Pages

Friday, April 13, 2012

Duka Dhuha

Note : Ini tulisan keren yang tak sengaja saya temukan kemarin di sini . Percaya tidak percaya tulisan ini membuat saya MJJ alias Mak Jleb-Jleb mengingat jadwal dhuha selama ini yang masih bolong-bolong. Kemudian setelah baca ini langsung pengen sholat dhuha, eh ternyata malamnya saya dapat job menulis (lagi), alhamdulillah. Tidak disangka-sangka. Terimakasih buat Maula atas izin share-nya, tulisan ini juga bisa dibaca di blognya Maula.  Berikut catatan lengkapnya, cekidot.. :D 

DUKA DHUHA

Saat saya sedang menulis ini, hujan sedang asik memainkan iramanya di luar. Merdu sekali, hati jadi adem. Hari ini pun, banyak hal yang saya temui dan membuat hati ini adem juga. Ketemu apa sih?

Semenjak pagi, sekitar jam 10.30 WIB, saya diamanahi oleh BEM Politeknik Negeri Jakarta untuk menjadi moderator di acara PNJ Fair hari pertama. Acara yang bertajuk: Jiwa Pemuda Entrepreneur. Menghadirkan Deputi dari Kementrian Koperasi dan UKM, Mas Mono (Owner Ayam Bakar Mas Mono), dan Ustadz Nasrullah (Owner Orchid Realty -Property-). Acaranya memang seru dan banyak sekali inspirasi. Namun, saya tidak akan membahas apa isi materi yang disampaikan pembicara tadi. Namun, pelajaran yang saya petik hari ini ada di sebelum acara dimulai.

Jam 08.45, saya sudah ditelpon oleh panitia yang bernama Sisi. Ia menyuruh saya untuk hadir jam 9 tepat, tapi apa mau dikata, saya baru berangkat aja jam 9 lewat hehe.. Tapi alhamdulillah, sampai di sana acara belum dimulai (ya biasalah ngaret-ngaret dikit :p). Saya menunggu di luar aula sambil BBMan sama temen.

Saya sebenernya ingin ketemu Mas Mono. Saya sudah membaca biografi Mas Mono, tentang perjuangannya hingga bisa dikatakan berhasil saat ini, memliki banyak outlet bahkan sampai membuka cabang di Malaysia. Perjuangannya dari menjadi OB, mendorong gerobak, atau membakar arang sangat menginpirasi saya, "Gila ya, tahan banting banget hidupnya...". Saya merenung, mungkin kalau saya jadi dia gak bakal kuat..
Read more ...

Menyapa Tegal, Jepang-nya Indonesia



Dengung bahwa Tegal adalah Jepang-nya Indonesia mungkin bukan sebuah hal yang asing di telinga kita. Beberapa ungkapan kecintaan yang kadang berbaur primordialisme sempit tak ragu pula menyebut Tegal sebagai kota metropolitan. Tegal semakin ramai, memang. Apalagi semenjak kemunculan pusat-pusat perbelanjaan modern, Tegal memang terasa semakin padat dan hedon.

Namun kalau diamati dengan seksama, rasanya terlalu berlebihan ketika kita mau menyebut Tegal sebagai Jepang-nya Indonesia. Apalagi kalau menilik budaya literasi. Terlalu jauh panggang dari api ketika kita hendak membandingkan. Di sepuluh tahun yang lalu saja, berdasarkan data dari Association For the Educational Achievement (IAEA), Jepang sudah termasuk negara dengan tingkat membaca tertinggi di dunia. Indonesia saat itu masuk pada peringkat dua dari bawah.

Bagaimana dengan Tegal? Di kondisi terkini saja, beberapa indikasi menggambarkan betapa masih perlunya budaya literasi ditingkatkan di kota bahari ini. Peningkatan budaya baca-tulis ini sebenarnya sangat penting sebagai pendongkrak prestasi-prestasi Tegal yang telah ada. Tegal boleh merasa bangga menjadi kota industri, kota transit, kota bisnis dan lain-lain. Namun dalam menjawab tantangan global, transfer IPTEK dapat berhasil jika masyarakat menguasai kemampuan membaca dan menulis. Diperlukan kemampuan yang profesional untuk mengasah daya kritis serta mengadopsi nilai-nilai positif dari bangsa maju. Sejarah mencatat bahwa menggiatkan budaya literasi dapat mendorong inovasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa socrates , misalnya, para siswa di Yunani diperkenalkan dengan budaya membaca, bukan budaya mendengar. Begitu juga di zaman peradaban Islam, budaya literasi semakin berkembang ketika Khalifah al-Ma'mun membangun akademi terbesar di dunia bernama Bayt al-Hikmah, yaitu pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai pusat studi, perpustakaan yang lengkap dengan kegiatan keilmuan lainnya. Begitu juga dengan Jepang, budaya literasi telah terbukti mempengaruhi produktivitas serta kreativitas masyarakatnya.
Read more ...

Kabar - Kabur

Tiap ada pelatihan atau penyampaian materi jurnalistik, pasti nama Bill Kovach sudah teramat akrab di telinga. Salah satu buku yang sering dijadikan “kitab suci” bagi para jurnalis adalah : “The Elements of Journalism : What Newspeole Should Know and the Public Should Expect  (Bill kovach and Tom Rosenstiel). Saya belum “khatam” mengkajinya, tapi dari beberapa diskusi dan pembacaan singkat, pemahaman saya yang dangkal megambil salah satu point bahwa ilmu jurnalistik itu dibutuhkan oleh semua orang, bukan hanya oleh para pekerja kuli tinta.

Tapi di tulisan ini saya bukan ingin mengurai panjang lebarnya teori dasar jurnalistik. Melainkan ingin mencoba merangkaikan pikiran-pikiran dangkal saya mengenai salah satu unsur dalam jurnalistik, yaitu informasi.

Suatu hari saya pernah ber-sms dengan seorang senior untuk bersama-sama menggagas sebuah kelas jurnalistik untuk remaja remaja di wilayah Banyumas. Ruang itu bukan fokus kepada keahlian teknis dalam jurnalistik, melankan saya ingin mengarahkan kepada melek media atau lebih tepatnya melek informasi. Ketika sedari dini kita mengetahui seperti apa sih sebenarnya “berita” itu. Bagaimana sebuah informasi itu dapat disebut sebagai “berita”, bagaimana sebuah kabar itu didapat, bagaimana proses konfirmasi sebuah informasi. Dengan mengetahui seperti itu, kita akan paham, berita-berita mana yang “sehat” untuk kita telan, apalagi ditengah maraknya media informasi baik cetak ataupun elektronik. Pilihan untuk mendapatkan berita sekarang sangat mudah, tinggal klik handphone dalam beberapa detik kita sudah bisa menyantap puluhan headline. Berita itu kini layaknya makanan yang diobral sepanjang jalan, tinggal kita pilih mana yang sehat dan mana yang tidak. Pelatihan jurnalistik sedari dini akan bisa membantu generasi muda untuk mengkonsumsi berita yang sehat. Minimal, ketika mendapatkan berita tidak bersikap reaktif. Lebih luas lagi adalah bagaimana budaya mengkroscek sebuah berita. Dengan berkembangnya teknologi informasi saat ini, kita mudah terjejali berita dari berbagai penjuru arah mata angin. Namun sayangnya selain kita tak terbiasa mengenali mana berita yang sehat atau sakit, kita juga tidak didukung oeh budaya kroscek yang bagus, atau dalam istilah agama, kita tak dibudayakan untuk bertabayyun. Kita lebih memilih menyebarkan berita yang menurut kita menarik dan bereaksi. Dalam Islam sebenarnya ini sudah diterangkan mengenai bahaya fitnah. Salah satu bentuk yang terjadi adalah mengenai informasi. Kalau di PJMI (Perhimpunan Jurnalis Muslim Indonesia) disebutkan bahwa salah satu misi jurnalis muslim adalah membawa kabar yang tidak mengandung ghibah. Begitu besar tanggung jawab seorang jurnalis, bukan? Bukan sebatas membuat berita dan menyetornya sebelum deadline, isn it?  (Itulah kenapa saya belum mau melepas status freelance journalist dan tidak mau terikat dalam sebuah profesi ini...hahaha... ß baca : apologi ).
Read more ...
Sunday, March 25, 2012

KADO (Kata dan Doa)



Teruntuk : mbak Endirah Ekaningrum

Bahkan rerintikan hujan di siang kali itu masih bisa kuingat notasinya. Saat kumandang adzan Dhuhur sudah habis gemanya, dan dengan baju basah kuyup saya muncul di sebuah rumah di komplek pangkah indah nan meriah..:D. Karena dengan prediksi yang masih belum yakin bahwa akan hadir atau tidak di perhelatan pernikahan mbak Eka, maka di dua pekan sebelum hari H saya  sempatkan menghabiskan waktu bercengkarama di rumahnya. Kebetulan waktu itu juga ada acara mengisi training di SMA Muh Tarub, jadi tak terlalu jauh (walaupun juga tidak dekat ya mbak?/J). Hingga senja hendak tenggelam, saya menghabiskan waktu untuk ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon dengan mbak Eka. Tadinya sudah direncanakan akan menginap, tapi karena saya masih dalam kondisi fisik yang belum fit dan tak membawa obat, maka pertemuan dicukupkan pada obrolan berjam-jam itu. Obrolan cukup random tapi juga serius, cerita tentang perjuangan mencari jodoh hingga buka rahasia warna kebaya.., hehehe.

Maka, saat ini, di hari dimana hampir habis bulan maret, berarti hampir satu bulan usia pernikahan mbak Eka, saya ingin merengkuh bahu beliau dan berucap : selamat mengawali episode baru, sayapmu kini telah genap satu pasang, terbang lebih tinggi dan lebih kuatlah, mbak!

Pernikahan bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah kendaraan yang akan membantu kita untuk lebih mengoptimalkan diri meraih tujuan hidup. *sokBijakNih.hehe*. Semua orang akan menikah kok. Jangankan manusia, hewan dan tumbuhan juga diciptakan berpasang-pasangan. Yang membedakan adalah peran dan tanggungjawab di muka bumi ini. Semua orang ingin menikah, khususnya di usia-usia “unyu” alias usia produktif. Semua orang ingin, tapi pada kondisi masing-masing tidak semua orang membutuhkan sepasang sayap untuk terbang. Lebih tepatnya, belum semua orang membutuhkan. Maka, sebenarnya tidak ada nikah muda atau nikah terlambat. Yang ada adalah waktu yang tepat untuk menikah. *semoga ini bukan apologi.hehe*.
Read more ...
Monday, March 19, 2012

Kreatifitas Lintas Batas

Pada akhirnya  jarak itu memang hanya persoalan keterjangkauan, aksesibilitas. Bagaimana bisa perjalanan Tegal-Purwokerto bisa lebih lama dibanding Jakarta-Singapore, misalnya?! Jawabannya hanyalah soal akses.

Salah satu hal yang seru ketika saya punya gawe dengan teman-teman FLP (Forum Lingkar Pena) Tegal adalah ketika menjalani prosesnya. Lokasi kami masing-masing cukup berjauhan, tapi ternyata hati dan semangat kami mungkin terpaut cukup dekat. ^_^. Jadi, ketika Yustia mengabarkan dan mengingatkan tentang agenda open recruitment, saya juga jadi seperti “tersengat” dan kembali memutar otak, bagaimana caranya mempersiapkan acara dalam waktu kurang dari satu minggu. Disinilah saya masih menitipkan apresiasi yang cukup tinggi untuk om Mark Zuckerberg, sang pembuat situs jejaring sosial Facebook. Hehe.

Ya, kalau FB setiap saat menanyakan kepada anda “what’s on your mind”, maka pertanyaan yang saya ajukan tiap membuka FB adalah “kebermanfaatan apa yang bisa dilakukan dengan situs ini?!” . Pergi berselencar ke FB sebenarnya sama saja dengan kita pergi ke suatu tempat untuk bersosialisasi. FB bisa menjadi sebuah mall, pasar, sekolah, lapangan, dan lain-lain. Kita yang akan menentukan sendiri kemana kita akan pergi. Kalau kita biasa lebih suka ke mall, untuk nampang (uji eksistensi.hehe), ngrumpi, dan lain-lain, maka FB kita juga bisa kita jadikan tempat seperti itu. Kalau kita suka ke tempat-tempat diskusi, belajar banyak hal, maka secara tidak langsung kita bisa menjadikan FB sebagai tempat yang kita inginkan.
Read more ...
Thursday, March 08, 2012

RINDU


Gerimis menipis, menghantarkan dingin di relung-relung dini hari yang sunyi ini. Lima kursi kosong dihadapanku. Seperti langit kosong yang absen ditemani purnama. Anganku bergumam, tak kurang dari semester lagi, sunyi ini akan terpecah. Sekitar lima bulan lagi, kita mungkin akan kembali merasakan riuhnya menit-menit menjelang Shubuh ditabuh. Ya, lima bulan lagi, aktivitas sahur ini akan beramai-ramai dengan saudara muslim sedunia.

Ada kerinduan yang tak mampu terbahasakan kepada Ramadhan dan di dini hari tadi tiba-tiba terasa mencelos di hati. Kalau ditanya, kenapa rindu? Ah, untuk sebuah rindu yang suci, kupikir tak butuh sebuah alasan. Kerinduan ini sudah terlanjur tersangkut pada banyak hal disana.

Merindukan bulan Ramadhan, merindukan semua hal tentang itu. Semuanya membuat rindu. Ibadah puasanya, kemuliaannya, syahdunya, suasananya, pernak-perniknya, hingga budaya-budayanya bahkan segala ironi serta tragedi yang mungkin terjadi. Tak ada yang dapat melebihi syahdunya malam-malam di bulan Ramadhan. Tak ada yang mampu mengalahkan kebahagiaan senja-senja Ramadhan.

Read more ...

Hayya 'alal Falah

"inna lilmuttaqinna mafaza..." [78:31]

Sering kita memohon untuk diberikan umur panjang. Begitu berharganya usia, bergitu berharganya waktu sehingga kita memohonkan untuk berumur panjang. Kalau orang bilang "tua itu pasti, dewasa adalah pilihan" , tapi kalau kata saya "Tua itu belum pasti, Dewasa apalagi!!". Yeeah, adakah yang bisa menjamin kita akan benar-benar menjadi tua? Adakah nafas ini masih terasa di esok pagi ?! Tak ada waktu tersia ketika kita mengingat mati. Dan menurutku, waktu adalah guru yang paling bijak. Bagi pembelajar, semakin tersedia waktu berarti semakin banyak hal yang akan diketahui. Waktu adalah teman setia kita untuk berproses. Jika kita mau terus berproses, waktu akan membuat kita bertambah pengetahuan dan wawasan. Cara pandang kita semakin luas seiring bertambahnya waktu.

Waktu jua lah yang kemudian membuat ada perubahan dalam cara pandang ketika aku mendengar kata "menang". Saat kecil kita akan berkata menang ketika kita mendapatkan ranking satu, medali, atau apapun. Namun seiring waktu, kita mungkin akan semakin merasakan ternyata urusan menang itu bukanlah sekedar hasil, tapi proses. Kalau boleh mengutip Plato : "Menaklukan diri sendiri adalah kemenangan yang paling akbar.."

Hidup ini adalah kumpulan episode-episode yang terangkum indah dalam sebuah jalinan legenda. Tiap orang memiliki legenda hidupnya masing-masing. Episode-episode tersebut terurai sebagai ruas yang akan kita jalani dan membawa kita kepada dua konsekuensi : menang atau kalah!! Kemenangan yang komperehensif, dimana perlu Maha Juri yang Objektif, yang kemudian medali kemenangan atau kekalahan terkalungkan pada hati nurani.
Read more ...
Tuesday, March 06, 2012

SAMPUL


#CatatanRingan


Meski mencintai buku, saya mungkin bukan termasuk orang yang cukup telaten untuk merawatnya. Namun untuk sekedar memberikan sampul pada buku, tentu saja itu tak perlu membutuhkan sebuah ketelatenan yang tinggi. Begitu pula yang kulakukan terhadap buku-buku yang kumiliki. Kerap kali merasa ada yang mengganjal di mata ketika barisan buku di rak terlihat “telanjang” tanpa sampul. Teringat pula ketika bulan lalu sempat  salah satu buku saya kondisi halaman mukanya menjadi sangat “mengenaskan” setelah terjebak hujan dalam perjalanan hendak ke Purwokerto. Halaman depan buku itu yang berwarna biru gelap buku menjadi memiliki banyak aksesoris putih karena terkelupas di sana-sini akibat terciprat hujan.

Demi mengingat bahwa musim hujan tahun ini akan panjang, dan saya kerap membawa buku kemana-mana, sore tadi kusempatkan mampir ke toko buku untuk membeli sampul plastik gulungan. Hari minggu kemarin saya sempat juga mampir ke swalayan kampus, tapi ternyata disana tidak tersedia sampul yang aku maksud. Maka sore tadi kusinggahi salah satu toko buku waralaba yang terkenal dengan “diskon”nya dan pelayanan penyampulan buku. Sayang sekali, gadis penjaga toko buku itu menyampaikan bahwa persediaan sedang kosong. Ya sudahlah, di toko buku itu malah akhirnya saya beli satu novel baru.hehehe. Namun, dewi fortuna rupanya masih menyertai aktivitas ngabuburit saya kemarin sore. Ketika perjalanan pulang dan turun hujan lebat, saya masuk ke koperasi unsoed, dan ternyata disana tersedia sampul plastik gulungan yang dicari-cari, bingo!!! :p

Sampul buku memang banyak jenisnya. Saat SD dulu kita mungkin mengenal sampul coklat yang dicetak khusus untuk buku ukuran standart. Sampul coklat itu biasanya dilengkapi kotak untuk mencantumkan identitas. Saya paling ingat adalah di sampul coklat itu ada kata-kata mutiara seperti : “Rajin Pangkal Pandai, Malas Pangkal Bodoh”.hehehe. Entah saat ini di sekolah-sekolah dasar masih adakah aktivitas untuk memberikan sampul coklat pada buku ulangan. Biasanya hari-hari pertama di awal caturwulan atau semester aktivitasnya adalah memberikan sampul pada buku-buku tulis pribadi yang digunakan untuk setiap ulangan harian.

Read more ...
Saturday, March 03, 2012

Maret, Maret, Maret!! Semangat!

Oke, sakitnya sudah cukup. Saatnya bangkit kembali. Sepekan lebih banyak istirahat di kamar membuat saya sangat merasa bosan. FYI, saya terkena gejala thypus dan juga infeksi/pendarahan lambung. Tapi, sekarang sudah mulai membaik kok, atas doa semuanya.

Dan...tiba-tiba saja sudah bulan Maret. Yang pasti urusan di radio yang menumpuk harus segera diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya. :D

Kemudian agenda yang ingin dihadapi di bulan Maret : pengen ikut lomba baca puisi piala Piek, apply GYCS 2012, nunggu pendaftaran PPAN jateng, nulis essay, belajar cerpen, acara KAKI, rumah menulis, proyek buku biografi. Itu dulu deh buat bulan maret. Cukup padat kan??
Semangat lah!  ^_^.


Sepotong liriknya SO7 yang Pasti AKu Bisa menemani semangat awal maret ini. BISA! Insya Allah.. ^_^



Shinta arDjahrie
Senja di Kantor lazis, 3Maret 2012.
Read more ...
Friday, February 24, 2012

HUGO

 “I like to imagine that the world is one big machine. You know, machines never have any extra parts. They have the exact number and types of parts they need. So I figured if the entire world was one big machine, I couldn’t be an extra part. I had to be here for some reason. ” (aku membayangkan bahwa dunia ini seperti sebuah mesin besar. Kamu tahu, mesin tak pernah mempunyai komponen tambahan. Mereka hanya memiliki komponen yang mereka butuhkan. So, aku membayangkan bahwa dunia ini adalah mesin besar, dan aku bukanlah komponen tambahan. Aku ada disini untuk sebuah alasan)
Entah kenapa saya selalu suka dengan aksi seorang Asa Butterfield. Apalagi lawan mainnya di film Hugo ini juga tak kalah ciamik, ada Chloe Ghretz Moretz. Menjadikan kemasan film petualangan fantasi 3D ini menjadi layak untuk ditonton. Bahkan menurutku durasi film yang cukup panjang hingga lebih dari 126menit ini tidak terasa.
Selama ini orang tak tahu bahwa Hugo Cabret (Asa Butterfield) tinggal diantara relung-relung dibalik dinding stasiun kereta api di kota Paris. Setelah ayahnya meninggal, ia dibawa pamannya yang bekerja membetulkan dan menggerakan detak jam di stasiun kereta api. Ternyata Hugo ditinggal sendiri dan sang paman tak pernah kembali. Sebelum meninggal, ayah Hugo (Jude Law) meninggalkan sebuah robot bernama automaton. Robot itu ditemukan di museum tempat ayah bekerja. Mereka berdua berusaha membetulkan automaton supaya dapat berfungsi kembali. Namun, ayah Hugo keburu meninggal dan Hugo berusaha memperbaikinya sendiri.
Dari automaton itulah, petualangan dalam film ini dimulai. Fil
Read more ...
Thursday, February 23, 2012

The Rum Diary : Sebuah Catatan Kecil Tentang “Independensi”



Lingkaran nyaman memang melenakan dan orang harus keluar dari wilayah itu jika mau berkembang. Itu yang menjadi latarbelakang dari seorang Paul Kemp (Jhonny Deep). Sebenarnya saya nggak suka ngliat adegan pertama ketika Jhonny Deep tampak kucel dan mabuk berat. Itu kesan pertamaku waktu nonton film ini.hehe. Oke, tapi itu bisa kumaklumi, dari judulnya saja “the rum diary”. Rum adalah jenis minuman keras yang terkenal di wilayah barat sana. Buku harian dari sebuah minuman keras?? Hemmh.., menarik!

Tapi awal mula yang membuat menarik sebenarnya bukan itu. Bahwa film ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Hunter S.Thompson, seorang jurnalis dan novelis Amerika. Novel ini juga disebut-sebut sebagai alter ego dari Hunter. Menceritakan seorang Paul Kemp yang bosan dengan hiruk pikuk NewYork dan menuju ke Puerto Rico dan melamar sebagau jurnalis di harian San Juan Star yang dipimpin oleh Letterman (Richard Jenkins). Film ini mengambil setting tahun 1960, dimana Amerika Serikat dipimpin oleh presiden Dwight D.Eisenhower. Berbagai intrik politik dan pergerakannya membuat Paul menjadi jengah dan memilih ke Puerto Rico.

Bersama rekan kerjanya, Bob Sala (Michael Rispoli), Paul berkenalan dengan Hal Sanderson (Aaron Echkhart). Hal adalah mantan jurnalis San Juan Star yang kini telah beralih profesi sebagai pebisnis handal. Paul kemudian karena beberapa kejadian terpaksa masuk ke ajakan kerjasama Hal untuk membuat sebuah tulisan yang terkait untuk mendukung bisnisnya. Tentu saja semua itu ada di jalur ilegal.

Ketidakkonsistenan kisah, atau memang kisahnya yang terlalu banyak disajikan, film ini menjadi agak semrawut untuk dinikmati. Mungkin prosed adaptasi dari novelnya yang belum selesai. Untuk urusan acting, siapa yang meragukan Jhony Deep, walaupun masih terlihat karakter ia saat bermain di film franchise Pirates of The Carribean  dulu. Hehe. Untuk yang lainnya ya standart, hanya saja memang karakter tiap tokoh tidak tergali dalam. Itu sangat disayangkan. Tapi jadi penasaran untuk baca novelnya...hehe.

Read more ...

Ketika Setan Dilecehkan




#catatanRingan


Berawal dari sebuah keisengan dan penasaran yang biasa saja. Saya lagi pengen tau tentang “sundel bolong”. Sebenarnya saya bukan orang yang suka hal-hal mistis seperti itu. Tapi bahwa kisah-kisah itu muncul dan berangkat dari pemahaman masyarakat, itu menarik. Kebetulan pula, seorang sahabat saya berkunjung dan bermalam di kota ini. Dia sudah paham akan ide-ide gila saya, kemudian dia mengusulkan untuk nobar film bertemakan itu. . Satu film tentang “legenda sundel bolong” arahannya Hanung Bramantyo sempat saya cari file-nya, ternyata kemarin nihil. Hasilnya, saya malah membawa beberapa film aneh khas indonesia, salahsatunya adalah “Kuntilanak Kesurupan”. Ya, saya pun sempat ngakak saat membaca judul film tersebut. Ya sudahlah, yang pasti  malam tadi , kami punya hal yang bisa “ditertawakan”.

Setiap saya mengajak teman untuk nonton film bergenre horor, ada beberapa perjanjian yang biasanya saya tawarkan, salah satunya “tidak boleh takut”, ketika ada pada adegan yang menyeramkan, kita harus tertawa lepas!!! Dan ternyata , film horornya indonesia memang full  komedi. Lha, sekarang dimana lagi kita bisa menemukan adegan “kuntilanak dikentutin”, ya cuma di film horor indonesia, iya toh?.

Read more ...
Thursday, February 16, 2012

SYUKUR TANPA SYARAT

“Cinta yang menang. Cinta selalu menang" ( Mitch Albom, Tuesdays with Morrie)

Tak mudah untuk mencari bagian yang tepat untuk mengawali kisah dalam tulisan ini. Sama saja dengan susahnya mencari awal apa yang sebenarnya membuat saya terlibat dalam acara  di hari minggu kemarin. Mengenal pak Suci tentunya bukan sesuatu yang baru untukku. Mengikuti launching bukunya menjadi hal yang selalu coba diagendakan. Dari novel pertama pak Suci hingga sekarang saya selalu menghadiri launchingnya. Dari pendopo sebayu sampai TIM Jakarta, tempat buku-buku beliau dilaunching , saya mengikuti. Lepas dari masalah analisa karya-karya beliau, apresiasi saya ke Pak Suci memang cenderung subyektif. Ada beberapa kedekatan yang mungkin terkait keluarga besar smansagal, yang ruang ini tak tepat untuk menceritakan detailnya. Intinya, menjadi hal yang “sudah sepatutnya” ketika saya terlibat dalam peluncuran buku “Lolong, Lelaki Lansia” karya terbaru dari pak SN Ratmana.

Saya juga tak tahu persis jika ditanya sebenarnya siapa saja panitia acara kemarin. Tanpa susunan panitia yang jelas, tanpa koordinasi yang mencukupi, tanpa waktu dan sarpras yang memadai, maka kata “mambrah-mambrah” sebenarnya cukup tepat untuk menggambarkan kondisi pra-acara.

Banyak kisah warna-warni perjalanan persiapan launching.  Bahkan hingga pagi di hari H, kami tak pernah tahu bagaimana nanti caranya membayar biaya snack. Hehe. Kami masih tak tahu bagaimana nasib makan pagi, makan siang dan makan malam untuk pembicara dan panitia. Kami masih tak tahu mas Kef mau pulang ke Jakarta naek apa. Luar biasa kacau. Tapi, siapa duga, siapa sangka, semua berjalan teramat lancar. Entah fakta yang diluar logika, atau memang keterbatasan kami saja yang tak mampu menduga segalanya.
Read more ...

Kutipan Hujan Senja Ini

Mentari masih lumayan terik. Namun kehangatannya tak merusak  sensasi segelas jahe susu yang disuguhkan untukku siang tadi.  Entah apa yang ada di pikiran ibu Rosidah (40) saat melihatku cukup bersemangat menyeruput jahe susu. Ia mungkin tak tahu bahwa antusiasku pada jahe susu bukan karena haus melainkan sebuah resonansi  dari semangat  obrolan siang itu.

Ibu Rosidah  adalah sepupu dari  ibu Nasem (55). Saat siang tadi  kami sampai ke kediaman ibu Nasem, kami justru bertandang ke rumah ibu Rosidah —yang lokasi rumahnya berhadap-hadapan--  karena memang beliau yang menyambut. Bu Nasem dan suaminya – pak Mustajab (58)— tak mampu menyambut kami. Jangankan untuk menyambut, berdiri saja sudah tak sanggup . Ya, Pak Mus dan Bu Nasem adalah pasangan suami istri yang kini sedang diberikan cobaan dengan mengalami lumpuh  pada sebagian organ tubuh. Pak Mus tak mampu menggerakan bagian tubuh sebelah kiri dan bu Nasem juga hanya bisa duduk berselonjor karena kedua kakinya tak mampu digerakan.

Sekitar tiga bulan lalu,  sosok pak Mus adalah laki-laki  gagah yang melakoni pekerjaan sebagai penderes nira. Setidaknya tiga tahun terakhir, pak Mus masih menjadi kepala keluarga yang menunaikan  tanggungjawabnya. Hingga suatu pagi  ketika bangun tidur,  tubuhnya tiba-tiba tak mampu digerakan. Ia mencoba berdiri namun malah jatuh terjerembab ke sisi kiri.  Sejak hari itulah ia absen sebagai penderes nira. Beberapa pekan sesudahnya, sang istri turut merasakan chemistrypenderitaan suami hingga akhirnya ia pun tak mampu menggerakan kedua kakinya.
Read more ...

Dari Bongko Hingga Blendung


Sabtu adalah harinya lari pagi. Kali ini sendirian dan di kampung halaman. Karena saya juga punya janji akan mengunjungi rumah seorang sahabat, maka saya mengarahkan rute lari pagi ini ke arah selatan. Ba’da Shubuh masih malas-malasan, kemudian menemani adik mengerjakan PR, dan baru pada pukul 5.20 saya siap untuk lari pagi. Kesiangan ya??hehehe.

Setelah jalan sambil pemanasan, saya baru benar-benar lari ketika masuk ke beberapa ruas terakkhir Jalan Cempaka hingga rel kereta api jalan Sultan Agung. Selepas itu saya hanya jalan cepat hingga akhirnya santai saat sudah dekat dengan Pasar Kejambon. Entah kenapa perempuan itu memang punya insting untuk selalu pengen ke pasar. Buktinya setiap jalan atau lari pagi dan melewati pasar, saya sering mampir. Tentu saja kalau tak lupa bawa dompet..:D . Setelah masuk dan melihat-lihat isi pasar, saya menelpon kerumah dan menanyakan barangkali ada request , ternyata hanya menitip kue-kue, heemhh. Akhirnya langkah saya terhenti di salah satu kios yang menjual makanan tradisional, saya akhirnya membeli beberapa makanan berikut :

Read more ...

SISTERHOOD



Saya punya teman cewek banyak, walaupun jarang sekali saya pergi bareng teman-teman. Diantara mereka, ada beberapa sudah saya anggap sebagai sahabat yang menyenangkan. Berteman dengan cowok memang juga menyenangkan karena bisa mengasah logika kita, tapi berkumpul bersama teman-teman cewek itu ada sisi seru yang nggak bisa dinafikan.. Dan..pagi ini aku ingin menyapa mereka , inilah dia :

Ika. Ini sahabatku yang paling nyolot. Teman menggila dan mengawur. Tapi dia sudah pulang ke haribaannya, di tanah Karawang tercinta. Semoga tenang di sisinya ya cuy… sisi nyokap lo maksudnya…hehehe. Orang sunda yang nggak bisa munafik untuk mencintai Jawa. Cewek cuek tapi sebenarnya jaimnya tinggi. 
*Nggak usah muna deh lo!*
. Dia orang yang asyik buat diajak temenan walaupun kalau kenal pertama pasti keliatan judes. Emang tuh bocah kadang songongnya ngaujubileh.. Tapi lepas dari itu, dia sebenarnya orang yang care sama orang lain. Kebersamaan saya dan Ika..wuaaah, banyak banget. Dari mulai sering jalan bareng, share banyak hal, bikin karya ilmiah bareng (walaupun kalah yeee..:p), kegiatan bareng di masjid sampe nyolot-nyolotan., kita berdua udah ngejalanin itu semua. Aku bisa marahan sama ika tapi nggak bisa lama. Kadang ngrasa puas aja gitu ngomel-ngomel ke dia dan dibales sama kenyolotan dia. Tapi, kita orang yang nggak butuh ngeluarin banyak energi untuk hal-hal nggak perlu. Kenangan yang paling bikin ketawa adalah tentang “karung gula di tempat wudhu”. Saya nggak ceritain detail kejadiannya disini, tapi yang pasti kita bakal ngakak kalo inget itu. Lepas dari masalah saling nyolotnya kita, saya selalu berharap dan berdoa yang terbaik buat dia. Keep strugle, sista. 
J

Read more ...
Tuesday, January 31, 2012

LOLONG : Sebuah Rekam Jejak Sejarah di Satu Sudut Pantura


Agresi militer Belanda 1 tahun 1947 menyisakan banyak kisah yang terekam dalam pada setiap jengkal bumi pertiwi. Dari segala kisah yang ada diharapkan dapat menjadi pelajaran bahwa penjajahan itu hanya memberikan kesengsaraan.

LOLONG memang bukan sebuah kisah tokoh pahlawan terkenal atau yang tercatat dalam daftar pahlawan nasional. Ini adalah kisah sederhana mengenai keluarga seorang gerilyawan. Kisah tentang perjuangan sebuah keluarga yang menjalani masa-masa sulit, yang melakukan perjalanan dari Wonosobo hingga Pekalongan. Rekam jejak yang cukup menyentuh dan menyadarkan kita akan makna “pahlawan” yang sebenarnya.





Read more ...
Monday, January 30, 2012

Tasini Oh Tasini

Sesosok  wanita dengan balutan jilbab coklat mengambil posisi di depan dengan gerak-gerik yang cukup aneh. Ia masuk dalam formasi yang nampaknya sudah diatur sedemikian rupa.

Beberapa jenak berlalu, sang perempuan berjilbab coklat tersebut tampak sesekali tertawa melengking sambil menggendong sebuah kentongan bambu. Ia tertawa dan hanya tertawa saja, acuh dengan kondisi di sekitar.

Dari koor yang bergema, akhirnya kami menjadi tahu bahwa wanita itu adalah Tasini. Wanita yang memiliki perngorbanan luar biasa untuk melahirkan anak-anaknya. Disaat wanita lainnya harus merasakan indahnya masa-masa menjadi ibu hamil, Tasini adalah wanita yang harus menjadi gila hingga delapan bulan usia kehamilan. Entah berkorelasi atau tidak dengan gila-nya Tasini, anak-anak yang dilahirkan dari rahim perempuan itu kemudian menjadi orang-orang yang luar biasa.

Read more ...
Friday, January 20, 2012

Coretan Jumat


#SSM

Kemarin siang, ada pertanyaan dari seorang teman perempuan yang cukup menggelitik walaupun klasik. Tentang perempuan dan aktualisasi diri. Pertanyaannya, ketika kita—perempuan—sudah married ,  apakah kita boleh beraktualisasi di luar rumah atau tidak. Pertanyaan persisnya memang bukan ini, tapi yang pengen aku bahas di #SSM yang ini aja.Hehe.
Tiap orang tentunya punya jawaban masing-masing. Seperti yang sering banget saya sampaikan kalo lagi diskusi sama teman, bahwa tiap orang punya sensasi masing-masing dalam menjalani hidup. Sensasi ini bersifat kasuistik dan simbolik tidak bisa digeneralisasi. Sensasi-sensasi yang kita rasakan akan membentuk sebuah persepsi. Orang yang sedari kecil tinggal di pesisir pantai akan merasakan sensasi panas sinar matahari yang berbeda dengan orang yang tinggal di pegunungan.Nggak usah ribet-ribet deh , kondisi dingin menurut orang Tegal berbeda dengan orang Purwokerto, iya nggak ? Ini bukan masalah ukuran beberapa celcius, tetapi sensasi yang terekam di memori otak kita dan membangun persepsi. Tapi, sensasi dan persepsi ini bisa dibentuk karena manusia memiliki kemampuan adaptasi (pelajaran biologi SMP nih.hehe). Misalnya, saya yang punya rintis alergika alias alergi dingin.., harus punya cara menyiasati diri ketika tinggal di Purwokerto Utara yang cenderung lebih dingin. Selama kita mau membuka diri, manusia punya banyak kemampuan untuk survive, termasuk dalam lingkungan sosial.
Read more ...
Monday, January 16, 2012

Wiskul Tegal

Seharian kemaren aku banyak makan, *gemuk, gemuk, gemuk, yeiy!!* . Mumpung di Tegal, saya kemarin menyempatkan untuk wisata kuliner alias wiskul. Ada beberapa jenis makanan dan tempat makan yang saya kunjungi. Saya akan berbagi info beberapa review tempat makan di kota Tegal. Untuk di kabupaten Tegal, saya tidak begitu paham, hanya tahu beberapa saja tapi nggak tau kondisi terakhirnya, mungkin nanti nunggu ada yang mau nraktir.., *nglirik teman-teman di kabupaten* :D . Nah, ini jenis dan tempat makan yang saya kunjungi kemarin :

  1. 06.00 . Kupat bongkok Panggung. Makanan ini kemarin saya santap untuk sarapan pagi. Setelah ziarah ke makam ayah, saya dan adik jalan-jalan ke alun-alun dan pasar pagi dan saya mampir ke kompleks masjid panggung. Disana memang ada beberapa penjual kupat bongkok, tepatnya di sepanjang Jl.KH.Mukhlas. Harganya relatif murah, dari 2-3ribu rupiah. Makanan ini memang mengambil nama Bongkok, yaitu nama sebuah desa di kabupaten Tegal. Mengenai apa itu kupat bongkok, bisa disearch saja informasinya melalui mbah google. Banyak kok. Saya cuma mau kasih beberapa referensi tempat membeli kupat bongkok. Selain di Jl.KH.Mukhlas, saya biasa membeli juga di Jl.Serayu atau wilayah Kalimati. Oya, tidak semua orang doyan kupat bongkok, mungkin karena melihat bumbunya. Tapi, saya suka tuh :p.
  2. 09.00 . Mendoan dan Lengko Srigunting. Agak siang sedikit, sekitar pukul 9.00, saya pergi jalan bareng seorang sahabat. Saya merasa perlu meluangkan waktu untuk sahabat yang satu ini. Ia sahabatku dari SMP, kami berkenalan di PII. Dari satu group PIIwati yang dulu sering bareng, saya memang lebih sering berdua dengannya mungkin karena hanya tinggal dua orang yang senasib sepenanggungan sebagai happysingle !!yeiy!! *apa sih??*. (eh, tiga ding, *ina durung detung*..:p ).  Nah karena kebetulan dia juga dulu kuliah di Purwokerto, jadi ketika saya tawarkan beberapa pilihan tempat makan, dia langsung tertarik untuk menyantap mendoan hangat. Mendoan Srigunting cukup populer bagi yang sering nongkrong, apalagi ABG...:p . Lokasinya di Jalan Srigunting, kalau dari arah timur (Jl.AR Hakim) masuk ke pertigaan Srigunting, lurusssss saja, hingga beberapa blok sebelum pertigaan Jalan Merpati. Lokasinya di tepi selatan. Tempatnya sangat sederhana. Ada satu gerobak yang bertandakan “mendoan Banyumas”. Satu porsi tempe mendoan harganya 3ribu rupiah, berisi dua potong. Jadi satu potong mendoan harganya 1500. Yeah, bagi saya yang berdomisili di Purwokerto mungkin harga segitu rada mahal, karena tiap hari bisa sering ketemu mendoan dengan harga dibawah itu.hehe. Tapi ya agak wajar lah , kalau kita menghitung juga ongkos transportasinya. Lagipula, tidak semua orang mungkin paham teknik menggoreng mendoan. Heemhh..kapan-kapan saja saya ceritakan tentang mendoan ini, beserta referensi membeli mendoan yang masih mentah dan lain-lain. Tulisan tentang mendoan nunggu sponsor dulu ah.. *lirik bos sawangan* hahahaha. Oya, selain mendoan, di warung ini juga menyediakan berbagai macam jenis es juice.
Read more ...