Pages

Wednesday, October 02, 2013

LATAH



Saat sebuah video wawancara yang memuat adanya kesalahan penggunaan istilah rumit, mendadak semua orang memiliki guyonan segar untuk diperbincangkan. Disana-sini orang mengkritik kesalahkaprahan penggunaan bahasa tersebut yang sebenarnya itu juga kerap terjadi di sekitar kita. Begitu juga ketika perhelatan nona dunia hadir di negeri ini beberapa hari lalu, kita akan dengan mudah menjumpai berbagai wacana kontroversi. Mendadak juga hampir semua orang fasih mengusung tentang harga diri perempuan. Begitu pula ketika terjadi sebuah kecelakaan di sebuah jalan tol yang melibatkan seorang pengemudi muda dibawah umur, mendadak kita semua menjadi pakar pendidikan anak dan berlomba memberikan pendapatnya masing-masing. Media jejaring sosial ramai dengan segala opini dari berbagai macam sudut pandang. Diskusi-diskusi panjang tak berhujung pangkal muncul di berbagai forum. Tak ketinggalan broadcast yang dilakukan melalui telepon pintar. Semua seolah ingin berlomba menjadi bagian dari keriuhan tersebut.

Hidup di era dimana teknologi informasi memiliki pengaruh yang besar membuat kita takut untuk tidak turut mengerti dan berteriak tentang isu terbaru yang ada. Permasalahannya bukan masalah bahasa Vickynisasi itu benar atau salah, nona dunia itu patut ditolak atau tidak, atau tentang siapa paling bersalah dalam kecelakaan tersebut, bukan itu yang menjadi masalah besar. Namun apa sebenarnya yang membuat kita tergopoh-gopoh untuk turut serta dalam kehebohan tanpa memiliki pemahaman utuh. Ibarat orang baru belajar mengaji, ia akan sering sekali untuk menyuarakan apa yang ia kaji. Seperti euforia seorang aktivis yang akan bersemangat , berorasi , tentang apa yang baru didapatnya.

Reaksioner. Latah.  Memiliki definisi sebagai sebuah peniruan spontan yang muncul karena keterkejutan. Secara medis, latah memiliki dimensi gangguan fungsi pusat syaraf, psi-kologis, dan sosial. Ada empat macam latah yang bisa dilihat berdasarkan gejala-gejala tersebut, yaitu ekolalia (mengulangi perkataan orang lain), ekopraksia (meniru gerakan orang lain), koprolalia (mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu/kotor), automatic obedience (melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut). Berdasarkan fakta yang ada, gangguan latah biasanya tumbuh dalam masyarakat terbelakang yang menerapkan budaya otoriter. Hasil kajian yang dilakukan, mereka bersependapat untuk mengkelaskan latah sebagai satu sindrom budaya masyarakat setempat.

Latah sebagai sebuah budaya. Ya, jangan –jangan kita saat ini ada di era mudah latah. Semakin derasnya informasi membuat kita mudah terkejut. Bangun pagi, melihat berita kecelakaan anak artis kita terkejut, melihat berita perang kita terkejut. Apalagi ketika arus informasi ini tidak diimbangi oleh nalar untuk melakukan verifikasi. Lagi-lagi urusannya dengan media literasi alias melek media. Smartphone yang tidak digunakan dengan smart. Asal broadcast sana-sini, boro-boro mengecek kebenaran berita, asal heboh dan “sepertinya” benar, maka kita ingin menjadi bagian untuk menyebarkannya. Kecepatan mengalahkan keakuratan. Keterkejutan mengalahkan akal sehat. Teringat sebuah pesan kearifan dalam budaya luhur orang jawa : Ojo dumeh, Ojo gumunan , Ojo kagetan. Mungkin kita perlu belajar untuk itu, minimal untuk tidak kagetan
Read more ...

Perempuan Pejuang : Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa (sebuah resensi)



Sastra memungkinkan seseorang memiliki kelembutan dan kebijakan hati tak terbantahkan. Bekal yang berharga untuk dimiliki oleh seorang pemimpin. Itu mungkin kiranya yang membuat kita tak akan pernah heran menyimak kisah seorang Siti Aisyah Wa Tenriolle sang Datu dari Tenatte, Sulawesi Selatan. Kecerdasan literasinya telah berjasa dalam mengumpulkan naskah I La Galigo, sebuah epos yang didakwa sebagai epos terpanjang di dunia. Sungguh indah menyimak kisah kepemimpinan seorang wanita pecinta sastra, tentu mampu terlukiskan di benak kita betapa bijak dan dicintai rakyatnya.

Tak kalah indah juga dengan kisah sang Heldhafting  dari bumi serambi mekkah. Helfdafting adalah sebuah gelar yang bermakna Gagah Berani. Gelar tersebut memang sangat tepat sekali melekat pada seorang Pocut Meurah Intan, seorang wanita pemberani yang bersenjatakan rencong seorang diri untuk menghadapi para penjajah. Siapa pula orang yang tak terkagum-kagum pada aksinya yang sungguh berani.

Sama kiranya kagum yang tak terbendung saat menyimak kisah seorang  Rainha de Japara, senhora paderosa erica, Ratu dari Jepara. Julukan yang dilayangkan oleh Diego de Couto (penulis Portugis) kepada Ratu Kalinyamat. Tak berlebihan memang jika kita menyimak betapa luarbiasanya Ratu Kalinyamat saat menghidupkan kembali perekonomian  Jepara yang saat itu telah porak poranda akibat perang saudara.

Aisyah Wa Tenriolle, Pocut Meurah Intan, dan Ratu Kalinyamat adalah tiga diantara 17 tokoh yang termuat kisahnya dalam buku “Perempuan Pejuang”. Buku yang disusun oleh Widi Astuti ini menyuguhkan beberapa kisah heroik yang inspiratif dan menambah wawasan kita tentang sejarah Indonesia. Satu hal yang istimewa dalam buku ini, khusus mengangkat kisah para pejuang perempuan, yang kemudian ditasbihkan sebagai jejak perjuangan perempuan Islam Nusantara dari masa ke masa.

Buku setebal 143 halaman ini mengajak pembaca untuk mengingat kembali tentang peran penting para perempuan pejuang yang namanya kerap terabaikan. Seolah memberikan ingatan kepada kita akan sebuah adagium “negara yang besar adalah yang menghargai jasa para pahlawannya”. Tentu bukan menghargai dalam simbolitas belaka, namun bagaimana kita dapat menyelami kisah-kisah perjuangan para pahlawan yang penuh dengan pelajaran.  Apalagi buku ini juga memberikan cakrawala baru kepada kita pada tokoh-tokoh perempuan yang selama ini luput dari perhatian. Kita mungkin cukup jarang mendengar nama Pocut Meurah Intan, Rohana Kudus, Safiatudin, Tengku Fakinah, dan lain-lain. Mereka adalah nama-nama indah yang turut mengukir sejarah nusantara tercinta ini. Kehadiran buku ini cukup menambah khasanah baru khususnya bagi generasi muda yang fenomenanya kian hari makin kurang mengenal sejarah bangsanya sendiri.
Sebagai sedikit informasi, historiografi atau penulisan sejarah di Indonesia telah dimulai sejak lampau dengan adanya penulisan dalam bentuk naskah. Naskah-naskah tersebut kemudian kita kenal dengan babad, hikayat, kronik, tambo, dan lain-lain. Bentuk naskah tersebut merupakan historiografi tradisional yang lebih mengutamakan hikmah dibanding adanya kebenaran fakta. Berbeda dengan historiografi modrn yang sangat mementingkan fakta.

Pada perkembangannya, bentuk penulisan sejarah juga membutuhkan ide kemasan. Hal ini lebih kepada bagaimana pembaca dapat menikmati kisah sejarah itu dengan cara yang lebih nyaman. Maka muncul pula adanya genre fiksi sejarah pada karya-karya sastra. Adapun buku Perempuan Pejuang ini adalah kategori nonfiksi. Tentu saja ini berkonsekuensi pada keakuratan serta kedalaman uraian informasi yang termuat. Menjadi ganjalan sendiri ketika membaca kisah ketujuhbelas tokoh perempuan pejuang yang disajikan dalam bentuk lintasan saja.

Secara teknis, dalam buku ini kita akan menemuka tujuh belas profil singkat para perempuan pejuang yang telah dipilih oleh penulis. Pembaca mungkin tak perlu berekspektasi untuk mendapatkan informasi baru dalam buku ini, karena memang informasi yang diberikan pada buku ini masih bersifat sangat umum. Namun keberadaan buku ini memang sangat bermanfaat sebagai pengingat pada kita semua.

Akan sangat menarik misalnya penyampaian kisah atau profil para perempuan pejuang ini lebih mendalam. Ini yang memang menjadi salah satu titik tersulit dalam penulisan buku sejarah. Ketika kita akan menuliskan sejarah, satu hal yang tidak bisa dilepas adalah bahwa kita sedang menuliskan fakta yang pernah terjadi. Syarat penting dari penulisan kisah sejarah adalah adanya sumber informasi yang valid dan beragam. Buku sejarah tentunya bukan buku rangkuman dari berbagai buku sejarah yang sudah pernah ada sebelumnya. Ada kedekatan personal penulis dengan subyek atau obyek sejarah yang akan ditulisnya. Tak jarang kita mendengar sebuah buku sejarah ditulis membutuhkan waktu yang begitu panjang karena harus mengumpulkan data, wawancara, mengolah, analisa, dan sebagainya. Misalnya bahwa penulisan sejarah tak bisa terlepas dari berbagai sudut pendekatan, sosiologis, antropologis, psikologis, yang seharusnya memungkinkan penulis untuk mengangkat bagaimana kondisi budaya masyarakat di masing-masing wilayah mengenai pemimpin perempuan. Faktor budaya masyarakat bugis, jawa, melayu tentunya punya peran yang tak sedikit terhadap perjalanan para srikandi penjaga negeri tersebut. Harapannya, buku Perempuan Pejuang ini tidak hanya sampai pada titik “sudah terbit”, tapi ada khasanah baru yang dihadirkan untuk pembaca. Bukan pula sebagai “peluang” yang sangat prospektif untuk mengangkat tema gender yang katanya belum dilirik para penulis sejarah – seperti tercantum pada sebuah testimoni.

Hal teknis lain dalam pembacaan buku Perempuan Pejuang juga banyak yang perlu dikritisi. Seperti tata letak serta ilustrasi yang kurang kuat. Beberapa keterkaitan antar paragraf dalam satu kisah, kiranya jika ditata kembali akan menarik antusiasme pembacaan yang lebih kuat lagi. Lepas dari itu semua, salut atas terbitnya buku Perempuan Pejuang ini. Sebagai sebuah bagian dari ensiklopedi sejarah, kita perlu menyangjungkan terimakasih atas inisiatif penulis menghadirkan buku ini. Sebagai buku sejarah, semoga ini menjadi awalan yang dapat memacu semangat mencintai dan mempelajari penulisan sejarah. Pada akhirnya, jika hidup adalah rangkaian kisah, salah satu cara memaknainya adalah dengan menghargai sejarah. Tabik. J
Judul buku          : Perempuan Pejuang, Jejak Perjuangan Perempuan Islam Nusantara dari Masa ke Masa
Penulis                 : Widi Astuti
Penerbit              : Konstanta Publishing House
Tahun Terbit      : Agustus 2013
Tebal buku          : XV + 143 halaman.


Read more ...

[ Mimpi yang Terjaring di dusung Rinjing ]

Deras sungai memberhentikan perjalanan di sepertiga akhir siang kala itu. Meski ada jembatan bambu yang masih mampu menopang kendaraan motor , kami memilih jalan setapak untuk sejenak menengok sisi bukit yang lain. Gerakan turbin sesekali menjadi musik pengiring perjalanan, dan dari sanalah kami tahu itu adalah sumber pelita  yang telah memercikan peradaban kepada warga. Hanya sekitar dua puluh kepala keluarga, warga asli setempat, yang bertahan di tanah perbukitan tersebut. Aliran listrik belum sampai di dusun ini. Mereka mengusahakan sendiri untuk dapat menerangi rumah masing-masing. Sekedar untuk menambah semangat anak-anak mereka belajar di rumah  setelah berjalan jauh berkilo-kilometer ke sekolah. Mereka tetap ingin anak-anak menjadi pintar, supaya dapat membangun dusun mereka yang redup redam.  Itulah sepotong kisah dari dusun Rinjing, Gununglurah, Cilongok.

Rinjing adalah salah satu titik disitribusi dari salah satu lokasi penyembelihan Kampung Qurban yang mencakup beberapa desa lain diantaranya :  Karanggondang, Sambirata dan Pesawahan, Gununglurah.  Tentu bukan sekedar keratan daging Qurban yang disampaikan nantinya di KAMPUNG QURBAN. Ini bukan sekedar urusan seekor domba Qurban, ini adalah bukti cinta dan ketaqwaan kita pada sesama. Agar asa itu tetap menyala, agar mimpi itu tetap dapat bersemi, agar senyum itu mengulumkan pesan bahwa Islam adalah rahmat untuk semua orang, tak ada yang terabaikan. Semoga.


Read more ...
Wednesday, August 21, 2013

Ego yang Terlerai di Kaldera Ceremai

#catatanPendakian

"...sembunyi diriku dalam pelukan alam, hindari semua kenyataan. Menggigil tubuhku sadari alam. Disini ku kecil dan tak berarti..."  (Slank)

Elf  biru  itu akhirnya menghentikan lajunya. Mang Yayan, begitu nama sang sopir yang telah mengantarkan kami menuju Palutungan. Kemudian bersama sang kenek, kami menurunkan carrier yang tersusun tinggi di atap mobil. Setelah semua berhasil diturunkan, Mang Yayan pun bertanya : “kapan akan pulang? nanti sms saja, biar dijemput”.  Sementara Rifki —pimpinan rombongan-- menjawab dan bertukar nomor kontak dengan sang sopir, saya membatin mengulang pertanyaan Mang Yayan. Ya, kapan akan pulang? ah, bukan, tapi apa memang bisa pulang? Bahkan perjalanan ini baru saja dimulai, tantangan masih mengawang. Ternyata memang semua perjalanan itu adalah untuk mencari jalan pulang.

Maka jika di hari Sabtu, sehari setelah peringatan kemerdekaan RI kemarin, kami bersembilan berkata akan melakukan pendakian, sebenarnya bukan puncak gunung yang dituju, tetapi pelajaran apa yang bisa dibawa pulang --kalau memang bisa pulang--. Maksudnya, bisa saja kami terpesona di lembah Edelweiss, hingga lupa jalan pulang. Itu refleksi kehidupan juga kan?

Kenapa jadi berfilasafat ria ya? hehe. Baiklah, singkat cerita, di sepertiga terakhir jeda liburan lebaran yang saya miliki, sudah terjadwalkan akan melakukan pendakian ke Gunung Ceremai. Entah apa yang dalam pikiran saya ketika mengiyakan saja ajakan teman-teman untuk muncak. Saya memang menyukai kegiatan para “samirono” atau petualang atau bahasa kerennya “traveler”. Menyukai kegiatan di alam bebas, tapi untuk benar-benar sebuah pendakian, ini adalah kali pertama. Beberapa teman ada yang berkomentar,“pendakian pertama langsung ke Ceremai?”  atau ada yang bilang “Shin, ceremai itu trek nya susah.., pikir-pikir lagi aja!”.  Entah kenapa sms dan pesan whatsapp dari teman-teman itu baru sempat saya baca ketika sudah di pos 1 pendakian.hehe. Jadi, saya pikir, Allah sengaja memberikan kesempatan pada saya untuk melakukan pendakian ini dengan maksud supaya mengambil banyak pelajaran.

Sebagai informasi, Ceremai adalah Gunung Tertinggi di provinsi Jawa Barat (3078 MDPL). Masih lebih rendah dibanding Gunung Slamet, tentu saja. Namun Gunung Ceremai merupakan salah satu gunung yang memiliki trek yang susah untuk dilalui. Curam, terjal, dan sumber air yang minim. Ada tiga jalur pendakian yang biasa dilalui oleh para pendaki, yaitu : Apuy, Palutungan, dan Linggarjati. Untuk informasi lebih lengkapnya, bisa googlingsaja ya.

Saya dan delapan teman yang lain mengambil jalur Palutungan. Setelah melapor pada petugas di pos, kemudian kami berkemas di masjid terdekat. Di jelang Ashar, kami pun memulai perjalanan. Menelusuri perkampungan dan hamparan sawah. Pos 1 pun terlewati, dan kami menuju pos 2 di Cigowong. Pos ini adalah satu-satunya pos yang memiliki sumber air di jalur Palutungan. Menurut info dari Rifki juga, pos Cigowong adalah pos yang jaraknya terjauh dibanding jarak antar pos yang lain. Entahlah, saya tak memahami seluk-beluk pendakian ini. Disinilah saya benar-benar melakukan perjalanan jiwa, perjalanan hati. Ya, disinilah perjalanan itu bermula.

Selama perjalanan menuju Cigowong, saya mengalami shock. Kebetulan kami juga lupa melakukan pemanasan, jadi bagi saya yang memang intensitas olahraga-nya cukup minim sangat berpengaruh. Walhasil, dada sesak dan kepala pusing tak tertolak menyerang. Saya menahannya. Bukan, bukan sakit fisik yang saya rasakan. Justru saat itu saya merasakan lintasan-lintasan pikiran yang menusuk-nusuk otak.

Selama perjalanan itu, saya benar-benar  merasa tertohok. Saya serasa didera pertanyaan atas kejujuran hati, apa tujuan perjalanan ini sebenarnya. Jujur, hingga pada perjalanan menuju Palutungan, yang menguasai pikiran saya masih sebatas ego pribadi. Saya hanya ingin mencari kepuasan diri dengan mendaki gunung. Saya berfikir, masa muda yang sedang dilewati ini harus diisi berbagai hal yang penuh sensasi. Saya sudah pernah melakukan banyak hal, ngebolang di dalam dan luar negeri (walaupun belum banyak), menjalani masa studi, mengikuti banyak kompetisi, memiliki eksistensi di berbagai komunitas, entah itu bidang akademik, seni budaya, agama, dan lain-lain, tinggal beberapa “misi” yang belum dicapai salah satunya adalah naik gunung. Jadi, pendakian ini hanyalah pemuas ambisi dan mimpi saya saja. Goblok banget kan? emang!

Selama perjalanan, pikiran saya berkecamuk. Saya merasa selama ini sudah mengalami banyak hal dalam hidup. Menjalani berbagai problematika. Dari mulai masalah ecek-eceksampai masalah dramatik, dari mulai di keluarga hingga pekerjaan hingga yang berhubungan dengan khalayak. Entah itu karena saya orang yang sanguinis melankolis, atau memang saya dipilih Tuhan untuk menghadapi problematika yang ada. Beberapa orang yang saya percaya, mungkin tahu persis apa yang saya maksud. Namun segala perjalanan hidup itu, membuat saya merasa terkuatkan. Menempa diri menjadi pribadi yang keras. Ini bukan kata saya, tapi testimoni orang lain. Saya kemudian tumbuh menjadi orang yang merasa sanggup melakukan banyak hal sendiri. Mendedikasikan diri sebagai pelayan yang harus selalu siap melayani orang lain. Kemana-mana sendiri. Kehilangan, diabaikan, itu sudah bukan hal yang terlalu menakutkan. Saya merasa kuat.., tapi itu salah besar! Itu dibuktikan pada pendakian kemarin.

Nyatanya, saya memang tak bisa menghindari sesak di dada saat kekurangan oksigen. Nyatanya, saya tak dapat menghalangi mual dan pusing yang melanda. Nyatanya, langkah kaki saya punya batas lemah. Kebetulan saya pernah mengalami gangguan pernafasan, alergi pada suhu yang dingin. Kalau dingin, biasanya langsung bereaksi dengan meler kemudian sesak dan nyeri di dada kiri.  Meski sudah berolahraga, nyatanya di perjalanan kemarin saya terbukti lemah! Saya tahan saja. Diam-diam saya khawatir dan berpikir bagaimana jika ada salah satu teman nantinya berkata : “kita batalkan saja ya perjalanannya”. Tidak, saya tidak mau itu terjadi. Jika memang saya harus mati di leher gunung, itu sudah jalan “pulang” saya toh?!  Akhirnya saya tahan semua itu. Oya, kebetulan waktu itu saya juga sedang datang bulan, jadi ada pengaruh ke fisik dan emosi juga. Tapi sebenarnya tidak masalah kok kalau cewek sedang berhalangan kemudian ingin melakukan pendakian.

Kemudian tiba di pos Cigowong, sebuah percakapan diantara tim membuat saya sangat lega. Ari, sang komandan berkata : “ingat, puncak itu hanya bonus saja”. Si jambul ini memang anggota tim yang paling bijak menurutku. Diam-diam saya curiga, sebenarnya dia itu kakek-kakek tapi terperangkap dalam tubuh seorang anak muda. Seperti di film Benjamin Buttons. hehehe. Obrolan itu seperti pelajaran pertama yang saya dapatkan dari perjalanan ini. Bahwa, orientasi tiap perjalanan kita bukanlah hasil, tapi proses. Puncak hanyalah bonus, bukan target/ klimaks pencapaian, bukan kehebatan atau kebanggaan, tapi puncak gunung adalah proses kita menaklukan diri, emosi, ego pribadi, menyadari kekerdilan diri sebagai hambaNya. Ini filosofi kehidupan yang benar-benar menyentuh. Apapun yang sedang kita usahakan, hasil adalah bonus saja, yang terpenting adalah bagaimana cara kita memilih jalan untuk mengarunginya.

Singkat cerita, kami berhasil melewati Sembilan pos dengan sensasinya masing-masing. Ada Tanjakan Asoy yang memang geboy. Tanjakan dengan banyak akar dan bebatuan, bersisian jurang, hampir tak menyisakan kesempatan tubuh untuk berdiri dengan tegak. Nanjak terus sampai atas. Mantap luar biasa! Ada pos Arban yang terkenal mistisnya, ada pos Gowa Walet yang angkuh berdiri dalam dinginnya yang menusuk, dan pos-pos yang lain.

Akhirnya, pada hari Minggu di separuh senja terakhir, kami berkesempatan untuk mendapatkan “bonus” itu. Kami menjejak puncak Ceremai, berkesempatan menyaksikan Kaldera, bibir kawah yang mempesona. Ketika kaki kananku menjejak dan menegakkan tubuh serta menatap kawah, tak ada kata lain yang mampu terucap : Allahu Akbar, walilllahilhamd. Aku tak percaya dapat menjejak puncak. Ini semua hanya karena kuasa Allah yang ingin memberikan satu pelajaran untukku. Bukan karena ku kuat, bukan karena ku mampu, tapi karena Allah berkehendak.

Selama lebih dari setengah jam kami menikmati kawah dan landscape yang tak terlukiskan indahnya. Melihat puncak Gunung Slamet dari kejauhan. Melihat hamparan Edelweis yang sungguh romantis. Kemudian sekedar untuk dokumentasi, kami pun mencoba membekukan beberapa moment dengan media kamera.

Senja pun melarut. Aroma belerang sudah mulai kuat terasa, kami pun bersiap turun kembali. Oya, ketika akan muncak, kami hanya membawa satu carrier dan satu daypack. Sedangkan barang-barang yang lain kami tinggal di camp Goa Walet. Dari Goa Walet ke puncak sudah dekat, kurang dari satu jam perjalanan. Tapi, jangan tanya medan terjalnya. Sepanjang mata memandang hanya ada batuan dan debu beterbangan. Serta tingkat kecuramannya semakin tinggi, untuk orang-orang yang terbiasa olahraga wall climbingsepertinya justru terasa menarik.

Akhirnya kami berjalan turun, diiringi langit yang mulai memerah. Saya dipersilakan menunggu di persimpangan menuju Goa Walet, tak perlu ikut packing. Karena untuk turun dan naik lagi, jalurnya juga cukup terjal. Toh cuma mau packing.

Saya pun duduk sendiri, menyaksikan langit yang mulai merah, rembulan yang perlahan muncul dengan cantiknya, dikelilingi hamparan Edelweis yang merayu mata. Puisi mana yang tak akan hadir di suasana seperti itu, hah??!

Maka, ditemani seekor burung liar berparuh kuning yang loncat menjinak di dekatku, beberapa untai kata kurangkai. Tapi sebenarnya bukan merangkai, saya hanya mengeluarkan apa yang saya lihat. Ada keMahaHebat-an Allah yang saya saksikan di semburat merah membalur langit, ada kelembutanNya di lipatan desir angin yang mengayun-ayunkan batang Edelweis. Bahkan memandanginya saja sudah cukup membuatku tenang dan nyaman. Tiap kuntum bunga gunung itu seperti mengerlingkan rindu yang teramat syahdu. Akhirnya, tanpa tersadar air mata pun membasahi pelupuk mata. Saya nangis lagi!!! cengeng yak?!hehe. Saya betul-betul menikmati suasana senja itu. Baru tersadar ketika ada dua orang pendaki rombongan dari UI yang kebingungan mencari jalan turun ke Goa Walet.

Kemudian tak lama, teman-teman lain berdatangan, dan kami pun memulai perjalanan turun. Dalam syahdunya malam, disinari lembutnya rembulan, kami pun berjalan perlahan meniti turunan terjal. Beberapa kali harus terjerembab, saat rembulan bersembunyi di temaramnya langit malam. Aku ada di urutan kedua dari barisan Sembilan orang itu. Di depanku ada si Agus, ia kujuluki sebagai “penerang jalanku”. Di malam sebelumnya, Agus juga lah yang ada di depanku dengan headlamp. Dia sangat menolong perjalananku. Entah karena Agus yang sigap atau bagaimana, aku bisa berjalan lebih cepat ketika malam hari saat di belakangnya. Aku percaya pada petunjuk yang Agus berikan serta tangannya yang selalu sigap membantu menaiki tumpukan batu atau akar. Di malam sebelumnya, aku nyaris tersesat karena pandanganku yang kabur. Nyaris tersesat karena susah membedakan silaunya sinar kunang-kunang atau sinar headlamp. Dan satu lagi, Agus nggak berani kentut saat di depanku, tapi giliran di depan yang lain, ia kentut berkali-kali..hahahaha.

Kami memutuskan nge-camp semalam lagi. Perjalanan ini memang disetting santai. Tiap usai ngecamp¸kami baru memulai jalan setelah jam 9 pagi. Maklum, anak-anak kategori bangsawan alias bangsa tangi awan (kelompok bangun siang). Itupun setelah bangun dan sholat, ada “ritual” bermusik, buang hajat, nyanyi-nyanyi, foto-foto, masak, dan lain-lain. Seru sih. Aku bisa kenal sama delapan orang gila tapi hebat ini. Mereka seperti tak pernah kehabisan akal untuk melahirkan lelucon-lelucon cerdas. Dua diantara mereka adalah “santri” tapi santri gila. Jadi jangan heran kalau kadang ada plesetan-plesetan gokil, kayak :“ Muhammad gua ya Muhammad gua, Muhammad diyeh ya Muhammaddiyeh.., “ atau mengeluarkan dalil-dalil ngawur yang kalau saya tuliskan disini nanti jadi salah paham, mending dengerin aja langsung.

Di camp ini, kami termasuknya “rempong”. Berbagai macam menu kami masak, ada nasi goreng magelangan, sarden, mie rebus plus sayur, tempe goreng bumbu racik sampe bikinNutri Jell dengan berbagai macam campuran. Pokoknya rempong deh. Saya sih asik-asik aja, lha saya doyan urusan yang gituan. hehe. Untuk nyiap-nyiapin nesting , kompor, potong-potong sayur dan lauk saja sudah makan waktu, belum packing-packing nya, kalau makan sih bisa cepet banget, karena harus sepiring bertiga. Makanya perjalanan kami ini terbilang santai. Toh dari awal, tujuan kami bukan puncak, tapi menikmati perjalanan. Itu fatwa dari ustadz Ari Jambul..hehe.

Perjalanan pulang cukup menyenangkan. Saya terprovokasi untuk berlari menuruni jalanan terjal dan curam tersebut. Meski tidak segesit teman-teman yang lain, saya sangat menikmati. Berlari turun melintasi Tanjakan Asoy dengan berteriak dan tertawa lepas, aaaaah.., menentramkan sekali. Beberapa kali saya terjatuh, berdebam, tersandung akar atau pohon yang melintang. Tapi saya tetap tertawa lepas, menikmati udara segar dan jalanan yang menggoda. Disitu ada pelajaran kehidupan lagi, bahwa kita harus yakin pada pijakan yang kita lakukan. Kalau tidak yakin, justru akan membuat hilang keseimbangan. Jangan terlalu banyak menahan, itu hanya akan membuat sakit dan nyeri di otot kaki. Oya, satu hal lagi, jangan terlalu banyak berhenti, kalau lelah tetaplah bergerak tapi perlahan. Kalau terlalu banyak berhenti, kita hanya akan menambah tingkat kelelahan. Ini filosofi kehidupan juga. Jangan terlalu banyak menunda, jalani dan hadapi saja. Jika mulai lelah, berjalanlah perlahan, tapi jangan pernah berhenti kecuali mati!.

Di jelang pos Cigowong, daya tahan kaki saya melemah, akhirnya berjalan perlahan. Saya mempersilakan beberapa teman berjalan terlebih dahulu, tidak apa-apa. Tapi beberapa teman justru ingin tetap di belakang. Perjalanan kami ditingkahi dengan banyak dialog yang mencerahkan. Makasih banget ya Ari, Idrus, dan Deni.. hehehe. Obrolan selama perjalanan di jelang Cigowong kemarin, itu rahasia lho..hehe. Kecuali yang akhirnya Ari ungkap dibriefing sebelum pulang di Cirebon itu.. ^_^

Seusai makan siang dan menghabiskan perbekalan logistik di Cigowong, maka tinggal dua pos terakhir sebelum pulang. Akhirnya, saya menghubungi Mang Yayan untuk menjemput kami di Palutungan. Ketika Ari dan Rifki becanda bilang : “selamat yaaaaa sudah dapat NAPL…”, saya hanya nyengir dan bilang : “dih, nyebelin banget!”.

Ya Allah, terimakasih telah memberikan saya “keluarga” baru selama pendakian kemarin. Mereka para lelaki hebat lahir batin.

Terimakasih Puncak Ceremai, Goa Walet, Tanjakan Asoy, Cigowong, dan lain-lain. Terimakasih, Indonesiaku tercinta. Terimakasih Gusti Allah atas kesempatan ini.

Kalau ditanya “kapok nggak naek gunung?” saya akan tegas menjawab  “ tidak kapok… saya mau melakukannya lagi, lagi, dan lagi!!!”. Ceremai telah membuatku jatuh cinta, Ceremai telah membuat egoku terlerai..




Selasa, 20 Agustus 2013 , mengistirahatkan badan, sambil nanti mau berziarah ke pusara ayah sebelum kembali ke Purwokerto. Saya siap beraktivitas kembali, dengan semangat baru… hiyaaaajiiiiaaaaaaar bleeh!  

note : foto-fotonya nanti biar di-upload sama teman-teman di fanspage atau group  FPL dan HMI Purwokerto . Saya type orang yang malas menunggu proses upload foto di pesbuk. Nanti insya Allah dipost di blog atau akun flickr saja. :)
Read more ...
Thursday, August 15, 2013

Rumah Itu Kusebut Pelangi

“ im coming home..
im coming home..
tell the world that im coming home…
Let the rain wash away all the pain of yesterday…  “  ( J. Cole)



G         : lo masih inget nggak sih ta, dulu tiap malem lebaran kita jalan dan maen petasan?
S          : iyaa…, nyalain macem-macem petasan kan? dari mulai mercon tetes sampe kupu-kupu, dipasang di pohon cemara dan jadi terang banget. Trus kita bikin bedug-bedug kecil pakekaleng trus takbiran keliling dan dimarahin sama imam di mushola kan?
G         : iyaa.., trus dulu tuh udah kayak kejadwal, kalo lebaran gw yang balik, nah kalo liburan sekolah lo pada yang gentian ke Jakarta. Iya kan?


Cuplikan obrolan di beberapa hari lalu antara aku dan sepupuku itu cukup mengiang. Obrolan di tepi pantai sambil menikmati kupat glabed dan sate blengong. Cukup menyita waktu lama, ngobrol ngalor ngidul. Mumpung kumpul dan ketemu sebelum nantinya kembali ke kesibukan masing-masing. Obral-obrolnya cuma bisa termediakan twitter, whatsapp, dan sejenisnya.

Sebuah hal yang sangat harus disyukuri, bahwa tradisi berkumpul ini masih terjaga hingga sekarang. Tentu saja ada yang hilang dan ada pula yang baru datang. Tiap sudut rumah mbah itu mungkin sudah merekam banyak sekali kisah diantara kami. Sejak papa mama kami masih remaja, hingga kemudian merantau dan memiliki keluarga masing-masing, hingga hadirlah kami, adik-adik kami, cucu-cucu mbah. Hingga juga mbah kini sudah lama meninggalkan kami. Masih teringat urut-urutan baris dan nangis untuk sungkem ke mbah. Masih teringat semua tawa dan tangis yang pernah hadir di rumah itu. Tiap idul fitri rumah itu akan lebih ramah dari biasanya, dan juga ketika ada anggota keluarga yang berpulang maka juga menjadi ramai.

Maka, menurutku sebuah hal yang sangat disyukuri bahwa saat ini dengan segala yang pernah hilang dan juga datang, kita semua masih bisa berkumpul bersama. Masih heboh-hebohan buat nongkrong, karaoke-an, mantai, ngeguci, dan lain-lain. Biasanya beberapa tradisi yang dilakukan saat ngumpul bareng tuh : berenang, makan bakso, bakar-bakar  seafood. Kita pergi bareng dengan segala enak dan nggak enaknya. Dijalanin terus sampe sekarang meski kita tahu beberapa hal yang kadang nyebelin. Entah masalah ngumpul yang nggak tepat waktu, atau keputusan “sesepuh” yang geje-geje, atau sesepuh yang pelit, trus kita ngegrundel di belakang…hahaha. Itu semua selalu ada tapi kita jalanin aja, enjoy aja. Kita sangat menikmati tiap-tiap waktu berkualitas itu. Kita juga bisa ngejalanin itu di luar bareng teman-teman kita sendiri, tapi tentu saja ada sensasi yang beda untuk ngelakuin hal yang sama bareng-bareng keluarga. Yeah, kayak makan ikan bakar di garasi bareng-bareng, paling cuma makan gitu doang, tapi sensasi nyari ikan di TPI, ber amis-amis ria, bakar-bakaran, sampe melahapnya habis, itu semua jadi prosa terindah yang pernah kita punya, bukan?

Ya, tentu saja ada yang terasa hilang. Kini nggak ada kata-kata “pakra ora” yang khas dari papa kalo mengomentari ponakan-ponakannya, nggak ada tarian salsa atau waltz dari pakdhe Uki, nggak ada gaya komentar khas dari pakdhe Udin, nggak ada lagi sosok seru kayak mas Nono yang rajin bawa kita jalan-jalan. Kita  juga mungkin merasa rindu dengan beberapa kerabat yang kini karena satu dan lain hal sudah jarang pulang. Tapi, ada yang hilang ada juga yang datang. Entah sudah berapa ponakan yang kupunya kini. Sudah banyak yang memanggilku tante. Kini ada  dhe’ Asma, yang digendong siapapun pasti diem aja, nurut. Kini ada mbak Riri dengan segala kehebohannya, dan kemarin kita sudah mendapat anggota keluarga baru, si cowok ganteng yang lahir di Batam. Ada ayes dan kakak-kakaknya juga yang super heboh tapi kemarin belum bisa pulang. Dan juga mungkin besok atau besok-besoknya lagi, ada anggota-anggota baru lagi di keluarga kita. Para lajang yang kemaren masih nongkrong-nongkrong di lesehan, tahun depan mungkin sudah membawa pasangan masing-masing. Besok-besok , generasi keempat dan kelima dari mbah Djahri yang akan terus meramaikan rumah tua itu.

Rumah yang mungkin sudah banyak memberikan terang dan hujan, hingga lahirlah pelangi. Ya, aku menyebutnya pelangi. Betapa berwarnanya ketika semua berkumpul disana. Ada yang super cerewet ada yang super pendiam. Ada yang alim banget sampe kelewat ekstrem, ada juga yang “ free man” banget. Ada yang orang kantoran , ada yang orang lapangan. Ada yang fasih ngomongin kedokteran, ada juga yang lagi jadi caleg (ingat, pilih nomor 5 ya!!!hahahaha). Ada yang super dermawan suka nraktir sana-sini, ada juga yang pelit banget sampe-sampe harga villa yang udah murah masih ditawar lagi… *hadeeeeh*. Ada yang belum pernah pacaran ada juga yang koleksi mantan-nya seabrek-abrek… *hahahay*.  Kita ada di berbagai macam selera music, dari yang alay sampai yang nostalgia. Kita ada di berbagai macam gaya, dari yang timur tengah sampai yang harajuku. Kita ada di berbagai macam suku bangsa dan bahasa. Kita ada di berbagai macam profesi dan disiplin ilmu. Kita ada di berbagai pola pikir. Kita juga ada di berbagai kelas sosial ekonomi masing-masing. Kita ada di berbagai lini warna yang menyatu indah seperti pelangi.

Pelangi inilah yang mengajariku untuk belajar menghargai perbedaan. Masih ingat kata-kata budhe yang bilang gini : “ mbah itu orang yang sangat bijak, beliau orang yang sangat kuat prinsipnya tapi tetap bisa toleran, itu yang mbah selalu ajarkan saat putrid sulungnya bersekolah di sekolah katholik di Semarang dulu…” . Seru mendengar cerita budhe tentang Soegijapranata, tentang gereja-gereja kampung, atau cerita budhe yang lain yang tak kalah seru.

Dan liburan idul fitri kali ini kembali menyadarkanku tentang indahnya pelangi ini. Terimakasih Tuhan, memberikan sebuah tempat kembali yang sungguh luar biasa. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, ada saling penghargaan dan kasih sayang. Sunguh saya tidak yakin kalau kami bukan keluarga apakah bisa berkumpul dengan seguyub itu.

Semoga semua dapat kembali dikumpulkan di surgaNya, kelak. Doa dan cinta terdalam kami untuk mas, om, pakdhe, mbah, budhe, mbak, yang sudah mendahului ke alam baka. Semoga selalu terang dan lapanglah peraduan disana. Selamat datang juga untuk anggota-anggota keluarga baru, untuk dhe Ayes, dhe Ai dan adhe nya yang baru, untuk dhe asma, mbak illa, mbak riri, dan semua saja calon-calon istri atau calon-calon suami yang ada di hati  “the Lajangers” yang siapa orangnya juga belum tau pastinya… Yang penting doa, usaha, dan yakin sama JOHAN…. (jodoh di tangan Tuhan)… #eeeeaaaaaa … :p

Segitu dulu, yang mau copy foto-foto bisa kerumah, nanti sebagian ada yang diupload tapi nunggu turun gunung dulu.. :D . Sengaja nanti kita upload untuk bikin mupeng yang pada nggak bisa pulang.. J. Semoga peluk sayang Allah selalu meng-erati hati kita masing-masing. aamiin.

15 Agustus 2013 , sambil menunggu keberangkatan ke Indramayu, disambung ke Kuningan, dan ber tujuh belas agustus di puncak Ceremai, insya Allah. 
Read more ...
Thursday, July 25, 2013

Ikhtiar Melunasi Janji



Adzan Isya sudah mulai bersahutan saat kami memasuki salah satu tempat makan yang berlokasi di daerah Gor Satria. Kupilih tempat ini karena tersedia menu alternatif untuk tidak makan nasi. Kemudian sembari menunggu menu kami diantar, perbincangan pun terus mengalir. Tiba-tiba, adikku yang paling bungsu itu, mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tas. Nampaknya ia sudah ingin sekali menunjukan bungkusan tersebut. Ternyata isinya adalah sebuah “jas karung goni” alias jas almamater salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Ecieeee…yang sudah resmi jadi mahasiswa, begitu ledekku. Pssst…, jas almamaternya lebih bagus dari kampusku dulu, unsoed..hahaha.

Dalam ruang benakku, kehadiran jas almamater itu seolah menyeret sebuah lintasan peristiwa di beberapa bulan terakhir ini. Sembari menemaniku adikku berbuka puasa, dan mendengar segala celotehnya, alam pikiranku bermain-main dengan beberapa kenangan.

Sudah menjadi komitmenku sepeninggal almarhum ayah, untuk mengawal bagaimana proses tumbuh kembang kedua adikku yang saat itu masih sangat remaja. Sebuah sayatan hati yang tak akan pernah hilang memori malam itu di rumah sakit. Peluk tangis dari adik-adik yang membasahi bahuku, sampai detik ini masih terasa basah. Kuyup hingga ke hati. Semua pesan tentang mereka yang disampaikan kepadaku di enam bulan jelang kepergiannya, malam itu seolah menggema hingga saat ini. Persis keesokan harinya adalah pengumuman kelulusan si adik dari sekolah menengah pertama.

Mulai saat itulah, saya berusaha memposisikan diri untuk menjadi pengawal mereka dalam bertumbuh kembang termasuk dalam pendidikan mereka. Agenda-agenda seperti masuk sekolah baru, terima raport, ujian akhir, dan sejenisnya, saya sempatkan hadir. Bahkan untuk pementasan teater dimana si bungsu jadi pemeran utama, saya sempatkan pulang untuk memberikan apresiasi.

Ketika adik perempuanku lepas SMA, kucoba semaksimal mungkin untuk mendampingi berbagai ikhtiar masuk perguruan tinggi. Kini ia menjadi salah satu mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota kelahiran. Ambil jurusan yang disenanginya, pendidikan matematika. Semoga berkah.

Ya, doaku hanya ingin ikhtiar kami ini diberkahi. Bukan untuk mencapai hal-hal yang muluk. Bukan untuk mendapat prestise bersekolah di PTN terkenal. Kami memohonkan keberkahan saja, itu sudah sangat menenangkan.

Dan kini juga tanpa terasa si bungsu yang baru genap 17 tahun sudah berstatus menjadi mahasiswa (baru). Seperti ada rasa plong yang tak terkira. Seperti mimpi saja bahwa si bungsu yang dulunya saya jemput saat pulang TK, kemarin saya antar ke UGM.

FYI, adik-adik saya ini sangat berbeda dengan kakak perempuannya ini. Mereka termasuk “anak rumahan” yang jarang pergi jauh. Maka ketika harus pergi keluar kota, bisa terbayang kan bagaimana “nervous”nya. Ibu juga merasa khawatir karena anak bungsunya itu memang  tak pernah pergi jauh. Untuk adik perempuan, mungkin saya bela-belain jemput di Tegal kemudian saya antar lagi ke purwokerto dan diantar pulang lagi ke Tegal. Tapi untuk si bungsu laki-laki, saya agak melepas. Sekedar untuk melatih mental-nya.

Sampai akhirnya test masuk ia memilih UGM. Itu sebenarnya sepenuhnya saranku. Tapi aku tidak memaksakan dengan pilihan jurusan yang akan diambil. Toh kami juga sudah sepakat bahwa UGM lebih bagus daripada Unsoed.hahaha. Maksudnya begini, saya memilihkan tempat belajar untuk adik saya bukan karena unsur favorit atau prestise segala macam. Saya mencarikan tempat yang lingkungannya punya budaya belajar, bukan budaya mencari nilai, bukan budaya bersaing. Unsoed juga bagus, tapi budaya belajarnya kurang, tradisi riset dan keilmuannya masih sangat kering. Kalaupun banyak penelitian yang dapat dana hibah, maaf saya masih melihat motivasinya masih sekedar motivasi proyek. Jadi, bukan urusan kampus ini lebih keren daripada yang lain. Bukan itu. Tapi lingkungan kota Yogyakarta secara umum memiliki atmosfer yang menyenangkan untuk belajar banyak hal. Saya rasa, semua sepakat atas hal ini. Kalau ada yang bilang saya modus biar bisa sering ke jogja, waah..itu pitnah!hehe. Dari dulu saya juga sudah pingkopangkaping sering ke jogja, meski sekedar untuk mencari buku atau nonton pameran.

Sebenarnya adik saya sangat berkeinginan untuk masuk jurusan akuntansi. Tapi belum rejekinya. Daftar di Simak UI  juga pilih akuntansi dan sosiologi, tapi belum lolos. Rejekinya memang di sosiologi UGM. Karena pengalaman mengawal adik perempuan saya di tahun sebelumnya, saya berusaha mengambil semua peluang test supaya kesempatan masuk PTN jadi lebih luas. Selain ikut SBMPTN dan SIMAK, adik saya juga ikut test STAN dan juga saya berniat mengikutsertakan dia di test UM UGM. Pokoknya semua cara biar bisa masuk UGM deh. Etapi, ndilalahnya, pas batas akhir pendaftaran UM, dompet saya seret, ATM juga lupa belum ngurus (udah lama banget lupa pin dan keblokir), pas hari sabtu pula dan lagi di luar kota. Padahal itu baru beberapa hari gajian, tapi karena pengeluaran lagi banyak banyaknya, langsung bokek sebokek-bokeknya. Dengan manyampaikan maaf ke adik saya bilang : “ que sera-sera aja yak, gak perlu ikut utul ugm dulu..,”. Eh, ternyata SBMPTNnya malah lolos. Alhamdulillah banget.

Waktu nerima pengumuman lolos itu, kebetulan juga lagi di jogja, trus lagi di transjogja. Entah kenapa, adhe’ku yang lolos tapi aku yang terharu. Hehehe. Mungkin gitu ya perasaan para orang tua atau keluarga yang anak-anaknya masuk PTN.

Selepas pengumuman, masih agak deg-degan, karena belum tahu berapa nih biaya kuliah di UGM. Kebayang berapa penghasilanku yang masih kecil, harus mikir dibagi-bagi lagi. Pas hari pengumuman UKT, ternyata mendapat nol rupiah alias gratis. Alhamdulillah. Kabarnya lagi, malah nanti dapat uang saku perbulan. Ah, nikmat mana lagi yang sanggup ku dustakan.

Kini tinggal ikhtiar mencari lingkungan tempat tinggal yang kondusif. Sebenarnya kalau masalah ngekos, bisa-bisa saja. Tapi, saya  pribadi memang menginginkan dia untuk bisa tinggal di asrama atau pondok  yang punya sistem pendidikan informal, jadi ke jogja tidak Cuma dapat ilmu kuliahan. Beberapa kenalan sudah saya kontak, baik masjid, ormas, atau pondpes. Belum final, akan tinggal dimana. Saya kepengennya minimal tahun pertama ia belajar “ngabdi”, belajar melayani masyarakat. Kalau lepas setahun dia tidak betah atau ingin pindah, silakan. Tapi, setidaknya saya sudah melakukan bentuk ikhtiar  mencarikan lingkungan pendidikan yang kondusif.  Itulah janji saya pada almarhum ayah, yang tentunya saya jalani bukan hanya sekedar untuk pelunasan, tapi benar-benar sepenuhnya untuk kebaikan sang adik.

Tulisan ini mungkin agak melo. Tapi memang inilah yang menjadi semangat dibelakang segala yang sedang coba diusahakan. 


Kangen papa. Sangat.

Kamis, 16ramadhan 1434 H
Ditulis dari kemarin sore, tapi baru kelar sekarang.hehe.
Pagi-pagi sudah on , persiapan untuk mengisi materi character building di acara sanlat sebuah SMP di Purwokerto. Tapi masih bingung , ini mo ngasih materi apa.hehe. 
Read more ...
Thursday, July 11, 2013

Merajuk di RamadhanMu


Ramadhan. Aku sebenarnya bingung akan menuliskan apa. Tapi yang pasti, ada bahagia yang terselip, bukan selembar tapi berlembar-lembar.., banyak lembar kebahagiaan yang sudah menelusup memenuhi setiap ruang hati, tanpa menyisakan celah sedikitpun. Bahagia itu hadir seketika, begitu saja tanpa menuntut banyak argumen.

Awalnya , ada satu hal yang sebenarnya agak mengganjal . Pekerjaanku di sebuah lembaga sosial menuntut target penerimaan yang tidak sedikit di bulan Ramadhan. Di satu titik, saya merasa ada dalam kondisi underpressure, nyaris stress. Dalam hal ide dan operasional media mungkin bisa tertangani, tapi dalam beberapa ide-ide baru saya perlu memanjangkan kadar sabar yang dipunya.

Meski saya orang yang sepakat bahwa Ramadhan harus lebih produktif. Tapi nominal target itu membuat aku agak berpikir juga. Ya, kalau seukuran DD yang menargetkan 80miliar selama Ramadhan sih itu mungkin masih “wajar” –meskipun aku cukup terhenyak juga..wow banget 80M-- . hehe. Untung saja lembagaku cakupannya masih tingkat kabupaten.

Masalahnya juga, saya nyambi kerjaan-kerjaan lain. Juga lagi sibuk untuk ngurus-ngurus adik bungsu yang mau masuk kuliah. Kalau kegiatan-kegiatan lain semacam organisasi, udah hampir hilang semuanya. Paling ya di masjid, mantau kegiatannya adik-adik saja. Kebetulan juga adik bungsu saya selama test masuk PTN juga numpang jadi “santri sementara” di asrama masjid. Jadi ya sekalian saja. Hehe. Sesekali masih juga diundang ikut aktip di beberapa komunitas. Ya, sekedarnya saja sih.  Intinya sih, di Ramadhan ini dituntut kesibukan yang luar biasa.

Nah, akhirnya saya cukup terhenyak ketika teringat sebuah obrolan di satu malam beberapa pekan sebelum Ramadhan. Kata teman saya, ramadhan itu ya bulan dimana kita memperbanyak ibadah maghdah, ibadah kepada Allah. Satu sisi hati saya sangat mengiyakan. Saya sangat merindukan jenak-jenak tarawih, tadarus, sahur yang syahdu, tanpa harus ribet mikir kerjaan. Tapi satu sisi saya terposisikan sebagai penanggungjawab untuk target penerimaan di tempat kerja.

Sebenarnya kalau mau jujur, saya orang yang nggak pengen ngoyo tapi harus tetep idealis. Maksudnya, apa yang bisa dimaksimalkan di urusan “dunia” ya lakukanlah, tapi kesempatan Ramadhan itu hanya sekali dalam setahun ketika kita bisa memaksimalkan hubungan dekat kita pada Sang Pemilik Cinta.

Ramadhan ini aku ingin banyak merajuk pada Allah, bermanja-manja dalam peluk Kasih SayangNya. Karena sedang banyak yang ingin kucelotehkan, mengutarakan banyak frasa dalam ruang-ruang sujud panjang tanpa kesudahan.

Aku ingin merangkai banyak puisi dalam tiap hela persinggungan hatiku denganNya. Aku ingin kuatkan kakiku untuk banyak berdiri tegak sepanjang malam. Ya, aku tau ibadah memang bukan hanya sholat, tapi ini persinggunganku yang paling asasi dengan Pemilik Arsy. Aku masih cukup bodoh dan masih hanya hamba awam yang masih sangat kerdil nilai ibadahnya. Aku bukan seperti para muabid yang tak lelah menunaikan berbagai macam ibadah wajib dan sunah. Aku masih anak slengekan yang pemalas. Ngaji bolong-bolong, sholat suka telat, ah pokoknya jauh sekali deh dari sempurna.

Sementara itu, aku sedang merasakan kerinduan yang sangat rindu dimana butuh benar-benar kondisi paling dekat dan hangat dengan Tuhan. Aku sedang memiliki banyak rindu dan pinta yang ingin diceritakan pada Tuhan dan bermanja-manja padaNya. Aku sedang ingin merajuk di RamadhanMu.


2 Ramadhan 1434 H
Untuk kamu, yang selalu kuceritakan dalam doaku padaNya.
Untuk kamu yang selalu menyesakkan ruang hati. 

Read more ...

Cookies Kurma Corn flake

Singkat cerita, jelang Ramadhan ini saya lagi pengen bikin kue. Ya, pengen aja. Seneng aja rasanya, jika tiap hari berhadapan dengan pekerjaan kemudian dapat refreshing untuk “akrobat” di dapur. Saya cari ide kue yang simple dan banyak orang suka. Ngobrol-ngobrol ringan sama ponakan, akhirnya memutuskan bikin cookies aja.hehe. Rencana awal saya ingin membuat cookies dengan aroma dan rasa kopi. Tapi karena saya sendiri agak khawatir dengan kadar kopi yang terlalu banyak, maka jadilah cookies siram coklat almond saja. Itu saya buat saat pulang ke Tegal. Dari hasil masak tersebut, jadilah tiga toples kecil. Satu untuk di rumah dan satu dibawa ke kantor. Ternyata satu toples yang ada di kantor langsung ludes tanpa sisa dan semua bilang enak. Karena ada yang tidak kebagian, saya jadi berniat untuk “beraksi” lagi, sekalian bikin kue ucapan menyambut ramadhan. Yak, karena bikin kue lebaran terlalu mainstream jadi saya buat sebelum bulan puasa saja..hehe. Kebetulan juga saat saya maen ke sekre masjid Fatimah, ada “tumpukan” kurma, saya meminta satu bungkus besar dan jadi kepikiran untuk membuat cookies kurma. Saya membuat cookies kurma saat nginap di tempat teman, saya kerjakan ba’da Isya sampai dini hari. lembur. hehe. Tapi sekali lagi, saya excited karena mungkin seperti mendapat hiburan dari jenuhnya bekerja.hehe. Berikut saya tuliskan resep serta budget membuat cookies kurma cornflake ini. 

Bahan :
Tepung terigu rendah protein 1000gram
Telur (dipakai kuningnya saja) 500gram
Gula halus  400gram (atau sesuai selera. saya sendiri tidak suka yang terlalu manis)
Cream chesse  250gram (juga sesuai selera saja, jika ada yang tidak suka bisa dikurangi)
Margarine 500gram (saya mencampurnya juga dengan room butter, tapi tidak dicampur juga tidak apa-apa)
Susu bubuk fullcream 100gram
Baking powder
Dark Chocolate 250gram
White Chocolate 250gram
Kurma (dipilih yang kurma agak kering) dipotong kecil-kecil
Corn flake  

Cara membuat :
1. Masukan kuning telur, margarine, room butter, gula halus, cream cheese , kemudian kocok sampai lembut. Setelah itu bisa masukan kurma.
2. Tepung diayak bersama baking powder kemudian dicampur dengan baking powder.
3. Campur tepung kedalam bahan (1) yang sudah dikocok. Kemudian uleni adonan sampai kalis. Karena ini adonan cookies jadi sekering mungkin. Jika ingin menambahkan perenyah, bisa juga dicampurkan ke adonan.
4. Panaskan oven, dan siapkan Loyang yang telah diolesi margarine tipis-ipis.
5. Bentuk adonan ke dalam bulatan kecil-kecil, kemudian ditekan-tekan dengan jari, dan tata diatas laying, kemudian panggang selama kurang lebih 30menit.
6. Setelah matang, siram dengan Dark Chocolate yang telah dicairkan, tambahkan cornflakes. Bergantian dengan white chocolate atau sesuai selera.
7. Tunggu coklatnya kering, dan siap untuk disantap. Perpaduan rasa kurma, coklat, cornflakes, menjadikan rasa cookies ini cukup unik..:)
Untuk satu kilogram ini bisa dibuat untuk sekitar enam-tujuh toples sedang (yang biasa dipake untuk kue-kue lebaran). Itu kalau “sempurna” semuanya. Saya kebetulan mengemasnya kedalam kemasan kotak mika kecil (isi enam) dan kotak mika sedang dan isi lima belas keping cookies. Kemarin bisa sampai 25kemasan kecil dan 5 kemasan sedang, juga masih menyisakan sekitar satu toples ukuran sedang.
Berikut akan saya tuliskan budget untuk membuat cookies. Ini harga yang saya dapatkan dengan belanja di salah satu supermarket bahanpangan di Purwokerto. Saat saya di Tegal, saya belanja di pasar tradisional, tentu ada beberapa selisih harga. Saran saya, jika memang sempat dan paham, mending ke pasar tradisional saja, tapi jika ingin praktis bisa ke supermarket / toko bahanpangan. Di Purwokerto yang terlengkap ada di INTISARI.  Dan inilah itu,

Tepung terigu  Kunci Biru  1kg                      : Rp 8.400,00
Cream cheese CALF                                      : Rp 7.325,00 / ons
 Gula Halus (merk TITIAN)                           : Rp 6.500,00/ 500gr (kemasannya 500gram)
Telur                                                                : Rp 9.900,00 / 500gram
Margarine (eceran)                                          : Rp 3.700,00/ 250gr
Room butter                                                    : Rp 9.750,00/250gr (tidak pakai roombuter gpp)
Susu bubuk fullcream                                     : Rp 7.000,00 / ons
Baking Powder                                               : Rp 1.100,00 / 50gr
Dark Chocolate Collata                                  : Rp 14.550,00 / 250gram (kemasannya 250gr)
White Chocolate Collata                                 : Rp 14.900,00 / 250gram (kemasannya 250gr)
Corn flake                                                       : Rp  6.500,00 / ons

Untuk harga kurma, terus terang saya tidak paham. Bisa cek sendiri di pasar. Kemarin kan saya dapat kurma gratisan dari masjid.hehe.

Nah, jadi total anggaran yang dikeluarkan untuk membuat satu kilo cookies kurma ini sekitar Rp 89.625,00 kita sudah bisa membuat sekitar satu kilogram cookies kurma. Tentu saja, tidak semua bahan diatas digunakan. Kalau untuk selingan saja, bisa bikin ukuran 300 atau 500gram saja. Takaran bahan lain sila menyesuaikan. Kalau untuk dibisniskan, satu kilogram bisa jadi 6 toples, pertoplesnya bisa dihargai 20-30ribu sepertinya. Entahlah, saya termasuk orang yang kurang telaten dalam hal bisnis seperti itu.hehe.

Harus diakui, saya memang bukan orang yang sering masak, saya bukan orang yang intim dengan dapur, tapi itu semua tak bisa menafikan kesukaanku pada dunia masak-memasak. Kalo dibilang jago banget, sih nggak. Tapi saya bukan orang yang tabu untuk  terjun belanja ke pasar dan mengujicoba berbagai resep di dapur. Memasak apa saja. Dan so far, para penyantap hasil masakanku, memberi nilai “not bad”. hehe.

Oke, demikian saja postingan saya kali ini. Kapan-kapan bisa posting di tema serupa. Seru juga masak-memasak dan membagi pengalamannya kepada orang lain. Selamat mencoba. J


Read more ...
Monday, June 17, 2013

Tentang Kerja, Syukur, dan Cinta

*Diambil dari buletin jumat "Jendral Sudirman" Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta sekira sebulan lalu, 18/5/2013


Namanya Mamang. Sepertinya itu bukan nama asli. Hanya saja selama ini kami memanggilnya seperti itu. Jika matahari sudah naik sepenggalah, jumpailah senyum-sumringah Mamang. Ia berjalan dengan sandal jepit tipis. Dua blik besar berdiameter setengah meter yang berisi kerupuk, terpanggul di pundaknya. Ia menjajakan kerupuk-kerupuk dengan berkeliling kota.
Pekerjaan ini sudah dijalaninya bertahun-tahun. Pasti karena ia cinta pada kerupuk. Saat saya masih bersekolah di TK hingga saya lepas perguruan tinggi, Mamang masih setia dengan dua blik kerupuknya. Menjejaki tiap ruas-ruas jalan kota kecil di pinggiran Pantura itu. Terkadang kami melihat Mamang melepas lelah di musholla sebelah. Sambil menunggu waktu sholat tiba.
Senyum sumringah Mamang di pagi hari sebelas-duabelas dengan lengkung indah di wajah pak Kambali. Kami selalu mudah menjemput senyum itu saat bersambang ke kiosnya yang lebih tepat disebut dua buah gerobak sederhana di pasar malam. Dari gerobak-gerobak itu selalu keluar bunyi dan bau harum penusuk hidung. Pak Kambali adalah seorang maestro kue putu dan klepon. Kedua kue jajanan tradisional daerah Tegal yang terbuat dari tepung beras dan di dalamnya terdapat gula merah.
Seperti kecintaan Mamang pada kerupuk, pak Kambali juga mencintai pekerjaannya. Kecintaan yang membuat adonan kue putu dan klepon menjadi sangat luget di lidah. Kecintaan yang membuat beliau menggeluti pekerjaan ini hingga akhir hidupnya. Kini, di lapak yang sama, di gerobak itu tertulis: “Putu Pak Kambali (Putra)”. Ya, usaha itu kini dilanjutkan oleh anak-anaknya. Pak Kambali sudah meninggal.

Read more ...
Sunday, June 09, 2013

EMPING

#catatanRingan yang kebanyakan curcolnya.

Hujan sepertinya sedang bersinergi dengan rindu. Ia sedang sering mencumbu bumi. Kadang pagi, siang, sore, malam, bahkan dini hari seperti saat itu. Saat aku harus terjaga dan mengintipnya lewat jendela. Nampaknya aku memang mudah terbangun oleh hujan, khususnya hujan dini hari. Tapi dini hari itu, aku terjaga selain karena hujan juga karena lapar. Reflek ku tengok meja rendah sebelah tempat tidur. Salah satu perabot “minoritas” karena tidak berwarna hijau seperti jamaknya perabotan yang ada di kamar ini.

Dari sekian banyak benda yang berserakan di meja tersebut, mataku tertumbuk pada kantong kresek putih. Setelah ditengok, didalamnya ada tiga bungkus plastik bening ukuran sedang (duh kok banyak banget sampah plastiknya ya?!maaf ini tak sengaja).  Di tiap bungkusan plastik bening itu ada makanan kering. Dua diantaranya berisi emping, dan yang lainnya krupuk bawang. 

Emping dan kerupuk bawang itu sejenak membawa ingatanku ke sebuah pertemuan di beberapa hari sebelumnya. Saat itu malam 27 rajab. Setelah siangnya berpadu janji, malam itu saya berkesempatan untuk bertemu seorang teman. Sebut saja namanya Demas. Beliau salah satu penggerak komunitas pendidikan di kota kecil ini. Kebetulan ada satu program kerjasama yang ingin diinisiasi, jadi kami perlu berunding. Jadilah, angkringan pasar wage menjadi tempat perundingan itu. Kami ternyata penggemar angkringan untuk tempat diskusi.

Kemudian kami berbincang banyak tema selain tujuan utama tentang kerjasama program. Dari mulai obrolan tentang pendidikan, forum juguran, gamelan, banyumas, wayang sampai tentang pocong. Apa hubungannya? entahlah, mungkin obrolan kami itu ibarat omnibus. Sempat juga beberapa kali obrolan terhenti, oleh pengamen. Kebetulan saya termasuk yang senang melihat aksi pengamen. Kata Demas, bedanya pengamen di Indonesia dan di luar negeri, kalau di negara kita lebih banyak pengamen yang menyodorkan tangan untuk meminta-minta dikasih, sedangkan di luar negeri justru masyarakat yang menghampiri mereka untuk ngasih uang. Dengan kata lain, apresiasi terhadap pekerja seni jalanan diluar negeri lebih tinggi dibanding di negeri kita. Entahlah. Kalau ada pengamen dan aku suka, aku pasti kasih apresiasi, meskipun sedikit. Itu saja yang kupikir. Tidak lebih.

Di lepas pukul sembilan malam, obrolan tiba-tiba harus menemui jeda ketika ada sesosok wanita menghampiri kami. Gurat wajahnya menunjukan jejak perjalanan hidup yang sudah cukup panjang ia jalani. Usianya saya taksir diatas 70 tahun. Warna merah muda di bajunya sudah tak tampak jelas karena memudar. Jilbab bergo yang dikenakan seadanya membingkai wajahnya yang bulat. Mungkin yang khas dari sosok itu adalah celoteh riangnya yang tanpa henti. Hingga tak terlihat lelah yang dirasa.

Satu hal yang dapat dicirikan dari wanita itu adalah dua tas plastik besar di jinjingan dan gendongannya. Ya, ia ibu penjaja emping dan krupuk bawang. Ibu yang dengan penuh percaya diri menghampiri dan menghentikan obrolan kami. Tanpa diminta, ia serta merta mengeluarkan contoh-contoh “produk” yang dijualnya. Gendongannya serasa kantong ajaib Doraemon yang bisa mengeluarkan banyak jenis kerupuk. Ada kerupuk bawang, kerupuk mie, emping, dan entah apalagi. Saya dan Demas awalnya cukup kaget. Kalau jujus, mungkin ada sedikit perasaan terganggu. Tapi itu sekelebat saja. Justru perhatian saya mendadak teralih pada sang wanita itu. Saya hilang keinginan melanjutkan obrolan, justru memulai obrolan baru dengan si ibu. Pertanyaan pertama saya sangat retorik : malam-malam begini masih jualan bu? (saya menyampaikan pertanyaan itu dengan bahasa jawa, tentunya). Ya, mungkin lepas diatas jam 9 itu belum terlalu malam. Tapi, bagi saya, seorang wanita tua berjalan kaki di sebuah pasar dengan sarat jinjingan, itu bukan sesuatu yang bisa dianggap “tidak apa-apa”. Bagi saya, itu sangat “apa-apa”.
Read more ...

Makelar Doa

#catatanRingan

Sudah tak asing bagi orang yang bekerja di lembaga sosial penghimpun dan, di kesehariannya bergulat dengan aktivitas yang ada kaitannya dengan doa dan mendoakan. Bahkan redaksional doa itu sudah tercantum dalam SOP (standart operational procedure) dan sudah harus hafal di luar kepala, terlebih khusus bagi teman-teman yang bertugas di meja pelayanan. Doa sudah menjadi salah satu fasilitas dan bentuk service  bagi para pemberi dana. Bahkan di beberapa obrolan santai, kami menyebut aktivitas ini sebagai bagian kerja makelar doa. Dan memang fakta yang kami temui, banyak orang yang senang sekali minta didoakan. Tak jarang ada request-request doa, entah itu yang mau ujian, mau nikah, mau punya anak, mau umroh, mau punya mantu, minta didoakan untuk kerabat yang sudah meninggal, dan lain-lain. Kami tak jarang memiliki kisah-kisah unik tentang para peminta doa itu. Sekali lagi, saya menekankan saking seringnya, hal-hal ini kadang jadi terasa sangat biasa untuk  dilakukan.

Jujur, saya memang kadang menghindar untuk melayani langsung donatur dan “mengobral doa”. Kadang-kadang saja jika terjebak ada di kantor sampai petang, dan ada donatur yang “kesorean”, maka mau tidak mau saya harus melayani. Kadang saya mengelak dengan alasan agak songong , bahwa itu kan tugas teman-teman bagian pelayanan. Sedangkan kemunculan saya diperlukan hanya ketika harus menyusun konsep, menggarap media dan melakukan lobi-lobi saja. Meski teknik lobbying lembaga filantropi ujung-ujungnya juga pasti ada obral doa juga. Itu tidak salah kok. Hanya saja bagi saya, pekerjaan yang berurusan dengan hati dan Tuhan urusannya sangat begitu komplek.
Read more ...

MARWAH



“…Karena kita tak pernah tahu makna sebenar-benarnya dibalik sebuah tawa ataupun tangis. Bisa berarti bahagia, haru, atau justru malu. Maka menjadi riskan ketika tangisan menjadi tontonan. Ada marwah yang perlu kita jaga pada tiap orang….”

Era teknologi informasi saat ini membuat kita tak susah untuk mengikuti perkembangan berita atau peristiwa yang terjadi . Segala macam bentuk informasi. Dalam lingkup regional hingga internasional. Jarak beribu-ribu kilometer sudah bukan menjadi penghalang untuk mengetahui update informasi terbaru. Baik melalui tayangan visual di televisi hingga berita yang berupa kicauan. Semua ramai dan meramaikan.

Tempo hari dunia hiburan masyarakat kita disibukkan oleh sosok Eyang Subur dengan segala pro kontra dan problematika yang terjadi. Tak bisa dipungkiri beberapa hal privasi juga terkuak di layar kaca , menjadi tontonan masyarakat, bahkan lembaga MUI hingga turun tangan. Silih berganti hari, kemunculan seorang bocah remaja dari sebuah desa di Banyumas juga mewarnai media massa di Indonesia. Dialah Tasripin. Sempat menjadi “selebritis” yang mewarnai program-program acara news sampai hiburan. Berganti hari dan pekan, meninggalnya seorang da’I menggantikan posisi “headline” pemberitaan baik di program news maupun hiburan. Lagi-lagi media membuat kita kebanjiran informasi yang juga mengusik hal privasi sang almarhum.
Read more ...
Saturday, May 04, 2013

Tak Ada Asap Jika Tak Ada Api : Memahami Teror Yang Sebenarnya

#catatanRingan

“…ada yang sudah sesak lebih dahulu karena tercekik biaya pendidikan, ada yang sudah ter-teror dari awal dengan biaya pendidikan yang mahal…, bijaksana lah dalam berkomentar! “

Pernah melihat orang-orang bermobil mewah yang ngomel-ngomel pada demonstran BBM tapi dia sendiri ngisi bensinnya pake bensin bersubsidi? Pernah melihat orang-orang yang sok intelektual dengan mencaci demonstran dengan mengeluarkan teori-teori tinggi tapi ketika harga-harga melambung naik dia pun misuh-misuh? Orang-orang yang mengeluhkan macet, merasa dirugikan oleh aksi massa mahasiswa tapi dia sendiri menikmati kebijakan yang dihasilkan gara-gara perjuangan para demonstran itu. Orang-orang seperti itu banyak jumlahnya disekitar kita. Kalau saya akan merasa jijik melihat orang-orang seperti itu, pun bagaimana hebatnya orang tersebut. Kalau teman-teman saya suka menyebutnya sebagai kelompok#kelasMenengahNgehe.

Rasa jijik yang sama juga menyentak saya ketika secara tak sengaja melihat salah satu respon terkait rame-ramenya aksi pengasapan di Hardiknas kemarin. Saya sebenarnya tidak ingin berkomentar panjang tentang aksi itu. Selain bahwa saya masih“setia” untuk mengkritik pemberitaan di media yang berlebihan, saya juga tidak tertarik dengan konflik sentimen antar kelompok gerakan mahasiswa, yang sepertinya kejadian kemarin menjadi momentum untuk mereka saling sikut. Biasa itu. Namanya juga anak muda.

Tapi sungguh saya tersentak ketika melihat salah satu komentar yang menyebutkan : “dampaknya ke alumni, perusahaan menjadi tidak respect nanti kepada alumni, beasiswa-beasiswa dari perusahaan juga nanti akan berkurang…bla…bla..bla..”. Intinya sebuah ungkapan yang merendahkan aksi para demonstran karena secara tidak langsung ia akan menerima dampaknya. Perasaan saya saat melihat komentar itu adalah “ih, kok gitu sih? lebai banget! kalaupun demonya ada yang salah ya cukup bilang salah tapi nggak usah nyinyir pake bawa-bawa nasib alumni”. Kesannya dia adalah alumni terhebat dengan daftar seribu prestasi yang kemudian merasa dirugikan gara-gara aksi para demonstran. Menurut saya pada saat itu sebenarnya dia telah kehilangan karakter dirinya dansemua prestasinya bernilai nol besar.
Read more ...
Sunday, April 28, 2013

Melepaskan Ketakutan Shakespeare dari Puisi Misterius Turky*

You say that you love rain, but you open your umbrella when it rains. You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines. You say that you love the wind, but you close your windows when wind blows. This is why I am afraid; You say that you love me too. (I Am Afraid, William Shakespeare)

PUISI di atas itu sedang terpolemik. Paling tidak, di kalangan para penggemar William Shakespeare, tokoh sastra masyhur dari Britania pada pertengahan abad ke-17. Apabila di Eropa dan beberapa tempat lain, puisi ini cukup menyita ruang debat, agaknya tak demikian ceritanya di Indonesia.
Pertama kali melihat puisi I Am Afraid diterakan atas nama William Shakespeare adalah ketika saya sedang berselancar di internet. Banyak sekali domain pribadi atau kelompok di dunia maya itu yang mendaulat puisi I Am Afraid sebagai milik Shakespeare.

Kendati puisi I Am Afraid terlanjur terpolemik dengan gilang-gemilang, pada dasarnya, apa yang disangkakan itu tak memiliki pijakan yang solid. Terlalu banyak fakta yang dapat membuat para pecinta Shakespeare terlunta-lunta perasaannya, jika mereka akhirnya tahu bahwa puisi I Am Afraid bukan karya Shakespeare. Kendati pula, tak sedikit dari mereka yang menghendaki adanya fakta yang bisa membuktikannya.

Sebagai awalnya, mari kita simak sebuah puisi berbahasa Turky berjudulKorkuyorum di bawah ini:
Ya?muru seviyorum diyorsun, ya?mur ya??nca ?emsiyeni aç?yorsun. Güne?i seviyorum diyorsun, güne? aç?nca gölgeye kaç?yorsun. Rüzgar? seviyorum diyorsun, rüzgar ç?k?nca pencereni kapat?yorsun. ??te,bunun için korkuyorum; Beni de sevdi?ini söylüyorsun.(Korkuyorum, anonim)

Puisi Korkuyorum ini, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris maka akan terbaca identik sama sekali dengan puisi I Am Afraid yang tampil lebih dulu di permulaan telisik ini. Entah bagaimana musababnya sehingga ada tera nama Shakespeare pada puisi I Am Afraid. Sejak kapan kejadian ini bermula?
Saya akan mentransliterasi I Am Afraid dan Korkuyorum ke dalam bahasa Indonesia, berikut:
"Kau bilang bahwa kau mencintai hujan, tetapi kau buka payungmu saat hujan. Kau bilang bahwa kau mencintai matahari, tapi kau temukan bayanganmu saat matahari bersinar. Kau bilang bahwa kau mencintai angin, tetapi kau tutup jendelamu ketika angin bertiup. Itulah mengapa aku takut, saat kau bilang bahwa kau mencintaiku juga."
(Aku Takut ~ transliterasi Ilham Q. Moehiddin)

Read more ...
Wednesday, April 24, 2013

Menyoal Marwah Dalam Produk Kemanusiaan Hingga Peran Jurnalisme Warga

#Sebuah Catatan Diskusi
Karena kita sebenarnya tak akan pernah benar-benar bisa memahami arti tangis dari seorang yang tertolong, apakah tangis haru, bahagia atau justru tangis malu. Maka terlalu riskan untuk menjadikan tangisan sebagai sebuah tontonan. Dimanapun, tangis akan terasa menyesakkan.

Prologue : Mungkin saya perlu membuat disclaimer terlebih dahulu, bahwa catatan ini dibuat tidak bermaksud untuk menyinggung insan media manapun. Kalaupun ada sesuatu yang terasa menohok, yakinlah bahwa tulisan ini juga muncul karena ketertohokan diri saya sendiri.. Ketertohokan yang membuat jemari ini ingin menari untuk berbagi. Mungkin sesekali biarkan saja setiap rasa sakit akibat ketertohokan menjadi sebuah media penyuci jiwa dan refleksi atas apa yang telah kita perbuat.

Kemanusiaan adalah sebuah hal yang agak rumit, menurut saya. Disana ada kata “manusia” berimbuhan ke-an. Perihal manusia yang di-katabenda-kan. Segala hal tentang manusia. Sebuah kata yang tentunya disana harus memposisikan manusia sebagai sebenar-benarnya manusia. Saya tidak tahu persis apa arti kata kemanusiaan dalam kamus. Jika kemanusiaan identik dengan sebuah aktivitas saling mengasihi antar sesama, maka disana pula lah kita akan melihat keseteraan manusia tanpa perlu melihat siapa yang mengasih dan dikasih. Kerumitan dalam urusan kemanusiaan yang sangat sensitif inilah yang membuat saya bicara agak prinsipil bahwa dalam setiap aktivitas atau karya yang mengatasnamakan kemanusiaan ada sisi etis yang tidak bisa kita terobos begitu saja.
Read more ...

MARBOT : PELAYAN RUMAH TUHAN

#Catatan Mudik



Sekian menit selepas salam terakhir, satu persatu jamaah sholat Isya malam itu beranjak pulang. Saat perlahan  sepi  merayap, kuperhatikan sekeliling, dan sejurus itu baru kusadari  satu hal. Bahwa “warisan” berharga yang almarhum ayah tinggalkan kepada kami adalah bagaimana kami sedari kecil dilatih untuk  merawat rumahNya. Selintas tiba-tiba saya teringat bagaimana saat kecil dulu punya giliran tugas mematikan lampu-lampu mushola, menggulung tikar dan karpet, mengatur meja-meja kecil untuk ngaji, hingga menguras kamar mandi, semuanya pernah kami lakukan dengan atau tanpa ikhlas. Maklum, masih kecil. Semua masih karena perintah. Kadang saya dan kakak bisa ribut hanya gara-gara mempermasalahkan siapa yang akan menggulung dan menyimpan tikar. Sampai akhirnya tikar itu kehujanan diluar mushola.

Bagi  orang  lain, itu mungkin tidak istimewa.  Tapi, bagiku, saat  ini menjadi terasa sangat istimewa, ketika merasakan ternyata sampai detik ini pun apa yang telah dilakukan sejak kecil masih terus terbawa.  Teringat ramadhan tahun lalu ketika ada seorang teman bilang : “ mbak Shinta sekarang sudah gak perlu  ikut  turun ngurusin buka puasa di tempat putri, udah banyak anak-anak baru “..  Tapi, asal tau saja bahwa aku sangat menikmati masa-masa dimana harus menyiapkan ta’jil walau sekedar air putih dan kurma. Seperti ketika aku kecil dulu harus mempersiapkan teh serta makanan untuk sekedar rapat takmir atau pertemuan-pertemuan di mushola. Bedanya, dulu mungkin masih karena perintah ayah. Tapi lama-kelamaan itu aku menikmati peran sebagai pelayan rumahNya.

Aku tercenung sendiri, mengingat putaran waktu yang berjalan cukup cepat kurasa. Dulu mushola ini hanya bangunan sederhana, yang sehari harus lebih dari lima kali disapu jika tak mau ada debu menempel. Karpetnya harus sepekan sekali dijemur dipagar bunderan di sebrang. Soundsystem yang apa adanya, membuat Bapak beberapa kali harus naik keatap membetulkan toa. Sesekali dibawa ke tukang service di daerah Slerok. Hati saya kerap terseok mengingat bagaimana tangan rapuh Bapak dulu menata taman kecil samping mushola. Memasang sendiri pagarnya satu demi satu. Taman kecil itu kini memang sudah tak ada. Hanya ada satu pohon mangga cangkokan menjadi saksi hobi berkebun sang almarhum. 
Read more ...