Pages

Saturday, March 16, 2013

Menyimak Dialog Kisah Pi

#catatanRingan
# bagian prolog bisa di-skip aja.. :D 

Prolog  : Dilematis. Itu yang dirasa jika hendak ke bioskop di Purwokerto. Satu sisi, mungkin sebuah prestasi ketika akhir-akhir ini ada pembenahan management dan bioskop tua itu kemudian ramai dipenuhi para penikmat film. Namun di sisi lain, keriuhan yang terjadi itu adalah keriuhan sebagai pusat hiburan belaka. Tau kan maksudnya? Keramaian yang terjadi ketika bioskop dipenuhi oleh orang-orang yang sekedar untuk pacaran, mencari hiburan, dan sejenisnya? Dalam kondisi bioskop dipenuhi orang-orang seperti ini, saya tak pernah merasa nyaman. Masalahnya, orang-orang yang berorientasi mencari hiburan kerap kali tidak memiliki etika menonton. Maka, bisa dibayangkan bagaimana kesalnya saya selama menikmati film kemudian mendengar banyak hal norak seperti bunyi ringtone blackberry yang tak disilent, telepon genggam yang tak dinonaktifkan, atau sekedar mereka ngrumpi dengan rekan-rekannya sepanjang film diputar. Oh my..oh my... Jadi, untuk konteks kota kecil seperti Purwokerto ini, saya tak ingin mengutuk para pembajak. Justru melalui mereka lah , kemudian saya bisa punya kesempatan mengapresiasi film-film baru tanpa harus menunggu di bioskop dan berjejalan dengan para ABG labil disana. Kalau saya bertemu dengan Ang Lee, saya akan bilang bahwa saya sudah membeli novel dan menonton filmnya di bioskop. Tapi, karena ketidakpuasan saya terhadap kondisi bioskop yang ada, maka maafkan saya yang mengcopy hasil bajakan dan menonton ulang serta menyimpannya sebagai koleksi film di laptop saya. Dan inilah itu, sebuah catatan sederhana hasil menonton dan pembacaan terhadap sebuah kisah, Kisah Pi : Life of Pi. Insya Allah tidak mengandung spoiler... :)



Menurut asumsiku yang lumayan sok tau, ketika Ang Lee memilih menghadirkan tokoh Yann Martell dalam film-nya ini, adalah semata-mata untuk menyiasati kisah yang tak banyak memiliki dialog. Dialog yang dimaksud adalah dialog antar tokoh manusia, terutama pada adegan saat di laut lepas . Berbeda ketika kita menyimak novelnya. Menurutku, kisah ini justru padat karakter dan dialog. Karena film lebih bersifat visualisasi, maka mungkin tak mudah menghadirkan kisah-kisah dalam paragraf panjang tanpa tanda kutip alias tanpa dialog dalam tayangan-tayangan adegannya. Namun, sebenarnya selain Pi , kita perlu tahu bahwa Richard Parker (seekor macan tutul), Orange Juice (orang utan), Zebra dan Hyena adalah tokoh-tokoh yang punya peran lebih besar bahkan dibandingkan dengan tokoh Ravi (kakak Pi), Mamaji, dan keluarga Pi yang lain. Bahwa keberadaan Yann Martell di kisah ini adalah benar-benar outsider yang sebetulnya tak akan pernah kita temukan dalam novelnya kecuali di bagian pengantar, tentu saja.

Maka, sisi menarik dari film dan novel ini adalah kita dapat menemukan dialog yang begitu ramai antara Pi dan partner-partnernya yang bukan manusia itu. Bukan, ini bukan fabel dimana ada macan animasi yang dapat berbicara. Tapi, dalam novel, Pi ingin mengajak berdialog dengan pembaca tentang bagaimana ia berkomunikasi dengan para binatang. Kita akan menemukan barisan-barisan pikiran yang berkecamuk dalam otak Pi. Seperti monolog. Namun justru itu yang menghidupkan hubungan antara pembaca dan tokoh utama dalam kisah ini. Dalam bahasa teorinya : pada novel Life of Pi, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang kedua (aku), sedangkan dalam film penonton dijadikan sebagai orang ketiga yang mendengarkan penceritaan sebuah kisah dari Pi kepada Yann Martell (penulis novel). Meski dalam buku, kita juga akan menemukan beberapa bab singkat yang tercetak miring yang menceritakan dari sudut pandang menulis. Tapi itu hanya ada di bagian I saja.

Read more ...
Thursday, March 14, 2013

Front of The Class

Prolog : Selain bertukar pikiran dan kisah, saya dan Om Chairul kerap bertukar bacaan atau tontonan sekedar untuk bahan obrolan dan juga refreshing. Biasanya sepulang ia bertugas sebagai dosen, mengajak mahasiswanya untuk bergabung makan siang denganku. Sudah berpekan-pekan lamanya kesempatan itu hilang. Kalo Om bilang : "shinta itu selalu sibuk, om nya datang saja kadang dicuekin..."hahaha. Untuk menebus kesalahan itu, maka kutawari untuk bertukar tontonan. Aku tawari film-film pemenang Oscar  kemarin, kayak "Argo"; "Life of Pie"; dan  "Lincoln". Tak ketinggalan kutawari juga film india yang dalam beberapa pekan ini aku tonton juga.hehe. Sebagai barter, entah dapat dari mana Om ku memberikan koleksi film-filmnya. Tentu saja koleksi beliau tidak lebih banyak dariku.hahaha. Akhirnya, kucopy lah film "Muhammad AlFatih" dan "Front of The Class". Judul yang kedua cukup membuat saya tercenung dan bahkan hampir meneteskan air mata. Setelah dua pekan yang lalu larut dalam emosi film bollywood, sore itu saya meleleh dalam film yang berdasarkan dari sebuah buku dan juga kisah nyata. Front of The Class termasuk film lama. Berkisah tentang seorang penderita Tourette Syndrom yang memiliki tekad luar biasa kuat untuk menjadi guru.
Dan inilah itu, satu catatan sederhana , maaf kalau mengandung spoiler :-)


 "Guru bagi saya adalah orang yang memungkinkan anak-anak belajar walau dalam kondisi berbeda..."

Itulah jawaban seorang Brad Cohen ketika ditanya kenapa ingin menjadi guru dan bagaimana guru semasa kecil bisa menginspirasi dia untuk bertekad menjadi guru. Pertanyaan itu muncul dalam sebuah wawancara pekerjaan di sebuah sekolah dimana Brad mengirimkan lamaran pekerjaan. FYI, itu adalah sekolah yang ke sekian puluh kali ia masuki untuk melamar pekerjaan sebagai guru. Brad Cohen memiliki resume yang sangat bagus. Setiap lamaran pekerjaan yang dimasukan, ia selalu mendapat panggilan wawancara. Namun, berulang kali pula ia gagal dalam wawancara. Dengan satu alasan yang sama , para pengelola sekolah itu tidak percaya bagaimana seorang penderita Tourette Syndrom dapat mengajar di depan kelas.

Sebuah hal yang cukup mengganggu memang ketika dalam sebuah kondisi yang membutuhkan konsentrasi, tiba-tiba ada seorang yang menimbulkan suara aneh seperti gonggongan anjing. Penderita Tourette memang khas dengan gerakan-gerakan dan suara-suara yang aneh. Syndrom ini adalah sebuah gangguan neurologis dimana sang penderita akan menimbulkan gerakan dan atau suara aneh sebagai sebuah ekspresi emosi. Suara-suara itu tak bisa dikendalikan. Itu semua muncul diluar kuasa sang pengidap Tourette Syndrom. Bagi orang normal, itu menjadi terasa aneh dan kerap kali memang mengganggu. Itulah yang dialami seorang Brad Cohen sedari kecil.
Read more ...
Sunday, March 10, 2013

Tentang Selembar Buletin



Secara subyektif, terkadang  saya  memiliki penilaian terhadap suatu lembaga dari pengelolaan media yang dimiliki. Dalam setiap komunitas atau lembaga, ada fungsi kehumasan dimana hal itu tertuang ke dalam satu wujud media. Bisa berupa papan informasi, majalah dinding, bulletin, brosur, atau hingga majalah, jurnal, dan lain-lain. Maka secara subyektif pula, saya menilai aktivitas literasi di sebuah lembaga dapat mencerminkan dinamika keilmuan yang berjalan disana. Beberapa hari yang lalu saya memberikan kalimat  kritik yang agak keras kepada salah satu takmir masjid : “ini masjid besar, tapi  tidak ada aktivitas literasi sama sekali, mading hanya satu-dua kali terbit kemudian bubar, ini kompleks pesantren dan kampus harusnya banyak yang membaca, menulis, dan berdiskusi, tapi bulletin saja bubar, benar-benar masjid megah tanpa peradaban!” . Kalimat seterusnya agak kasar jadi tidak saya tuangkan disini. J .

Sebagai orang yang pernah memegang tanggungjawab sebagai marketing komunikasi di sebuah lembaga, biasanya kalau ada acara bersama lembaga lain, kami akan membawa marketing tools dari lembaga masing-masing. Ada yang brosur, bulletin, majalah,  jurnal, sampai buku. Tentu saja dari media-media ini kita akan bisa melihat, mana media yang hanya jadi ajang eksistensi saja atau media yang benar-benar menjadi wadah belajar, beraktualisasi. Bahwa “marketing” adalah sebuah aktivitas pemasaran ide, pemikiran, bukan sekedar jualan produk. Itulah yang membedakan orang-orang pekerja yang punya idealis atau sekedar kejar target. Meski marketing tools nya berkemasan keren, tapi kalau isinya biasa saja, ya terasa garing. Perlu ada peningkatan konten yang disampaikan kepada “pasar”.

Salah satu contoh, ada satu teman saya yang bekerja di sebuah lembaga pemerintahan, sebut saja namanya mas Febrie.Beliau bekerja di Bappeda kabupaten.  Menjadi sorotan masyarakat ketika itu karena aktvitas di Bappeda kabupaten lebih dinamis daripada di kota. Saat itu, teman saya membuat sebuah komunitas diskusi dan merintis terbitnya sebuah jurnal. Sempat juga saya diundang menulis disana. Apa yang menjadi istimewa dari jurnal tersebut? Bukan sekedar lambang eksistensi , namun disana ada aktivitas penyampaian ide-ide tentang pembangunan daerah, idealisme-idealisme para pegawai pemerintahan yang terkadang tertututupi oleh opini publik tentang PNS.
Read more ...

Orang Jawa Ber-Muhammad *

#dicopy dari bulletin Jumat Masjid Jenderal Soedirman-Jogjakarta

Kedatangan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW telah ditunggu-tunggu alam semesta. Ada banyak kabar mengenainya yang diterima oleh berbagai penganut agama dan kepercayaan di masa sebelum ia dilahirkan. Tak terkecuali di nusantara. Berbagai bangunan kuno telah didirikan sebagai simbol, harapan, dan doa bagi kedatangan nabi pembebas manusia itu. Bahkan sejak tahun 606 M, pengikut-pengikutnya yang saat itu bergelar Al-Amin, telah berduyun-duyun datang ke nusantara untuk menyebarkan berita gembira tersebut. Kelak, duyunan pengikutnya itu semakin membludak di negeri patirtan, nusantara, ini. Tepat setelah ia resmi “dilantik” menjadi nabi pada tahun 610 M.

Berdasarkan fakta-fakta sejarah tersebut, tidak sulit untuk mencari keterkaitan antara orang Jawa dan Nabi Muhammad SAW. Wangsa nusantara telah ber-Muhammad tepat sejak putra Abdullah itu diutus sebagairohmatan lil ‘alamin. Dapat dikatakan, umur ke-Muhammad-an wangsa nusantara sebanding dengan umur kedatangan Islam itu sendiri. Bukan sebagaimana yang diyakini oleh kalangan akademis dan peneliti sejarah selama ini; bahwa Islam baru menyebar di nusantara dan pulau Jawa khususnya terhitung sejak abad ke-14 awal.

Adapun pendapat dan penelitian yang menyatakan bahwa budaya Jawa (nusantara) adalah warisan Hindhu-Budha, sebaiknya itu diperiksa lagi. Peradaban dan kebudayaan Hindhu-Budha yang berasal dari India samasekali tak pernah ada di nusantara. Candi-candi yang dibangun di Jawa, pada dasarnya merupakan simbolisasi kebudayaan spiritual wangsa Jawa (nusantara), bukan agama. Bahasa Sanskerta yang masih tersisa di sini, tidak menunjukkan dalil kehindhuan maupun kebudhaan. Ditambah lagi, sejak masa Nabi Sulaiman AS, nusantara adalah negeri terbuka. Tidak mungkin dakwah Islam telah masuk di China pada tahun 627 M, tapi tidak masuk ke nusantara pada tahun yang lebih awal lagi. Padahal, nusantara adalah negeri seribu bandar yang pasti dihampiri oleh semua musafir dari segala penjuru dunia dengan segala kepentingannya. Untuk lebih lengkapnya mengenai kebenaran ini, bacalah buku Kesultanan Majapahit: Fakta Sejarah Yang Tersembunyi (Herman Sinung Janutama, 2010).
Read more ...

Menjahit Kebajikan

*Majalah LAMPU edisi 3

Detak jarum jam seolah mengguratkan semburat merah di kaki langit. Perlahan, senja berkemas. Keriuhan  sesiang sudah mulai bergerak  pulang.  Disaat jam sudah melewati  batas jam kerja itulah, seorang rekan beranjak masuk dan menghempaskan diri. Dan ternyata, ia membawakan sebuah hadiah, sebuah kisah.

Namanya pak Abdul. Saat siang tadi kami sedang melakukan kunjungan ke salah satu Muzakki, sebuah pesan singkat masuk yang kemudian kami ketahui namanya sebagai pak Abdul.  Berbagi tugas, biarlah salah satu dari kami saja yang menyambangi kediaman pak Abdul.  Ini kunjungan kali pertama bagi kami ke tempat beliau. Tidak ada bayangan atau gambaran siapakah dibalik nama pak Abdul ini.  Gambaran yang tesampaikan dalam tulisan ini adalah disarikan dari kisah kunjungan yang diceritakan kepada penulis.

Beliau seorang penjahit. Tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil, yang nilai kontraknya hampir sama dengan biaya kos-kosan sederhana di lingkungan kampis UNSOED. Beliau tinggal bersama keluarganya disana dan tentu saja bersama dengan sahabat yang juga penyambung nafas hidupnya, yaitu mesin jahit. Bukan mesin jahit canggih. Usaha yang dijalankannya adalah usaha yang berbekal semangat  belajar dan pantang menyerah. Awalnya beliau awam tentang dunia  tata busana. Boro-boro menjahit, memasukan benang kedalam jarum pun mungkin butuh waktu lama. Tapi ia ingin belajar, setidaknya ia ingin punya ketrampilan yang dari sana mampu menyambung nafas keluarga. Dari nol, beliau belajar tak kenal hanti. Hingga akhirnya ia berhasil membuat sebuah celana dengan sempurna. Kemudian ia membuka usaha jahit di rumah petaknya yang sederhana itu. Jika kisah hidupnya ini dianggap monoton, maka memang monoton karena hanya dihiasi oleh semangat dan semangat. Kata menyerah hampir enggan untuk merayapi hidupnya. Ketelatenan serta kejujurannya membuat pak Abdul sering mendapat kepercayaan untuk order-order jahitan dari orang-orang penting, bahkan dari luar kota Purwokerto. Namun kecakapannya itu tidak membuatnya lantas mematok tariff jasa lebih tinggi. Hingga saat ini ia menjadi tukang jahit yang sederhana.
Read more ...
Tuesday, February 05, 2013

Episode Jogja

#Catatan Perjalanan


Jumat malam, 1 Februari'13, kantor yang sempit.

 Malam yang semakin larut. Ada satu email yang sedang kutunggu. Meski penat mulai menyapa, tapi teringat perjalanan esok hari, maka ku urung pulang ke peraduan.
"Kalau kita mau keluar kota, pastikan kerjaan semua beres dulu.." itu kata-kata mbak Nurli Al-Azhar  pusat, salah satu lembaga yang bermitra dengan  tempatku beraktivitas. Makanya, malam itu aku masih berkutat dan membereskan meja kerja yang berantakan serta menuliskan beberapa memo tugas. Ah, sebenarnya aku juga nggak  bermaksud pergi jauh. Cuma ke jogja. Tiga jam perjalanan naik kereta. Akhirnya, lewat tengah malam sudah bisa merebahkan diri, meski belum benar-benar merem karena harus beres-beres kos.. :D 


Sabtu, 2 Februari 2013

Hanya tidur beberapa jam saja. Selepas adzan shubuh aku langsung melesat ke kantor yang ada di sebrang masjid. Ada saja yang tertinggal, huufth . Dan finally, pukul 06.00, aku sudah duduk manis di kereta Logawa. Tiket yang sudah kupesan jauh-jauh hari membawaku untuk duduk di bangku nomor 10C. Aku berseberangan dengan seorang ibu yang akan ke Klaten dan seorang pemuda yang hendak turun di Jombang. Kereta Logawa ini memang punya rute pemberangkatan Purwokerto-Surabaya. Dulu saat belum diberlakukan aturan nomor tempat duduk, kau harus bersiap-siap berdesak-desakan di pintu masuk untuk berebut kursi. Bahkan tak jarang bahwa ada sebagian calon penumpang yang batal diangkut sehingga tiketnya dikembalikan lagi. Dulu saya naik kereta ini pertama kali saat ada acara HMI di surabaya. Setelah itu lama tak menyambangi kereta Logawa lagi. Kalau ke tujuan Yogyakarta, banyak alternatif kereta yang lain. 


Untuk bisa duduk nyaman di kereta Logawa kelas ekonomi ini, kita perlu merogoh kocek Rp 40.000,-. Ya, standart kereta ekonomi lah, tidak mahal dan tidak murah. Tarif itu sebenarnya adalah tarif untuk tiket sampai stasiun terakhir. Jadi, jauh-dekat, turun dimana saja tetap dengan satu harga. Seperti yang ibu-ibu di depan saya bercerita, beliau asli Klaten dan sering mengunjungi anaknya di Purwokerto. Dulu, si ibu ini katanya naik kereta Logawa dari Klaten-Purwokerto dengan tarif 15ribu rupiah, hingga sekarang harus membayar tarif penuh Rp 40.000,-. Kebijakan baru. 

Read more ...

Aku (Tidak) Suka Berbisnis


Tadi aku habis baca sebuah tulisan seorang teman yang sedang diikutkan kompetisi menulis dengan tema bisnis. Sebut saja namanya Maula (bukan nama palsu). Entah kenapa, karena malam ini masih belum bisa merem atau memang tulisannya Maula cukup inspiratif, saya jadi iseng pengen nulis hal serupa, tentang semangat berbisnis. Tapi tulisan ini bukan buat kompetisi, cuma buat membunuh waktu saja, syukur-syukur bisa ada manfaatnya.. :) . Oya, kebetulan juga tempo hari saya mendapat materi yang inspiratif tentang marketing. Jadi rada-rada nyambung dan di akhir tulisan ini juga sedikit saya singgung.

Kalau boleh jujur, aku sendiri sepertinya tidak terlalu punya semangat besar untuk berbisnis. Tapi ternyata kalau ditilik flashback kebelakang, lumayan banyak juga pengalamanku berbisnis. Bahkan aku belajar bisnis itu dari SD. Pengaruh keluarga?? ya, mungkin. Nenek saya seorang pedagang, papa  juga seorang wirausaha. Kekagumanku memang lebih ke banyak sosok kakek (yang bukan pedagang), tapi keseharian dari kecil hidup dengan nenek melihat aktivitas beliau mengelola sebuah warung kelontong yang cukup laris itu cukup menginspirasi. Kebetulan tempat tinggalku di Tegal termasuk tempat yang sangat strategis buat berbisnis. Sampe-sampe ada yang bilang : "naro trasi di depan rumahmu pun pasti laku". Entahlah, saya sendiri belum pernah mencoba jualan terasi di depan rumah.
Read more ...
Saturday, January 12, 2013

Penasaran

Apa yang kita lakukan kalau lagi penasaran? misal penasaran sama film terbaru. Mencatat tanggal putar perdana film itu dan mengusahakan untuk nonton dan mennikmatinya. Penasaran dengan restoran milik teman. Kita berusaha untuk mendatangi dan mencicipi makanan disana. Satu-satunya cara untuk memenuhi rasa penasaran adalah mencari tahu secara langsung. Bahasa gaul-nya mungkin mirip-mirip sama "kepo", tapi kepo lebih cenderung pada hal-hal sepele. Selama tidak berlebihan, kepo tidak masalah. Kepo lebih kepada ekspresi antusiasme atau mirip-mirip juga dengan gairah pada suatu hal.

Pernah nggak mengalami kepo sama kehidupan ini? Teman saya dulu pernah bilang : "aku penasaran shin, kamu kayak apa ya di sepuluh tahun lagi?" . Atau dari kita juga pernah penasaran dengan alur cerita apa yang sudah ditentukan sama Allah buat kita.

Kadang muncul rasa penasaran pada rencana Allah. Penasaran yang muncul karena merasa bahwa cara tangan Dia dalam bekerja, itu selalu keren. Bahkan jika pada adegan atau kejadian yang tidak sesuai ekspektasi, selalu ada surprise yang mengagumkan. Penasaran ini membuat kita punya gairah hidup. Penasaran yang membuat kita selalu bersyukur dengan setiap apapun yang terjadi.

Kadang muncul rasa penasaran pada rencana Allah. Penasaran yang muncul karena merasa bahwa cara tangan Dia dalam bekerja, itu selalu keren. Bahkan jika pada adegan atau kejadian yang tidak sesuai ekspektasi, selalu ada surprise yang mengagumkan. Penasaran ini membuat kita punya gairah hidup. Penasaran yang membuat kita selalu bersyukur dengan setiap apapun yang terjadi.

Kayak kita nonton film terus berekspektasi bahwa sang lakon bakal menang kemudian mati. Tapi ternyata melalui scriptwriter dan sutradara yang hebat, dimunculkan adegan kematian lakon ditengah-tengah film sebelum menang. Ada sedih dan kecewa tapi menikmati film itu kan tidak semata-mata pada satu scene, melainkan juga pada alur ceritanya. Kita akan dibuat terkagum-kagum dan merasa surprise dengan cerita yang tidak diduga-duga, terhibur dan mengambil banyak makna dari sebuah cerita. Film yang bagus bukan sekedar film yang menghibur tetapi juga bisa punya kedalaman kisah dan alur dan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik lain.
Read more ...
Tuesday, January 08, 2013

Izinkan Puji Berdiri


Senja  masih  membasah. Searas dengan beberapa gurat lelah.  Ungkapan lelah yang  secara jujur sebenarnya kami sembunyikan rapat-rapat. Berusaha untuk  tetap saling tersenyum  dan menguatkan. Meski  ekspresi lelah tak bisa benar-benar tertutup rapat.  Tak bisa  dibohongi bahwa aktivitas seharian itu di Rumah Sakit  Margono Soekardjo cukup menguras sebagian energi kami.

Saat matahari naik sepenggalah, kami sudah berada di sebuah rumah gubuk di grumbul Gewok, Sumbang. Enam jam berikutnya, sebagian besar waktu kami tersita untuk menyimak antrian panjang pengobatan di rumah sakit Margono Soekarjo, Purwokerto.  Dari mulai antrian di loket jaminan kesehatan hingga antrian di ruang bedah saraf.

Hari  itu adalah jadwal  kami – crew Lazis Mafaza  Peduli Ummat—mendampingi  salah seorang adik untuk berobat. Puji Slamet, begitu ia diberi nama. Di surat kelahiran,  nama yang tertera sebenarnya adalah “Pujiatin”. Nama “Slamet” disisipkan sebagai sebuah ungkapan atas lahirnya si jabang bayi dengan selamat. Bukan berlebihan, tapi memang  saat si jabang bayi masih dalam rahim ibundanya sudah membuat bidan angkat tangan.  Ketika akhirnya pada tangal 24 Agustus , delapan tahun yang lalu, janin tersebut lahir dengan bantuan dukun bayi, diselipkanlah nama “slamet” untuk julukannya.

Kemalangan belum usai. Dua bulan setelah si jabang bayi lahir, ibundanya meninggal dunia. Pelak, sejak usia dua bulan itulah ia tak lagi mengecap ASI. Masih belum usai kasih sayang Tuhan pada bocah kecil ini, di usia 14 bulan tiba-tiba mulai nampak keanehan pada kondisi fisik Puji, terutama di bagian kepala. Perlahan kepalanya membesar. Semakin lama semakin besar. Bocah malang yang belum genap dua bulan itu telah tervonis penyakit hydrocephallus. Kemalangan itu kemudian  teraba  oleh sebuah yayasan sosial, yang selanjutnya membantu proses operasi  di sebuah rumah sakit swasta di ibukota Provinsi. 
Read more ...
Sunday, December 02, 2012

Melayari Tanah Landai

(sebuah catatan perjalanan)


Prologue : Gerbang perbatasan terlewati saat matahari lewat dari sudut tegak lurus dengan bumi. Perjalanan kali ini agak kesiangan. Ditengah menangani padatnya aktivitas lain, kabar dari saudara tetanga mengelitik kaki kami untuk beranjak kesana. Gelitikan itu sudah tak tertahan, hingga seselesai bakti sosial di salah satu desa di Ajibarang, malam harinya kami mengambil keputusan untuk berangkat. Ajakan tak terduga jua dari lembaga lain untuk melakukan sinergis gerakan. Kebetulan, batin kami, meski percaya bahwa tiada yang kebetulan di dunia ini.

Tujuan kali ini adalah kecamatan Sidareja-Cilacap. Jika kita sering menyebut akronim “barlingmascakeb”, maka Cilacap sudah pasti tercakup didalamnya. Atau kadang kita menyebut wilayah “Banyumas raya” itu memaksudkan area dimana Cilacap juga menjadi satu bagian teritori yang tak berbeda.

“...sejak tahun 2005, banjir tahun ini terbilang yang cukup parah...”

Begitu salah satu petikan kalimat yang diungkapkan oleh pak Agus, dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Cilacap, saat kami wawancarai , Senin (26/11) kemarin. Ditengah kesibukannya menangani para pengungsi, pak Agus masih menyambut hangat kami dengan beberapa diskusi yang menarik tentang perkembangan kondisi di lokasi banjir  Sidareja, Cilacap.

Gurat lelah jelas terlihat dari garis wajah pak Agus. Suara yang serak dan hampir hilang seolah menginformasikan bagaimana perjuangan untuk melakukan koordinasi penanganan bencana yang sudah beliau jalani dari sekitar hari Jumat (23/11) yang lalu.

Titik posko terpadu menjadi pijakan sebelum kemudian kami beranjak mengunjungi area lain yang hingga hari keempat masih banyak yang tergenang banjir. Hari keempat genanan banjir memang tidak semencekam seperti hari-hari sebelumnya. Tawa canda anak-anak dan beberapa warga sudah mulai terlihat di sela-sela gerlak riak air keruh kecoklatan.
Read more ...

Refleksi

* rubrik buritan, majalah LAMPU edisi November 2012

Oleh : Shinta arDjahrie
Menjadi  sebuah  bagian dari roda, perputaran adalah konsekuensi yang mesti dijalani. Ibarat roda itulah, banyak konsukuensi-konsekuensi hidup yang  harus kita hadapi. Ada orang yang disebut punya banyak pengalaman ketika sudah cukup umur. Seseorang dianggap punya pengalaman ketika sudah melewati banyak bagian dibandingkan orang lain. Namun ternyata, berpengalaman itu berbeda dengan sudah melewati.  Semua orang bisa pernah melewati suatu peristiwa, tapi tidak semua orang memiliki pengalaman  terhadap peristiwa itu sendiri. Semua orang bisa menjalani/melewati, tapi tak semua orang mampu mengalami. Semua orang bisa pernah pergi ke Jakarta, tapi tidak semua orang bisa disebut berpengalaman ke Jakarta.  Atau kita dapat menyodorkan sebuah pernyataan bahwa “being  is not always knowing”  atau dengan ungkapan lain bahwa “being doesn’t automatically mean knowing”.
Read more ...
Saturday, November 10, 2012

Memandang Indonesia (part 1)



Dari sekian desa yang pernah aku sambangi di Banyumas, Kracak ternyata merupakan salahsatu desa yang terlewat. Tentu saja terlewat karena selain memang aku belum banyak menguasai wilayah Banyumas, penjelajahan desa yang selama ini dilewati lebih berfokus pada lokasi-lokasi yang minim dan ekstrem. Menurutku, Kracak termasuk desa yang cukup maju. Kalau kata mas Dayat, keberadaan Ajibarang sebagai jantung kecamatan cukup membuat desa-desa di lokasi itu cukup dinamis. Meski namanya “desa” belum tentu berada dalam kondisi kekurangan, bahkan ada desa-desa yang memilliki tingkat kemakmuran tinggi. Yeah.., enam tahun di Banyumas cukup membuatku belajar bahwa pedesaan bukanlah sesuatu yang identik dengan hal-hal  rendah.

Maka, saya langsung sepakat ketika melihat sebuah kalimat yang terpampang jelas di Balai Desa Kracak : “Dari Desa Memandang Indonesia”. Desa adalah salah satu investaris kekayaan Indonesia. Bukan hanya landscape-nya saja yang mempesona, tapi kultur masyarakatnya mengandung berbagai nilai luhur yang kerap dilupakan oleh generasi saat ini.
Read more ...
Friday, September 28, 2012

Menitip Asa Hingga Dusun Gandarusa

#CEK-Q (Catatan Ekspedisi Kampung Qurban)

"Jangan hanya mau masuk surga sendirian. Mari bangun kampung akhirat dengan banyak tetangga dan saudara yang mengelilingi kita di surga nanti. Maka bagaimana momentum-momentum ibadah yang ada bisa kita optimalkan kebermanfaatannya pada dimensi sosial kemanusiaan. Agar banyak yang tersentuh, agar banyak yang teringat padaNya, agar kita tak sendirian di surga"
 





Gema adzan Dhuhur sudah habis di kesekian menit saat kami mulai menyusuri sungai Serayu yang selalu syahdu. Tujuan perjalanan kali ini cukup jauh, meski masih dalam satu wilayah kabupaten Banyumas. Sebetulnya ada dua jalur alternatif yang bisa digunakan untuk menuju desa Cikakak, Wangon. Selain menyusuri Serayu bisa juga mengambil jalur alternatif via Ajibarang dan itu lebih ringkas. Hanya saja siang itu kami mengambil jalur untuk memutar via Serayu. Sekitar 1,25 jam akhirnya kami bertemu dengan penunjuk lokasi yang bertuliskan "Masjid Saka Tunggal; Taman Kera". Masjid dan area Saka Tunggal memang cukup dikenal sebagai tempat wisata. Entah apa sebutan yang tepat, wisata religi atau wisata budaya.

Sepelemparan batu dari Balai Desa Cikakak, kita akan menemui pertigaan dan masuk ke dalam jalan desa. Sekira sepuluh menit berkendara santai, kita akan sampai pada lokasi bangunan masjid yang merupakan salah satu masjid tertua di nusantara. Saka / tiang pancangnya konon masih satu kayu dengan masjid Demak, mungkin itu juga kenapa disebut Saka Tunggal.

Sebagai sebuah jejak sejarah dan hasil kebudayaan, Saka Tunggal patut mendapat sebuah apresiasi. Namun, agak canggung lisan ini berkata dengan menyebutnya sebagai sebuah masjid. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada warga sekitar Saka Tunggal, ada banyak pertanyaan terbersit tentang hidupnya sebuah masjid, sebuah rumah ibadah, rumah Allah. Tak ada majelis-majelis ilmu disana, kyai ataupun ulama yang ada adalah para juru kunci yang itu dilakoni melalui garis keturunan. Bahkan tak genap lima waktu sholat jamaah yang dilaksanakan disana. Lalu, apa arti sebuah masjid? Jika memang pada zaman dahulu kala para sunan itu singgah di Cikakak, maka mungkin fenomena yang terjadi saat ini adalah sebuah stagnansi dakwah. Syiar yang terhenti pada pemuliaan bangunan-bangunan serta pelestarian ritual. Esensi dakwahnya sendiri tak diteruskan. Perjuangan dan kepiawaian walisongo dalam berdakwah toh harusnya tak berhenti hingga beliau-beliau wafat, namun perlu ada estafet esensial dari nilai-nilai keagamaan yang perlu diteruskan. Dengan stagnan pada pelestarian sahaja, sebenarnya secara tidak langsung kita sudah tak bisa menghargai perjuangan para wali. Sependek pemikiran saya yang bodoh ini,  hanya bisa membatin "somehow, menurutku bukan yang kayak gini  kok yang diinginkan para wali". Entahlah.
Read more ...
Sunday, September 23, 2012

Sambirata Yang Belum Merata


#CEKQurban-- Catatan Ekspedisi Kampung Qurban-- (part 1)

Prologue : Saat beranjangsana ke banyak wilayah, mungkin kita sering menemui banyak tempat dengan nama yang sama. Jika kita melakukan backpacking di Singapore dan melalui gedung imigrasi Woodlands, kita akan mudah mendapati stasiun MRT Kranji. Tentu saja stasiun itu jaraknya sangat jauh dengan stasiun Kranji, Bekasi. Masih berpuluh-puluh kilometer juga jaraknya dengan Kelurahan Kranji, Purwokerto Timur. Begitu juga ketika kita jajan es pocong di daerah Kober, Depok hal serupa tak dapat ditemui di daerah Kober, Purwokerto. Begitu juga di daerah Purbalingga ada grumbul yang bernama Sambirata, maka dengan perjalanan tak lebih dari satu jam kita akan menemui sebuah desa bernama sama, Sambirata di kecamatan Cilongok, Banyumas. Entah ada berapa lagi tempat yang benama Sambirata atau mirip-mirip seperti Sambiroto, yang pasti desa Sambirata yang ada di kecamatan Cilongok, Banyumas ini punya beberapa kisah tersirat yang istimewa.
Tak lebih dari 30menit perjalanan yang dibutuhkan dari Purwokerto untuk bisa menjangkau lokasi Desa Sambirata, Cilongok. Dari Masjid Besar Baitul Matien Pernasidi, kita akan mendapati jalan raya menuju desa Panembangan, jalanan yang di kanan kirinya bisa dengan mudah kita dapati hamparan sawah. Ada sekitar dua tikungan hingga kita harus melalui jalanan yang mulai menegak curam serta beberapa kelokan tajam. Namun jika kita menikmati perjalanan, maka tak lama akan kita jumpai lapangan Sambirata yang tepat berada didepan kantor kepala desa.

Desa Sambirata terdiri dari lima RW dengan sekitar enam Grumbul : Sambirata, Cimerang, Karang kobar, Ragung, Glempang, dan KarangGondang. Perjalanan kami sesiang itu sangat terbantukan dengan kehadiran Pak Jurjani, warga yang juga perangkat desa bagian kesra di Sambirata. Beliau yang sudah wanti-wanti untuk datang lebih pagi karena berkeliling desa Sambirata memang cukup makan waktu dan tenaga.
Grumbul Ragung termasuk grumbul yang cukup padat penduduknya. Meski begitu, lokasi rumah-rumah  penduduknya masih berjeda dengan jarak.  “neng kene tah nggih jarang sing qurban, ya kadang-kadang bae ana” (Disini jarang ada yang qurban, kadang-kadang saja ada.red). Begitu ungkapan salah satu penduduk ketika diajak berbincang sesaat sambil melepas lelah. Di dusun Ragung kami transit di masjid Al-Huda. 
Read more ...
Tuesday, August 28, 2012

Belajar Ber-Idul Fitri ("Reinkarnasi")


#catatan Idul Fitri

Belajar Ber-Idul Fitri
“Berhariraya itu gampang. Tapi beridulfitri susah bukan main!” (Emha Ainun Najib)


Mungkin tak habis kosakata yang bisa kita lontarkan ketika mendengar kata idul fitri atau "lebaran". Istilah terakhir tentunya hanya dikenal di Indonesia.  Orang Jawa beranggapan istilah “lebaran” berasal dari ungkapan bahasa Jawa “wis bar (sudah selesai)”, maksudnya sudah selesai menjalankan ibadah puasa. Kata “bar” sendiri adalah bentuk pendek dari kata “lebar” yang artinya “selesai”. Bahasa Jawa memang suka memberikan akhiran “an” untuk suatu kata kerja.Apa saja yang dapat diingat ketika hari raya satu syawal ini? Ketupat, opor ayam, keluarga, baju baru, pulang kampung, THR, arus mudik-balik, nyadran (silaturahmi), kue lebaran, kembang api, bedug, charity, dan banyak hal-hal lainnya. Tentu saja ada yang positif dan ada yang negatif, tingginya angka kecelakaan tentu saja tidak bisa dielakkan sebagai fakta yang juga turut hadir di moment hari raya umat Islam ini. Kalau kemudian di hari-hari lain kita punya banyak hari yang dijadikan moment, mungkin lebaran menjadi gabungan dari semua perayaan itu. Hari kasih sayang? hari ibu? hari keluarga? hari penuh cinta? dan momentum hari-hari berkesan lainnya , semua ternyata dapat kita temukan dalam satu tanggal di satu syawal. Satu syawal yang menjadi moment berkumpul, berkasih sayang, bermaaf-maafan, dan sebagainya.

Mengutip kata-kata cak nun, berhari raya itu mudah namun beridul fitri itu sulitnya minta ampun. Statement yang jadi sebuah refleksi bagi pribadi, sudah sejauh mana saya beridul fitri???!!

Tentang Episode Terakhir 

Maka entah kenapa ada sebentuk rasa aneh yang membuncah saat adzan maghrib pun bergema sebagai tanda akhir dari sebuah hari di 29Romadhon. Ada yang menelusup.., disini.., di satu sudut hati, yang tak terjangkau dengan frasa apapun. Sedikit haru menelusup, seberkas sesak menyusup saat dari balik studio kuputarkan beberapa track takbiran. Angin gunung yang menusuk tulang seperti bernotasi mengiringi tiap ungkap puji dan takbir pada Sang Pelukis Malam.

Read more ...
Tuesday, August 14, 2012

nothing

Pagi ini aku mencoba semacam "menapaktilasi" blog ini. Blog yang dibuat tahun 2005, dibuatkan oleh seorang teman. Sempat berubah-rubah nama. Tapi akhirnya sampai pada nama ini sejak 2010. 
Tadi sempet meng-hidden beberapa postingan. Ya, aku melihat betapa childist nya aku dulu. Betapa yach..betapa..:)
Tapi, seru kok tau bagaimana perjalanan emosi kita melalui tulisan dan kemudian melihat kondisi diri ini sekarang. Syukur Alhamdulillah, terimakasih kepada semua orang yang telah menjadi partner pendewasaan diri. Kalian sungguh luar biasa dan teramat berharga untukku. 

Sekian saja, sekedar sapaan pagi. 

--Shinta arDjahrie--
sekedar pembelajar :)
Read more ...
Saturday, August 11, 2012

Menyoal Rasa Sakit

#catatanBuritanRomadhon


Sesosok gadis kecil bandel, di suatu malam idul fitri asyik berlarian dengan saudara dan handai taulannya. Memecah tawa diantara percikan kembang api. Tiap pancaran kembang api dari gulungan petasan semakin membahanakan tawa. Tiba-tiba ada kesalahan di petasan yang digenggamnya. Serbuk yang seharusnya memancar ke bagian atas justru bertumpahan kebawah seiring dengan merembetnya nyala api dari sumbu. Tak pelak dilemparnya petasan itu meski terlambat. Sakit. Perih. Namun digenggamnya semua rasa itu sepanjang malam. Tak boleh menangis, tak boleh sakit. Masih ada beberapa jeda menit sebelum bedug shubuh ditabuh. Gema takbir sudah menyayup dalam lelap fajar di hari fitri. Gadis itu meringis dan akhirnya menangis, di sudut kamar yang ia kira sepi tak berpenghuni. Ia tak mungkin mau menangis di hadapan orang lain, meski di beberapa kondisi terjebak air matanya tak dapat tertahan.

"kok nangis?" suara serak itu membuat tersentak. "tangannya masih sakit?" dijawab dengan gelengan kepala yang tentu saja membuat penanya menjadi heran tak kepalang. 
"kata di buku, orang yang tak bersungguh-sungguh di romadhon maka tak akan bahagia di lebaran. Pa, nta di-hukum-kah? Allah marah-kah? sehingga tangan kananku ada bengkak karena terkena petasan? Pa, kenapa harus ada rasa sakit? apakah itu hukuman Allah?"
Lelaki itu duduk disamping sang gadis.
"Nak, sakit itu bukan akibat tetapi itu bagian dari proses. Waktu kau keluar dari rahim ibumu, rasa sakitnya pasti tak terbayang, Sakit membuat kita bertambah tahu, sakit adalah belajar. Misalnya, belajar hati-hati untuk tidak bermain petasan"
Kemudian mereka sama-sama tersenyum.


Berbicara tentang "sakit itu bukan akibat tetapi itu bagian dari proses", tentu saja bukan dalam ranah medis, bukan dalam konteks mekanisme biologis, dimana seperti contoh kalau kita telat makan lambung kita akan bereaksi. Dalam beberapa hari terakhir ini, saya mendapati beberapa kabar sakitnya saudara, teman, dan handai taulan (dan akhirnya saya sendiri pun jatuh sakit.hehe). Ibu teman saya beberapa hari yang lalu juga baru saja menjalani operasi, kabarnya semacam ada tumor di mulut (atau lidah ya?) , ya alhamdulilah nampaknya operasinya berjalan lancar. Beberapa hari yang lalu saya juga menengok seorang teman yang sedang terbaring sakit (walaupun tetap tengil juga dia saat sakit). Di rumah sakit saat itu saya melihat belasan, puluhan orang terbaring tak berdaya. Maka rada jengkel juga ngliat sekelompok mahasiswa koas yang lagi meriksa tapi sempet-sempetnya BBMan dan cengar-cengir gitu. Semoga keponakan saya nun jauh disana sedang menjalani tiap stase koas-nya dengan bersungguh-sungguh. Sepulang dari rumah sakit saya juga sempat ngobrol dengan teman saya tentang film "patch adam", film lama yang membuat saya mengerti sedikit hakikat kedokteran.hehe.

Kembali tentang sakit. Kalau di wikipedia menyebutkan , yang disebut sebagai proses justru "penyakit"nya dimana ada definisi bahwa penyakit adalah  Penyakit adalah proses fisik dan patofisiologis yang sedang berlangsung dan dapat menyebabkan keadaan tubuh ataupikiran menjadi abnormal.. Sedangkan sakit adalah rasa yang dirasakan sebagai reaksi dari proses penyakit itu sendiri. Ok, dan dalam lingkup yang lebih luas lagi, saya lebih sepakat bahwa sakit itu memang bagian dari proses sebuah pembelajaran. At least, dengan sakit kita menjadi belajar betapa pentingnya menjaga kesehatan. Atau kalau di anak-anak balita itu kan kalau mau tumbuh gigi kadang harus demam segala. Nah, sakit yang seperti itu yang digambarkan sebagai sebuah bagian dari proses yang perlu dijalani. Seperti janin yang akan keluar dari rahim, meski saya belum merasakannya, tapi bisa terlihat betapa sakitnya sangat luar biasa. Banyak jalan yang kita harus melaluinya tidak dengan mulus saja, tapi ada beberapa kali sandungan, terjal, ataupun segala hal yang harus menyentuh diri kita sehingga terasa tidak nyaman. Namun semakin kita merasakan sakit, kita semakin bertambah sistem imun-nya (bener gak sih teorinya? CMIIW). Maksudnya, dalam pengertian yang lebih luas kita jadi semakin banyak tahu mengenai rasa sakit itu semakin membuat kita bijak dan meningkatkan empati kita, meskipun untuk membangun empati tentu saja tidak harus nunggu sakit terlebih dahulu. Saya juga pernah punya teman yang setelah sakit pribadinya menjadi berubah 180derajat. Sebelumnya dia orang yang sangat cuek dan kasar, suatu saat ketika baru beberapa bulan ia jadi anak kos alerginya kumat dan itu pertama kalinya ia sakit saat jauh dari keluarga. Sejak saat itu ia menjadi pribadi yang low profile, meski kadang-kadang masih juga songong.hehe. (sori ce!).

Sakit bisa bermakna lebih luas menjadi sebagai sebuah kondisi yang tidak nyaman. Tidak banyak orang yang bisa bertahan dalam kondisi yang tidak nyaman. Meskipun kondisi-kondisi seperti itu yang sebenarnya akan membuat mereka berkembang dan punya pengalaman berbeda dengan orang lain. Maka saya justru senang sekali ketika dihadapkan pada kegiatan-kegiatan atau proyek-proyek yang terjun langsung ke kehidupan masyarakat yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Menemui orang papa lagi tua yang harus tinggal sendiri dengan kondisi lumpuh, menyaksikan seorang adik yang harus menjalani penyakit-penyakit yang tidak umum, menyaksikan penyakit-penyakit kemiskinan (baik miskin materi atau non materi) , sakit kebodohan yang mungkin dalam beberapa kondisi mereka lebih tepat disebut "pesakitan" yang menjadi korban sebuah sistem.
Read more ...
Saturday, August 04, 2012

[repost] Sedikit Catatan Tentang Rohingya

Pengen share sebuah catatan yang menarik. Teks aslinya ada di  https://www.facebook.com/notes/rika-isvandiary/sedikit-catatan-tentang-rohingnya/10150977222131860 

Sekedar mengingatkan, kasus Rohingnya bukanlah peristiwa yang baru muncul belakangan. sejak bertahun-tahun lalu, kaum muslimin Rohingnya sudah menjadi 'pesakitan' dengan hidup di atas perahu dan mencari suaka ke berbagai negara. Masalahnya bukan hanya tentang isu agama, tapi juga politik, kekuasaan, kewarganegaraan, diskriminasi etnis dan lain sebagainya. Menurut saya yang terpenting sekarang bukan hanya 'mengankat'' masalah pembunuhan atas nama agama, tapi juga tawaran solusi dan advokasi yang bisa segera dilakukan. Ini ada sedikit kajian dari bang Herus Susetyo yang ditulis sejak tahun 2009, kala muslim Rohingnya banyak terdampar di Aceh.

NON REFOULEMENT
DAN PENCARI SUAKA ROHINGYA-MYANMAR

By : Heru Susetyo
Mahasiswa Program Doktor Human Rights & Peace Studies Mahidol University/ Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia

 Kedukaan di awal tahun 2009 ini bukan hanya milik warga Gaza tapi juga bagi ribuan pencari suaka Rohingya asal Myanmar.  Warga minoritas muslim Myanmar ini sudah belasan hari terdampar di lautan mencari suaka ke negara-negara  sekitar Selat Malaka dan Laut Andaman.  Dan ini hanya salah satu episode saja.  Karena, sama dengan rakyat Gaza yang telah menderita sejak awal pembentukan negara Israel, etnis Rohingya-pun sejak awal merdekanya negara Burma (kemudian menjadi Myamnar pada tahun 1989) tak pernah mendapat pengakuan sebagai etnis dari sekitar 137 etnis yang diakui di Myanmar.  Maka, dalam bahasa aktivis LSM di Thailand, etnis Rohingya disebut sebagai : Stateless and Forgotten People (orang tanpa kewarganegaraan dan dilupakan).

Terusir dari negerinya dan menjadi manusia perahu (boat people), warga Rohingya tertatih-tatih menanti negeri yang mau menampung mereka.  Sekitar 1200 warga Rohingya meninggalkan Myanmar pada bulan Desember 2008 menuju Thailand.  Datang dengan cara yang tidak umum, otoritas Thailand segera menampik mereka.  Sebagian mereka masih ditahan di Thailand dan sebagian kembali terusir ke laut.  Menggunakan sembilan perahu mereka kemudian terdampar di Laut Andaman, sebagian kecil diselamatkan oleh warga Indonesia dan kini ditampung sementara di Aceh. Sebagian kecil yang lain diselamatkan oleh Angkatan Laut India.  Selebihnya masih terkatung-katung.  Daily Yomiuri (11/2-09) menyebutkan bahwa pada nelayan Aceh menyelamatkan 220 ‘manusia perahu’ Rohingya pada 2 Februari 2009, namun 22 diantaranya telah tewas karena kehausan dan kelaparan.

Penelantaran oleh negara asal Myanmar dan pengusiran oleh negara tujuan Thailand tentunya menimbulkan pertanyaan, apakah memang stateless persons dan para pencari suaka (asylum seekers) tak memiliki hak untuk diperlakukan secara wajar dan mendapatkan perlindungan yang layak secara kemanusiaan?


Read more ...
Saturday, July 14, 2012

BONSAI

#catatanDiniHari
#bisa dilihat di www.shintaardjahrie.blogspot.com 


"Om, bonsai itu bisa berbuah nggak sih?"
"ya bisalah.., tadinya calon tumbuhan besar di treatmen biar kerdil bila dikembalikan pada habitat ya akan kembali besar.."


Kurang lebihnya itulah sepotong obrolan dini hari melalui layanan pesan pendek di handphone-ku hari ini. Beberapa sesap cappucino sedikit memercikan hangat ditengah angin gunung bulan Juli yang kerap membuat tubuh menggigil. Dingin bulan Juli yang kerap membuatku menjadi "anak ingusan" dalam arti denotatif. Kucoba hiasi dengan diskusi-diskusi hangat sebagai sahabat. 


Bonsai. Kita mengenal ini sebagai salah satu jenis tanaman hias yang cukup banyak penggemarnya. Seni membonsai juga bukan sebuah ketrampilan yang sederhana. Tak semua orang dapat memelihara bonsai dengan baik. Salah perlakuan maka tak pelak akan berakibat pada kematian pohon tersebut. Lepas dari semua hal tentang bonsai, yang ingin kugarisbawahi adalah bahwa sebagai makhluk hidup bonsai tetap punya kesempatan untuk menjadi tumbuhan besar. Pilihan lah yang menjadikan ia menerima treatment untuk menjadi kerdil (meski indah). 


Jika hidup ibarat pohon, maka kita yang bisa memilih sendiri akan menjadi pohon yang seperti apa. Ada pohon kelapa yang tinggi menjulang dengan segala kebermanfaatan. Ada pohon beringin yang rimbun dan memberikan keteduhan (gak bermaksud mendukung partai tertentu lho..hehe.) Ada juga pohon-pohon lain dengan segala ciri khasnya masing-masing. Selain itu, pohon juga bermacam-macam jenisnya berdasarkan cara tumbuhkembangnya.
Read more ...
Wednesday, June 27, 2012

#suka adalah..

Ngliat permainan gitar  yang geje dan sumbang...meski hanya lewat monitor.., tapi kau bisa tersenyum menikmatinya... 


Galau pagi...lalala yeyeye... :D 
Read more ...