Pages

Tuesday, July 31, 2007
Senat Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Proudly present...

PUBLIC HEALTH EXPO 2007

First Step of Event
Variance of competition

Tema:
1. Ngerokok, Emang Keren?!
2. Drugs, "Friend or Foe?"
3. Negeriku Lautan Sampah

LiHat (Lomba Menulis Sehat)
- Pelajar SMA & Mahasiswa
- Karya berbentuK EssAY
- Panjang tulisan: min 3 hal A4, max 5 hal, font arial 12 pt, spasi 1,5
- Pilih salah satu tema diatas
- Peserta membuat tiga rangkap karyanya
- Fee Pendaftaran : Rp 5.000,00

Lova (Lomba Video Amatir)
- Mahasiswa & Umum
- Karya berbentuk short video dg durasi 3-5 menit
- Pilih dari salah satu tema diatas
- Fee Pendaftaran: Rp 50.000

LoPer (Lomba Poster)
- Pelajar SMA dan Mahasiswa
- Karya berbentu media penyulhan bertema : "Drugs, "friend or foe?"
- Karya berukuran A3
- Karya berbentuk design kompugrafis
- Fee Pendaftaran : Rp 30.000

NB:
- Semua hasil karya mutlak mjd milik panitia
- Hasil karya dimaksudkan ke dalam amplop coklat beserta fee pendaftaran dan
menuliskan jenis lomba yg diikuti di sudut kiri atas amplop
- Sertakan data diri: Nama, ket.kampus/SMA & no. Telp yg dpt dihubungi
- Amplop dikirimkan ke alamat Sekretaris PHE 2007: Ruang Senat Ged. A
Lt.1fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
- Pengumpulan hasil karya diterima panitia selambat-lambatnya: 25 Agt
2007-07-25 Pengumuman Pemenag: 6 Sept 2007

Read more ...
Saturday, July 07, 2007

Rumah Indie Bagi Sastra

oleh : shinta ardhiyani u


I.Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Berdialektika mengenai satra, kita tak bisa lepas dari membicarakan masyarakat. Literature is a reflection of society, sastra adalah refleksi dari kehidupan masyaarakat. Pernyataan ini mengandung determinan bahwa antara satra dan masyarakat terjadi interaksi, dalam artian bahwa sastra memiliki pengaruh terhadap masyarakat. Dengan kata lain, fenomena kehidupan masyarakat saat ini adalah sebuah pengejewantahan dari karya sastra yang sedang berkembang.
Ketika kita menengok “pasaran” sastra di Indonesia, tak jauh yang kita lihat adalah jenis-jenis sastra konteporer seperti teenlit, checklit, kumcer remaja, dan lain sejenisnya. Di satu pihak adalaha suatu yang membahagiakan ketika melihat perkembangan pesat dunia sastra. Namun, cobakita tengok substansi dari karya sastra kontermporer tersebut. Nilai-nilai hedonisme, glamour, lebih mendominasi dibanding esensi sastra.
Sastrawan-sastrawan di Indonesia sebenarnya tidak mandul akan karya. Kita tak pernah krisis karya sastra, namun kitatidak melihat hal itu karena karya sastra tidak cukup masif di tengah masyarakat.
Penerbit merupakan pihak yang berperan dalam pemasifan karya sastra. Penerbit adalah alat penagakomodir karya sastra kepada masyarakat. Namun fenomena yang ada telah menunjukan belum optimalnya penerbit yang sudah ada sekarang dalam pemasifan karya sastra. Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi bahwa penerbitan konvensional, di satu sisi sebagai pihak yang empertahankan nilai budaya (baca : sastra dan kecerdasan) ditengah masyarakat. Namun disisi lain, mereka juga sebuah industri yang terjebak pada kata : untung atau rugi.
Munculnya penerbitan independen (indie) mencoba menjawab permasalahan tersebut. Penerbit indie adalah sebuah usaha untuk memperjuangkan idealisme sastra tanpa harus dirugikan oleh sistem kapitalisme penerbitan konvensional. Dengan latar belakang itulah, penulis tertarik untuk mengangkat tema mengenai penerbit indie dalam sebuah makalah sederhana dengan judul “ Rumah Indie Bagi Sastra”.

1.2 Permasalahan
Permasalahan yang akan diangkat dalam makalah ini adalah :
1.Bagaimana tumbuh kembang dunia penerbitan di Indonesia khususnya munculnya penerbitan indie?
2.Bagaimana penrbitan indie dapat berperan dalam upaya memasifkan karya sastra ditengah masyarakat?

1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat mencapai tujuan-tujuan berikut :
1.Memperkenalkan bagaimana ilustrasi mekanisme penerbitan sebuah karya di Indonesia
2.Menjelaskan mengenai tumbuh kembang penerbitan indie di Indonesia
3.Menjelaskan mengenai peranan penerbitan indie dalam upaya pemasifan karya sastra di tengah masyarakat.

II.Industri Penerbitan di Indonesia

2.1Idealisme Industri Penerbitan
Jika merunut perjalanan waktu, kuantitas penerbit di Indonesia bisa jadi sudah menginjak angka ribuan hingga kini. Namun dari ribuan tersebiut, hanya segelintir saja yang masih bisa bertahan dalam jangka waktu lama. Barometerlama disini adalah lebih dari 50 tahun.
Ada salah satu resep yang bisa dijadikan oleh pemilik industri penerbitan supaya usaha penerbitanna dapat berumur panjang yakni tetap memegang teguh idealisme dan tetap setia terhadap komitmen awal yang menjadi dasar mereka terjun ke dunia penerbitan. Resep ini terbukti ampuh. Hal ini bisa kita lihat pada penerbit-penerbit semacam Balai Pustaka, Kanisius, Dian Rakyat, Pradnya Paramita,maupun penerbit Madju. Hingga kini penerbit-penerbit tersebut masih survive dengan idealisme masing-masing. Misal penerbit Kanisius yang merupakan penerbitan buku rohani hingga saat ini masih memegan visi dan misai mereka yang rumusannya antara lain memuat gagasan bahwa Penerbit-Percetakan Kanisius memosisikan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa dan gereja Indonesia. Buku-buku yang diterbitkan harus yang bernuasns membangun dan memberdayakan masyarakat. Tidak banyak penerbit yang dapat terus bertahan memegang idealisme dan memegan komitmen hingga puluhan tahun. Contoh lain yang dapatkita lihat antara lain Penerbit Madju yang berlokasi di kota Medan –Sumatra Utara. Penerbit yang didirikan oleh HM Arbie pada pertengahan tahun 1949 ini hingga kini masih setia menerbitkan buku-buku pelajaran sekolah. Berbekal mesin letter press yang dibeli dari hasil keuntungan menjual buku, sekitar tahun 1952, penerbitan ini membuat gerakan dnegan menerbitkan seluruh buku pelajaran dalam satu paket lengkap. Langkah ini boleh dikatakan merupakan terobosan baru yang belum pernah dilakukan penerbitan lain saat itu. Berawal dari sebuah toko buku kecil bernama Pustaka Madju di jalan Soetomo, Medan, Penerbitan Madju berkembang menjadi perusahaan penerbitan sekaligus percetakan buku-buku yang sangat laris.
Hasil yang diperoleh dari kesuksesan Penerbit Madju dari menerbitkan buku-buku pelajaran terutama buku-bukupelajaran tingkat sekolah dasar bahkan mampu melahirkan unit-unit usaha lainnya, seperti dua buah hotel dan sebuah rumah sakit di kota Medan yang bernaung di dalam Grup Madju. Namun hingga saat ini Penerbit Madju tetap konsisten dengan misi awal mereka, yaitu menerbitkan buku-buku pelajaran, sesuai dengan motonya “Setia Memajukan Pendidikan”. Buku-buku terbitan Madju tidak hanya dipakai sebagai acuanoleh sekolah-sekolah dasar di wilayah Sumatra, Aceh , dan Riau, tetapi sampai ke Pulau Jawa hingga Sulawesi. Karena kualitasnya dipandang bagus, Deprtemen Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu menetapkan buku pelajaran terbitan Madju sebagai acuan saat metode Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) diterapkan.

2.2Kapitalisme Dunia Penerbitan
Tidak semua penerbit dapat memegang teguh idealisme serta setia pada komitmen awal. Hal ini bisa dimaklumi, karena industri penerbitan di satu pihak merupakan misionaris esensi dari buku-buka yang diterbitkan, namun disisi lain mereka juga sebuah rumah usaha yang tidak bisa menggantungkan sekedar pada modal idealisme. Kekuatan modal akhirnya mulai mempengaruhi dunia penerbitan. Misi tidak begitu diindahkan. Posisi untung-rugi menjadi fokus yang lebih mendapat perhatian. Akhirnya terjadi kapitalisme di dunia penerbitan.
Hal ini berpengaruh pada kualitas pemasifan karya dan pada fokus pembahasan kali iniadalah khusus mengenai karya sastra. Proses filter dan selektif terhadap karya sastra menjadi disampingkan. Esensi karya sastra tidak menjadi hal yang penting dalam keputusan menerbitkan sebuah karya. Karya yang ecek-ecek pun dapat terbit apabila ada kekuatan modal dibelakangnya. Penerbit tidak mau menanggung resiko kerugian apalagi di tengah kondisi perekonomian bangsa yang semakin merosot yang memaksa tiap individu untuk lebih membanting tulang demi memenuhi kebutuhan perut.
Hal itu dapat terlihat pada fenomena yang berkembang saat ini. Novel-novel kontemporer lebih populer daripada karya-karya para sastrawan yang sarat nilai-nilai kehidupan. Hingga muncul sebuah istilah antara “karya berkualitas” dan “karya laris”. Dua idiom itu muncul karena ternyata kenyataan yang terjadi adalah karya yang laris belum tentu yang berkualitas atau sebaliknya. Jika dalam blantika film, kita mengenal adanya box office, maka disini ada pernyataan bahwa buku-buku yang masuk dalam box office ternyata bukan karya-karya maestro yang berkualitas. Hal ini karena ada kekuatan modal untuk lebih mempublikasikan karya-karya ecek-ecek di tengah masyarakat. Kembali pada bahasan awal, adalah mengenai idealisme. Idealisme penerbit yang semakin dikacaukan oleh pengaruh modal ini akhirnya berdampak pada degradasi esensi karya sastra yang berkembang di tengah masyarakat. Berbicara lebih jauh, secara tidak langsung ini akan menciptakan mindset masyarakat Indonesia. Jika masyarakat disuguhkan karya ecek-ecek maka pola pikir mereka hanya akan dipenuhi muatan-muatan yang ecek-ecek pula. Masyarakat Indonesia akan meningkat pola hidup glamour dan hedonismenya. Khususnya dalam hal ini adalah para generasi muda yang merupakan generasi penerus bangsa ini.

III. Penerbitan Independen (indie label)

3.1Apa dan Mengapa Indie Label?
Fenomena dunia penerbitan yang tergambar sedikit pada bab sebelumnya, merupakan salah satu pemicu munculnya penerbitan independen. Sesuai namanya, maka independen adalah usaha swadaya, tidak tergantung pada pihak lain. Ada beberapa hal yang membuat seseorang lebih memilih menggunakan indie label, yakni :
3.1.1 Upaya mempertahankan idealisme
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa terbitnya karya-karya khususnya karya sastra yang berkemang saat ini sudah mulai melenceng dari idealisme yang mengangkat karya sastra sebagai pengakomodir nilai-nilai kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Bisa dikatakan sebagai bentuk kekecewaan pada penerbitan konvensional yang mulai terpengaruh kekuatan modal.
3.1.2. Teknis Penerbitan
Menerbitkan sebuah buku bukan perkara mudah. Informasi yang terbatas mengenai penulisan dan pencetakan, karir dan pekerjaan yang menyita waktu, serta banyaknya syarat dan ketentuan yang diminta penerbit konvensional, seringkli membuat proses berkarya yang sesuai dengan keinginan dan idealisme menjadi terhambat.
Ketika kita ingin menerbitkan naskah, maka keputusan untuk bisa diterbitkan atau tidak menjadi prerogatif penerbit. Biasanya banyak faktor yang masuk jadi pertimbangan penerbit konvensional. Salah satunya adalah nama pengarang atau penulis sendiri. Ada kalanya kita sebagai penulis pemula memang harus maklum bahwa penerbitan konvensional sebagai pihak yang akan menerbitkan karya kita, di satu sisi sebagai pihak yang mempertahankan nilai-nilai budaya (baca :sastra dan kecerdasan) di tengah masyarakat, di sisi lain mereka juga sebuah industri yang terjebak pada kata : untung-rugi. Seidealis apapun mereka, mau tidak mau, seringkali mereka akan bercermin pada keinginan pasar atau pembaca pada produk yang akan dipublikasikan—yang mana membawa brand nama kita sebagai penulis.
3.1.3 Perhitungan Royalti
Disamping masalah teknis penerbitan sebagaimana dijelaskan sebelumnya, orientasi keuntungan juga menjadi salah satu alasan kenapa penulis memilih untuk menerbitkan buku secara independen. Harga jual yang terpampang di toko-toko buku umumnya mencapai enam kali atau bahkan lebih dari biaya produksi, padahal penulis hanya mendapatkan 8-12% dari harga jual buku, sedangkan sisanya menjadi bagian pemasaran dan penerbitan. Dengan dasar yang sama pada perhitungan royalti diatas, penulis akan mendapatkan hasil (dalam hal materi) yang jauh lebih besar. Karena sudah saat penulis menghargai hasil karyanya bukan hanya dari kepuasan batiniah tapi juga dari sisi lahiriah. Berikut contoh perhitungan royalti pada penerbit-penerbit konvensional :
Jumlah buku yang dicetak : 3000 eksemplar (jumlah cetakan minimal yang sering dipakai ukuran)
Perkiraan biaya produksi : Rp 9.000,00 /buku
Harga jual di toko : Rp 20.000,00.
Maka jumlah royalti yang diterima penulis (misal 10%) adalah 3000x 20.000 x 10% = 6 juta. Angka tersebut belum termasuk pajak sebesar 15% yang dibebankan kepada royalti penulis buku. Dan angka tersebut dengan asumsi bahwa 3000 eksemplar buku terjual habis.
3.2Penerbit Indie dan Pemasifan Karya Sastra
Dalam kaitannya dengan upaya pemasifan karya sastra, penerbitan independen memiliki kapasitas untuk itu. Dengan penerbitan independen , unsur-unsur diluar idealisme untuk mengusung esensi sastra dapat diminimalisir. Memang tidak ada yang sempurna. Tidak mungkin juga sebuah karya benar-benar independen. Namun setidaknya penerbit independen memberikan penghargaan yang layak kepada para sastrawan (dalam sudut pandang royalti misalnya).
Di Indonesia, penerbit indie yang cukup populer yaitu INDIE offset. INDIE Offset bertujuan memberikan pelayanan secara terpadu kepada para penulis yang ingin menerbitkan buku sesuai dnegan keinginannya. Menerbitkan buku sendiri akan membantu penulis untuk mewujudkan buku yang akan diterbitkannya. Mulai dari mendesain buku yang diinginkan, mengedit, mencetak, membuat publikasi, mengurus perijinan, bahkan hingga memasarkannya. Hal ini memungkinkan munculnya sebuah karya yang murni dengan komitmen dari sebuah karya itu (baca : idealisme).
Dari berkembangnya penerbitan independen sangan mungkin untuk memotivasi para sastrawan untuk produktif berkarya. Penerbit indie membuat sastrawan tak perlu memikirkan rumit serta hal-hal lain yang terdapat padapenerbit konvensional yang hanya akan menghambat tingkat produktivitas mereka. Penerbit Indie menjadi solusi baru bagi para sastrawan, menjadi rumah indie bagi sastra.

IV. Penutup
4.1Kesimpulan
Dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan:
1)Penerbit merupakan pihak yang berperan penting dalam pemasifan sebuah karya,
2)Penerbit perlu memegang teguh idealisme dan setia pada komitmen awal. Hal ini akan berpengaruh pada usia penerbitan.
3)Banyak penerbitan konvensional kini yang mulai terpengaruh pada kekuasaan modal,
4)Masuknya pengaruh kekuatan modal dapat menlunturkan idealisme serta berkurangnya esensi nilai-nilai sastra kepada masyarakat
5)Penerbitan independen dapat menjadi sebuah solusi untuk memurnikan idealisme sebuah karya sastra, sehingga dapat masif di tengah masyarakat.

4.2Saran
Dari pembahasan serta kesimpulan yang telah diambil, ada saran yang ingin disampaikan yakni berharap penerbitan independen lebih dikembangkan lagi baik dalam segi kuantitas maupun kualitas karena peran yang dipegang oleh penerbitan indie sangat strategis dalam upaya pemasifan karya sastra ditengah masyarakat. Penulis juga berharap pembaca atau penikmat karya sastra di Indonesia dapat lebih cerdas dalam mengapresiasi karya-karya satra yang berkembang di era kini.
Saran-saran tersebut semoga menjadi sebuah tindak lanjut dari pemikiran yang tertuang dalam makalah sedarhana ini. Semoga tulisan ini bukan sekedar menjadi wacana saja tapi dapat bermetafora menjadi sebuah tindak nyata. Amin.
Read more ...
Sunday, July 01, 2007

My Only One

we had a fight last night
and i called him mad
makes me feel so sad
and i’m so ashamed

he’s my only one
i give him all my love
even though my mom says no!
i just go on and on…

no one’s gonna take him away from me..

everyday and everynight
i just wanna hold him tight
and make sure that everything stays night
and everyday and every night
to dream of him is mu delight and know that
he’ll stay with me all the way

by :Mocca
Read more ...
Tuesday, June 26, 2007

MENUAI ANGGUR KEHIDUPAN DALAM “A WALK IN THE CLOUDS”


ni final asigment nta...nta buat hari Senin ba'da Shubuh...n dikumpulin jam 9.10 ... padahal jam 7.00 ada ujian Kewarganegaraan.... whuaa...gk lagi2 deh nunda2 pekerjaan.....
MENUAI ANGGUR KEHIDUPAN DALAM “A WALK IN THE CLOUDS”
(sebuah studi analisa terhadap film “A Walk in The Clouds” melalui pendekatan teori formalisme)


Mempelajari karya sastra merupakan hal yang menyenangkan. Belajar karya sastra berarti belajar salah satu cabang seni yang berarti pula belajar sebuah estetka (keindahan). Naluri manusia akan senang pada hal yang berupa indah dan keindahan. Berkaitan dengan keindahan, Thomas Auino berpendapat bahwa ada tiga (3) syarat kendahan, yaitu :
• Memiliki keutuhan (kesempurnaan), karena segala kekurangan (keburukan) itu menyebabkan sesuatu tidak indah;
• Memiliki keselarasan (kesembangan) bentuk, karena segala ketimpangan itu menyebabkan sesuatu tidak proporsional sehingga tidak indah;
• Memiliki sinar kejelasan, karena segala kekaburan (kesamaran) itu menyebabkan sesuatu tdak indah.
Berdasar tiga syarat diatas dapat disimpulkan bahwa apa pun yang memberi kita rasa puas itu indah. Menurut Slametmuljana (Prodopo, 1992 : 56); keindahan itu adalah sesuatu yang menyentuh hati atau perasaan. Syaratnya antara lain :
• Memiliki keutuhan, yang utuh itu memiliki kesatuan, yang cacat itu buruk.
• Memiliki keselarasan (keseimbangan) bentuk.
• Memiliki kejelasan, yaitu sifat yang gilang cemerlang.
Abad XX muncul aliran-aliran yang mencoba menolak arti kendahan dengan jalan menolak art kendahan model klasik sebagaimana dikemukakan Thomas Aquino dan Slametmuljana tersebut. Mereka antara lain :
• John Keats. Keindahan adalah kebahagiaan yang abadi.
• Oscar Wilde . Seni adalah hidup. Keindahan tidak ada kecuali keterusterangan dan kenyataan.
• Graham Grene. Keindahan dari sebuah ciptaan terletak pada nilai belas kasihannya.
• Benedetto Croce. Keindahan adalah ekspresi yang berhasil baik (keindahan adalah sesuatu yang menyentuh hati dan perasaan).
Rangkaian teori diatas mengenai konsep keindahan semacam itu sekarang telah ditolak oleh sebagian besar ahli estetika dan seniman. Mereka cenderung memakai stilah seni untuk menyatakan sifat estetk karya seni. Sebab, dalam kata indah terkandung arti yang relative sempt, yaitu baik, halus, bersih, tidak cacat, tidak menyedihkan, tidak mengerikan, dan sebagainya; sdang dalam kata seni terkandung arti yang jauh lebih luas. Dalam istlah seni, selain mengandung arti indah dan menyenangkan juga mengandung pengertian besar (sublimes : keindahan tertinggi, edi peni), jujur, khas, aneh (Jawa: nyeleneh), dan sebagainya.
Karya sastra sebagai salah satu jenis “produk” seni tentu saja memiliki unsur estetik. Untuk memempelajari sebuah karya sastra, kita bisa melakukan dengan pendekatan menggunakan beberapa teori sastra. Salah satu teori yang bisa digunakan adalah teori formalisme. Formalisme memiliki latar belakang sebagai sebuah teori yang muncul atas reaksi terhadap pendekatan sastra yang bersifat positivistik. Pendekatan positivistic adalah sebuah pendekatan yang didasari oleh filsafat positivisme (Auguste Comte dalam Cours de Philosophie Positive, 1830- 1842), yakni suatu paham yang menganggap bahwa segala ilmu harus berazazkan fakta yang dapat diamati. Ilmu pengetahuan yang tidak didasarkan pada keterangan pancaindera, menurut faham tersebut, ditolak karena dianggap sebagai spekulasi kosong. Sedangkan kaum formalis menolak anggapan bahwa teks sastra adalah pencerminan individu atau pu gambaran masyarakat. Menurut mereka, teks sastra adalah fakta kebendaan yang terbangun atas kata-kata. Bangunan kata itu memilik kaidah, struktur, dan peralatan khusus yang harus dikaji dengan tujuan lain; misalnya sebagai pengetahuan psikologis, sosiologis, atau histories. Jadi teks sastra adalah objek tersendiri yang dikaji secara khusus.
Pada intinya adalah teori formalisme mempelajari sebuah karya sastra dengan sudut pandang “bentuk” (form) sebagai aspek penganalisa. Dalam teori formalisme, dikenal adanya “defamiliarisasi” dan “deotomatisasi”. Konsep “defamiliarisasi” dan “deotomatisasi” merupakan konsep yang digunakan kaum formalis untuk mempertentangkan karya sastra dengan kehidupan atau kenyataan sehari-hari. Apa yang sudah akrab dan secara otomatis diserap, dalam karya sastra dipersulit atau ditunda pemahamannya sehingga terasa asing dan ganjl atau aneh. Tujuannya adalah agar pembaca lebih tertarik pada bentuk, dan lebih menyadari hal-hal di sekitarnya. Subaspek yang dijadikan bahan penelitian oleh kaum formalis adalah unsurintrinsik karya sastra, seperti fibula (story) dan sjuzet (plot). Dalam kaitannya dengan konsep “defamiliarisasi” dan “deotomatisasi”, kaum formalis juga mencoba mengkaji unsure bahasa dalam karya sastra. Bahasa dalam karya sastra bukan hanya merupakan sarana komunikasi belaka, tetapi lebih dari itu bahasa juga merupakan sarana untuk mencapai nilai estetis. Bahasa sastra bersifat, antara lain :
• Konotatif, artinya selain bermakna denotatof, maknanya sengaja ditautkan dengan pengertian lain, diberi art tambahan sehingga mempunyai kemungkinan banyak tafsir (polyinterpretable), makna ganda (ambiguitas), penuh homonym dan diresapi asosiasi.
• Ekspresif, artinya mempunya kemampuan mengungkapkan jiwa, perasaan, gagasan pengarang.
• Sugestif, artinya secara sadar atau tidak, langsung atau tidak, bahasa mampu menyarankan, mempengaruhi jiwa/ perasaan/ asosiasi pembaca/penonton.
Dengan sifat-sifat bahasa sastra itulah, kita akan menemukan konsep “defamiliarisasi” dan “deotomatisasi” dalam karya sastra.
Kita akan mencoba menggunakan pendekatan teori ini dalam menganalisa film bertajuk A Walk in The Clouds , sebuah film cinta tahun 1996 garapan sutradara Alfonso Arau.
A Walk in The Clouds
Film yang dirilis tanggal 11 Agustus 1996 bergenre romance movie. Dibintangi oleh bintang kenamaan Keanu Reeves yang bermain peran dengan Giancarlo Giannini, Anthony Quinn dan Aitana Sánchez-Gijón.
Menganalisa film berbeda dengan menganalisa karya sastra lain. Ada beberapa hal yang bisa dicermati dalam fil selain tekstual yaitu tayangan visual-nya.
Beberapa dialog dalam film ini dapat dianalisa sebagai defamiliarisasi atau deotomatisasi.
We are think, they are feel. They are a heart people. Dialog yang disampaikan Alberto Aragon (Giancarlo Giannini) pada Paul Sutton (Keanu Reeves) saat menanggapai usaha Paul untuk berbicara dengan Victoria (Aitana Sanchez). Dalam konteks ini, kata “manusia hati” adalah menunjuk pada kaum perempuan, yang maksudnya adalah bahwa kaum wanita adalah manusia yang memiliki kecenderungan menyelesaikan segala permasalahan hidup dengan hati / perasaan.
This is 365 days a year. Dialog yang disampaikan Don Pedro Aragon (Anthony Quinn) yang merupakan ayah Victoria memiliki maksud bahwa semua yang ada di lading anggur itu dan segala sesuatunya adalah yang diusahakan selama bertahun-tahun setiap hari hanya didekasikan untuk keluarganya. Pada saat itu, Paul menyangsikan kasih sayang Don Pedro terhadap anaknya sendiri Victoria. Don Pedro memang tidak bisa mengungkapkan kasih sayangnya, namun sebenarnya ia adalah pekerja keras yang sangat berdedikasi pada keluarga.
“Kau bule , memang baik, tapi kau tetap bule”. Kata-kata yang disampaikan pada Paul ini bermaksud bahwa Paul memiliki kelompok social yang berberda dengan keluarga besar Aragon.
“Welcome in the world again”. Kata-kata yang disampaikan oleh sopir pada Paul saat dia meninggalkan Las Mujes, mengisyaratkan bahwa Paul kembali kepada dunianya kembali. Las Mujes sendiri sering disebut sebagai The Clouds (awan-awan).
Kutipan-kutipan dialog diatas termasuk deotomatisasi karena makna yang tersirat dalam perkataan-perkataan tersebut tidak dapat secara langsung diterima oleh penonton. Selain itu, deotomatisasi juga dapat dilihat pada beberapa kutipan dialog lain seperti :
This is root of your life. Root of your family. Akar kehidupan disini adalah bermaksud bahwa akar anggur merupakan jiwa dari berjalannya kehidupan keluarga Aragon. Anggur memiliki peran penting dalam keberlangsungan keluarga Aragon.
Deotomatisasai juga kita lihat dalam penggalan dialog “Who is Pete?” . Kalimat penegasan yang diungkapkan oleh Don Alberto yang mengisyaratkan bahwa ia tidak suka atas tindakan putranya , Pedro Aragon Jr, yang mengganti namanya menjadi Pete. Don merupakan ayah yang “kolot” yang cukup otoririter dalam keluarga, ia tidak suka pada hal-hal yang melenceng dari apa yang sudah diadatkan dalam keluarga.
Beberapa dialog dalam film berdurasi 102 menit ini juga memiliki beberapa defamiliarisasi. Seperti pada dialog “ Meet on Friday, Married on Sunday, n send on Monday”. Dialog ini mempunyai maksud bahwa begitu kerasnya hidup berprofesi sebagai prajurit sehingga kurang memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Ini diisyaratkan ketika dua prajurit (Paul dan temannya) baru pulang dari pertempuran dan membicarakan istri masing-masing. Dialog itu mengandung arti bahwa begitu singkatnya waktu untuk berkumpul dengan keluarga bahkan dengan istrinya sendiri.
Selain dari percakapan, konsep deotomatisasi dan defamiliarisasi juga bias kita dapatkan dari tayangan visual atau pada fibula dan alur ceritanya. Misal, jalan cerita film yang menayangkan tiga kali siluet / gambaran ketika Paul ada di mendan pertempuran. Adanya gambaran medan perang yang muncul di sela-sela jalan cerita mengungkapkan maksud jiwa seorang prajurit yang kesehariannya harus menghadapi kematian, maka wajar bila seorang prajurit memiliki mimpi untuk merangkai kehidupan yang tenang sekembalinya dari perang. Hal ini seperti yang dirasakan Paul. Ia memiliki gambaran mimpi hidupnya yaitu memiliki rumah yang nyaman,dengan anak-anak dan anjing-anjing kecil serta pekerjaan yang mantap. Apa yang diinginkan Paul belum dapat terwujud karena ternyata istrinya tidak membaca semua surat-suratnya. Padahal dalam surat-surat itulah ia mengungkapkan semuanya setiap hari saat ia masih ada di medan pertempuran.
Deotomatisasi juga kita dapatkan saat adegan bertemunya Paul dan Victoria pertama kali. Waktu itu Victoria muntah di jas Paul. Ternyata ini mengandung arti bahwa saat itu Victoria sedang hamil. Adegan ini tidak langsung dapat dipahami oleh penonton sebelum adanya dialog pada scene selanjutnya yang menyebutkan pengakuan hamil dari mulut Victoria.
Ending dari film ini juga menyisakan sebuah defamiliarisasi. Di akhir kisah diceritakan bahwa semua kebun anggur milik keluarga Aragon lenyap kecuali satu akar yang ditemukan oleh Paul. Setelah itu , Don Alberto akhirnya dapat menerima Paul sebagai menantunya. Ini masih menyisakan pertanyaan kepada penonton bagaimana kehidupan Paul kemudian karena harta keluarga Aragon juga telah habis serta kondisi yang telah jauh berbeda dengan keadaan sebelumnya. Penyelesaian kisah yang tidak “menyelesaikan” . Ending seperti ini memang kerap kali digunakan dalam beberapa kisah baik itu prosa maupun drama, namun akhir di kisah film ini terlalu “absurd” dan terlihat sangat memaksakan untuk diakhiri.
Beberapa adegan yang menggambarkan budaya/adat dari keluarga Aragon juga belum bias secara langsung dipahami oleh penonton. Tidak semua orang langsung memahami ritual pemberkatan panen anggur serta pesta rakyat ketika panen yang divisualisasikan dalam film ini.
Dari segi fabula (cerita), kisah dalam film ini juga mengandung defamiliarisasi. Kisah Paul yang menjadi “suami sementara” bagi Victoria merupakan suatu hal yang “aneh” di tengah kehidupan masyarakat. Serta status pernikahannya dengan Betty (istri pertama Paul) yang kemudian dengan mudahnya ada “pembatalan pernikahan” dengan penandatanganan suami dan istri. Ini kurang bias diterima secara mudah oleh penonton. Yang kita tahu adalah bahwa pernikahan dan perceraian adalah sebuah hal yang biasa namun tidak semudah seperti dikisahkan dalam film ini. Film ini menggambarkan betapa “mudah”nya sebuah cinta dan pernikahan. Ada kisah Victoria yang harus pulang karena ia hamil tanpa suami, entah bagaimana kisah si “Free Spirit” (semangat bebas) yang disebut-sebutnya sebagai seorang professor yang menjadi ayah dari janin yang dikandungnya. Kemudian Paul yang secara singkat memutuskan untuk menolong Victoria menjadi suami sementaranya. Padahal mereka berdua baru pertama kali saat perjalanan di kereta dan bus yang menuju Sacramento.
Itulah beberapa analisa mengenai film A Walks in The Clouds ini. Apa yang diungkapkan disini hanya beberapa bagian karena banyak sekali “form” dari film ini yang dapat dianalisa secara pendekatan formalisme.
Read more ...
Sunday, May 13, 2007

UNDER CONSTRUCTION


Sory for the Delay this site is still under construction
Read more ...
Sunday, May 06, 2007

Kenapa q bersedih melihat gubuk itu sepi?

kok sepi ya???
hanya selintas memang
entah rindu apa yang membuncah...
tiba-tiba aq sedih saja
melihat gubuk itu sepi....
aq rindu kumpul lagi...



ahad siang yang terik...sepulang dari diskusi publik
Read more ...
Wednesday, May 02, 2007

HARDIKNAS????? (national education is Bulshitt!!!)



katanya hari ini hari pendidikan nasional...
beberapa pesan singkat ajakan untuk rapat aksi aq terima
katanya aksi dengan isu pendidikan
...
ah...aku bingung...memangnya di Indonesia ada pendidikan????
pendidikan yang mana???
di Indonesia itu tidak ada pendidikan
lembaga-lembaga pendidikan itu adalah pabrik dengan siswa dan mahasiswa2nya adalah buruh2nya.

pendidikan yangmana yang mau dijadikan isu aksi???
hari pendidikan nasional itu tidak ada karena di "nasional" kita itu tidak ada pendidikan.....




jadi maaf...ku tak hadir di upacara hardiknas pagi ini....
maaf juga ku tak turut serta bersama kalian kawan untuk aksi di depan rektorat....

mari kita bersama-sama berdoa saja...semoga Indonesia segera "berpendidikan".Amien.
Read more ...

NASIB PEKERJA (Sebuah Renungan di Hari Buruh)





Kemajuan teknologi yang sangat pesat dan kemudahan akses komunikasi informasi, pada era “Ekonomi Baru” saat ini, turut merubah pola perusahaan dalam mempertahankan pekerjanya. Dahulu, perusahaan akan mempertahankan para pekerjanya di tengah resesi, walaupun mereka tidak terlalu diperlukan. Sekarang, seiring berkembangnya era ekonomi baru, berkembang pula budaya yang menitikberatkan pada bottom line yang mengandung arti bahwa laba hari ini bukan laba jangka panjang, sehingga ketika menghadapi masalah maka perusahaan perlu mengambil tindakan cepat dan menentukan. Mempertahankan pekerja pada saat perusahaan bermasalah, dipandang sebagian pihak sebagai tindakan lemah hati dan rendah pikiran. Oleh karena itu, memiliki “pekerja tetap” dianggap merugikan dibandingkan dengan outsourcing, sehingga pekerja tidak lebih dari sebuah obyek sewa pelengkap produksi. Lebih jauh lagi, telah muncul idiom baru yang berbunyi “pecat pekerja anda begitu tidak dibutuhkan lagi, karena mereka
selalu bisa disewa lagi nanti saat diperlukan”. Di samping itu menahan pekerja yang ingin keluar dari perusahaan juga dianggap sebagai akan membuat “besar kepala” seorang pekerja, sehingga muncul idiom yang berbunyi “biarkan satu pekerja anda pergi, karena masih ada seribu lamaran dengan upah lebih rendah menanti di meja manajer SDM anda”.

Kesetiaan usaha, tampaknya sudah merupakan sebuah nilai dari era yang telah lewat. Hal ini berarti, bahwa angka penduduk bekerja bisa berkurang lebih cepat begitu kondisi ekonomi terpuruk. Akibat kesetiaan perusahaan kepada pekerja menurun, tidak heran keresahan pekerja terhadap kelangsungan pekerjaannya menjadi meningkat. Kekuatan serikat buruh yang dahulu melindungi para pekerja kasar menjadi kian lemah pada era ekonomi baru. Ketidakpastian kerja, bukan hanya dialami oleh pekerja kasar, tetapi juga menyebar ke pekerja “kantoran”. Kemajuan teknologi membuat perusahaan melakukan perampingan dari hari ke hari. Dengan demikian, jaminan pekerjaan seumur hidup atau minimal sampai usia pensiun sudah menjadi pembahasan masa lampau. Saat ini, yang harus dimiliki oleh seorang pekerja adalah “kemampuan bekerja seumur hidup” serta “belajar seumur hidup”. Kedua hal tersebut yang dapat memungkinkan seorang pekerja dapat pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Dari data yang
ada (Stiglitz, 2003), terlihat bahwa mereka yang lebih terdidik akan lebih mudah berpindah pekerjaan, dan hanya sedikit yang mengalami penurunan pendapatan ketika kehilangan suatu pekerjaan dan cepat mendapat pekerjaan baru kembali.

Kondisi pekerja pada era ekonomi baru, saat ini, yang sangat mengandalkan teknologi komputer, mengingatkan kejadian yang sama pada abad 18-19 (El Fisgon, 2004), ketika para majikan memanfataatkan perubahan teknologi untuk mengurangi sebagian pekerja dan menurunkan gaji pekerja lainnya. Revolusi teknologi memungkinkan monopoli-monopoli besar menata ulang produksinya dan merestrukturisasi tenaga kerjanya pada skala global. Sebagai tambahan efisiensi, korporasi global dengan mudahnya merelokasi pabrik-pabrik mereka di mana saja yang upahnya paling murah. Hal ini membuat mereka mampu menekan upah pekerja sedunia dan merontokkan serikat-serikat pekerja serta meluncurkan aksi global baru yang berupaya menggugurkan segenap pencapaian gerakan buruh pada masa revolusi industri. Hak-hak buruh yang berusaha digugurkan pada era ekonomi baru ini antara lain adalah bekerja delapan jam sehari, upah minimum, dan tunjangan kesehatan, serta dana pensiun. Dengan demikian pemenuhan
kesejahteraan pekerja malah menjauh akibat globalisasi ekonomi yang terjadi saat ini.

Seiring perubahan gaya perekonomian, yang semakin konsumtif, membuat profesi pekerja yang selama ini sangat jarang menjadi debitur perbankan mulai menjadi obyek penyaluran kredit bank-bank dan lembaga keuangan lainnya. Saat ini, jauh lebih banyak profesi pekerja yang menjadi debitur perbankan dibandingkan profesi pedagang ataupun pengusaha apalagi jika dibandingkan dengan profesi petani. Kaum pekerja terlibat pinjam meminjam dengan pihak bank, bukan hanya sekedar untuk pembiayaan investasi pokok seperti rumah dan mobil, namun sebagian telah terjerumus dalam perlombaan meraih mimpi-mimpi konsumerisme sebagai seorang modernist yang tiada garis akhir.

Seorang kolumnis, Ellen Goodman (dalam Korten, 1999), menggambarkan bagaimana tingkah laku orang-orang (pekerja) yang dianggap normal saat ini. Mereka memakai pakaian yang dibeli untuk bekerja dan berkendaraan melalui jalanan dengan mobil kreditan guna mencapai tempat pekerjaan yang dibutuhkan. Dengan pekerjaan tersebut, mereka dapat membayar pakaian, mobil, dan rumah yang dibiarkan kosong sepanjang hari, agar dapat tinggal di dalam rumah tersebut. Mereka memiliki kartu kredit lebih dari satu dan menggunakan semuanya. Untuk membayar tagihan dan mendapatkan kepentingan yang konvensional, mereka menjadi semakin terperosok ke dalam tekanan karir pada korporasi tempat mereka bekerja. Semakin banyak yang mereka peroleh, maka semakin banyak pula yang mereka belanjakan, dan semakin keras pula mereka harus bekerja untuk membayar semua itu.

Permasalahan penting yang membayangi pinjaman yang diperoleh oleh para pekerja dari lembaga perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya adalah terjadinya kondisi suku bunga tinggi. Menurut Stiglitz, suku bunga tinggi sangat tidak baik bagi para pekerja (pegawai upahan), dan mereka akan rugi pada tiga hitungan, yaitu:

Tingginya suku bunga dapat menimbulkan naiknya angka pengangguran;
Tingginya pengangguran meletakkan tekanan terhadap besaran upah;
Akibat hutang yang dimiliki pekerja, suku bunga tinggi membuat makin berkurangnya kemampuan mereka mengeluarkan uang untuk kebutuhan lainnya.
Dengan demikian, risiko yang sangat besar, setiap saat, menghadang di depan para pekerja yang mendapatkan pinjaman yang sewaktu-waktu harus membayar lebih dari yang semula direncanakan, sedangkan penghasilan belum tentu bertambah atau bahkan mungkin hilang.

Di sisi lain, sejalan dengan munculnya era ekonomi baru pada tahun 1990-an, kebanyakan mahasiswa-mahasiswa terbaik memasuki fakultas-fakultas yang berkaitan dengan bisnis dan teknologi informasi. Siswa-siswa unggulan tidak tertarik mengabdi pada sosial masyarakat, tetapi tertarik kepada pesona korporat dengan imbalan materi yang berlimpah. Bidang pekerjaan yang menarik adalah pekerjaan-pekerjaan yang mempertaruhkan uang yang berlimpah. Akan tetapi akibat lain yang harus diterima, adalah seorang yang ahli dalam satu teknologi langsung menjadi usang begitu teknologi tersebut dilampaui oleh teknologi lainnya, sehingga pada usia 35 tahun seorang pekerja sudah masuk “kotak” jika dia belum mendapat posisi manajemen senior pada perusahaan tempatnya bekerja.

Fenomena di atas dapat kita saksikan pada iklan-iklan lowongan pekerjaan saat ini. Lowongan untuk staff pemula bagi seorang lulusan perguruan tinggi (sarjana), dibatasi pada usia 25 tahun, dan lowongan manager dibatasi pada usia 35 tahun. Sehingga pekerja-pekerja yang mempunyai pendidikan tinggi standard namun belum mempunyai posisi yang “kuat” pada suatu perusahaan harus bersiap untuk masuk “kotak” atau malah kehilangan pekerjaannya karena terjadinya perampingan organisasi perusahaan jika tidak selalu “belajar seumur hidup”.

Berubahnya perekonomian tahun 1990-an juga memaksa pekerja menanggung risiko jauh lebih besar dari era ekonomi sebelumnya. Risiko yang mereka tanggung bukan hanya saat mereka bekerja tetapi juga pada saat pensiun. Para pekerja mengandalkan program dana pensiun untuk meningkatkan penghasilan mereka pada masa pensiun nanti. Dalam mengelola dana pensiun, agar mendapatkan hasil yang maksimal, lembaga dana pensiun mempertaruhkan dananya pada saham di pasar modal. Namun, seringkali mereka tidak sadar, bahwa gelembung saham membuat laba menjadi tampak lebih besar dan membuat gelembung itu sendiri menjadi kian besar lagi. Dengan demikian, sebenarnya semua itu hanya sebuah fatamorgana yang tidak disadari bahwa akan dapat meletus pada suatu saat.
Anjloknya bursa saham, akan menyebabkan lembaga dana pensiun yang menempatkan dananya pada bursa saham akan langsung kekurangan dananya. Kondisi ini pada akhirnya akan berakibat kepada buruk bagi pekerja yang memiliki dana pensiun tersebut, yang tadinya diinvestasikan untuk persiapan penunjang kehidupan mereka di kala sudah tidak dapat bekerja lagi.

Dari uraian di atas, dapat kita tangkap bahwa pada era ekonomi baru, kebanyakan pekerja tidak lagi bekerja untuk satu majikan seumur hidupnya, tetapi berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Derasnya perubahan ini akan membuat perusahaan akan jatuh bangun dan lapangan kerja akan terstrukturisasi dengan cepat. Dengan demikian, cara berpikir tentang bentuk-bentuk tradisional mengenai “kepastian kerja” berubah menjadi “kemampuan bekerja” yang harus dibarengi dengan “belajar seumur hidup” agar tidak cepat tersisih dan masuk kotak dalam dunia kerja. Akhirnya, perlu pula dipahami bahwa pada era ekonomi baru, bagaimanapun juga posisi kaum pekerja berada dalam posisi yang relatif kalah dibandingkan majikan mereka. Hal ini, harus menjadi tugas pemerintah untuk memastikan bahwa perusahaan (majikan) tidak mengeksploitir asimetri kekuatan tersebut.


Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)
Read more ...
Monday, April 30, 2007

"EROMOKO" on the stage.... (invitation)


.......disini kita belajar untuk tidak menyerah pada takdir dan tak luput pula dari kehidupan........

sebuah naskah dari Bayu Murdianto,sebuah wujud eksistensi kami sebagai komunitas sastra, sebuah refleksi humanitas kami sebagai manusia yang bercipta, rasa, dan karsa.

mohon apresiasinya..... AULA PSBS UNSOED(KAMPUS KALIBAKAL), Senin 30 APRIL '07 jam 19.19 WIB.

--Salam Budaya--
Read more ...
Saturday, April 21, 2007

AKU INGIN JADI GERMO




Cerpen oleh : Shinta ArDjahrie

Senja memerah. Tiupan angin senja ini terhitung lemah di akhir musim dingin kali ini. Mungkin tak berapa lama lagi, perannya harus digantikan kemarau yang meretakan lapisan tanah. Gemuruh akan mulai menghentikan seriosa-nya sekedar memberikan ruang pada percikan tajam sinar mentari.

Hujan-panas…tetaplah panas. Setidaknya itu yang kurasakan di rumah-kalau harus disebut rumah-ini. Entah seperti apa sejuk itu, ingin sekali aku merasakannya. Air conditioner yang terpasang di ujung ruangan itu memang keluaran perusahaan ternama. Semerbak aroma terapi konon katanya pula membuat perasaan menjadi relax.

Namun, selalu saja hawa gerah yang terasa, apalagi kalau sudah menginjak senja.

Dering ponsel memberi warna senja itu ditengah-tengah bising musik country. Sesosok wanita sintal dengan tergopoh-gopoh mengangkat nokia 9100 dengan chasing warna menyala itu.

“…………..!!……!!!ya..ya…tenang aja…barang baru pasti kualitas yahud!”

Entah apa yang diobrolkannya, yang pasti kalimat itu menjadi akhir pembicaraan mereka. Aku hanya paham derai tawa genit yang sesekali mewarnai perbincangan wanita itu.

Cantik. Wanita itu maksudku. Dia memang wanita. Tentu saja cantik. Kalau ganteng itu ya pria.

Senja ini, tak seperti biasanya wanita itu tampak terburu-buru. Biasanya jam-jam segini, dia sudah rapi dengan dempulan powder, olesan lipstick, sentuhan blush on, eye liner, maskara, serta “pernak-pernik” lain.

Rupa-rupanya si wanita mempunyai selera sentuhan minimalis. Hal itu bisa terlihat dari cara berbusananya. Dari atas sampai bawah, sungguh “minimalis”, hingga kemolekan tubuhnya seperti manekin yang dapat dinikmati dengan mudah oleh siapapun.

Namun dia tetaplah cantik. Bagaimanapun dia, tetap cantik di hatiku. Gurat wajahnya menunjukan betapa kehidupan ini telah membuat ia harus bekerja keras.

Kau memang cantik………..ibuku!!!

*****

“Bener kamu mau kerja disini nduk?”

“Ya bener lah yu, …aku ya juga nggak enak numpang dan ngrepotin keluarga mbakyu terus-terusan. Aku kekota ya pengen kerja”

“Nggak usah nggak enak-nggak enakan kayak gitu. Aku ini kan juga mbakyu-mu. YA sudah, bentar lagi kamu bakal ketemu mamih”

“Mamih itu siapa tho Yu?”

“Dia yang bakal ngasih kamu kerjaan. Dia juga bigboss-ku. Mamih baik kok orangnya. Aku sama teman-tema dulu ditolong mamih waktu bingung cari kerjaan. Kamu liat sendiri toh hasilnya?aku bisa ngirim duit buat kalian di rumah”

“Iya..iya yu! Aku ya pengen punya duit sendiri. Mamih itu baik ya orangnya? Kok di jaman kayak sekarang masih ada orang kayak gitu!”

“”Iya,mamih juga sebenarnya bijaksana. Dia kadang jadi tempat ngadu kita kalau lagiada masalah. Berkat mamih kita semua bisa sejahtera kayak gini. Asal kamu jangan cari gara-gara, mamih juga nggak bakal galak sama kamu”

“Iya….iya…wah, mamih itu orangnya baik ya….kayak malaikat”

Obrolan dua bersaudara katro itu terhenti saat seorang wanita keluar dari ruangan sebelah yang dibatasi kain gorden warna merah menyala.

Kadang karena bosan, aku lebih memilih tidak berada di umah di saat-saat senja seperti ini. Berbgai macam permainan di rumah Sonya- sepupuku- lebih membuat aku tertarik hinga kerap kali aku menginap di rumahnya. Walau sebenarnya aku juga melihat beberapa mainan yang sama antara dirumahku dan dirumah Sonya. Sonya punya koleksi boneka-boneka barbie yang cantik-cantik lengkap dengan pernak-perniknya. Tapi aku punya yang lebih hebat. Banyak boneka- boneka cantik di rumahku. Mereka hidup. Bisa tertawa, menangis, bernyanyi, menari, dan lain sebagainya. Sonya pasti iri melihat boneka-boneka di rumahku lebih hebat. Apalagi ibuku yang merawat boneka-boneka itu. Kata boneka-boneka itu, ibuku baik hati. Apa tadi kata wanita itu??? Ibuku seperti malaikat.

Aku juga ingin seperti ibu. Wanita-wanita cantik itu patuh pada ibu. Kalau aku jadi seperti ibu, mereka juga pasti patuh padaku. Nanti aku ingin menyuruh mereka menipiskan dandanan yang seperti topeng itu. Aku juga akan membelikan mereka baju-baju yang lebih bagus yang lebih sopan yang nggak sobek sana-sini (mungkin mereka habis dimarahin Tukul Arwana, hingga baju mereka disobek-sobek). Aku juga akan melarang mereka kerja di malam hari. Kasihan…..pasti mereka ngantuk kalau harus kerja hingga larut malam. Kerjanya pagi-pagi saja. Mereka kan bisa menjahit, menyulam, merangkai bunga, mengasuh anak, dan lain-lain.

Mereka pasti mau menurut padaku……sama seperti mereka menurut pada ibuku…..karena ibuku malaikat bagi mereka………..karena ibuku seorang Germo!!

Aku ingin jadi malaikat juga……Aku ingin jadi germo!!!

Grendeng, 21 April 2007
Read more ...

Wirausaha Sosial Perempuan



oleh :R. Valentina Sagala *)

"Nya atuh Uwi, ari Uwi panting jeung keukeuh hayang
mah, mugi-mugi bae dimakbul ku Alloh nu ngawasa
sakuliah alam, urang nyoba-nyoba nyieun sakola
sakumaha kahayang Uwi. Pikeun nyegah bisi aya
kateungeunah di ahir, sakola teh hade lamun di pendopo
wae heula. Lamun katanyaan henteu aya naon-naon, pek
bae pindah ka tempat sejen".

Ucapan itu terlontar dari Bupati Bandung R.A.
Martanegara yang terkejut mengetahui Raden Dewi
Sartika (yang disebutnya neneh/nama panggilan "Uwi")
hendak menghadap dan ingin mendirikan sekolah bagi
wanita pribumi. Pada masa itu, posisi perempuan masih
-meminjam istilah Sunda- patih goah yang harus selalu
duolang tinande. Ia memang disebut sebagai "patih",
tetapi hanya di goah atau ruangan yang letaknya di
belakang rumah, tempat menyimpan makanan (Pikiran
Rakyat, 04/12/03).

Tantangan Perempuan
Meski ratusan tahun berlalu, seiring dengan
pembangunanisme Orde Baru, hingga kini sejumlah
persoalan masih menyelimuti perempuan Indonesia.
Kebijakan pembangunan yang bertumpu pada jargon
stabilitas terbukti mengantar Indonesia pada krisis
ekonomi berkepanjangan, terutama saat krisis multi
dimensi menjelang 1998 yang menyebabkan banyak
keluarga miskin mengirimkan anak-anak untuk mencari
nafkah.

Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 1999, sekitar
1,5 juta anak berusia 10-14 tahun bekerja membantu
keluarga. Mayoritas mereka bekerja di sektor pertanian
(69%), industri (11%), dan jasa (4%). Data Kementrian
Pendidikan menunjukkan bahwa 7,5 juta dari total 38,5
juta anak usia 7-15 tahun tidak bersekolah, sedangkan
sekitar 4% dari mereka terpaksa putus sekolah. Meski
dari jumlah tersebut tidak seluruh anak itu bekerja,
mereka yang putus sekolah atau sama sekali tidak
bersekolah cenderung mencari pekerjaan dan beresiko
terlibat dalam bentuk pekerjaan yang berbahaya.

Berdasarkan BPS, tahun 2005 jumlah penduduk yang
berada di bawah garis kemiskinan mencapai 35,2 juta
jiwa atau 15,8% dari total populasi penduduk. Maret
2006, jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 39,05
juta atau 17,75 persen dari total populasi. Kemiskinan
terbesar berada di wilayah pedesaan dan sektor
pertanian.

Krisis berkepanjangan semakin memicu menurunnya daya
beli, terutama masyarakat miskin. Kondisi ini
berimplikasi terhadap pertumbuhan angkatan kerja yang
semakin hari semakin meningkat, baik kuantitas maupun
permasalahan. Pada tahun 2001, dari penduduk provinsi
Jawa Barat, jumlah anak yang berusia 1-19 tahun
sebanyak 7.151.924 orang. Penelitian PKBI Jawa Barat
di beberapa lokalisasi pelacuran di Bandung tahun 2003
menunjukkan bahwa 24% dari mereka memasuki dunia
prostitusi ketika berusia anak.

Kemiskinan memang menjadi momok mengerikan bagi
Indonesia dan negara miskin berkembang lainnya. Itulah
mengapa Indonesia menyatukan komitmennya bersama 189
pemimpin negara lain guna mengubah dunia menjadi lebih
baik, dengan mendeklarasikan pencapaian Tujuan
Pembangunan Milenium atau Millenium Development Goals
(MDGs).

MDGs yang menargetkan pencapaian perubahan pada tahun
2015, memberikan ruang untuk pemenuhan kebutuhan dasar
seluruh warga, menjamin warga bebas dari rasa takut,
dan menjamin hak warga untuk hidup bermartabat dalam
kerangka hak asasi manusia.

Delapan poin MDGs adalah: (1) menghapuskan tingkat
kemiskinan dan kelaparan, dimana target untuk 2015
adalah mengurangi setengah dari penduduk dunia yang
berpenghasilan kurang dari 1 dollar AS sehari dan
mengalami kelaparan; (2) mencapai pendidikan dasar
secara universal, dimana target tahun 2015 adalah
memastikan bahwa setiap anak, laki-laki dan perempuan
menyelesaikan tahap pendidikan dasar; (3) mendorong
kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan, dimana
target 2015 adalah mengurangi perbedaan dan
diskriminasi gender pada semua tingkatan; (4)
mengurangi tingkat kematian anak, dimana target tahun
2015 adalah mengurangi tingkat kematian anak usia di
bawah 5 tahun hingga dua pertiga; (5) meningkatkan
kesehatan ibu, dengan target 2015 adalah mengurangi
rasio kematian ibu dalam proses melahirkan hingga 75%;
(6) memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya;
(7) menjamin keberlanjutan lingkungan serta
merehabilitasi sumber daya yang hilang, dimana tahun
2015 ditargetkan jumlah orang yang tidak memiliki
akses air minum yang layak dikonsumsi berkurang
setengahnya; (8) mengembangkan kemitraan global untuk
pembangunan.

Kenyataannya, di kawasan Asia-Pasifik hingga kini
jutaan orang, sebagian besar anak, tidak berpendidikan
dan tidak memperoleh makanan secara tetap. Perempuan
dan anak perempuan masih mengalami diskriminatif.
Sebanyak 20 anak meninggal tiap menit karena
kemiskinan dan penyakit yang bisa dicegah. Dua
perempuan meninggal tiap jam sebagai akibat kehamilan
atau melahirkan. Amrtya Sen menyebut, 100 juta
perempuan ‘hilang’ akibat hal-hal seperti pembunuhan
bayi perempuan, trafiking, pembunuhan, HIV/AIDS, dan
wabah lain terus merebak. Lebih banyak orang ‘hilang’
akibat kelaparan dan penyakit, ketimbang konflik,
peperangan, dan bencana alam.

Tak heran baru-baru ini Indonesia dinyatakan termasuk
di jajaran negara yang mundur dalam upaya pencapaian
MDGs (Kompas, 03/03/2007). Laporan "A Future Within
Reach" maupun Laporan MDGs Asia-Pasifik 2006
menempatkan Indonesia dalam kategori terbawah, dengan
skor negatif, baik dalam indeks kemajuan maupun dalam
status terakhirnya.

Kewirausahaan Sosial
Apa yang dilakukan Dewi Sartika, demikian pula yang
dilakukan Raden Ajeng Kartini yang hari kelahirannya
diperingati seluruh negeri ini setiap 21 April,
merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah
perubahan kondisi perempuan Indonesia. Perubahan,
inilah kata kunci yang terus menyemangati kedua
perempuan ini untuk melahirkan gagasan dan mewujudkan
selama masa hidupnya.

Dalam masyarakat, ditemukan individu-individu istimewa
dengan visi, kreativitas, komitmen kerja dan keteguhan
hati yang luar biasa -sebagaimana seorang wirausaha-
dan mengabdikan kemampuannya ini untuk memperkenalkan
solusi baru pada masalah-masalah sosial dalam
masyarakat. Individu ini melihat jauh ke depan,
berinovasi, baik dalam isu lingkungan, pendidikan,
pengembangan masyarakat, kesehatan, atau bidang lain
yang berhubungan dengan kebutuhan manusia. Merekalah
yang dikenal sebagai wirausahawan sosial (social
entrepreneur) (Pikiran Rakyat, 27/10/05).

Seperti Kartini dan Dewi Sartika, dengan gagasan baru
dan kreativitasnya dalam menyelesaikan permasalahan
sosial, para wirausahawan sosial ini berdedikasi pada
visinya mewujudkan pola baru dalam masyarakat. Dengan
keteguhan hati dan pantang menyerah, mereka bergelut
menjawab tantangan yang menghadang. Mereka menunjukkan
sikap, kepemimpinan, dan orientasi, disertai
keberanian untuk melakukan hal yang berbeda bahkan
beresiko. Dari sinilah, selain memecahkan masalah
sosial, mereka memberikan manfaat dan pengaruh yang
besar dan meluas untuk perubahan.
Sayangnya, sektor ini yang justru masih dipandang
sebelah mata oleh pemerintah Indonesia. Padahal tidak
dapat dipungkiri, pelaksanaan MDGs misalnya, bukan
berlangsung di gedung-gedung mewah dan bertingkat di
Jakarta, melainkan justru di daerah-daerah pelosok
dengan permasalahan kongkrit dan mendesak. Dengan kata
lain, solusi sesungguhnya bisa muncul dari ‘lapangan’,
dan bukan di depan laptop seharga Rp. 22 juta.

Dunia mulai diingatkan tentang kewirarusahaan sosial,
ketika penghargaan Nobel tahun 2006 jatuh ke tangan
seorang wirausahawan sosial bernama Muhammad Yunus.
Yunus adalah anggota Global Academy Ashoka, dimana
Ashoka dikenal sebagai sebuah organisasi global
pertama yang mengembangkan konsep kewirausahaan
sosial. Berkat gagasannya memberantas kemiskinan
melalui sistem keuangan mikro yang lebih dikenal
sebagai Grameen Bank, Yunus telah membantu jutaan kaum
miskin di Bangladesh, terutama perempuan yang selama
ini sangat sulit memperoleh akses.

Melalui Grammen Bank, Yunus membangun sistem untuk
memperoleh kesejahteraan yang lebih baik di tengah
kemiskinan yang mencekik. Ia membuktikan pentingnya
sistem perbankan berubah menjadi sensitif dan
berdampak pada masyarakat miskin, khususnya perempuan.
Ia tidak hanya menginspirasi masyarakat Bangladesh,
tetapi juga masyarakat dunia.
Dalam bukunya How to Change the World (2004), David
Bornstein memaparkan bagaimana wirausahawan sosial di
dunia, yang hampir tak terliput oleh media, telah
mengubah sejarah dunia dengan terobosan berupa gagasan
inovatif, memutus sekat birokrasi, mengusung komitmen
moral yang tinggi dan kepedulian mengagumkan yang akan
terus menjadi sumber inspirasi. Ia menceritakan
puluhan kisah, seperti Jeroo Billimoria (India) yang
membangun jaringan perlindungan anak terlantar, Vera
Cordeiro (Brazil) yang mereformasi perawatan
kesehatan, atau Veronika Khosa (Afrika Selatan) dengan
model perawatan berbasis rumah (home-based care model)
untuk penderita AIDS, yang telah mengubah kebijakan
pemerintah tentang kesehatan di negaranya.

Di Indonesia, sebuah contoh kecil kisah wirausahawan
sosial dapat dilihat dari sosok Tri Mumpuni. Perempuan
ini gelisah atas fakta bahwa sekitar 75 juta penduduk
Indonesia masih hidup tanpa layanan listrik.
Pembangkit listrik mikrohidro telah dilakukan selama
bertahun-tahun, dan meskipun secara teknis dinyatakan
layak, namun hambatan finansial dan aturan
perundang-undangan membatasi potensinya sebagai solusi
berskala besar. Dengan penciptaan insentif ekonomis
dan pengembangan program-program pembiayaan, Mumpuni
berhasil membantu masyarakat pedesaan Indonesia
memperoleh layanan listrik.
Bagi Mumpuni, kunci pengadaan listrik pedesaan
terletak pada adanya sistem berbasis komunitas
berkesinambungan, yang ditentukan oleh kepemilikan
masyarakat. Sistem ini memungkinkan masyarakat berbagi
pendanaan, ikut mengambil keputusan pada perencanaan,
pengoperasian, pemeliharaan, dan pengembangan
program-program pedesaan sebagai dampak dari
pendapatan yang diperoleh.

Di desa Cinta Mekar, Jawa Barat misalnya, masyarakat
kini mampu memperoleh pendapatan dari pengembangan
usaha energi listrik ini. Tidak hanya usaha ini mampu
memberi penerangan kepada sekitar 620 keluarga atau
3.000 jiwa, namun ia telah menstimulasi kegiatan
ekonomi yang menyerap tenaga kerja dan memfasilitasi
kegiatan sosial lainnya seperti pendidikan, kesehatan,
dan lain-lain (Ashoka, 2007).
Di Indonesia, individu-individu seperti ini sangatlah
dibutuhkan. Pemerintah seharusnya mulai memberikan
dukungan dan menciptakan iklim kondusif bagi kehadiran
para agen perubahan ini. Dukungan yang berakar pada
satu tekad, mengubah Indonesia menjadi lebih baik,
lebih sejahterah, lebih damai, lebih adil, bagi
laki-laki dan perempuan... Selamat Hari Kartini!

*)Aktivis Perempuan, Executive Board of Institut
Perempuan, Dosen Fakultas Hukum Universitas Katholik
Parahyangan.

(Judul asli: Kartini, Dewi Sartika, dan Kewirausahaan
Sosial)
Read more ...
Thursday, April 05, 2007

Aksi Mahasiswa UNSOED Anti BHP


pengantar : ni foto aksi tolak BHP UNSOED waktu tanggal 21 Maret 2007. WUih....seru lho. Tau nggak waktu itu, nta ikut dari awal.Dari awal Cuma dua orang nta sama mas Anas LAPMI (Presiden DEM D3Bhs.Inggris) trus kita ke pendopo trus ke start di Fabio...trus jemput massa dari fakultas ke Fakultas hingga mencapai ratusan orang (yeah,,,,kalo diitung sama Dalmas-nya bisa nyampe 2000 orang lah...he...he...he.... )Pokoknya pengalaman yang tidak terlupakan. Sampe capeeeek banget. Tapi perjuangan belum selesai, walaupun di hari Sabtu-nya (24/3/07) dilanjutin lagi demonya. malah hampir chaos. nieh beritanya ada di bawah. Buat Temen-temen KBMU : Keep spirit, perjuangan kita belum selesai, HIDUP MAHASISWA!!!.

nb : eh ada cerita2 lucu n seru waktu demo lho...tapi ntar deh nta posting lain kali aja....he..he...


Mahasiswa Unsoed Blokade Jalan (Suara Merdeka, 26 Maret 2007)

* Adang Rektor saat Wisuda

PURWOKERTO - Sekitar seratus mahasiswa dari berbagai fakultas dan progam sarjana yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Unsoed Anti-BHP, Sabtu (24/3), mengadang Rektor Prof Dr Sudjarwo yang akan mewisuda sarjana (S-1), diploma tiga (D-3), dan pascasarjana (S-2), di Gedung Pertemuan Soemardjito, Jl Kampus. Aksi tersebut lanjutan aksi-aksi sebelumnya yang menuntut Unsoed menolak program BHP dari pemerintah.

Untuk berdialog dengan rektor, mahasiswa terpaksa menggelar aksi di sekitar lokasi wisuda. Mereka menutup akses masuk ke Gedung Soemardjoto. Sebaliknya, agar tidak mengganggu kegiatan tersebut, pihak kampus juga menghadang demonstran dengan memblokade jalan menggunakan papan pengumuman dan pagar betis anggota satuan pengamanan kampus.

Mereka saling berhadapan dan beberapa kali terjadi ketegangan, terutama saat mahasiswa memaksa untuk maju. Karena jalan diblokade, para wisudawan dan pengantar mereka kesulitan untuk lewat, baik saat berangkat maupun pulang.

Jalan yang tertutup rapat oleh blokade satpam dan mahasiswa yang beraksi itu juga dikeluhkan para wisudawan dan tamu undangan.

Saat wisuda usai, mahasiswa juga gagal menemui rektor di lokasi tersebut. Sebab, rektor dan jajaran pembantu rektor serta pejabat lainnya bersedia menemui demonstran di rektorat. Pertimbangannya, bila ditemui di lokasi aksi, tidaklah memungkinkan. Hal itu juga bisa menggangu kelancaran lalu lintas di sekitar gedung pertemuan tersebut. Akhirnya, beberapa wakil demonstran menemui rektor di kantornya.

Aksi itu dipimpin oleh koordinator lapangan Bedit Nana Sembodo. Mereka tetap menuntut rektor untuk menolak rencana kampus Unsoed dijadikan BHP pada 2010. Selain itu, mereka juga menolak RUU BHPMN, dan meminta dana persatuan orang tua mahasiswa (POM ) dihapus.

Tidak hanya itu, demonstran juga meminta rektor memperjelas status program studi, menolak penggabungan FISIP dan Program Studi Bahasa dan Sastra serta penghapusan sumbangan pengembangan institusi (SPI).

''Tahun ini, kami mendengar dana POM dinaikkan rata-rata menjadi Rp 2 juta per mahasiswa. Informasi yang kami himpun, tahun 2006 dana POM yang terkumpul mencapai Rp 7 miliar,'' kata Bedit dalam orasinya.

Setelah acara wisuda selesai, mereka juga membubarkan diri dengan tertib. Namun mereka akan terus melakukan aksi susulan kalau pihak kampus dan tim sosialisasi BHP tetap meneruskan kegiatan sosialisasinya. (G22,shs-71)
Read more ...
Saturday, March 10, 2007

Bangga Berdemokrasi Menuju Civil Society


Oleh : Shinta Ardhiyani Ummi

Belasan ribu pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke bukan sekedar sebuah lirik lagu. Hal yang menakjubkan itu memang dimiliki oleh negara kita tercinta, Indonesia. Indonesia adalah tanah kaya, bukan dari hal fisik-nya saja, melainkan juga hal budaya, kebiasaan, adat istiadat, serta pola pikir. Tepat sekali bahwa Indonesia memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika, karena memang Indonesia mempersatukan banyak hal yang berbeda. Mempersatukan berbagai kemajemukan, mempersatukan ratusan juta orang dalam sebuah naungan Indonesia.
Kemajemukan yang Indonesia miliki merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Dalam konteks ini, kebanggaan tercakup dalam sedikitnya tiga hal konsekuensi, yakni : membanggakan, mensyukuri, serta mengelolanya dengan baik. Tanpa adanya kesinambungan tiga hal tersebut, maka kemajemukan Indonesia hanya menjadi sebuah potensi yang mati.
Mengelola sebuah kemajemukan bukan sesuatu yang mudah. Sebuah kesatuan yang harus dapat mengakomodir semua elemen yang ada. Kita dapat menjawab hal itu dengan demokrasi. Demokrasi merupakan sebuah sistem yang cukup relevan untuk diimplementasikan pada pengelolaan kemajemukan. Demokrasi dalam segala bidang yang memungkinkan terakomodirnya seluruh elemen bangsa. Demokrasi dalam konteks ini dapat menjadi sebuah kebanggaan sekaligus mengelola kebanggaan.
Demokrasi memiliki pengertian sebagai sebuah bentuk atau mekanisme sistem pemerintah suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Istilah demokrasi berasal dari Yunani kuno yang diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem demokrasi di berbagai negara.
Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik, hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.1
Ada dua aliran demokrasi, yaitu demokrasi konstitusional dan demokrasi berdasarkan ajaran Marxisme-Leninisme.2 Kedua aliran demokrasi tersebut berasal dari Eropa. Tetapi setelah perang dunia II, dua aliran demokrasi itu didukung oleh beberapa negara baru di Asia. Demokrasi konstitusional diikuti oleh India, Pakistan, Philipina, dan Indonesia meskipun masing-masing memiliki bentuk pemerintahan yang berbeda. Demokrasi berdasarkan ajaran Marxisme-Leninisme diikuti oleh Cina dan Korea Utara.
Negara yang menerapkan demokrasi konstitusional ditandai oleh beberapa hal, yaitu : kekuasaan pemerintah terbatas, negara hukum (rechstaat) yang tunduk pada rule of law, dan tidak boleh bertindak sewenang-wenang terhadap warga negaranya. Pembatasan kekuasaan pemerintahan ini tercantum di dalam konstitusi. Pemerintahan berdasarkan konstitusi akan menjamin hak-hak asasi warga negara. Alasan pembatasan kekuasaan ini antara lain sebagaimana pernyataan Lord Acton bahwa ‘power tends to corupt, but absolute power corupts absolutely’ artinya bahwa kekuasaan itu cenderung korup, apalagi kalau kekuasaan tanpa batas, sudah pasti korup. Oleh karena itu, harus ada pembagian kekuasaan agar kesempatan penyalahgunaan kekuasaan dapat diperkecil.
Negara yang menerapkan demokrasi berdasarkan ajaran Marxisme-Leninisme ditandai oleh adanya pemerintahan yang tidak dibatasi kekuasaannya (machstaat) dan bersifat totaliter.
Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechstaat) tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machstaat). Pemerintah berdasarkan atas sistem konstitusi (hukum dasar) tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas). Berdasarkan kedua istilah rechstaat dan sistem konstitusi tersebut, maka demokrasi yang menjadi dasar dari UUD 1945 adalah demokrasi konstitusional. Corak khas demokrasi Indonesia adalah ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permuyawaratan / perwakilan’ sebagaimana tersurat di dalam alinea IV pembukaan UUD 1945. Implementasi demokrasi juga dapat dijumpai pada beberapa pasal dalam UUD 1945, seperti : pasal 27 s.d 30 UUD 1945 yang merupakan perwujudan persamaan dan kebebasan warga negara dalam bidang politik ; sedangkan pasal 31 s.d 34 merupakan perwujudan upaya pemerintah untuk secara langsung turut serta dalam bidang kesejahteraan rakyat. Dasar hukum negara kita telah secara langsung turut berupaya mewujudkan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Demokrasi memiliki arti penting bagi Indonesia. Demokrasi merupakan salah satu tonggak penyanggah kemerdekaan yang telah dicapai. Kemerdekaan yang sudah sepatutnya kita hargai karena untuk mencapainya diperlukan perjuangan yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bentuk penghargaan itu adalah dengan mengisi kemerdekaan dengan sistem demokrasi yang berkeadilan. Mengenai arti penting demokrasi lainnya, Samuel P Huntington dalam bukunya, “The Third Wave Democration in The Late Twentieth Century” (1991) juga mengungkapkan bahwa demokrasi telah menjadi kata kunci dalam wacana dan pergerakan politik dunia.
Sebagai dasar hidup bernegara, demokrasi memberikan pengertian bahwa pada tingkat terakhir rakyat merasakan langsung manfaat demokrasi yang dilaksanakan. Rakyat berhak menikmati demokrasi sebab hanya dengan demikianlah arah kehidupan rakyat dapat diarahkan pada kehidupan yang lebih adil dalam semua aspek kehidupan. Maka dari itu, negara demokrasi adalah negara yang berlandaskan kehendak dan kemauan rakyat, karena kedaulatan berada di tangan rakyat.
Selain itu, semangat berdemokrasi merupakan sebuah manifestasi dari masyarakat Indonesia yang berwawasan nusantara. Wawasan nusantara dalam salah satu perspektifnya merupakan cara sikap dan pandang bangsa Indonesia mengenal diri dan lingkungannya yang beragam. Sikap mengenal diri dan lingkungannya ini merupakan sebuah indikasi dari sebuah kepedulian terhadap apa yang terjadi pada bangsa. Demokrasi sangat memungkinkan sebagai sebuah cara mengeksplorasi dari sikap kepedulian tersebut. Demokrasi mempersuasikan masyarakat untuk membunuh keapatisan untuk dapat berperan serta dalam keberlanjutan pembangunan bangsa.
Indonesia yang memiliki demokrasi dan mau berdemokrasi merupakan sebuah substansi yang dapat dibanggakan. Adanya penyelenggaraan regulasi yang membuka kesempatan demokrasi adalah sebuah sikap pemerintah yang mau mendengar rakyatnya. Sebaliknya, adanya rakyat yang mau berdemokrasi adalah sebuah sikap implementasi wawasan nusantara serta pembunuhan keapatisan dan merupakan sebuah karakter masyarakat madani (civil society) yang kita idamkan.
Mempersoalkan demokrasi memang bukan berarti kita sudah pakar dalam berdemokrasi. Pada harian Kompas edisi 1 September 1998, Gus Dur pernah menyatakan pendapatnya tentang demokrasi di Indonesia yang tertuang dalam sebuah tulisan yang berjudul “Masa Depan Demokrasi di Indonesia”. Dalam tulisannya, Gus Dur mempertanyakan mungkinkah demokrasi dapat ditegakan pada periode setelah pemilu pertama setelah tumbangnya kekuasaan orde baru? Dengan ringan Gus Dur menjawab , “Tidak”. Pernyataan tersebut sempat mengejutkan berbagai pihak sebab dalam kenyataannya telah terjadi perubahan besar di panggung politik yang memberikan peluan bagi tegaknya demokrasi seperti berdirinya partai-partai politik yang didukung oleh cendekiawan, mahasiswa, media massa, LSM yang semuanya hampir bertujuan mengakkan demokrasi. Namun di sisi lain Gus Dur beralasan bahwa konstelasi politik yang ada belum memungkinkan tumbuhnya demokrasi yang sebenarnya karena masih banyaknya rekayasa dan intrik yang berlaku. Di samping itu masih adanya lembaga negara yang mempertahankan status quo, demikian juga dengan UU Pemilu dan sistem politik yang ada masih memungkinkan terjadinya hal itu serta yang lebih penting tradisi kita belum melahirkan budaya politik yang sehat.
Ketika kita mempertanyakan kesiapan Indonesia dalam berdemokrasi, memang banyak hal berkaitan dengan situasi bangsa yang dapat menjadi pertimbangan. Situasi bangsa yang dimaksud tersebut, mencakup perkembangan ekonomi yang baik, pengetahuan ketrampilan berpolitik setiap orang / kelompok yang cakap dan sehat, dukungan elite-elite politik yang sungguh-sungguh demokrasi, penegakan hukum dan perlindungan HAM yang kuat, tunjangan kebudayaan (budaya demokrasi) yang memadai dan pemahaman atas sejarah, nasionalitas, filosofis dasar negara, landasan politik yang digunakan para elite, dan lain-lain.3
Kalau menilai raport demokrasi di Indonesia memang belum dapat meraih indeks prestasi “cum laude” . Kenyataan bahwa demokrasi telah tumbuh menjadi alasan reformasi dengan kecenderungan mengabaikan HAM memang tidak bisa dipungkiri. Semua sikap demokrasi yang dijalankan selalu membonceng makna reformasi sebebas-bebasnya, tanpa mampu membedakan sikap-sikap yang arogan. Kemudian jika dilihat dari kondisi peta politik sekarang memang sangatlah tepat bila dikatakan demokrasi seolah tidak ada artinya. Semua serba anarkis. Partai politik saling berkonflik ria. Pejabat dan kaum elite saling berargumen semua atas nama rakyat. Lembaga negara di bidang hukum masih diintervensi.
Berjalannya demokrasi akan tercapai bila telah terjaminnya suatu kehidupan demokratis. Kehidupan yang demokratis itu berlaku dalam semua bidang kehidupan (poleksosbud, pendidikan). Selain itu, demokrasi yang berlandaskan hukum sangat perlu ditegakkan. Seperti pendapat Oksidelfa Yanto salah seorang staff CSIS Jakarta, bahwa yang harus dikedepankan dalam suatu negara demokrasi adalah adanya persamaan di depan hukum karena demokrasi saja tanpa hukum akan melahirkan sikap anarkhis dan chaos. Sebaliknya, hukum saja tanpa demokrasi akan membuat bangsa ini kembali ke pangkuan kediktatoran.
Namun, dari sudut pandang pragmatis, pembelajaran demokrasi bagi Indonesia tetaplah sebuah kebanggaan. Lepas dari teoritis demokrasi , perlu ditekankan bahwa dalam prakteknya demokrasi adalah sebuah proses. Saat ini kita sedang melalui proses pembelajaran demokrasi. Setidaknya , itikad berdemokrasi merupakan point plus tersendiri dalam hal peran serta elemen masyarakat dalam keberlanjutan pembangunan bangsa. Tanpa munculnya kesadaran dan pembelajaran berdemokrasi, mungkin tak ada gempita gerakan mahasiswa dalam memperjuangkan reformasi. Mungkin bangsa ini akan terus dalam kungkungan kekuasaan orde baru dengan otoritas serta absolutisme. Setidaknya pembelajaran berdemokrasi telah meluruskan arah demokrasi kita sebagai rechstaat bukan sebagai machstaat.
Masyarakat madani adalah masyarakat yang pembelajar dan memiliki itikad kuat untuk belajar termasuk dalam konteks ini adalah belajar berdemokrasi dan turut serta dalam pembangunan bangsa yang berkelanjutan. Tidak ada sebuah teori phytagoras tanpa mendahuluinya dengan teori operasi bilangan. Maka tak ada sebuah penegakan demokrasi tanpa adanya pembelajaran mengenai demokrasi itu terlebih dahulu dengan situasi dan kondisi yang telah ada. Tentunya masyarakat pembelajar juga memiliki pola pikir yang progresif. Dengan semangat pembelajar yang kuat, maka bibit demokrasi akan berkembang sebagai induk semang. Semoga usia demokrasi kita tidak akan sekedar menjadi tua namun lebih tepat menjadi dewasa. Semoga kita akan terus belajar, belajar, dan belajar untuk berdemokrasi dan membangun Indonesia menuju keadaan yang lebih baik. Akhir kata, aku bangga menjadi anak negeri yang berdemokrasi!!!

Purwokerto, Maret 2007

daftar pustaka:
Pramono Edi dkk. 2006.Pendidikan Kewarganegaraan. Purwokerto: Penerbit Universitas Jendral Soedirman Purwokerto.

terima kasih juga kepada:
http://www.pbhmi.com
http://ambudaya.weblog.
Read more ...
Wednesday, March 07, 2007

International Woman's Day


...........atas nama perempuan........

hari ini...8 Maretkuucapkan Selamat Hari Perempuan Sedunia


semoga semakin banyak perempuan yang bisa menyadari jati dirinya serta menempatkan pada posisi yang sesuai....

persamaan kedudukan bukanlah sebuah hal yang menjadi momok. mungkin aku tak bisa berkata selihai para kaum yang menamakan dirinya sebagai kaum 'feminis'. namun ku juga bukan mengokohkan bangunan ideologi patriarki. yang pasti...banyak yang bisa dilakukan perempuan selain meneriakan keperempuanannya.


special untuk semua perempuan di dunia.
Read more ...

Catatan Senja


Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila disapa duri yang menanti
Akan kaburkan mata yang menatap
Pada debu yang pastikan hinggap


sebait lirik dari nasyid The dzikr tiba-tiba teringat di senja ini.
beberapa kejadian di beberapa hari terakhir membuat kepalaku terasa pusing.

kenyataan yang baru kuketahui, yang membuat miris dan mual, membuat aku merasa sendiri. amanah yang semakin bertambah tak diiringi pengurangan kadar keapatisan membuat aku mudah merasa lelah.
mungkin benar kata Ali Syari'ati, seorang pemikir reformis Iran, manusia memiliki free will (kehendak bebas) yakni bebas memilih hendak berbuat dosa atau kebaikan. "Maka Allah mengilhamkan pada manusia jalan kejahatan dan ketakwaan." (QS Al Lail, 92:8). Toh, segalanya akan dipertanggungkan di hari akhir (the judgement day).


Semakin nyatanya perjuangan yang dihadapi serta tuntutan moral terhadap keadaan sekitar membuat aku semakin yakin untuk mesumbangsihkan diri ini untuk kemanusiaan.Jika dahulu Multatuli—seorang Belanda yang dianggap pembelot oleh bangsanya—tergerak melukiskan derita rakyat Banten ketika melihat seorang lelaki tua terkapar kelaparan, mungkin saat ini jika ia berumur panjang penanya akan gesit menari menceritakan fenomena yang sedang qhadapi.

tantangan untuk berkarya*pada event-event itu* mengingatkan nta akan prinsip hidup 'Life is do work"....semakin banyak peluang ku untuk mengkaryakan diri dalam berbagai rupa.............

sementara....kerapuhan fisik pun juga terkadang menjadi sedikit sandungan........

teman satu fikroh dengan satu pemahaman pun tak kunjung ditemui...

menjadi pilot project...
menjadi qudwah...
entah apalagi sebutannya.........itulah yang sedang aku rentas....

......................*asal jangan menjadi konyol saja*................

teringat akan sebuah pesan,
"itulah perjuangan dinda, kt hrs yakin dinda bahwa apa yang kita lakukan skrg akan kita tuai hasilnya kemudian...Apa yang kita lakukan tdk ada yang sia-sia dihadapan Tuhan...semoga dinda tetap istiqomah...."

atau sebuah pesan yang datang senja ini dari seorang sahabat di kota kelahiran,
".....setidaknya Nta istiqomah sudah menjadi nilai tersendiri di hadapan Allah. tentunya tidak akan sia-sia. suatu saat nanti nta dpt melubangi batu sekeras apapun dgn kegigihan beristiqomah.Kisah hidup nta bisa menjadi inspirasi indah untuk tulisan-tulisan nta........SEMANGAT!!!"



saat ini mungkin aku ada di kulminasi...aku ingin merefresh diri ini...untuk kembali mendongak dan menegakkan badan....masih panjang jalan perjuangan....masih banyak pengabdian yang harus aku lakukan (termasuk pada keluarga dengan kuliah yang bener...he..he...he...)




...tetaplah tersenyum pada dunia.... dunia menunggu kiprahmu.........
Read more ...
Tuesday, February 27, 2007

Mengapa Juwono Sudarsono nge-Blog



Siapa menteri pertama yg punya blog? Jawabnya: Menhankam Juwono Sudarsono. Ini alamat blognya: http://juwonosudarsono.com.

Pertanyaan kedua, mengapa dia mesti punya blog? Bukankah tulisannya sudah dimuat di berbagai media nasional dan internasional dan namanya sudah terkenal? Dia tidak menjelaskan secara rinci, tapi dari biodata yg ada di blognya, penjelasannya sbb:

This site is primarily a weblog. It is a personal blog containing Juwono Sudarsono interest, views, opinions and activities. The day-to-day operations of this blog is assisted by one of his sons.

Dg kata lain, kalau publikasi / tulisannya di media atau buku secara langsung atau tidak akan terkait dan terikat dg jabatan akademis dan jabatan kenegaraannya, maka ia ingin memiliki ruang khusus untuk mengungkapkan opini pribadi yg tak dapat dilakukannya kecuali melalui blog.

Contohnya pada posting pertamanya 22 Mei lalu, dia mengungkapkan rasa bahagianya atas kelahiran cucu pertamanya, Lavanya Eliana. Dia menulis,

Sense of joy and great hope that this baby girl from Brenda and Yudhis will bring happiness, peace and love to all members of the family on both sides; that she brings to Brenda and Yudhis greater love, care and understanding for each other; that advances tolerance and compassion among all religious, ethnic and racial groups in our society and nation.


Tidak semua tulisannya berkaitan dg keluarga. Ada juga refleksi sosial-politiknya. Umpama seputar Pancasila berikut kutipannya soal Pancasila

My own feeling is that the rehashing of philosophical and values debates urgently need to be followed on by something more tangible on the ground. Inter-faith dialogues, including matters relating to "Islam-West relations", have had considerable play in many forums across the Middle East, North America, Europe and Asia.


Postingan seputar Pancasila ini memancing banyak komentar, sampai tulisan ini dibuat sudah ada 27 komentar. Boleh dikatakan blog Pak Juwono sebagai blog baru yg paling cepat populer.

Dari isi respons pembaca blognya yg begitu rame dan antuasiasme tinggi karena bisa "ngobrol" dg menteri, saya menarik beberapa kesimpulan mengapa langkah nge-blog Juwono mesti ditiru oleh para pejabat lain bukan hanya di kalangan menteri dan DPR tapi juga dirjen, diplomat sampai RT:

Dalam konteks hubungan rakyat-pemerintah:

1. Untuk mempersempit gap antara rakyat-pejabat dan menambah kesepahaman;
2. Untuk menunjukkan pada khalayak bahwa individu pemerintah itu manusia yg tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi memang selalu berpikir dan berbuat untuk rakyat, dll.

Dalam konteks personal:

1. Menulis apa yg jadi obsesi dan pikiran akan membuat kita sedikit terlepas dari rutinitas kantor yg (mungkin) membosankan.
2. Menulis apa yg terpikir akan menunjukkan pada dunia dan pembaca bahwa pejabat itu juga manusia biasa yg juga sedikit banyak berbagi/memiliki kesamaan idealisme dan perasaan dg rakyatnya.
3. Ada anggapan di kalangan umum bahwa yg jadi pejabat itu orangnya "tidak pintar" karena cuma mikirin duit melulu. Blog bisa jadi sarana untuk menghilangkan kesan negatif itu, dll.
(dari kolom-mario.blogspot.com --tutorial blog-- )
Read more ...
Friday, February 09, 2007

WANTED: Cewek Cerdas!

dikirim via email oleh seorang teman..................trus inboxquw penuh so emailnya mo ku-delete....nah daripada gk ada arsip(coz..artikelnya baguz sieh!!!) so aku upload di blog dech....

WANTED: Cewek Cerdas!
STUDIA Edisi 306/Tahun ke-7 (14 Agustus 2006)

Cewek cerdas, kayaknya saat ini lagi laris manis bak kacang goreng. Ungkapan-ungkapan yang terlontar dan sering terdengar ‘udah keren, cakep, cerdas lagi’. Dan berbagai ungkapan sejenis. Bahkan dalam ajang yang notabene umbar aurat semisal pemilihan model dan Miss Universe yang sudah berlalu, kategori brain juga dimasukkan sebagai faktor kemenangan. Biar keren gitu loh kelihatannya. Meski pada faktanya juga kecerdasan mereka pada nggak bisa dipertanggungwajabkan. Inget kasus Nadine Chandrawinata kan?
Eh, tapi kenapa juga yang sering cerdas dalam nilai akademis, apalagi lomba-lomba sains dan teknologi, seringnya didominasi para cowok? Apa bener sih cewek itu memang makhluk lemot dan hanya punya fisik sebagai andalan? Hmm... untuk menjawab hal beginian emang nggak mudah sih. Yuk kita bahas satu per satu, yuk.
Cewek cerdas, ada nggak sih?Baru-baru ini banyak banget diselenggarakan ajang olimpiade sains tingkat nasional dan internasional. Tapi kalo kita amati, sepertinya nama-nama yang muncul mayoritas dari makhluk berjenis cowok. Andhika Putra, Ali Sucipto, Purnawirman, Michael Andrian dan Ario Prabowo. Kemana nih para cewek-ceweknya? Apa iya mitos tentang cewek tuh makhluk kelas dua jadi terbukti hanya gara-gara cowok selalu lebih unggul dari cewek?
Sebetulnya juga nggak gitu-gitu banget kok. Ada juga cewek cerdas seperti Aulia Tirtamarina dan Thina Ardhiana Mewakili ITS ke Pontianak. Mau ngapain? Masa’ mau transmigrasi. Ya nggaklah. Mereka inilah yang akan mengikuti Presentasi Pemikiran Kritis Mahasiswa Tingkat Nasional di Pontianak. Lalu masih banyak nama-nama cewek lainnya yang berada pada deretan perwakilan lomba karya ilmiah semisal Dewi Chasanah dan Linda Puspitasari. Di antara mereka ada juga para muslimah dan berjilbab lagi. Pasti bangga dong.
Kaum Hawa juga punya Ibu Ratna Megawangi (itu lho, istrinya Menkominfo Sofyan Djalil) yang mengantongi gelar doktor dan post doktoral. Lalu ada juga ibu Dr. Ing. Gina Puspita, DEA yang lulusan Ecole National Superieure de I’Euronatique et de; ‘Espace (ENSAE) Toulouse France. Wanita kelahiran Bogor 8 September 1963 ini pernah menjadi Kepala Departemen Structure Optimization Divisi Riset & Development IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara). Oya, Ibu Gina pernah juga ‘menggegerkan’ dunia kampus dengan kecerdasannya dan memakai cadar ketika mengajar mahasiswa di ITB.
Bahkan saking nggak umumnya cewek cerdas, di Universitas Stanford, California ada seorang profesor yang ganti jenis kelamin dari perempuan menjadi laki-laki. Nama aslinya Barbara Barres diganti menjadi Ben Barres. Sedari lahir hingga gede, ia memang seorang perempuan tulen. Tapi pengalaman hidup dan diskriminasi membuatnya merasa tak nyaman menjadi perempuan. Apalagi dengan kecerdasannya yang di atas rata-rata.
Ketika masih kuliah, kelasnya dipenuhi makhluk yang berjenis kelamin laki-laki daripada perempuan. Ketika ada soal matematika sulit, ia adalah satu-satunya perempuan yang bisa mengerjakan soal itu. Apa tanggapan sang dosen? Si dosen malah mengejek dengan mengatakan soal sulit itu pastilah dikerjakan pacar si mahasiswi.
Lalu di kota Wellington, ada hakim di sana yang sehari-harinya memakai pakaian cewek padahal ia adalah laki-laki tulen. Ia bukan banci, wadam ataupun waria. Ia adalah seorang suami dan bapak dari beberapa anaknya. Bahkan sikapnya ini didukung oleh istri dan anggota keluarga yang lain. Usut punya usut ternyata bapak hakim ini memprotes sistem peradilan Wellington yang tak memberi kesempatan pada kaum perempuan untuk berprestasi utamanya di bidang peradilan. See, sebetulnya bukannya nggak ada perempuan cerdas itu. Tapi ada sesuatu dan lain hal yang menghalangi perempuan untuk menjadi cerdas. Nah, apakah sesuatu itu?
Kenapa cewek cerdas langka?Wah... pertanyaan apa pula ini? Pernah nggak sih pertanyaan seperti ini terbersit di benakmu? Kenapa jarang banget kita mendapati cewek cerdas di tengah masyarakat? Umumnya yang muncul selalu laki-laki. Sistem hidup yang mendiskriminasikan perempuan, jawabnya. Lihatlah sistem hidup yang ada saat ini dengan falsafah sekuler plus kapitalis yang katanya membela kesetaraan gender. Lihat pula negara yang mengaku kampium demokrasi alias si congkak Amerika.
Apa yang dilakukan oleh sistem dan negara ini? Ternyata mereka sangat meminggirkan perempuan dengan segenap potensinya. Kamu tahu mengapa ada isu kesetaraan gender? Karena memang pada dasarnya gender perempuan tak pernah benar-benar diakui dan dihormati dalam sistem Kapitalisme-sekularisme itu.
Coba bandingkan dengan Islam yang sudah sejak awal konsepnya laki-laki dan perempuan diperlakukan sama di depan hukum syariat. Bila laki-laki ada kewajiban sholat, puasa, zakat hingga menunaikan ibadah haji, maka perempuan mempunyai kewajiban yang sama pula. Bila laki-laki wajib untuk menuntut ilmu, berdakwah dan berjihad, maka perempuan mempunyai hak yang sama pula.
Karena syariat Islam berasal dari yang menciptakan manusia, Ia pula yang tahu ukurannya. Sehingga Ia pula yang berhak membuat hukumNya. Meski laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban sama, tapi nggak semuanya dipukul rata agar sama semua.
Contoh sederhana adalah jatah untuk kamu dan temanmu. Kamu yang biasanya makan cukup sepiring diberi jatah dua piring hanya gara-gara kepingin sama porsinya dengan temanmu yang olahragawan, misalnya. Atau temanmu yang biasanya jatah makan dua piring cuma diberi satu piring karena biar sama dengan dirimu. Apakah ini bisa dibilang adil?
Sama juga dengan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam Islam. Adil adalah ketika porsi masing-masing diberikan secara tepat guna. Perempuan cerdas itu tidak diukur dari seberapa tinggi nilai IP-nya. Tapi perempuan cerdas adalah perempuan yang mampu menyelesaikan seluruh permasalahan dalam hidupnya dengan satu tolok ukur tertentu yang bertanggung jawab.
Apakah itu? Hukum syara’. Karena seperti kata Om Daniel Goleman bahwa kecerdasan otak saja tidak akan membawa seseorang kepada kesuksesan. Harus ada cerdas secara emosi. Bahkan akhir-akhir ini muncul istilah kecerdasan secara spiritual. Kenapa harus dibagi-bagi seperti itu? Kenapa tidak kita pilih saja kecerdasan yang memberi paket all in dalam satu kemasan?
Tapi, cerdas seperti apa sih yang emang top banget? Soalnya kalo cuma cerdas sebatas nilai kimia, matematika dan fisika hampir sempurna, itu mah udah biasa. Yang nggak biasa adalah yang cerdas tapi sesuai syariat. Emang ada? Makanya terus baca aja tulisan ini yee. Jangan bengong aja. Hehehe...
Cerdas sesuai syariatCerdas sesuai syariat adalah seseorang yang dengan kecerdasannya akan semakin menambah keimanannya pada Allah Swt. Bukan sebaliknya. Banyak juga kok pemuda-pemudi muslim yang karena kecerdasannya sampe dikirim ke luar negeri. Di sana mereka menuntut ilmu dan diharapkan sekembalinya ke Indonesia menjadi sarjana yang bisa mengaplikasikan ilmunya. Lebih luas lagi, mereka diharapkan memberi kontribusi bagi kemjuan umat ini. Tapi apa yang terjadi?
Dengan bertambahnya ilmu dan gelar yang dimilikinya, bukannya semakin menambah baik iman dan amalnya,eh mereka malah menjadi antek-antek Barat untuk menghancurkan Islam dari dalam. Ketika berangkat ke negeri Barat, mereka adalah seseorang yang meyakini bahwa Allah adalah al-Khaliq dan al-Mudabbir, pencipta dan pengatur.
Keimanan dan keyakinannya tentang betapa lemahnya manusia tanpa aturan dariNya begitu membubung. Sehingga dia rindu dunia ini diatur dengan aturan dari Yang Maha Pengatur. Tapi, apa yang terjadi ketika ia ada di negeri Barat dan bersentuhan dengan ide-ide Barat? Makmur dan sejahteranya negeri-negeri Barat telah menyilaukannya. Karena silau, ia malu dengan kondisi negerinya dan mayoritas umat Islam yang dianggapnya masih terbelakang dan bodoh.
Sehingga ide-ide rusak semacam demokrasi, kesetaraan gender dan feminisme, hingga ke tataran gaya hidup dengan pola permisif dan hedonis dianutnya. Ia menganggap bahwa ide-ide itulah yang telah membuat dunia Barat maju. Sehingga bila kaum Muslimin ingin maju, maka ide-ide itulah yang seharusnya diambil. Waduh. Parah tenan iki.
Bila cerdas seperti ini yang dimaksudkan, sungguh ini adalah cerdas yang sangat tidak mencerdaskan. Bahkan cerdas yang kampungan. Cerdas yangmerusak alias destruktif. Karena ternyata cerdasnya cuma dalam tataran angka di atas kertas yang bernama IP, tapi secara nyata ia merusak pemahaman dan akidah umat dengan ide-ide kufurnya.
Padahal cerdas yang sesuangguhnya adalah cerdas yang sesuai syariat. Cerdas ketika ilmu yang didapatnya semakin manambah kecintaan ia pada Allah dan berjuang menegakkan kalimatNya. Cerdas ketika beasiswa yang didapat digunakannya dengan sebaik-sebaiknya kemakmuran umat.
Beasiswa? Jangan salah. Istilah ini pun sebetulnya masih rancu. Bagaimana mungkin disebut beasiswa ketika uang yang diterimanya untuk membiayai kuliah adalah uang yang didapat para sponsor semisal bank dunia dari merampok harta kaum Muslimin. Jadi, sudah sewajarnyalah kalo harta itu memang kembali lagi pada yang empunya.
Back to cerdas. Kecerdasan dalam Islam melingkupi semuanya. Ketika kita melihat alam semesta dan berfikir tentang penciptaannya, pastilah akan muncul sebuah stimulus dalam serat otak kita untuk mencari jawabannya secara ilmiah. Tidak berhenti sampai di situ saja. Pengamatan terhadap alam semesta dan alam sekitar membuat kita semakin yakin akan keberadaan dan kemahabesaran Allah, sang pencipta sekaligus pengaturnya. Iman—bagi sebagian kalangan dimasukkan kepada kecerdasan spiritual—kita akan semakin cerdas.
Iman bukan hanya sekadar diyakini tapi juga ada amal nyata dalam kehidupan sehai-hari. Karena sudah dibekali kecerdasan spiritual yang oke, maka dalam bermuamalah dan berhubungan dengan orang-orang juga pasti terlahir sikap dan perilaku yang cerdas. Inilah yang disebut kecerdasan emosional. Kecerdasan ini berlaku untuk semua, baik laki-laki dan perempuan yang beriman.
Hanya saja karena mereka ini memang berjenis kelamin yang berbeda, maka porsi yang diberikan Allah juga berbeda. Kecerdasan yang dimiliki kaum perempuan lebih maksimal digunakan dalam ranah rumah tangga. Karena itulah ia dibekali kemampuan alami untuk melahirkan, menyusui dan sebagai pendidik utama anak-anak usia dini. Bukan karena bias gender dan diskriminasi semua ini diatur, tapi demi saling melengkapi dan untuk kesejahteraan bersama.
Dengan karakter laki-laki yang umumnya seperti kita tahu gagah dan perkasa, bayangkan bila ia yang diberi kemampuan untuk melahirkan dan menyusui bayi mungil yang masih lemah dan lembut itu. Maha Besar Allah Yang Maha Tahu bahwa tugas ini memang spesialisasinya perempuan yang difitrahkan dengan sifat-sifat kelembutan dan keibuan.
Seperti inilah seharusnya cewek itu, cerdas yang multifungsi. Ya cerdas otaknya, cerdas emosionalnya dan yang pasti cerdas juga spiritualnya. Jangan sampe terjadi sebaliknya. Apalagi salah kaprah. Apa gunanya cerdas secara IQ tapi lupa pada yang memberi kecerdasan itu sendiri? Apa gunanya punya gelar berderet tapi ternyata kufur nikmat?
Ah, ternyata itu semua memang tak ada gunanya bila kecerdasan yang ada ternyata tak mampu untuk mengenal Rabbnya. Jadi, kamu jangan mau jadi cerdas yang bablas alias nggak tahu diri. Cerdas itu kudu taat syariat. So, cewek cerdas? Kudu lagi! Apakah ada di antara kamu? Semoga semuanya cerdas
Read more ...
Sunday, January 14, 2007

For My Litle Princes

-dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-

"Mbak nta...bilal mo ulang tahun..Bilal dapet ranking lagi lho kemaren..."

Nta masih inget banget celetukan dhe bilal tahun kemaren...
Bilal As'adanayadi. Nta biasa memanggilnya ilal. Ilal jelek...begitu tepatnya..he..he... Nggak dink, ilal cakep kok!aduh sayang foto-nya gk sempet nta upload. Ada tuh di kamar kos.Kapan-kapan aja deh.
Besok , 15 Januari 2007, Ilal tepat 11 tahun. Ilal adalah pangeran kecilku. Kini ia duduk di bangku kelas enam SD.
Ilal, pangeranku yang tampan. Mata bulat-nya mencerminkan kecerdasan-nya. Satu hal yang nta masih ingat, waktu itu menjelang khitan-nya dhe' Ilal. Kira-kira satu bulan sebelum hari H. Ilal menanyakan dengan cerdasnya : mbak nta, kenapa sieh laki-laki harus disunat???
Pertanyaan ringan....sederhana...tapi jangan asal menjawabnya..apalagi kepada anak kecil. Nta coba ubek-ubek internet untuk mencari hikmah dibalik perintah khitan bagi kaum ikhwan. Udah dapet...berbagai penjelasan baik dari segi agama maupun medis. Yang bingung lagi....bagaimana cara menyampaikannya???? he..he...
Tapi, alhamdulillah bisa kok. Seperti yang nta bilang, Ilal itu pangeran kecilqu yang cerdas.
Yeah..Bilal...kita kenal sebagai sahabat nabi yang suara-nya bagus dan terkenal sebagai muadzin. Ilal-quw juga begitu. Tiap hari, hampir 5 waktu , suara-nya yang syahdu memanggil umat untuk sholat berjamaah di mushola sebelah rumah. Sebuah mental yang bagus untuk anak seusia Ilal.
Satu hal yang membuat nta rindu rumah adalah panggilan adzan-nya. Apalagi kos2an nta juga sebelah mushola...nta jadi teringat rumah (hiks..hiks...).
Ilal....walaupun tidak selalu juara kelas...dia selalu masuk dalam tiga besar di kelasnya. Ilal nggak bisa masuk SD favorit seperti kakak2nya (apalagi mbak nta-nya yang ca'em ini..he..he...) soalnya dia belum cukup umur waktu mau mendaftar. Jadi-lah dia bersekolah di SD dekat rumah. Yeah..nggak papa dhe'!
Ohya...ada yang lucu dari Ilal.
Walaupun masih kecil tp pemikirannya itu kadang udah jauh (sama persis kayak mbak nta-nya yang caem ini ..he..he..). Dia juga sensitif. Gampang kepikiran. Tahun kemaren, waktu Ilal didaulat jadi ketua regu di pramuka, dia kadang selalu "konsultasi" gimana cara-nya jadi ketua yang baik. Katanya : Ilal pengen anggota-anggotanya nggak kecewa, Ilal pengen yang terbaik tapi....jangan sampe merepotkan anggota2nya...Ilal kan ketua jadi harus mau repot..."
Nta cuma tersenyum bangga dan memeluk tubuhnya yang secara reflek langsung dilepaskan oleh dia....(satu hal yang paling ilal benci dari nta.....Nta suka banget ciumin Ilal...he..he..he..).
Di suatu waktu juga pernah...Ilal curhat (cie...), dia mau dipilih jadi ketua regu saat mau lomba dikecamatan (kalo nggak salah..nta lupa). Ilal kepikiran..ia tidak mau dijadikan ketua. Waktu itu nta pancing " Lho kan enak Lal! jadi ketua, berarti yang mimpin ..yang paling hebat donk!". KEmudian dengan wajah yang sok-tua... dia berkata " mbak nta...mbak nta...tanggung jawab mbak!!!tanggung jawab!!!berat mbak..."
Keki juga dibilangin gitu!!!!he..he..he...
Yeah...Bilal sang pangeran kecilku yang tampan dan cerdas....
Hal lain yang cukup membuat nta berkesan.... Ilal kadang nggak suka kalo nta kuliah. Disaat yang laen menunggun dengan cemas pengumuman SPMB, dan agak kecewa waktu nta nggak lolos. Ilal adalah yang bisa dibilang "gembira" diatas kesedihan itu. " Mbak nta kalo kuliah berarti lama..berarti nggak dirumah...."
ah...tak bisa kuteruskan lagi kata-katanya....takut nangis...he..he..he.., cengeng ya??
Papa sangat sayang sama Ilal. Nta tau itu. Walaupun nggak ada niat pilih kasih.
Ilal anak bungsu. Sama seperti nta yang pernah merasakan menjadi anak bungsu walau cuma 8tahun. Kalo papa sayang sama dia agak berlebih...wajar... papa seolah memiliki teman... . DI mushola sebelah...di beberapa waktu sholat seperti dhuhur,Ashar, dan Isya, papa yang kadang menjadi imam. Papa yang menjadi imam, dan Ilal yang menjadi muadzin, pemandangan indah yang selalu membuat nta rindu suasana rumah.
Ilal yang sok-dewasa...yang selalu nasehatin nta kalo nta abiz pake telpon " Ih..mbak nta jangan pacaran mulu...jangan pake telpon...bayarnya mahal lho!!!"
GEmes banget kalo ngliat wajah sok-dewasa-nya. Kalo udah kayak gitu...nta dekatin si Ilal dengan maksud untuk menciumnya...tapi Ilal pasti sadar..dan langsung lari...terjadilah kejar-kejaran.Kadang berakhir perang2an di kamar. he..he..he..
Apalagi kalo mas Ardan pulang....dua cowok pangeran rumah....kalo lagi akur boleh-lah...tapi kalo lagi error keduanya....tinggal nta dan oca (bidadari2 rumah....) yang teriak-teriak...."Ih...berisik tau!!!"
Ohya..ada satu hal lagi yang membuat nta berantem sama Ilal. acara TV. Duh...adhe'quw yang satu ini...hafal banget sama acara tv apalagi yang kartun. Yeah..nta juga suka beberapa acara kartun...tapi kadang nta goda Ilal dengan mengubah channel tv menjadi acara laen. Yeah...adegan selanjutnya sudah bisa ditebak...he..he..
Tapi...Ilal adhe' yang cukup ngerti kok. Ilal tau nta suka acara-acara diskusi n suka nonton film. Jadi kalo udah ngliat nta nyewa cd-cd film...(nta nggak suka nonton lewat kompie...), Ilal rela nggak liat acara tv malem or kalo sore ilal memilih bersepeda keliling lingkungan rumah.
Ilal deket sama nta. Walaupun Ilal juga suka mengikuti mas Ardan yang memanggil nta menjadi mbak sintul (ggrr....), Ilal mempercayakan curhat-curhatnya ke mbak-nta-nya yang ca'em, baik hati, dan tidak sombong. Lucu, namanya juga anak kecil, kadang suka curhat tentang temen-temennya, anak cewek yang dia taksir (yang ini paling lucu...tapi ini privasi..jadi sori nggak bisa di-publish-kan..he..he..), ato tentang guru-gurunya di sekolah.
Yeah...Ilal-quw yang tampan, cerdas, dan lucu.
di hari lahirmu ini....nta cuma pengen ngungkapin harapan :
Nta pengen kita semua (termasuk mas ardan dan dhe' Ocha) menjadi pangeran2 dan bidadari2 bagi papa dan mama. Nta pengen qta semua menjadi anak-anak yang menjadi qurota'ayun bagi papa mama. Jangan pernah rusak nama baik keluarga. Nta yakin, qta semua akan sukses dengan jalan-nya masing-masing. Nta yakin, qta semua akan menjadi orang berhasil di suatu hari nanti. Nta yakin, dengan bekal pendidikan rohani di rumah, qta semua bisa menjadi anak-anak sholeh dan sholehah yang do'anya menjadi amal yang tak terputus saat papa mama tiada. Nta pengen...kalo qta udah besar-besar nanti...qta nggak lupa daratan.Nta punya cita-cita usaha keluarga....untuk qta dhe'!tapi belum bisa nta explore... makanya cepat besar ya dhe' ilal dan dhe' Ocha!!Nta butuh pemikiran-pemikiran dari kalian yang cerdas-cerdas. Banyak banget yang nta pengen omongin tentang dhe' Ilal. Yang pasti dhe'... nta sayang banget sama dhe' Ilal...ini bukan berlebihan...ini jujur dari hati (aduh...clubeighties bangetzzz..he..he..).

Suatu saat...kalo dhe' Ilal udah ngerti blog...suatu saat barangkali umur nta nggak sempat menyampaikan cita-cita ini ke dhe' Ilal....semoga dhe' Ilal mengerti apa yang nta tuliskan disini....

::semoga Ilal selalu dalam lindungan-Mu ya Allah...::

.....................happy b'day Ilal..........................
Read more ...