oleh perempuan itu sendiri dari pada yang tugas ini diserahkan kepada laki-laki, karena adanya persamaan sesama perempuan yang dimiliki, yaitu sebagai perempuan yang sama-sama memiliki kekuatan emosional dan akal.

Harus kita sadari bahwa yang namanya perempuan itu dapat menjadi sumber daya yang jitu untuk memperbaiki sebuah masyarakat. Disamping itu, iapun dapat juga menjadi sarana jitu untuk merusak dan menghancurkan sebuah masyarakat.

Untuk itulah diperlukan peran-peran perempuan yang sadar untuk ikut serta dalam membentuk masyarakat religius sesuai dengan keyakinan spiritualnya masing-masing sehingga kondisi semacam pro dan kontra RUU APP bisa menemukan titik tengahnya.
Read more ...

Cerianya Lebaran bareng keluarga...............



Senengnya Lebaran ni bisa kumpul lagi semua keluarga (but, dhe'cacelinka kok nggak dateng ya???kangen deh!!!)
seneng deh bisa ngerasain lagi :
-- antrian sungkem dan tangis2an (eh..tapi terharu lho)
-- ngabisin kue nastar dan dengan bangga menyebutkan kalo kue2 ntu buatan nta (he..he..padahal nta cuma bantuin ngoles pake merah telur doankz)
-- ngrumpi seru bareng jejaka and gadis2 keluarga qta (hualow... mas qiqi,mbak iwik, mely, ocan, mas nono, mas eqo, ogi, dhe'nita, dhe'dhina.
-- narsis2an phto2 bareng (wuih..banyak banget lho sebenrnya foto-nya tapi nggak sempet diupload)
-- jalan2 ngukur setiap centi sudut kota Tegal...
-- rame2 berenang (tapi waktu ntu nta lagi nggak bisa berenang...biasa cewek....hiks..hiks....tapi tetep aja basah....dicipratin sama mereka2 yang rese...pokoknya seru deh..video-nya juga kerenzz abiz...)
-- curhat2an ala ABG (aduh Giza.....nggak kerasa waktu ntu kita ngobrol nyampe midnight, satu loyang martabak abiz, satu potong ayam besar abis, roti bakar juga abiz, dan beberapa gelas softdrink juga amblas..he..he...)
-- naik perahu...rame2...wuih...mas TOto ternyata ketagihan naik perahu tuh...
-- buat istana pasir bareng2...deuh...dhe' zaki nakalnya....kita sampe bergulat di tepi pantai...... oh ya...jadi inget "perut besar"nya si Abang.....
-- morotin isi saku mas Toto...muakacih ya mie aya kita kembang-nya...muakacih udah jadi sopir setia qta,,,pokoknya muakacih buat traktiran2nya...jangan sungkan2 lagi ..he..he...
-- makan bakso rame2.....(muakacih pakdhe...)
and macih banyak lagi cerita2 laen...tunggu aja sambungannya.............

ada sieh sedikit nyebelin2nya...yang sempet juga masuk ke hati...but....keluarga adalah harta termahal...yang nggak bisa tergantiin oleh apapun...

bagaimanapun kalian......adalah anugrah terindah yang Alloh berikan....
Thanks God!!!
Read more ...
Wednesday, October 04, 2006

met HLN ke-61 !!!

-dengan namaNya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

sekedar untuk mengarsipkan saja..........pengalaman dari dulu...paling males meng-arsip! :P. ups, ditunggu juga commentnya.....muakaciih....!!!!
deadline 2 Oktober 2006....

Menilik Tindak Yuridis Pada Kejahatan Menyangkut Tenaga Listrik Sebagai Langkah Menuju Progresivitas Sistem Ketenagalistrikan Indonesia
Oleh: Shinta Ardhiyani Ummi
Disusun dalam rangka mengikuti lomba kara tulis ketenagalistrikan HLN ke-61


PENDAHULUAN
Rasa terima kasih sudah sepatutnya kita berikan pada ilmuwan Thomas Alva Edison yang dengan kejeniusan dan kegigihannya berhasil menemuka listrik, sebuah substansi yang teramat penting dalam hidup kita. Pentingnya peran Listrik dalam kehidupan maka perlu adanya pengelolaan sehingga pemanfaatannya dapat efisien. Disinilah maksud dibentuknya PT.Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan statusnya sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaras dengan system perekonomian Indonesia yang termaktub dalam pasal 33 UUD 1945.
Sebuah hal menjadi masalah tatkala bahan bakar minyak (BBM) sebagai unsur penggerak listrik , kini mulai mengalami krisis. Lepas dari masalah adanya bahan bakar alternatif lain yang dapat dipergunakan, hal ini merupakan masalah yang patut dicermati. Langkah-langkah fundamental pun diambil oleh pemimpin bangsa ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Lima langkah fundamental yang terangkum dalam kebijakan energi nasional yang meliputi : diversifikasi, konservasi, peningkatan kapasitas produksi, kebijakan harga minyak yang tepat, dan penegakan hokum terhadap kejahatan menyangkut BBM.
Khusus mengenai bidang yuridis-penegakan hukum- dalam kaitannya dengan ketenagalistrikan Indonesia, adalah sebuah hal yang cukup penting untuk mendapat porsi perhatian. Hal ini merupakan problem solver yang bersifat internal dan fundamental. Terciptanya berbagai inovasi yang menakjubkan dalam bidang ketegalistrikan, akan dapat menjadi percuma apabila tidak diimbangi dengan penegakan kredibilitas dalam pengelolaan dan penggunaan tenaga listrik.
Wacana ini memang bukan mengupas bagaimana pergerakan generator dapat menimbulkan perbedaan muatan ion sehingga muncul adanya proton dan elektron. Ada sudut pandang lain yang dirasa cukup penting untuk kita tekankan di era kini. Proton dan elektron akan dapat terus bekerja, generator pun akan terus berputar dengan baik, tapi bila gerakan pengelolaan dan penggunaannya pun dilakukan oleh personal-personal yang bertanggungjawab.

PLN Kita
Serupa dengan usia kemerdekaan Indonesia-61 tahun- lembaga pengelolaan listrik Negara mulai ada di Negara gemah ripah loh jinawi ini. Tepatnya 27 Oktober 1945, Jawatan Listrik dan Gas dibentuk oleh Presiden Soekarno. Tidak lebih dari enam belas tahun berjalanbulan (1 Januari 1961) kemudian dibentuk BPU Perusahaan Listrik Negara. Hingga pada 28 desember 1964 dibentuk dua perusahaan Negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Perusahaan Gas Negara (PGN). Beberapa kali PLN mengalami perubahan bentuk perusahaan. Tahun 1972 PLN ditetapkan menjadi Perusahaan Umum. Hingga pada tahun 1992, pihak swasta mulai ikut dalam bisnis penyediaan listrik di Indonesia dan Juni 1994 PLN ditetapkan menjadi Perusahaan Perseroaan (Persero). Perubahan status dari Perusahaan Umum menjadi Persero adalah salah sebuah langkah untuk memungkinkan PLN bersaing dengan swasta atau sebaliknya berpatungan dengan swasta. Perubahan status ini juga memungkinkan PLN menjual saham ke pasar modal atau kepada partner strategis (berpatungan), seperti halnya yang sering dilakukan oleh perusahaan swasta. Berhubungan dengan pasar modal dan berpatungan dengan partner strategis memerlukan perubahan sikap Sumber Daya Manusia (SDM) PLN, mengingat sebelumnya PLN adalah suatu perusahaan monopoli selama beberapa puluh tahun.
Sebagaimana tertulis dalam Anggaran Dasar PT PLN (PERSERO) Pasal 3, tujuan Perusahaan adalah membangkitkan (PJB I, PJB II, dll), menyalurkan (P3B + Sektor) dan mendistribusikan (Distribusi + Wilayah) tenaga listrik. Di samping itu juga membangun sarana-sarana tenaga listrik. PLN sebagai perusahaan harus mencari laba, tetapi PLN sebagai agen pembangunan juga harus melakukan kegiatan perintisan tenaga listrik. Hal ini diperlukan, karena rasio elektrifikasi di Indonesia masih sekitar 50 % dan konsumsi kWh per-kapita per tahun adalah ± 300 kWh. Misi PLN yang demikian ini memerlukan pemikiran-pemikiran dan pelaksanaan tugas yang matang, mengingat tenaga listrik merupakan komoditi yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak.
Dengan mengusung moto: Listrik untuk kehidupan yang lebih baik, visi dan misi PLN dapat kita jabarkan sebagai berikut:
Visi :
Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang bertumbuh-kembang Unggul danTerpercaya dengan bertumpu pada Potensi insani
Misi :
1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan
2. anggota perusahaan dan pemegang saham.
3. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
4. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
5. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

Itulah sekilas mengenai PLN kita.

Kebijakan Energi Nasional
Dalam proses pengelolaan listrik ini, kita ketahui bahwa BBM (Bahan Bakar Minyak) merupakan unsur yang penting dan tidak dapat kita abaikan. Masalah timbul ketika BBM di negeri ini mulai mengalami krisis.
Mengenai permasalaha energi nasional, Indonesia rupanya sudah cukup lama terlena. Migas merupakan SDA yang tak terbaharui. Namun, selama ini seolah kita lalai dan menganggapnya seperti SDA yang tidak pernah habis. Padahal jika tidak ada penemuan baru, cadangan minyak Negara kita tinggal 18 tahun, cadangan gas tinggal 60 tahun, dan cadangan batu bara tinggal 150 tahun. Presiden SBY pun pernah menekankan bahwa apabila masyarakat kita tidak pandai berhemat serta masih memiliki cara pandang dan budaya yang keliru dalam menggunakan energi ini, suatu saat Indonesia akan mengalami penurunan dalam produksi minyak.. Sebagai gambaran, sejak krisis ekonomi sampai tahun 2005 kemarin Indonesia mengalami penurunan dalam produksi minyak. Setelah krisis, produksi minyak Indonesia 1,4 juta barrel per hari. Tahun 2005 tercatat tinggal 1,075 jta barrel per hari. (Harian Kompas, 29 Oktober 2005).
Berangkat dari kondisi yang memprihatinkan tersebut, presiden mengambil langkah fundamentalis yang terangkum dalam kebijakan energi nasional. Kebijakan tersebut meliputi : diversifikasi, konservasi, peningkatan kapasitas produksi, kebijakan harga minyak yang tepat, dan penegakan hukum terhadap kejahatan menyangkut BBM.
Kembali pada permasalahan ketenagalistrikan di Indonesia, lima langkah kebijakan energi nasional tersebut dapat pula kita implementasikan. Khususnya mengenai kebijakan yuridis, cukup banyak hal yang perlu kita perhatikan. BUMN penguasa listrik di negara kita ini ternyata tak steril dari kejahatan-kejahatan.masih banyak oknum-oknum tidak bertanggungjawab dalam penggunaannya oleh masyarakat maupun pengelolaan di tubuh internalnya. Yang pastinya hal itu menjadi sebuah penghambat untuk menuju kondisi ketenagalistrikan yang lebih baik.

“Maling-Maling” Listrik Indonesia
Bukan sebuah hal yang baru di masyarakat mengenai adanya pencurian listrik. Modus operandi pencurian listrik sangat bervariasi, mulai dari rekayasa pada instalasi di dalam rumah, mengakali instalasi penerangan jalan umum hingga membobok tembok gardu listrik.
Sebuah penelitian tim elektro ITB menemukan bahwa di Jawa tengan dan DIY ditemukan 40.000 titik sambungan listrik liar. Jumlah titik sambungan listrik liar itu berkisar 2,4 persen dari pendapatan PT.PLN distribusi Jateng-DIY tahun 2003 yang mencapai Rp 3,6 triliun. Yang berarti merugikan PT PLN sebesar Rp 86,6 miliar. Kasus pencurian listrik secara nasional, yang terbesar atau mencapai 25 persen, terjadi di wilayah distribusi DKI Jakarta-Tanggerang. Secara kuantitas, kejahatan yang merugikan negara triliunan rupiah ini dilakukan oleh pelanggan rumah tangga. Namun, secara kualitas pencurian ini juga dilakukan industri terutama berskala besar dengan daya terpasang di atas 200 kilo Volt ampere (kVa). Kerugian PLN diperkirakan mencapai Rp 1 triliun per tahun.
Pihak PLN sering kewalahan menangani kasus ini karena pencurian listrik memang sulit terdeteksi.Selain pencurian listrik,tak jarang pula PLN direptkan oleh kasus pencurian kabel listrik. Padahal akibat dari “maling-maling” listrik ini sangat merugikan konsumen. Pada daerah yang kabel listriknya dicuri, tegangan listrik akan terganggu terutama ketika terjadi petir. Voltase akan sering mengalami naik turun secara mendadak. Ini merugikan konsumen karena alat-alat elektronik bisa rusak.
Tindakan yang tidak bertanggungjawab itu sangat mengganggu kinerja PLN dalam menyediakan pelayanan listrik bagi masayarakat, dengan misinya untuk menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Apalagi jika dikaitkan dengan TDL (Tarif Dasar Listrik ) yang dibebankan pada konsumen. TDL di Indonesia menurut data Bank dunia (World Bank) menempati urutan kedua termahal –setelah Filipinna- dibanding negara-negara lain di ASEAN.
Antara pencurian listrik dan tingginya tarif TDL memiliki hubungan kausalitas. Entah mana yang menjadi sebab. Maling-maling listrik itu menyebabkan kerugian besar pada kas PLN yang mau tidak mau menyebabkan PLN menaikkan TDL untuk menutupi kerugian-kerugian tersebut. Namun di lain pihak, maling-maling listrik itu melakukan pencurian listrik karena tidak kuat untuk membayar TDL yang sepertinya semakin meningkat.
Yang perlu disayangkan disini belum ada ketentuan hukum yang tegas mengenai tindak pencurian listrik ini (yang disebabkan juga karena sulit terdeteksinya kasus ini). Kasus ini masih menggunakan yurisprudensi Yurisprudensi mengenai pencurian arus listrik merupakan yuriprudensi yang cukup terkenal. Yurisprudensi adalah keputusan hakim yang bisa dijadikan acuan bagi kasus serupa di masa yang akan datang. Umumnya yurisprudensi dilakukan karena belum ada ketentuan hukum yang pasti, atau spesifik, terhadap suatu kasus.


“Maling-Maling” Internal
Tingginya kerugian yang terjadi di tubuh PLN ini, bukan semata-mata disebabkan oleh tingkah maling-maling listrik dimana statusnya juga sebagai konsumen. Tindak kejahatan tak urung pula dilakukan oleh “orang dalam” PLN sendiri.
Bukan sebuah berita baru bahwa di tubuh BUMN penguasa listrik ini, terjadi juga perbuatan hina bertajuk korupsi. Kasus yang masih hangat di tiga tahun yang lampau. Kasus dugaan korupsi yang bermula dari laporan serikat pekerja PT PLN mengenai pembagian tantiem kepada direksi dan komisaris PT PLN sebesar Rp 4,3 miliar pada 2003. Padahal, saat itu PT PLN tengah rugi Rp 3 triliun. Saat itu, Penyidik Kejaksaan Agung yang diketuai Patuan Siahaan sudah menentukan tersangka dalam perkara korupsi pembagian tantiem atau bonus di tubuh PT PLN (Persero). Walaupun saat itu Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Hendarman Supandji tidak bersedia menyebutkan nama-nama tersangka itu. Hendarman hanya mengatakan, penyidik perkara korupsi pembagian bonus PT PLN sebesar Rp 4,3 miliar sudah melakukan ekspose. Dalam ekspose itu sudah ditentukan tersangkanya, yang jumlahnya lebih dari tiga orang. Namun, Ia menolak menyebutkan nama-nama para tersangka. Selalu ada yang agak ganjil memang jika membicarakan mengenai tindak yuridis pada kasus korupsi.
Kasus korupsi di tubuh PLN merupakan kasus yang tidak bisa dianggap mudah. Masih pada waktu yang sama, kasus PLN menyeruak bersamaan dengan kasus korupsi di tubuh Telkom. Namun untuk yang Telkom, tidak membutuhkan waktu lama untuk meningkatkan tahap pengusutan kasus ke penyidikan. Sedangkan kasus korupsi PLN membutuhkan waktu lama untuk memberikan tanda tanya pada proses pengusutannya. Ada saja yang menjadi polemic dalam proses pengusutan kasus ini. Persolan teknis penyelidikan, misalnya, soal ada tidaknya kerugian Negara, sempat menjadi polemik antara kepolisian dan kejaksaan. Jika di tingkat pimpinan kedua instansi itu sudah muncul polemik, maka akan sampai ke tingkat bawah.
Kasus korupsi di tubuh PLN ini dapat dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Utamanya berkaitan dengan penerapan good corporate governance. Penerapan good corporate governance itu merujuk pada UU 19/2003 pasal 5 ayat (3) dan pasal 6 ayat (3) serta Kepmen BUMN No 117/M-MBU/2002 tentang penerapan praktik Good Coorporate Governance.
Begitu bobroknya tubuh BUMN penguasa listrik di negeri khatulistiwa ini. Kejahatan banyak dilakukan baik di pihak internal maupun eksternal. Sementara tindakan yuridis belum sampai pada tolak ukur “tegas”. Walaupun nantinya akan muncul inovasi-inovasi yang menakjubkan dalam teknis penyediaan tenaga listrik, jika keboborokan ini terus beranak pinak, maka semua itu akan menjadi hal yang percuma.

Kesimpulan dan Saran
Dari ulasan diatas, beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil yaitu sebagai berikut:
Ø PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengelola ketenagalistrikan di Indonesia sebagai wujud salah satu sistem perekonomian Indonesia yang termaktub dalam ps.33 UUD 1945
Ø Beberapa langkah fundamentalis diambil untuk menyikapi kondisi krisis energi ,terangkum dalam kebijakan energi nasional. Kebijakan tersebut meliputi : diversifikasi, konservasi, peningkatan kapasitas produksi, kebijakan harga minyak yang tepat, dan penegakan hukum terhadap kejahatan menyangkut BBM.
Ø Penegakan hukum terhadap kejahatan dalam pengelolaan serta penggunaan tenaga listrik merupakan langkah internal dan fundamental demi menuju kondisi sistem pengelolaan ketenagalistrikan yang lebih baik.
Ø Modus operandi pencurian listrik sangat bervariasi, mulai dari rekayasa pada instalasi di dalam rumah, mengakali instalasi penerangan jalan umum hingga membobok tembok gardu listrik. Maling-maling listrik ini sangat merugikan baik kepada pihak PLN maupun konsumen pada umumnya. Namun, belum ada tindakan tegas Yuridis pada kasus ini. Hal ini dikarenakan kasus pencurian listrik adalah kasus yang sulit untuk dideteksi.
Ø Selain pencurian dalam penggunaan listrik, pencurian juga dilakukan dalam tubuh lembaga pengelola tenaga listrik. Kasus korupsi cukup menggerogoti tubuh PLN dan dinilai cukup merugikan khususnya pada tumbuh kembang PLN di era seprti sekarang ini. Tindakan hukum pada kasus ini pun seolah tersendat-sendat. Padahal selain merugikan PLN, tindakan hina ini juga merugikan negara pada khususnya.

Demi mewujudkan kondisi yang lebih baik, beberapa saran kiranya perlu disampaikan dalam permasalahan ini, yaitu :
Ø Tindak hukum pada kasus ini harus lebih ditegakkan. Ini menyangkut kredibilitas lembaga pengelola SDA yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Kuncinya ada pada para penegak hukum.
Ø Ketentuan hukum yang kiranya belum ada, kiranya segera diumuskam baik secara yuriprudensi ataupun yang lain.
Ø Kedisiplinan serta loyalitas para pegawai –baik pegawai kecil ataupun pejabatnya- perlu ditingkatkan. Korupsi adalah perbuatan hina yang hanya akan merugikan semua pihak.
Ø Kesadaran sebagai konsumen listrik yang baik kiranya perlu ditingkatkan. Tindakan pencurian listrik sangat merugikan baik secara kuantitas ataupun kualitas.
Mungkin hanya itu saja yang bisa disampaikan. Pastinya, wacana ini diharap tidak hanya sekadar penambah perbendaharaan wacana dalam bidang ketenagalistrikan. Wacana ini hanya akan menjadi sia-sia tanpa adanya niat dan tindakan untuk merefleksikan. Semoga wacana ini dapat menjadi sumbangsih bagi berkembangnya PT PLN (Persero). Semoga di Hari jadi Listrik Nasional (HLN) yang ke-61 ini, kondisi pengelolaan ketenagalistrikan di Indonesia menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Amien.


BIODATA

Nama lengkap : Shinta Ardhiyani U
No.Identitas : G1A006167
Pekerjaan : Mahasiswi Jurusan Sastra Inggris semester I Program Sarjana Bahasa dan Sastra Universitas Jendral Soedirman
Alamat : JL. Kenanga 31 Grendeng Purwokerto
No hp : 085226904211
Read more ...