Pages

Thursday, July 25, 2013

Ikhtiar Melunasi Janji



Adzan Isya sudah mulai bersahutan saat kami memasuki salah satu tempat makan yang berlokasi di daerah Gor Satria. Kupilih tempat ini karena tersedia menu alternatif untuk tidak makan nasi. Kemudian sembari menunggu menu kami diantar, perbincangan pun terus mengalir. Tiba-tiba, adikku yang paling bungsu itu, mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tas. Nampaknya ia sudah ingin sekali menunjukan bungkusan tersebut. Ternyata isinya adalah sebuah “jas karung goni” alias jas almamater salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Ecieeee…yang sudah resmi jadi mahasiswa, begitu ledekku. Pssst…, jas almamaternya lebih bagus dari kampusku dulu, unsoed..hahaha.

Dalam ruang benakku, kehadiran jas almamater itu seolah menyeret sebuah lintasan peristiwa di beberapa bulan terakhir ini. Sembari menemaniku adikku berbuka puasa, dan mendengar segala celotehnya, alam pikiranku bermain-main dengan beberapa kenangan.

Sudah menjadi komitmenku sepeninggal almarhum ayah, untuk mengawal bagaimana proses tumbuh kembang kedua adikku yang saat itu masih sangat remaja. Sebuah sayatan hati yang tak akan pernah hilang memori malam itu di rumah sakit. Peluk tangis dari adik-adik yang membasahi bahuku, sampai detik ini masih terasa basah. Kuyup hingga ke hati. Semua pesan tentang mereka yang disampaikan kepadaku di enam bulan jelang kepergiannya, malam itu seolah menggema hingga saat ini. Persis keesokan harinya adalah pengumuman kelulusan si adik dari sekolah menengah pertama.

Mulai saat itulah, saya berusaha memposisikan diri untuk menjadi pengawal mereka dalam bertumbuh kembang termasuk dalam pendidikan mereka. Agenda-agenda seperti masuk sekolah baru, terima raport, ujian akhir, dan sejenisnya, saya sempatkan hadir. Bahkan untuk pementasan teater dimana si bungsu jadi pemeran utama, saya sempatkan pulang untuk memberikan apresiasi.

Ketika adik perempuanku lepas SMA, kucoba semaksimal mungkin untuk mendampingi berbagai ikhtiar masuk perguruan tinggi. Kini ia menjadi salah satu mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota kelahiran. Ambil jurusan yang disenanginya, pendidikan matematika. Semoga berkah.

Ya, doaku hanya ingin ikhtiar kami ini diberkahi. Bukan untuk mencapai hal-hal yang muluk. Bukan untuk mendapat prestise bersekolah di PTN terkenal. Kami memohonkan keberkahan saja, itu sudah sangat menenangkan.

Dan kini juga tanpa terasa si bungsu yang baru genap 17 tahun sudah berstatus menjadi mahasiswa (baru). Seperti ada rasa plong yang tak terkira. Seperti mimpi saja bahwa si bungsu yang dulunya saya jemput saat pulang TK, kemarin saya antar ke UGM.

FYI, adik-adik saya ini sangat berbeda dengan kakak perempuannya ini. Mereka termasuk “anak rumahan” yang jarang pergi jauh. Maka ketika harus pergi keluar kota, bisa terbayang kan bagaimana “nervous”nya. Ibu juga merasa khawatir karena anak bungsunya itu memang  tak pernah pergi jauh. Untuk adik perempuan, mungkin saya bela-belain jemput di Tegal kemudian saya antar lagi ke purwokerto dan diantar pulang lagi ke Tegal. Tapi untuk si bungsu laki-laki, saya agak melepas. Sekedar untuk melatih mental-nya.

Sampai akhirnya test masuk ia memilih UGM. Itu sebenarnya sepenuhnya saranku. Tapi aku tidak memaksakan dengan pilihan jurusan yang akan diambil. Toh kami juga sudah sepakat bahwa UGM lebih bagus daripada Unsoed.hahaha. Maksudnya begini, saya memilihkan tempat belajar untuk adik saya bukan karena unsur favorit atau prestise segala macam. Saya mencarikan tempat yang lingkungannya punya budaya belajar, bukan budaya mencari nilai, bukan budaya bersaing. Unsoed juga bagus, tapi budaya belajarnya kurang, tradisi riset dan keilmuannya masih sangat kering. Kalaupun banyak penelitian yang dapat dana hibah, maaf saya masih melihat motivasinya masih sekedar motivasi proyek. Jadi, bukan urusan kampus ini lebih keren daripada yang lain. Bukan itu. Tapi lingkungan kota Yogyakarta secara umum memiliki atmosfer yang menyenangkan untuk belajar banyak hal. Saya rasa, semua sepakat atas hal ini. Kalau ada yang bilang saya modus biar bisa sering ke jogja, waah..itu pitnah!hehe. Dari dulu saya juga sudah pingkopangkaping sering ke jogja, meski sekedar untuk mencari buku atau nonton pameran.

Sebenarnya adik saya sangat berkeinginan untuk masuk jurusan akuntansi. Tapi belum rejekinya. Daftar di Simak UI  juga pilih akuntansi dan sosiologi, tapi belum lolos. Rejekinya memang di sosiologi UGM. Karena pengalaman mengawal adik perempuan saya di tahun sebelumnya, saya berusaha mengambil semua peluang test supaya kesempatan masuk PTN jadi lebih luas. Selain ikut SBMPTN dan SIMAK, adik saya juga ikut test STAN dan juga saya berniat mengikutsertakan dia di test UM UGM. Pokoknya semua cara biar bisa masuk UGM deh. Etapi, ndilalahnya, pas batas akhir pendaftaran UM, dompet saya seret, ATM juga lupa belum ngurus (udah lama banget lupa pin dan keblokir), pas hari sabtu pula dan lagi di luar kota. Padahal itu baru beberapa hari gajian, tapi karena pengeluaran lagi banyak banyaknya, langsung bokek sebokek-bokeknya. Dengan manyampaikan maaf ke adik saya bilang : “ que sera-sera aja yak, gak perlu ikut utul ugm dulu..,”. Eh, ternyata SBMPTNnya malah lolos. Alhamdulillah banget.

Waktu nerima pengumuman lolos itu, kebetulan juga lagi di jogja, trus lagi di transjogja. Entah kenapa, adhe’ku yang lolos tapi aku yang terharu. Hehehe. Mungkin gitu ya perasaan para orang tua atau keluarga yang anak-anaknya masuk PTN.

Selepas pengumuman, masih agak deg-degan, karena belum tahu berapa nih biaya kuliah di UGM. Kebayang berapa penghasilanku yang masih kecil, harus mikir dibagi-bagi lagi. Pas hari pengumuman UKT, ternyata mendapat nol rupiah alias gratis. Alhamdulillah. Kabarnya lagi, malah nanti dapat uang saku perbulan. Ah, nikmat mana lagi yang sanggup ku dustakan.

Kini tinggal ikhtiar mencari lingkungan tempat tinggal yang kondusif. Sebenarnya kalau masalah ngekos, bisa-bisa saja. Tapi, saya  pribadi memang menginginkan dia untuk bisa tinggal di asrama atau pondok  yang punya sistem pendidikan informal, jadi ke jogja tidak Cuma dapat ilmu kuliahan. Beberapa kenalan sudah saya kontak, baik masjid, ormas, atau pondpes. Belum final, akan tinggal dimana. Saya kepengennya minimal tahun pertama ia belajar “ngabdi”, belajar melayani masyarakat. Kalau lepas setahun dia tidak betah atau ingin pindah, silakan. Tapi, setidaknya saya sudah melakukan bentuk ikhtiar  mencarikan lingkungan pendidikan yang kondusif.  Itulah janji saya pada almarhum ayah, yang tentunya saya jalani bukan hanya sekedar untuk pelunasan, tapi benar-benar sepenuhnya untuk kebaikan sang adik.

Tulisan ini mungkin agak melo. Tapi memang inilah yang menjadi semangat dibelakang segala yang sedang coba diusahakan. 


Kangen papa. Sangat.

Kamis, 16ramadhan 1434 H
Ditulis dari kemarin sore, tapi baru kelar sekarang.hehe.
Pagi-pagi sudah on , persiapan untuk mengisi materi character building di acara sanlat sebuah SMP di Purwokerto. Tapi masih bingung , ini mo ngasih materi apa.hehe. 
Read more ...
Thursday, July 11, 2013

Merajuk di RamadhanMu


Ramadhan. Aku sebenarnya bingung akan menuliskan apa. Tapi yang pasti, ada bahagia yang terselip, bukan selembar tapi berlembar-lembar.., banyak lembar kebahagiaan yang sudah menelusup memenuhi setiap ruang hati, tanpa menyisakan celah sedikitpun. Bahagia itu hadir seketika, begitu saja tanpa menuntut banyak argumen.

Awalnya , ada satu hal yang sebenarnya agak mengganjal . Pekerjaanku di sebuah lembaga sosial menuntut target penerimaan yang tidak sedikit di bulan Ramadhan. Di satu titik, saya merasa ada dalam kondisi underpressure, nyaris stress. Dalam hal ide dan operasional media mungkin bisa tertangani, tapi dalam beberapa ide-ide baru saya perlu memanjangkan kadar sabar yang dipunya.

Meski saya orang yang sepakat bahwa Ramadhan harus lebih produktif. Tapi nominal target itu membuat aku agak berpikir juga. Ya, kalau seukuran DD yang menargetkan 80miliar selama Ramadhan sih itu mungkin masih “wajar” –meskipun aku cukup terhenyak juga..wow banget 80M-- . hehe. Untung saja lembagaku cakupannya masih tingkat kabupaten.

Masalahnya juga, saya nyambi kerjaan-kerjaan lain. Juga lagi sibuk untuk ngurus-ngurus adik bungsu yang mau masuk kuliah. Kalau kegiatan-kegiatan lain semacam organisasi, udah hampir hilang semuanya. Paling ya di masjid, mantau kegiatannya adik-adik saja. Kebetulan juga adik bungsu saya selama test masuk PTN juga numpang jadi “santri sementara” di asrama masjid. Jadi ya sekalian saja. Hehe. Sesekali masih juga diundang ikut aktip di beberapa komunitas. Ya, sekedarnya saja sih.  Intinya sih, di Ramadhan ini dituntut kesibukan yang luar biasa.

Nah, akhirnya saya cukup terhenyak ketika teringat sebuah obrolan di satu malam beberapa pekan sebelum Ramadhan. Kata teman saya, ramadhan itu ya bulan dimana kita memperbanyak ibadah maghdah, ibadah kepada Allah. Satu sisi hati saya sangat mengiyakan. Saya sangat merindukan jenak-jenak tarawih, tadarus, sahur yang syahdu, tanpa harus ribet mikir kerjaan. Tapi satu sisi saya terposisikan sebagai penanggungjawab untuk target penerimaan di tempat kerja.

Sebenarnya kalau mau jujur, saya orang yang nggak pengen ngoyo tapi harus tetep idealis. Maksudnya, apa yang bisa dimaksimalkan di urusan “dunia” ya lakukanlah, tapi kesempatan Ramadhan itu hanya sekali dalam setahun ketika kita bisa memaksimalkan hubungan dekat kita pada Sang Pemilik Cinta.

Ramadhan ini aku ingin banyak merajuk pada Allah, bermanja-manja dalam peluk Kasih SayangNya. Karena sedang banyak yang ingin kucelotehkan, mengutarakan banyak frasa dalam ruang-ruang sujud panjang tanpa kesudahan.

Aku ingin merangkai banyak puisi dalam tiap hela persinggungan hatiku denganNya. Aku ingin kuatkan kakiku untuk banyak berdiri tegak sepanjang malam. Ya, aku tau ibadah memang bukan hanya sholat, tapi ini persinggunganku yang paling asasi dengan Pemilik Arsy. Aku masih cukup bodoh dan masih hanya hamba awam yang masih sangat kerdil nilai ibadahnya. Aku bukan seperti para muabid yang tak lelah menunaikan berbagai macam ibadah wajib dan sunah. Aku masih anak slengekan yang pemalas. Ngaji bolong-bolong, sholat suka telat, ah pokoknya jauh sekali deh dari sempurna.

Sementara itu, aku sedang merasakan kerinduan yang sangat rindu dimana butuh benar-benar kondisi paling dekat dan hangat dengan Tuhan. Aku sedang memiliki banyak rindu dan pinta yang ingin diceritakan pada Tuhan dan bermanja-manja padaNya. Aku sedang ingin merajuk di RamadhanMu.


2 Ramadhan 1434 H
Untuk kamu, yang selalu kuceritakan dalam doaku padaNya.
Untuk kamu yang selalu menyesakkan ruang hati. 

Read more ...

Cookies Kurma Corn flake

Singkat cerita, jelang Ramadhan ini saya lagi pengen bikin kue. Ya, pengen aja. Seneng aja rasanya, jika tiap hari berhadapan dengan pekerjaan kemudian dapat refreshing untuk “akrobat” di dapur. Saya cari ide kue yang simple dan banyak orang suka. Ngobrol-ngobrol ringan sama ponakan, akhirnya memutuskan bikin cookies aja.hehe. Rencana awal saya ingin membuat cookies dengan aroma dan rasa kopi. Tapi karena saya sendiri agak khawatir dengan kadar kopi yang terlalu banyak, maka jadilah cookies siram coklat almond saja. Itu saya buat saat pulang ke Tegal. Dari hasil masak tersebut, jadilah tiga toples kecil. Satu untuk di rumah dan satu dibawa ke kantor. Ternyata satu toples yang ada di kantor langsung ludes tanpa sisa dan semua bilang enak. Karena ada yang tidak kebagian, saya jadi berniat untuk “beraksi” lagi, sekalian bikin kue ucapan menyambut ramadhan. Yak, karena bikin kue lebaran terlalu mainstream jadi saya buat sebelum bulan puasa saja..hehe. Kebetulan juga saat saya maen ke sekre masjid Fatimah, ada “tumpukan” kurma, saya meminta satu bungkus besar dan jadi kepikiran untuk membuat cookies kurma. Saya membuat cookies kurma saat nginap di tempat teman, saya kerjakan ba’da Isya sampai dini hari. lembur. hehe. Tapi sekali lagi, saya excited karena mungkin seperti mendapat hiburan dari jenuhnya bekerja.hehe. Berikut saya tuliskan resep serta budget membuat cookies kurma cornflake ini. 

Bahan :
Tepung terigu rendah protein 1000gram
Telur (dipakai kuningnya saja) 500gram
Gula halus  400gram (atau sesuai selera. saya sendiri tidak suka yang terlalu manis)
Cream chesse  250gram (juga sesuai selera saja, jika ada yang tidak suka bisa dikurangi)
Margarine 500gram (saya mencampurnya juga dengan room butter, tapi tidak dicampur juga tidak apa-apa)
Susu bubuk fullcream 100gram
Baking powder
Dark Chocolate 250gram
White Chocolate 250gram
Kurma (dipilih yang kurma agak kering) dipotong kecil-kecil
Corn flake  

Cara membuat :
1. Masukan kuning telur, margarine, room butter, gula halus, cream cheese , kemudian kocok sampai lembut. Setelah itu bisa masukan kurma.
2. Tepung diayak bersama baking powder kemudian dicampur dengan baking powder.
3. Campur tepung kedalam bahan (1) yang sudah dikocok. Kemudian uleni adonan sampai kalis. Karena ini adonan cookies jadi sekering mungkin. Jika ingin menambahkan perenyah, bisa juga dicampurkan ke adonan.
4. Panaskan oven, dan siapkan Loyang yang telah diolesi margarine tipis-ipis.
5. Bentuk adonan ke dalam bulatan kecil-kecil, kemudian ditekan-tekan dengan jari, dan tata diatas laying, kemudian panggang selama kurang lebih 30menit.
6. Setelah matang, siram dengan Dark Chocolate yang telah dicairkan, tambahkan cornflakes. Bergantian dengan white chocolate atau sesuai selera.
7. Tunggu coklatnya kering, dan siap untuk disantap. Perpaduan rasa kurma, coklat, cornflakes, menjadikan rasa cookies ini cukup unik..:)
Untuk satu kilogram ini bisa dibuat untuk sekitar enam-tujuh toples sedang (yang biasa dipake untuk kue-kue lebaran). Itu kalau “sempurna” semuanya. Saya kebetulan mengemasnya kedalam kemasan kotak mika kecil (isi enam) dan kotak mika sedang dan isi lima belas keping cookies. Kemarin bisa sampai 25kemasan kecil dan 5 kemasan sedang, juga masih menyisakan sekitar satu toples ukuran sedang.
Berikut akan saya tuliskan budget untuk membuat cookies. Ini harga yang saya dapatkan dengan belanja di salah satu supermarket bahanpangan di Purwokerto. Saat saya di Tegal, saya belanja di pasar tradisional, tentu ada beberapa selisih harga. Saran saya, jika memang sempat dan paham, mending ke pasar tradisional saja, tapi jika ingin praktis bisa ke supermarket / toko bahanpangan. Di Purwokerto yang terlengkap ada di INTISARI.  Dan inilah itu,

Tepung terigu  Kunci Biru  1kg                      : Rp 8.400,00
Cream cheese CALF                                      : Rp 7.325,00 / ons
 Gula Halus (merk TITIAN)                           : Rp 6.500,00/ 500gr (kemasannya 500gram)
Telur                                                                : Rp 9.900,00 / 500gram
Margarine (eceran)                                          : Rp 3.700,00/ 250gr
Room butter                                                    : Rp 9.750,00/250gr (tidak pakai roombuter gpp)
Susu bubuk fullcream                                     : Rp 7.000,00 / ons
Baking Powder                                               : Rp 1.100,00 / 50gr
Dark Chocolate Collata                                  : Rp 14.550,00 / 250gram (kemasannya 250gr)
White Chocolate Collata                                 : Rp 14.900,00 / 250gram (kemasannya 250gr)
Corn flake                                                       : Rp  6.500,00 / ons

Untuk harga kurma, terus terang saya tidak paham. Bisa cek sendiri di pasar. Kemarin kan saya dapat kurma gratisan dari masjid.hehe.

Nah, jadi total anggaran yang dikeluarkan untuk membuat satu kilo cookies kurma ini sekitar Rp 89.625,00 kita sudah bisa membuat sekitar satu kilogram cookies kurma. Tentu saja, tidak semua bahan diatas digunakan. Kalau untuk selingan saja, bisa bikin ukuran 300 atau 500gram saja. Takaran bahan lain sila menyesuaikan. Kalau untuk dibisniskan, satu kilogram bisa jadi 6 toples, pertoplesnya bisa dihargai 20-30ribu sepertinya. Entahlah, saya termasuk orang yang kurang telaten dalam hal bisnis seperti itu.hehe.

Harus diakui, saya memang bukan orang yang sering masak, saya bukan orang yang intim dengan dapur, tapi itu semua tak bisa menafikan kesukaanku pada dunia masak-memasak. Kalo dibilang jago banget, sih nggak. Tapi saya bukan orang yang tabu untuk  terjun belanja ke pasar dan mengujicoba berbagai resep di dapur. Memasak apa saja. Dan so far, para penyantap hasil masakanku, memberi nilai “not bad”. hehe.

Oke, demikian saja postingan saya kali ini. Kapan-kapan bisa posting di tema serupa. Seru juga masak-memasak dan membagi pengalamannya kepada orang lain. Selamat mencoba. J


Read more ...
Monday, June 17, 2013

Tentang Kerja, Syukur, dan Cinta

*Diambil dari buletin jumat "Jendral Sudirman" Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta sekira sebulan lalu, 18/5/2013


Namanya Mamang. Sepertinya itu bukan nama asli. Hanya saja selama ini kami memanggilnya seperti itu. Jika matahari sudah naik sepenggalah, jumpailah senyum-sumringah Mamang. Ia berjalan dengan sandal jepit tipis. Dua blik besar berdiameter setengah meter yang berisi kerupuk, terpanggul di pundaknya. Ia menjajakan kerupuk-kerupuk dengan berkeliling kota.
Pekerjaan ini sudah dijalaninya bertahun-tahun. Pasti karena ia cinta pada kerupuk. Saat saya masih bersekolah di TK hingga saya lepas perguruan tinggi, Mamang masih setia dengan dua blik kerupuknya. Menjejaki tiap ruas-ruas jalan kota kecil di pinggiran Pantura itu. Terkadang kami melihat Mamang melepas lelah di musholla sebelah. Sambil menunggu waktu sholat tiba.
Senyum sumringah Mamang di pagi hari sebelas-duabelas dengan lengkung indah di wajah pak Kambali. Kami selalu mudah menjemput senyum itu saat bersambang ke kiosnya yang lebih tepat disebut dua buah gerobak sederhana di pasar malam. Dari gerobak-gerobak itu selalu keluar bunyi dan bau harum penusuk hidung. Pak Kambali adalah seorang maestro kue putu dan klepon. Kedua kue jajanan tradisional daerah Tegal yang terbuat dari tepung beras dan di dalamnya terdapat gula merah.
Seperti kecintaan Mamang pada kerupuk, pak Kambali juga mencintai pekerjaannya. Kecintaan yang membuat adonan kue putu dan klepon menjadi sangat luget di lidah. Kecintaan yang membuat beliau menggeluti pekerjaan ini hingga akhir hidupnya. Kini, di lapak yang sama, di gerobak itu tertulis: “Putu Pak Kambali (Putra)”. Ya, usaha itu kini dilanjutkan oleh anak-anaknya. Pak Kambali sudah meninggal.

Read more ...
Sunday, June 09, 2013

EMPING

#catatanRingan yang kebanyakan curcolnya.

Hujan sepertinya sedang bersinergi dengan rindu. Ia sedang sering mencumbu bumi. Kadang pagi, siang, sore, malam, bahkan dini hari seperti saat itu. Saat aku harus terjaga dan mengintipnya lewat jendela. Nampaknya aku memang mudah terbangun oleh hujan, khususnya hujan dini hari. Tapi dini hari itu, aku terjaga selain karena hujan juga karena lapar. Reflek ku tengok meja rendah sebelah tempat tidur. Salah satu perabot “minoritas” karena tidak berwarna hijau seperti jamaknya perabotan yang ada di kamar ini.

Dari sekian banyak benda yang berserakan di meja tersebut, mataku tertumbuk pada kantong kresek putih. Setelah ditengok, didalamnya ada tiga bungkus plastik bening ukuran sedang (duh kok banyak banget sampah plastiknya ya?!maaf ini tak sengaja).  Di tiap bungkusan plastik bening itu ada makanan kering. Dua diantaranya berisi emping, dan yang lainnya krupuk bawang. 

Emping dan kerupuk bawang itu sejenak membawa ingatanku ke sebuah pertemuan di beberapa hari sebelumnya. Saat itu malam 27 rajab. Setelah siangnya berpadu janji, malam itu saya berkesempatan untuk bertemu seorang teman. Sebut saja namanya Demas. Beliau salah satu penggerak komunitas pendidikan di kota kecil ini. Kebetulan ada satu program kerjasama yang ingin diinisiasi, jadi kami perlu berunding. Jadilah, angkringan pasar wage menjadi tempat perundingan itu. Kami ternyata penggemar angkringan untuk tempat diskusi.

Kemudian kami berbincang banyak tema selain tujuan utama tentang kerjasama program. Dari mulai obrolan tentang pendidikan, forum juguran, gamelan, banyumas, wayang sampai tentang pocong. Apa hubungannya? entahlah, mungkin obrolan kami itu ibarat omnibus. Sempat juga beberapa kali obrolan terhenti, oleh pengamen. Kebetulan saya termasuk yang senang melihat aksi pengamen. Kata Demas, bedanya pengamen di Indonesia dan di luar negeri, kalau di negara kita lebih banyak pengamen yang menyodorkan tangan untuk meminta-minta dikasih, sedangkan di luar negeri justru masyarakat yang menghampiri mereka untuk ngasih uang. Dengan kata lain, apresiasi terhadap pekerja seni jalanan diluar negeri lebih tinggi dibanding di negeri kita. Entahlah. Kalau ada pengamen dan aku suka, aku pasti kasih apresiasi, meskipun sedikit. Itu saja yang kupikir. Tidak lebih.

Di lepas pukul sembilan malam, obrolan tiba-tiba harus menemui jeda ketika ada sesosok wanita menghampiri kami. Gurat wajahnya menunjukan jejak perjalanan hidup yang sudah cukup panjang ia jalani. Usianya saya taksir diatas 70 tahun. Warna merah muda di bajunya sudah tak tampak jelas karena memudar. Jilbab bergo yang dikenakan seadanya membingkai wajahnya yang bulat. Mungkin yang khas dari sosok itu adalah celoteh riangnya yang tanpa henti. Hingga tak terlihat lelah yang dirasa.

Satu hal yang dapat dicirikan dari wanita itu adalah dua tas plastik besar di jinjingan dan gendongannya. Ya, ia ibu penjaja emping dan krupuk bawang. Ibu yang dengan penuh percaya diri menghampiri dan menghentikan obrolan kami. Tanpa diminta, ia serta merta mengeluarkan contoh-contoh “produk” yang dijualnya. Gendongannya serasa kantong ajaib Doraemon yang bisa mengeluarkan banyak jenis kerupuk. Ada kerupuk bawang, kerupuk mie, emping, dan entah apalagi. Saya dan Demas awalnya cukup kaget. Kalau jujus, mungkin ada sedikit perasaan terganggu. Tapi itu sekelebat saja. Justru perhatian saya mendadak teralih pada sang wanita itu. Saya hilang keinginan melanjutkan obrolan, justru memulai obrolan baru dengan si ibu. Pertanyaan pertama saya sangat retorik : malam-malam begini masih jualan bu? (saya menyampaikan pertanyaan itu dengan bahasa jawa, tentunya). Ya, mungkin lepas diatas jam 9 itu belum terlalu malam. Tapi, bagi saya, seorang wanita tua berjalan kaki di sebuah pasar dengan sarat jinjingan, itu bukan sesuatu yang bisa dianggap “tidak apa-apa”. Bagi saya, itu sangat “apa-apa”.
Read more ...

Makelar Doa

#catatanRingan

Sudah tak asing bagi orang yang bekerja di lembaga sosial penghimpun dan, di kesehariannya bergulat dengan aktivitas yang ada kaitannya dengan doa dan mendoakan. Bahkan redaksional doa itu sudah tercantum dalam SOP (standart operational procedure) dan sudah harus hafal di luar kepala, terlebih khusus bagi teman-teman yang bertugas di meja pelayanan. Doa sudah menjadi salah satu fasilitas dan bentuk service  bagi para pemberi dana. Bahkan di beberapa obrolan santai, kami menyebut aktivitas ini sebagai bagian kerja makelar doa. Dan memang fakta yang kami temui, banyak orang yang senang sekali minta didoakan. Tak jarang ada request-request doa, entah itu yang mau ujian, mau nikah, mau punya anak, mau umroh, mau punya mantu, minta didoakan untuk kerabat yang sudah meninggal, dan lain-lain. Kami tak jarang memiliki kisah-kisah unik tentang para peminta doa itu. Sekali lagi, saya menekankan saking seringnya, hal-hal ini kadang jadi terasa sangat biasa untuk  dilakukan.

Jujur, saya memang kadang menghindar untuk melayani langsung donatur dan “mengobral doa”. Kadang-kadang saja jika terjebak ada di kantor sampai petang, dan ada donatur yang “kesorean”, maka mau tidak mau saya harus melayani. Kadang saya mengelak dengan alasan agak songong , bahwa itu kan tugas teman-teman bagian pelayanan. Sedangkan kemunculan saya diperlukan hanya ketika harus menyusun konsep, menggarap media dan melakukan lobi-lobi saja. Meski teknik lobbying lembaga filantropi ujung-ujungnya juga pasti ada obral doa juga. Itu tidak salah kok. Hanya saja bagi saya, pekerjaan yang berurusan dengan hati dan Tuhan urusannya sangat begitu komplek.
Read more ...

MARWAH



“…Karena kita tak pernah tahu makna sebenar-benarnya dibalik sebuah tawa ataupun tangis. Bisa berarti bahagia, haru, atau justru malu. Maka menjadi riskan ketika tangisan menjadi tontonan. Ada marwah yang perlu kita jaga pada tiap orang….”

Era teknologi informasi saat ini membuat kita tak susah untuk mengikuti perkembangan berita atau peristiwa yang terjadi . Segala macam bentuk informasi. Dalam lingkup regional hingga internasional. Jarak beribu-ribu kilometer sudah bukan menjadi penghalang untuk mengetahui update informasi terbaru. Baik melalui tayangan visual di televisi hingga berita yang berupa kicauan. Semua ramai dan meramaikan.

Tempo hari dunia hiburan masyarakat kita disibukkan oleh sosok Eyang Subur dengan segala pro kontra dan problematika yang terjadi. Tak bisa dipungkiri beberapa hal privasi juga terkuak di layar kaca , menjadi tontonan masyarakat, bahkan lembaga MUI hingga turun tangan. Silih berganti hari, kemunculan seorang bocah remaja dari sebuah desa di Banyumas juga mewarnai media massa di Indonesia. Dialah Tasripin. Sempat menjadi “selebritis” yang mewarnai program-program acara news sampai hiburan. Berganti hari dan pekan, meninggalnya seorang da’I menggantikan posisi “headline” pemberitaan baik di program news maupun hiburan. Lagi-lagi media membuat kita kebanjiran informasi yang juga mengusik hal privasi sang almarhum.
Read more ...
Saturday, May 04, 2013

Tak Ada Asap Jika Tak Ada Api : Memahami Teror Yang Sebenarnya

#catatanRingan

“…ada yang sudah sesak lebih dahulu karena tercekik biaya pendidikan, ada yang sudah ter-teror dari awal dengan biaya pendidikan yang mahal…, bijaksana lah dalam berkomentar! “

Pernah melihat orang-orang bermobil mewah yang ngomel-ngomel pada demonstran BBM tapi dia sendiri ngisi bensinnya pake bensin bersubsidi? Pernah melihat orang-orang yang sok intelektual dengan mencaci demonstran dengan mengeluarkan teori-teori tinggi tapi ketika harga-harga melambung naik dia pun misuh-misuh? Orang-orang yang mengeluhkan macet, merasa dirugikan oleh aksi massa mahasiswa tapi dia sendiri menikmati kebijakan yang dihasilkan gara-gara perjuangan para demonstran itu. Orang-orang seperti itu banyak jumlahnya disekitar kita. Kalau saya akan merasa jijik melihat orang-orang seperti itu, pun bagaimana hebatnya orang tersebut. Kalau teman-teman saya suka menyebutnya sebagai kelompok#kelasMenengahNgehe.

Rasa jijik yang sama juga menyentak saya ketika secara tak sengaja melihat salah satu respon terkait rame-ramenya aksi pengasapan di Hardiknas kemarin. Saya sebenarnya tidak ingin berkomentar panjang tentang aksi itu. Selain bahwa saya masih“setia” untuk mengkritik pemberitaan di media yang berlebihan, saya juga tidak tertarik dengan konflik sentimen antar kelompok gerakan mahasiswa, yang sepertinya kejadian kemarin menjadi momentum untuk mereka saling sikut. Biasa itu. Namanya juga anak muda.

Tapi sungguh saya tersentak ketika melihat salah satu komentar yang menyebutkan : “dampaknya ke alumni, perusahaan menjadi tidak respect nanti kepada alumni, beasiswa-beasiswa dari perusahaan juga nanti akan berkurang…bla…bla..bla..”. Intinya sebuah ungkapan yang merendahkan aksi para demonstran karena secara tidak langsung ia akan menerima dampaknya. Perasaan saya saat melihat komentar itu adalah “ih, kok gitu sih? lebai banget! kalaupun demonya ada yang salah ya cukup bilang salah tapi nggak usah nyinyir pake bawa-bawa nasib alumni”. Kesannya dia adalah alumni terhebat dengan daftar seribu prestasi yang kemudian merasa dirugikan gara-gara aksi para demonstran. Menurut saya pada saat itu sebenarnya dia telah kehilangan karakter dirinya dansemua prestasinya bernilai nol besar.
Read more ...
Sunday, April 28, 2013

Melepaskan Ketakutan Shakespeare dari Puisi Misterius Turky*

You say that you love rain, but you open your umbrella when it rains. You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines. You say that you love the wind, but you close your windows when wind blows. This is why I am afraid; You say that you love me too. (I Am Afraid, William Shakespeare)

PUISI di atas itu sedang terpolemik. Paling tidak, di kalangan para penggemar William Shakespeare, tokoh sastra masyhur dari Britania pada pertengahan abad ke-17. Apabila di Eropa dan beberapa tempat lain, puisi ini cukup menyita ruang debat, agaknya tak demikian ceritanya di Indonesia.
Pertama kali melihat puisi I Am Afraid diterakan atas nama William Shakespeare adalah ketika saya sedang berselancar di internet. Banyak sekali domain pribadi atau kelompok di dunia maya itu yang mendaulat puisi I Am Afraid sebagai milik Shakespeare.

Kendati puisi I Am Afraid terlanjur terpolemik dengan gilang-gemilang, pada dasarnya, apa yang disangkakan itu tak memiliki pijakan yang solid. Terlalu banyak fakta yang dapat membuat para pecinta Shakespeare terlunta-lunta perasaannya, jika mereka akhirnya tahu bahwa puisi I Am Afraid bukan karya Shakespeare. Kendati pula, tak sedikit dari mereka yang menghendaki adanya fakta yang bisa membuktikannya.

Sebagai awalnya, mari kita simak sebuah puisi berbahasa Turky berjudulKorkuyorum di bawah ini:
Ya?muru seviyorum diyorsun, ya?mur ya??nca ?emsiyeni aç?yorsun. Güne?i seviyorum diyorsun, güne? aç?nca gölgeye kaç?yorsun. Rüzgar? seviyorum diyorsun, rüzgar ç?k?nca pencereni kapat?yorsun. ??te,bunun için korkuyorum; Beni de sevdi?ini söylüyorsun.(Korkuyorum, anonim)

Puisi Korkuyorum ini, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris maka akan terbaca identik sama sekali dengan puisi I Am Afraid yang tampil lebih dulu di permulaan telisik ini. Entah bagaimana musababnya sehingga ada tera nama Shakespeare pada puisi I Am Afraid. Sejak kapan kejadian ini bermula?
Saya akan mentransliterasi I Am Afraid dan Korkuyorum ke dalam bahasa Indonesia, berikut:
"Kau bilang bahwa kau mencintai hujan, tetapi kau buka payungmu saat hujan. Kau bilang bahwa kau mencintai matahari, tapi kau temukan bayanganmu saat matahari bersinar. Kau bilang bahwa kau mencintai angin, tetapi kau tutup jendelamu ketika angin bertiup. Itulah mengapa aku takut, saat kau bilang bahwa kau mencintaiku juga."
(Aku Takut ~ transliterasi Ilham Q. Moehiddin)

Read more ...
Wednesday, April 24, 2013

Menyoal Marwah Dalam Produk Kemanusiaan Hingga Peran Jurnalisme Warga

#Sebuah Catatan Diskusi
Karena kita sebenarnya tak akan pernah benar-benar bisa memahami arti tangis dari seorang yang tertolong, apakah tangis haru, bahagia atau justru tangis malu. Maka terlalu riskan untuk menjadikan tangisan sebagai sebuah tontonan. Dimanapun, tangis akan terasa menyesakkan.

Prologue : Mungkin saya perlu membuat disclaimer terlebih dahulu, bahwa catatan ini dibuat tidak bermaksud untuk menyinggung insan media manapun. Kalaupun ada sesuatu yang terasa menohok, yakinlah bahwa tulisan ini juga muncul karena ketertohokan diri saya sendiri.. Ketertohokan yang membuat jemari ini ingin menari untuk berbagi. Mungkin sesekali biarkan saja setiap rasa sakit akibat ketertohokan menjadi sebuah media penyuci jiwa dan refleksi atas apa yang telah kita perbuat.

Kemanusiaan adalah sebuah hal yang agak rumit, menurut saya. Disana ada kata “manusia” berimbuhan ke-an. Perihal manusia yang di-katabenda-kan. Segala hal tentang manusia. Sebuah kata yang tentunya disana harus memposisikan manusia sebagai sebenar-benarnya manusia. Saya tidak tahu persis apa arti kata kemanusiaan dalam kamus. Jika kemanusiaan identik dengan sebuah aktivitas saling mengasihi antar sesama, maka disana pula lah kita akan melihat keseteraan manusia tanpa perlu melihat siapa yang mengasih dan dikasih. Kerumitan dalam urusan kemanusiaan yang sangat sensitif inilah yang membuat saya bicara agak prinsipil bahwa dalam setiap aktivitas atau karya yang mengatasnamakan kemanusiaan ada sisi etis yang tidak bisa kita terobos begitu saja.
Read more ...

MARBOT : PELAYAN RUMAH TUHAN

#Catatan Mudik



Sekian menit selepas salam terakhir, satu persatu jamaah sholat Isya malam itu beranjak pulang. Saat perlahan  sepi  merayap, kuperhatikan sekeliling, dan sejurus itu baru kusadari  satu hal. Bahwa “warisan” berharga yang almarhum ayah tinggalkan kepada kami adalah bagaimana kami sedari kecil dilatih untuk  merawat rumahNya. Selintas tiba-tiba saya teringat bagaimana saat kecil dulu punya giliran tugas mematikan lampu-lampu mushola, menggulung tikar dan karpet, mengatur meja-meja kecil untuk ngaji, hingga menguras kamar mandi, semuanya pernah kami lakukan dengan atau tanpa ikhlas. Maklum, masih kecil. Semua masih karena perintah. Kadang saya dan kakak bisa ribut hanya gara-gara mempermasalahkan siapa yang akan menggulung dan menyimpan tikar. Sampai akhirnya tikar itu kehujanan diluar mushola.

Bagi  orang  lain, itu mungkin tidak istimewa.  Tapi, bagiku, saat  ini menjadi terasa sangat istimewa, ketika merasakan ternyata sampai detik ini pun apa yang telah dilakukan sejak kecil masih terus terbawa.  Teringat ramadhan tahun lalu ketika ada seorang teman bilang : “ mbak Shinta sekarang sudah gak perlu  ikut  turun ngurusin buka puasa di tempat putri, udah banyak anak-anak baru “..  Tapi, asal tau saja bahwa aku sangat menikmati masa-masa dimana harus menyiapkan ta’jil walau sekedar air putih dan kurma. Seperti ketika aku kecil dulu harus mempersiapkan teh serta makanan untuk sekedar rapat takmir atau pertemuan-pertemuan di mushola. Bedanya, dulu mungkin masih karena perintah ayah. Tapi lama-kelamaan itu aku menikmati peran sebagai pelayan rumahNya.

Aku tercenung sendiri, mengingat putaran waktu yang berjalan cukup cepat kurasa. Dulu mushola ini hanya bangunan sederhana, yang sehari harus lebih dari lima kali disapu jika tak mau ada debu menempel. Karpetnya harus sepekan sekali dijemur dipagar bunderan di sebrang. Soundsystem yang apa adanya, membuat Bapak beberapa kali harus naik keatap membetulkan toa. Sesekali dibawa ke tukang service di daerah Slerok. Hati saya kerap terseok mengingat bagaimana tangan rapuh Bapak dulu menata taman kecil samping mushola. Memasang sendiri pagarnya satu demi satu. Taman kecil itu kini memang sudah tak ada. Hanya ada satu pohon mangga cangkokan menjadi saksi hobi berkebun sang almarhum. 
Read more ...
Saturday, April 20, 2013

Ar-Rahman ( link download murottal jawa)

Dari dulu aku paling favorit dengerin surat ar-rahman. Lantunan murottal surat ini biasanya jadi obat galau yang ampuh. Bukan mau sok alim, ini hanya share saja. Minimal satu kalimat yang dilantunkan berulang-ulang disana, seperti mantra terbaik yang mampu membuatku tersenyum menghadapi semuanya. Kalau kata orang, aku ini anak yang selalu ceria, tegar, dan lain-lain.., ini salah satu penguatku. Penguat disaat aku mungkin sedang ingin menangis sendiri. Penguat disaat aku ngrasa "nothing". Penguat disaat aku tuh ngrasa nggak punya siapa-siapa.

Coba aja dengerin dan resapi. Di internet banyak kok file mp3 ataupun video lantunan murottal surat kasih sayang ini. Pelantunnya dari yang dalam negeri sampe luar negeri. Bagi saya, suara sesumbang apapun, isi surat ini tetap merdu untuk didengar. 

Oya, aku juga punya file murottal surat arrahman yang dilatunkan dalam nada jawa. Kalau yang ini mungkin belum ada di mesin pencari google. Jadi aku berbaik hati menyediakan link download file ini. Ada juga file surat2 lain. Tapi aku emang lebih sering dengerin surat arrahman. Lagian aku juga harus izin dulu kalau mau mengupload semua file-nya ke beliau yang memiliki suara dalam rekaman murottal ini. Monggoh, ini link nya. Bisa langsung didengar dan didownload. Semoga berkah. Semoga peluk sayang Allah semakin erat melingkari kita semua. Salam sayang untuk orang terkasih anda.. :) 

Klik disini untuk download murottal jawa surat arrahman . Atau bisa ke alamat tautan berikut :  
https://dl.dropboxusercontent.com/u/68963420/al-Rahman.MP3 
Read more ...

The Words : Labirin Kisah & Plagiarisme (Sebuah Kisah Tentang Cinta dan Kekuatan Kata-Kata)



#sebuah catatan menonton *mengandung spoiler*


Old Man : He lent him some books to read the first books the kid had ever read about anything. For the first time he saw a world that was bigger than the one he'd been born into. And he wanted more. He wanted to be something more.
Rory : A writer.
Old Man : Yeah. But he had no idea what the word really meant. Certainly didn't have a clue about how to go about it.(dialog saat si "old man" ini menceritakan asal mula ia menulis)
Ada banyak alasan orang melakukan aktivitas menulis. Ada yang memang sudah jadi pekerjaan, ada yang hobi, ada juga yang seperti panggilan jiwa. Aktivitas menulis pun kadang menciptakan banyak cita, sepertipengen jadi kolumnis, pengen jadi scriptwriter, atau pengen bukunya terbit.Bagi sebagian orang, menerbitkan buku ada yang memang menjadi “target” tersendiri, tapi ada juga yang tidak terlalu berpretensi kesana. Apapun itu, tiap orang punya alasan masing-masing.

Seperti juga yang dialami oleh Rory Jonsen ( Bradley Cooper ) , yang dalam film The Words mendapat porsi penceritaan yang lebih banyak dibanding yang lain. Namun, Rory Jansen mungkin bukan actor utamanya. Rory Jansen dari awal dikisahkan dari sudut pandang orangketiga, dimana Rory adalah tokoh dalam novel yang ditulis Clayton Hammond (Dennis Quaid) .

Dalam novel itu, Rory dikisahkan sebagai orang yang memiliki semangat menulis yang luar biasa. Aku pribadi suka bagian-bagian awal ketika Rory dan kekasihnya Dora ( Zoe Saldana) begitu bersemangat merajut mimpi mereka. Rory yang setiap malam di depan layar monitor, dan memang sudah mendedikasikan dirinya untuk menulis. Hingga sudah tak terhitung lagi berapa kali ia mengirimkan naskah ke penerbit, tapi masih nihil hasilnya. Akhirnya, karena ia juga ingin menikahi Dora , ia pun bekerjamenjadi pegawai di sebuah kantor penerbitan.
Read more ...

KIsah Dibalik Kos-Kosan Mewah


"Ketika sebuah kamar bisa bernilai jutaan rupiah pertahun, didekatnya ada yang bahkan tak sejengkal pun memiliki tanah"

Pintu pos kamling itu tertutup rapat, cahaya lampu di dalam meyakinkan kami bahwa ada orang didalamnya. Ada kekhawatiran bahwa penghuni di dalamnya sudah tertidur lelap. Penghuni? Ya, pos kamling itu berpenghuni. Kalau di lokasi lain, pos kamling adalah tempat berkumpul para petugas ronda, tapi disini pos kamling menjadi tempat tinggal, untuk makan – tidur dan aktivitas keseharian lainnya. Tak lebih dari tiga kali kami mengetuk pintu , seberkas sinar menyeruak dari dalam pos kamling. Pintu terbuka hanya memberikan celah. Tak bisa dibuka sempurna karena terganjal sebuah kasur. Ah, benar..sepertinya sang penghuni sudah hendak ke peraduan. Semoga kedatangan kami tak mengganggu.

Setelah kasur digulung, kami berdua pun bisa masuk ke ruangan 2 x 1 meter tersebut. Menghindari kecanggungan sang “tuan rumah”, kami enjoy saja duduk di satu kursi reyot di samping kasur. Hanya ada satu kursi, kasur, meja, dan satu lemari. Pos kamling yang memang sudah tak cukup aktif difungsikan sebagai fasilitas pengontrol keamanan warga masyarakat, semenjak delapan bulan terakhir menjadi “rumah sementara” bagi mbah Karsitem.

Hidup ini memiliki hukum kesetimbangan. Dibalik gemerlapnya kota besar, selalu ada pemukiman kumuh yang tersimpan di sudut-sudutnya. Begitu pula yang mungkin terjadi di sebuah lokasi kompleks rumah kos “kelas eksekutif” di bilangan Grendeng-Purwokerto ini. Dibandingkan dengan sudut area yang lain, Jl.H.Madrani memiliki kategori menengah keatas. Standart sewa atau kos di kawasan ini lebih tinggi dibandingkan daerah disekelilingnya. Satu menara masjid menjulang tinggi, menunjukkan sebuah cita-cita peradaban yang juga harusnya juga tinggi dan meninggikan. Namun, dibalik kawasan yang dianggap “ideal” tersebut, kami dianugerahi sosok seperti mbah Karsitem, yang karena berbagai kisah kesendiriannya kini harus pasrah tinggal di pos kamling.
Read more ...
Wednesday, April 17, 2013

Dari Kisah Tasripin


(sebuah catatan perjalanan dan kritik pada media)

“Kami mungkin memang hidup kekurangan, mbak. Tapi kami tidak menelantarkan anggota keluarga kami sendiri…” ( pak Ali Katun, uwa' dari Tasripin)



Saya harus benar-benar mencengkeram erat pinggang pak Zayin saat melintasi batuan terjal sepanjang jalan menuju dusun Pesawahan, desa Gunung Lurah, kecamatan Cilongok, kabupaten Banyumas . Jalanan berbatu dan curam membuat tubuh ini terpental-pental diatas sepeda motor. Kalau tidak benar-benar menjaga keseimbangan, maka siap-siap saja bercumbu dengan cadasnya bebatuan lereng gunung itu.

Dibawah hangatnya mentari senja pasca rintik hujan, kami berempat – Saya, pak Zayin, dan kedua anak pak Zayin – merelakan diri terpental-pental diatas sepeda motor untuk bisa mencapai rumah ananda Tasripin(12) yang dalam beberapa hari terakhir cukup menjadi pemberitaan di media. Kilas cerita, awalnya saya melihat berita itu di dinding Facebook pak Satrio Arismunandar. Melihat nama lokasi yang tak asing, maka saya penasaran. Saya sempat meninggalkan komentar untuk menanyakan sumber informasi. Kebetulan wilayah Cilongok adalah lokasi dimana saya dan teman-teman Lazis Mafaza Peduli Ummat beberapa kali mengadakan kegiatan disana.
Read more ...

gaduhan

Melekuk atau Membengkok


Q   : Kenapa cewek punya kecenderungan emosinya lemah? Mudah khawatir dan brburuk sangka. Bete  kalo inget aku yang kadang gampang emosi dan berprasangka

Yg : tulang rusuk bengkok bukan?
Q  : aku gak mau jd tulang rusuk bengkok. Jelek kan?     Terlihat lemah di hadapan makhluk / manusia lain, adalah hal yg paling malu-maluin. Aku benci itu.
Yg  : siapa bilang tulang rusuk lemah..saking kuatnya untuk bikin lurus perlu treatment kalo gak ya..patah. Macam baja ga bisa asal dibikin bengkok, salah dikit patah…, baja yang gampang dibengkokin itu baja palsu. 


Q adalah  pertanyaanku di satu pagi tadi.  Tiap terkesiap pada pagi yang datang, biasanya aku sisakan jeda beberapa menit untuk sekedar menyegarkan kesadaran. Kalau beberapa teman kerap mendapat sms-sms “ceracau” dipagi hari, mungkin itu terlontar di zona “jeda” tersebut. :) . Biasanya kalau jeda itu, aku merenung apa yang telah terjadi semalam dan sehari sebelumnya,istilahnya tuh : refleksi…*padahal sih ngantuk dan malas aja bangun ke kamar mandi…hehe*

Perempuan,emosional, prasangka, tulang rusuk yang bengkok. Itu tema ceracau pagi yang jarang-jarang aku lontarkan. Tapi memang, jujur, kadang aku sebel sama diriku sendiri ketika di suatu saat aku itu menjadi temperamental tanpa sadar. Ketika aku mudah was-was dan berburuk sangka tanpa kejelasan apapun. Ketika aku menjadi galau tanpa sebab.
Read more ...

Let's Get Lost




“ Separuh kesenangan dalam perjalanan adalah menikmati indahnyat tersesat. Dan salah satu manifestasi tersesat adalah ketika diri kita lebur dalam ketiadaan. Perjalanan hanya bisa kita nikmati dan barangkali lebih bermakna, jika kita mampu melenyapkan diri. Lebur. Hilang Tidak menjadi siapa-siapa… “ (Rad Bradbury dikutip dalam tulisannya mas Farid Gaban).


Seusai melafalkan shadaqallahul’azhim sebagai penanda akhir tadarus, biasanya ada satu jeda beberapa menit menjelang kumandang adzan Isya. Saat itulah, aku dan mas Ardan --kakakku-- semasa kecil dulu sering berbagi cerita. Entah cerita tentang di sekolah, tentang teman-teman, dan yang lebih seru tentang perjalanan. Sejak ayah menambah perbendaharaan sepeda (meskipun hanya sepeda bekas), maka resmilah masing-masing anaknya punya alat untuk melanglang buana. Saya masih ingat obrolan yang lucu-lucu itu.

“nta, adan nemu jalan baru”“hah?dimana?”“itu , ada gang kayak labirin.., di dekat jalan cempaka”

Kemudian mas Dan – panggilan untuk mas Ardan- , akan menceritakan petualangannya untuk kesekian kali. Perlu dijelaskan juga bahwa yang dimaksud dengan “jalan baru” itu adalah gang-gang seperti labirin yang kami temukan di salah satu sudut kota yang belum pernah kami lewati. Dan hampir tiap ada kesempatan bercengkerama itulah, kami akan bercerita “jalan baru” apa saja yang sudah kami temukan hari itu. Tidak hanya jalan baru, tapi juga pengalamanku terperosok di got besar, kemudian nangis dan digendong pulang oleh tetangga yang kebetulan lewat. Atau kejadian saya yang ditabrak sepeda motor di pertigaan, tapi sempet loncat jadi gak luka, eh malah dapet duit dari yang nabrak.hehe. Sekedar pengalaman kami menjelajahi balai kota lama, pelabuhan, atau jalan-jalan sempit yang kami anggap sebagai sebuah “penemuan” yang luar biasa. Sangat menyenangkan, bukan?!


***

Dan saya menemukan kalimat kutipan yang saya tempel diawal tulisan ini, saat itu seratus persen langsung saya iyakan. Saya selalu antusias membaca kisah-kisah petualangan yang membuat spot adrenalin. Serial lima sekawan, trio detektif, dan petualangannya si Sporty (aku lupa nama group detektifnya) adalah beberapa diantara sekian bacaan favoritku dan mas Dan semasa kami kecil dulu. Jika tidak sedang mood membaca, berjalanlah. Itu yang kulakukan sedari dulu.

Seperti slogan yang digunakan oleh TV channel NatGeo “Let’s Get Lost”, bagaimana serunya sebuah perjalanan tidak kita benar-benar rencanakan, alias nyasar. Saya membayangkan sebuah siluet keramaian dimana disana ada sosok kita terbaur ditengah-tengahnya menjadi orang asing, tanpa ada yang tau kita itu siapa.
Read more ...
Saturday, March 16, 2013

Menyimak Dialog Kisah Pi

#catatanRingan
# bagian prolog bisa di-skip aja.. :D 

Prolog  : Dilematis. Itu yang dirasa jika hendak ke bioskop di Purwokerto. Satu sisi, mungkin sebuah prestasi ketika akhir-akhir ini ada pembenahan management dan bioskop tua itu kemudian ramai dipenuhi para penikmat film. Namun di sisi lain, keriuhan yang terjadi itu adalah keriuhan sebagai pusat hiburan belaka. Tau kan maksudnya? Keramaian yang terjadi ketika bioskop dipenuhi oleh orang-orang yang sekedar untuk pacaran, mencari hiburan, dan sejenisnya? Dalam kondisi bioskop dipenuhi orang-orang seperti ini, saya tak pernah merasa nyaman. Masalahnya, orang-orang yang berorientasi mencari hiburan kerap kali tidak memiliki etika menonton. Maka, bisa dibayangkan bagaimana kesalnya saya selama menikmati film kemudian mendengar banyak hal norak seperti bunyi ringtone blackberry yang tak disilent, telepon genggam yang tak dinonaktifkan, atau sekedar mereka ngrumpi dengan rekan-rekannya sepanjang film diputar. Oh my..oh my... Jadi, untuk konteks kota kecil seperti Purwokerto ini, saya tak ingin mengutuk para pembajak. Justru melalui mereka lah , kemudian saya bisa punya kesempatan mengapresiasi film-film baru tanpa harus menunggu di bioskop dan berjejalan dengan para ABG labil disana. Kalau saya bertemu dengan Ang Lee, saya akan bilang bahwa saya sudah membeli novel dan menonton filmnya di bioskop. Tapi, karena ketidakpuasan saya terhadap kondisi bioskop yang ada, maka maafkan saya yang mengcopy hasil bajakan dan menonton ulang serta menyimpannya sebagai koleksi film di laptop saya. Dan inilah itu, sebuah catatan sederhana hasil menonton dan pembacaan terhadap sebuah kisah, Kisah Pi : Life of Pi. Insya Allah tidak mengandung spoiler... :)



Menurut asumsiku yang lumayan sok tau, ketika Ang Lee memilih menghadirkan tokoh Yann Martell dalam film-nya ini, adalah semata-mata untuk menyiasati kisah yang tak banyak memiliki dialog. Dialog yang dimaksud adalah dialog antar tokoh manusia, terutama pada adegan saat di laut lepas . Berbeda ketika kita menyimak novelnya. Menurutku, kisah ini justru padat karakter dan dialog. Karena film lebih bersifat visualisasi, maka mungkin tak mudah menghadirkan kisah-kisah dalam paragraf panjang tanpa tanda kutip alias tanpa dialog dalam tayangan-tayangan adegannya. Namun, sebenarnya selain Pi , kita perlu tahu bahwa Richard Parker (seekor macan tutul), Orange Juice (orang utan), Zebra dan Hyena adalah tokoh-tokoh yang punya peran lebih besar bahkan dibandingkan dengan tokoh Ravi (kakak Pi), Mamaji, dan keluarga Pi yang lain. Bahwa keberadaan Yann Martell di kisah ini adalah benar-benar outsider yang sebetulnya tak akan pernah kita temukan dalam novelnya kecuali di bagian pengantar, tentu saja.

Maka, sisi menarik dari film dan novel ini adalah kita dapat menemukan dialog yang begitu ramai antara Pi dan partner-partnernya yang bukan manusia itu. Bukan, ini bukan fabel dimana ada macan animasi yang dapat berbicara. Tapi, dalam novel, Pi ingin mengajak berdialog dengan pembaca tentang bagaimana ia berkomunikasi dengan para binatang. Kita akan menemukan barisan-barisan pikiran yang berkecamuk dalam otak Pi. Seperti monolog. Namun justru itu yang menghidupkan hubungan antara pembaca dan tokoh utama dalam kisah ini. Dalam bahasa teorinya : pada novel Life of Pi, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang kedua (aku), sedangkan dalam film penonton dijadikan sebagai orang ketiga yang mendengarkan penceritaan sebuah kisah dari Pi kepada Yann Martell (penulis novel). Meski dalam buku, kita juga akan menemukan beberapa bab singkat yang tercetak miring yang menceritakan dari sudut pandang menulis. Tapi itu hanya ada di bagian I saja.

Read more ...
Thursday, March 14, 2013

Front of The Class

Prolog : Selain bertukar pikiran dan kisah, saya dan Om Chairul kerap bertukar bacaan atau tontonan sekedar untuk bahan obrolan dan juga refreshing. Biasanya sepulang ia bertugas sebagai dosen, mengajak mahasiswanya untuk bergabung makan siang denganku. Sudah berpekan-pekan lamanya kesempatan itu hilang. Kalo Om bilang : "shinta itu selalu sibuk, om nya datang saja kadang dicuekin..."hahaha. Untuk menebus kesalahan itu, maka kutawari untuk bertukar tontonan. Aku tawari film-film pemenang Oscar  kemarin, kayak "Argo"; "Life of Pie"; dan  "Lincoln". Tak ketinggalan kutawari juga film india yang dalam beberapa pekan ini aku tonton juga.hehe. Sebagai barter, entah dapat dari mana Om ku memberikan koleksi film-filmnya. Tentu saja koleksi beliau tidak lebih banyak dariku.hahaha. Akhirnya, kucopy lah film "Muhammad AlFatih" dan "Front of The Class". Judul yang kedua cukup membuat saya tercenung dan bahkan hampir meneteskan air mata. Setelah dua pekan yang lalu larut dalam emosi film bollywood, sore itu saya meleleh dalam film yang berdasarkan dari sebuah buku dan juga kisah nyata. Front of The Class termasuk film lama. Berkisah tentang seorang penderita Tourette Syndrom yang memiliki tekad luar biasa kuat untuk menjadi guru.
Dan inilah itu, satu catatan sederhana , maaf kalau mengandung spoiler :-)


 "Guru bagi saya adalah orang yang memungkinkan anak-anak belajar walau dalam kondisi berbeda..."

Itulah jawaban seorang Brad Cohen ketika ditanya kenapa ingin menjadi guru dan bagaimana guru semasa kecil bisa menginspirasi dia untuk bertekad menjadi guru. Pertanyaan itu muncul dalam sebuah wawancara pekerjaan di sebuah sekolah dimana Brad mengirimkan lamaran pekerjaan. FYI, itu adalah sekolah yang ke sekian puluh kali ia masuki untuk melamar pekerjaan sebagai guru. Brad Cohen memiliki resume yang sangat bagus. Setiap lamaran pekerjaan yang dimasukan, ia selalu mendapat panggilan wawancara. Namun, berulang kali pula ia gagal dalam wawancara. Dengan satu alasan yang sama , para pengelola sekolah itu tidak percaya bagaimana seorang penderita Tourette Syndrom dapat mengajar di depan kelas.

Sebuah hal yang cukup mengganggu memang ketika dalam sebuah kondisi yang membutuhkan konsentrasi, tiba-tiba ada seorang yang menimbulkan suara aneh seperti gonggongan anjing. Penderita Tourette memang khas dengan gerakan-gerakan dan suara-suara yang aneh. Syndrom ini adalah sebuah gangguan neurologis dimana sang penderita akan menimbulkan gerakan dan atau suara aneh sebagai sebuah ekspresi emosi. Suara-suara itu tak bisa dikendalikan. Itu semua muncul diluar kuasa sang pengidap Tourette Syndrom. Bagi orang normal, itu menjadi terasa aneh dan kerap kali memang mengganggu. Itulah yang dialami seorang Brad Cohen sedari kecil.
Read more ...
Sunday, March 10, 2013

Tentang Selembar Buletin



Secara subyektif, terkadang  saya  memiliki penilaian terhadap suatu lembaga dari pengelolaan media yang dimiliki. Dalam setiap komunitas atau lembaga, ada fungsi kehumasan dimana hal itu tertuang ke dalam satu wujud media. Bisa berupa papan informasi, majalah dinding, bulletin, brosur, atau hingga majalah, jurnal, dan lain-lain. Maka secara subyektif pula, saya menilai aktivitas literasi di sebuah lembaga dapat mencerminkan dinamika keilmuan yang berjalan disana. Beberapa hari yang lalu saya memberikan kalimat  kritik yang agak keras kepada salah satu takmir masjid : “ini masjid besar, tapi  tidak ada aktivitas literasi sama sekali, mading hanya satu-dua kali terbit kemudian bubar, ini kompleks pesantren dan kampus harusnya banyak yang membaca, menulis, dan berdiskusi, tapi bulletin saja bubar, benar-benar masjid megah tanpa peradaban!” . Kalimat seterusnya agak kasar jadi tidak saya tuangkan disini. J .

Sebagai orang yang pernah memegang tanggungjawab sebagai marketing komunikasi di sebuah lembaga, biasanya kalau ada acara bersama lembaga lain, kami akan membawa marketing tools dari lembaga masing-masing. Ada yang brosur, bulletin, majalah,  jurnal, sampai buku. Tentu saja dari media-media ini kita akan bisa melihat, mana media yang hanya jadi ajang eksistensi saja atau media yang benar-benar menjadi wadah belajar, beraktualisasi. Bahwa “marketing” adalah sebuah aktivitas pemasaran ide, pemikiran, bukan sekedar jualan produk. Itulah yang membedakan orang-orang pekerja yang punya idealis atau sekedar kejar target. Meski marketing tools nya berkemasan keren, tapi kalau isinya biasa saja, ya terasa garing. Perlu ada peningkatan konten yang disampaikan kepada “pasar”.

Salah satu contoh, ada satu teman saya yang bekerja di sebuah lembaga pemerintahan, sebut saja namanya mas Febrie.Beliau bekerja di Bappeda kabupaten.  Menjadi sorotan masyarakat ketika itu karena aktvitas di Bappeda kabupaten lebih dinamis daripada di kota. Saat itu, teman saya membuat sebuah komunitas diskusi dan merintis terbitnya sebuah jurnal. Sempat juga saya diundang menulis disana. Apa yang menjadi istimewa dari jurnal tersebut? Bukan sekedar lambang eksistensi , namun disana ada aktivitas penyampaian ide-ide tentang pembangunan daerah, idealisme-idealisme para pegawai pemerintahan yang terkadang tertututupi oleh opini publik tentang PNS.
Read more ...