Pages

Sunday, February 15, 2009

MEMOAR OF “LASKAR PELANGI”


Widya Puri menurutku adalah salah satu istana terindah di Purwokerto. Rumah yang memiliki 19kamar dan dua lantai itu menjadi saksi bisu perenungan-perenunganku selama ada di kota satria ini. Di lantai dua ujung timur, disanalah biasanya aku melepas lelah. Persis disebelah timur rumah kos-qu, sebuah sekolah dasar negeri berdiri (SD N Karangwangkal I). Kalau pagi atau siang, sambil bertenger diatas genteng atau pagar beton, aku dapat menikmati aktivitas-aktivitas anak-anak sekolah yang masih polos. Menikmati kepolosan tingkah mereka, terkadang membuat angan mengawang pada masa-masa kecil dulu. Aku ingat ada kisah laskar pelangi yang membuatku tersenyum jika mengingatnya.

Berangkat dari sebuah pertanyaan dan keheranan akan proses belajar mengajar di sekolah, saat itu aku yang duduk di bangku kelas enam rupanya mencoba belajar mengamati keseharian teman-teman satu kelas.

Hampir enam tahun – saat itu- aku bersama-sama mereka, belajar. Kita mendapatkan guru yang sama tiap tahun. Bangku yang kami duduki juga sama, dari kayu. Kita sama-sama menulis diatas kertas. Buku panduan yang kita gunakan juga sama, malah terkadang aku tidak memiliki buku-buku itu. Seragam kita sama, merah-putih. Tetapi aku melihat ada kesenjangan diantara kita.

Saat itu, pergaulan anak-anak-walaupun secara tidak langsung -terpisah menjadi beberapa kelompok. Anak-anak yang ada di sepuluh besar ranking di kelas, biasanya bergaul dengan sesama-nya. Ada juga kelompok-nya anak-anak borjuis. Walaupun ketika bel istirahat berdentang, semuanya akan membaur jadi satu di aula sekolah. Aq dulu paling suka bermain petak lari (he3..ini nggak penting ya??)

Saat kecil, aku bertanya ” Kenapa kita belajar sama-sama tiap hari tetapi masih ada perbedaan yang pinter dan kurang pintar???”. Kenapa masih ada anak yang belum lancar membaca? Kenapa masih ada anak yang belum hafal operasi perkalian dan pembagian?? Kita kan sama-sama belajar dari kelas satu hingga kelas enam di sekolah yang sama. Aku tak suka pada kesenjangan. Semua harus punya hak yang sama. Apalagi kalau sikap guru sudah memperlihatkan diskriminasi antara yang pintar dan yang bodoh. Aku pikir, anak-anak yang nggak masuk sepuluh besar juga sama-sama manusia yang tidak boleh dibedakan antara yang pintar dan yang bodoh. Mereka hanya tidak termotivasi untuk belajar.


Pertanyaan dan pemikiran itu aku wujudkan dengan membentuk kelompok belajar. Terdiri dari sepuluh orang yang mungkin secara keseharian bukan dianggap sebagai anak yang ”pintar” hanya karena tidak bisa masuk ranking. Kebetulan hanya aku diantara mereka yang masuk tiga besar. Kesembilan anak yang lain adalah teman-teman yang menurutku mereka tidak mendapatkan motivasi saja untuk belajar. Aku masih ingat beberapa nama : Venti, Siska, Anggun, Luhur, Kiki, Erman, Lia, Farid, Firman, dan Adi. Tiap anak ini meruapakan siswa-siswa yang ”unik” di kelas terutama yang cowok. Venti, Siska, dan Anggun adalah trio yang selalu bersama...dan nampaknya sama dalam nasib.he3. Erman adalah anak seorang kepala sekolah yang dibuai dengan kemewahan. Hal yang sama terjadi juga pada Farid , Kiki dan Lia. Kalau Luhur..anak bandel di kelas yang sering dipanggil si pitak. Si Firman atau biasa dipanggil ”timank” juga anak seorang yang berkecukupan yang pergaulannya lumayan menakutkan untuk kondisi saat itu. Teman-teman sepermainan dia saat itu adalah anak-anak sekolah menengah yang sudah ngrokok, make, dll. Bahkan pernah suatu saat si timank dikeroyok oleh berandalan. Cerita tentang si Adi lain lagi, dia anak yang agak aneh, dia cukup dewasa jika dibandingkan teman-teman seusianya. Aku masih ingat dia pernah menampar teman cewek di kelas saat kita duduk di kelas empat, dan aku yang waktu itu menjadi ketua kelas hanya diam melongo, karena suer...waktu itu yang aku liat adalah sosok Adi yang ”ngeri” deh!!! Dan di kelompok belajar itu, aku menjadi pelengkap kesebelas sebagai anak yang ingin belajar bersama-sama mereka. Karena aku yakin mereka adalah teman-temanku yang cerdas-cerdas. Dari sebelas anak itu, secara tidak langsung aku ditunjuk menjadi leader, mungkin karena aku lah satu-satunya diantara mereka yang punya ranking di kelas. Alhamdulillah waktu itu masuk tiga besar (he3..narsis ^_^... gw pinter jg ya dulu...:p ).

Teknis kegiatan kelompok belajar (pokjar) itu dilakukan setiap hari minggu dan terkadang juga memanfaatkan hari libur non-minggu. Kalau hari sabtu menjelang bel pulang sekolah, biasanya aku sudah koar-koar : ” Besok di rumah si ”A” ya... bawa LKS Praktis...gak boleh bawa kunci jawaban!!!”. Nanti besoknya mereka secara otomatis akan siap-siap sekitar pukul 9 pagi untuk berangkat belajar.

Bagian kenangan favoritku sebenarnya adalah saat berangkat menuju lokasi belajar. Biasanya kita saling ”ngampiri” atau menjemput satu persatu, terutama buat yang naik sepeda. Para pengendara sepeda waktu itu : Aku, Siska, Venti, Anngun, Farid, Adi, Firman, dan Luhur. Kalau Lia dan Kiki biasanya diantar oleh keluarganya. Erman terkadang naik sepeda kadang dianter oleh pak Sehat (nama bapaknya).

Sekitar pukul delapan, biasanya aku sudah siap dengan sepeda favorit di halaman rumah. Kalau sepeda lagi nggak bisa dipake, aku sudah kontak dengan teman yang biasanya boncengan. Namanya juga anak-anak, suka rame-rame and becanda juga, kadang jam 10 kita baru ngumpul di lokasi. Semua pernah bergiliran dikunjungi, dan kebetulan sebelas anak itu tempat tinggalnya menyebar. Aku ada di tengah kota, dekat sama Firman. Venti, Siska, dan Anggun, Lia, Farid, ada di Kelurahan Slerok. Erman ada di Nusa Indah dekat dengan Luhur. Kiki dan Adi ada di desa Mejasem.

Aku merasakan setiap perjalanan itu seperti petualangan. Aku masih ingat betul waktu itu harus menyusuri sungai ”perpil” dengan sepeda..dan aku bonceng sepedanya Farid. Boncengnya berdiri karena sepeda Farid itu sepeda jenis Federal yang khusus cowok. Wuaah...menyenangkan sekali saat kita menyusuri tepi sungai dengan buku di tangan...saling bercanda penuh tawa. Oya, masih ingat juga, kebetulan rumahnya si Anggun itu di pinggir sungai...jadi kalau saat dia kebagian jatah untuk tempat belajar..sesekali kita main ke sungai. Asikna..... ^_^.

Trus aktivitas belajarnya gimana??? (he3..lupa cerita...padahal itu intinya). Ya, untuk aktivitas belajar, aku memiliki semacam kurikulum (tapi waktu itu nggak kenal kata ini..he3). Kegiatan belajar yang kita lakukan lebih kepada mengerjakan latihan-latihan soal. Waktu itu ada beberapa jenis LKS yang wajib dimiliki oleh siswa. Ada tiga jenis LKS : ”Praktis”, ”Canggih”, dan ”Cermat”. LKS itu kan kependekan dari Latihan Kerja Siswa, dan waktu itu aku pikir aku nggak bisa jadi guru yang memberikan materi kepada teman-teman. Jadi metode-nya adalah mengerjakan latihan soal bersama-sama. Biasanya ditengah-tengah mengerjakan latihan soal itu, kita berdiskusi. Walaupun aku yang dianggap leader, tapi bukan berarti aku akan memberikan semua jawaban, tapi lebih kepada sharing tentang pemecahan masalah. Memang sieh terkadang ada beberapa anak yang hanya tinggal mencontek jawabannya saja. Tapi biasanya mereka juga akan menanyakan ”jawaban ini dapatnya dari mana shin???caranya gmn???bla..bla..bla...” . Porsi waktu mengerjakan latihan soal biasanya hanya sekitar satu hingga satu setengah jam. Sisa waktu lebih buat ngobrol...tapi kadang aku kaitkan dengan contoh soal yang habis dikerjakan. Nah, setelah itu biasanya menjadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh kita semua.....karena setelah belajar biasanya tuan rumah akan memberikan sekedar makan siang atau snack-snack lezat.he3.

Aku melihat bahwa metode pokjar dengan mengerjakan latihan soal lebih efektif. Biasanya guru kelas akan menggunakan LKS sebagai bahan ajar untuk mengisi waktu jatah mengajarnya. Saya pikir, di sekolah adalah saat kita mendapatkan materi, bukan mengandalkan LKS. Kalo di sekolah Cuma ngerjain soal-soal LKS, nggak usah pergi ke sekolah juga bisa, di rumah juga sama saja. Apalagi tiap LKS biasanya tersedia kunci jawaban yang bisa kita gunakan untuk mengoreksi ketepatan jawaban.

Jadi teman-teman pokjar biasanya ”selangkah lebih maju” dibanding teman-teman yang lain. Kalau guru sudah bilang ” Kerjakan LKS!”, kita bersebelas udah tenang..karena sudah mengerjakan bareng-bareng dan dikoreksi jawabannya, waktu yang ada bisa digunakan untuk baca-baca materi. Emang sieh bukan jaminan bahwa jawaban kita betul, tapi setidaknya kita sudah lebih dulu mengetahui apa yang harus dikerjakan saat itu. Lagipula kalau mengerjakan di sekolah itu kan ”terbatas” waktunya, karena oleh guru diberikan tenggang waktu, misal 30menit harus selesai...habis itu dicocokkan. Makanya tidak heran kalau di kelas anak-anak lebih suka contek-contekan jawaban, yang penting udah diisi dan tepat waktu.

Perjalanan kesebelas anak ini tidak lancar begitu saja. Tidak setiap pekan kita bisa kumpul lengkap sebelas anak. Namanya juga hari libur, ada yang memanfaatkan berlibur bersama keluarga, istirahat di rumah, ada juga yang kadang merasa bosan untuk berangkat pokjar dan lebih memilih main dengan anak-anak sepermainannya dirumah.

Nggak jarang juga ada permasalahan antar personil. Namanya juga anak-anak, masalah sepele juga bisa jadi gede. Dari masalah pinjam pensil yang nggak dikembalikan sampai masalah ”cinta monyet”.he3. Dulu kalo anak kecil itu kan suka ledek-ledekan ”manten2an”. Kebetulan diantara kesebelas anak itu juga ada beberapa pasangan yang suka diledekin. Ada siska dengan erman, anggun dengan Adi, dan yang lain. Hei...aku kangen berat sama mereka sekarang, where r u guys?? I miss u all.... Oya, mengenai cinta monyet, aku juga punya cinta monyet waktu itu lho. Jujur aja, Luhur itu salah satu teman sekelas yang cukup menarik perhatian seorang shinta. Hemh...kenapa ya??!! Dia unik..cerdas... Tapi dikelas selalu dianggap sebagai anak yang paling badung, saat latihan ujian nasional NEM dia termasukyang nilainya terendah, tapi pas ujian akhir... Hemh...kita semua bisa bangga sama dia... J

Selain masalah-masalah internal, berbagai rintangan juga pernah dihadapi oleh ”pokjar”. Di diriku sendiri misalnya, pernah terbentur masalah dengan orang tua. Mungkin waktu itu ayah terlalu rindu kebersamaan setiap hari libur, jadi beliau pernah melarang dan menyuruhku untuk menghentikan aktivitas pokjar itu. Tapi yang bikin aku nggak terima saat itu adalah kata-katanya begini : ” Mereka itu kan yang butuh kamu...jadi mereka yang harus kesini..bukan kamu yang harus keluyuran setiap minggu!!!”.

Jujur, aku kesal dengan larangan itu. Aku bukan keluyuran nggak jelas setiap akhir pekan. Kalau dibilang teman-teman lain yang butuh aku, hemh...nggak juga, pernyataan itu salah besar!! Justru aku juga sangat membutuhkan kegiatan pokjar itu. Hubungan kita bersebelas simbiosis mutualisme. Terkadang di beberapa hal aku tak mampu menyelesaikan tugas, misalnya bidang prakarya, atau menggambar (Aku sendiri heran dengan diriku sendiri...saat SD aku sangat anti dengan pelajaran ”kesenian”, tapi sekarang justru getol banget!!he3). Kemudian satu point penting yang aku dapat dari pokjar itu adalah aku mendapatkan keluarga, mendapatkan kebersamaan.

Dirumah aku termasuk anak yang tak memiliki teman sebaya. Dengan anak-anak kampung belakang rumah juga jarang maen (karena sudah dikondisikan untuk jarang bersosialisasi dari kecil). Tapi sebagai seorang anak kecil, seorang manusia, aku punya kebutuhan bersosialisasi, aku butuh untuk berinteraksi dengan orang lain. Dari buku-buku yang aku baca, aku tahu bahwa dunia itu tidak sebatas pada tembok rumah. Makanya, kalo teman-teman mungkin membutuhkan aku dalam hal akademis untuk membantu membangkitkan motivasi belajar, sementara aku sendiri butuh teman-teman untuk membawaku terbang melihat dunia luar dari sepasang mata kecilku. Dari mereka-lah aku mengetahui beberapa lokasi di kota Tegal, dari daerah kotamadya sampe kabupaten. Dari mereka-lah aku bisa belajar untuk unggah-ungguh di rumah orang, aku belajar mengenal orang-orang yang berbeda, tipe-tipe keluarga yang berbeda. Aku baru tau bahwa kalo kita main ke rumah orang dan mau pulang, kita harus pamit ke kedua orang tua teman kita itu. Kalau kebiasaan di rumahku tidak seperti itu, mungkin karena ruang usaha ortu terpisah dengan tempat tinggal, dan papa bekerja dari setengah tujuh pagi sampai jam sembilan malam, jadi kalo ada temanku yang maen ya ortu tidak mengetahui. Sangat merepotkan kalau temanku mau pulang aku harus memangiil kedua orang tua di rumah sebelah.he3. Itu salah satu contoh kecil yang ada. Ya, dari situlah aku belajar untuk menghormati perbedaan, menghargai kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di tempat orang. J

Ada juga rintangan yang cukup unik yang dihadapi oleh teman-teman pokjar. Waktu itu di sekolah diadakan les tambahan pelajaran untuk anak-anak kelas enam. Les yang dipandu oleh wali kelas itu dimaksudkan supaya lebih siap untuk menghadapi ujian akhir. Suatu saat, les tambahan itu diadakan pada hari libur tanggal merah. Kalau nggak salah hari Kamis waktu itu. Saat guru mengumumkan jadwal les tambahan pada H-1, spontan anak-anak pokjar berteriak mengeluh. Apa pasal? Karena kita sudah punya rencana akan kumpul pokjar pada hari dan jam yang sama. Ternyata saat itu teman-teman pokjar lebih menyukai belajar di pokjar dariapada di les tambahan, maka nggak heran saat itu mereka mengeluh.

Aku sendiri diam saja waktu itu. Ya, mau gimana lagi? Les tambahan itu kan wajib dari sekolah..kalau nggak berangkat bisa dihukum. Ya udahlah mungkin pokjar bisa ditunda. Tapi dalam diamku itu tiba-tiba sang wali kelas memanggilku untuk menghadap di kantor. Dengan segala kebingungan dan tanpa prasangka apa-apa aku nurut aja. Biasanya kalau aku disuruh menghadap ke kantor guru saat nunggak SPP atau belum bayar iuran-iuran yang lain. Tapi..waktu itu seingatku aku belum ada tunggakan apa-apa. Sesampainya aku diruang guru, sang wali kelas memulai pembicaraan dengan kata-kata :
”Kalau kamu nggak suka sama les tambahan bapak, nggak usah mempengaruhi teman-teman yang lain??!!”
Aku Cuma bisa bengong..nggak paham karena tiba-tiba disentak dengan kalimat seperti itu. Ternyata sang wali kelas merasa tersinggung saat dia melihat anak didiknya mengeluh karena les tambahan. Beliau juga sudah mengetahui aktivitas pokjar kita. Yeah...waktu itu aku Cuma bisa diam. Namanya juga anak kecil...dimarahin guru ya diem aja. Aku tak ingat persis ceramah apa yang disampaikan oleh sang wali kelas itu. Satu hal kalimat yang keluar dari mulutku adalah pembelaan yang dengan pelan kusuarakan : “Nggak kok pak…shinta suka kok sama les tambahan bapak, shinta nggak tahu kalau jadwalnya bisa bentrok seperti ini”. L

Yeah…setapak demi setapak perjalanan kita lalui bersama. Canda tawa, sedu sedan kita tuai dalam kebersamaan itu. Ujian nasional adalah adalah sat-saat yang aku lalui dengan cukup tegang. Targetku saat itu adalah, anak-anak pokjar NEMnya nggak boleh kurang dari 30. Dulu ada lima pelajaran yang diujikan. Kalau NEMnya dibawah 30, berarti ada mata pelajaran yang nilainya kurang dari 6.

Pada saat pengumuman, aku sudah seharusnya bersyukur. Kesebelas anak itu lulus dengan NEM diatas 30 semua. Padahal aku sudah was-was..karena saat latihan ujian, beberapa anak pokjar masih ada yang mendapat NEM dibawah 30. Eh..ternyata semua bisa lolos. Amazing!!! Aku sendiri sudah cukup puas di urutan kelima besar (walaupun berarti aku turun peringkat karena saat latihan ujian aku jadi runner up.he3). Tapi itu semua pupus oleh kemenangan bersama. Kegembiraan setelah kelulusan itu kbetulan sekali persis menjelang hari lahirku, wah..sangat senang rasanya saat hari ulang tahun teman-teman sekelas bisa berkumpul sebelum kita berpisah untuk melanjutkan studi. Hal lain yang membuatku senang, sembilan dari sebelas anak ini diterima di SMP negeri semua, kecuali satu orang yang memang berniat melanjutkan di swasta, dan Luhur yang dikirim ke pondok pesantren oleh ayahnya.

Yeah...manis sekali memang memoar-memoar itu. Ingin rasanya untuk menghubungi mereka satu-persatu. Kita pernah berjanji suatu saat akan bertemu...hemh...mungkin nanti sudah dengan momongan masing-masing ya??!!!he3.

Beberapa pelajaran yang bisa diambil, bahwa seratus persen mempercayakan pendidikan pada lembaga formal bukanlah suatu hal yang bijak. Sebenarnya apa yang dirasakan oleh kita di pokjar adalah bahwa kita membutuhkan pendidikan dari lingkungan sehari-hari. Sebagian besar dari anak-anak pokjar adalah anak-anak yang kurang mendapatkan motivasi belajar dirumah. Itulah peran penting orang tua. Sekolah hanyalah salah satu media saja untuk memberikan alternatif pembelajaran kepada anak. Setiap waktu dalam perjalanan hidup seorang anak adalah masa-masa emas untuk belajar. Jadi belajar bukan Cuma di sekolah dan bukan sebatas pada rutinitas-rutinitas kegiatan di sekolah. Waktu berlibur yang biasa dijadikan waktu bermain ternyata efektif juga untuk belajar. Belajar sambil bermain J . Apalagi kurikulum pendidikan yang masih ”acak2an” di bangsa kita ini. Mendapatkan hasil yang optimal bukan dengan menunggu pemerintah akan berubah, tetapi melakukan perubahan itu dari tangan kita sendiri. Berdiri diatas dua kaki, berkarya dengan dua tangan kita, melihat, mendengar dan merasakan dengan indera yang Allah berikan. Hidup adalah Perbuatan!!! YAKUSA!!! (nta).


Tengah malam, 14 Februari 2008. Dipersembahkan spesial untuk teman-temanku semasa kecil di SD N Kejambon 2 Tegal. I miss u all…. Mmmuaachh….....
Read more ...

MALAM CINTA

Radiasi itu serasa naik ke ubun-ubun
Menggarangi lensa mata
Hingga masuk ke sumsum tulang

Malam sudah pasti dingin
Tekanan akan merendah
Namun bagai tak lekang oleh hegemoni
Semua luluh dalam membaranya magma otak

Rabbi, bantu aku untuk tetap menegakkan langkah
Menjaga kelopak agar tetap sigap
Transformasikan kekuatan dalam lemah gerak jemariku
Yang menari bersama lunglai kedua lengan ini

Hanya cintaMu
Yang masih menjadi nyawa
Dalam jasad kering ini..
Menapaki perjalanan penuh jelaga

Namun aku bersyukur masih dapat melihat jelas
Mutiara itu....



*)14 Februari 2009, di sekre cabang, sepulang dari menghadiri acara Milad HMI ke 62 yang diselenggarakan oleh rekan-rekan HMI Dipo.
Kondisi fisik yang sudah payah, harus kuat melintasi perjalanan yang dipenuhi perayaan valentine.
Berjalan sendirian dalam keramaian...
Sendiri?? Ah, tidak...aku yakin masih ada cintaNya.


Read more ...
Friday, February 13, 2009

Kepada Para JobSeeker



Langkahku semakin lelah
Berjalan menyusuri...
Mondar-mandir di keramaian kota
Hati yang bingung lamaran kerja ditolak
Enggak tau kenapa masih berkurang syaratnya...
Pikir-pikir daripada ku melamar kerja
Lebih baik ku melamar kamu

(Ost. Sinetron Gengsi gede-gedean)


“..emang cari kerja itu susah ya mas?”
”....banget, nta!!!”



Teringat pada obrolan-obrolan dengan kawan-kawan yang sedang memiliki hobi menulis surat lamaran, membuat legalisir ijasah, baca koran di kolom iklan kecik, dan juga rajin ke internet melihat info-info di situs lowongan kerja. Kalau dalam siluet di televisi, digambarkan dengan pemuda lusuh dengan stopmap di tangan dan menyambangi kantor perusahaan satu demi satu.

Pekerjaan/profesi dalam konteks sosial masyarakat merujuk pada status seseorang. Dalam sudut pandang saya, bekerja / memiliki profesi adalah salah satu usaha untuk memenuhi kemedekaan diri, independensi diri, dimana dengan bekerja seseorang telah berusaha menghidupi dirinya dengan dua kakinya sendiri. Itulah dimana kita merasakan ”merdeka” sebagai manusia. Maka kepuasan bekerja diukur dari seberapa merdeka seseorang dengan pekerjaannya itu. Bukan sebatas pada nilai rupiah atau melimpahnya harta yang dimiliki.

Bekerja dan kemandirian. Terkadang ada penyempitan persepsi dalam memandang hal itu. Bekerja yang dikenal dalam pandangan masyarakat adalah sebuah tahap saat seseorang telah menyelesaikan masa studi-nya. Makanya tidak bisa seratus persen disalahkan jika berjuta-juta orang masuk ke perguruan tinggi dengan harapan mendapatkan ijasah dan bisa mencari kerja. Namun apakah itu berlaku sama pada frasa yang kedua ; ”kemandirian” ? . Apakah kemandirian dapat ditakar dari selembar hijaza atau panjangnya gelar yang diraih?! Kemandirian adalah sebuah proses yang mungkin tidak didapat di bangku sekolah atau kuliah.




Saya sepenuhnya menghargai teman-teman yang saat ini sedang menjadi jobseeker. Senja tadi, seorang teman sms dan meminta info tentang lowongan yang saya berikan tempo hari. Sebelumnya beberapa orang teman (lebih tepatnya saya panggil sebagai kakak), juga menelpon untuk menanyakan info lowongan kerja. Bulan lalu seorang kakak meminta dicarikan jaringan di perusahaan X. Tidak sedikit teman yang mengabarkan bahwa sebentar lagi ada yang jadi pengangguran, ada juga yang mengabarkan sudah diterima kerja dan ada di salah satu belahan wilayah dunia. Saya sangat menghargai apa yang mereka lakukan, menghargai bahwa mereka telah berusaha untuk meraih independensi diri, menjadi orang yang merdeka setidaknya dalam hal materi dan berharap dapat menjadi manfaat bagi orang lain di sekitarnya.

Mungkin saya dianggap belum merasakan sendiri bagaimana sih susahnya mencari pekerjaan. Walaupun ketika dulu saya pernah main ke rumah sepupu, saya melihat ratusan tumpukan surat lamaran pekerjaan yang hingga kini entah bagaimana nasibnya. Kakak saya sendiri juga kebetulan ada di sekolah kedinasan dibawah departemen keuangan dan langsung mendapatkan posisi kerja yang lumayan. Walaupun saya tidak melihat ”kemerdekaan” pada diri kakak saya. Jadi saya mungkin dianggap tidak pernah meliha realita susahnya nyari kerja dan belum pada sampai tahap itu.

Saya pernah bertekad untuk tidak ”membuat surat lamaran kerja” jika selepas kuliah nanti. Sombong!! Mungkin kedengarannya seperti itu (Ampuni aku ya Rabb jika itu menyergap jiwaku). Namun mungkin ini jalan yang kupilih, toh tiap orang punya jalan masing-masing. Ini semua juga beralasan.

Dengan persepsiku bahwa bekerja merujuk pada sebuah kemandirian, independensi / kemerdekaan, maka bagiku berprofesi atau bekerja tidaklah saklek dibatasi oleh tingkatan-tingkatan tertentu seperti jenjang pendidikan.

Mandiri itu indah....manis sekali rasanya. Mandiri bukan sebatas pada hal materi saja. Tetapi bagaimana kita dapat merasakan berdiri diatas dua kaki kita, berkarya dengan dua tangan kita, melihat, mendengar, merasakan dengan indera kita.

Mandiri secara materi...yang manis sekali pertama kali mungkin saya rasakan saat kecil dulu. Teringat masa-masa kecil dulu. Waktu itu nenek memiliki kios / warung kelontong dirumah. Nenek memang wirausahawan(wati?) yang hebat. Setiap akhir pekan, nenek selalu belanja keperluan toko (jawa : kulakan). Namun jika saat-saat tertentu harus kulakan juga tanpa menunggu akhir pekan. Jika nenek tak bisa pergi sendiri, maka bisa menyuruh orang lain, termasuk cucu-nya. Saya adalah cucu terdekat nenek. Dari kecil ada di pelukannya. Nenek juga lah yang mengajari saya arti sebuah kemandirian. Usia kecil dulu dicoba untuk kulakan sendirian. Kadang belanja rokok, permen, atau barang-barang lain yang mendadak habis stok-nya. Dengan sepeda kecil, dengan berbekal catatan belanja, terkadang saya yang harus berangkat untuk kulakan. Nenek ternyata tidak mengenal bias gender, semua diperlakukan sama. Walaupun saya anak cewek, tapi bukan berarti tidak bisa kulakan dengan mengayuh sepeda ditengah jalanan kota. Satu hal yang ditunggu jika kulakan adalah saat mendapatkan reward atau upah. Hanya senilai sekitar lima ratus sampai seribu rupiah. Namun nilai itu mampu melupakan banyaknya peluh yang mengucur saat harus berpanas-panas sepeda. Saat itu rasanya saya dihargai, saya menjadi ”orang”, mampu menghasilkan sesuatu, mampu menghargai peluh yang mengucur.

Di kemudian waktu, beberapa kisah memberikan saya pelajaran tentang sebuah kemandirian. Bukan sebuah kemandirian dengan keterpaksaan, namun memang ada sebuah rasa manis yang ingin diraih. Saat SD pernah saya jualan ”kertas binder”. Usia-usia SD sangat senang sekali dengan koleksi kertas-kertas lucu berwarna-warni. Terkadang saya tersenyum sendiri saat mengingt masa-masa kecil. Bukan hanya jualan, tapi teman-teman sepermainan kadang mengadakan arisan, dan sejenisnya. Dulu saat dapat arisan atau jualan binder-nya laku, rasanya bangga sekali. Bisa jajanin teman, bisa beli majalah anak-anak lebih dari satu jenis, bisa menyewa komik atau novel di kios persewaan buku tanpa ketahuan papah (he3). Saya sangat bangga sekali saat bisa membelikan kado untuk kakak saat beliau ultah, waktu itu saya masih kelas 6 SD (kalo nggak salah). Sebuah kamus bahasa, karena saya tahu waktu itu kakak yang sudah duduk di bangku SMP merasa kesulitan dengan pelajaran bahasa Inggris. Dan kado itu saya beli dengan uang sendiri. Puas sekali rasanya....

Saat SMP, juga suka kayak gitu. Tapi masa-masa ini adalah masa bandel-nya seorang shinta. Mandiri sih mandiri...tapi terkadang karena malak..he3. Kebandelan saya saat itu membuat kepopuleran saya tidak dinafikkan lagi dan tidak sedikit teman yang menjadi ”korban” penindasan yang saya lakukan. Jujur saja, uang saku saat SMP itu hanya sekitar 500 – 1000 rupiah. Sebenarnya sih cukup-cukup aja. Tapi seorang shinta waktu itu adalah orang yang berfikir ” Kalau bisa lebih, kenapa nggak??” . So, jangan heran jika saat SMP bisa melihat saya jajan bakso tiap hari, maen-maen keluyuran...hang out bareng temen-temen. Tapi sebenarnya saya keberatan dikatakan ”menindas”, tapi lebih tepatnya ”membodohi”. Entah kenapa beberapa teman bisa saya cocok hidungnya hanya dengan kata-kata yang melangit dan kemampuan imajinasi saya. Teman-teman saya saat SMP adalah teman-teman yang borju. Jadi setiap hari ada jaminan saya jajan enak.he3. sekali lagi, saya bukan menindas, justru membantu. Membantu anak-anak orang borju menghabiskan duitnya. Kadang rasa malas mereka saya manfaatkan. Saya masih ingat waktu saya buka ”objekan” pengetikan dan penerjemahan bahasa Inggris. Kalo didengar sekilas, wah hebat juga ya shinta. Sebenarnya bukan hebat, tapi mereka aja yang bodoh. Dulu ada guru bahasa Inggris yang selalu membuat tugas menerjemahkan bacaan-bacaan di buku paket. Buku paket itu kan tiap tahun sama... maka saya tinggal save dokumen-dokumen kakak-kakak kelas yang dulu, dengan sedikit ”improve” yang entah itu jadi tambah bener atau tambah salah.he3. Walaupun tiap tahun sama, tapi sang guru tidak mau menerima tugas kembar. Jadi yang kayaknya menurut ”penglihatan” beliau hanya copy paste, ya dianggap nol. Ya, tinggal di-improve saja toh, jenis hurufnya diganti... covernya beda, trus urut-urutannya divariasi. Saya sekali mendapat job bisa dari 5-6 anak, dan itu tinggal saya kreasikan saja. Yang satu pake huruf comic sans, pake cover hijau. Satu lagi pake huruf comic tapi dikasih header-footer, trus bentuknya landscape, yang lain pake huruf times new roman, trus diberi ornamen background, yang lain bentuk jilidnya beda. Selesai toh???!!!! Satu orang bisa membayar 10-20rb untuk ”pekerjaan”saya itu. Gimana saya nggak jadi ”sok kaya”???!!! Dan dari situlah saya suka dunia komputer.

SMA nggak jauh beda. Beberapa ”kecerdasan” yang dimix dengan sedikit ”kelicikan” juga menjadi ”pekerjaan” saya. Yang paling diingat waktu jadi ”juragan tongkat” saat kelas tiga SMA. Waktu itu saya punya ”jabatan” di dewan ambalan, dulu kalo musim perkemahan , tiap regu harus mempersiapkan segala pernak-pernik pramuka dari mulai tongkat hingga tenda. Saya membuka jasa pelayanan penyediaan segala pernak-pernik itu. Ada beberapa paket yang ditawarkan. Saya agak lupa jenis2 paketnya. Yang pasti untungnya lumayan lah...bisa buat jajan di bumi perkemahan. Waktu itu jujur aja saya memanfaatkan ”posisi” saya di dewan ambalan. Dewan yang membuat aturan tentang segala pernak-pernik yang harus disiapkan, nah ternyata ”pejabat dewan” lah yang meraup untung dengan segala aturan itu. Kapitalisme kreatif!!!he3.

Bukan hanya jualan, tapi semenjak duduk di bangku SMA juga saya mengetahui manisnya berkarya. Menang lomba nulis dapat duit, nulis di koran dapat duit, jadi delegasi sekolah buat lomba dapat uang saku, berprestasi dapat beasiswa... itulah yang kemudian menjadi unsur pembentuk sebuah kata kemandirian dalam persepsi saya. Biar Garing Asal Garang.... Biar miskin asal berkarya...niscaya dia kaya...!!!

Dengan persepsi kemandirian yang terbentuk itulah membawa saya pada sudut pandang mengenai independensi / kemerdekaan. Maka menurut saya sangat sempit artinya saat kemerdekaan itu baru dimulai saat kita memiliki legalitas sebuah ijasah, saat kita mulai mendaftarkan diri untuk bekerja di sebuah perusahaan atau institusi terntentu. Maka benar donk jika lembaga pendidikan sebenarnya hanyalah sebuah lingkaran penjara yang kemudian lulus dari situ kita baru bisa dilepas untuk mencari kemerdekaan??!!!

Kemandirian bukan dibatasi oleh jenjang pendidikan tetapi kesadaran tiap pribadi untuk memahami bahwa setiap dirinya adalah pribadi yang merdeka bebas menentukan apa yang dilakukan. Seperti filosofi dalam lagu lir-ilir, bahwa manusia adalah ”cah angon” yang memiliki kemerdekaan untuk menggembalakan hidupnya, yang dipercaya untuk ”menek bwit blimbing”. Independensi adalah sebuah konsekuensi dari sebuah kepasrahan transedental kepada Gusti Allah ingkang maha kuoso. Itulah menariknya tauhid...bahwa dalam kepasrahan seorang hamba memiliki turunan konsekuensi untuk menjadi seorang yang selalu gigih untuk memperjuangkan sesuatu, yang selalu bersungguh-sungguh dan menjaga independensi diri.

Sedikit pengalaman mencari makna kemandirian yang pernah saya jabani memang menjadi salah satu titik semangat dan kepercayaan diri untuk terus survive dalam hidup ini, bukan pada masa sekolah namun juga terbawa hingga sekarang. Dari mulai jualan pada masa-masa kuliah, menjadi kuli tinta dan mimpi, menjadi general manager radio station, menjadi guru TK, menjadi penjaga toko. Bahkan menjadi pengamen puisi pernah dijabani. Bukan karena untuk ”materi” tetapi mematrikan diri ini bahwa saya ”berarti”, bahwa diri ini mampu berbuat, melakukan dengan segala daya pikir dan kreasi. Jujur aja, walaupun pernah jualan, tapi saya tidak punya insting bisnis yang tinggi. Pada saat tahun-tahun pertama di bangku kuliah, dari mulai menjual ”bawang” sampai menjual ”batik”....semuanya berhasil............berhasil RUGI!!! He3. Tapi itulah manisnya mencari kemandirian, secara materi mungkin tak ternilai bahkan minus... tapi saat saya merasakan kepercayaan diri untuk melakukan sesuatu, saat saya merasakan manis bahkan saat merasakan sebuah keluha, itulah pelajaran 1000SKS yang ada di universitas kehidupan ini dan di perjalanan itu saya pasti mendapatkan banyak pelajaran, termasuk jaringan. Hingga saat ini dan sampai nanti jasad saya berkalang tanah, usaha menuju independensi kan terus dilakukan, hingga nanti kemerdekaan hakiki adalah saat dipertemukan dengan sang pemerdeka hambaNya...Illahi Rabbi.

Nah, kembali pada para jobseeker. Saya rasa akan lebih nikmat saat dirasakan dan diorientasikan untuk mendapatkan lebih dari sekedar materi. Bukan juga sebatas status karena sudah sarjana harus bekerja. Karena saat bekerja dirujukan pada sebuah kemandirian dan kemerdekaan, mandiri dan merdeka bukan terpaku pada lulus atau tidak lulusnya jenjang pendidikan kita. Apalagi dengan orientasi sistem pendidikan di negara kita yang masih belum jelas, bukan mendidik peserta didik mandiri tapi justru menjadi budak zaman. Toh rezeki sudah diatur dalam skenario-Nya, tugas kita adalah berusaha meraihnya, dan nikmatnya hidup adalah saat kita merasakan improvisasi skenario kehidupan itu sendiri. Kepada para jobseeker....: SELAMAT BERJUANG UNTUK MERAIH KEMERDEKAAN!!! MERDEKA!!! (nta)
Read more ...

KOHATIquw Sayang, DIMANAKAH GERANGAN ???!!!




Tempo hari saya pernah mencoba memposting sebuah inisiasi pertemuan KOHATI di milis FORUM-HATI, milisnya teman-teman KOHA(MPO)WATI. Selain sebagai sebuah “pemanasan” menjelang kongres, juga untuk membangkitkan kesadaran teman-teman akhwat untuk muncul di ruang public. Keberadaan KOHATI memang masih…tetapi saya memilliki pandangan yang berbeda mengenai definisi dua kata antara keberadaan dan eksistensi, bagi saya itu berbeda walaupun secara harfiah sama. Eksistensi adalah saat kita mampu mengambil dan melakukan sebuah peranan bukan sekedar ada. So, sebagai sebuah refleksi dan evaluasi, kenapa sieh qta gak kongkow bareng ngobrolin gank KOHATI, mau lanjut atau bubar nieh gals???!!!

Walaupun usulan itu berujung pada sebuah ketidakjelasan karena tanggapan akhir adalah ” Kita itu orang-orang pasca struktur dik, kita hanya bisa memantau dan mendukung...”. Yeah... kumaklumi...mungkin salah tempat yak! Karena di milis itu ternyata isinya yunda-yunda yang sudah tidak aktiv lagi??!!!he3 Kalo komunikasi dan silaturahmi dengan teman-teman KOHATI yang masih aktiv juga sempat saya sambangi, baik di purwokerto maupun diluar purwokerto (yang pengen banget tuh maen ke Makasar, ewako Makasar??!!!he3). Tapi memang masih sebatas komunikasi biasa aja, paling-paling bertukar info and gosip .
” Jadi gini lho jeng...kayak gitu tuh...Trus gimana dengan disana bu??ujan bu??becek???ada ojek???!!!bla......bla...bla...” .


Kalopun diskusinya mendalam tentang beberapa agenda-agenda ”keperempuanan’, dan saya tanya ” gimana jeng kegiatannya?” ya paling-paling jawabannya ” Gitu lah bu!!biasa....seru kok bu!!!ya gitu deh.....” (halah...ni opo toh???!!!!)

Usulan, ide akan adanya komunikasi antar KOHATI mungkin lebih dilandasi kepada courius saya. Sebagai kader yang masih berumur jagung... (emang jagung umurnya berapa coy??!!!), belum genap dua tahun saya di HMI. Di Purwokerto sendiri, KOHATI secara struktural saat ini tidak ada. Beberapa periode yang lalu sih katanya sempat ada, saya hanya mencoba mempelajari dari dokumen-dokumen yang ada serta beberapa kontak para Yunda yang masih bisa dihubungi. Namun secara kultural, teknis adanya gerekan-gerakan yang intens di bidang ”keperempuanan” di Purwokerto masih hidup. Di cabang Semarang kabarnya sudah tidak ada lagi KOHATI, tapi toh justru saya merasakan ghirah para akhwat disana. Hal yang sama ada di cabang-cabang di bagteng. Kecuali Jogja ya yang dua tahun belakangan ini KOHATInya mulai bangkit. Katany sieh lebih rame lho jeng!!!^_^. Bagbar tak jauh beda... Bagtim..disana menjadi kekuatan tersendiri KOHATInya. Saya fikir...diantara teman-teman inilah perlu sesekali bertukar pemikiran, sharing ide, silaturahmi, entah apapun bentuknya, ada ataupun tidak ada Korps-nya para cewek HMI, KOHATI secara ruh masih hidup.

Perempuan memiliki peranan yang besar, sebanding dengan laki-laki didalam hidup ini. Namun mungkin masih menjadi sebuah hal yang ”agak langka” saat perempuan terjun ke ruang publik. Saya menilai KOHATI berperan besar sebagai sebuah penghembus semangat.

Sederhananya gini, cewek bakalan risih donk kalo misal dia harus bergerak sendirian, ditengah-tengah cowok. Bukan berarti bias gender..tapi bagi semua ”pengklasifikasian”...., itu pasti akan terjadi. Dimana-mana yang merasa sendiri..berbeda akan tidak dapat merasa bebas 100% terutama di awal-awal. Maka ada kecenderungan untuk masuk atau mengajak sesama jenisnya. Hal ini memang akan lebur sendiri kalo udah jadi habit. Witing tresna jalaran saka kulino.he3. Akan menjadi nggak risih lagi kalo emang udah terbiasa. Nah membiasakan ini bukan merupakan sebuah hal yang mudah. Apalagi jika itu dipengaruhi oleh kultur masyarakat. Apalagi di jaman kayak gini nieh...perempuan adalah objek pasar yang menggiurkan, yang menciptakan sebuah habit bahwa perempuan ada di barisan untuk tidak terjun di masyarakat.

Kalo misalnya nieh..KOHATInya mantap... qta-qta jadi nggak ngerasa risih..soalnya nggak sendirian. Lagian kan jadi ada temen ngrumpi yang asyik tuh... walaupun ngrumpi juga nggak sebatas sama cewek...tapi ya dipikir2 bagi cewek-cewek aktivis yang biasa dikelilingi cowok ya bosen juga kali ya ngbrol sama cowok mulu. Cowok itu kan obrolannya garing, nggak pake perasaan!!! Gimana nggak ngebetein coba???!!! Kalo sama cewek kan asyik...bisa lebih ada ”taste”nya. Jadi bukan sekedar karena qta gak bisa enjoy untuk membentuk teamwork sama cowok, tapi bosen juga kalo lama2 ngliat aktivis lagi2 cowok!!!

KOHATI muncul pada tanggal 2 Jumadil Akhir 1386 H, bertepatan dengan tanggal 17 September 1966 pada Kongres HMI ke-8 di Solo. Dari beberapa sumber yang saya punya, KOHATI memiliki bidang kerja yang khusus dan visioner, yaitu keperempuanan, itu katanya menurut ART pasal57 HMI, (tapi saya nggak melihat itu di ART yang hasil kongres kemarin, saya melihatnya segala hal mengenai lembaga kekaryaan dan lembaga khusus, tidak ada penjelasan khusus mengenai KOHATI, mungkin ada di PRT kali ya???!!!).

Mengutip sebuah pendapat dari kohati bahwa : ” Adalah suatu hal naif bila dikatakan eksistensinya menjadi kehilangan makna. Di kelompok manapun, suatu kelembagaan berdasarkan segragasi seks niscaya diperlukan”... Yang menjadi pertanyaan adalah apakah HMI adalah organisasi yang melihat arti penting pada segragasi seks itu???

Secara teknis, sudah jelas...bahwa perempuan and laki-laki ya beda. Apakah keinginan menuntut arti penting sebuah kohati adalah bahwa cewek itu lebih ingin ”dilihat”. Ini lho...gw cewek....!!!kenapa harus ditunjukkan secara gender-nya???!!! Misalnya..ada acara seminar tentang advokasi KDRT... apa sih bedanya ketika yang melakukan itu HMI atau kohati-nya??!! Gak ada bedanya...semua tetep aja sama yaitu HMI toh?! Apakah sudah kecenderungan bahwa akhwat lebih ingin diakui eksistensinya secara jenis kelamin-nya??? Maka sebenarnya secara tidak langsung organ2 akhwat seperti itulah yang mengangkat perbedaan gender!!!yang mendukung adanya diskriminasi gender! Karena tidak ada sebuah landasan yang jelas mengenai gerakan keakhwatan???!!

Sebenarnya kalo tujuannya sederhana aja utuk mengkader lebih banyak akhwat di HMI, itu lebih jelas. Parameternya nanti banyak nggak akhwat yang berkecimpung di HMI...(HMI bukan kohati!!). Kohati adalah sebagai wadah pemicu aja...dimana terkadang beberapa orang punya karakter untuk lebih enjoy saat harus memulai komunikasinya sesama jenis, ada yang punya ”hormon aneh” yang kalo ketemu lain jenis jadi ”keringetan” atau jadi ”diam seribu bahasa”. Nah, disitulah kemudian kohati bisa berperan untuk membina kader2 akhwat. Kohati itu nggak beda sama KPN..saya pikir lebih baik jika melebur menjadi satu kohati dan pengader. Jadi Kohati adalah bagian dari usaha pengkaderan di HMI. Kohati lebih kepada sublembaga khusus pada bidang pengkaderan....yang orientasinya pada akhwat. Toh secara teknis juga akan otomatis yang akhwat ikut akhwat yang ikhwan ikut ikhwan. Kohati sebagai lembaga yang mengarah pada bidang internal, itu lebih tepat, tapi untuk eksternal, untuk perjuangan, saya pikir akan terjadi ke-absurd-an.

HMI itu kan Pengkaderan dan Perjuangan... Pengkaderan itu meliputi pembinaan sikap serta penambahan pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan kader HMI tampil sebagai sosok khalifah Allah di muka bumi. Sedangkan hakekat perjuangan HMI adalah kesungguhan melaksanakan ajaran Islam pada kehidupan masyarakat secara bertahap dan konsisten di seluruh aspeknya. (ini ada pada khittah)

Pemikiran sederhana saya, pengkaderan lebih bersifat ke internal,pada pengembangan individu, maka ada baiknya memang melakukan pembinaan-pembinaan berbasis gender, karena pembinaan itu kan bersifat ”psikologis” juga. Sedangkan saat melakukan ”perjuangan”..itu sudah berbeda lagi...ini arahnya adalah sebuah aktualisasi, disana tidak ada lagi perbedaan jenis kelamin. Gini deh, kalo sholat...qta emang dibagi tempatnya nieh...yang cowok sama yang cewek dipisah.... itu kan ibadah pribadi kita...pengembangan diri kita masing2. Ntar kalo udah keluar..dan melakukan ibadah sosial kita...ya udah bareng-bareng lagi.... Permasalahan masyarakat tidak bisa dikelompokkan berdasarkan gender. Misal permasalahan KDRT, apa itu bisa dijeniskelaminkan sebagai permasalahan cewek??itu permasalahan bersama... Kalo permasalahan cewek ya lagi ”dapet”, permasalahan cowok ya ”mimpi basah”. Nah itu ranah pribadi…. Kalo masalah masyarakat, umat, dan lain-lain…itu nggak ada pengelompokkan gender. Misal deh..dalam Ibadan, kenapa sholat dibagi jadi dua yang cewek dan yang cowok???!! Trus kenapa zakat nggak ada bedanya antara cewek dan cowok???dan juga Ibadan-ibadah lain??

Nah salah satu masalah masyarakat yaitu konstruksi social yang membedakan antara cewek dan cowok…solusi yang kita lakukan bukan dengan mengelompokkan dan membedakan lagi mana yang cewek dan cowok, tp justru qta terjun bareng2 dan tunjukkan kalo dihadapan Allah nggak ada beda cewek n cowok, yang membedakan adalah factor keimanan!!!

Mungkin ini adalah isu klasik… isu basi yang sudah ada sejak dulu. Tapi segala hal yang ada sekarang juga semuanya basi….!!! Pemilu dan demokrasi itu juga basi…hanya saja menjadi hangat karena dikontekstualkan. Isu kohati ini mungkin basi...apalagi kalo senior2 udah bilang ” Itu zamannya anak-anak sekarang deh” Lalu dimana letak transformasinya donk, kanda dan yunda???!!!!

Sekali lagi, mungkin pemikiran ini muncul dari rasa penasaran saya. Mungkin agak membosankan bagi para senior atau teman-teman yang sudah merasa eksis kohati-nya. Satu tahun delapan bulan saya resmi jadi anggota HMI, masih sangat seumur jagung untuk mengkritisi ini mungkin. Berangkat dari keprihatinan dan kondisi serta tanggungjawab yang saya emban. Berangkat dari kegelisahan dan sejuta pertanyaan.... dengan minimnya wadah komunikasi, boro-boro milis, event-event aja jarang dilakukan. Globalisasi makin gencar..media komunikasi makin gadget...eh kader malah makin gaptek....capek deh!!!! Apakah memang teman-teman sudah tidak memerlukan komunikasi??!! Bukankah komunikasi adalah salah satu faktor penting dalam organisasi??? (gitu katanya mas Ashad pas SC kemaren...he3).

Harpannya dari nulis iseng ini ada sebuah ”pencerahan” bagi saya yang masih sangat belia ini. (karena saya lebih ”cerewet dan ekspresif” lewat tulisan...kalo aslinya sih...shinta itu pendiem banget..he3 ^_^) . Kalo memang tidak mungkin diadakan sebuah pertemuan yang bisa diinisiasi lewat media silaturahmi ini... ya setidaknya pertemuan conference dunia maya juga its ok (kemaren2 FORUM-HATI conference lho di YM.... he3). Ya, saling berbagi pemikiran dan pengalaman, saya pribadi masih banyak belum tahu tentang Kohati, walaupun sebelum2nya mungkin sudah pernah aktiv secara struktural di lembaga2 keakhwatan seperti di Korps PII Wati, keputrian rohis n LDK, sampe dept.Keputrian RISKA. Tapi...suer saya merasakan Kohati is so special!!! Gak tau deh specialnya itu karena ”ketidakjelasan”nya atau gimana....!!!he3.

Oke deh gitu aja... thanx to beberapa temen2, kakanda dan ayunda yang dengan setia balesin sms dan telpon saya yang terus nanya macem-macem tentang HMI. YAKUSA aja deh!!! Cheeerss!!! ^_^. (nta)


Notes : tadinya saya ngeblank nulis ttg kohati...eh ternyata jadi panjang lebar kayk gini...he3. Piss... ^_^
Read more ...
Thursday, February 05, 2009

Sumpah I Love you, I need u,I miss u…*)



(Refleksi milad HMI)

Tanpa tedeng aling-aling, gaya yang asyik abis!!! Itu komentar yang keluar untuk sebait lagu yang dibawakan oleh Mahadewi- group music yang masih dibawah Laskar Cinta Management. To the point, menghentak, menggelora. Tidak seperti lagu cinta lain yang terbalut oleh kata-kata picisan. Lagu ini memperlihatkan sebuah sifat yang sangat ekspresif, tegas, dan terus terang.

Seperti itulah gerakan anak muda. Menggelora, Semangat, dan langsung ke sasaran! Seperti itulah mungkin yang dirasakan kanda Lafran Pane persis 62 tahun yang lalu. Saat melihat kondisi umat Islam di bangsa Indonesia yang waktu itu lepas dua tahun dari proklamasi kemerdekaan. Kondisi dimana masyarakat Indonesia masih menderita walaupun sudah memproklamirkan kemerdekaan serta kondisi ruhiyah dimana keIslaman masih rendah. Maka dengan dua tujuan yaitu Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia serta Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam, terbentuklah HMI.

Lafran Pane dapat kita nilai sebagai seorang pemuda yang ekspresif. Di usia yang muda, dengan kondisi emosi yang masih menggebu-gebu, Lafran Pane memiliki keberanian untuk mengekspresikan kegelisahan hati nuraninya.

Sore itu, hari rabu pon, 14 Rabiul Awal 1366 H /5 Februari 1947 pukul 16.00, Lafran dengan kesigapannya yang dimotivasi oleh segala kegundahannya yang telah lama terpendam, ia berinisiatif membentuk organisasi mahasiswa Islam. Ke-Ekspresif-annya ini yang kemudian menjadi penggores sejarah manis dalam pergerakan mahasiswa di Indonesia.


Lafran adalah seorang pemuda cerdas, walaupun mungkin tidak setenar para tokoh lain di masa itu. Yudi Latief dalam bukunya “Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad Ke-20,hal 502 menyebutkan : Lafran Pane sebagai generasi ketiga inteligensia muslim Indonesia setelah generasi pertama (Tjokroaminoto, Agus Salim,dll), generasi kedua (M. Natsir, M. Roem dan Kasman Singodimedjo pada 1950-an), generasi keempat (Nurcholish Majid, Imadudin Abdurrahim dan Djohan Efendi pada 1970-an). Sang pemuda cerdas nan ekspresif itu dilahirkan di kampung Pagurabaan, Kecamatan Sipirok, yang terletak di kaki gunung Sibual-Bual, 38 kilometer kearah utara dari Padang Sidempuan, Ibu kota kabupaten Tapanuli Selatan.

Menggambarkan seorang sosok Lafran Pane kecil, remaja, dan menjelang dewasa dlah sosok pemuda kritis yang tak mengenal lelah untuk melakukan pencarian jati dirinya. Lafran dikenal sebagai sosok yang nakal, pemberontak, dan “bukan anak sekolah yang rajin”. Bukan sebagai anjuran kalo nanti kader-kader HMI itu bukan anak sekolah yang rajin, tetapi kenakalanny disini adalah dalam konteks sebuah pergolakan yang memberontak dan disini menunjukkan independensi Lafran yang teruji. Dengan pergolakan semangat pencariannya, dia bertualang di sepanjang jalanan kota Medan, terutama di kawasan Jalan Kesawan; pada kehidupan dengan tidur tidak menentu; pada kaki-kaki lima dan emper pertokoan; juga pada kehidupan yang Ia jalani dengan menjual karcis bioskop, menjual es lilin, dll. Dari perjalanan hidup Lafran dapat diketahui bahwa struktur fundamental independensi diri Lafran terletak pada kesediaan dan keteguhan Dia untuk terus secara kritis mencari kebenaran sejati dengan tanpa lelah, dimana saja, kepada siapa saja, dan kapan saja.

Mental berani dan apa adanya, inilah yang ingin dicoba diungkapkan. Seandainya saja waktu itu Lafran Pane tidak memiliki sebuah keberanian, masih harus memperhitungkan berbagai resiko. Apa jadinya kalau dia masih belum mantap, banyak ragu-ragu, tak akan ada HMI, mungkin Cuma mimpi!!!

Seperti kondisi kader sekarang, untuk jadi pengurus saja masih terurai alas an macam-macam “kuliah saya gimana?skripsi saya belum kelar, saya sudah lulus, saya mo married….bla..bla..bla…”… HMI dibangun dari sebuah rasa percaya diri, dibangun dari sebuah keberanian untuk menghadapi segala resiko yang akan dihadapi. HMI dibentuk dari sebuah ketegasan bahwa sebagai seorang muslim kita mengingnkan, mencintai, membutuhkan, dan merindukan manisnya cinta sejati sang Rabbi yang diturunkan dalam sebuah system kebenaran yaitu Islam. HMI dibangun bukan dari ketidakpedean, ke-letoy-an, keragu-raguan, atau malah Cuma wacana doank. HMI adalah sebuah ekspresi dari sebuah kegelisahan, dari sebuah mimpi… tanpa ragu-ragu untuk mengungkapkan perasaan cinta, butuh, dan rindu akan sebuah tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT.

Itulah ketika HMI digerakkan oleh para kader muda, bukan para generasi yang sudah “udzur” yang telah memiliki orientasi-orientasi lain, kepentingan-kepentingan yang menodai independensi, sehingga untuk mengekspresikan sebuah ketegasan sebuah keberanian masih harus berfikir ngalor-ngidul. HMI adalah proses ekspresif, proses kreatif, bukan berfikir keuntungan pribadi.

So,
Sumpah…aq mencintaiMu dengan segala nikmat dan kasih sayangMu, Izzati…
Sumpah…aq membutuhkan Islam untuk mengisi sebuah lubang dalam kegersangan ini
Sumpah…aq merindukan akan sebuah perubahan kondisi menjadi sebuah tatanan yang diridhoi oleh sang Pecinta….

Dalam hentakan notasi semangatku, dalam olahan nada fikir…qu coba ekspresikan. Maklumi-lah gelora yang membara ini…persetan dengan sebutan emosional atau ketidakdewasaan karena Ekspresif bukan berarti tidak dewasa, karena dewasa adalah sebuah proses…dimana harus melewati fase-fase keremajaan yang penuh semangat membara…



Maka tanpa tedeng aling-aling ekspresikan segala perasaan itu….

Sumpa I love U, I need U, I miss U…..

(nta)
senja…. Sebelum milad.
*) Ini judul lagu-nya Mahadewi..sebenarnya tidak ada hubungan yang signifikan dengan content tulisan ini… hanya sebuah pengantar yang menemani jari-jariku menari menuliskan ekspresi. Thank you Ahmad Dhani…. ^_^.
Read more ...
Friday, January 23, 2009

Kuch Kuch Hota Hai vs Ayat-Ayat Cinta



“mbak Shin, ntar malem di kosan kan? Brarti ntar qta nonton bareng Kuch-Kuch Hota Hai yak??!!” Hemh..tawaran yang menarik. Bertiga bareng si mamato qta bakal nonton mega asyik Bollywood yang pernah booming sekitar thn 2000-an. Yeah...kl pas lagi di kosan emang temen2 kadang ngajak nta nonton bareng, soalnya nta termasuk orang yang kuat melek malem. Ya..sekedar bwt nemenin and nggak jarang mendiskusikan isi film.

Filmnya seru… diskusi-nya juga seru. Film yang sebenarnya sudah terhitung “jadul”, tapi toh nyatanya qta masih ingat bagaimana sepak terjang si ganteng Rakhul dan si Jelita Anjeli. ^_^ .

Seperti biasa, ditengah-tengah nonton pasti kita akan mendiskusikannya. Si Miss Bollywood Echo, n Miss Lebai , Mamato , emang dua “kucluk” yang cukup asyik diajak diskusi. Kita mencoba membahas film ini dengan salah satu film yang cukup booming di Indonesia, Ayat-Ayat Cinta (AAC). Kenapa AAC? Satu hal qta sepakat, dua film itu satu genre : Film Cinta. Kalo komik nieh…jenis-nya serial cantik. Pendekatan yang dilakukan bermacam-macam, dari mulai psikologi, feminisme (he3)..sampai sosiologi. He3.

Beberapa hal yang qta simpulkan ( kl mereka baca nieh tulisan, bisa dijitak gw n diteriakin : “kita????lo aja kali mbak!!!” he3) adalah sebagai berikut :


1. ISI CERITA. Kita sepakat nieh dua film itu sama2 film cinta, lebih tepatnya tentang kisah cinta segitiga. Persetan kalo ada yang nganggap AAC itu film religi dan sebagainya, bagi qta tuh dua film sama!!! Dan menurutku kalo SBY bisa nangis di film AAC, brrti g bisa termehek-mehek nonton KKHH. Dari kesamaan itu, qta cpoba membandingkan, bahwa film cinta-nya Indonesia (AAC) masih kalah jauh dengan film cinta bollywood. Ceritanya lebih dalem, n lebih mendekati ke realistis. Satu lagi, selebai2nya film india, toh di KKHH tidak ada POLIGAMI!!!he3. AAC mungkin lbih dikenal dengan “film religi” , padahal isinya ya hanya menitikberatkan pada cinta. Toh di KKHH juga menunjukkan sebuah “religiusitas”. Ketika Rakhul mengatakan bahwa dia tunduk kepada tiga wanita, salah satunya yaitu Dewi yang ada dalam kepercayaannya. Kalo mo ngomongi religi ya kedua dilm ni sama aja. Mungkin di KKHH ditunjukkan bagaimana proses pernikahan yang syar’I, tapi yang saya lihat sejauh itu lebih yang dibawa itu adalah budaya bukan sebuah norma agama. Apa yang tergambarkan dalam AAC memang itu adalah budaya pernikahan khas Arab, yang antara mempelai putri dan putra ada di dua tempat yang terpisah. Saya pernah menjadi MC di pernikahan dengan adat Arab, dari awal yang ditekankan “ nanti kamu bakal liat nikah yang syar’I”. Tapi, menurutu itu hanya sebuah budaya saja, bagaimana kemudian di adat mereka pada malm slm pernikahan ada yang namanya adat malam pacar bagi keluarga yang kedua mempelai yang cewek-cewek. Disitu juga terlihat sebuah “glamour”. Saya berfikir lebih beradab tata cara di Indonesia, karena memang say orang Indonesia. Kalo yang mereka maksud syar’I adalah karena mempelai ceweknya pake jilbab tempatnya dipisah, rsanya kok pemikiran yang “cetek” banget yak???!!! Bagiku syar’I itu ya terpenuhinya rukun-rukun yang ditetapkan ( buset dah…diskusinya sampe sini nieh….!!!kayaknya udah mulai over and lebai jeng!!!)
2. PENOKOHAN. Satu hal lagi kita sepakat bahwa KKHH lebih rasional. Kalo katanya Miss.Lebai, si Mamato : “ Its Ok lah…si Fahri emang ganteng pisan/..tapi bu, dia terlalu sempurna untuk di dunia nyata sampe2 nggak ada cacatnya sama sekali, kalo Rakhul, seperfect2nya dia, tetep digambarkan sebagai manusia yang ada cela-nya”. Itulah hidup!!! Yup, mungkin two thumbs up bwt Hanung yang udah sedikit meng-improve tokoh Fahri, hingga nggak se”imposible” di novel. Improve Hanung-lah yang kemudian bisa membawa pesan itu. Kalo di novel, sebenarnya pembaca juga harus smart bwt ngebedain antara “prinsip” dan “karakter” dalam pergaulan lawan jenis. Kalo di novel, Fahri yangkaku, pendiam, dan dingin ke cewek emang itu karakter-nya, jadi belum tentu bahwa yang dia bawa adalah sebuah “prinsip pergaulan” yang syar’i. Belu tentu cowok yang “dingin” itu adalah orang yang benar-benar paham mengenai adab bergaul. Kalo udah dari sono-nya dia emang kaku, ya emang gitu donk!!! Nggak se-ekstrim itu lah kemudian syariat harus nyuruh orang harus jadi kaku, dingin, dll.
3. Setting. Yup, yang mungkin jadi salah satu nilai lebih yang sering digembor2kan dari film AAC adalah dengan setting Mesir-nya. Sebenarnya justru itu menjadi kekecewaan kita karena kenapa kita nggak pake setting lokal. Liat KKHH and sinema Bollywood lain yang begitu bangga dengan lokalitasnya, nasionalisme lebih terlihat disana (walaupun kalo liat sekuel-nya dwilogi-nya Kang Abik qta juga bakal melihat lokalitas di KCB). Bagaimana kemudian terlihat nasionalisme Rakhul yang menguji Tina untuk menyanyi dalam bahasa Hindi. Kalo di KKHH, kita terpaku pada “arabian”culture yang kemudian menjadi salah satu alasan untuk mengklaim sebagai film religi. Jujur saja tadinya saya berharap AAC ini dibawa dengan menekankan pada setting univ.Al-Azhar dan bagaimana menggambarkan suasana akademis disana dan perjuangan Fahri dengan tesis-nya. Tapi nyatanya nonsens!!!sekali lagi ini hanya film cinta biasa..sama dengan film2 cengeng lainnya. Malah di KKHH memberikan sketsa suasana kampus disana. Dosen yang “syur”, Rektor yang “gokil”, dll.

Itu beberapa hal yang sempet didiskusikan, sbenarnya ada lagi diskusi mengenai psikis cewek dan cowok dalam film KKHH ini. Tapi pas diskusi ini gw lagi nyuci…he3 ^_^. Satu lagi kenyataan, bahwa walaupun jadul, film KKHH masih asyik ditonton sampe sekarang (bayangin udah berapa tahun tuh…ni film dirilis sejak jaman tumbangnya orde baru bo!!!), sedangkan AAC, lebaran kemaren diputer di TV aja udah bikin bosen...
Saya sedang menanti bisa nonton Perempuan Berkalung Sorban, sempet baca novelnya tapi belum selesai. Saya pikir ni film lebih “realistis” dan “cerdas” daripada film yang sudah-sudah, tapi heran juga kok nggak “booming” banget ya???nggak kyak AAC dulu atau KCB yag dari audisi-nya aja udah “ribut”… Ah, Indonesia emang bangsa yang lebai!!!
Semoga dunia sinematografi Indonesia makin maju!!!amien…
Read more ...

Iklan PKS : Keren euy!!!!


Surprise banget waktu pertama kali liat iklannya PKS. Keren coy!! Dengan dibuat singkatan2 yang oke punya, yang merupakan usaha untuk menunjukkan bahwa PKS bisa untuk semua kalangan masyarakat.

Kreatif..itu satu komentar pertama yang keluar. Dunia advertising emang dunia yang mengasyikkan. Pemilu 2009 yang semakin dekat ternyata menjadi “order” tersendiri buat para tim kreatif dunia iklan. Bintang iklan Sutrisno Bachir dengan slogan yang sekrang sudah memasyarakat “ Hidup adalah perjuangan”, Demokrat dengan “tiga kali-nya” (walaupun ini agak kurang cerdas dikir), Golkar yang minimalis (alesannya, lebih memperhitungkan strategi promosi-nya), Gerindra dengan “Tidar”nya yang selalu berkarya, Prwbowo dengan HKTI-nya, dan lain sebagainya.

Iklan PKS kali ini lebih “renyah”, ngepop banget, kyaknya emang pengen mengarah pada kalangan muda…. Dari mulai PKS sebagai partainya Kyai dan Santri sampe Partai Kita Semua dan juga Palestina Kita Sayangi, semua terangkul. Walaupun saya belum melihat kaum-kaum minoritas atau beberapa yang termarginalisasikan dalamm masyarakat yang bisa diajak serta dalam iklan ini. Misal nieh… para PSK, para pekerja malam. Para akademisi juga belum diaja (misal ada profesor-nya..dll).

Yeah…salut pada iklan ini lepas dari masalah dukungan politik. Kalo masalah realisasi partai tersebut, let’s see…!!!he3. Itu bukan wewenang saya. He3. Yang namanya iklan ya tetep iklan. Saya berharap semoga para “penikmat” iklan di Indonesia sudah cerdas, jadi bisa mencerna iklan dengan baik. Kalo di iklan, semua juga nampak hebat. Obat sakit kepala di iklan semua bisa menyembuhkan sakit dalam waktu kurang dari satu menit, pelembab wajah bisa bikin kulit putih dalam waktu kurang dari lima menit. Itu di iklan!!! Tapi dalam dunia nyata…ya itu nggak ada. Sakit kepala ya butuh waktu minimal 1-3 hari untuk sembuh. Nah, apalagi partai yang mo bangun negara!!! So, ketika kita mo pakai obat sakit kepala, bukan karena alesan bintang iklannya keren or iklannya ciamik... tapi karena obatnya cocok nggak sama tubuh kita. Gitu juga dengan partai, bukan karena iklannya yang keren, tp sreg nggak pemikiran qta sama tuh partai, tul nggak? Lagian yang bikin iklan obat sakit kepala bln tentu udah pernah coba tuh obat, para kreator iklan partai jg blm pasti kader partai tersebut.he3.

Justru disini kita akan melihat iklan shampo or kosmetik lebih mencerdaskan daripada partai iklan. Misal nieh…sebuah produk shampo menjanjikan berkurangnya rambut patah dalam jangka waktu tertentu..misal satu bulan, dengan syarat : penggunaan teratur. Nah, saya pikir ide cerdas juga ketika ada partai dengan iklan akan memberantas korupsi dengan ide konkrit dan target waktu. Misal, partai X punya “formula” pemberantas korupsi dalam waktu 10tahun, makanya butuh dukungan masyarakat untuk dua kali nyoblos tuh partai dalam dua kali pemilu. Jadi bener2 tawaran solusi..bukan sekedar janji!!

Yeah…dunia iklan dunia yang menarik. Nta pengen suatu saat bisa dapet kesempatan untuk berkarya di dunia advertising!!(he3…ngarep!!!lulus aja lm pasti!!wuayo…pokoke keep spirit!YAKUSA!)
Read more ...
Wednesday, January 21, 2009

d'beauty speech


Semalam sambil bikin resume buku-nya Bloomfield, ditemani segelas kopi susu dan roti bakar, nta nonton inaugurasi Obama live dari Cappiton Hill, Washington DC. Keren...nta suka aransemen musik sebelum pangambilan sumpah Obama dan Puisi-nya Prof.Elizabeth. Pas cek email pagi2...berharap dpt kiriman download-an aransemen musik or tekt of Elizabeth, eh malah dapet naskah pidato semalem.

Mnrtku sieh...its d'beautiful speech!! Kata2nya diplomatis. Bbrp point yang bisa diambil (ini menurut nta pribadi....mnrt pendengaran nta smlm..he3) :

1) Tantangan Amerika itu serius (ttg ekonomi) dan kita harus belajar menjadi d'responsibility Americans. Pokoke harus membangun ekonomi Amerika yangudah terpuruk. Membangun kembali Amerika. (Ini point awal yang disebut sama mas Obama stlh "basa-basi politik" berterimakasih pada om Bush)

2) Amerika sahabat bwt semua, mo merangkul semua elemen. Gak ada perbedaan, entah itu ras, agama, dll. Trus kpada umat Islam, qta mencoba merangkul semuanya...

Intinya gini deh, yang internal ke warga Amerika : mereka harus bersatu untuk membangun Amerika kembali (aku pikir ni kalimat diplomatis yang bgs lho, mereka sadar kl mereka sebenarnya "hancur", tidak ada kesan kesombongan or arogan sbg adidaya). Utk keluarnya (eksternal) : Amerika akan merangkul semua. Ya, kbnykan gk beda sama pidato2 kampanye Obama waktu dulu. Cuma ini lebih semangat n "realistis" (nta bngung mo cr kata apa, ketemu-nya itu deh...au ah...).

Yeah..kl mslh pengaruhnya ke Indonesia ya...semua pasti ada pengaruhnya baik kecil atau besar, positif or negatif. Tp, ya nggak usah lebai deh ... Obama juga manusia biasa!!he3.

Kl nta sieh memang dr dlu pernah baca2 profile presiden2 Amerika, n kagum sama bbrpa. Sebatas itu aja...nggak lebih.he3.

Btw, semalem michelle cuantik..walaupun nta agak gk suka sama tatanan rambut-nya, michelle jadi keliatan agak gemuk. Warna bajunya juga cukup berani, Kuning bo!!! pk sarung tangan ijo pula. Maria juga tampil cantik, dewasa banget!!! Whatever, i think Obama was so cute last night. he3.


shinta arDjahrie (nta)

www.ntacaholic. co.cc

kaREna hiDup ni beGiTu renYAh,soBAt! !enjoY it....


oya, ini text pidato full version :


My fellow citizens:

I stand here today humbled by the task before us, grateful for the trust you have bestowed, mindful of the sacrifices borne by our ancestors. I thank President Bush for his service to our nation, as well as the generosity and cooperation he has shown throughout this transition.

Forty-four Americans have now taken the presidential oath. The words have been spoken during rising tides of prosperity and the still waters of peace. Yet, every so often the oath is taken amidst gathering clouds and raging storms. At these moments, America has carried on not simply because of the skill or vision of those in high office, but because We the People have remained faithful to the ideals of our forbearers, and true to our founding documents.

So it has been. So it must be with this generation of Americans.

That we are in the midst of crisis is now well understood. Our nation is at war, against a far-reaching network of violence and hatred. Our economy is badly weakened, a consequence of greed and irresponsibility on the part of some, but also our collective failure to make hard choices and prepare the nation for a new age. Homes have been lost; jobs shed; businesses shuttered. Our health care is too costly; our schools fail too many; and each day brings further evidence that the ways we use energy strengthen our adversaries and threaten our planet.

These are the indicators of crisis, subject to data and statistics. Less measurable but no less profound is a sapping of confidence across our land - a nagging fear that America's decline is inevitable, and that the next generation must lower its sights.

Today I say to you that the challenges we face are real. They are serious and they are many. They will not be met easily or in a short span of time. But know this, America - they will be met.

On this day, we gather because we have chosen hope over fear, unity of purpose over conflict and discord.

On this day, we come to proclaim an end to the petty grievances and false promises, the recriminations and worn out dogmas, that for far too long have strangled our politics.

We remain a young nation, but in the words of Scripture, the time has come to set aside childish things.

The time has come to reaffirm our enduring spirit; to choose our better history; to carry forward that precious gift, that noble idea, passed on from generation to generation: the God-given promise that all are equal, all are free, and all deserve a chance to pursue their full measure of happiness.

In reaffirming the greatness of our nation, we understand that greatness is never a given. It must be earned. Our journey has never been one of short-cuts or settling for less. It has not been the path for the faint-hearted - for those who prefer leisure over work, or seek only the pleasures of riches and fame. Rather, it has been the risk-takers, the doers, the makers of things - some celebrated but more often men and women obscure in their labor, who have carried us up the long, rugged path towards prosperity and freedom.

For us, they packed up their few worldly possessions and traveled across oceans in search of a new life. For us, they toiled in sweatshops and settled the West; endured the lash of the whip and plowed the hard earth.

For us, they fought and died, in places like Concord and Gettysburg; Normandy and Khe Sahn. Time and again these men and women struggled and sacrificed and worked till their hands were raw so that we might live a better life. They saw America as bigger than the sum of our individual ambitions; greater than all the differences of birth or wealth or faction.

This is the journey we continue today. We remain the most prosperous, powerful nation on Earth. Our workers are no less productive than when this crisis began. Our minds are no less inventive, our goods and services no less needed than they were last week or last month or last year. Our capacity remains undiminished. But our time of standing pat, of protecting narrow interests and putting off unpleasant decisions - that time has surely passed. Starting today, we must pick ourselves up, dust ourselves off, and begin again the work of remaking America.

For everywhere we look, there is work to be done. The state of the economy calls for action, bold and swift, and we will act - not only to create new jobs, but to lay a new foundation for growth. We will build the roads and bridges, the electric grids and digital lines that feed our commerce and bind us together. We will restore science to its rightful place, and wield technology's wonders to raise health care's quality and lower its cost. We will harness the sun and the winds and the soil to fuel our cars and run our factories. And we will transform our schools and colleges and universities to meet the demands of a new age. All this we can do. And all this we will do.

Now, there are some who question the scale of our ambitions - who suggest that our system cannot tolerate too many big plans. Their memories are short. For they have forgotten what this country has already done; what free men and women can achieve when imagination is joined to common purpose, and necessity to courage.

What the cynics fail to understand is that the ground has shifted beneath them - that the stale political arguments that have consumed us for so long no longer apply. The question we ask today is not whether our government is too big or too small, but whether it works - whether it helps families find jobs at a decent wage, care they can afford, a retirement that is dignified. Where the answer is yes, we intend to move forward. Where the answer is no, programs will end. And those of us who manage the public's dollars will be held to account - to spend wisely, reform bad habits, and do our business in the light of day - because only then can we restore the vital trust between a people and their government.

Nor is the question before us whether the market is a force for good or ill. Its power to generate wealth and expand freedom is unmatched, but this crisis has reminded us that without a watchful eye, the market can spin out of control - and that a nation cannot prosper long when it favors only the prosperous.

The success of our economy has always depended not just on the size of our Gross Domestic Product, but on the reach of our prosperity; on our ability to extend opportunity to every willing heart - not out of charity, but because it is the surest route to our common good.

As for our common defense, we reject as false the choice between our safety and our ideals. Our Founding Fathers, faced with perils we can scarcely imagine, drafted a charter to assure the rule of law and the rights of man, a charter expanded by the blood of generations. Those ideals still light the world, and we will not give them up for expedience's sake.

And so to all other peoples and governments who are watching today, from the grandest capitals to the small village where my father was born: know that America is a friend of each nation and every man, woman, and child who seeks a future of peace and dignity, and that we are ready to lead once more. Recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with sturdy alliances and enduring convictions. They understood that our power alone cannot protect us, nor does it entitle us to do as we please. Instead, they knew that our power grows through its prudent use; our security emanates from the justness of our cause, the force of our example, the tempering qualities of humility and restraint.

We are the keepers of this legacy. Guided by these principles once more, we can meet those new threats that demand even greater effort - even greater cooperation and understanding between nations. We will begin to responsibly leave Iraq to its people, and forge a hard-earned peace in Afghanistan. With old friends and former foes, we will work tirelessly to lessen the nuclear threat, and roll back the specter of a warming planet. We will not apologize for our way of life, nor will we waver in its defense, and for those who seek to advance their aims by inducing terror and slaughtering innocents, we say to you now that our spirit is stronger and cannot be broken; you cannot outlast us, and we will defeat you.

For we know that our patchwork heritage is a strength, not a weakness. We are a nation of Christians and Muslims, Jews and Hindus - and non-believers. We are shaped by every language and culture, drawn from every end of this Earth; and because we have tasted the bitter swill of civil war and segregation, and emerged from that dark chapter stronger and more united, we cannot help but believe that the old hatreds shall someday pass; that the lines of tribe shall soon dissolve; that as the world grows smaller, our common humanity shall reveal itself; and that America must play its role in ushering in a new era of peace.

To the Muslim world, we seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect. To those leaders around the globe who seek to sow conflict, or blame their society's ills on the West - know that your people will judge you on what you can build, not what you destroy. To those who cling to power through corruption and deceit and the silencing of dissent, know that you are on the wrong side of history; but that we will extend a hand if you are willing to unclench your fist.

To the people of poor nations, we pledge to work alongside you to make your farms flourish and let clean waters flow; to nourish starved bodies and feed hungry minds. And to those nations like ours that enjoy relative plenty, we say we can no longer afford indifference to suffering outside our borders; nor can we consume the world's resources without regard to effect. For the world has changed, and we must change with it.

As we consider the road that unfolds before us, we remember with humble gratitude those brave Americans who, at this very hour, patrol far-off deserts and distant mountains. They have something to tell us today, just as the fallen heroes who lie in Arlington whisper through the ages. We honor them not only because they are guardians of our liberty, but because they embody the spirit of service; a willingness to find meaning in something greater than themselves. And yet, at this moment - a moment that will define a generation - it is precisely this spirit that must inhabit us all.

For as much as government can do and must do, it is ultimately the faith and determination of the American people upon which this nation relies. It is the kindness to take in a stranger when the levees break, the selflessness of workers who would rather cut their hours than see a friend lose their job which sees us through our darkest hours. It is the firefighter' s courage to storm a stairway filled with smoke, but also a parent's willingness to nurture a child, that finally decides our fate.

Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends - hard work and honesty, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism - these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history. What is demanded then is a return to these truths. What is required of us now is a new era of responsibility - a recognition, on the part of every American, that we have duties to ourselves, our nation, and the world, duties that we do not grudgingly accept but rather seize gladly, firm in the knowledge that there is nothing so satisfying to the spirit, so defining of our character, than giving our all to a difficult task.

This is the price and the promise of citizenship.

This is the source of our confidence - the knowledge that God calls on us to shape an uncertain destiny.

This is the meaning of our liberty and our creed - why men and women and children of every race and every faith can join in celebration across this magnificent mall, and why a man whose father less than sixty years ago might not have been served at a local restaurant can now stand before you to take a most sacred oath.

So let us mark this day with remembrance, of who we are and how far we have traveled. In the year of America's birth, in the coldest of months, a small band of patriots huddled by dying campfires on the shores of an icy river. The capital was abandoned. The enemy was advancing. The snow was stained with blood. At a moment when the outcome of our revolution was most in doubt, the father of our nation ordered these words be read to the people:

"Let it be told to the future world...that in the depth of winter, when nothing but hope and virtue could survive...that the city and the country, alarmed at one common danger, came forth to meet [it]."

America. In the face of our common dangers, in this winter of our hardship, let us remember these timeless words. With hope and virtue, let us brave once more the icy currents, and endure what storms may come. Let it be said by our children's children that when we were tested we refused to let this journey end, that we did not turn back nor did we falter; and with eyes fixed on the horizon and God's grace upon us, we carried forth that great gift of freedom and delivered it safely to future generations.

Thank you. God bless you, and God bless the United States of America.
Read more ...
Sunday, January 11, 2009

Jadi Nominator Lomba Essay

Kemarin nta dapet sms, katanya essy-ku masuk nominator Lomba Essay "Agama dan Kekuasaan" Tingkat Mahasiswa se-Indonesia. Setelah dicek di internet trnyata benar, ada nama nta dan judul essay. Nta ada di nomor 25. Selain nta, dari UNSOED juga ada Mas Firdaus Putra.
Berikut pengumuman lengkapnya.

Setelah dilakukan proses seleksi terhadap 317 esai yang masuk mengikuti lomba, maka dewan juri memutuskan esai yang menjadi pemenang dan nominator adalah sebagai berikut.


Juara:

1. “Khilafah Vs Demokrasi: Relasi antara Agama dan Kekuasaan” karya Gugun El-Guyanie dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;
2. “Islam Versus Islamisme: Reposisi Islam sebagai Agaa Kekuasaan atau Agama Peradaban” karya Ardiyansyah dari Universitas Langlangbuana Bandung;
3. “Fundamentalisme: Sengkarut Hubungan Iman dan Kuasa” karya Muhammad Ismaiel dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
Nominator:

4. “Negara dan Agama dalam Panggung Sejarah Ideologi” karya Syah Azis Perangin Angin dari IAIN Walisongo Semarang;
5. “Menampung Islamisme sebuah Tantangan Demokrasi” karya Djohan Rady dari Universitas Indonesia Jakarta;
6. “Agama di Tepi Kekuasaan” karya Ahmad Asroni dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;
7. “Power/Knowledge/Corrupt: Telisik Sosiologi Hubungan Kekuasaan dan Agama” karya Firdaus Putra A. dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto;
8. “Agama, Kekuasaan: Suatu Perkwinan yang Dinantikan” karya Salman Rusydie Anwar dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;
9. “Politisasi Agama dan Sindrom Kekuasaan” karya Mohammad Takdir dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta;
10. “Tangga-Nada Kuasa Agama” karya Ahmad Khotim Muzaka dari IAIN Walisongo Semarang;
11. “Pancasila, Kekuasaan, dan Politisasi Agama dalam Negara Budaya Patron-Klien” karya Sayfa Aulia Achidsti dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta;
12. “Tujuan Kekuasaan dalam Pengentasan Kemiskinan: Ekonomi Ukhuwah dan Strategi Menuju Islamic Welfare State” karya Hamzah Ali dari Universitas Negeri Jakarta;
13. “Distorsi Definisi Cinta dan Seka: dalam Bingkai Kuasa Modernisme-Barat” karya Isni Ekowati dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto;
14. “Sebuah Mozaik: Heroisme Berkedok Agama (Antara Religi dan Spiritulitas) karya I Made Dwi Ariawan dari Universitas Udayana Bali;
15. “Melacak Jejak Premanisme dalam Politik Indonesia” karya Yogi Setya Permana dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta;
16. “Kekuasaan, Tuhan, Kematian” karya Abdul Aziz Rasjid dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto;
17. “Tubuh Berotak Jamak” karya Ayu Maylani dari Universitas Diponegoro Semarang;
18. “Mewujudkan Parpol Lokal sebagai Representasi Kedaulatan Rakyat di Daerah” karya Adhitya Himawan dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta;
19. “Kekuasaan dalam Selimut Kolektivisme Naif” karya Riyadlotu Solikhah dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto;
20. “Politik Kekuasaan dan Agama di Indonesia” karya Muhammad Husni Mubaroq A. dari Universitas Padjajaran dan Parahiyangan Bandung;
21. “Problematika Agama dan Kekuasaan dalam Kemanusiaan” karya Cahyani Ikawoni Putri dari Universitas Airlangga;
22. “Penguasaan atas Nama Agama dalam Kancah Pertempuran Invisible Perlawanan terhadap Dua Bentuk Penjajahan atas Perempuan” karya Miftahul Anam dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokert;
23. “Agama dan Negara dalam Tradisi Pemikiran Politik” karya Moh Fairuz ad-Dailami dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
24. “Islam, Demokrasi, dan Hasrat Kuasa” karya Munawir Aziz dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus;
25. “Agama dan Ruang Perempuan” karya Shinta Ardhiyani U dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto;
26. “Islam dan Nasionalisme” karya Hafid Ismail dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto;
27. “Kartini Mandella dan Barack Soekarnoputri” karya Reza Praditya Yudha dari Universitas Muhammadiyah Malang;
28. “Demokratisasi Ekonomi Islam Indonesia” karya Yontomi dari Sekolah Tinggi Islam Negeri Purwokerto;
29. “Perbedaan Interpretasi Agama dan Pengaruhnya terhadap Masyarakat: Dampak Kepemilikan Kekuasaan” karya Arif Hidayat dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto;
30. “Menggenggam Kekuasaan di Atas Agama” karya Vivi Novi Yanah dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto.

Keputusan Dewan Juri di atas bersifat mengikat dan tidak bisa diganggu gugat. Selanjutnya, para pemenang dan nominator akan dihubungi panitia untuk diundang dalam kegiatan Launching Buku para pemenang dan nominator
dan Serah Terima Penghargaan pada tanggal : 14 Maret 2009 di STAIN Purwokerto, Jl. A. Yani No. 40 A Purwokerto.
Selamat bagi para pemenang dan nominator.

Dewan Juri:

Drs. Ahmadun Yosi Herfanda
Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum.
Heru Kurniawan, S.Pd. M.A.

info lengkap bisa dilihat di sini
Read more ...
Tuesday, January 06, 2009

Udah Bego, Males Lagi!!! (sampah masyarakat!!!)


Kasar ya judulnya??
Nggak habis pikir aq sama beberapa teman di kampus, melihat aktivitas nyontek mereka. Ujian hari pertama kemarin, American Culture Studies, nta merasa harus belajar sungguh2 karena mengejar ketertinggalan akibat beberapa kali tidak masuk kuliah.
Eh, pas ujian kemaren, sebel banget nta ngliat beberapa temen ngerjain soal-soal ujian hanya mengandalkan kegesitan lirik kanan-kiri-depan belakang. Buset deh, nta liat, dari nomor satu sampe sepuluh, dia nyontek semua. Padahal dia yang selalu menyudutkan nta karena nta nggak pernah masuk kuliah. Eh, dia yg selalu masuk kuliah aja nyontek, trus dia kuliah ngapain aja bu???!!! Sebel deh gw!!!dan yang kyak gitu ternyata bukan cuma satu. Msh byk bbrpa anak lain yang cuma mengandalkan nyontek pas ujian, padahal waktu luang buat banyak banget.
Sebel aq sama orang yang GEDE OMONG, SOK PINTER, TERNYATA "KOSONG", MALES LAGI!!!

Read more ...

Bekal Kalibakal*)

Rantau jadi kacau
pusing seratus keliling
bak main-main gasing
putar-putar dibuatnya

kicau dosen yang termuliakan
bangku jadi rebutan
namun kosong tetaplah kosng
karena bukan ada isi
hanya doktrinasi


Pintar jadi ambigu
cerdas hanya asumsi
tarian kebodohan
prestise di-elukan

memang benar kalau benar sebuah kesepakatan
simbol yang sudah jadi konsensus
jika kau ingin benar, berkompromilah
cari tau kesepakatan seperti apa yang berlaku disitu
hingga kau jadi benar
menurut mereka

aku hanya pungguk bodoh nan lemah
tapi kata orang, dunia ini berputar
bodoh-pintar jadi giliran
tak usah dipikirkan
toh semua cuma anggapan???

karangwangkal, 6 januari 2009

*) Kalibakal =? nama wilayah di purwokerto,ada di jntung kota, Jl.Jend.Soedirman timur, lokasi kampus sastra UNSOED.
Read more ...
Saturday, January 03, 2009

Mengapa Kita Perlu IQ, EQ, dan SQ


Era Spiritual, begitulah yang banyak diutarakan oleh berbagai pakar di seluruh dunia. Bahkan padanan kata tersebut tidak keluar dari seorang alim ulama, tetapi keluar dari orang-orang yang bergerak di dunia pelatihan, organisasi, sampai bisnis. Begitu banyak bentuk konsep pengusungan era spiritual, ditandai dengan mulai banyaknya tulisan-tulisan atau buku-buku seperti ‘Menjual dengan Kecerdasan Spiritual’, ‘Marketing Syariah’, ‘Spiritual Capital’, buku-buku Manajemen Qalbu, ‘Financial and Spiritual Quotien’, sampai ‘ESQ Power’.


Sekarang mari kita lihat, apa itu kecerdasan IQ, EQ, dan SQ? Dan mengapa kita membutuhkannya sekaligus?
1. Kecerdasan Intelektual (IQ)

Kecerdasan ini ditemukan pada sekitar tahun 1912 oleh William Stern. Digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang pada masanya saat itu, dan ternyata masih juga di Indonesia saat ini. Bahkan untuk masuk ke militer pada saat itu, IQ lah yang menentukan tingkat keberhasilan dalam penerimaan masuk ke militer.

Kecerdasan ini terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, bernalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologis dengan “What I Think“.
2. Kecerdasan Emosional (EQ)

Mulai menjadi trend pada akhir abda 20. Kecerdasan ini di otak berada pada otak belakang manusia. Kecerdasan ini memang tidak mempunya ukuran pasti seperti IQ, namun kita bisa merasakan kualitas keberadaannya dalam diri seseorang. Oleh karena itu EQ lebih tepat diukur dengan feeling.

Kecerdasan emosional digambarkan sebagai kemampuan untuk memahami suatu kondisi perasaan seseorang, bisa terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Banyak orang yang salah memposisikan kecerdasan Emosional ini di bawah kecerdasan intelektual. Tetapi, penelitian mengatakan bahwa kecerdasan ini lebih menentukan kesuksesan seseorang dibandingkan dengan kecerdasan sosial. Kecerdasan ini lebih tepat diungkapkan dengan “What I feel”
3. Kecerdasan Spiritual (SQ)

Pertama kali digagas oleh Danar Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. Dikatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.

Kecerdasan ini terletak dalam suatu titik yang disebut dengan God Spot. Mulai populer pada awal abad 21. Melalui kepopulerannya yang diangkat oleh Danar Zohar dalam bukunya Spiritual Capital dan berbagai tulisan seperti The Binding Problem karya Wolf Singer.

Kecerdasan inilah yang menurut para pakar sebagai penentu kesuksesan seseorang. Kecerdasan ini menjawab berbagai macam pertanyaan dasar dalam diri manusia. Kecerdasan ini menjawab dan mengungkapkan tentang jati diri seseorang, “Who I am“. Siapa saya? Untuk apa saya diciptakan?
Bagaimana IQ saja tanpa EQ?

Sahabatku, banyak di dunia ini hanya diukur dari kecerdasan IQ saja. Padahal menurut penelitian para pakar, kecerdasan IQ hanya menyumbang 5% (maksimal 10%) dalam kesuksesan seseorang. Mulai dari kita belajar di Sekolah Dasar dari sistem NEM sampai kuliah dengan sistem IPK. Bahkan tidak jarang banyak perusahaan yang merekrut seseorang berdasarkan dari test IQ saja.

Seperti apa IQ tanpa EQ? Coba kita pahami melalui kisah berikut

Eki memang tidak terlalu pintar dalam mata kuliah statistik. Entah kenapa pelajaran ini terasa berat dan susah ‘nyantol’ di otaknya. Di semester kemaren dia mendapatkan nilai D untuk pelajaran ini. Namun Eki tidak putus asa, semester berikutnya dia mencoba lagi. Berbagai ramuan penahan rasa kantuk dia minum hampir setiap malamnya hanya untuk menjadi teman penahan agar tetap melek dan konsen dalam belajar. Akhirnya masa akhir semester pun tiba, dan kini dia mendapatkan nilai B. Betapa senangnya Eki ketika itu, rasanya ingin dia memberikan bingkai figura daftar nilai B tersebut dan memasangnya di kamar untuk jadi kenangan sampai akhir hidup.

Di saat kesenangannya itu dia bercerita kepada Iko salah satu seorang temannya. “Ko akhirnya statistik ku dapet nilai B“, ujar Eki dengan hebohnya bagai mendapatkan durian runtuh.

“Ah baru dapat nilai B saja udah seneng, aku yang dapet A aja biasa-biasa aja“, sahut Iko. Iko memang terkenal pintar di kelasnya. Tak pernah luput darinya rangking 3 besar semenjak SD.

Eki yang saat itu sedang berbinar-binar tiba-tiba langsung menciut hatinya ketika mendegar komentar dari Iko. Bagaikan kompor yang sedang menyulut tinggi tiba-tiba padam karena tersiram air.

Coba kita lihat bagaimana sikap yang ditunjukkan oleh Iko. Memang dia pintar, tetapi tidak mampu memahami perasaan yang dialami oleh Eko. Banyak orang di dunia ini yang pintar namun tidak mampu berkomunikasi secara perasaan kepada orang lain. Bagaikan paku yang pernah dihujam ke sebatang kayu, walaupun bisa dicopot kembali namun lubang itu akan masih tetap ada.

Sekarang kita lihat bagaimana EQ bekerja terhadap situasi seperti ini

“Hi, kenapa kamu terlihat sedih hari ini Ki?” sapa Intan begitu masuk ke kelas.

“Yah, aku cuman dapet nilai B dalam statistik” ujar Eki dengan nada lesu karena habis terciutkan oleh perkataan si Iko.

“Wow hebat donk, kamu ngulang lagi kan kemaren gara-gara dapet D. Bagus donk sekarang dapet B“, hibur Intan kepada Eki.

“Iya, tapi si Iko dapet A dan begitu aku cerita kepadanya….“

“Yaah… kamu tau sendiri kan si Iko orangnya gimana? Tak perlu risau, udahlah jangan kau masukkan ke dalam hati omongan dia. Aku tahu koq perjuangan kamu, kamu udah berusaha giat untuk mengejar nilai ini. Dan ingat tidak bahkan hampir setiap minggu kamu bertanya kepada orang tentang pelajaran ini yang gak kamu ngerti. Malah aku salut ngelihat mahasiswa kayak kamu Ki” ujar Intan membanggakan Eki.

Dan senyuman Eki mulai terlihat di bibirnya.

Begitulah EQ itu bekerja dan mampu memberikan kesuksesan dalam diri kita. EQ dan komunikasinya yang baik mampu memberikan apresiasi ke dalam diri sendiri dan orang lain seperti yang dilakukan Intan. Walau Intan sebenarnya juga tidak kalah pintarnya dalam pelajaran dibandingkan Iko, namun dia juga pintar memahami perasaan orang lain. EQ membantu kita menjadi seseorang yang sukses dalam bersosial dan berkehidupan.
Bagaimana IQ dan EQ tanpa SQ?

Kita sudah paham apa itu IQ dan EQ serta bagaimana keduanya apabila bekerja bersinergi. Namun apabila kedua kecerdasan tersebut tidak disinergikan dengan SQ maka akan berakibat fatal. SQ sendiri bukanlah untuk menjadi “ahli pertapa”, duduk termenung dan diam menikmati indahnya spiritualitas.

Seperti apa punya IQ dan EQ tanpa SQ?

Banyak orang cakap dan pintar di dunia ini, salah satunya adalah Hittler. Kita semua mengenal Hittler sebagai pemimpin yang handal. Mampu mempengaruhi sebagian belahan dunia untuk berada di dalam kekuasaannya. Perlu diketahui pula, hittler termasuk salah seorang pempimpin yang hebat dalam hal IQ dan EQ. Buktinya dia mampu dielu-elukan oleh para pengikutnya. Bahkan ada sebuah statemen yang berasal dari dia, “Seribu kebohongan akan menjadi satu kebenaran“.

Namun dibalik kejayaannya, dia mempunyai niatan yang buruk. Tujuan yang tidak mulia. Itulah gambaran cakap IQ dan EQ namun tanpa SQ, tidak menyadari makna/value dalam diri serta siapa dirinya dan untuk apa dirinya diciptakan.

Contoh lain adalah, Yakuza. Kita mengenal berbagai bentuk sindikat di dunia. Kalau di Itali ada namanya mafia, di Jepang dikenal dengan Yakuza. Sebuah sindikasi Yakuza terdiri dari orang-orang yang hebat dan solid. Mereka memiliki kemampuan berbisnis dan berorganisasi dengan cakap. Kultur mereka mempunyai semangat juang yang tinggi, loyalitas yang hebat, serta solidaritas yang kuat. Namun jeleknya tujuan mereka (pemaknaan/value) bukan pada tujuan yang mulia. Bahkan apabila mereka melakukan kesalahan yang mengakibatkan membahayakan temannya, mereka harus memotong jari mereka.

Bagaimana di Indonesia? Tentu saja di Indonesia terdapat banyak orang pintar dan cakap (dan saya sangat yakin itu). Tetapi banyak yang berakhlak dan bermoral buruk. Bagaimana dengan koruptor? Tentu saja menjadi seorang koruptor harus memiliki EQ dan IQ yang baik. Dia cerdas dan harus jago berstrategi. Jago bernegosiasi, berkomunikasi, dan mampu merebut hati orang untuk mau diajak berspekulasi dan berkompromi dengannya. Semangat juang tinggi? Tentu, mereka nampak selalu prima dan percaya diri. Namun akhlak dan moralnya? Masih bobrok. Itulah cakap IQ dan EQ namun tidak memiliki SQ.

Bahkan menurut sebuah penelitian, kunci terbesar seseorang adalah dalam EQ yang dijiwai dengan SQ. Banyak seseorang yang diPHK dari pekerjaannya bukan karena mereka tidak pintar, bukan karena mereka tidak pintar mengoperasikan sesuatu, bahkan bukan karena ketidak mampuannya berkomunikasi. Tetapi karena tidak memiliki integritas. Tidak jujur dan tidak bertanggung jawab.

Inilah gambaran bagaimana SQ masih belum bekerja di banyak sistem di bumi ini.
Apakah SQ benar sebagai kunci keberhasilan?

Menurut survey The Leadership Challenge yang dilakukan oleh James Mc Kouzes dan Barry Z. Postner, dalam peringkat karakter CEO yang berhasil, nomor satu adalah karakter jujur. Kita sendiri meng’iya’kan dalam diri kita apa yang kita dambakan dari seorang pemimpin? Pasti karakter jujur atau akhlak serta moral yang baik bukan? Hal seperti ini andaikan tidak terkontekskan dalam survey, tetapi moral dan akhlak menjadi anggukan universal, seluruh dunia mengakuinya. Begitu pula dengan Anda bukan?
Kesimpulan

IQ digambarkan sebagai “What I think?“, EQ “What I Feel”, dan SQ adalah kemampuan menjawab “Who I am“. Siapa saya? Dan untuk apa saya diciptakan. Tuhan Maha Adil, sebenarnya kita memiliki semua kecerdasan ini tetapi tidak pernah kita asah bahkan kita munculkan. Untuk menjadi seorang pribadi yang sukses kita harus mampu menggabungkan dan mensinergikan IQ, EQ, dan SQ. Ilmu tanpa hati adalah buta, sedangkan ilmu tanpa hati dan jiwa adalah hampa. Ilmu, hati, dan jiwa yang bersinergi itulah yang memberikan makna.

Mohon maaf apabila banyak kekurangan, apabila ada kesalahan mohon koreksi.
Referensi

* ESQ: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (Ary Ginanjar A.)
* ESQ Power: Sebuah Inner Journey melalui Al-Ihsan (Ary Ginanjar A.)
* Handbook of Workplace Spirituality and Organizational Performance (Robert A. Giacalone)
* The Living Organization: Spirituality in Workplace (Daniel Goleman)

dari motivasy.net
Read more ...

Dari Tukang Ledeng menjadi General Manajer


Suatu hari bos Mercedez Benz mempunyai masalah dengan kran air di rumahnya. Kran itu selalu bocor hingga dia khawatir anaknya terpeleset jatuh. Atas rekomendasi seorang temannya, Mr. Benz menelpon seorang tukang ledeng untuk memperbaiki kran miliknya. Perjanjian perbaikan ditentukan 2 hari kemudian karena si tukang ledeng rupanya cukup sibuk. Si tukang ledeng sama sekali tidak tahu bahwa si penelpon adalah bos pemilik perusahaan mobil terbesar di Jerman.

Satu hari setelah ditelpon Mr.Benz , pak tukang ledeng menghubungi Mr.Benz untuk menyampaikan terima kasih karena sudah bersedia menunggu satu hari lagi . Bos Mercy-pun kagum atas pelayanan dan cara berbicara pak tukang ledeng.
Pada hari yang telah disepakati , si tukang ledeng datang ke rumah Mr.Benz untuk memperbaiki kran yang bocor. Setelah kutak sana kutak sini, kranpun selesai diperbaiki dan pak tukang ledeng pulang setelah menerima pembayaran atas jasanya .

Sekitar 2 minggu setelah hari itu , si tukang ledeng menghubungi Mr.Benz untuk menanyakan apakah kran yang diperbaiki sudah benar-benar beres atau masih timbul masalah ? Mr. Benz berpikir pasti orang ini orang hebat walaupun cuma tukang ledeng. Mr. Benz menjawab di telepon bahwa kran dirumahnya sudah benar-benar beres dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan pak tukang ledeng.

Tahukah anda bahwa beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekrut si tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya ? Ya , namanya Christopher L. Jr . Saat ini beliau adalah General manager Customer Satisfaction and Public Relation di Mercedez Benz.

Jangan lupa dan aplikasikan dalam tingkah laku sehari hari: ”Selalu tambahkan keju dalam pelayanan anda walaupun itu tidak diminta“.

diambil dari motivasy.net
Read more ...

"Ayah dengarlah.."

"Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu...."


pertengkaran yang kerap terjadi..yang sebetulnya menyisakan air mata...
maafkan anakmu ini ayah..
aku hanya ingin jadi diri sendiri...
Itu saja..
satu hal yang perlu dipatrikan...I love you..forever...


Read more ...