Pages

Sunday, August 26, 2007

“ Reposisi dan Reorientasi Gerakan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Sebagai Tindak Penanggulangan KDRT di Indonesia”.

ABSTRAKSI


Maraknya tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah suatu kenyataan yang cukup memprihatinkan. Dari berbagai data statistik, kian hari angka tindak KDRT di Indonesia semakin tinggi. Banyak upaya yang dilakukan, namun banyak pula kendala yang dihadapi sehingga meminimalisir KDRT masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua.

Perlu diingat oleh kita, bahwa ketika kita masuk dalam kasus yang ada di ranah keluarga, maka kita memasuki wilayah yang cukup sensitif dan privasi. Mengingat keluarga sebagai institusi privat bukan suatu yang mudah untuk membuka apa yang terjadi didalamnya apalagi secara vulgar. Tiap individu bagaimanapun juga memiliki wilayah pribadi yang tidak bisa menjadi konsumsi publik. Oleh karena itu untuk menangani KDRT memerlukan sikap yang bijaksana.

Lingkungan masyarakat adalah salah satu kontrol sosial bagi tiap individu. Begitu pula dalam kehidupan berkeluarga. Tiap keluarga tidak dapat hidup tanpa berdampingan dengan masyarakat luas. Merelevansikan dengan KDRT, maka pengoptimalan peran masayarakat sebagai kontrol sosial adalah sebuah solusi yang aplikatif.

Organisasi gerakan PKK adalah salah satu bentuk adanya kegiatan masyarakat (dalam hal ini kaum perempuan) di setiap lingkupnya (RT/RW, dll). Dalam konteks ini, PKK memiliki posisi yang tepat dalam upaya penanggulangan KDRT.Adanya pergeseran orientasi masyarakat terhadap PKK membuat wadah ini terlihat mandul tanpa signifikansi yang jelas bagi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Padahal, PKK sebagai sebuah wadah tempat berkumpulnya kaum perempuan dalam sebuah lingkup masyarakat memiliki peran yang besar dalam penanganan kasus-kasus yang bersifat pribadi dalam ranah privasi / keluarga, termasuk didalamnya mengenai KDRT.

Gerakan PKK dibalik rancangan teoritis yang ideal, memiliki catatan sejarah sebagai alat kontrol pemerintah pada rezim tertentu. Kesan yang dibangun oleh PKK selama orde baru menyisakan beban historis yang berat bagi PKK. Keterpasungan perempuan selama orde baru dibungkus oleh aktivitas PKK dengan segala kemudahan yang PKK peroleh dari kekuasaan. Gebyar reformasi menuntut gerakan PKK berubah untuk menjadi pelayan masyarakat tak sepenuhnya mampu terwujudkan. Tuntutan agar PKK dibubarkan saja jika menambah beban masyarakat, selayaknya menjadi cambuk bagi pengurus PKK untuk berbuat dalam bukti nyata. Hantaman krisis ekonomi dan politik menjadi tantangan bagi PKK untuk bertindak membebaskan kaum perempuan yang tertindas. Maraknya KDRT adalah salah satu pekerjaan rumah yang besar bagi gerakan ini.

Reorientasi serta reposisi gerakan PKK sangat diperlukan dalam membantu kaum perempuan (ibu) untuk mengaktualisasikan dirinya sehingga dapat secara cerdas memposisikan peranannya dalam rumah tangga. Kekuatan seorang perempuan yang memahami peranannya dalam rumah tangga akan sangat membantu dalam mengantisipasi munculnya KDRT.BAB I
PENDAHULUAN


I.1 Latar Belakang

Keluarga adalah struktur masyarakat terkecil dari sebuah negara. Keluarga merupakan wilayah pembinaan awal yang memiliki signifikansi terhadap lingkungan yang lebih besar diatasnya. Keluarga juga berfungsi sebagai tempat berlindung di mana setiap individu mendapatkan sebuah rasa nyaman yang didasarkan pada hubungan darah. Maraknya kekerasan dalam runah tangga (KDRT) merupakan kenyataan yang pahit yang membuat buramnya fungsi sebuah keluarga. KDRT juga telah ditegaskan sebagai salah satu bentuk diskriminasi. Hal ini juga ditegaskan dalam Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW).

Mencoba menilik fragmen KDRT di Indonesia, ada fenmena bahwa isu KDRT adalah sebuah isu global dengan segala macam propaganda oleh berbagai LSM Perempuan atau Lembaga-Lembaga yang mengatasnamakan perempuan. Adalah menjadi sebuah pertanyaan ketika penanganan KDRT dijadikan sebuah isu yang mengglobal dengan penanganan langsung oleh LSM atau lembaga-lembaga yang mengatasnamakan perempuan, apakah itu efektif? Pada kenyataannya pula, penanggulangan KDRT tidak sepenuhnya optimal. Banyak kasus yang terungkap, namun banyak pula yang kasusnya tidak mau diungkap.

Pada dasarnya, ketika memasuki permasalahan dunia rumah tangga, kita memasuki ranah privasi yang tidak mudah untuk dapat diungkap kepada publik. Disamping itu, berkait dengan perempuan (istri/ibu) – sebagai salah satu bagian keluarga- ada tinjauan psikologis tersendiri ketika dia mendapatkan sebuah tekanan dalam bentuk berbagai permasalahan yang termasuk didalamnya yaitu kekerasan dalam rumah tangga. Disinilah lingkungan hidup memiliki peran.
Manusia dalam hidupnya berinteraksi dengan lingkungan hidupnya baik lingkungan hidup yang bersifat fisik maupun sosial. Manusia seperti adanya yaitu, fenotipenya terbentuk oleh interaksi antara genotipe dan lingkungan hidupnya.

Gerakan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah sebuah wadah yang diorganisir oleh kaum perempuan dan menawarkan sebuah lingkungan bagi para kaum perempuan di lingkup masyarakat mulai dari yang kecil seperti RT/RW/ Kelurahan, dan seterusnya. PKK memberikan amanat pada kaum perempuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan ,mewujudkan keluarga sejahtera ,membina generasi muda. Dalam konteks ini, PKK memiliki posisi yang tepat dalam upaya penanggulangan KDRT.

Adanya pergeseran orientasi masyarakat terhadap PKK membuat wadah ini terlihat mandul tanpa signifikansi yang jelas bagi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Padahal, PKK sebagai sebuah wadah tempat berkumpulnya kaum perempuan dalam sebuah lingkup masyarakat memiliki peran yang besar dalam penanganan kasus-kasus yang bersifat dalam ranah privasi / keluarga, termasuk didalamnya mengenai KDRT.

Bagaimana merevitalkan peran PKK dalam upaya penyejahteraan keluarga dengan berperan sebagai media preventif dan adventif dalam penanggulangan KDRT, merupakan substansi konkrit dan aplikatif dalam rangka pembangunan bangsa yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penulis tertarik dan mencoba menyampaikan sebuah ide yang terangkum dalam karya sederhan ini dengan judul “ Reposisi dan Reorientasi Gerakan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Sebagai Tindak Penanggulangan KDRT di Indonesia”.

I.2 Perumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas dalam karya ini adalah : “Bagaimana PKK dapat menjadi sebuah media preventif dan adventif dalam penanggulangan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia ?”

I.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan karya ini adalah :
1.Mengetahui dan menganalisa maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia,
2.Mengetahui upaya penanggulangan kasus KDRT serta kendala yang dihadapi,
3.Mengetahui tumbuh dan berkembangnya PKK (Pembinaan Kesejateraan Keluarga) di Indonesia,
4.Mencari sebuah formula untuk merevitalkan PKK sebagai media preventif dan adventif dalam upaya penanggulangan kasus KDRT di Indonesia.

Adapun manfaat diharapkan penulis dari disusunnya karya ini adalah :
1.Memberikan sebuah pandangan serta penjelasan mengenai kasus KDRT yang marak di Indonesia,
2.Menggugah semangat kekeluargaan kaum perempuan pada khususnya melalui PKK,
3.Menjadi sebuah solusi alternatif yang aplikatif dalam peminimalisiran kasus KDRT.
BAB II
LANDASAN TEORI


II.1 Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Dalam UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) disebutkan, bahwa definisi Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah :
Setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan/atau penelantaran rumah tangga; termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Namun menurut Dra. VG Tinuk Istiarti M.Kes dari Pusat Studi Wanita/Gender Universitas Diponegoro menyebutkan, suatu kejadian dapat digolongkan KDRT jika ada pihak yang merasa dirugikan. Ia mencontohkan perlakuan sadisme yang terjadi dalam hubungan intim suami-istri. Hal ini menunjukan bahwa belum ada definisi yang jelas mengenai KDRT.

Berdasarkan duapuluh butir rekomendasi khusus dari Komite PBB yang isinya mengenai landasan aksi yang harus dilakukan negara-negara peserta Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskrikminasi Terhadap Perempuan atau Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW), tersebutkan bahwa KDRT merupakan sebuah tindakan diskriminasi. Hal itu dijelaskan dalam tambahan ulasan dan komentar atas pasal 16 dan pasal 5 yang merupakan bagian pasal dari konvensi tersebut.

Data statistik lengkap mengenai kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia memang belum tersedia secara lengkap. Namun begitu, sejumah informasi dan studi yang dilakukan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) perempuan, telah cukup menunjukkan fakta bahwa jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan sangat memprihatinkan. Sementara komentar yang sama, bakal keluar jika membaca data yang diberikan Kementrian Pemberdayaan Perempuan (KPP) soal jumlah perempuan yang teraniaya di Indonesia.

KPP mencatat, sedikitnya 11,4 persen atau 24 juta perempuan dari 217 penduduk Indonesia mengaku pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sebagian besar kasus kekerasan domestik itu, terjadi di pedesaan yang bias juga dianalogikan dialami oleh perempuan-perempuan dengan tingkat pendidikan dan ekonomi rendah.

II.2 Manusia dan Lingkungan Hidupnya

Manusia, seperti halnya semua makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungan hidupnya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Manusia seperti adanya yaitu, fenotipenya, terbentuk oleh interaksi antara genotipe dan lingkungan hidupnya. Nampaklah bahwa manusia terbentuk oleh lingkungan hiduonya. Membicarakan manusia harus pula membicarakan lingkungan hidupnya. Manusia yanng terpisah dari lingkungan hidupnya adalah abstraksi belaka (Soemarwoto, 1994).

Lingkungan yangn dimaksudkan adalah segala sesuatu yang berada diluar diri manusia yang mempunya arti. Menurut undang-undang No. 4/1982. tentang lingkungan hidup, yang dinamakan lingkungan hidup adalah :
”kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan dan makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia serta makhluk hidup lainnya”

Secara umum lingkungan dapat dibedakan kedalam dua jenis, yaitu lingkungan fisik dan nonfisik (lingkungan sosial), dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.Lingkungan fisik adalah lingkungan yang berupa alam, misalnya keadaan tanah, keadaan musim dan sebagainya. Dalam klasifikasinya, dapat terbagi menjadi lingkungan fisik alam dan lingkungan fisik biatan.
2.Lingkungan nonfisik (sosial) adalah lingkungan masyarakat dalam suatu komunitas tertentu dimana diantara individu dalam masyarakat tersebut terjadi interaksi. Lingkungan sosial akan memberikan pengaruh besar terhadap perilaku manusia.

II.3 Organisasi Perempuan

Sudah menjadi kodrat alam bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. Adanya diferensiasi ini secara tidak langsung juga berpengaruh dalam interaksi sosial yang dilakukan pada tiap jenis. Dalam pergaulan, kaum lelaki dan perempun sering memisahkan diri. Menurut pengamatan Bierdstet di dunia barat pada pertemuan-pertemuan yang dihadiri lelaki maupun perempuan, mula-mula mereka bercampur akan tetapi akhirnya masing-masingn golongan memisah. Dan itu terjadi tanpa direncanakan dan tak disengaja.

Juga ternyata bahwa dalam masyarakat yang sudah majupun ada banyak perkumpulan yang hanya untuk kaum lelaki atau hanya kaum perempuan saja. Robert Bierdstet kembali menyebutkan bahwa perkumpulan-perkumpulan di Amerika Serikat seperti Boy Scouts dan Girl Scouts, Young Men’s Christian Association dan Young Women’s Christian Association, dan ada perkumpulan-perkumpulan pria yang bekerja di bidang yang sama akan tetapi merupakan kelompok yang terpisah.

Jadi, meskipun lapangan pekerjaan bagi perempuan itu akhirnya tidak begitu berbeda lagi akan tetapi pengelompokan yang khusus untuk salah satu jenis tetap ada. Barangkali pada dasarnya yang menjadikan pengelompokan itu ialah apa yang disebut Giddings ”consciousness of kind”

2.3Gerakan PKK di Indonesia

Gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah gerakan nasional yang tumbuh dari, oleh, dan untuk masyarakat dengan perempuan sebagai motor penggeraknya menuju terwujudnya keluarga bahagia, sejahtera, maju, dan mandiri.

Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebagai gerakan pembangunan masyarakat bermula dari Seminar "Home Economic" di Bogor pada tahun 1957. Sebagai tindak lanjut dari seminar tersebut, pada tahun 1961 Panitia Penyusunan Tata Susunan Pelajaran pada Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kementerian Pendidkan bersama kementerian-kementerian lainnya menyusun 10 segi Kehidupan Keluarga.

Gerakan PKK di masyarakat berawal dari kepedulian Isteri Gubernur Jawa Tengah pada tahun 1967 (Ibu ISRIATI MOENADI) setelah melihat keadaan masyarakat yang menderita busung lapar. Pada awalnya program PKK adalah 10 segi pokok PKK. Tim Penggerak PKK, dibentuk di tingkat :
1.Pusat
2.Propinsi
3.Kotamadya
4.Kabupaten Administrasi
5.Kecamatan
6.Kelurahan.
Hubungan kerja antara Tim Penggerak PKK Pusat dengan Tim Penggerak PKK di Daerah (tingkat Propinsi, Kotamadya, Kabupaten Administrasi, Kecamatan, dan Kelurahan) bersifat konsultatif dan koordinatif dengan tetap memperhatikan hubungan hierarkis.

Pada tahun 1978 melalui Lokakarya Pembudayaan PKK di Jawa Tengah, disepakati 10 Segi Pokok PKK menjadi 10 Program Pokok PKK. Untuk dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga maka keluarga perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Pemberian bekal tersebut dilaksanakan antara lain melalui Gerakan PKK yang keberadaannya tersebar di seluruh Indonesia.
Keberhasilan Gerakan PKK dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga telah diakui oleh masyarakat, bahkan mendapat penghargaan dari lembaga-lembaga internasional (WHO, Unicef, Unesco, dan sebagainya). Dalam TAP MPR Nomor : IV/MPR/1983 tentang GBHN telah ditetapkan bahwa PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) adalah salah satu wahana untuk meningkatkan peranan wanita dalan upaya menyejahterakan keluarga.

Tujuan Gerakan PKK adalah memberdayakan keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan lahir-batin menuju terwujudnya keluarga yang berbudaya, bahagia, sejahtera, maju, mandiri, hidup dalam suasana harmonis yang dilandasi oleh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Mahaesa. Sasaran Gerakan PKK adalah keluarga yang perlu ditingkatkan dan dikembangkan kemampuan dan kepribadiannya baik dalam bidang mental spiritual maupun fisik material

Gerakan PKK dibalik rancangan teoritis yang ideal, memiliki catatan sejarah sebagai alat kontrol pemerintah pada rezim tertentu. Kesan yang dibangun oleh PKK selama orde baru menyisakan beban historis yang berat bagi PKK. Keterpasungan perempuan selama orde baru dibungkus oleh aktivitas PKK dengan segala kemudahan yang PKK peroleh dari kekuasaan. Gebyar reformasi menuntut gerakan PKK berubah untuk menjadi pelayan masyarakat tak sepenuhnya mampu terwujudkan. Tuntutan agar PKK dibubarkan saja jika menambah beban masyarakat, selayaknya menjadi cambuk bagi pengurus PKK untuk berbuat dalam bukti nyata. Hantaman krisis ekonomi dan politik menjadi tantangan bagi PKK untuk bertindak membebaskan kaum perempuan yang tertindas. Maraknya KDRT adalah salah satu pekerjaan rumah yang besar bagi gerakan ini.

BAB III
PENANGGULANGAN KDRT DAN AKTUALISASI PEREMPUAN MELALUI GERAKAN PKK


Keluarga merupakan lingkungan terdekat dari tiap individu. Keluarga juga merupakan institusi yang menjalankan beberapa fungsi. Horton dan Hunt (1984:238-242) mengidentifikasikan beberapa fungsi keluarga, diantaranya yaitu fungsi pengaturan seks, reproduksi, sosialisasi, afeksi, definisi status, perlindungan dan ekonomi.

Kedekatan dalam keluarga memungkinkan keluarga juga berfungsi untuk menyalurkan perasaan anggota keluarga; namun keluarga juga merupakan ajang pelampiasan nafsu. Seperti yang dikemukakan Giddens, fungsi itulah yang kemudian menimbulkan terjadinya kekerasan dalam keluarga.

Maraknya tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah kenyataan yang miris. Ketika di lingkup masyarakat terkecil saja sudah marak dengan kekerasan , maka hingga lingkup yang diatasnya bukan hal yang mustahil penuh juga dengan kekerasan. Tingginya angka KDRT di Indonesia adalah sebuah fakta yang tak dapat dinyana. Diesbutkan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, angka KDRT dalam satu tahun terakhir ini saja tercatat sekitar 22 ribu kasus. Itu artinya, jumlah kasus ini meningkat hingga 5 kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Di Indonesia memang belum tersedia data statistik yang mencatat secara detail tingkat KDRT di Indonesia. Namun beberapa LSM Perempuan seperti Women's Crisis Centre (WCC) yang khusus menerima pengaduan dan membantu korban kasus KDRT, yang mengungkap fakta tersebut. Mitra Perempuan Women's Crisis Centre di Jakarta mengaku, selama periode 1997-2002 telah menerima pengaduan 879 kasus kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga yang terjadi di Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, dan sekitarnya. Pelaku kekerasan terbanyak dilakukan suami korban, yakni sebesar 69-74 persen. Rifka Annisa Women's Crisis Centre di Yogyakarta, selama 1994-2000, menerima pengaduan 994 kasus kekerasan terhadap istri oleh suami yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan bahkan pernah mengatakan, 11,4 persen dari 217 juta penduduk Indonesia, atau sekitar 24 juta perempuan, terutama di pedesaan, mengaku pernah mengalami kekerasan, dan terbesar adalah domestic violence (kekerasan dalam rumah tangga).
Data statistik tahun 2001-2005 untuk kasus kekerasan terhadap Perempuan di Mitra Perempuan WCC.
Tahun
Kasus
1.2005
2.455
2004
329
3.2003
4.272
2002
226
5.2001
6.258
(sumber : Women Crisis Center)

III.1 KDRT dan Peran Lingkungan Sosial

Perlu dicermati pula upaya-upaya penanggulangan KDRT tersebut. Perlu adanya evaluasi ketika ada kenyataan bahwa semakin tahun ternyata tingkat KDRT semakin meninggi. Satu hal yang perlu diingat, bahwa keluarga merupakan ranah pribadi yang tidak mudah untuk dikuak secara vulgar. Keluarga merupakan institusi yang paling privasi. Maka ketika akan menyelesaikan masalah berkaitan dengan keluarga sangat memerlukan kehati-hatian. Bukan sekedar rasio yang digunakan namun juga ada intuisi yang bermain.

Perempuan sering diidentikan sebagai korban dari KDRT (walaupun tidak semua KDRT menjadikan perempuan menjadi korban). Dari tinjauan psikologis, perempuan tidak mudah untuk berani melaporkan apa derita yang dialaminya. Maka tak heran bahwa salah satu kendala yang dihadapi dalam penanggulangan KDRT adalah kurangnya kesadaran perempuan melaporkan kasus kekerasan yang dialaminya. Mengingat pula bahwa keluarga adalah institusi yang bersifat privasi, serta ada stigma pula bahwa mengungkapkan apa yang terjadi dalam tubuh keluarga sama saja dengan menguak “aib” sendiri, maka perlu teknis yang khusus dalam penanggulangan KDRT ini.

Dari kondisi tersebut maka kita perlu penanggulangan dengan pendekatan khusus. Pemanfaatan lingkungan sekitar keluarga adalah sebuah solusi yang tepat guna.
Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) merupakan wadah di lingkup kecil masyarakat yang dapat kita manfaatkan. Pada dasarnya manusia seperti halnya makhluk lain berinteraksi dengan lingkungan hidupnya. Manusia seperti adanya, yaitu, fenotipenya, terbentuk oleh interaksi antra genotype dan lingkungan hidupnya. Masyarakat sekitar merupakan cakupan dari lingkungan sosial yang ada di kehidupan manusia.

Lingkungan sekitar (tetangga), adalah salah satu alat kontrol sosial. Seperti dijelaskan oleh Sardjoe (1994:923), bahwa ada empat jenis hubungan antara individu dan lingkungannya , yakni :
1.Individu menentang lingkungannya,
2.Individu memanfaatkan lingkungannya,
3.Individu berpasrtisipasi dengan lingkungannya,
4.Individu menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Dengan lingkungan sebagai kontrol sosial maka akan menjadi pengendali kepada setiap individu untuk melakukan hal-hal yang dianggap tidak benar di mata masyarakat.

Dari analisa tersebut, maka dapat kita ketahui bahwa peningkatan kesadaran masyarakat sebagai kontrol sosial adalah point penting dalam upaya penanggulangan KDRT. Dengan kultur masyarakat yang semakin terkontaminasi modernitas, maka meningkatkan kesadaran tidaklah semudah diucapkan. Nilai-nilai kepekaan dan gotong royong sudah sulit untuk didapatkan. Dalam kasus KDRT ini-misalnya- ketika terkuak sebuah tindak KDRT di sebuah keluarga, maka posisi masyarakat sekitar lebih sebagai penonton yang berdecak dan berkomentar terhadap kasus tersebut. Kasus tersebut hanya akan menjadi buah bibir di obrolan-obrolan masyarakat sekitar. Padahal, masyarakat sekitar sebagai lingkungan sosial adalah substansi yang terpenting ketika salah satu bagian dari mereka mengalami tindak kekerasan – dalam hal ini KDRT. Hal ini jelas, bahwa masyarakat sekitar (tetangga) adalah orang yang berinteraksi dengan pelaku dan korban KDRT, tetangga pula yang melihat kesehariannya dan mengerti akan tabiat mereka. Maka sebenarnya, tetangga dapat menjadi media penanggulangan KDRT bahkan pencegahan KDRT. Bahkan dalam Undang –Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga No.23 tahun 2004 pada pasal 15 disebutkan bahwa :
Setiap orang yang mendengar, melihat, atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya-upaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk :
1.Mencegah berlangsungnya tindak pidana,
2.Memberikan perlindungan kepada korban,
3.Memberikan pertolongan darurat, dan
4.Membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan.

Maka jelas yang perlu dilakukan adalah bagaimana masyarakat sekitar bukan sekedar disuguhi cerita sedih seputar kekerasan kekerasan dalam rumah tangga, tapi juga digugah kesadarannya untuk mengantisipasi hal-hal seperti itu. Hal ini seperti diungkapkan oleh Seorang aktivis perempuan, Rita Serena Kalibonso. Sh. LLM.

III.2 KDRT dan Aktualisasi Perempuan Melalui PKK

Untuk merevitalkan peran masyarakat dalam penanggulangan KDRT maka perlu adanya upaya stimulasi untuk meningkatkan kepedulian antar sesama. Organisasi masyarakat adalah salah satu solusi yang tepat guna. Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah sebuah wadah yang dapat menjadi media pencegah serta penanggulangan KDRT.

Dalam PKK, adanya kesadaran perempuan untuk saling meningkatkan kepekaan pada lingkungan sekitar, adalah point penting untuk penanggulangan KDRT. Tinggal bagaimana dalam wadah tersebut dapat mengarahkan perempuan sebagai bagian anggota keluarga dapat menjalankan peranannya.

Selama ini peran PKK dalam masyarakat hanya sebagai ritual saja. Misal ketika acara perayaan kemerdekaan, ada hajatan tingkat RT /RW, dan lain sebagainya. PKK hanya dikenal sebagai forum arisan bagi ibu-ibu rumah tangga. Padahal disana adalah wadah yang tepat untuk aktualisasi diri kaum perempuan.

Latar belakang sejarah diadakannya PKK cukup “idealis”, namun praksisnya di lapangan masih jauh dari harapan. Bahkan dengan latar belakang sejarah bahwa PKK kemudian dijadikan sebuah alat pengontrol gerakan perempuan di rezim tertentu, yang pada akhirnya di-setting sedemikian rupa hingga seperti sekarang inilah PKK yang masyarakat kenal.

Dengan mendayagunakan PKK, ada beberapa hal yang bisa kita dapatkan berkaitan dengan penanggulangan KDRT, yakni :
a.Pemahaman peran perempuan dalam keluarga.
Perempuan bukanlah satu-satunya korban dalam tindak KDRT. Dalam hal ini, peran perempuan (ibu) dapat menjadi pencipta suasana keluarga yang tenteram. Keributan dalam rumah tangga memang tidak dapat dihindari. Ketika manusia berkumpul dengan kepala berbeda tentunya dengan pola pikir yang berbeda pula, maka kontradiksi tak dapat dihindari. Maka disini perlu adanya sosok pemediasi. Dari sudut pandang inilah, kita dapat melihat bahwa domestikasi perempuan dalam rumah tangga bukanlah sebuah pendiskriminasian, namun sebaliknya, bahwa perempuan memiliki posisi yang luar biasa dalam penetralisir suasana rumah tangga. Di PKK, perempuan seharusnya mendapatkan proses pembelajaran dan aktualisasi diri bukan sekedar doktrinasi feminisme atau sebaliknya justru pengarahan peran yang menjurus pada pemasungan peran perempuan dalam keluarga. Satu hal yang perlu ditekankan adalah, bahwa peran dalam rumah tangga tidak dapat kemudian di-deferensiasi-kan dengan tanggungjawab lain. Domestikasi bukan berarti memiliki tingkatan yang lebih rendah daripada peran lain. Yang perlu ditekankan adalah, bahwa semua posisi memiliki peranan masing-masing tanpa ada tingkat mana yang lebih tinggi atau rendah. Disinilah yang disebut emansipasi.

b.Pengarahan perempuan akan hak-hak mereka dalam rumah tangga.
Dari sekian banyak KDRT yang terjadi, yang menjadi korban adalah perempuan. Dari ssudut pandang psikologis, perempuan memiliki kecenderungan daya fisiknya lemah (hal ini tidak bisa dibantah berkaitan dengan perbedaan secara kondisi biologis). Disinilah perempuan diharapkan dapat mengerti akan hak-hak mereka, sehingga tidak ada penafsiran yang membingungkan antara “pengabdian” dan “penindasan”. Kerap kali perempuan menganggap bahwa kekerasan yang dialami adalah sebuah bentuk “pengabdian” mereka terhadap suami.

c. Penguatan ikatan persaudaraan antar perempuan
Melalui PKK, sesama perempuan dapat merasakan sebuah persaudaraan yang tidak didapatkan di tempat lain. Hal ini akan sangat bermanfaat dalam upaya penanggulangan KDRT. Ketika salah satu anggota mereka mengalami kasus KDRT, sebagai saudara “tak sedarah” yang paling dekat, PKK dapat menjadi mediasi. Ini menghindari adanya rasa segan perempuan untuk melaporkan kekerasan yang dialami. Diharapkan pula dari PKK dapat memberikan analisa masalah dengan lebih mendekati tepat, mengingat mereka adalah orang-orang yang tinggal di sekitar dan mengetahui keseharian yang dilakukan.

Maka untuk mengoptimalkan peran PKK sebagai media penanggulangan KDRT, perlu dilakukan beberapa reorientasi dan reposisi organ tersebut. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah :
1.Pembinaan PKK lebih terarah oleh pemerintah dengan menghilangkan image feodalisme oraganisasi PKK serta tetap mengedepankan independensi PKK sebagai wadah perempuan sebagai rakyat,
2.Penyusunan silabus arah pendidikan PKK dalam rangka pengaktualisasikan perempuan,
3.Praksis gerakan di tengah masyarakat untuk mendayagunakan serta pengaktualisasian potensi perempuan. Orientasi pada hal praksis lebih bermanfaat bagi masyarakat,
4.Koordinasi PKK dengan lebih terarah dengan kegiatan yang variatif yang lebih berdayaguna.
BAB IV
PENUTUP


IV.1 Kesimpulan

Dari pembahasan di bab sebelumnya, kita dapat menarik beberapa kesimpulan, antara lain:
1Tingkat KDRT yang semakin tinggi di Indonesia perlu dilakukan evaluasi serta analisa untuk mencapai hasil penanggulangan yang diharapkan,
2Salah satu hal yang menjadi kendala penanggulangan KDRT di Indonesia adalah masih kurangnya kesadaran kesadaran perempuan melaporkan kasus kekerasan yang dialaminya,
3Pengoptimalan potensi lingkungan sosial adalah solusi tepat sasaran dalam penanggulangan KDRT di Indonesia,
4PKK sebagai wadah perempuan di lingkup masyarakat kecil (RT/RW, dan sejenisnya), merupakan wadah yang tepat untuk mengaktualisasikan potensi para perempuan khususnya kaum ibu,
5Dengan Reorientasi dan Reposisi organisasi PKK diharapkan dapat menjadi media adventif serta preventif untuk menanggulangi semakin tingginya angka KDRT di Indonesia.

IV.2 Saran

Saran yang dapat diberikan dalam permasalahan ini adalah peningkayan upaya untuk membangkitkan kembali gerakan PKK tanpa adanya tendensi dari mana pun, dan menjadikan PKK sebagai wadah pengaktualisasian diri bagi para kaum perempuan khususnya para ibu.

Semoga karya sederhana ini dapat berguna bagi kehidupan masyarakat Indonesia, dan sangat besar harapan kita untuk tidak kembali meningkatnya angka KDRT di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Adinda Titiana dalam “Peran Tetangga Dalam Penghapusan Kasus KDRT” pada http://titianaadinda.blogspot.com postingan edisi 22 mei 2007. diakses tanggal 15 Agutus 2007.
Anggarawaty H dalam “ ISU KDRT : Antara Fakta dan Propaganda” pada [aroen 99 society] mailing list yahoogroups.com Tanggal akses 15 Agustus 2007

Neumann Erich. 1955. The Great Mother. New York :Pantheon Books

Moore A. Helen dan Ollenburger C Jane. 1996. Sosiologi Wanita. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.
Musdah Mulia Siti, Dr, MA, APU dalam “ Perempuan : Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) dalam Perspektif Islam” pada http://www.ICRP.co.id edisi 28 Mei 2007 – 06:25. Tanggal akses 15 Agustus 2007

Sukmana Oman, Drs, M.Si. 2003. Dasar-Dasar Psikologi Lingkungan. Malang : Penerbit Bayu Media dan UMM Press.

Suryo Chondro Sukanti. 1984. Potret Pergerakan Wanita di Indonesia. Jakarta : CV.Rajawali.


Wahyuni Tri dalam “ KDRT Melonjak 5 Kali Lipat “ pada http://www.suarakaryaonline.com edisi 15 Mei 2007. tanggal akses 15 Agustus 2007.


Wahyuni Tri dalam “KDRT Hambat Jiwa Anak” pada http://www.suarakaryaonline.com edisi Senin, 2 Juli 2007. Tanggal akses 15 Agustus 2007.
--. “Perempuan dan KDRT Fenomena Memprihatinkan” pada http://www.bkkbn.co.id edisi Senin, 29 November 2004 @12 :34 :51. tanggal akses 01 Agustus 2007

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama lengkap : Shinta Ardhiyani Ummi
NIM : G1A006167
Prodi/jurusan : Sastra Inggris
Fakultas : ISIP & Bahasa Sastra
Universitas : Jenderal Soedirman
Tahun angkatan : 2006

Pendidikan :
SD Negeri Kejambon 2 Tegal lulus tahun 2001
SLTP Negeri 2 Tegal lulus tahun 2003
SMA Negeri 1 Tegal lulus tahun 2005
Program Keahlian Penulisan Skenario PPHUI Jakarta (2005)
Prodi Sastra Inggris Universitas Jenderal Soedirman (2006 - )

Pengalaman Organisasi:
UPM Radio Mafaza
Forum Lingkar Pena Purwokerto
Lembaga Pers Mahasiswa Islam
Himpunan Mahasiswa Islam –MPO
Ketua II Angkatan 2006 himpunan mahasiswa program sarjana bahasa dan sastra
Islamic Comunity of Literature (ICOOL)
Teater Anak Sastra (TEKSAS)
Forum Komunitas Mahasiswa Tegal
Eks. Kabid Sosial Ekonomi IMM Tegal (2005-2006)
Dept.Keputrian Remaja Islam Sunda Kelapa –RISKA (2005-2006)
Dll

Pengalaman kepenulisan :
Juara I Lomba Essay Dept.Keputrian LDK se-UNSOED (2007)
Juara III Lomba Essay tingkat Jawa Tengah (2006)
Juara I Lomba Essay se-Barlingmascakeb (2006)
Juara IV Lomba Karya Tulis bidang Korupsi kategori pelajar/mahasiswa tingkat nasional (2005)
Juara I Lomba Karya Tulis dalam rangka penanggulangan narkoba se-Tegal (2005)
dll


Read more ...
Sunday, August 05, 2007

TOTALITAS PERJUANGAN

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan Di persimpangan jalan
Kepada pewaris peradaban Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan Di lembar sejarah manusia
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta



nb : ni lagu favorit yang bikin nta tambah semangat. Lagu yang nta kenal di aksi pertama, n memantapkan hati ini untuk mewakafkan diri di jalan perjuangan.......
Read more ...

Cantik Itu Lembut

Oleh
Yon’s Revolta


Cantik wajah seorang wanita akan sirna seiring berlalunya waktu. Semua orang tentu sepakat. Namun banyak lelaki sering terlena. Terlarut dalam daya pikat dan pesona kecantikan wajah. Hasilnya apa..? Terlalu banyak kisah-kisah pilu, lara dan mengenaskan terkenangkan dalam hidupnya. Tak usah mencari contohnya, saya sendiri pernah mengalaminya. Tak perlu saya ceritakan lebih lanjut, terlalu sakit. Terlalu tragis. Walaupun begitu, saya tak pernah menyesal dengan pengalaman. Seburuk apapun pengalaman, sepanjang nafas masih ada tentu saya masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri.


Hari ini, saya mencoba merenungkan kembali pengalaman itu. Jika ingin mendapatkan gambaran menarik tentang bagaimana nasib seorang lelaki yang terlena oleh daya pikat kencantikan wajah semata, bisa berkelana lewat sebuah novel. Sebuah gambaran dan kisah cukup memikat ada dalam novel “Pudarnya Pesona Cleopatra” karya Habibburahman El Sirazy. Kisah ini memaparkan bagaimana seorang lelaki terlampau mengejar kencantikan fisik, padahal disampingnya hadir wanita yang sejati cantiknya, tulus mencinta sepenuh kelembutan jiwa. Lelaki itu gagal mencinta karena hanya melulu terpikat fisik semata. Memang benar pesan di akhir novel, Kang Abik (panggilan akrab Habibburahman) menyirat dedikasi pesan dari sebuah karya itu, pada akhirnya kita (lelaki) memang harus sadar bahwa kecantikan wajah memang bukan segalanya.

Lalu cantik itu apa..?

Perdebatan yang panjang terjadi ketika merumuskannya. Biasanya, akan berakhir pada kesimpulan bahwa cantik itu relatif. Setiap orang bisa memandang dari sudut pandang yang berbeda-beda. Wajah, tentu tak luput dari sorotan, sebuah pesona fisik. Tak bisa dipungkiri. Hanya saja, sentuhan jiwa, pesona jiwa justru menjadi elemen yang penting karena setiap orang bisa mempunyainya. Disini, setiap wanita bisa mempunyainya. Artinya, semuanya wanita bisa menjadi cantik, bisa disebut cantik. Dan…lebih cantik lagi dari hari ke hari.

Titik tekannya sudah jelas. Letaknya ada pada kekuatan soulnya. Menggunakan parameter ini tentu lebih adil, lebih fair ketika memandang dan menyoal kencantikan wanita. Artinya apa, orang yang berwajah biasa saja, tak selalu berkulit putih pun bisa saja disebut cantik karena daya pikat soulnya. Soal soul inilah yang kemudian mendatangkan keterpikatakan tersendiri. Jika berhasil selalu memupuknya, sudahlah pasti akan selalu tumbuh dan langgeng terasakan. Kalau cantik wajah, tentu akan memudar ditelan waktu. Karena cantik ini urusan hati, lantas hati yang seperti apa…?. Ini rumit lagi. Dan bagi saya, punya subyektifitas tersendiri.

Cantik itu lembut…..

Ya, pesona kecantikan wanita terletak pada kelembutannya. Seperti pada kebanyakan kaum lelaki. Dia makluk yang kadang terlalu rasional, berpotensi kasar, angkuh, mudah tersulut ketika mensikapi keadaan. Sifatnya mirip kobaran api. Nah, kelembutan wanita itu ibarat air. Kelembutannya bisa meredakan sifat-sifat tersebut. Akhirnya, bisa mendatangkan keseimbangan dan keserasian hidup. Dengan begitu dia kita sebut cantik.

Namun kelembutan sendiri tak selalu baik, tergantung motifnya. Kelembutan yang penuh kepalsuan, justru akan melahirkan bisikan-bisikan buruk kepada kaum lelaki. Mengapa, sangat jelas. Kelembutan selalu mendatangkan keindahan. Dan setiap wanita suka keindahan. Salah satunya pernah-pernik duniawi. Bisikan kelembutan palsu disertai kemanjaan bisa menghancurkan kehidupan lelaki karena akan melakukan apapun, dengan cara apapun tanpa mengindahkan moralitas, hukum dan norma untuk kebahagiaan wanita yang dicintainya. Dalan sejarah, kaum lelaki hancur karena terlalu memperturutkan kemauan wanita untuk mendapatkan sesuatu dengan balutan kelembutan yang palsu.

Tapi disisi lain, kelembutan itu berpotensi mendatangkan kejayaan. Yaitu kelembutan yang dilandasi dengan semangat transendensi, semangat vertikal kepada Tuhan. Sebuah kelembutan moral dan beraroma religiusitas. Inilah kelembutan hati yang terpancar pada kebaikan akhlak. Dia, berwajahkan senyum manis, bening hati, sederhana dan tak mudah marah. Hasilnya apa, kalau lelaki bisa bersanding dengan wanita demikian, insyallah, lelaki yang awalnya biasa saja kelak akan menjadi sosok yang luar biasa. Sosok seorang pahlawan. Sungguh…

Rumah Kelana, 5 Agustus 2007

Read more ...

INDONESIA RAYA-quw

Berikut adalah lirik lagu Indonesia Raya versi
lengkap:

Indonesia Tanah Airkoe
Tanah Toempah Darahkoe
Disanalah Akoe Berdiri
Djadi Pandoe Iboekoe
Indonesia Kebangsaankoe
Bangsa dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe
Indonesia Bersatoe

Hidoeplah Tanahkoe
Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra'jatkoe Semw'wanja
Bangoenlah Jiwanja
Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Tanahkoe Negrikoe jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Hidoeplah Indonesia Raja

Indonesia Tanah jang Moelia
Tanah Kita jang Kaja
Di Sanalah Akoe Berdiri
Oentoek Slama-lamanja

Indonesia Tanah Poesaka
Poesaka Kita Semoeanja

Marilah Kita Mendo'a
Indonesia Bahagia

Soeboerlah Tanahnja
Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra'jatnja Sem'wanja
Sadarlah Hatinja
Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja


Reff:
Indonesia Tanah Jang Soetji
Tanah Kita Jang Sakti
Di Sanalah Akoe Berdiri
'Njaga Iboe Sedjati
Indonesia Tanah Berseri
Tanah Jang Akoe Sajangi
Marilah Kita Berdjandji
Indonesia Abadi

Slamatlah Ra'jatnja
Slamatlah Poetranja
Poelaoenja, Laoetnja, Sem'wanja
Madjoelah Negrinja
Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja
Read more ...
Tuesday, July 31, 2007
Senat Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Proudly present...

PUBLIC HEALTH EXPO 2007

First Step of Event
Variance of competition

Tema:
1. Ngerokok, Emang Keren?!
2. Drugs, "Friend or Foe?"
3. Negeriku Lautan Sampah

LiHat (Lomba Menulis Sehat)
- Pelajar SMA & Mahasiswa
- Karya berbentuK EssAY
- Panjang tulisan: min 3 hal A4, max 5 hal, font arial 12 pt, spasi 1,5
- Pilih salah satu tema diatas
- Peserta membuat tiga rangkap karyanya
- Fee Pendaftaran : Rp 5.000,00

Lova (Lomba Video Amatir)
- Mahasiswa & Umum
- Karya berbentuk short video dg durasi 3-5 menit
- Pilih dari salah satu tema diatas
- Fee Pendaftaran: Rp 50.000

LoPer (Lomba Poster)
- Pelajar SMA dan Mahasiswa
- Karya berbentu media penyulhan bertema : "Drugs, "friend or foe?"
- Karya berukuran A3
- Karya berbentuk design kompugrafis
- Fee Pendaftaran : Rp 30.000

NB:
- Semua hasil karya mutlak mjd milik panitia
- Hasil karya dimaksudkan ke dalam amplop coklat beserta fee pendaftaran dan
menuliskan jenis lomba yg diikuti di sudut kiri atas amplop
- Sertakan data diri: Nama, ket.kampus/SMA & no. Telp yg dpt dihubungi
- Amplop dikirimkan ke alamat Sekretaris PHE 2007: Ruang Senat Ged. A
Lt.1fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
- Pengumpulan hasil karya diterima panitia selambat-lambatnya: 25 Agt
2007-07-25 Pengumuman Pemenag: 6 Sept 2007

Read more ...
Saturday, July 07, 2007

Rumah Indie Bagi Sastra

oleh : shinta ardhiyani u


I.Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Berdialektika mengenai satra, kita tak bisa lepas dari membicarakan masyarakat. Literature is a reflection of society, sastra adalah refleksi dari kehidupan masyaarakat. Pernyataan ini mengandung determinan bahwa antara satra dan masyarakat terjadi interaksi, dalam artian bahwa sastra memiliki pengaruh terhadap masyarakat. Dengan kata lain, fenomena kehidupan masyarakat saat ini adalah sebuah pengejewantahan dari karya sastra yang sedang berkembang.
Ketika kita menengok “pasaran” sastra di Indonesia, tak jauh yang kita lihat adalah jenis-jenis sastra konteporer seperti teenlit, checklit, kumcer remaja, dan lain sejenisnya. Di satu pihak adalaha suatu yang membahagiakan ketika melihat perkembangan pesat dunia sastra. Namun, cobakita tengok substansi dari karya sastra kontermporer tersebut. Nilai-nilai hedonisme, glamour, lebih mendominasi dibanding esensi sastra.
Sastrawan-sastrawan di Indonesia sebenarnya tidak mandul akan karya. Kita tak pernah krisis karya sastra, namun kitatidak melihat hal itu karena karya sastra tidak cukup masif di tengah masyarakat.
Penerbit merupakan pihak yang berperan dalam pemasifan karya sastra. Penerbit adalah alat penagakomodir karya sastra kepada masyarakat. Namun fenomena yang ada telah menunjukan belum optimalnya penerbit yang sudah ada sekarang dalam pemasifan karya sastra. Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi bahwa penerbitan konvensional, di satu sisi sebagai pihak yang empertahankan nilai budaya (baca : sastra dan kecerdasan) ditengah masyarakat. Namun disisi lain, mereka juga sebuah industri yang terjebak pada kata : untung atau rugi.
Munculnya penerbitan independen (indie) mencoba menjawab permasalahan tersebut. Penerbit indie adalah sebuah usaha untuk memperjuangkan idealisme sastra tanpa harus dirugikan oleh sistem kapitalisme penerbitan konvensional. Dengan latar belakang itulah, penulis tertarik untuk mengangkat tema mengenai penerbit indie dalam sebuah makalah sederhana dengan judul “ Rumah Indie Bagi Sastra”.

1.2 Permasalahan
Permasalahan yang akan diangkat dalam makalah ini adalah :
1.Bagaimana tumbuh kembang dunia penerbitan di Indonesia khususnya munculnya penerbitan indie?
2.Bagaimana penrbitan indie dapat berperan dalam upaya memasifkan karya sastra ditengah masyarakat?

1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat mencapai tujuan-tujuan berikut :
1.Memperkenalkan bagaimana ilustrasi mekanisme penerbitan sebuah karya di Indonesia
2.Menjelaskan mengenai tumbuh kembang penerbitan indie di Indonesia
3.Menjelaskan mengenai peranan penerbitan indie dalam upaya pemasifan karya sastra di tengah masyarakat.

II.Industri Penerbitan di Indonesia

2.1Idealisme Industri Penerbitan
Jika merunut perjalanan waktu, kuantitas penerbit di Indonesia bisa jadi sudah menginjak angka ribuan hingga kini. Namun dari ribuan tersebiut, hanya segelintir saja yang masih bisa bertahan dalam jangka waktu lama. Barometerlama disini adalah lebih dari 50 tahun.
Ada salah satu resep yang bisa dijadikan oleh pemilik industri penerbitan supaya usaha penerbitanna dapat berumur panjang yakni tetap memegang teguh idealisme dan tetap setia terhadap komitmen awal yang menjadi dasar mereka terjun ke dunia penerbitan. Resep ini terbukti ampuh. Hal ini bisa kita lihat pada penerbit-penerbit semacam Balai Pustaka, Kanisius, Dian Rakyat, Pradnya Paramita,maupun penerbit Madju. Hingga kini penerbit-penerbit tersebut masih survive dengan idealisme masing-masing. Misal penerbit Kanisius yang merupakan penerbitan buku rohani hingga saat ini masih memegan visi dan misai mereka yang rumusannya antara lain memuat gagasan bahwa Penerbit-Percetakan Kanisius memosisikan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa dan gereja Indonesia. Buku-buku yang diterbitkan harus yang bernuasns membangun dan memberdayakan masyarakat. Tidak banyak penerbit yang dapat terus bertahan memegang idealisme dan memegan komitmen hingga puluhan tahun. Contoh lain yang dapatkita lihat antara lain Penerbit Madju yang berlokasi di kota Medan –Sumatra Utara. Penerbit yang didirikan oleh HM Arbie pada pertengahan tahun 1949 ini hingga kini masih setia menerbitkan buku-buku pelajaran sekolah. Berbekal mesin letter press yang dibeli dari hasil keuntungan menjual buku, sekitar tahun 1952, penerbitan ini membuat gerakan dnegan menerbitkan seluruh buku pelajaran dalam satu paket lengkap. Langkah ini boleh dikatakan merupakan terobosan baru yang belum pernah dilakukan penerbitan lain saat itu. Berawal dari sebuah toko buku kecil bernama Pustaka Madju di jalan Soetomo, Medan, Penerbitan Madju berkembang menjadi perusahaan penerbitan sekaligus percetakan buku-buku yang sangat laris.
Hasil yang diperoleh dari kesuksesan Penerbit Madju dari menerbitkan buku-buku pelajaran terutama buku-bukupelajaran tingkat sekolah dasar bahkan mampu melahirkan unit-unit usaha lainnya, seperti dua buah hotel dan sebuah rumah sakit di kota Medan yang bernaung di dalam Grup Madju. Namun hingga saat ini Penerbit Madju tetap konsisten dengan misi awal mereka, yaitu menerbitkan buku-buku pelajaran, sesuai dengan motonya “Setia Memajukan Pendidikan”. Buku-buku terbitan Madju tidak hanya dipakai sebagai acuanoleh sekolah-sekolah dasar di wilayah Sumatra, Aceh , dan Riau, tetapi sampai ke Pulau Jawa hingga Sulawesi. Karena kualitasnya dipandang bagus, Deprtemen Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu menetapkan buku pelajaran terbitan Madju sebagai acuan saat metode Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) diterapkan.

2.2Kapitalisme Dunia Penerbitan
Tidak semua penerbit dapat memegang teguh idealisme serta setia pada komitmen awal. Hal ini bisa dimaklumi, karena industri penerbitan di satu pihak merupakan misionaris esensi dari buku-buka yang diterbitkan, namun disisi lain mereka juga sebuah rumah usaha yang tidak bisa menggantungkan sekedar pada modal idealisme. Kekuatan modal akhirnya mulai mempengaruhi dunia penerbitan. Misi tidak begitu diindahkan. Posisi untung-rugi menjadi fokus yang lebih mendapat perhatian. Akhirnya terjadi kapitalisme di dunia penerbitan.
Hal ini berpengaruh pada kualitas pemasifan karya dan pada fokus pembahasan kali iniadalah khusus mengenai karya sastra. Proses filter dan selektif terhadap karya sastra menjadi disampingkan. Esensi karya sastra tidak menjadi hal yang penting dalam keputusan menerbitkan sebuah karya. Karya yang ecek-ecek pun dapat terbit apabila ada kekuatan modal dibelakangnya. Penerbit tidak mau menanggung resiko kerugian apalagi di tengah kondisi perekonomian bangsa yang semakin merosot yang memaksa tiap individu untuk lebih membanting tulang demi memenuhi kebutuhan perut.
Hal itu dapat terlihat pada fenomena yang berkembang saat ini. Novel-novel kontemporer lebih populer daripada karya-karya para sastrawan yang sarat nilai-nilai kehidupan. Hingga muncul sebuah istilah antara “karya berkualitas” dan “karya laris”. Dua idiom itu muncul karena ternyata kenyataan yang terjadi adalah karya yang laris belum tentu yang berkualitas atau sebaliknya. Jika dalam blantika film, kita mengenal adanya box office, maka disini ada pernyataan bahwa buku-buku yang masuk dalam box office ternyata bukan karya-karya maestro yang berkualitas. Hal ini karena ada kekuatan modal untuk lebih mempublikasikan karya-karya ecek-ecek di tengah masyarakat. Kembali pada bahasan awal, adalah mengenai idealisme. Idealisme penerbit yang semakin dikacaukan oleh pengaruh modal ini akhirnya berdampak pada degradasi esensi karya sastra yang berkembang di tengah masyarakat. Berbicara lebih jauh, secara tidak langsung ini akan menciptakan mindset masyarakat Indonesia. Jika masyarakat disuguhkan karya ecek-ecek maka pola pikir mereka hanya akan dipenuhi muatan-muatan yang ecek-ecek pula. Masyarakat Indonesia akan meningkat pola hidup glamour dan hedonismenya. Khususnya dalam hal ini adalah para generasi muda yang merupakan generasi penerus bangsa ini.

III. Penerbitan Independen (indie label)

3.1Apa dan Mengapa Indie Label?
Fenomena dunia penerbitan yang tergambar sedikit pada bab sebelumnya, merupakan salah satu pemicu munculnya penerbitan independen. Sesuai namanya, maka independen adalah usaha swadaya, tidak tergantung pada pihak lain. Ada beberapa hal yang membuat seseorang lebih memilih menggunakan indie label, yakni :
3.1.1 Upaya mempertahankan idealisme
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa terbitnya karya-karya khususnya karya sastra yang berkemang saat ini sudah mulai melenceng dari idealisme yang mengangkat karya sastra sebagai pengakomodir nilai-nilai kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Bisa dikatakan sebagai bentuk kekecewaan pada penerbitan konvensional yang mulai terpengaruh kekuatan modal.
3.1.2. Teknis Penerbitan
Menerbitkan sebuah buku bukan perkara mudah. Informasi yang terbatas mengenai penulisan dan pencetakan, karir dan pekerjaan yang menyita waktu, serta banyaknya syarat dan ketentuan yang diminta penerbit konvensional, seringkli membuat proses berkarya yang sesuai dengan keinginan dan idealisme menjadi terhambat.
Ketika kita ingin menerbitkan naskah, maka keputusan untuk bisa diterbitkan atau tidak menjadi prerogatif penerbit. Biasanya banyak faktor yang masuk jadi pertimbangan penerbit konvensional. Salah satunya adalah nama pengarang atau penulis sendiri. Ada kalanya kita sebagai penulis pemula memang harus maklum bahwa penerbitan konvensional sebagai pihak yang akan menerbitkan karya kita, di satu sisi sebagai pihak yang mempertahankan nilai-nilai budaya (baca :sastra dan kecerdasan) di tengah masyarakat, di sisi lain mereka juga sebuah industri yang terjebak pada kata : untung-rugi. Seidealis apapun mereka, mau tidak mau, seringkali mereka akan bercermin pada keinginan pasar atau pembaca pada produk yang akan dipublikasikan—yang mana membawa brand nama kita sebagai penulis.
3.1.3 Perhitungan Royalti
Disamping masalah teknis penerbitan sebagaimana dijelaskan sebelumnya, orientasi keuntungan juga menjadi salah satu alasan kenapa penulis memilih untuk menerbitkan buku secara independen. Harga jual yang terpampang di toko-toko buku umumnya mencapai enam kali atau bahkan lebih dari biaya produksi, padahal penulis hanya mendapatkan 8-12% dari harga jual buku, sedangkan sisanya menjadi bagian pemasaran dan penerbitan. Dengan dasar yang sama pada perhitungan royalti diatas, penulis akan mendapatkan hasil (dalam hal materi) yang jauh lebih besar. Karena sudah saat penulis menghargai hasil karyanya bukan hanya dari kepuasan batiniah tapi juga dari sisi lahiriah. Berikut contoh perhitungan royalti pada penerbit-penerbit konvensional :
Jumlah buku yang dicetak : 3000 eksemplar (jumlah cetakan minimal yang sering dipakai ukuran)
Perkiraan biaya produksi : Rp 9.000,00 /buku
Harga jual di toko : Rp 20.000,00.
Maka jumlah royalti yang diterima penulis (misal 10%) adalah 3000x 20.000 x 10% = 6 juta. Angka tersebut belum termasuk pajak sebesar 15% yang dibebankan kepada royalti penulis buku. Dan angka tersebut dengan asumsi bahwa 3000 eksemplar buku terjual habis.
3.2Penerbit Indie dan Pemasifan Karya Sastra
Dalam kaitannya dengan upaya pemasifan karya sastra, penerbitan independen memiliki kapasitas untuk itu. Dengan penerbitan independen , unsur-unsur diluar idealisme untuk mengusung esensi sastra dapat diminimalisir. Memang tidak ada yang sempurna. Tidak mungkin juga sebuah karya benar-benar independen. Namun setidaknya penerbit independen memberikan penghargaan yang layak kepada para sastrawan (dalam sudut pandang royalti misalnya).
Di Indonesia, penerbit indie yang cukup populer yaitu INDIE offset. INDIE Offset bertujuan memberikan pelayanan secara terpadu kepada para penulis yang ingin menerbitkan buku sesuai dnegan keinginannya. Menerbitkan buku sendiri akan membantu penulis untuk mewujudkan buku yang akan diterbitkannya. Mulai dari mendesain buku yang diinginkan, mengedit, mencetak, membuat publikasi, mengurus perijinan, bahkan hingga memasarkannya. Hal ini memungkinkan munculnya sebuah karya yang murni dengan komitmen dari sebuah karya itu (baca : idealisme).
Dari berkembangnya penerbitan independen sangan mungkin untuk memotivasi para sastrawan untuk produktif berkarya. Penerbit indie membuat sastrawan tak perlu memikirkan rumit serta hal-hal lain yang terdapat padapenerbit konvensional yang hanya akan menghambat tingkat produktivitas mereka. Penerbit Indie menjadi solusi baru bagi para sastrawan, menjadi rumah indie bagi sastra.

IV. Penutup
4.1Kesimpulan
Dari pembahasan pada bab-bab sebelumnya, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan:
1)Penerbit merupakan pihak yang berperan penting dalam pemasifan sebuah karya,
2)Penerbit perlu memegang teguh idealisme dan setia pada komitmen awal. Hal ini akan berpengaruh pada usia penerbitan.
3)Banyak penerbitan konvensional kini yang mulai terpengaruh pada kekuasaan modal,
4)Masuknya pengaruh kekuatan modal dapat menlunturkan idealisme serta berkurangnya esensi nilai-nilai sastra kepada masyarakat
5)Penerbitan independen dapat menjadi sebuah solusi untuk memurnikan idealisme sebuah karya sastra, sehingga dapat masif di tengah masyarakat.

4.2Saran
Dari pembahasan serta kesimpulan yang telah diambil, ada saran yang ingin disampaikan yakni berharap penerbitan independen lebih dikembangkan lagi baik dalam segi kuantitas maupun kualitas karena peran yang dipegang oleh penerbitan indie sangat strategis dalam upaya pemasifan karya sastra ditengah masyarakat. Penulis juga berharap pembaca atau penikmat karya sastra di Indonesia dapat lebih cerdas dalam mengapresiasi karya-karya satra yang berkembang di era kini.
Saran-saran tersebut semoga menjadi sebuah tindak lanjut dari pemikiran yang tertuang dalam makalah sedarhana ini. Semoga tulisan ini bukan sekedar menjadi wacana saja tapi dapat bermetafora menjadi sebuah tindak nyata. Amin.
Read more ...
Sunday, July 01, 2007

My Only One

we had a fight last night
and i called him mad
makes me feel so sad
and i’m so ashamed

he’s my only one
i give him all my love
even though my mom says no!
i just go on and on…

no one’s gonna take him away from me..

everyday and everynight
i just wanna hold him tight
and make sure that everything stays night
and everyday and every night
to dream of him is mu delight and know that
he’ll stay with me all the way

by :Mocca
Read more ...
Tuesday, June 26, 2007

MENUAI ANGGUR KEHIDUPAN DALAM “A WALK IN THE CLOUDS”


ni final asigment nta...nta buat hari Senin ba'da Shubuh...n dikumpulin jam 9.10 ... padahal jam 7.00 ada ujian Kewarganegaraan.... whuaa...gk lagi2 deh nunda2 pekerjaan.....
MENUAI ANGGUR KEHIDUPAN DALAM “A WALK IN THE CLOUDS”
(sebuah studi analisa terhadap film “A Walk in The Clouds” melalui pendekatan teori formalisme)


Mempelajari karya sastra merupakan hal yang menyenangkan. Belajar karya sastra berarti belajar salah satu cabang seni yang berarti pula belajar sebuah estetka (keindahan). Naluri manusia akan senang pada hal yang berupa indah dan keindahan. Berkaitan dengan keindahan, Thomas Auino berpendapat bahwa ada tiga (3) syarat kendahan, yaitu :
• Memiliki keutuhan (kesempurnaan), karena segala kekurangan (keburukan) itu menyebabkan sesuatu tidak indah;
• Memiliki keselarasan (kesembangan) bentuk, karena segala ketimpangan itu menyebabkan sesuatu tidak proporsional sehingga tidak indah;
• Memiliki sinar kejelasan, karena segala kekaburan (kesamaran) itu menyebabkan sesuatu tdak indah.
Berdasar tiga syarat diatas dapat disimpulkan bahwa apa pun yang memberi kita rasa puas itu indah. Menurut Slametmuljana (Prodopo, 1992 : 56); keindahan itu adalah sesuatu yang menyentuh hati atau perasaan. Syaratnya antara lain :
• Memiliki keutuhan, yang utuh itu memiliki kesatuan, yang cacat itu buruk.
• Memiliki keselarasan (keseimbangan) bentuk.
• Memiliki kejelasan, yaitu sifat yang gilang cemerlang.
Abad XX muncul aliran-aliran yang mencoba menolak arti kendahan dengan jalan menolak art kendahan model klasik sebagaimana dikemukakan Thomas Aquino dan Slametmuljana tersebut. Mereka antara lain :
• John Keats. Keindahan adalah kebahagiaan yang abadi.
• Oscar Wilde . Seni adalah hidup. Keindahan tidak ada kecuali keterusterangan dan kenyataan.
• Graham Grene. Keindahan dari sebuah ciptaan terletak pada nilai belas kasihannya.
• Benedetto Croce. Keindahan adalah ekspresi yang berhasil baik (keindahan adalah sesuatu yang menyentuh hati dan perasaan).
Rangkaian teori diatas mengenai konsep keindahan semacam itu sekarang telah ditolak oleh sebagian besar ahli estetika dan seniman. Mereka cenderung memakai stilah seni untuk menyatakan sifat estetk karya seni. Sebab, dalam kata indah terkandung arti yang relative sempt, yaitu baik, halus, bersih, tidak cacat, tidak menyedihkan, tidak mengerikan, dan sebagainya; sdang dalam kata seni terkandung arti yang jauh lebih luas. Dalam istlah seni, selain mengandung arti indah dan menyenangkan juga mengandung pengertian besar (sublimes : keindahan tertinggi, edi peni), jujur, khas, aneh (Jawa: nyeleneh), dan sebagainya.
Karya sastra sebagai salah satu jenis “produk” seni tentu saja memiliki unsur estetik. Untuk memempelajari sebuah karya sastra, kita bisa melakukan dengan pendekatan menggunakan beberapa teori sastra. Salah satu teori yang bisa digunakan adalah teori formalisme. Formalisme memiliki latar belakang sebagai sebuah teori yang muncul atas reaksi terhadap pendekatan sastra yang bersifat positivistik. Pendekatan positivistic adalah sebuah pendekatan yang didasari oleh filsafat positivisme (Auguste Comte dalam Cours de Philosophie Positive, 1830- 1842), yakni suatu paham yang menganggap bahwa segala ilmu harus berazazkan fakta yang dapat diamati. Ilmu pengetahuan yang tidak didasarkan pada keterangan pancaindera, menurut faham tersebut, ditolak karena dianggap sebagai spekulasi kosong. Sedangkan kaum formalis menolak anggapan bahwa teks sastra adalah pencerminan individu atau pu gambaran masyarakat. Menurut mereka, teks sastra adalah fakta kebendaan yang terbangun atas kata-kata. Bangunan kata itu memilik kaidah, struktur, dan peralatan khusus yang harus dikaji dengan tujuan lain; misalnya sebagai pengetahuan psikologis, sosiologis, atau histories. Jadi teks sastra adalah objek tersendiri yang dikaji secara khusus.
Pada intinya adalah teori formalisme mempelajari sebuah karya sastra dengan sudut pandang “bentuk” (form) sebagai aspek penganalisa. Dalam teori formalisme, dikenal adanya “defamiliarisasi” dan “deotomatisasi”. Konsep “defamiliarisasi” dan “deotomatisasi” merupakan konsep yang digunakan kaum formalis untuk mempertentangkan karya sastra dengan kehidupan atau kenyataan sehari-hari. Apa yang sudah akrab dan secara otomatis diserap, dalam karya sastra dipersulit atau ditunda pemahamannya sehingga terasa asing dan ganjl atau aneh. Tujuannya adalah agar pembaca lebih tertarik pada bentuk, dan lebih menyadari hal-hal di sekitarnya. Subaspek yang dijadikan bahan penelitian oleh kaum formalis adalah unsurintrinsik karya sastra, seperti fibula (story) dan sjuzet (plot). Dalam kaitannya dengan konsep “defamiliarisasi” dan “deotomatisasi”, kaum formalis juga mencoba mengkaji unsure bahasa dalam karya sastra. Bahasa dalam karya sastra bukan hanya merupakan sarana komunikasi belaka, tetapi lebih dari itu bahasa juga merupakan sarana untuk mencapai nilai estetis. Bahasa sastra bersifat, antara lain :
• Konotatif, artinya selain bermakna denotatof, maknanya sengaja ditautkan dengan pengertian lain, diberi art tambahan sehingga mempunyai kemungkinan banyak tafsir (polyinterpretable), makna ganda (ambiguitas), penuh homonym dan diresapi asosiasi.
• Ekspresif, artinya mempunya kemampuan mengungkapkan jiwa, perasaan, gagasan pengarang.
• Sugestif, artinya secara sadar atau tidak, langsung atau tidak, bahasa mampu menyarankan, mempengaruhi jiwa/ perasaan/ asosiasi pembaca/penonton.
Dengan sifat-sifat bahasa sastra itulah, kita akan menemukan konsep “defamiliarisasi” dan “deotomatisasi” dalam karya sastra.
Kita akan mencoba menggunakan pendekatan teori ini dalam menganalisa film bertajuk A Walk in The Clouds , sebuah film cinta tahun 1996 garapan sutradara Alfonso Arau.
A Walk in The Clouds
Film yang dirilis tanggal 11 Agustus 1996 bergenre romance movie. Dibintangi oleh bintang kenamaan Keanu Reeves yang bermain peran dengan Giancarlo Giannini, Anthony Quinn dan Aitana Sánchez-Gijón.
Menganalisa film berbeda dengan menganalisa karya sastra lain. Ada beberapa hal yang bisa dicermati dalam fil selain tekstual yaitu tayangan visual-nya.
Beberapa dialog dalam film ini dapat dianalisa sebagai defamiliarisasi atau deotomatisasi.
We are think, they are feel. They are a heart people. Dialog yang disampaikan Alberto Aragon (Giancarlo Giannini) pada Paul Sutton (Keanu Reeves) saat menanggapai usaha Paul untuk berbicara dengan Victoria (Aitana Sanchez). Dalam konteks ini, kata “manusia hati” adalah menunjuk pada kaum perempuan, yang maksudnya adalah bahwa kaum wanita adalah manusia yang memiliki kecenderungan menyelesaikan segala permasalahan hidup dengan hati / perasaan.
This is 365 days a year. Dialog yang disampaikan Don Pedro Aragon (Anthony Quinn) yang merupakan ayah Victoria memiliki maksud bahwa semua yang ada di lading anggur itu dan segala sesuatunya adalah yang diusahakan selama bertahun-tahun setiap hari hanya didekasikan untuk keluarganya. Pada saat itu, Paul menyangsikan kasih sayang Don Pedro terhadap anaknya sendiri Victoria. Don Pedro memang tidak bisa mengungkapkan kasih sayangnya, namun sebenarnya ia adalah pekerja keras yang sangat berdedikasi pada keluarga.
“Kau bule , memang baik, tapi kau tetap bule”. Kata-kata yang disampaikan pada Paul ini bermaksud bahwa Paul memiliki kelompok social yang berberda dengan keluarga besar Aragon.
“Welcome in the world again”. Kata-kata yang disampaikan oleh sopir pada Paul saat dia meninggalkan Las Mujes, mengisyaratkan bahwa Paul kembali kepada dunianya kembali. Las Mujes sendiri sering disebut sebagai The Clouds (awan-awan).
Kutipan-kutipan dialog diatas termasuk deotomatisasi karena makna yang tersirat dalam perkataan-perkataan tersebut tidak dapat secara langsung diterima oleh penonton. Selain itu, deotomatisasi juga dapat dilihat pada beberapa kutipan dialog lain seperti :
This is root of your life. Root of your family. Akar kehidupan disini adalah bermaksud bahwa akar anggur merupakan jiwa dari berjalannya kehidupan keluarga Aragon. Anggur memiliki peran penting dalam keberlangsungan keluarga Aragon.
Deotomatisasai juga kita lihat dalam penggalan dialog “Who is Pete?” . Kalimat penegasan yang diungkapkan oleh Don Alberto yang mengisyaratkan bahwa ia tidak suka atas tindakan putranya , Pedro Aragon Jr, yang mengganti namanya menjadi Pete. Don merupakan ayah yang “kolot” yang cukup otoririter dalam keluarga, ia tidak suka pada hal-hal yang melenceng dari apa yang sudah diadatkan dalam keluarga.
Beberapa dialog dalam film berdurasi 102 menit ini juga memiliki beberapa defamiliarisasi. Seperti pada dialog “ Meet on Friday, Married on Sunday, n send on Monday”. Dialog ini mempunyai maksud bahwa begitu kerasnya hidup berprofesi sebagai prajurit sehingga kurang memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Ini diisyaratkan ketika dua prajurit (Paul dan temannya) baru pulang dari pertempuran dan membicarakan istri masing-masing. Dialog itu mengandung arti bahwa begitu singkatnya waktu untuk berkumpul dengan keluarga bahkan dengan istrinya sendiri.
Selain dari percakapan, konsep deotomatisasi dan defamiliarisasi juga bias kita dapatkan dari tayangan visual atau pada fibula dan alur ceritanya. Misal, jalan cerita film yang menayangkan tiga kali siluet / gambaran ketika Paul ada di mendan pertempuran. Adanya gambaran medan perang yang muncul di sela-sela jalan cerita mengungkapkan maksud jiwa seorang prajurit yang kesehariannya harus menghadapi kematian, maka wajar bila seorang prajurit memiliki mimpi untuk merangkai kehidupan yang tenang sekembalinya dari perang. Hal ini seperti yang dirasakan Paul. Ia memiliki gambaran mimpi hidupnya yaitu memiliki rumah yang nyaman,dengan anak-anak dan anjing-anjing kecil serta pekerjaan yang mantap. Apa yang diinginkan Paul belum dapat terwujud karena ternyata istrinya tidak membaca semua surat-suratnya. Padahal dalam surat-surat itulah ia mengungkapkan semuanya setiap hari saat ia masih ada di medan pertempuran.
Deotomatisasi juga kita dapatkan saat adegan bertemunya Paul dan Victoria pertama kali. Waktu itu Victoria muntah di jas Paul. Ternyata ini mengandung arti bahwa saat itu Victoria sedang hamil. Adegan ini tidak langsung dapat dipahami oleh penonton sebelum adanya dialog pada scene selanjutnya yang menyebutkan pengakuan hamil dari mulut Victoria.
Ending dari film ini juga menyisakan sebuah defamiliarisasi. Di akhir kisah diceritakan bahwa semua kebun anggur milik keluarga Aragon lenyap kecuali satu akar yang ditemukan oleh Paul. Setelah itu , Don Alberto akhirnya dapat menerima Paul sebagai menantunya. Ini masih menyisakan pertanyaan kepada penonton bagaimana kehidupan Paul kemudian karena harta keluarga Aragon juga telah habis serta kondisi yang telah jauh berbeda dengan keadaan sebelumnya. Penyelesaian kisah yang tidak “menyelesaikan” . Ending seperti ini memang kerap kali digunakan dalam beberapa kisah baik itu prosa maupun drama, namun akhir di kisah film ini terlalu “absurd” dan terlihat sangat memaksakan untuk diakhiri.
Beberapa adegan yang menggambarkan budaya/adat dari keluarga Aragon juga belum bias secara langsung dipahami oleh penonton. Tidak semua orang langsung memahami ritual pemberkatan panen anggur serta pesta rakyat ketika panen yang divisualisasikan dalam film ini.
Dari segi fabula (cerita), kisah dalam film ini juga mengandung defamiliarisasi. Kisah Paul yang menjadi “suami sementara” bagi Victoria merupakan suatu hal yang “aneh” di tengah kehidupan masyarakat. Serta status pernikahannya dengan Betty (istri pertama Paul) yang kemudian dengan mudahnya ada “pembatalan pernikahan” dengan penandatanganan suami dan istri. Ini kurang bias diterima secara mudah oleh penonton. Yang kita tahu adalah bahwa pernikahan dan perceraian adalah sebuah hal yang biasa namun tidak semudah seperti dikisahkan dalam film ini. Film ini menggambarkan betapa “mudah”nya sebuah cinta dan pernikahan. Ada kisah Victoria yang harus pulang karena ia hamil tanpa suami, entah bagaimana kisah si “Free Spirit” (semangat bebas) yang disebut-sebutnya sebagai seorang professor yang menjadi ayah dari janin yang dikandungnya. Kemudian Paul yang secara singkat memutuskan untuk menolong Victoria menjadi suami sementaranya. Padahal mereka berdua baru pertama kali saat perjalanan di kereta dan bus yang menuju Sacramento.
Itulah beberapa analisa mengenai film A Walks in The Clouds ini. Apa yang diungkapkan disini hanya beberapa bagian karena banyak sekali “form” dari film ini yang dapat dianalisa secara pendekatan formalisme.
Read more ...
Sunday, May 13, 2007

UNDER CONSTRUCTION


Sory for the Delay this site is still under construction
Read more ...
Sunday, May 06, 2007

Kenapa q bersedih melihat gubuk itu sepi?

kok sepi ya???
hanya selintas memang
entah rindu apa yang membuncah...
tiba-tiba aq sedih saja
melihat gubuk itu sepi....
aq rindu kumpul lagi...



ahad siang yang terik...sepulang dari diskusi publik
Read more ...
Wednesday, May 02, 2007

HARDIKNAS????? (national education is Bulshitt!!!)



katanya hari ini hari pendidikan nasional...
beberapa pesan singkat ajakan untuk rapat aksi aq terima
katanya aksi dengan isu pendidikan
...
ah...aku bingung...memangnya di Indonesia ada pendidikan????
pendidikan yang mana???
di Indonesia itu tidak ada pendidikan
lembaga-lembaga pendidikan itu adalah pabrik dengan siswa dan mahasiswa2nya adalah buruh2nya.

pendidikan yangmana yang mau dijadikan isu aksi???
hari pendidikan nasional itu tidak ada karena di "nasional" kita itu tidak ada pendidikan.....




jadi maaf...ku tak hadir di upacara hardiknas pagi ini....
maaf juga ku tak turut serta bersama kalian kawan untuk aksi di depan rektorat....

mari kita bersama-sama berdoa saja...semoga Indonesia segera "berpendidikan".Amien.
Read more ...

NASIB PEKERJA (Sebuah Renungan di Hari Buruh)





Kemajuan teknologi yang sangat pesat dan kemudahan akses komunikasi informasi, pada era “Ekonomi Baru” saat ini, turut merubah pola perusahaan dalam mempertahankan pekerjanya. Dahulu, perusahaan akan mempertahankan para pekerjanya di tengah resesi, walaupun mereka tidak terlalu diperlukan. Sekarang, seiring berkembangnya era ekonomi baru, berkembang pula budaya yang menitikberatkan pada bottom line yang mengandung arti bahwa laba hari ini bukan laba jangka panjang, sehingga ketika menghadapi masalah maka perusahaan perlu mengambil tindakan cepat dan menentukan. Mempertahankan pekerja pada saat perusahaan bermasalah, dipandang sebagian pihak sebagai tindakan lemah hati dan rendah pikiran. Oleh karena itu, memiliki “pekerja tetap” dianggap merugikan dibandingkan dengan outsourcing, sehingga pekerja tidak lebih dari sebuah obyek sewa pelengkap produksi. Lebih jauh lagi, telah muncul idiom baru yang berbunyi “pecat pekerja anda begitu tidak dibutuhkan lagi, karena mereka
selalu bisa disewa lagi nanti saat diperlukan”. Di samping itu menahan pekerja yang ingin keluar dari perusahaan juga dianggap sebagai akan membuat “besar kepala” seorang pekerja, sehingga muncul idiom yang berbunyi “biarkan satu pekerja anda pergi, karena masih ada seribu lamaran dengan upah lebih rendah menanti di meja manajer SDM anda”.

Kesetiaan usaha, tampaknya sudah merupakan sebuah nilai dari era yang telah lewat. Hal ini berarti, bahwa angka penduduk bekerja bisa berkurang lebih cepat begitu kondisi ekonomi terpuruk. Akibat kesetiaan perusahaan kepada pekerja menurun, tidak heran keresahan pekerja terhadap kelangsungan pekerjaannya menjadi meningkat. Kekuatan serikat buruh yang dahulu melindungi para pekerja kasar menjadi kian lemah pada era ekonomi baru. Ketidakpastian kerja, bukan hanya dialami oleh pekerja kasar, tetapi juga menyebar ke pekerja “kantoran”. Kemajuan teknologi membuat perusahaan melakukan perampingan dari hari ke hari. Dengan demikian, jaminan pekerjaan seumur hidup atau minimal sampai usia pensiun sudah menjadi pembahasan masa lampau. Saat ini, yang harus dimiliki oleh seorang pekerja adalah “kemampuan bekerja seumur hidup” serta “belajar seumur hidup”. Kedua hal tersebut yang dapat memungkinkan seorang pekerja dapat pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Dari data yang
ada (Stiglitz, 2003), terlihat bahwa mereka yang lebih terdidik akan lebih mudah berpindah pekerjaan, dan hanya sedikit yang mengalami penurunan pendapatan ketika kehilangan suatu pekerjaan dan cepat mendapat pekerjaan baru kembali.

Kondisi pekerja pada era ekonomi baru, saat ini, yang sangat mengandalkan teknologi komputer, mengingatkan kejadian yang sama pada abad 18-19 (El Fisgon, 2004), ketika para majikan memanfataatkan perubahan teknologi untuk mengurangi sebagian pekerja dan menurunkan gaji pekerja lainnya. Revolusi teknologi memungkinkan monopoli-monopoli besar menata ulang produksinya dan merestrukturisasi tenaga kerjanya pada skala global. Sebagai tambahan efisiensi, korporasi global dengan mudahnya merelokasi pabrik-pabrik mereka di mana saja yang upahnya paling murah. Hal ini membuat mereka mampu menekan upah pekerja sedunia dan merontokkan serikat-serikat pekerja serta meluncurkan aksi global baru yang berupaya menggugurkan segenap pencapaian gerakan buruh pada masa revolusi industri. Hak-hak buruh yang berusaha digugurkan pada era ekonomi baru ini antara lain adalah bekerja delapan jam sehari, upah minimum, dan tunjangan kesehatan, serta dana pensiun. Dengan demikian pemenuhan
kesejahteraan pekerja malah menjauh akibat globalisasi ekonomi yang terjadi saat ini.

Seiring perubahan gaya perekonomian, yang semakin konsumtif, membuat profesi pekerja yang selama ini sangat jarang menjadi debitur perbankan mulai menjadi obyek penyaluran kredit bank-bank dan lembaga keuangan lainnya. Saat ini, jauh lebih banyak profesi pekerja yang menjadi debitur perbankan dibandingkan profesi pedagang ataupun pengusaha apalagi jika dibandingkan dengan profesi petani. Kaum pekerja terlibat pinjam meminjam dengan pihak bank, bukan hanya sekedar untuk pembiayaan investasi pokok seperti rumah dan mobil, namun sebagian telah terjerumus dalam perlombaan meraih mimpi-mimpi konsumerisme sebagai seorang modernist yang tiada garis akhir.

Seorang kolumnis, Ellen Goodman (dalam Korten, 1999), menggambarkan bagaimana tingkah laku orang-orang (pekerja) yang dianggap normal saat ini. Mereka memakai pakaian yang dibeli untuk bekerja dan berkendaraan melalui jalanan dengan mobil kreditan guna mencapai tempat pekerjaan yang dibutuhkan. Dengan pekerjaan tersebut, mereka dapat membayar pakaian, mobil, dan rumah yang dibiarkan kosong sepanjang hari, agar dapat tinggal di dalam rumah tersebut. Mereka memiliki kartu kredit lebih dari satu dan menggunakan semuanya. Untuk membayar tagihan dan mendapatkan kepentingan yang konvensional, mereka menjadi semakin terperosok ke dalam tekanan karir pada korporasi tempat mereka bekerja. Semakin banyak yang mereka peroleh, maka semakin banyak pula yang mereka belanjakan, dan semakin keras pula mereka harus bekerja untuk membayar semua itu.

Permasalahan penting yang membayangi pinjaman yang diperoleh oleh para pekerja dari lembaga perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya adalah terjadinya kondisi suku bunga tinggi. Menurut Stiglitz, suku bunga tinggi sangat tidak baik bagi para pekerja (pegawai upahan), dan mereka akan rugi pada tiga hitungan, yaitu:

Tingginya suku bunga dapat menimbulkan naiknya angka pengangguran;
Tingginya pengangguran meletakkan tekanan terhadap besaran upah;
Akibat hutang yang dimiliki pekerja, suku bunga tinggi membuat makin berkurangnya kemampuan mereka mengeluarkan uang untuk kebutuhan lainnya.
Dengan demikian, risiko yang sangat besar, setiap saat, menghadang di depan para pekerja yang mendapatkan pinjaman yang sewaktu-waktu harus membayar lebih dari yang semula direncanakan, sedangkan penghasilan belum tentu bertambah atau bahkan mungkin hilang.

Di sisi lain, sejalan dengan munculnya era ekonomi baru pada tahun 1990-an, kebanyakan mahasiswa-mahasiswa terbaik memasuki fakultas-fakultas yang berkaitan dengan bisnis dan teknologi informasi. Siswa-siswa unggulan tidak tertarik mengabdi pada sosial masyarakat, tetapi tertarik kepada pesona korporat dengan imbalan materi yang berlimpah. Bidang pekerjaan yang menarik adalah pekerjaan-pekerjaan yang mempertaruhkan uang yang berlimpah. Akan tetapi akibat lain yang harus diterima, adalah seorang yang ahli dalam satu teknologi langsung menjadi usang begitu teknologi tersebut dilampaui oleh teknologi lainnya, sehingga pada usia 35 tahun seorang pekerja sudah masuk “kotak” jika dia belum mendapat posisi manajemen senior pada perusahaan tempatnya bekerja.

Fenomena di atas dapat kita saksikan pada iklan-iklan lowongan pekerjaan saat ini. Lowongan untuk staff pemula bagi seorang lulusan perguruan tinggi (sarjana), dibatasi pada usia 25 tahun, dan lowongan manager dibatasi pada usia 35 tahun. Sehingga pekerja-pekerja yang mempunyai pendidikan tinggi standard namun belum mempunyai posisi yang “kuat” pada suatu perusahaan harus bersiap untuk masuk “kotak” atau malah kehilangan pekerjaannya karena terjadinya perampingan organisasi perusahaan jika tidak selalu “belajar seumur hidup”.

Berubahnya perekonomian tahun 1990-an juga memaksa pekerja menanggung risiko jauh lebih besar dari era ekonomi sebelumnya. Risiko yang mereka tanggung bukan hanya saat mereka bekerja tetapi juga pada saat pensiun. Para pekerja mengandalkan program dana pensiun untuk meningkatkan penghasilan mereka pada masa pensiun nanti. Dalam mengelola dana pensiun, agar mendapatkan hasil yang maksimal, lembaga dana pensiun mempertaruhkan dananya pada saham di pasar modal. Namun, seringkali mereka tidak sadar, bahwa gelembung saham membuat laba menjadi tampak lebih besar dan membuat gelembung itu sendiri menjadi kian besar lagi. Dengan demikian, sebenarnya semua itu hanya sebuah fatamorgana yang tidak disadari bahwa akan dapat meletus pada suatu saat.
Anjloknya bursa saham, akan menyebabkan lembaga dana pensiun yang menempatkan dananya pada bursa saham akan langsung kekurangan dananya. Kondisi ini pada akhirnya akan berakibat kepada buruk bagi pekerja yang memiliki dana pensiun tersebut, yang tadinya diinvestasikan untuk persiapan penunjang kehidupan mereka di kala sudah tidak dapat bekerja lagi.

Dari uraian di atas, dapat kita tangkap bahwa pada era ekonomi baru, kebanyakan pekerja tidak lagi bekerja untuk satu majikan seumur hidupnya, tetapi berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Derasnya perubahan ini akan membuat perusahaan akan jatuh bangun dan lapangan kerja akan terstrukturisasi dengan cepat. Dengan demikian, cara berpikir tentang bentuk-bentuk tradisional mengenai “kepastian kerja” berubah menjadi “kemampuan bekerja” yang harus dibarengi dengan “belajar seumur hidup” agar tidak cepat tersisih dan masuk kotak dalam dunia kerja. Akhirnya, perlu pula dipahami bahwa pada era ekonomi baru, bagaimanapun juga posisi kaum pekerja berada dalam posisi yang relatif kalah dibandingkan majikan mereka. Hal ini, harus menjadi tugas pemerintah untuk memastikan bahwa perusahaan (majikan) tidak mengeksploitir asimetri kekuatan tersebut.


Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)
Read more ...
Monday, April 30, 2007

"EROMOKO" on the stage.... (invitation)


.......disini kita belajar untuk tidak menyerah pada takdir dan tak luput pula dari kehidupan........

sebuah naskah dari Bayu Murdianto,sebuah wujud eksistensi kami sebagai komunitas sastra, sebuah refleksi humanitas kami sebagai manusia yang bercipta, rasa, dan karsa.

mohon apresiasinya..... AULA PSBS UNSOED(KAMPUS KALIBAKAL), Senin 30 APRIL '07 jam 19.19 WIB.

--Salam Budaya--
Read more ...
Saturday, April 21, 2007

AKU INGIN JADI GERMO




Cerpen oleh : Shinta ArDjahrie

Senja memerah. Tiupan angin senja ini terhitung lemah di akhir musim dingin kali ini. Mungkin tak berapa lama lagi, perannya harus digantikan kemarau yang meretakan lapisan tanah. Gemuruh akan mulai menghentikan seriosa-nya sekedar memberikan ruang pada percikan tajam sinar mentari.

Hujan-panas…tetaplah panas. Setidaknya itu yang kurasakan di rumah-kalau harus disebut rumah-ini. Entah seperti apa sejuk itu, ingin sekali aku merasakannya. Air conditioner yang terpasang di ujung ruangan itu memang keluaran perusahaan ternama. Semerbak aroma terapi konon katanya pula membuat perasaan menjadi relax.

Namun, selalu saja hawa gerah yang terasa, apalagi kalau sudah menginjak senja.

Dering ponsel memberi warna senja itu ditengah-tengah bising musik country. Sesosok wanita sintal dengan tergopoh-gopoh mengangkat nokia 9100 dengan chasing warna menyala itu.

“…………..!!……!!!ya..ya…tenang aja…barang baru pasti kualitas yahud!”

Entah apa yang diobrolkannya, yang pasti kalimat itu menjadi akhir pembicaraan mereka. Aku hanya paham derai tawa genit yang sesekali mewarnai perbincangan wanita itu.

Cantik. Wanita itu maksudku. Dia memang wanita. Tentu saja cantik. Kalau ganteng itu ya pria.

Senja ini, tak seperti biasanya wanita itu tampak terburu-buru. Biasanya jam-jam segini, dia sudah rapi dengan dempulan powder, olesan lipstick, sentuhan blush on, eye liner, maskara, serta “pernak-pernik” lain.

Rupa-rupanya si wanita mempunyai selera sentuhan minimalis. Hal itu bisa terlihat dari cara berbusananya. Dari atas sampai bawah, sungguh “minimalis”, hingga kemolekan tubuhnya seperti manekin yang dapat dinikmati dengan mudah oleh siapapun.

Namun dia tetaplah cantik. Bagaimanapun dia, tetap cantik di hatiku. Gurat wajahnya menunjukan betapa kehidupan ini telah membuat ia harus bekerja keras.

Kau memang cantik………..ibuku!!!

*****

“Bener kamu mau kerja disini nduk?”

“Ya bener lah yu, …aku ya juga nggak enak numpang dan ngrepotin keluarga mbakyu terus-terusan. Aku kekota ya pengen kerja”

“Nggak usah nggak enak-nggak enakan kayak gitu. Aku ini kan juga mbakyu-mu. YA sudah, bentar lagi kamu bakal ketemu mamih”

“Mamih itu siapa tho Yu?”

“Dia yang bakal ngasih kamu kerjaan. Dia juga bigboss-ku. Mamih baik kok orangnya. Aku sama teman-tema dulu ditolong mamih waktu bingung cari kerjaan. Kamu liat sendiri toh hasilnya?aku bisa ngirim duit buat kalian di rumah”

“Iya..iya yu! Aku ya pengen punya duit sendiri. Mamih itu baik ya orangnya? Kok di jaman kayak sekarang masih ada orang kayak gitu!”

“”Iya,mamih juga sebenarnya bijaksana. Dia kadang jadi tempat ngadu kita kalau lagiada masalah. Berkat mamih kita semua bisa sejahtera kayak gini. Asal kamu jangan cari gara-gara, mamih juga nggak bakal galak sama kamu”

“Iya….iya…wah, mamih itu orangnya baik ya….kayak malaikat”

Obrolan dua bersaudara katro itu terhenti saat seorang wanita keluar dari ruangan sebelah yang dibatasi kain gorden warna merah menyala.

Kadang karena bosan, aku lebih memilih tidak berada di umah di saat-saat senja seperti ini. Berbgai macam permainan di rumah Sonya- sepupuku- lebih membuat aku tertarik hinga kerap kali aku menginap di rumahnya. Walau sebenarnya aku juga melihat beberapa mainan yang sama antara dirumahku dan dirumah Sonya. Sonya punya koleksi boneka-boneka barbie yang cantik-cantik lengkap dengan pernak-perniknya. Tapi aku punya yang lebih hebat. Banyak boneka- boneka cantik di rumahku. Mereka hidup. Bisa tertawa, menangis, bernyanyi, menari, dan lain sebagainya. Sonya pasti iri melihat boneka-boneka di rumahku lebih hebat. Apalagi ibuku yang merawat boneka-boneka itu. Kata boneka-boneka itu, ibuku baik hati. Apa tadi kata wanita itu??? Ibuku seperti malaikat.

Aku juga ingin seperti ibu. Wanita-wanita cantik itu patuh pada ibu. Kalau aku jadi seperti ibu, mereka juga pasti patuh padaku. Nanti aku ingin menyuruh mereka menipiskan dandanan yang seperti topeng itu. Aku juga akan membelikan mereka baju-baju yang lebih bagus yang lebih sopan yang nggak sobek sana-sini (mungkin mereka habis dimarahin Tukul Arwana, hingga baju mereka disobek-sobek). Aku juga akan melarang mereka kerja di malam hari. Kasihan…..pasti mereka ngantuk kalau harus kerja hingga larut malam. Kerjanya pagi-pagi saja. Mereka kan bisa menjahit, menyulam, merangkai bunga, mengasuh anak, dan lain-lain.

Mereka pasti mau menurut padaku……sama seperti mereka menurut pada ibuku…..karena ibuku malaikat bagi mereka………..karena ibuku seorang Germo!!

Aku ingin jadi malaikat juga……Aku ingin jadi germo!!!

Grendeng, 21 April 2007
Read more ...

Wirausaha Sosial Perempuan



oleh :R. Valentina Sagala *)

"Nya atuh Uwi, ari Uwi panting jeung keukeuh hayang
mah, mugi-mugi bae dimakbul ku Alloh nu ngawasa
sakuliah alam, urang nyoba-nyoba nyieun sakola
sakumaha kahayang Uwi. Pikeun nyegah bisi aya
kateungeunah di ahir, sakola teh hade lamun di pendopo
wae heula. Lamun katanyaan henteu aya naon-naon, pek
bae pindah ka tempat sejen".

Ucapan itu terlontar dari Bupati Bandung R.A.
Martanegara yang terkejut mengetahui Raden Dewi
Sartika (yang disebutnya neneh/nama panggilan "Uwi")
hendak menghadap dan ingin mendirikan sekolah bagi
wanita pribumi. Pada masa itu, posisi perempuan masih
-meminjam istilah Sunda- patih goah yang harus selalu
duolang tinande. Ia memang disebut sebagai "patih",
tetapi hanya di goah atau ruangan yang letaknya di
belakang rumah, tempat menyimpan makanan (Pikiran
Rakyat, 04/12/03).

Tantangan Perempuan
Meski ratusan tahun berlalu, seiring dengan
pembangunanisme Orde Baru, hingga kini sejumlah
persoalan masih menyelimuti perempuan Indonesia.
Kebijakan pembangunan yang bertumpu pada jargon
stabilitas terbukti mengantar Indonesia pada krisis
ekonomi berkepanjangan, terutama saat krisis multi
dimensi menjelang 1998 yang menyebabkan banyak
keluarga miskin mengirimkan anak-anak untuk mencari
nafkah.

Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 1999, sekitar
1,5 juta anak berusia 10-14 tahun bekerja membantu
keluarga. Mayoritas mereka bekerja di sektor pertanian
(69%), industri (11%), dan jasa (4%). Data Kementrian
Pendidikan menunjukkan bahwa 7,5 juta dari total 38,5
juta anak usia 7-15 tahun tidak bersekolah, sedangkan
sekitar 4% dari mereka terpaksa putus sekolah. Meski
dari jumlah tersebut tidak seluruh anak itu bekerja,
mereka yang putus sekolah atau sama sekali tidak
bersekolah cenderung mencari pekerjaan dan beresiko
terlibat dalam bentuk pekerjaan yang berbahaya.

Berdasarkan BPS, tahun 2005 jumlah penduduk yang
berada di bawah garis kemiskinan mencapai 35,2 juta
jiwa atau 15,8% dari total populasi penduduk. Maret
2006, jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 39,05
juta atau 17,75 persen dari total populasi. Kemiskinan
terbesar berada di wilayah pedesaan dan sektor
pertanian.

Krisis berkepanjangan semakin memicu menurunnya daya
beli, terutama masyarakat miskin. Kondisi ini
berimplikasi terhadap pertumbuhan angkatan kerja yang
semakin hari semakin meningkat, baik kuantitas maupun
permasalahan. Pada tahun 2001, dari penduduk provinsi
Jawa Barat, jumlah anak yang berusia 1-19 tahun
sebanyak 7.151.924 orang. Penelitian PKBI Jawa Barat
di beberapa lokalisasi pelacuran di Bandung tahun 2003
menunjukkan bahwa 24% dari mereka memasuki dunia
prostitusi ketika berusia anak.

Kemiskinan memang menjadi momok mengerikan bagi
Indonesia dan negara miskin berkembang lainnya. Itulah
mengapa Indonesia menyatukan komitmennya bersama 189
pemimpin negara lain guna mengubah dunia menjadi lebih
baik, dengan mendeklarasikan pencapaian Tujuan
Pembangunan Milenium atau Millenium Development Goals
(MDGs).

MDGs yang menargetkan pencapaian perubahan pada tahun
2015, memberikan ruang untuk pemenuhan kebutuhan dasar
seluruh warga, menjamin warga bebas dari rasa takut,
dan menjamin hak warga untuk hidup bermartabat dalam
kerangka hak asasi manusia.

Delapan poin MDGs adalah: (1) menghapuskan tingkat
kemiskinan dan kelaparan, dimana target untuk 2015
adalah mengurangi setengah dari penduduk dunia yang
berpenghasilan kurang dari 1 dollar AS sehari dan
mengalami kelaparan; (2) mencapai pendidikan dasar
secara universal, dimana target tahun 2015 adalah
memastikan bahwa setiap anak, laki-laki dan perempuan
menyelesaikan tahap pendidikan dasar; (3) mendorong
kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan, dimana
target 2015 adalah mengurangi perbedaan dan
diskriminasi gender pada semua tingkatan; (4)
mengurangi tingkat kematian anak, dimana target tahun
2015 adalah mengurangi tingkat kematian anak usia di
bawah 5 tahun hingga dua pertiga; (5) meningkatkan
kesehatan ibu, dengan target 2015 adalah mengurangi
rasio kematian ibu dalam proses melahirkan hingga 75%;
(6) memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya;
(7) menjamin keberlanjutan lingkungan serta
merehabilitasi sumber daya yang hilang, dimana tahun
2015 ditargetkan jumlah orang yang tidak memiliki
akses air minum yang layak dikonsumsi berkurang
setengahnya; (8) mengembangkan kemitraan global untuk
pembangunan.

Kenyataannya, di kawasan Asia-Pasifik hingga kini
jutaan orang, sebagian besar anak, tidak berpendidikan
dan tidak memperoleh makanan secara tetap. Perempuan
dan anak perempuan masih mengalami diskriminatif.
Sebanyak 20 anak meninggal tiap menit karena
kemiskinan dan penyakit yang bisa dicegah. Dua
perempuan meninggal tiap jam sebagai akibat kehamilan
atau melahirkan. Amrtya Sen menyebut, 100 juta
perempuan ‘hilang’ akibat hal-hal seperti pembunuhan
bayi perempuan, trafiking, pembunuhan, HIV/AIDS, dan
wabah lain terus merebak. Lebih banyak orang ‘hilang’
akibat kelaparan dan penyakit, ketimbang konflik,
peperangan, dan bencana alam.

Tak heran baru-baru ini Indonesia dinyatakan termasuk
di jajaran negara yang mundur dalam upaya pencapaian
MDGs (Kompas, 03/03/2007). Laporan "A Future Within
Reach" maupun Laporan MDGs Asia-Pasifik 2006
menempatkan Indonesia dalam kategori terbawah, dengan
skor negatif, baik dalam indeks kemajuan maupun dalam
status terakhirnya.

Kewirausahaan Sosial
Apa yang dilakukan Dewi Sartika, demikian pula yang
dilakukan Raden Ajeng Kartini yang hari kelahirannya
diperingati seluruh negeri ini setiap 21 April,
merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah
perubahan kondisi perempuan Indonesia. Perubahan,
inilah kata kunci yang terus menyemangati kedua
perempuan ini untuk melahirkan gagasan dan mewujudkan
selama masa hidupnya.

Dalam masyarakat, ditemukan individu-individu istimewa
dengan visi, kreativitas, komitmen kerja dan keteguhan
hati yang luar biasa -sebagaimana seorang wirausaha-
dan mengabdikan kemampuannya ini untuk memperkenalkan
solusi baru pada masalah-masalah sosial dalam
masyarakat. Individu ini melihat jauh ke depan,
berinovasi, baik dalam isu lingkungan, pendidikan,
pengembangan masyarakat, kesehatan, atau bidang lain
yang berhubungan dengan kebutuhan manusia. Merekalah
yang dikenal sebagai wirausahawan sosial (social
entrepreneur) (Pikiran Rakyat, 27/10/05).

Seperti Kartini dan Dewi Sartika, dengan gagasan baru
dan kreativitasnya dalam menyelesaikan permasalahan
sosial, para wirausahawan sosial ini berdedikasi pada
visinya mewujudkan pola baru dalam masyarakat. Dengan
keteguhan hati dan pantang menyerah, mereka bergelut
menjawab tantangan yang menghadang. Mereka menunjukkan
sikap, kepemimpinan, dan orientasi, disertai
keberanian untuk melakukan hal yang berbeda bahkan
beresiko. Dari sinilah, selain memecahkan masalah
sosial, mereka memberikan manfaat dan pengaruh yang
besar dan meluas untuk perubahan.
Sayangnya, sektor ini yang justru masih dipandang
sebelah mata oleh pemerintah Indonesia. Padahal tidak
dapat dipungkiri, pelaksanaan MDGs misalnya, bukan
berlangsung di gedung-gedung mewah dan bertingkat di
Jakarta, melainkan justru di daerah-daerah pelosok
dengan permasalahan kongkrit dan mendesak. Dengan kata
lain, solusi sesungguhnya bisa muncul dari ‘lapangan’,
dan bukan di depan laptop seharga Rp. 22 juta.

Dunia mulai diingatkan tentang kewirarusahaan sosial,
ketika penghargaan Nobel tahun 2006 jatuh ke tangan
seorang wirausahawan sosial bernama Muhammad Yunus.
Yunus adalah anggota Global Academy Ashoka, dimana
Ashoka dikenal sebagai sebuah organisasi global
pertama yang mengembangkan konsep kewirausahaan
sosial. Berkat gagasannya memberantas kemiskinan
melalui sistem keuangan mikro yang lebih dikenal
sebagai Grameen Bank, Yunus telah membantu jutaan kaum
miskin di Bangladesh, terutama perempuan yang selama
ini sangat sulit memperoleh akses.

Melalui Grammen Bank, Yunus membangun sistem untuk
memperoleh kesejahteraan yang lebih baik di tengah
kemiskinan yang mencekik. Ia membuktikan pentingnya
sistem perbankan berubah menjadi sensitif dan
berdampak pada masyarakat miskin, khususnya perempuan.
Ia tidak hanya menginspirasi masyarakat Bangladesh,
tetapi juga masyarakat dunia.
Dalam bukunya How to Change the World (2004), David
Bornstein memaparkan bagaimana wirausahawan sosial di
dunia, yang hampir tak terliput oleh media, telah
mengubah sejarah dunia dengan terobosan berupa gagasan
inovatif, memutus sekat birokrasi, mengusung komitmen
moral yang tinggi dan kepedulian mengagumkan yang akan
terus menjadi sumber inspirasi. Ia menceritakan
puluhan kisah, seperti Jeroo Billimoria (India) yang
membangun jaringan perlindungan anak terlantar, Vera
Cordeiro (Brazil) yang mereformasi perawatan
kesehatan, atau Veronika Khosa (Afrika Selatan) dengan
model perawatan berbasis rumah (home-based care model)
untuk penderita AIDS, yang telah mengubah kebijakan
pemerintah tentang kesehatan di negaranya.

Di Indonesia, sebuah contoh kecil kisah wirausahawan
sosial dapat dilihat dari sosok Tri Mumpuni. Perempuan
ini gelisah atas fakta bahwa sekitar 75 juta penduduk
Indonesia masih hidup tanpa layanan listrik.
Pembangkit listrik mikrohidro telah dilakukan selama
bertahun-tahun, dan meskipun secara teknis dinyatakan
layak, namun hambatan finansial dan aturan
perundang-undangan membatasi potensinya sebagai solusi
berskala besar. Dengan penciptaan insentif ekonomis
dan pengembangan program-program pembiayaan, Mumpuni
berhasil membantu masyarakat pedesaan Indonesia
memperoleh layanan listrik.
Bagi Mumpuni, kunci pengadaan listrik pedesaan
terletak pada adanya sistem berbasis komunitas
berkesinambungan, yang ditentukan oleh kepemilikan
masyarakat. Sistem ini memungkinkan masyarakat berbagi
pendanaan, ikut mengambil keputusan pada perencanaan,
pengoperasian, pemeliharaan, dan pengembangan
program-program pedesaan sebagai dampak dari
pendapatan yang diperoleh.

Di desa Cinta Mekar, Jawa Barat misalnya, masyarakat
kini mampu memperoleh pendapatan dari pengembangan
usaha energi listrik ini. Tidak hanya usaha ini mampu
memberi penerangan kepada sekitar 620 keluarga atau
3.000 jiwa, namun ia telah menstimulasi kegiatan
ekonomi yang menyerap tenaga kerja dan memfasilitasi
kegiatan sosial lainnya seperti pendidikan, kesehatan,
dan lain-lain (Ashoka, 2007).
Di Indonesia, individu-individu seperti ini sangatlah
dibutuhkan. Pemerintah seharusnya mulai memberikan
dukungan dan menciptakan iklim kondusif bagi kehadiran
para agen perubahan ini. Dukungan yang berakar pada
satu tekad, mengubah Indonesia menjadi lebih baik,
lebih sejahterah, lebih damai, lebih adil, bagi
laki-laki dan perempuan... Selamat Hari Kartini!

*)Aktivis Perempuan, Executive Board of Institut
Perempuan, Dosen Fakultas Hukum Universitas Katholik
Parahyangan.

(Judul asli: Kartini, Dewi Sartika, dan Kewirausahaan
Sosial)
Read more ...
Thursday, April 05, 2007

Aksi Mahasiswa UNSOED Anti BHP


pengantar : ni foto aksi tolak BHP UNSOED waktu tanggal 21 Maret 2007. WUih....seru lho. Tau nggak waktu itu, nta ikut dari awal.Dari awal Cuma dua orang nta sama mas Anas LAPMI (Presiden DEM D3Bhs.Inggris) trus kita ke pendopo trus ke start di Fabio...trus jemput massa dari fakultas ke Fakultas hingga mencapai ratusan orang (yeah,,,,kalo diitung sama Dalmas-nya bisa nyampe 2000 orang lah...he...he...he.... )Pokoknya pengalaman yang tidak terlupakan. Sampe capeeeek banget. Tapi perjuangan belum selesai, walaupun di hari Sabtu-nya (24/3/07) dilanjutin lagi demonya. malah hampir chaos. nieh beritanya ada di bawah. Buat Temen-temen KBMU : Keep spirit, perjuangan kita belum selesai, HIDUP MAHASISWA!!!.

nb : eh ada cerita2 lucu n seru waktu demo lho...tapi ntar deh nta posting lain kali aja....he..he...


Mahasiswa Unsoed Blokade Jalan (Suara Merdeka, 26 Maret 2007)

* Adang Rektor saat Wisuda

PURWOKERTO - Sekitar seratus mahasiswa dari berbagai fakultas dan progam sarjana yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Unsoed Anti-BHP, Sabtu (24/3), mengadang Rektor Prof Dr Sudjarwo yang akan mewisuda sarjana (S-1), diploma tiga (D-3), dan pascasarjana (S-2), di Gedung Pertemuan Soemardjito, Jl Kampus. Aksi tersebut lanjutan aksi-aksi sebelumnya yang menuntut Unsoed menolak program BHP dari pemerintah.

Untuk berdialog dengan rektor, mahasiswa terpaksa menggelar aksi di sekitar lokasi wisuda. Mereka menutup akses masuk ke Gedung Soemardjoto. Sebaliknya, agar tidak mengganggu kegiatan tersebut, pihak kampus juga menghadang demonstran dengan memblokade jalan menggunakan papan pengumuman dan pagar betis anggota satuan pengamanan kampus.

Mereka saling berhadapan dan beberapa kali terjadi ketegangan, terutama saat mahasiswa memaksa untuk maju. Karena jalan diblokade, para wisudawan dan pengantar mereka kesulitan untuk lewat, baik saat berangkat maupun pulang.

Jalan yang tertutup rapat oleh blokade satpam dan mahasiswa yang beraksi itu juga dikeluhkan para wisudawan dan tamu undangan.

Saat wisuda usai, mahasiswa juga gagal menemui rektor di lokasi tersebut. Sebab, rektor dan jajaran pembantu rektor serta pejabat lainnya bersedia menemui demonstran di rektorat. Pertimbangannya, bila ditemui di lokasi aksi, tidaklah memungkinkan. Hal itu juga bisa menggangu kelancaran lalu lintas di sekitar gedung pertemuan tersebut. Akhirnya, beberapa wakil demonstran menemui rektor di kantornya.

Aksi itu dipimpin oleh koordinator lapangan Bedit Nana Sembodo. Mereka tetap menuntut rektor untuk menolak rencana kampus Unsoed dijadikan BHP pada 2010. Selain itu, mereka juga menolak RUU BHPMN, dan meminta dana persatuan orang tua mahasiswa (POM ) dihapus.

Tidak hanya itu, demonstran juga meminta rektor memperjelas status program studi, menolak penggabungan FISIP dan Program Studi Bahasa dan Sastra serta penghapusan sumbangan pengembangan institusi (SPI).

''Tahun ini, kami mendengar dana POM dinaikkan rata-rata menjadi Rp 2 juta per mahasiswa. Informasi yang kami himpun, tahun 2006 dana POM yang terkumpul mencapai Rp 7 miliar,'' kata Bedit dalam orasinya.

Setelah acara wisuda selesai, mereka juga membubarkan diri dengan tertib. Namun mereka akan terus melakukan aksi susulan kalau pihak kampus dan tim sosialisasi BHP tetap meneruskan kegiatan sosialisasinya. (G22,shs-71)
Read more ...