Pages

Wednesday, April 30, 2008

HIBRIDISASI POTENSI CIVITAS AKADEMIKA DALAM MEMBENTUK DINAMISASI DAKWAH KAMPUS*)


“Bersama Dalam Dakwah, Bersatu Dalam Ukhuwah, Berproses Dalam HMI”

*)tema kepengurusan HMI KOMPERTA UNSOED periode 2008-2009 (mohon saran dan masukannya)


Dilekatkannya predikat khalifah fil ardhi kepada manusia merupakan suatu anugerah serta kepercayaan sang Maha Kuasa kepada kita-manusia- yang harus mampu dibaca dan maknai. Predikat itu berkonsekuensi pada kesadaran akan entitas manusia yang tidak sebatas pada individu namun juga pada entitas sosialnya. Bahwa apa yang ada di sekitar kita adalah tanggungjawab tiap manusia untuk mengolah, mendayaguna, serta mengembangkan hingga tetap memiliki eksistensi. Istilah khalifah secara etimologis berarti wakil dan dalam pengertan risalah Islam berarti wakil Allah dimuka bumi, yang berkewajiban memakmurkan bumi sesua kehendak dan ajaran-Nya. Pada konteks masyarakat, kepemimpinan (khalifah atau imammah) merupakan sebuah kepercayaan satu individu atau lebih kepada individu lainnya.

Hidup adalah sebuah perjuangan. Perjuangan seorang muslim merupakan sebuah proses peningkatan kualitas akan iman yang membentuk jati diri muslim seutuhnya. Perjuangan merupakan sebuah pilihan sadar yang memiliki dua syarat yaitu “berkehendak dan bertindak”. Perjuangan bersama HMI sepatutnya sebuah pilihan sadar yang berkonsekuensi adanya tindakan. Sebagai kesadaran, tindakan perjuangan dapat terejawantahkan dalam jalan dakwah. Maka sebagai khalifah, dakwah adalah sebuah kenscayaan.

Saat ini gerakan dakwah telah memasuki era dimana globalisasi mulai merasuk dan arus nilai yang berkembang dalam kondisi dimnamisasi yang teramat luar biasa. Maka perubahan gerakan merupakan keniscayaan dalam dakwah jika tidak ingin tergilas oleh arus nilai lain. Dakwah bukan sebuah hegemoni oleh satu dua gelintir orang. Maka proses dakwah juga harus mengalami dinamisasi. Dinamisasi yang dimaksud adalah yang masih berpegang pada nilai-nilai keIslaman. Pemunculan warna lain dakwah harus dimunculkan sebagai salah satu kerja kreatif dari para penggerak dakwah dalam rangka eksistensi dakwah itu sendiri.

Awalnya HMI didirikan sebagai wadah mahasiswa muslim sebagai lembaga dakwah kampus. HMI yang kini telah berdiri hamper seumu dengan negeri ini telah mengalami pasang surut. Keberadaan HMI dalam beberapa era dengan strategi dakwahnya mampu mendongkrak bargaining position kaum intelektual muda (baca : mahasiswa) dalam berperan di negeri ini. Dalam kancah dakwah, –seperti dikutip dari Suharsono –HMI sudah sepatutnya dapat mengapresiasikan idealisme insan HM, ulil albab, tidak hanya sebatas pengertian formalnya sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar, tetapi juga secara intelektual dan iman, serta dimensi sosiologis yang merupakan manifestasinya. Dengan kata lain, HMI dinanti peranannya dalam dinamisasi kancah dakwah, dimana dakwah tidak menjadi hegemoni suatu gerakan. Dakwah merupakan konsep pendidikan dimana hakikat pendidikan adalah sebuah pembebasan dan bukan sebuah pengkultusan Islam dalam sebatas simbol-simbol belaka.

Meniliki sejenak historika HMI komisariat pertanian UNSOED, dimana telah menjadi embrio dakwah di kampus perjuangan Universitas Jenderal Soedirman. Dalam perkembangannya, KOMPERTA mendapat indikasi kekhawatiran menjadi sebuah generasi hybrid dimana mereka kini tak mampu beranakpinak kembali melestarikan generasi. Fenomena generasi hybid komperta UNSOD merupakan satu hal yang perlu segera diselamatkan. Dalam perkembangannya kini, komperta UNSOED berusaha tertatih merangkul komponen mahasiswa di lingkungan kampus belakang.

HMI KOMPERTA mencakup lima (5) fakultas yakni : F.Pertanian, F.Peternakan, F.SainsTek, FKIK, dan F.Biologi. Selain berdasarkan lokasi geografis fakultas, KOMPERTA juga mencakup lokasi domisili kader. Jadi tidak menutup kemungkinan ada fakultas lain yang berdomisili sekitar kampus belakang yang merupakan member dari KOMPERTA. Kemajemukan yang dimiliki KOMPERTA merupakan kekayaan akan kader yang memiliki berbagai macam karakter. Hal ini memerlukan sebuah garis kerja khusus untuk dapat mengakomodir seluruh kekayaan karakter yang dimiliki. Kepengurusan yang ada harus dapat menjadi empowering smber daya yang ada. Dalam hal ini, upaya hybridisasi atau persilangan beberapa varietas yang berbeda merupakan tindak yang menjadi garis kepengurusan KOMPERTA periode 2008-2009. Dari hybridisasi itu diharapkan kita menghasilkan varietas yang dapat terpetakan karakternya sehingga pola pembinaan dapat dilakukan dengan optimal.

Karater HMI dengan kekayaan wacana-nya diharapkan dapat meningkatkan kualitas dakwah di ranah kampus. Fenomena yang ada bahwa dakwah terasa monoton. Padahal dakwah merupakan sebuah public relation dari kebenaran (baca : Islam). Aktivitas dakwah dalam kampus terpusat pada hal-hal yang bersifat simbolisasi saja dari Islam. Urgensi atau hal-hal yang merupakan wacana substansial jarang dilakukan. Padahal di tingkatan universitas, dan memiliki audience kaum intelektual, seharusnya dakwah juga dapat menjadi pengasah intelektualitas.

Dengan upaya ini diharapkan kehadiran HMI dapat menjadi sapuan warna yang akan menambah semarak perjalanan dakwah kampus. Keanekaragaman merupakan sebuah rahmat Allah maka dalam dakwah pun akan menjadi indah apabila keanekaragaman itu dapat tertuang menjadi sapuan warna-warni. HMI sendiri juga dapat dkatakan sebagai organisasi yang terbentuk dari berbagai elemen “keIslaman” para calon kadernya. HMI membuka lebar pintu kepada semua mahasiswa Islam dari berbagai latarbelakang. HMI kemudian muncul sebagai sebuah akulturasi budaya Islam yang ada di Indonesia. Kemampuan mengakomodir berbagai kemajemukan dengan sikap toleransi dan semangat untuk belajar bersama inilah yang juga akan diterapkan di KOMPERTA untuk mampu merangkul berbagai elemen. Sekali lagi, dakwah milik kita semua, setiap umat memilki tanggungjawab dan peluang yang sama, tinggal bagaimana kita mampu membaca kesempatan tersebut. Dengan kata lain, mari kita saling membuka kesempatan berdakwah bagi setiap orang di sekitar kita. Dengan bersama dalam dakwah, dan tetap bersatu dalam sebuah persaudaraan Islam, serta belajar dan berproses bersama dalam wadah HMI. Yakin Usaha Sampai!!!

by : nta

Read more ...
Tuesday, April 15, 2008

Mengapa orang gila dilarang ngajar di kelas?


(Dikutip dari forum diskusi di Multiply)

Tahun ajaran baru dimulai. Sekelas mahasiswa TPB (mahasiswa tahun
pertama) jurusan X berbondong-bondong masuk kelas dan menunggu dosen datang.
Datang seorang laki-laki setengah baya masuk kelas, dan kemudian
memulai perkuliahan. Baru beberapa menit dia memberi “kuliah”, datang
seorang mahasiswa senior, dan “menyeret” sang dosen keluar ruangan.
Kontan para mahasiswa TPB bertanya-tanya. Dan si senior menjawab,
“Dia itu Bang N, mantan mahasiswa sini yang jadi gila karena ada
masalah…”
***
Kisah di atas adalah kisah nyata. Dan tentu saja, Anda pasti akan
membenarkan tindakan si mahasiswa senior di atas.
Namun sayangnya, dalam kenyataan sehari-hari kita, banyak orang yang
melakukan tindakan Bang N tsb.
***
Banyak orang yang merasa dirinya kritis dan cerdas mempertanyakan,
mengapa hanya ulama-ulama yang boleh membuat fatwa dan mengatur kehidupan
keberagamaan masyarakat. Mengapa tidak semua orang dibebaskan saja
membuat penafsiran sendiri tentang masalah-masalah agama dan tidak perlu
mengikuti “orang-orang kadaluarsa” tsb?
Bagi saya, jawabannya gampang. Karena kita tentu tidak akan mengijinkan
Bang N dan orang-orang semacamnya atau sembarang orang mengajar di
kelas perkuliahan.
Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada orang-orang yang
kritis dan cerdas itu.
Misalnya saya sudah banyak membaca buku tentang kesehatan, baik dari
ilmu kesehatan modern maupun ilmu kesehatan alternatif. Saya paham betul,
bagaimana ciri-ciri suatu penyakit, seberapa berat penyakit tsb dari
tanda-tandanya, dan obat apa saja yang dapat diminum untuk meredakan
penyakit tsb.
Pertanyaannya:
(a) Bila saya sedang kena flu bolehkan saya mengobati diri sendiri
dengan cara yang saya anggap tepat buat diri saya?
(b) Dengan modal pengalaman tsb, bolehkah saya membuka praktik untuk
menarik agar orang-orang berobat ke saya? Kira-kira bagaimana reaksi
para dokter professional akan tempat praktik saya tsb?
Misalnya saya sudah membaca 3 lemari penuh buku-buku Fisika karangan
para fisikawan terkenal dari abad pertengahan sampai modern. Bagaimana
kira-kira reaksi orang-orang, bila tiba-tiba saja, dengan PD-nya saya
memasuki sebuah gedung kuliah di MIT dan mengajar fisika kuantum di sebuah
kelas?
Mengapa untuk hal-hal duniawi seperti menjadi profesor, dokter,
pengacara, dsb kita tidak pernah mempersoalkan bahwa untuk menjalani profesi
tsb dibutuhkan kualifikasi-kualifikasi tertentu yang tentunya cukup
berat dan tidak semua orang dapat menjalani profesi tsb, apalagi dengan
modal sekadar “merasa bisa”?
Mengapa untuk masalah-masalah agama banyak orang dengan gampang merasa
dirinya menjadi ahli yang tidak perlu lagi berkonsultasi dengan
orang-orang yang lebih berpengalaman dan mendalami masalah-masalah agama?
Tahukah Anda bahwa sekadar untuk menjadi seorang mufassir Quran yang andal,
setidaknya ada 23 cabang ilmu al-Quran yang harus dikuasai? Belum lagi
menjadi ahli hadits, ahli fikih, dsb. Puluhan bahkan mungkin ratusan
cabang ilmu yang perlu dikuasai orang untuk menjadi seorang yang
betul-betul pantas menjadi seorang pembuat fatwa keagamaan. Berapa kitab dan
berapa cabang ilmu sudah Anda kuasai?
Jangan meniru Bang N.

(disadur dari milis)




Read more ...

Syndrom Kangen HMI



Selalu seperti ini. Nta selalu ngrasain kangen kalo habis ngikutin acara-acaranya HMI. Nggak tau kenapa. Pengennya tuh nta selaluu dalam lingkungan yang dinamis seperti saat ditengah-tengah temen2 HMI.
Berlebihan mungkin...tapi nggak juga (lho??)
Sama kayak dulu, waktu nta biz LK II, atau waktu biz loknas, waktu biz diskusi-diskusi di cabang or komisariat, nta ngrasain enjoy n menikmati banget suasana yang terjadi disana. Dan selalu setelah pasca acara, nta ngrasa kehilangan suasana yang seperti itu. nta selalu dihantui syndrom kangen HMI.
Kayak kemaren biz pleno.....wuah...nta pengennya tiap hari, tiap saat, tiap detik, nta selalu punya kesempatan buat diskusi bout anything!!!
ya..mungkin di cabang n komisariat nta sendiri perlu ngadain diskusi yang lebih sering, buat mengobati syndrom ini.

Yupz, sekarang saatnya kembali ke rutinitas, menghadapi segala aktivitas, kuliah-siaran-rapat-nulis-dikejar deadline-ngejar angkot- siap2 midtest- dll.

Semoga syndrom ini selalu hidup...bukan sebagai sesuatu yang berlebihan hanya stimulan untuk selalu istiqomah berada di jalan dakwah...bersama HMI (HMI bukan tujuan...hanya sekedar alat).


the last, miss u n luu all the HMI's member..........

YAKUSA

Read more ...

Membaca Hikmah Dibalik Amanah




Ending dari apat Anggota Komisariat Pertanian HMI cabang Puwokerto membuatku perlu menyisakan waktu-waktu untuk berkontemplasi merenungkan berbagai hal. Amanah sebagai ketua formatur baru kurasakan sebagai sebuah hal yang cukup berat dan memerlukan konsentrasi penuh.

Kini aku bisa merasakan perbedaan antara mengemban jabatan di HMI dan di organisasi lain. Kalau meminjam istilah mas Anto (mantan ketum cabang pwt), jabatan ini pertanggungjawabannya dunia akhirat.

Sungguh, jangan dikira aku tertawa menerima amanah ini. Malam seusai RAK, merupakan malam panjang buatku untuk terjaga dan berfikir banyak hal. Kondisi komperta yang sedang futur, cakupan wilayah yang cukup luas, aspek history kejayaan komperta, serta kapasitasku menjadi ketua, semua berkecamuk dalam dunia pikirku. Mampukah aku Tuhan???

Aku sadari ini menjadi titik tolak transformasi diri. Bukan sebuah keterpaksaan, namun secara moral, aku menyadari penuh, bahwa posisiku kini bukan berdiri untuk entitas pribadi, namun kini aku diserahi umat.

Staus keanggotaanku dalam komisariat yang masih rancu, adanya tanggung jawab di oganisasi lain, serta berkaca pada karakter dan kepribadianku, terkadang aku merasakan tidak sanggup untuk menerima amanah ini. Perjalanan penuh warna bersama HMI MPO selalu menyisakan air mata di hatiku. Bahkan pengorbanan yang sangat menyakitkan pun harus aku lakukan. Kini, yang terpenting, aku harus bisa belajar dan menyadari bahwa ini adalah salah satu bagian dari kawah candradimuka yang harus ku lewati untuk membawa diri ini menjadi lebih baik lagi. Tuhan, tuntun aku dalam perjalanan proses ini.

Kepada kawan-kawan komperta, kini kalian adalah bagian dari aliran darahku, semangat kalian adalah penentu akan dibawa kemana kondisi umat dalam cakupan wilayah komperta ini.
Kepada kawan-kawan cabang puwokerto, mohon dukungan dan bimbingannya, aku hanyalah serpihan asap yang tiada berguna tanpa bantuan kalian...
Kepada kawan-kawan HMI semuanya........mari terus bersinergis, layaknya sebuah rangkaian tubuh, jika salah satu bagian merasa sakit, maka yang lain pun akan merasa sakit.
Kepada keluarga, ayah dan bunda tercinta, shinta sangat memohon dukungan serta doa restu....
Kepada seseorang......kini saatnya aku harus membencimu...thanx 4 all.

Keep Allah in our heart. YAKUSA! Allahu Akbar!!!



Read more ...
Friday, April 04, 2008

Akhirnya...bisa meraih prestasi lagi....


salah satu nta menyanggupi melaksanakan PORSENAF adalah nta pengen PORSENAF tahun ni bener2 terlaksana. Karena nta pengen banget ikut cabang baca puisi.
Alhamdulillah, keinginan itu tercapai dan nta berhasil jadi runner up. Semoga nanti bisa mewakili UNSOED di ajang PEKSIMIDA.
Prestasi ini adalah pertama setelah dua tahun tidak pernah merasakan menang lomba baca puisi. Nta seneng banget....bisa meraih runner up lagi (dua tahun yang lalu juga runner up di jateng. Masih brthan di runner up.he3). Thanx a lot bwt temen2 sianak n teksas,i.e ; maz Budi (thanx banget bwt semangat n advicenya...u r best brother, mbak aul=>sukses y bwt monolognya, pak dodit,pak edon, temen2 teksas, dll. Doain ya kalo nta bisa ikut peksimida bkn mei nanti.........
Read more ...

PEMBENTUKAN KARAKTER MASYARAKAT BILINGUAL MELALUI PENUMBUHAN LINGUISTIC PRIDE BANYUMASAN*)


Oleh : Shinta Ardhiyani Ummi**)

PENDAHULUAN
Bahasa menunjukkan bangsa. Kalimat pepatah ini memberikan kesan kepada kita bahwa sebuah bahasa dapat menjadi tolak ukur penilaian sebuah hal. Salah satu fungsi yang dimiliki bahasa adalah sebagai sebuah identitas baik individu ataupun kelompok masyarakat. Bahasa juga merupakan sebuah sistem atau lebih tepatnya, sekelompok sistem (yaitu sistem bunyi, sistem tata bahasa, sistem makna).

Sebagai sebuah produk budaya, bahasa memiliki berbagai faktor yang mempengaruhi eksistensinya. Salah satunya adalah kebijakan pemerintah. Di Indonesia, ada lembaga yang berkompeten untuk membina dan mengembangkan bahas yaitu Pusat Pembinaan Bahasa. Sebagai salah satu identitas, Indonesia juga menunjukan identitasnya melalui bahasa, yaitu bahasa Indonesia. Kemudian melalui Lembaga Pusat Pembinaan Bahasa, muncul garis kebijakan bahasa seperti:

“ Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah lambing kebulatan semangat kebangsaan Indonesia, alat penyatuan berbagai-bagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang kebahasaan, kebudayaan, dan kesukuannya ke dalam satu masyarakat Indonesia, alat perhubungan antarsuku, antardaerah, dan serta antarbudaya….. Di dalam kedudukannya, bahasa Indonesia adalah bahasa resmi pemerintahan, bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan, alat perhubungan pada tingkat nasional, serta alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.” (Halim, 1980, 17)

Kebijakan ini merupakan sebuah arah pemersatu bangsa yang majemuk. Namun memang ada yang perlu disayangkan dalam implementasinya. Pelaksanaan kebijakan itu hanya semata-mata menekankan pembinaan dan pengembangan bahasa nasional, tanpa secara serius melakukan pembinaan dan pengembangan bahasa-bahasa daerah. Bahasa daerah merupakan kekayaan bangsa yang juga harus dibina dan dikembangkan. Kebijakan yang tidak serius melakukan pembinaan bahasa daerah sehingga lambat laun akan membawa kepunahan bahasa daerah. Hal ini secara tidak langsung merupakan tindak perampasan hak hidup masyarakat pendukung bahasa-bahasa lokal.

Seorang linguis pernah menyatakan bahwa Indonesia tidak memiliki dana dan tenaga yang mencukupi untuk membina dan mengembangkan bahasa-bahasa daerah yang jumlahnya beratus-ratus. Menurutnya pula, membiarkan masyarakat hidup dengan bahasa daerahnya sama saja halnya dengan memelihara mereka dengan memelihara dalam museum hidup. Dalam arti lain itu adalah sebuah upaya pelestarian. Pandangan ini tak berbeda dengan pandangan A.A.Fokker yang sangat tidak berkenan dengan adanya bahasa lain yang mengganggu pertumbuhan bahasa Indonesia. Menurut Fokker dialek-dialek kecil harus hilang dan itu merupakan hukum yang tak tergoyahkan, dan sebagai penjunjung pikiran untuk masyarakat yang lebih luas dialek itu harus melangkah mundur terhadap yang lebih kuat dan lebih maju. Hal ini jelas-jelas tidak bertentangan dengan garis kebijakan yang telah disusun dalam rangka pembinaan dan pengembangan bahasa daerah seperti yang telah dirumuskan berikut :

”Bahasa-bahasa daerah yang masih dipakai sebagai alat perhubungan yang hidup dan dibina oleh masyarakat pemakainya, dihargai dan dipelihara oleh negara. Oleh karena itu bahasa itu adalah bagian daripada kebudayaan yang hidup”.

PEMBAHASAN
Bahasa Banyumasan yang sering disebut dengan istilah ”ngapak-ngapak” merupakan aset budaya Jawa yang memiliki peluang besar untuk dilestarikan baik melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal. Namun, fenomena yang kita lihat pada era kini adalah menurunnya minat masyarakat dalam penggunaan bahasa banyumasan. Dialek Banyumasan dianggap sebagai bahasa kuno yang tidak populer. Padahal tiap personal masyarakat Banyumas sendirilah yang memiliki tanggung jawab dalam pelestarian dialek lokal tersebut.

Dialek Banyumas memiliki kekhususan-kekhususan linguistik yang tidak dimiliki oleh bahsa Jawa standar. Keunggulan itu misalnya dialek dapat menutup kata-katanya dengan bunyi bersuara dan tidak bersuara. Misalnya sendok, endog, angop, abab, dsb. Di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas selain berkembang bahasa Jawa baku—sering disebut dengan istilah bahasa bandhek—juga berkembang bahasa Jawa dialek Banyumas atau bahasa Banyumasan. Bagi masyarakat di daerah ini, bahasa Banyumasan merupakan bahasa ibu yang hadir sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Bahasa Banyumasan diyakini sebagai peninggalan dari bahasa Jawa lama (bahasa Jawa Kuno dan Tengahan) yang masih bisa dijumpai hingga sekarang (Ahmad Tohari,1999). Dengan demikian bahasa Banyumasan dapat digunakan untuk mengintip pertumbuhan bahasa Jawa lama yang berkembang sebelum lahirnya bahasa Jawa baru.

Bahasa Banyumasan memiliki spesifikasi dan/atau ciri-ciri khusus yang dapat dibedakan dengan bahasa Jawa baru (standar). Beberapa ciri khusus tersebut antara lain:
(1) berkembang secara lokal hanya di wilayah sebaran kebudayaan Banyumas;
(2) memiliki karakter lugu dan terbuka;
(3) tidak terdapat banyak gradasi unggah-ungguh;
(4) digunakan sebagai bahasa ibu oleh sebagian besar masyarakat Banyumas;
(5) mendapat pengaruh bahasa Jawa kuno, Jawa tengahan, dan bahasa Sunda;
(6) pengucapan konsonan di akhir kata dibaca dengan jelas (selanjutnya sering disebut ngapak-ngapak), dan
(7) pengucapan vokal a, i, u, e, o dibaca dengan jelas (Yusmanto, 2004-a).

Bahasa Jawa dialek Banyumas terbagi setidaknya menjadi sub dialek, yaitu sub dialek wetan kali (sisi timur sungai) dan sub dialek kulon kali (sisi barat sungai). Sungai yang dimaksud disini adalah sungai Serayu. Sub dialek wetan kali merupakan dialek Banyumasan yang cenderung dekat dengan bahasa Jawa standar yang dikembangkan di wilayah negarigung. Sedangkan dialek kulon kali cenderung dekat dengan bahasa Sunda. Fakta yang paling mudah ditemukan adalah nama-nama desa. Di sisi barat sungai Serayu terdapat begitu banyak desa atau tempat-tempat yang didahului kata “ci” yang dalam bahasa Sunda berarti sungai, seperti Cilongok, Cingebul, Cilacap, Cionje dan lain-lain. Ini berbeda dengan desa-desa atau tempat-tempat di sebelah timur sungai Serayu yang lebih njawani, seperti Karangsalam, Karangrau, Purwareja, Wirasaba, Somagede dan lain-lain. Kenyataan demikian tidak dapat disangkal meskipun nama-nama njawani berkembang lebih meluas hingga sisi barat sungai Serayu. Semua itu terjadi karena sungai Serayu telah menjadi batas terakhir perkembangan kebudayaan Sunda, sementara persebaran kebudayaan Jawa merambah hingga perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Lebih dari itu pada tingkat kelompok-kelompok kecil ternyata juga terdapat perbedaan-perbedaan sub dialek yang tercermin pada pilihan kosa kata, intonasi, dan gaya bahasa. Di wilayah kulon kali, terdapat banyak sub dialek seperti yang terdapat di wilayah Kalibagor hingga Purwokerto yang berbeda dengan Karanglewas dan Cilongok. Hal ini berbeda dengan yang terdapat di Ajibarang hingga Lumbir. Semakin ke arah barat, semakin kental pula warna Sundanya. Namun justru ada kekhususan, di daerah Wanareja dan sekitarnya justru banyak digunakan bahasa Jawa bandhek (standar) untuk komunikasi sehari-hari. Hal tersebut terjadi karena di wilayah Wanareja dihuni oleh orang-orang dari Wetan (wilayah Blora, Pati, Klaten dan lainnya) bekas narapidana Nusakambangan pada masa penjajahan Belanda yang tidak pulang ke daerahnya. Artinya, sejak lama di wilayah Wanareja justru telah dihuni oleh masyarakat multietnis yang memungkinkan terciptanya sub kebudayaan tersendiri di dalam konteks kebudayaan Banyumas secara keseluruhan.

Dari fakta-fakta diatas kita dapat menyimpulkan bahwa kebudayaan Banyumas dibentuk dari kebudayaan yang heterogen. Identitas kebudayaan Banyumas justru dibangun dari berbagai komunitas masyarakat yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil di wilayah Banyumas. Hal ini sangat bisa dipahami karena pada dasarnya identitas budaya dibangun oleh individu-individu sejauh dia dipengaruhi oleh tanggung jawabnya terhadap sebuah kelompok atau kebudayaan (Wikipedia,2006). Karakter individu memiliki peranan yang cukup besar di sini. Karakteristik individu berakar pada identitas dasar yang dibawa semenjak lahir dan merupakan suatu anugerah yang tidak bisa dihindari. Identitas dasar itulah yang kemudian membentuk “keakuan” dan membedakannya dengan yang lain (Ubid Abdillah S., 2002:12). Karakteristik individu pada orang per orang yang mendiami wilayah Banyumas kemudian disatukan oleh perasaan kebersamaan.

Perasaan kebersamaan diwujudkan melalui berbagai cara dan ekspresi seperti yang tampak pada bahasa dan kesenian-kesenian tertentu yang berkembang meluas di seantero Banyumas. Bahwa bahasa dialek Banyumasan dengan sub-sub dialeknya merupakan ekspresi perasaan kebersamaan kaum panginyongan (Ahmad Tohari, 2006) di tengah hegemoni kebudayaan kraton Jawa. Adanya perasaan kebersamaan ini kemudian terbentuk suatu sistem kebudayaan; kebudayaan Banyumas.

Menurunnya pelestarian dialek banyumasan dengan kata lain dapat diindikasikan terjadi adanya degradasi perasaan kebersamaan yang telah menjadi sebuah tali pengikat. Menurut kajian teori dan analisis sosiolinguistik, ada berbagai sebab atau alasan mengapa suatu bahasa punah atau tidak digunakan lagi oleh penutur-penuturnya. Satu diantaranya adalah adanya dominasi bahasa atau dialek yang lebih besar baik secara demografis, ekonomis, soSial, atau politis. Dalam konteks kasus bahasa banyumasan, selain bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, tekanan dari bahasa Jawa juga merupakan salah satu faktornya. Banyumasan merupakan subbahasa yang kemudian mendapatkan pengaruh dari berbagai dialek disekitarnya seperti telah diuraikan diatas mengenai adanya sub-sub dialek Banyumasan.

Pemertahanan bahasa Banyumas dapat dilakukan melalui kebijakan pembinaan bahasa Jawa yang memberi peluang sebesar-besarnya bagi para penuturnya untuk menggunakan dialek Banyumasan sehingga dialek ini bisa menjadi alat komunikasi yang utama di lingkunan keluarga dan masyarakat dalam mengembangkan budaya lokalnya. Hal yang tidak kalah penting dalam sebuah pemeliharaan sebuah bahasa adalah pembentukan linguistic pride (kebanggaan berbahasa) yaitu penumbuhan rasa bangga dalam diri penutur-penutur dialek Banyumas untuk menggunakan bahasanya.

Kadar kebanggaan berdialek Banyumas apabila diukur di era kini,dapat dikatakan mengalami kecenderungan menurun. Banyak yang berpendapat bahwa pengajaran bahasa Banyumas justru akan mengganggu usaha anak dalam menguasai bahasa Indonesia. Sebagai akibatnya generasi muda tidak lagi mehir menggunakan bahasa ibunya, atau karena prestise beralih ke bahasa jawa standar, dialek Solo-Yogya. Pandangan ini sangat keliru.

Sampai sejauh ini belum ada bukti yang manguatkan bahwa pembelajaran dua bahasa atau lebih dapat menimbulkan gangguan. Pada dasarnya setiap orang juga memiliki kemampuan menguasai bahasa pertama dan bahasa lain setelah bahas pertama. Orang-orang bilingual- yang menguasai lebih dari satu bahasa- justru memiliki banyak keuntungan. Mereka dapat melihat sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda, bahkan bertentangan sehingga dapat lebih toleran menghadapi perbedaan-perbedaan yang muncul.

Jadi dalam pembelajaran bahasa, kita tak bisa menerapkan sikap yang “hitam-putih” bahwa munculnya satu bahasa akan mendominasi bahasa lain. Hal yang perlu ditekankan adalah positioning dari penggunaan bahasa tersebut. Belajar bahasa Banyumas bukan berarti kemudian kita lupa terhadap bahasa Indonesia dan dalam kesehariannya full Banyumasan. Namun sebagai kebanggaan serta komunikasi antar penduduk lokal, penggunaan dialek Banyumasan merupakan taste tersendiri dalam sebuah interaksi.

PENUTUP
Dialek Banyumas merupakan aset budaya yang harus kita pertahankan dan lestarikan. Pemertahanan bahasa melalui penumbuhan linguistic pride merupakan cara yang ampuh dalam pemertahanan bahasa. Dengan tetap menghormati bahasa nasional serta bahasa jawa standar, maka akan tumbuh masyarakat bilingual di Banyumas yang mampu memiliki sikap toleransi yang lebih disbanding masyarakat monolingual. Sikap ini sangat diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang didasarkan atas kemajemukan dan juga dalam interaksi dengan bangsa-bangsa lain dalam era globalisasi. Sebuah kutipan berikut patut kita simak :
“ To this one might add the observable advantages of bilinguals or multilinguals who are more used to switching touht paterns and have more flexible minds. Being familiar with different , often contradictory concepts, they are more tolerant than monolinguals, and more capable of understanding different sides of problem.” (de Cuellar, 1996, 179).





Read more ...

PORSENAF UNSOED ’08 : “Yours Colur is Our Pride”



Selama kurang lebih dua pekan ini kampus perjuangan Jendral Soedirman tampak meriah. Ada perhelatan yang sedang diadakan disana, PORSENAF ’08 , Pekan Olahraga dan Seni Antar Fakultas.

Hari ini tepatnya hari ke -8 PORSENAF ’08. Nta masih inget sms dari PR III yang meminta kesediaan nta untuk melaksanakan PORSENAF. Nta bingung, terus terang ini adalah sesuatu yang membingungkan. Mekanismenya saja sudah salah. Permasalahan organisasi mahasiswa di tingkatan universitas menjadikan masalah ini menjadi kabur.

Status nta waktu itu masih jadi sekretaris umum BEM UNSOED. Birokrat hingga detik itu belum mengakui adanya BEM U dengan berbagai alasan.

Nta diminta melaksanakan PORSENAF itu atas nama personal, bukan atas nama BEM U. Bersama mas Fauzan dan mas Surya. Kebetulan mas Fauzan itu dari FORMAKAF dan Surya dari FKUU.

Saat menerima permintaan itu, nta menyampaikannya kepada mas Begs (presiden BEM UNSOED). Dalam pikiran nta, kenapa tidak BEM saja yang menghandle acara ini. Nta rasa ini peluang, bukan sekedar peluang untuk mendapatkan legalitas, tapi juga peluang untuk melakukan ”kerja nyata” pada mahasiswa. Mas Begs waktu itu ngomong :” jangan buru-buru ambil keputusan, ada yang menarik, bisa jadi ini skenario”.

Nta bingung (sebenarnya sieh sok bingung aja..he3). Nta ngerti permasalahan antara BEM dan birokrat tapi nta gak setuju kalo digeneralisir kita menolak rapat ke birokrat. Kita kan organisasi intra kampus, bukan organisasi independen.

Sore itu langsung diadakan pleno BEM U (gak pleno sieh sebenarnya...soalnya yang dateng ya Cuma itu2 aja). Nta mencoba menwarkan PORSENAF pada BEM U, walaupun yang diminta oleh PR III adalah nta secara personal bukan BEM U. Tapi ternyata temen-temen BEM U menolak. Alasannya banyak...(nta gak inget banget), yang nta inget adalah bahwa BEM U menolak untuk merapat ke birokrat. Jujur, itu nta anggap sebagai awal mula nta mulai agak ”kontra” ke temen-temen BEM U. Apalagi ketika itu ada yang ngomonong ” ya...itu adalah ujian buat kita”. Deuh..jujur nta nggak habis pikir dengan jalan pikiran mereka yang ”cupu”.

Ya, kalo ini emang skenario, kita juga jangan selalu bermain dalam ”asumsi” donkz!!!, harusnya kita bisa juga melawan ”skenario”itu. Jujur, nta gk punya asumsi atau kepentingan apa-apa. Nta berbicara dan bersedia untuk menghandle PORSENAF atas nama nta sebagai mahasiswa dan orang yang sedikit punya sense of art. Nta masuk ke UNSOED bukan hanya ingin kliah tapi juga mengembangkan potensi, salah satunya minat dan bakat di bidang seni. Nta butuh wadah-wadah speerti PORSENAF untuk mengapresiasikan diri.

Yach...akhirnya ide nta untuk mengajak BEM U menghandle PORSENAF gak terealisaskan. Tapi nta jalan terus untuk melaksanakan PORSENAF ini.

Kalau ditanya siapa aja yang ada dibalik PORSENAF UNSOED. Bisa dihitung dengan jari. Yang inti sieh sebenarnya dua orang, nta n mas fauzan. Tentunya kemudian dibantu sama teman-teman lain dan panitia-panitia kecil di tingkatan UKM.

Dua puluh tujuh maret, pembukaan PORSENAF UNSOED ’08 dilaksanakan. Nta masih inget kata-kata mas Fauzan mengenai keyakinan aan berjalannya PORSENAF UNSOED. Lepas dari siapa itu fauzan....

Yeah..sekarang bisa dibilang kos-an kayak sekre PORSENAF, sekretarisnya nta n bendaharanya juga temen satu kos. Jadi kalo malem kita rapat sendiri.

Tapi nta bener-bener ngerasain bisa menyatu banget sama mahasiswa saat menjadi panitia porsenaf ini. Nta ngliat temen-temen yang tadinya terlihat ”apatis” kini mau turun demi membela nama almamaternya. Nta berfikir seandainya kita bisa merangkul danmengarahkan potensi temen-temen itu, gak ada lagi yang namanya demo ”krisis kader”. Yeah..pelan-pelan semua bisa ta!!!banyak sekali memang ujian dan cobaan. Yang penting cobalah bijak dengan melihat sesuatu dari banyak sudut pandang, kalo dulu kata pemateri di LKII berfikirlah secara lateral.

Perjuangan ini masih panjang, kerikil tajam masih banyak, tetap istiqomah dan perkuat azam. YAKUSA!!!



Read more ...

SEMANGAT INDIE DARI BUMI SATRIA


(Purwokerto) Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, manusia mati meninggalkan karya. Apa yang akan kita wariskan pada dunia ini? Karya merupakan sumbangsih dalam hidup kita, dengan berkarya maka disitulah kita menunjukan eksistensi diri. Semangat berkarya, frasa itulah yang kemudian menjadi motivasi dasar dan perbincangan hangat malam itu, Kamis (13/03) kemarin pada acara launching dan bedah buku indie yang diselenggarakan oleh komunitas teater kampus sastra UNSOED.

Acara yang dihadiri oleh sejumlah penggiat seni di kota Purwokerto itu berlangsung cukup meriah. Bertempat di ruang teater (hall) kampus jurusan Ilmu Budaya ISIP UNSOED, pada acara itu diluncurkan dua buku antologi puisi dan cerpen yang ditulis oleh Ryan Rachman dan Dwiana Jati Setiaji.

Dua buku yang dihasilkan oleh dua mahasiswa ini merupakan bagian kecil dan salah satu dari sekian juta gebrakan karya indie. Karya indie merupakan sebuah hal yang cukup populer di kalangan anak muda. Mulai dari musik indie, film indie, hingga karya-karya lain. Munculnya budaya indie memang bukan suatu hal yang baru. Puncak dari gerakan indie saat itu adalah terselenggaranya Woodstock di tahun 1969, sebuah konser musik paling legendaris dalam sejarah umat manusia saat ini. Jiwa indie dipengaruhi oleh semangat untuk mendobrak kekuatan mayor label yang dianggap menghalangi kreatifitas.
Budaya dan hiburan memang merupakan inkoorporasi perusahaan yang dijiwai motiv ekonomi. Suicide is solution! Begitu salah satu judul lagu dari judisprice yang menumbuhkan semangat ”Do it Your Self”, sebuah semangat yang menjjadi ruh gerakan pemnberontakan pada kekuatan mayor label yang dianggap menghalangi kreattivitas.

Pembahasan karya indie menjadi topic yang hangat malam itu. Acara yang dibagi menjadi empat session diskusi dan empat session pembacaan puisi itu berlangsung meriah. Selain kedua penulis karya indie itu, hadir juga sebagai pembedah buku serta pebicarai Alif. V.Essesi dan M.Ayatullah, dan moderator Shinta A.U. Pembedah serta pembicara yang dihadirkan merupakan dua tokoh yang namanya sudah tak asing lagi di dunia teater Purwkerto.

Dalam diskusi malam hari itu juga membahas bagaimana membuat sebuah karya indie. Semangat yang kuat memang terlihat dari karya-karya indie. Semangat untuk berkarya dan terus berkarya, karena hidup ini adalah untuk berkarya. (nta)


Read more ...

Om, Pakdhe, Mbah kami............... In Memoriam


Beliau putra keempat dari tujuh bersaudara. Aku memanggilnya pakdhe Udin karena papa merupakan adik dari beliau. Om dink, demikian para sanak saudara yang lain memanggilnya. Buat yang ada di generasi ketiga (Nta itu generasi kedua) Keluarga Besar Djahrie, memanggil beliau dengan sebutan ”Mbah Dink”.
Dua puluh Maret dua ribu delapan pukul 07.30 kemarin, pakdhe, om, dan kakek kami tercinta tutup usia di RS. St.Corelius (bener nggak tulisannya???nta lupa..........., pokokna yang di Salemba itu deh...).

Sosok pakdhe di mata nta adalah seorang yang ulet. Beliau adalah seorang workaholic, pekerja keras. Itu juga yang diakui oleh rekan-rekan sekantornya pada saat takziyah kemarin. Pakdhe adalah orang yang tak pernah absen kerja dengan alasan sakit. Nta juga masih ingat waktu itu, masih pagi-pagi betul pakdhe udah nyampe di rumah budhe Ti di Minyak Raya untuk urusan bisnis. Padahal pakdhe tinggal di kebun kopi, jaktim (eh tp waktu itu kl gk dr kebun kopi ya dari di Matraman rumahnya yang satu lagi).
Pesan yang selalu diberikan ke nta adalah ”Harus jadi orang....” (emang gw setan????he3). Ya...beberapa hal yang bisa diteladani adalah keuletan dan kegigihan beliau. Semua itu pakdhe lakukan untuk putra-putrinya tercinta. Tiga orang arjuna dan satu orang srikandi. Kasih sayang yang diberikan pada keempat permata-nya itu sungguh tiada terkira.

Mas Eko, putra sulungnya. Walaupun di usia yang seharusnya dia sudah menjadi sosok yang berdikari, masih terlihat bagaimana mas Eko belum bisa dipisahkan dari sang pakdhe. Bukan masalah manja, namun begitu kuatnya kasih sayang pakdhe kepada beliau. Kini, mas Eko harus sudah menjadi laki-laki dewasa, yang menggantikan pakdhe untuk mengayomi adik-adiknya.

Mas Kiki, sosok pendiam berkacamata tebal ini tak luput dari hujanan kasih sayang pakdhe. Nta tau persis bagaimana pakdhe sangat berusaha keras untuk pendidikan dan apa yang diinginkan oleh salah satu permata ini. Eh, mas Kiki ini juga orang yang asik diajak ngobrol walaupun keliatan pendiem banget. Yang nta inget banget tuh, disaat kita-kita lagi berenang, mas Kiki lah yang bersedia untuk menjadi penjaga barang-barang kita n jadi fotografer (kesannya jahat sieh...tp suer...mas Kiki itu baek banget, he3).


Mas Prinono
. Makhluk yang satu ini emang yang paling jarang nongol. Terlalu asyik dengan dunianya sendiri kali ya???!!! Maz yang satu ini jago design grafis, dulu pernah gawe di salah satu prodution house (duh...nta lagi-lagi lupa namanya). Eh, tp maz Prie ni orang yang asyik n agak ”bocor” he3. Keliatannya aja pendiem. Tp, sumpeh dah, kl udah ngobrol, diajak ”bocor” juga yuk mari.... Lebaran kemaren nggak dateng sieh!! Kalo lebaran sebelumnya sieh sempet dateng, malah kita sesama generasi kedua ngobrol di deket box wartel...inget nggak???malah sempet ngobrolin tentang laundry..yang ngocol abiz itu??? Yang mbak iwik malah ngomong ” Loe shin, kepala dikerudungin, mikirnya gituan juga...he3”. Inget nggak mas prie??? (Kalo udah lupa juga gpp, tp yang pasti nta masih inget raut canda tawa n renyahnya tawa kita ...)

Dhe Nita. Nie dia sepupuku dari pakdhe Udin yang gw sayang. Yach...secara dia tuh cewek sendiri diantara tiga kakak cowok-nya itu. Nta menaruh harapan besar sama dia. Kapan kita sharing2 lagi non??? Jaga diri ati-ati ya... Pokoknya..kita semua sayang kamu. Nta sayang semuanya.................mmuachh............!!!!!



Read more ...

Dua Pesta


“ Huui..nie diena, jd ikut nggak??”

Sebuah pesan singkat singgah di ponselku di sela-sela kesibukan siang itu. Dari keponakan. Si diena emang lumayan deket sama nta. Curhatanna macem2, dari urusan cowok sampe urusan bonyok. Yups, tanggal 21 kemaren mang ada akad nikah salah satu sepupu.Si Diena mengharap nta bwt nginep di rumahnya selama di jkt . Dari satu bulan sebelumnya udah di-prepare sieh. Tapi...blm pasti juga mau datang or nggak. Nelpon ke rumah juga katanya gk ada yg sempet dateng. Hubungi mas Ardan, eh kakakquw terchayank nie ternyata lg mid exam.
Jadi males juga dateng. Pengen menghabiskan long week end di kos-an tercinta (wuuek…)
Hari Kamis pagi kutelpon rumah, kupastikan mo dateng nggak nieh ke srengseng. Ternyta jawabannya cukup melegakan “ Udah, gk usah dateng juga gpp, ntar ada mas Ardan nie yang dateng”. Yeah…untuk sekali ini harus minta maaf sama dhe’ dhina. Maaf ya chayank….besok2 kita curhat n maen2 bareng lagi.
Masih di hari Kamis, kira-kira jam sepuluh pagi (4 jam setelah nta nelpon ke rumah), eh gentian papa yang nelpon ke kos. Nta disuruh buru-buru balik. Sebuah kabar duka datang, pakdhe meninggal dunia. Hampir-hampir nggak percaya sieh. Soalnya ya itu masih kepikirannya di keluarga besar memang lagi ”nduwe gawe”
Yups, alhasil, hari itu, di keluarga besar, ada dua perhelatan besar, dua pesta, pernikahan dan kematian.
Sebuah pelajaran juga, ajal itu tidak melihat tanggal. Semua datang dengan skenario dariNya. Bisa kapan saja. Sebuah pelajaran bagi pribadi untuk senantiasa merefleksi diri untuk senantiasa membekali diri menghadapi pengadilan abadi nanti.

Read more ...

Otak Diatas Normal





Hari ini, otak gw diatas normal. Tau deh, semua keliatan butek-butek cerah (maksudnye???). Setelah menghabiskan long week end bareng keluarga, tiba saatnya buat balik ke koz.
Siang tadi bobo siang. Kayaknya gara2 bobo siang itu deh. Biz maghrib, rapat kos2an gw juga gelo. Ditambah biz itu si Fauzan bareng Ade dateng ngasih tugas2 panitia. Biz itu dengerin musik...kyak ada rasa gimana gitu... nta akhirna sms2 orang gk jelas deh.
Biz itu ngebuka laptop vera, Seli ngajakin nonton (tp masa mo nonton AAC lagi??? Eneg ah..liat tuh film!!!). Yach...kupelajari aja proposal bisnis dari seorang abang..... Agak ”lurus” dikit abiz itu. Agak konsen mikirin bisnis yang nta sendiri agak bingung n nggak yakin.
Tapi biz di-sms ”ya..besok di call...”
Udah deh...balik ”miring” lagi otakku.he3. nieh lagi ngetik tulisan-tulisan curahan isi hatiku (ceile...)

Read more ...
Saturday, February 23, 2008

renovasi blog, KAPAN???


deuh...kalo temen2 pada nengokin blog trus nta kunjungan balik jadi iri..pengen "ngerenovasi" nieh blog.
Udah lama banget pengen nta tambahin read more, ubah html, ubah wallpaper (tp ttp pink duonkz),
Tapi...apa daya...blom ada waktu n kesempatan..
Kalo ke warnet pagi-pagi...itu pun kalo gk ada kuliah or agenda rapat pagi...
Tapi yang pasti tiap hari disempetin bwt nengok email n tau perkembangan berita terbaru.
Jadi...ya beginilah blog nta...emang nta banget.... cuek dan apa adanya...he3
kadang jg bingun liat isinya...dari yang berat2 kayak politik or filsafat sampe yang picisan kayak puisi cengeng juga ada... bahkan lirik2 lagu favorit juga ada...
Gk tau deh...suatu saat...kalo tabungan ni udah penuh bakal nta beli laptop biar bisa hotspot-an. Amien.

Eh, tapi wlpn nta gk update blog, tp nta seneng bantuin temen2 yang pengen belajar bwt blog. Malah sekarang ada bbrapa dari mereka yang blog-nya lebih eye-catching dibanding blog nta ini. Ya..syukur deh!!!

Yang penting, tetep semangat!!!
YAKUSA!!


Read more ...

Pagi...........!!!!!


Pagi ini,, entah kenapa aku jadi teringat sesuatu. Sesuatu yang apabila teringat hanya akan membuat sesak di dada. Seakan bernotasi, sembilu itu memunculkan perih lagi.
Rabbi, jengkal demi jengkal untaian hidup yang Kau berikan in begitu berwarna. Entah dimana ujung pangkalnya.
Rabbi, entah kau meRidhoi atau tidak, itu sepenuhnya prerogatifmu. Aku belum mengerti dan entah kapan aku sampai pada pengertian yang abadi.
Milyaran neuron ini terus berputar.... terkadang aku merasa lelah.
Tapi aku sadar Rabbi, aku tak boleh mengeluh...
Semua hanya-lah skenario yang harus dipentaskan dengan striping yang sungguh tak terduga.
Rabbi, salahkah aku jika siluet itu terus terbayang??
Aku juga tak ingin mengindahkan...namun teramat susah....
Memikirkannya memang membuang energi...........namun untuk melupakannya ternyata sangat menguras energi yang sama banyaknya....lalu aku harus bagaimana???
Apakah benar keputusan yang aku ambil...dengan ”penyiksaan yang manis” ini??
La khawla wala quwata illabiLlah...



Read more ...

Testimonial Tentang Sidang Paripurna Interpelasi BLBI

ni beberapa testimonial ttg sidang paripurna kemaren...gk tau kenapa trnyta ke-copy di flashdisk....waktu mo didelete...aq ragu ap di har disk mash ada or gak...jd q coba posting aja deh...
gak tau sampe saat ini nasibnya udah kemuat belum... (aq tuh suka kirimin tulisan ke koran tapi gk pernah beli korannya.he3



INTERPELASI BLBI, PERTANYAAN ATAU JEBAKAN?


Ketidakhadiran SBY pada sidang paripurna membahas interpelasi kasus BLBI rupanya menjadikan anggota dewan menjadi reaksioner dan sidang menjadi lebih diwarnai hujanan interupsi bahkan beberapa ada yang melakukan walkout. Berbagai macam asumsi pun muncul mengenai hal ini. Presiden dianggap tidak serius, presiden dianggap cuci tangan, dan lain-lain. Sebuah fragmen yang lagi-lagi membingungkan masyarakat yang kembali disuguhkan “pertengkaran” antar lembaga pemerintahan.

Pada saat sidang paripurna berlangsung, Presiden menggunakan waktu “bolos”nya itu untuk menyambut Duta Besar-Duta Besar yang hadir dari negeri seberang. Jika kenyataannya seperti ini, maka sebenarnya ada hal yang cukup menjadi tanda tanya, yaitu mengenai penetapan waktu sidang paripurna.

Tentunya kesepakatan pelaksanaan sidang paripurna tidak bisa diputuskan sepihak. Adanya undangan interpelasi yang dilayangkan pada tanggal 1 Februari tentunya merupakan sebuah upaya koordinasi. Tentunya pula pada saat itu, agenda presiden bisa dilihat apakah ada agenda penting di tanggal 12 Februari – berdasrkan rencana sidang dari DPR-. Presiden toh bukan orang yang kegiatannya ”tak teragendakan”. Seharusnya bisa dilihat apakah penentuan tanggal 12 Februari itu bentrok atau tidak. Jika bentrok seharusnya bisa dibicarakan lagi kapan waktu yang tepat.

Kalau memang DPR beritikad baik dalam penyelesaian kasus BLBI – dengan penggunaan hak interpelasi ini- maka yang seharusnya menjadi orientasi adalah presiden –sebagai lembaga eksekutif- dapat hadir dan duduk bersama. Kalau idealnya seperti itu yang diinginkan, tentunya bisa dilakukan konfirmasi sebelumnya antar dua pihak apakah sepakat pada waktu yang ditentukan itu atau tidak.

Lain lagi persoalannya kalau kasus BLBI ini dijadikan umpan untuk kepentingan tertentu. Justru akan senang jika presiden tak dapat hadir dan kemudian memunculkan image ketidakseriusan Presiden. Ini bisa diartikan bahwa interpelasi bukan semata-mata pertanyaan dan upaya penanganan kasus BLBI, namun juga menjadi tunggangan politik. Apalagi pencuatan kasus ini seolah sengaja di waktu-waktu menjelang pemilu 2009. ini memang peluang besar untuk merintangi langkah SBY untuk maju di 2009 nanti. Isu kasus BLBI dapat menjadi isu yang dapat menarik simpati rakyat, apalagi jika yang dibesar-besarkan adalah ketidakhadiran presiden yang diartikan sebagai ketidakseriusan pemerintah. Isu-isu seperti ini sama menariknya dengan isu-isu korupsi, HAM, yang merupakan isu-isu yang seksi untuk politikus yang ingin mengumpulkan simpati.

Maka esensi interpelasi sebagai upaya penanganan kasus BLBI hanyalah suatu yang kabur antara itikad baik dengan politik kekuasaan. Jika hal-hal seperti ini yang terus dipertahankan dan dilestarikan oleh lembaga-lembaga pemerintah, maka bersiaplah untuk pembangunan bangsa yang jalan di tempat.

SIDANG PARIPURNA “KOSONG”

Kasus BLBI yang masih mengakar rupanya membuat DPR melakukan hak interpelasi kepada pemerintah. Namun, Presiden SBY ternyata berhalangan untuk hadir pada sidang paripurna dan kemudian jawaban atas pertanyaan seputar kasus BLBI dibuat secara tertulis dan disampaikan oleh para menteri. Ketidakhadiran presiden pada sidang paripurna interpelasi kasus BLBI kemarin ternyata membuat “kericuhan” tersendiri pada sidang paripurna kemarin. Dari alokasi waktu sekitar 4,5jam untuk sidang paripurna, sekitar 3 jam diantaranya hanya digunakan untuk melakukan interupsi dan perdebatan mengenai absen Presiden. Mayoritas anggota dewan menuntut kehadiran Presiden saat paripurna dan SBY dianggap tidak serius dalam menangani kasus BLBI dengan absen tersebut.
Secara aturan, SBY tidak melakukan kesalahan. Dalam undang-undang juga telah dijelaskan bahwa jawaban atas interpelasi dapat diwakilkan pada menteri. Pendelegasian itu sempat mendapat anggapan bahwa presiden telah melecehkan dewan legislatif karena kedudukan DPR sama dengan Presiden. Ini sebuah lelucon tentang strata jabatan. Seolah-olah DPR gengsi jika harus menerima menteri karena menteri adalah pembantu presiden. Walaupun secara konstitusi memang seperti itu, namun hubungan yang dibangun dengan sebuah ego tidak akan memberikan hasil yang baik. Menteri adalah bagian dari pemerintah. Maka tak ada perbedaan yang substansial ketika menteri atau presiden yang menghadiri sidang paripurna tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa DPR tidak dapat berprioritas pada hal-hal yang substansial. Kalau ada penilaian dari dewan bahwa Presiden memberikan jawaban interpelasi hanya jawaban-jawaban normatif, maka sikap-sikap anggota dewan dalam menanggapi absen presiden juga merupakan sikap yang normatif belaka. Substansi dari interpelasi juga menjadi sedikit terabaikan. Lagi-lagi pemborosan saja yang bisa dilakukan para anggota dewan. Sudah boros waktu, biaya, tenaga, hanya besar teriak saja. Kemudian apa yang menjadi ending? Sidang memutuskan untuk melakukan interpelasi BLBI jilid II karena untuk mendalami jawaban pemerintah alenia per alenia. Apakah jika SBY saat itu hadir akan membuat suatu hal yang lebih baik. Pemikiran Anggota Dewan lebih disibukan pada hal-hal yang kurang penting seperti absen presiden ketimbang mengenai penyelesaian kasus BLBI seperti tujuan awal dari penggunaan hak interpelasi mereka.
Kalau SBY dianggap tidak serius dalam menangani kasus BLBI ini, sekarang, siapa apakah DPR serius dengan kenyataan yang terlihat jelas pada sidang paripurna kemarin? Kalau memang serius, seharusnya bisa memilah dan dewasa dalam menyikapi sebuah keadaan. Proses memang sangat diutamakan, tapi bukan proses “pemborosan” yang senantiasa menjadi hobi para anggota dewan tersebut.
Harapan yang muncul, semoga Di sidang jilid II nanti, diharapkan lebih arif dan dewasa dan jernih dalam melaksanakan sidang interpelasi tersebut. Senantiasa eling pada tujuan awal.

”BERSAMA” VERSI SBY

Slogan “Bersama Kita Bisa” yang diusung SBY rupanya memiliki makna ambigu jika disandingkan dengan ketidakhadiran beliau pada sidang paripurna interpelasi kasus BLBI 12 Februari kemarin. SBY dipertanyakan ”kebersamaannya” dalam menangani kasus BLBI ini.

Sebelum membahas tentang bersama atau tidak bersama, ada baiknya kita tilik dahulu apa alasan yang menjadikan SBY tidak hadir pada sidang paripurna. Bertepatan waktunya dengan sidang tersebut, presiden memiliki agenda untuk menyambut Duta Besar Thailan Akrasid Amatayakul dan Dubes kuwait Faisal Sulaiman Ali Musaileem.

Kalau DPR punya hak interpelasi, presiden juga memiliki hak untuk hadir atau tidak hadir pada sidang tersebut. Apalagi jika memang ada alasan yang jelas. Namun, yang terjadi berbagai tudingan negatif meluncur sebagai reaksi dari ketidakhairan presiden SBY. Ada anggapan presiden cuci tangan kasus, ketidakseriusan, kemangkiran, dan tudingan-tudingan lain.

Namun sebenarnya inilah yang dimaksudkan dengan ”bersama” oleh SBY. Saat semua bersama melakukan tugas masing-masing, tidak ada ketimpangan fokus yang terkadang cenderung mendramatisir. Ketika bersama, presiden menyambut dubes, menteri menghadiri sidang, dan elemen turut sinergis dengan tugas dan wewenangnya masing-masing.

Tergulingnya rezim orde baru memang menjadikan suasana politik berubah drastis. Kalau dulu sangat ”adem ayem”, nampaknya seperti ingin meluapkan sesuatu yang terpendam, di era reformasi ini menjadi ”agresif” untuk bereaksi atas segala hal yang terjadi. Dinamika yang terjadi sangat fluktuatif. Anggota dewan sudah over kritis hingga terkadang tak mengindahkan nilai-nilai substansial. Namun, ini bukanlah kondisi yang patut untuk dipertahankan. Kalau dulu sudah adem ayem dan kemudian menjadi beringas, maka sudah saatnya kini kita menjadi sedikit lebih cerdas.

Pada kasus BLBI ini, hal substansial yang ada yaitu bahwa dapat terfomulasikan sebuah hal yang solutif pada kasus yang sudah menjadi “stok lama” yang diwariskan pemerintah terdahulu. Kalau hal-hal semisal ketidakhadiran menjadi sebuah hal yang dibesarkan atau bahkan sengaja dibesarkan demi kepentingan tertentu, maka pada hakikatnya negara ini masih berjalan ditempat, tidak ada sikap progresif dalam membangun Indonesia.

Maka sekarang, kembalilah “Bersama Kita Bisa”. Ini bukan sebuah jargon atau kalimat kampanye, namun izinkanlah sejenak politik kita menjadi positif dengan dilandasi niat untuk membawa Indonesia pada kondisi yang lebih baik. Sudah lebih dari cukup hal-hal terdahulu menjadi pelajaran dan bahan refleksi pada arah kemajuan bangsa.




Read more ...

Peringatan Milad di Jakarta Media Centre



oleh : Trisno Suhito

Jakarta- Peringatan Milad HMI ke-61 tingkat nasional digelar di Jakarta Media Center (JMC), Jln. Kebon Sirih No.32, Jakarta Pusat, Sabtu (23/2) besok. Kepastian tempat ini didapatkan panitia pelaksana Milad, setelah melakukan konfirmasi ke Masjid Al Azhar, Jakarta, yang sebelumnya direncanakan menjadi tempat peringatan Milad.



Ketua Panitia Pelaksana Milad HMI ke-61, Abdul Gofar Ismail (18/1) menyatakan, Masjid Al Azhar saat ini masih dalam renovasi dan tidak bisa digunakan untuk menggelar acara. Oleh karena itu, pihaknya memutuskan untuk menggunakan JMC sebagai tempat peringatan Milad. “Peringatan Milad HMI sudah pasti di Gedung JMC. Kami mengundang seluruh kader dan alumni untuk datang pada acara ini,” ujar Gofar



Ia menjelaskan, peringatan Milad HMI juga mengundang berbagai tokoh nasional, Gubernur Jakarta Fauzi Bowo, Walikota Jakarta Timur, tokoh masyarakat, serta elemen-elemen gerakan mahasiswa dan gerakan sosial di Indonesia. Peringatan Milad akan dimulai pukul 10.00 WIB dan diisi dengan beberapa rangkaian acara dari pagi sampai sore hari. Diantaranya adalah, sambutan dan orasi politik dari Ketua Umum PB HMI Syahrul E Dasopang, sambutan Menteri Kehutanan RI yang juga alumni HMI Dr H MS Ka’ban SE Msi, Gelar Budaya Anak Bangsa dan penganugerahan HMI Award.



“Menteri Kehutanan Kanda MS Ka’aban sudah menyatakan bisa hadir untuk memberi sambutan. Sementara untuk HMI Award pasti akan dilaksanakan dengan mengundang orang-orang yang akan menerima penghargaan,” terang Gofar. Untuk Gelar Budaya Anak Bangsa, acara diisi dengan pementasan teater kader-kader HMI dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) serta dari Teater ‘Terompah’ Universitas Islam Jakarta (UIJ). “Ada juga pembacaan puisi dari komunitas anak-anak jalanan Cikini yang kita undang pada peringatan Milad besok,” ujar Gofar.



Lebih lanjut dijelaskan, setelah pemberian HMI Award, rangkaian peringatan Milad akan diisi Seminar Keumatan dengan tema ‘Menegakan Kedaulatan Politik Ekonomi Menuju Kemandirian Bangsa’. Seminar akan diisi oleh Anies Baswedan (Rektor Paramadina), Rama Pratama (Anggota DPR RI), Yusuf Sutanto (Penulis Buku Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban) serta Farouq Al Awiyin. “Untuk memeriahkan peringatan Milad HMI ke 61, kami sekali lagi mengundang seluruh alumni dan kader HMI datang Sabtu besok di JMC,” harap Gofar.

Read more ...
Thursday, February 14, 2008

Link Enforcement Sebagai Upaya Pembinaan Kader




Wonosobo – Esensi HMI sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan merupakan suatu hal yang perlu kita perhatikan. Perkaderan memiliki point penting bagi berlangsungnya organisasi yang kini sudah menginjak usia lebih dari separuh abad ini. Pembinaan kader dapat dilakukan melalui berbagai upaya salah satunya dengan penguatan jaringan antar cabang yang diharapkan dapat menjadi wadah untuk saling “gendhu-gendhu rasa”. Kiranya hal itulah yang menjadi bahasan hangat para kader ex-LK II ke-XIV Semarang yang melakukan follow-up hari Selasa (12/2) lalu di kawasan obyek wisata Dieng, Wonosobo.

Dengan diliputi udara yang lumayan dingin, sejumlah 16 kader dari 21 kader yang seharusnya hadir, tampak antusias mengikuti diskusi “gendhu-gendhu rasa kader” siang itu. Dipandu oleh M.Yusuf- ketua cabang HMI Semarang- yang juga tim pemandu pada saat LK II XIV, siang itu masing-masing kader mencoba menganalisa kondisi HMI di masing-masing cabang serta mencoba memformulakan solusi.

Masalah Perkaderan memang menjadi bahasan utama pada diskusi tersebut. Sebagian besar dari peserta diskusi memang kebetulan merupakan pengurus di komisariat dan cabang masing-masing sehingga mereka memanfaatkan event tersebut untuk saling sharing dalam pemecahan problematika yang terjadi. Dalam diskusi tersebut memang telah disepakati bahwa acara siang itu bukan berorientasi pada hasil yaitu solusi konkrit permasalahan, namun solusi akan didapatkan ketika masing-masing kader kembali ke ”medan perang” masing-masing.

Dari diskusi yang dilangsungkan di area Candi Arjuna kompleks obyek wisata Dieng tersebut bisa diinventarisir berbagai jenis problematika yang terjadi. Mulai dari futur-nya kader hingga kebijakan birokrasi kampus merupakan pilar-pilar tantangan yang dihadapi para kader di jalur perjuangan ini.

Inti dari diskusi siang itu menyiratkan pentingnya sebuah komunikasi dalam penyelesaian masalah. Inovasi serta kreativitas juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan kader baik secara kualitas maupun kuantitas. Disamping itu semua, penguatan etos perjuangan kader juga dirasa sangat diperlukan sehingga jangan ada lagi terdengar kader bawangpuk.

Event ini secara tidak langsung juga merupakan salah satu alternatif pembinaan kader. Penguatan semangat memang tidak selalu terpancang dilakukan internal cabang, namun dapat juga dengan penguatan jaringan antar cabang. Sharing kader antar cabang akan menambah wawasan kader mengenai kondisi HMI secara komprehensif . Diskusi diakhiri dengan mengunjungi objek wisata kawah di Dieng. Peserta juga menyepakati adanya follow-up II di bulan Mei nanti bertempat di Purwokerto dengan sebuah bentuk acara seminar dan pelatihan.

Bagi para peserta diskusi, LK II yang merupakan salah satu tempat berproses diharapkan bukan sekedar menjadi jenjang training, namun merupakan starting point bagi kader untuk mengaktualisasikan potensinya. Mereka berharap event follow-up training seperti ini dapat berlanjut, selain sebagai acara temu kangen juga merupakan penguatan jaringan antar cabang untuk meningkatkan konsolidasi gerakan. Sebagai catatan, para ex-peserta LK II ke-XIV Semarang ini sebagian besar tercatat sebagai ketua komisariat serta posisi-posisi struktural yang cukup vital di kepengurusan HMI baik di cabang maupun komisariat. Hal tersebut dipandang sebagai sebuah implementasi semangat juang mereka bersama HMI. Yakin Usaha Sampai!!!(nta)

View more at http://ntacaholic.blogspot.com



Read more ...

33 Kader Ikuti LK II Wonosobo



Wonosobo – Udara dingin menusuk tulang di daerah lereng Dieng ternyata menjadi sebuah suntikan semangat tersendiri bagi para kader HMI. Senin (11/2) malam kemarin, bertempat di Gedung Perhutani berlangsung pembukaan Latihan Kader II (Intermediate Training) HMI Cabang Wonosobo. Sekitar pukul 22.00 WIB, walaupun dengan kondisi terkantuk-kantuk, sejumlah kader HMI MPO dari berbagai cabang di Inbagteng tampak antusias mengikuti jalannya acara pembukaan.

Acara yang dibuka oleh Nurdin- ketua HMI cabang Wonosobo tersebut mengambil tema “ Rekonstruksi Paradigma Pendidikan Sebagai Wujud Eksistensi Manusia Menuju Masyarakat Berperadaban”. Dalam sambutannya, Nurdin sempat berujar bahwa LK II merupakan salah satu bentuk tirakat inteletual dimana para kader diharapkan sungguh-sungguh dalam menjalani proses di dalamnya. Siap ber-HMI berkonsekuensi untuk siap menderita, maksud menderita disini adalah bahwa kader HMI memiliki tanggung jawab yang lebih untuk memikirkan kondisi masyarakat dalam rangka merangkai sebuah peradaban, kurang lebih seperti itu ujaran dari Nurdin.

Kegiatan LK II yang diketuai oleh Aris Fahani ini diikuti oleh 33 peserta yang merupakan kader HMI dari cabang Purwokerto, Purworejo, Yogyakarta, Semarang, dan Wonosobo. Kegiatan yang direncanakan berlangsung hingga tanggal 18 Februari tersebut dipandu oleh tim pemandu dari berbagai cabang di Inbagteng. Bertindak sebagai Master of Trainer (MoT), yaitu M.Syafei, yang juga ketua Badko Inbagteng.

Walaupun Wonosobo terbilang cabang yang memiliki area kecil dengan satu komisariat dan dengan kuantitas kader yang secukupnya, namun semangat mereka yang besar ternyata mampu menyelenggarakan LK II dengan peserta yang terbilang cukup banyak. Animo peserta dalam acara tersebut juga menunjukan adanya semangat yang tinggi. Dalam forum pertama mengenai pembahasan tema dan tata tertib, sudah terlihat animo yang tinggi dari peserta.

“Di malam pertama kita tadi membahas mengenai tema LK II kali ini, banyak yang berpendapat bahwa tema tersebut terlalu mengglobal, nah tugas kita nanti untuk membdah lebih jauh mengenai tema tersebut” ujar Tino, salah satu peserta utusan dari HMI cabang Purwokerto.

Pekan ini nampaknya Wonosobo menjadi sentral dari beberapa agenda kegiatan HMI Inbagteng. Selain LK II, rapimcab Inbagteng jug direncanakan tanggal 17 Februari nanti di tempat yang sama. (nta)

View more at http://ntacaholic.blogspot.com




Read more ...
Wednesday, February 06, 2008

Saat Islam Harus “Diperbaharui”




Purwokerto – Melihat kondisi bangsa Indonesia, dapat kita inventarisir sejumlah problematika yang menimpa sang negeri gemah ripah loh jinawi ini. Dari mulai bencana alam, keterpurukan ekonomi, politik yang carut marut, penegakan hukum yang masih omong kosong hingga pendidikan yang tak mendidik. Apa yang kemudian mendasari hujanan problem tersebut?orang-nya kah atau sistem?. Kemudian apa yang bisa dijadikan solusi?? Satu kata muncul, Islam. Islam sebagai solusi. Apa dan bagaimana hal tersebut?? Itulah yang coba dimunculkan dalam diskusi interaktif dalam rangkaian acara pelantikan pengurus cabang HMI MPO Purwokerto, Ahad (3/1) yang lalu.

Mencoba menyandingkan M.Syafei (PB HMI dan Badko Inbagteng) dengan Abdurrauf ( Ketua HTI Purwokerto serta alumni HMI), moderator Yasum Surya Mentari membawa diskusi yang cukup hangat senja itu dengan mengangkat tema ; ” Implementasi Nilai Keislaman Sebagai Manifesto Perlawanan Terhadap Neoliberalisme, Untuk Mewujudkan Indonesia Yang Berkeadilan”. Tema ini pula yang coba diangkat sebagai tema kepengurusan cabang HMI Purwokerto periode 2008-2009 M/ 1429-1430 H. Dalam sambutan ketua cabang yang baru – Arif Budiman-, diungkapkan bahwa siratan makna ini adalah untuk mereaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam ruh pergerakan. Islam bukan sekedar jargon namun juga jiwa dari sebuah gerakan untuk melawan neoliberalisme yang telah menggurita.

Rangkaian pertanyaan yang disebutkan di awal tulisan merupakan pertanyaan yang dicoba menjadi intro pada pemaparan materi oleh Abdurrauf. Selaku ketua HTI Purwokerto, beliau dengan lugas dan detail mempresentasikan ide-ide khilafah sebagai sebuah smart solution pada menggunungnya kondisi bangsa ini. Perubahan sistem dan memilih dari opsi sistem yang ada : apabila pilih Kapitalis berarti mempertahankan krisis, pilih sosialis komunis merupakan opsi yang sudah jadul dan berarti bangkrut, atau pilih Islam yang di dalamnya terdapat perspektif Islam bahwa tidak ada kehidupan islam dimana diterapkan syariah islam dipimpin oleh khalifah.

Kalau kita berbicara mengenai Islam, sebenarnya Indonesia itu kaya akan orang Islam. Hampir 90% masyarakat Indonesia beragama Islam. Namun, tak pelak di negara ini ternyata telah terjadi perselingkuhan antara agama dan kekuatan modal. Sehingga kuantitas Islam yang dimiliki bukan mencerminkan jiwa Islam yang ada namun hanya digunakan untuk kecenderungan kapitalistik. Kurang lebih itu yang coba disampaikan oleh M.Syafei sebagai pembicara kedua saat diberi kesempatan untuk menyampaikan perspektifnya tentang Islam.

Islam sebagai problem solving. Klasik. Itu kesan yang ditangkap para audiens diskusi senja itu. Bahkan sempat disampaikan oleh salah satu peserta pada session tanyajawab bahwa ide HTI yang coba dipaparkan tidak lebih sebagai sebuah pendaurulangan sampah yang tidak berhasil. HTI dinilai tak mampu mengarahkan konsep yang jelas mengenai negara Islam yang dipimpin seorang khilafah. Sebuah imajinasi tanpa plot yang jelas. Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh audiens lain yang bahkan menyangsikan bahwa Islam merupakan solusi yang komprehensif. HTI juga dinilai belum menjangkau sistem kenegaraan Indonesia dengan dasar negara Pancasila. Pancasila dinilai sudah cukup baik, tinggal bagaimana implementasinya. Kemudian ide khilafah Islamiyah ini coba ditampik dengan mempertanyakan bahwa Islam tidak semuanya menjadi mayoritas. Masih banyak umat lain. Kalau di Indonesia sebagai solusi itu karena mayoritasnya Islam sehinggat dirasa bahwa Islam-lah solusinya. Pada beberapa negara lain dimana Islam menjadi minoritas, permasalahan agama menjadi sebuah solusi bukanlah sesuatu yang diwacanaakan.

Dari rangkaian diskusi yang cukup hangat itu, ada dua perspektif yang bisa didapat, yaitu bahwa Islam adalah sebuah solusi mutlak serta perspektif faktual Islam di Indonesia yang hanya sekedar kuantitas saja. Tak ada sebuah garis merah yang didapatkan dikarenakan waktu yang tidak mendukung. Namun, setidaknya Islam bisa dijadikan sebagai jawaban atas pertanyaan “what?”, tapi kemudian “how?”. Itulah yang kemudian belum kita semua teruskan. Bagaimana kemudian Islam menjadi solusi, perlu berbagai pertimbangan, kearifan, dan pemikiran jernih. Saat Islam hanya menjawab pertanyaan “apa”, maka tak ubahnya kita menjadikan Islam sebagai sebuah jargon dakwah. Kini saatnya mereaktualisasi Islam, memperbaharui Islam bukan dalam artian pembaharuan dalam hal substansial seperti aqidah, fiqh dan lain sebagainya namun lebih kepada wilayah strategis dan teknis dakwah Islam kita. Islam membutuhkan para pembaharu yang tidak sekedar pintar namun juga jiwa-jiwa pembaharu yang mampu menjadi agen Islam yang inovatif dan cerdas serta tepat sasaran (nta)



Read more ...

Soeharto Bukan Pahlawan


Mari-mari kita bersama kubur soehartoisme
Kiri kanan kulihat saja...awas soehartoisme.

Purwokerto - Lantunan nada-nada yang bersemangat itu keluar dari lisan kader-kader HMI MPO Purwokerto yang memberi warna pada malam kota Purwokerto Selasa (5/2) kemarin. Walaupun sempat diguyur gerimis, namun kurang lebih sepuluh kader tetap berteriak lantang seolah ratusan pasukan pleton yang menembus dinginnya malam.

Berangkat dari sekretariat cabang HMI MPO di bilangan Jalan Riyanto Sumampir-Purwokerto, para paserta aksi menyambut milad HMI ke-61 ini mengawali langkah pada pukul 19.00 menyusuri jalan-jalan di kota satria itu. Melintas hingga jalan Dr.Bunyamin, peserta aksi kemudian berhenti di depan gerbang Universitas Jendral Soedirman untuk menyuarakan aksinya. Di depan patung Soedirman, tiap kader kemudian bergantian untuk orasi. Tidak hanya orasi, namun pembacaan puisi serta adegan teaterikal juga turut digelar.

Isu yang diangkat pada milad kali ini adalah kuburkan Soehartoisme. Menurut pandangan kawan-kawan HMI MPO Purwokerto, momen meninggalnya Soeharto telah dengan cerdik dimanfaatkan oleh pengikut -pengikut Soeharto untuk membangkitkan Soehartoisme. Soehartoisme dipandang merupakan paham tata pemerintahan yang mengandalkan otoritarianisme, militerisme, dan KKN yang telah terbukti membangkrutkan bangsa dan negara.

Kebijakan pemerintah SBY-JK yang memberikan penghormatan yang berlebih-lebihan terhadap Soeharto berupa hari berkabung nasional selama 7 hari membuktikan bahwa rezim SBY-JK sama sekali tidak mengindahkan spirit reformasi yang diperjuangkan dengan nyawa dan darah mahasiswa. Sebaliknya, kebijakan ini justru membuktikan bahwa rezim SBY-JK adalah bagian yang melekat dengan spirit Orde Baru.
Kematian Soeharto tanpa putusan hukum yang tetap telah membuyarkan harapan tentang tegaknya kepastian hukum di negara ini. Dan oleh karena itu, menyangkut perdata Soeharto, HMI MPO meminta supaya seluruh kekayaan yayasan-yayasan yang dikelola oleh Soeharto dan kroninya segera diserahkan kepada negara.

Usulan Partai Golkar untuk menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional adalah suatu hal yang absurd, tidak beralasan, lagi mengabaikan perasaan para korban kejahatan politik dan HAM yang dilakukan oleh Soeharto selama 32 tahun kekuasaannya. Dalam konteks ini, kematian Soeharto dalam kondisi tengah diproses secara hukum atas kasus korupsi dana Yayasan Supersemar telah menggugurkan prasyarat untuk menjadi pahlawan. Amat mustahil seseorang dalam posisi demikian untuk disebut sebagai pahlawan bangsa. Belum lagi, mengingat sejumlah kasus kejahatan HAM, pemberangusan kebebasan (pers, berpendapat dan berorganisasi) dan perampasan hak-hak ekosob sebagian warga negara yang memang secara faktual terjadi di masa kepemimpinannya.
Kepada seluruh komponen bangsa, HMI MPO menyerukan bahwa membangkitkan Soehartoisme merupakan tindakan yang sesat dan berbahaya, sebaliknya kami serukan supaya mari menyongsong masa depan dengan mengubur Soehartoisme. Masa depan ada di tangan rakyat, bukan di tangan elit-elit pengikut Soeharto.

Dalam pernyataan sikap yang dibuat, HMI- MPO Cabang Purwokerto menyatakan bahwa :

1. Mendesak pemerintah untuk segera mengusut tuntas pelanggaran HAM yang telah dilakukan oleh rezim Soeharto
2. Mendesak pemerintah untuk segera mengusut tuntas kasus perdata Soeharto beserta kroninya.
3. Mendesak pemerintah untuk segera mengusut tuntas kasus korupsi dana-dana yayasan yang dimiliki Soeharto beserta kroninya dan mengembalikannya kepada rakyat.
4. Menolak pemberian gelar pahlawan bangsa kepada Soeharto.
5. Menolak agenda-agenda kepentingan asing yang menyengsarakan rakyat seperti : Privatisasi Sumberdaya Alam, liberalisasi dan komersialisasi Pendidikan (BHP) dan pencabutan subsidi lainnya yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup orang banyak.
6. Mengajak kepada seluruh elemen untuk bersama-sama mengantisipasi menguatnya paham soehartoisme yang telah menjalankan tata pemerintahan seperti : otoritarianisme, militerisme, dan KKN yang telah terbukti membangkrutkan bangsa dan negara.

Aksi yang di sisi lain cukup disayangkan karena sedikitnya kuantitas kader dikarenakan masa liburan kuliah yang telah tiba ini, berakhir dengan pernyataan sikap dan menyenyikan lagu Bagimu Negeri.

Animo masyarakat yang menyaksikan aksi cukup tinggi. Beberapa kendaraan tampak melambatkan laju kendaraan untuk mengetahui aksi yang memang sangat bersemangat. Bahkan beberapa masyarakat tak ragu untuk mendekati kami serta meminta leaflet yang sudah disediakan.

Soeharto memang telah mati, namun bukan berarti kasus-kasusnya dikubur dan lantas Soeharto menjadi pahlawan yang harum namanya. Peradilan kubur memang lebih adil, kalau kita mau menghargai pak Harto, bantulah meringankan beliau di akhirat sana dengan memposisikan Pak Harto pada ruang yang tepat dan posisi hukum yang seharusnya dan bukan dengan membangkitkan Soehartoisme. (nta)




Read more ...
Monday, February 04, 2008

Membangun Peradaban Umat Melalui Pemakmuran Masjid




Purwokerto- Keberadaan Masjid sebagai rumah ibadah kini nampaknya mengalami peyorasi. Saat masjid Nabawi dibangun Rasulullah dulu, disana bukan sekedar sebagai tempat sholat atau I’tikaf saja. Namun, di masjid pulalah Nabi menyusun strategi perang, mengadakan berbagai diskusi serta kegiatan-kegiatan ummat yang lain.

Masjid dapat dikatakan sebagai sebuah benteng umat Islam. Disana kita dapat memenuhi kebutuhan ruhani dengan bertaqarub diri pada sang Illah sekaligus membangun sistem muamalah.

Rangkaian kegiatan Rapat Kerja (RAKER) Masjid Fatimatuzzahra (Mafaza) Purwokerto yang berlansung selama tiga (3) hari adalah salah satu cerminan peradaban ummat yang dibangun dari pemakmuran masjid. Mafaza bukanlah sekedar masjid. Terdapat kurang lebih 10 Unit Pemakmuran Masjid (UPM) seperti : Laziz, Mini Market (lembaga usaha), Klinik Mafaza, Perpustakaan Islam Mafaza, BKAM (Bina Keluarga Anak dan Muallaf), Radio mAfaza FM, TBIF (Taman Belajar Islam Fatimatuzzahra), MTC (mafaza Training Centre), dll. Tiap UPM memiliki bidang yang berbeda-beda. Namun, misi merek tetap bermuara pada upaya pemakmuran masjid sebagai pondasi kekuatan umat Islam.

Dalam raker kemarin, muncul wacana tentang eksklusifitas masjid. Masjid mendapatkan tantangan untuk meningkatan uapaya masifikasi pada masyarakat disekitar. Mafaza yang memang lebih didominasi oleh mahasiswa harus dapat memungkinkan memberikan kontribusi yang nyata pada masyarakat luas.

Raker Mafaza terbagi dalam tiga rangkaian acara, yakni : pandangan umum dari tiap-tiap elemen; pertanggungjawab serta pemaparan proker tiap UPM; dan rekomendasi terhadap program-program mendatang.

Sebagai sebuah organisasi, tata organisasi yang tertib dan rapih mencerminkan profesionalitas kinerja ”pekerja” masjid. Sebagai sebuah masjid, Mafaza telah menjadi sebuah benteng pertahanan umat Islam dimana didalamnya merupakan wahana berproses dan belajar.

Marilah kita back to masjid, kembali meriuhkan dan menghidupkan masjid tanpa keberpihakan yang subyektif.





Read more ...